Saat ini, bulan sudah menggantung indah di atas langit malam. Dari tadi sore sampai sekarang jam 22: 37 malam, salah seorang lelaki tampan dari keluarga Uchiha itu, masih belum berniat meninggalkan tempatnya di tepi danau yang agak jauh dari pusat kota. Tempat ini memang sudah menjadi tempat pelarian Sasuke untuk menenangkan diri. Tempat yang terawat dan belum tersentuh oleh asap-asap kendaraan bermotor. Bahkan tempat ini sangat sepi dari pengunjung. Mungkin hanya orang kesepian saja yang mau datang bertandang ke danau ini.
Walau angin malam sudah menusuk sampai ke tulang-tulang, Sasuke masih ingin lebih berlama-lama lagi di tempat ini. Pemilik rambut raven itu, sesekali hanya meniup kedua telapak tangannya yang mulai dingin dan merapatkan jaket yang dia kenakan saat ini.
Entah apa yang Sasuke pikirkan sedari tadi sampai harus menyendiri di tepi danau ini. Tapi yang pasti pikiran Sasuke saat ini membutuhkan ketenangan. Jika tadi pikiran Sasuke seperti komputer, mungkin sudah dari tadi Sasuke akan menekan tombol kanan dan meng-klik refresh. Dan menurut Sasuke, di tepi danau inilah pikiran Sasuke menjadi lebih tenang.
.
.
.
.
.
Don't like, don't read, u can click "back" icon if u don't like this fanfic
Disclaimer © Masashi Kishimoto
[Uchiha Sasuke & Haruno Sakura]
Aku hanya minjam tokoh-tokohnya saja. :3
Story © Biiancast Rodith
WARNING!
AU, OOC, typo(s), Alur kecepatan, abal, gaje, ide pasaran, EYD tidak beraturan, DLDR.
.
.
.
.
.
"Cih, kenapa aku harus mau repot-repot memikirkan perkataan Itachi-nii no baka?" Cicit Sasuke. "Ini hidupku. Lagian, aku bukan siapa-siapa dia. Kenapa aku harus perduli dengannya?"
Meski sudah berada disini berjam-jam, sepertinya pikiran Sasuke justru semakin kusut seperti benang. Terlihat dari cara Sasuke yang mengacak-acak rambut yang sewarna dengan malam itu.
"Aaakkkhhh… Menyebalkan. Kau memang menyebalkan." Yang terdengar hanya teriakkan Sasuke saja di tepi danau itu. Kembali Sasuke memandang selembar poto yang telah kusut di tangannya dengan tatapan mata seakan ingin membakar poto tersebut.
"Kau memang paling ahli menghancurkan hatiku… Sakura." Ucap Sasuke senduh. "Kenapa perasaan yang telah kukubur jauh-jauh hari untukmu, kembali muncul kepermukaan? Apa salahku sampai kau buat aku sekacau ini?"
Kali ini, bukan tatapan tajam yang Sasuke perlihatkan kepada selembar poto itu, melainkan tatapan pedih.
Malam ini, ingatan Sasuke diputar mundur secara paksa ke masa ia sekolah dulu di Konoha Junior High School dulu.
Saat itu Sasuke masih kelas VIII. Hari kamis merupakan hari suram buat murid-murid kelas VIII-1 kala itu. Les pertama di kelas Sasuke saat itu, mata pelajaran Fisika dan gurunya adalah Mitarashi Anko yang terkenal cukup killer. Sebelum pelajaran dimulai, biasanya Anko-sensei akan mencek siapa murid-muridnya yang tidak membawa buku paket. Jika ada di antara muridnya yang tidak membawanya, mereka akan segera dikeluarkan dari kelas.
Sasuke yang tidak membawa buku bacaannya, merasa terancam. Merasa kalau sebentar lagi riwayatnya akan tamat di tangan gurunya. Sasuke memang terkenal cukup cuek, tapi jika sudah menyangkut pelajaran, Sasuke tidak pernah main-main. Karena Sasuke tidak pernah melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang pelajar.
Melihat Anko-sensei mulai mendekati tempat duduknya, Sasuke semakin panik walau dia tutupi dengan wajah dinginnya. Tapi bisa dilihat dari wajahnya yang mulai memucat kalau Sasuke sedang tidak santai saat ini.
"Pakai punyaku saja Sasuke-kun."
Sasuke menelengkan wajahnya kesamping kanannya, guna melihat seseorang yang menyodorkan buku bacaannya ke hadapan Sasuke. Sasuke mengernyitkan keningnya saat melihat perbuatan gadis berambut pink yang duduk di sampingnya itu. Bagaimana mungkin dia rela meminjamkan Sasuke buku, sementara dia akan dikeluarkan dari kelas. Itulah yang dipikirkan Sasuke saat itu.
