Hello Again

Kim Minseok

Zhang Yixing

Wu Yifan

.

Disclaimer

Ceritanya milik saya, castnya milik yang lain :"D

.

Happy reading!

.


Minseok sedang bersama para aktor untuk script reading sambil makan apel ketika Yixing membuka pintu ruangan yang digunakan untuk script reading. Pria itu menunduk sopan pada para aktor, kemudian mendudukkan diri di sebelah Minseok yang memusatkan perhatiannya penuh pada aktor-aktor yang membaca dialognya layaknya tengah mengucapkannya di film nantinya. Minseok sesekali membenarkan intonasi dan emosi dalam dialog aktornya, menyampaikan emosi apa yang ia inginkan dari dialog tersebut.

Sementara itu, mata sipit Yixing tidak lepas dari Minseok. Pria itu terus mengawasi Minseok yang ia yakin sekali beratnya turun lagi sambil mengurusi pre-production film ini. Matanya tertuju pada apel di tangan Minseok yang bahkan belum habis setengah. Apelnya penuh dengan bekas gigitan Minseok. Sesekali Minseok menggigit apel itu lagi, namun tidak dengan gigitan yang besar. Dan Minseok mengunyah satu gigitan lagi sambil matanya tertuju pada script di hadapannya.

"Um.. Sutradara," panggil salah seorang aktor mereka, Do Kyungsoo.

"Ya, Kyungsoo?" Minseok menaikkan kepalanya, menatap pria muda itu dengan senyum. Sementara yang ditatap jadi sedikit salah tingkah.

"Anu, kalau tidak keberatan, bolehkah aku undur diri sekarang? Sekarang jam 5 sore dan aku ada jadwal jam 6." Kyungsoo terlihat sungkan sambil menggarisi kembali line nya dalam script, berharap Minseok tidak masalah dengan permintaannya.

"Ah, begitukah?" Minseok melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam 5. Hari memang sudah beranjak sore. Bahkan Minseok tidak menyadari bahwa langit sudah berubah agak kemerahan dari matahari yang terbenam.

"Kalau begitu," Minseok membereskan scriptnya, "Mari kita lanjutkan minggu depan saja. Kalian semua juga sudah bekerja keras dari jam 11 tadi. Terima kasih sudah datang, sampai jumpa minggu depan!" Minseok membungkuk sopan yang dibalas oleh para aktor-aktornya. Raut lega tertampang jelas dari wajah aktor-aktor tersebut. Tidak jarang beberapa actor menepuk punggung Kyungsoo sambil mengatakan Untung kau punya jadwal!

Sementara itu, Yixing menggeleng melihat kelakuan para aktor-aktor film mereka. Berpikir bahwa sebagian dari aktor mereka perlu setidaknya dijitak atau dicubit pipinya sampai melar. Seenaknya saja senang-senang melarikan diri sementara Minseok bekerja keras dari pagi sampai malam, bahkan sampai tidak tidur untuk menyesuaikan jadwal ini dan itu yang menumpuk.

Minseok sudah mendudukkan dirinya lagi di kursinya, mulai memakan apelnya dengan agak giat. Tangannya kali ini mengeluarkan rencana desain set, serta desain properti yang baru saja diterimanya pagi tadi dari tim Production Design. Dengan sebelah tangan masih memegang apel, tangan Minseok yang lain mulai membolak-balik kertas-kertas rencana desain tersebut, kemudian mulai mengoreksinya satu persatu.

Yixing yang melihat Minseok bekerja nonstop jadi jengah. Pria itu tahu benar Minseok belum makan dari pagi. Hari ini Minseok baru mengonsumsi dua buah apel—apel di tangan Minseok adalah apel keduanya—dan Yixing jelas takut Minseok jatuh sakit. Pria kelahiran Changsa itu akhirnya memutuskan untuk menggoda Minseok sedikit.

Tangan Yixing meraih pergelangan tangan Minseok yang kecil, kemudian menyuapkan apel Minseok pada mulutnya sendiri.

"Wha—" mata Minseok membulat bingung pada figur Yixing yang kini tengah mengunyah apelnya dengan beringas, tapi kemudian Minseok hanya mendengus pelan dan menyuapkan apel itu lagi pada Yixing.

"Gege mau lagi?"

"Kau yang harusnya makan, Min." balas Yixing ketus sambil mendorong apel itu kembali kearah Minseok. "Kau sudah bekerja dari pagi sampai sore begini. Nonstop pula. Dan kamu baru makan dua butir apel saja. Kau bahkan tidak minum air. Kau itu bakpao atau unta?"

Minseok tertawa mendengar cercaan Yixing. "Aku menyimpan cadangan air dalam lemak-lemakku."

