Bagian 4: Beginilah Rindu Kubakukan (lagi)
Ketika dua insan tak berada di ruang waktu yang sama... tapi masih di Bumi.
4. Hari ini, t'lah kukirimkan setumpuk rindu. Lewat angin, kukirimkan semuanya, hanya untukmu. Nantikanlah. Paket ini akan menunggu di depan pintu hatimu.
Red's POV
"Kiriman khusus!" ada suara pak pos datang ke tempatku.
'Waduh, pak posnya hebat juga ya? Padahal aku ada di Gunung Silver, tapi juga bisa bawa kiriman ke aku disini,' pikirku. Ya, aku masih di Gunung Silver, menunggu orang yang ingin bertarung denganku.
"Eh, pak pos? Ada apa?" tanyaku.
"Ada kiriman khusus untuk Anda, Silakan tanda tangan di sini," langsung dia menyodorkan pulpen dan tanda terimanya. Setelah aku tanda tangan...
"Ada sesuatu juga yang ingin kukatakan. Aku tantang kau Pokemon Battle," kata pak pos. Aku agak kaget, namun akhirnya...
"Oke, ayo siap-siap!" seruku. Lalu aku bertarung dengan pak pos. Seperti biasa, aku berhasil menang lagi. Setelah bersalaman dengan pak pos, dia pergi, namun dia berteriak sesuatu.
"BUKA KIRIMANNYA SEKARANG!" seru pak pos. Mungkin inilah alasan ini adalah kiriman khusus. Aku melihatnya sangat kesusahan dalam membawanya. Juga, aku lihat ukurannya besar.
Akhirnya aku membuka kiriman itu, dan ternyata isinya...
"WAAAHHH... Kenapa suratnya banyak sekali?" dan aku lebih terkejut lagi karena setelah kuhitung...
3 dari Green, intinya mengajaknya bertarung. 8 dari Gold, intinya tak ada, dan 169 dari...
"Yellow..." kubaca satu persatu suratnya. Sepertinya dia menuliskan segala yang terjadi padanya selama 169 hari sebelum dia mengirimkan surat ini. Dan dari semua surat itu, intinya satu, jelas, dan tegas.
Yellow's POV
"Aku merindukanmu, Red. Cepatlah pulang..." kataku, sebelum aku tidur lagi, bersiap untuk memimpikan saat itu.
Saat Red kembali dan tersenyum padaku...
5. Kadang, cuma butuh satu helaan napas panjang buat menyudahi penat hari ini sambil membayangkan sepotong senyummu.
Red's POV (masih lanjutan yang tadi)
Ahhh...lelahnya... hari ini, hanya 3 yang datang bertarung denganku. Salah satunya si pak pos tadi. Aku lelah sekali. Aku tarik napas panjang, dan melepaskannya. Tiba-tiba aku mengingat sesuatu.
Surat-surat dari Yellow. Dari sana, aku bisa membayangkan apa yang terjadi padanya. Dan ada satu yang kuingat selalu.
Senyumannya...
11. Dear you, rindu itu, Kamu. Rindu itu sunyi. Cuma kamu yang bisa meramaikannya. Rindu itu api. Cuma kamu yang mampu memadamkannya. Rindu itu semena-mena. Begitu terantuk di matamu, tak mau lari ke mana-mana. Rinduku itu haus dan lapar. Cuma sentuhan bibirmu yang bisa memuaskannya.
KEBAKARAN!
Hutan Viridian mengalami kebakaran. Sekitar 40 persen bagian hutan terbakar. Untungnya hutan dapat diselamatkan. Sayangnya, banyak Pokemon yang terbakar karena tak bisa kabur. Namun lebih banyak yang selamat. Ini semua karena bantuan satu orang.
Yellow
Namun sayang, karena memakai energi terlalu banyak, dia justru pingsan sendiri. Tertidur di tengah-tengah abu hutan yang dia lindungi sendiri.
Tak ada orang yang sadar tentang hal itu. Tak ada, kecuali satu.
Ada seorang laki-laki, datang ke gadis yang tidur itu. Dia mengecek pergelangan tangannya untuk mengecek tekanan darahnya, dan...
"Syukurlah..." akhirnya, dia mendekatkan kepalanya pada kepala gadis itu, dan mencium keningnya.
"Wake up, Yellow..."
Dan itulah kisah penyelamatan Hutan Viridian yang berakhir indah. Bagi Yellow tentunya.
16. Dalam rentang jarak, hanya hati kita yang masih bisa saling menyapa, saling mendoakan, "Aku selalu merindukanmu, sayangku," biski hatiku lirih padamu, "semoga kamu pun begitu."
Hujan meteor. Banyak jumlahnya. Saat sempurna untuk Red dan Yellow untuk berharap. Dan cukuplah tulisan di atas menjadi harapan mereka. Semoga menjadi kenyataan.