"Tidak perlu." Kata Sasuke dengan wajah stoic-nya.
"Tapi Sasuke-kun nanti akan dikeluarkan," Ucap gadis itu lagi, seakan memaksa Sasuke untuk menerima tawarannya. " dan kudengar, lima belas menit terakhir akan ada ulangan."
"Dan aku akan ujian, sementara kau dikeluarkan?" Sasuke mulai jengkel karena merasa dikasihani oleh seorang gadis yang memiliki warna mata seperti batu emerald tersebut.
"Bukan. Tapi aku…"
"Ehem. Apa ada masalah di sini?" Terlalu asik berdebat, sepasang murid yang berbeda gender itu sampai tidak sadar kalau Anko-sensei sudah berdiri di depan meja mereka.
"Ti-tidak ada Sensei." Jawab mereka berdua kompak.
"Kalau begitu keluarkan buku kalian."
Mendengar perkataan gurunya itu, Sasuke kembali panik. Tapi sebelu Sasuke berkata kalau dia tidak membawa bukunya, gadis di sampingnya itu lebih dulu angkat bicara. "Anu Sensei. Buku Sasuke-kun ada padaku." Kedua pupil mata Sasuke mengecil saat mendengar perkataan gadis itu. Sementara Anko-sensei hanya menaikkan alisnya, seakan meminta penjelasan. "Kemaren buku Sasuke-kun tinggal dan aku membawanya kerumah." Ucap Sakura.
"Baiklah. Kalau begitu, keluarkan bukumu…" Sebelum perkataan Anko-sensei selesai, pintu kelas dibuka secara paksa dan masuklah seorang wanita yang memiliki rambut pirang panjang yang dikucir dua. Melihat Kepala Sekolah KJHS masuk ke dalam ruang kelasnya, Anko-sensei menghampiri atasannya tersebut.
"Maaf mengganggu Anko-sensei." Ucap wanita itu mengintrupsi karena telah mengganggu proses belajar mengajar di kelas VIII-1.
"Tidak apa. Tsunade-sama."
"Kedatangan saya kemari, untuk memanggil Haruno Sakura karena dia akan mengikuti olimpiade Biologi 2 jam lagi."
"Haruno Sakura. Bereskan barang-barangmu sekarang. Karena kau akan pergi dengan Kepala Sekolah sekarang." Kata Anko-sensei dengan lantang dari depan kelas.
"Baik, Sensei." Jawab Sakura dan segera membereskan barang-barangnya di atas mejanya. " Hampir saja." gumam Sakura pelan, tapi masih bisa di dengar Sasuke.
"Karena itu, kau meminjamkanku bukumu?" Tanya Sasuke.
Wajah Sakura merona merah saat mendengar pertanyaan Sasuke. "Iya. Sasuke-kun." Jawab Sakura malu dan memberikan cengiran khas miliknya. "Sasuke-kun jangan lupa menandai tugas di bukuku ya."
Sasuke hanya mendengus geli saat mendengar permintaan gadis itu sebelum dia meninggalkan kelasnya. Melihat perbuatan gadis itu kepadanya, mau tidak mau membuat senyum tipis di wajah Sasuke tercetak. Tidak menyangka Sasuke akan dilindungi Sakura. Apa gadis itu sudah tahu kalau dia tidak akan mengukuti pelajaran hari ini, sehingga meminjamkan Sasuke bukunya? Ingatkan Sasuke untuk mengucapkan terimakasih kepada Sakura. "Hn. Dasar."
Sejak kejadian itulah, Sasuke dan Sakura semakin akrab. Tidak seperti gadis-gadis lainnya, menurut Sasuke, Sakura merupakan pribadi yang enak untuk diajak ngobrol—meski yang lebih banyak bicara adalah Sakura. Sejak saat itu pula, Sasuke mulai merasakan nyaman tiap berhubungan dengan Sakura. Benih-benih cinta mulai tumbuh mekar di hati Sasuke. Terlebih saat itu masa-masa puber Sasuke dan tentu saja masa di mana lelaki tampan itu mulai tertarik kepada lawan jenisnya. Pantas, tiap berdekatan dengan Sakura, Sasuke selalu merasakan ribuan kupu-kupu terbang di perutnya.
Sasuke mulai tergila-gila pada Sakura. Suara tawa merdu Sakura, seperti denting lonceng-lonceng mungil. Dan setiap Sakura menyebut namanya, Sasuke dapat mendengar suara detak jantungnya sendiri yang berdebar-debar tidak karuan. Sasuke sangat menikmati saat-saat itu. Saat ia mulai suka dan mengagumi Sakura.