"Lemak apanya, kau itu sangat kurus tahu!" Yixing mengangkat pergelangan tangan Minseok yang langsing, nyaris tanpa lemak. "Ini sih apanya yang lemak. Isinya saja cuma tulang sama kulit."

"Ish! Kok gege jadi sewot sih?" Minseok mempautkan bibirnya imut. Membuat Yixing ingin mencubit bibir itu dengan bibirnya sendiri—kalau boleh.

"Habis kau belum makan sama sekali, kan aku jadi khawatir. Mana kau sutradara! Bisa bahaya kalau kau sakit di hari syuting!"

Selain itu aku hanya tidak ingin tekanan darahmu turun lagi seperti waktu itu. Pokoknya aku tidak ingin kamu sakit.

"Ayo sini keluar saja! Kutraktir makan deh!" Yixing mencoba membujuk Minseok.

"Nanti deh ge, aku masih mengecek desain nih!" Minseok menjawab sambil menggigit apelnya dengan ganas, berniat menghabiskannya cepat-cepat.

"Ah, makan cuma berapa lama sih. Palingan tidak sampai satu jam." balas Yixing, masih berusaha merayu Minseok untuk makan.

"Tapi kalau membacanya diputus nanti susah lanjut ge!"

"Setidaknya kau makan dulu ah! Setelah makan kau boleh lanjut sampai malam."

"Wah, benar?" mata Minseok berbinar riang. Apelnya sudah habis, Minseok membuang bonggolnya ke tempat sampah disebelah kakinya.

"Tidak," sergah Yixing cepat, kemudian menarik tangan Minseok, reflek menautkan telapak tangan mereka. "Setidaknya kau makan dulu ah. Jangan sampai telat-telat makan melulu. Nanti pipi bakpaomu itu hilang baru tahu rasa."

"Ish," Minseok menutup buku desain separuh itu kemudian memasukkannya kedalam tas dengan sebelah tangan yang tidak digandeng Yixing. "Lepaskan dulu tanganku, mana bisa aku memasukkan bukunya kalau begini?"

"Tidak mau," Yixing bersikeras, memasang cengiran paling ganteng yang pernah dipasangnya di wajah. "Kalau aku lepas, nanti kau kabur. Mana tanganmu masih memegang buku desain itu pula. Kau juga punya bolpoin di saku dadamu kan. Dan ponselmu di kantung celana."

"Idih!" Minseok meremas tangan Yixing yang menggandeng tangannya. "Prasangkamu buruk amat sih. Untung aku masih mau makan denganmu!"

Yixing tergelak pelan. "Hanya kau yang belum makan. Semua kru sudah makan. Kau bekerja terlalu keras, Min."

"Ah, begitu? Baguslah semuanya sudah makan." Minseok melepas tangannya dari tasnya, kemudian mencoba menyeret Yixing, tanpa mengindahkan kalimat terakhir Yixing.

"Lihat deh. Saking lemasnya, kau menyeretku saja tidak bisa." Yixing mencibir bercanda, yang dibalas dengan bibir Minseok yang mencibirnya balik.

"Aku kan memang lebih ringan daripada gege! Lagipula, tidak adil sekali! Kan aku perempuan, kau laki-laki. Dimana mana memang laki-laki yang biasanya lebih kuat, wajar saja aku tidak bisa menyeretmu!"

"Tapi kemarin kau baru bilang padaku kalau kau kuat. Mana buktinya?" Yixing mendekat dan merapatkan diri di sebelah Minseok, menggenggam tangan mungil Minseok yang terasa dingin akibat terpaan angin di bulan Desember selepas mereka keluar dari ruangan script reading.

"Aku kuat dalam hal lain, bukan ototnya tahu!" Minseok reflex menggigil ketika angin musim dingin menerpanya. "Brrr. Dingin. Untung semua artis tadi dijemput dengan mobil masing-masing."

"Iya untung saja. Kalau tidak, bisa bertambah jumlah tangan yang harus digandeng untuk dihangatkan."

"Ah, tapi begitu-begitu kan kau senang ge, bisa menggandeng artis-artis." Minseok tertawa mendengar godaannya sendiri.

"Meh," Yixing mendengus. "Mungkin itu nanti harus jadi tugas Yifan."

Minseok berhenti tertawa sambil menyelipkan tangannya yang lain di kantong jaketnya yang tebal. "Mungkin."

Hening agak lama menerpa Yixing dan Minseok seiring dua manusia itu berjalan menjauh dari gedung script reading menuju kedai terdekat untuk makan. Minseok menggenggam tangan gege-nya lebih erat, berusaha menghangatkan tangan Yixing yang ikut dingin. Sementara, yang digandeng, dadanya bergemuruh makin keras. Walaupun udara dingin, hatinya terasa hangat. Seluruh badannya terasa hangat hingga muka pria itu memerah. Senyum perlahan tersungging di bibir Yixing, menampakkan dimple yang mempesona.