19. Membayangkannya saja membuat hadir menjadi lebih terasa. Saat ini, biarlah cukup begini. Sampai nanti bertemu lagi.
Yellow's POV
Menggambar lagi. Memang itu yang bisa kulakukan sekarang sembari menunggu pancinganku dimakan entah apa. Dan aku membayangkan sesuatu untuk digambar.
Tiba-tiba, aku mendapatkan inspirasi. Inspirasi yang membuatku melayang untuk sejenak.
10 tahun di masa depan, akhirnya Red melamarku, aku sangat kaget dan hampir pingsan. Untung saja Red langsung memelukku. Dalam pelukannya, aku mengangguk.
Kemudian, pernikahan. Terjadi sebulan setelah dia melamarku. Aku benar-benar senang hari itu, terutama setelah Red berkata "Ya". Aku yakin Red juga berperasaan yang sama dalam posisiku.
Tiba-tiba, langit berubah gelap, ternyata terjadi gerhana matahari. Banyak orang ketakutan, termasuk aku. Namun Red tampak tenang. Dia berkata,
"Tidak apa-apa, Yellow, itu hanya matahari tertutup bulan, seperti nafsu yang akhirnya tertutup dengan adanya cinta sejati," aku tak bisa melakukan apa-apa selain pingsan di pelukannya, lagi.
Sekian untuk imajinasi hari ini. Sekarang waktunya menggambar. Besok, jadikan kenyataan. Kecuali di bagian pingsannya.
21. Dear you, MAAF. Maaf jika aku tak di sana ketika kamu gelisah. Maaf jika aku tak punya kendali atas waktu dan jarak. Maaf untuk semua gelisah yang kau rasakan. Maaf karena diam-diam aku yang egois ini senang saat rindumu hanya untukku seorang.
Akhirnya kau kembali. (Neutral POV)
Kami berpelukan. Menangis. Bersama.
"Maaf, Yellow... maaf, Yellow... maaf, Yellow..." sampai tujuh kali Red meminta maaf. Air matanya membuat bagian pundak baju Yellow basah.
"Untuk apa k-kau min-ta ma-maaf, Red?" tanya Yellow. Juga menangis, membuat bagian pundak bajunya Red juga basah.
"Aku bodoh... bodoh, BODOH!" seru Red, berteriak di balik pundak Yellow.
"R-Red..."
"Aku berdiam diri di Gunung Silver, kadang senang saat bertarung dan menang, namun... namun..." Red mulai tak bisa menahannya.
"AKU BODOH SEKALI! AKU BERSENANG-SENANG SENDIRI SAAT KAU MERINDUKANKU! LAKI-LAKI MACAM APA AKU INI!?" serunya terdengar sampai pinggiran Hutan Viridian. Lalu dia menatap Yellow, masih dengan matanya yang banjir air mata.
"Red..." mereka saling menatap mata mereka yang sama-sama banjir air mata. Dan tanpa pikir panjang, mereka melakukan hal yang sama, sesuatu yang dijelaskan melalui lagu anak-anak ini.
Red and Yellow
Sitting under the tree
K-I-S-S-I-N-G
Setelah 5 menit yang hangat itu, mereka selesai. Red bicara lagi.
"Aku tak akan membiarkanmu sendiri lagi. Janji," dan diakhiri dengan mereka saling menyentuh kening mereka.
34. Sapamu di telepon menjadi kejutan yang tak terduga-duga. Dan semanjang sisa hari ini, hidupku jadi berjudul 'Bahagia'.
Baiklah, mari kita melihat perbandingan fisik dari sebuah obyek bernama "Amarillo del Bosque Verde" sebelum dan sesudah ditelepon oleh Red dengan kejadian pada saat matahari terbenam.
Sebelum: tekanan darah normal, wajah ceria biasa, tingkat imunitas normal, tingkat depresi normal.
Sesudah: tekanan darah naik, wajah ceria kebangetan, tingkat imunitas naik pesat, tingkat depresi hampir nol.
Hanya karena satu hal, Red meneleponnya.
Sekian laporan psikologi hari ini. Ada pertanyaan?
44. Entah sudah berapa ratus titik di pipimu yang kucium; mengeratkan rindu dan kenangan dalam kemegahan perasaan. Lekang!
Yellow's POV
Semenjak menjadi istrinya, entah sudah berapa kali dia menciumku sebelum berangkat kerja dan saat pulang kerja. Dan aku selalu langsung memerah pipinya setelah ciuman itu.
Ini adalah ciuman ke-30000. Dan ciuman terakhirnya dalam masa kerjanya. Hari ini adalah hari terakhirnya bekerja dan besok dia akan mulai masuk masa pensiun.