Sasuke tersenyum manis saat kenangan itu kembali hadir dipikirannya. Tapi senyum manis Sasuke malam ini, berlahan-lahan berubah saat ingatannya kembali saat Sasuke tidak sengaja mendengar Sakura sangat mencintai orang lain yang Sakura panggil kak Sasori. Perkataan Sakura saat itu, sama saja menolak Sasuke walau secara tidak langsung. Bagi Sasuke, ucapan Sakura saat itu sudah membuktikan kalau keberadaan Sasuke selama ini tidak dianggap ada.
Sasuke mendecih saat mengingat kembali kenangan pahit itu. Kenangan dimana dia pertama sekali mengenal kata jatuh cinta dan patah hati sekaligus. Kini masa-masa itu kembali hadir saat Sasuke melihat Sakura menangis. Perasaan ingin melindungi dan menjaga Sakura, kembali menyeruak di relung hati Sasuke. Tapi, bagaimana saat Sasuke kembali membuka hatinya, tiba-tiba orang itu datang dan membawa Sakura pergi? Apa Sasuke sudah sanggup, merasakan patah hati untuk kedua kalinya?
Tidak ingin memikirkannya lagi, Sasuke mengangkat bokongnya dari tempatnya ia duduk. Sudah waktunya Sasuke pulang untuk menenangkan pikirannya di dalam kamarnya. Terlebih malam ini angin cukup kencang dan angin malam tidak baik untuk kesehatan. Karena itu Sasuke kembali pulang dengan mobil mewah miliknya.
.
.
.
Sudah lebih dari seminggu Sakura mengikuti bimbingan belajar dan sudah seminggu pula Sakura mulai dapat melupakan masa suram itu, walau kadang Sakura bermimpi kejadian itu kembali terulang kembali. Selama seminggu ini, hari-hari Sakura memang hanya disibukkan dengan membahas soal-soal saja, tapi bukan berarti Sakura tetap menutup dirinya. Bersama Ino, Sakura mulai bisa meniti kembali hari-harinya seperti sediakala.
Kadang untuk Sakura akan belajar bersama di rumahnya atau di rumah Ino guna mendapatkan suasana baru. Bukan hanya Ino, anak sulung dari keluarga Uchiha yang merupakan kekasih Ino itu juga ikut berpartisipasi mengajari mereka membahas soal-soal yang mereka rasa cukup sulit dicari.
Keberadaan sepasang kekasih itu di dalam kehidupan Sakura sudah menjadi bagian penting dari hidupnya. Bukan hanya Ino saja yang Sakura anggap saudara kandungnya, Itachi juga sudah dia anggap sebagai saudara laki-lakinya sendiri.
Sering kali Sakura merasa iri kepada Ino karena hidupnya sangat terarah. Ino memang, gadis yang kelewat santai. Sementara Sakura, hidup dengan penuh tujuan dan karena itu Sakura cepat bosan menghadapi rintangan agar tujuannya segera tercapai. Tapi, justru itu yang membuat Sakura ingin mengganti posisi dengan Ino. Hidup Sakura yang penuh rancangan, berlahan-lahan mengurungnya layaknya sangkar.
Ino yang kadang dewasa, dan blak-blakan, membuat Sakura ingin sekali meniru sahabatnya itu. Bahkan Sakura berpikir, bahwa dialah orang yang paling menyedihkan. Selama Sakura dan Ino bersekolah di sekolah yang sama, Ino memang tidak pernah menjadi bintang kelas seperti Ino. Tapi, justru Ino yang lebih banyak memiliki teman. Dan saat ini, Ino juga sudah memiliki kekasih yang semua gadis idam-idamkan ada pada diri kak Itachi. Sementara Sakura? Lupakan saja. Karena itu justru membuat luka Sakura kembali menganga.
Tidak seperti malam-malam sebelumnya, biasanya Sakura dan Ino akan pulang bersama diantar sama Itachi. Tapi untuk malam ini, Sakura harus pulang sendiri. Sebelum Sakura berangkat bimbel tadi, Ino mengirimi Sakura sebuah pesan singkat melalui ponselnya, kalau Ino malam ini tidak mengikuti bimbel karena ada urusan mendadak. Sebab itu, hanya kesunyian yang menemani Sakura.
Sementara di sebuah restoran yang cukup mewah di pusat kota Konoha, Dua keluarga dari kalangan atas, sedang berkumpul di sebuah meja bundar di restoran tersebut.
"Jadi mana anakmu, Fugaku?" Tanya salah seorang kepala keluarga dari klan Hyuuga itu saat melihat tidak seorangpun putra dari kerabat dekatnya itu hadir di meja tersebut.
"Saat ini, mereka sedang dalam perjala-" Sebelum pria bernama Uchiha Fugaku menyelesaikan perkataannya, istrinya Uchiha Mikito lebih dulu berbicara. "Itu mereka datang."