"Ngomong-ngomong, bagaimana pekerjaan hari ini?" pertanyaan Minseok membuyarkan lamunan Yixing yang tengah menikmati suasana. Yixing menoleh kearah Minseok dengan penuh senyum kemudian mengusak kepala gadis itu lembut.

"Tidak masalah. Aku mengajari Yifan beberapa hal juga. Hari ini beberapa tempat yang kita request untuk syuting juga di confirm. Semuanya mulus." jawab Yixing yang dibalas oleh helaan lega nafas Minseok.

"Untung saja segalanya lancar," Minseok tersenyum hamster. "Bagaimana dengan Yifan? Apa dia cepat beradaptasi?"

"Hm?" Alis Yixing terangkat tidak suka ketika Minseok menanyakan soal Yifan.

Kenapa?

Apa Minseok masih peduli pada pria tiang itu?

"Dia...lumayan." jawab Yixing pendek, mengeratkan genggamannya pada tangan Minseok.

"Jelaskan definisi lumayan!" pinta Minseok sambil mengayunkan tangannya yang menggandeng tangan Yixing, membuat lama-lama Yixing jadi sedikit sebal juga. Minseok menanyakan Yifan melulu.

"Yah, dia cepat menyerap apa yang kuajarkan. Dia mudah diarahkan, seperti sapi," Yixing menambahkan kalimat terakhirnya sebagai bentuk kekesalannya. "Dia—"

"Siapa yang seperti sapi?"

Belum sempat Minseok membalas, sebuah suara bass yang sangat berkebalikan dengan suara Yixing terdengar dari belakang mereka. Minseok dan Yixing menoleh, mendapati Yifan berjalan mendekati mereka dengan tubuh terbalut jaket, syal, dan sepatu winter.

"Aku mendengar namaku disebut, kemudian aku mendengar kata 'sapi' disebut. Apa kau menyebutku sapi?" tanya Yifan sambil tertawa, tapi Minseok tahu benar Yifan tersinggung.

"Kurang lebih," jawab Yixing santai, menghentikan tawa dari sisi Yifan.

"Kau tega sekali menyebutku sapi. Padahal aku tampan begini." Yifan mencoba meredam amarahnya sendiri dengan membalas Yixing menggunakan candaan garing yang narsis. Membuat Yixing memutar matanya dengan malas.

"Jangan ngaku-ngaku!" Minseok menyela, mencoba mencairkan suasana. "Do Kyungsoo lebih tampan darimu bahkan."

"Ah masa? Dia pendek begitu." balas Yifan santai yang pasti akan membuat Kyungsoo merasa terhina. Minseok meringis sedikit membayangkan bagaimana reaksi Kyungsoo kalau mendengar si asisten manager mengatainya terang terangan.

"Ngomong-ngomong, kalian mau kemana? Salju lebat, tidak sebaiknya didalam ruangan saja?" tanya Yifan, menyadari bahwa tangan Minseok dan Yixing saling mengait. Sebelum Minseok sempat menjawab, Yixing dengan cepat membalas pertanyaan Yifan.

"Mau pergi makan. Minseok belum makan dari pagi."

"Dari pagi?" wajah Yifan berubah agak keruh. "Kau ini. Selalu saja." pria tinggi itu mengetok kepala Minseok yang dibalas dengan aduhan Minseok.

"Kau ini sudah tahu punya darah rendah masih saja telat-telat makan. Mau sakit lagi?" tanya Yifan yang membuat Yixing tersenyum kecut. Pertanyaan Yifan barusan mengingatkan Yixing pada kenyataan bahwa Yifan dan Minseok pernah menjalin hubungan khusus—yang membuat dada Yixing serasa dicabik-cabik macan mini.

"Tidak~" Minseok mengeluarkan suara manja yang mengagetkan Yifan dan Yixing. Mereka berdua jelas tidak menyangka si sutradara punya suara semanja ini.

"Ya sudah ayo cepat kita cari makan." Yixing mengajak Minseok seraya mengelus kepalanya dengan lembut, "Kajj—"

"Tunggu!" suara Yifan menginterupsi.

"Aku ikut dong!" tambah Yifan disertai cengiran (sok) polosnya. Sementara Minseok dengan cepat menyetujui. Bagi Minseok sih, asik-asik saja. Tapi obviously pria yang masih digandeng Minseok tidak sependapat.

Yixing mendumel dalam hati.

Tiang sial.

.

To be continued

.


HAHAHAHAHAHAHAHA. APA INI :'D Ya sudah updatenya segini dulu saja :""""D saya pun bingung mau bilang apa disini :"D silakan reviewnya~ :3