Saat itulah, semua pandangan yang sedang duduk di meja bundar itu, tertuju ke arah pintu masuk restoran. Terlihatlah Itachi dan Ino datang bergandengan tangan, mempertontonkan kemesraan mereka. Ino yang saat itu mengenakan gaun berwarna ungu, sangat serasi dengan Itachi yang mengenakan jas. Sementara seorang lelaki tampan yang memiliki rambut raven, hanya datang seorang diri tampa seorang pendamping. Itachi, Ino dan Sasuke menghampiri meja bundar yang ditempati oleh kedua orangtua mereka.
"Maaf, telah menunggu lama" Itachilah orang pertama yang memulai percakapan di meja itu, setelah mereka lebih dulu duduk.
"Tidak apa nak. Acaranya belum dimulai." Balas Mikoto dengan senyum menawan tersungging di bibirnya yang berwarna merah.
"Jadi yang mana di antara mereka, yang bernama Itachi?" Tanya Hyuuga Hiashi penasaran sambil memperhatikan kedua wajah lelaki-lelaki tampan yang ada dihadapannya.
"Jika paman ingin tahu, saya yang bernama Itachi." Ucap Itachi ramah.
"Dan gadis itu?"
"Dia… Yamanaka Ino. Kekasihku paman." Jawab Itachi santai. Tidak lupa senyum menyeringai muncul di sudut bibirnya.
Sekarang Sasuke tahu, kenapa Itachi membawa Ino bersamanya. Itu karena Itachi sudah tahu, bakalan seperti ini jadinya. Makan malam bersama hanyalah kedok belaka, agar ayahnya dapat menjodohkan anaknya dengan putri teman rekan bisnis ayahnya. Siasat seperti ini untuk membuat perusahaan lebih maju, memang sudah menjadi tradisi sepertinya. Dan Sasuke melupakan itu.
"Sayang sekali. Padahal aku berniat ingin menjodohkan putriku denganmu."
Sasuke sangat tahu, saat ini Itachi pasti sedang menyeringai lebar karena rencananya berhasil dan sekarang siapa yang menjadi kena getahnya? Ya. Sasuke. Kalau sudah seperti ini jadinya, pastinya Sasukelah yang akan menjadi sasaran perjodohan berikutnya. Dan ternyata benar. Ayahnya langsung berkata, "Tenang saja. Kita masih bisa jadi besan. Karena masih ada putra bungsuku, Sasuke."
"Akh. Benar juga." Senyum kebahagiaan terlihat jelas dari wajah-wajah orangtua yang ada di meja itu dan Sasuke benci melihatnya.
Sasuke hanya bisa memalingkan wajahnya dengan jengkel. Bagaimana bisa ayahnya begitu saja memutuskan segala hal tanpa terlebih dahulu menanyakannya terlebih dulu? Harusnya ayahnya bertanya dulu, apa dia sudah memiliki kekasih? Malam ini Sasuke tidak membawa pendamping, bukan berarti Sasuke tidak memiliki seseorang yang istimewa 'kan?
Tunggu dulu. Sasuke memikirkan seseorang yang istimewa? Bukankah selama ini Sasuke tidak memiliki seorang pacar? Kenapa juga Sasuke tidak senang dijodohkan dengan putri teman bisnis ayahnya. Dengan begitukan Sasuke tidak perlu lagi mencari belahan jiwanya, dan tidak perlu lagi merasakan patah hati. Tapi, apa Sasuke sudah siap melepaskan seseorang yang selama seminggu ini masuk dalam pikirannya? Apa Sasuke benar-benar sudah rela melepas cinta pertamanya?
Tidak ingin berlama-lama dalam acara yang memuakkan ini, Sasuke lebih memilih pergi sebelum ayahnya memperkenalkan putri dari teman bisnisnya itu kepadanya.
"Aku sudah kenyang dan ingin pergi cari angin." Ucap Sasuke sebelum kaki lebarnya memberi jarak lebih lebar dari meja bundar dimana kedua orangtuanya dan kakaknya duduk menikmati makan malam.
.
.
.
TBC
a/n : Jadi, seminggu setelah Sasuke sporing (?) di tepi danau, dia dijodohkan yang pastinya readers sudah tahu dengan siapa. Kali ini ane berusaha menyicil ficnya agar cepat tamat, terlebih saat ini ane sedang menghadapi UTS. :D Jika ada diantara minna yang suka pair Zutara (Zuko Katara) PM ane ya. XD Kita sering bareng2. :D
Special Thanks
( Lucy Hinata, LeEdacHi aRdian Lau, Marukocan, birupink, hanazono yuri, guest1, Jeremy Liaz Toner, Akasuna Sakurai, Eysha CherryBlossom, AI CheChe, Luca Marvell, Ryuhara Shanchi, Kumada Chiyu, guest2) Maaf jika ada kesalahan penname. :D
Terimakasih kepada sider, rider dan ripiuwer. :D
.
.
.
Sign
Biiancast Rodith [05012014]