Sorenya, dia pulang.
"Aku pulang, my honey blonde Yellow..." kata Red, aku terkekeh, menyangkal sebuah kenyataan.
"Hehehe, Red, ingatlah rambutku sekarang sudah putih," kataku, sedikit menggodanya. Itu membuat Red semakin mendekatiku.
"Heh, aku tak peduli... kau tetap my honey blonde..." lalu dia mencium pipiku lagi. Untungnya di usia rentaku, aku tak punya riwayat hipertensi, karena kalau dia menciumku sekali lagi, mungkin aku akan terkena serangan jantung, hehehe.
"Selamat memasuki masa pensiun, Red," kataku, tersenyum.
"Heh, pensiun dari kerja, berarti mulai bekerja. Pekerjaanku sekarang adalah... " lalu dia berbisik ke telingaku.
'Kau dan aku saling menjaga, sampai salah satu dari kita dipanggil terlebih dahulu, atau bersama...'
Aku langsung memeluk suamiku erat. Terharu dengan yang baru saja dikatakannya.
Jawabannya...
15 tahun kemudian, terlihat seorang laki-laki yang umurnya sekitar 50 tahun, rambutnya pirang kehitaman, melihat 2 batu nisan di depannya.
"Ibu, ayah, selamat ulang tahun pernikahan. Semoga kalian berdua tenang di sana..."
Ingin lihat batu nisannya? Baiklah, ini dia.
Red
8 Agustus 20XX – 28 September 21YY
Yellow
3 Maret 20ZZ – 28 September 21AA
Sepertinya kemungkinan terakhir yang benar, pikirku. Dalam rupa arwah yang muncul di pohon dekat nisanku dan Red. Lalu...
Aku merasakan Red menciumku lagi. Ini sudah ke-100. Sepertinya aku akan menikmati ciumannya sampai kami sampai ke Surga...
46. Haus kukecup napasmu. Kirimi aku selarik desahmu. Sungguh aku inginkan itu. Sangat!
Neutral POV
Kau tak akan membayangkan sisi gelap Yellow. Dan kau tak akan bisa. Ini terlihat dari 2 hal. Buku gambarnya dan mimpinya.
Agen rahasia kami berhasil mendapatkan gambar-gambar dari buku gambar Yellow. Kamipun terkejut karena ternyata Yellow tidak se-innocence yang kami bayangkan. Tentunya hanya kami yang tahu gambarnya karena data ini bersifat rahasia.
Kemudian, saat kami menyalakan alat tafsir mimpi, kami lebih terkejut lagi. Kami langsung menutup mata kami atas apa yang kami lihat. Tentu kami juga tidak ingin memberitahumu karena ini juga rahasia. Plus kalau ini diketahui Gold, bisa hancur sejagad raya karena kebanjiran darah dari hidungnya.
Jadi kesimpulan dari penyebab Yellow bersifat innocence, atau yang lebih tepat, pura-pura innocence, adalah agar Red tidak menyadari isi pikirannya. Untungnya Red masih cukup dense untuk tidak menyadari itu.
Satu hal saja yang bisa kami beritahu pada kalian. Yellow sedikit mendesah saat tidur. Tenang, dia tidur sendiri. Namun kami mendengarkan desahan itu sebagai sebuah nama. Kami tak terkejut untuk yang satu ini.
AHH, SUDAHLAH! OTAKKU BISA RUSAK KALAU KULANJUTKAN BAGIAN INI!
Laporan selesai.
Judul Laporan Khusus Agen Rahasia Blue: Dark of The Yellow
57. Kutitip kecup manja di sudut pipimu, Cuma itu yang kumampu.
Ada kata mutiara dari salah satu orang. Bunyinya seperti ini.
"Mulai saat ini, mencium pipimu akan menjadi kebutuhanku. Entah kapan maupun dimana," –Red-
Dan sudah jelas target ciuman Red itu siapa.
59. Semestinya kupecahkan saja rindu ini dengan kepala tengadah. Membuncahkannya di beranda hatimu, tanpa malu-malu.
'Sayangnya, tiap aku bertemu kau, aku pasti menelungkupkan kepalaku karena malu. Pipiku memerah seperti namanya, dan aku jadi terbata-bata dalam Mengatakan sesuatu. Oh, Red... mengapa kau membuatku jadi begini?' pikir Yellow tiap kali dia bertemu Red setelah sekian lama.
73. Karena kata hanya perantara, tak bisa seutuhnya. Biarkan rasa yang bicara dari kedalamannya, detik ini. Masih. Rindu ini, untukmu.
"Red, pulanglah..."
"Yellow..."
"Aku tak mampu lagi kalau hanya mendengar s-sua-ramu..." mulai ada suara isakan.
"Aku ingin... a-aku ingin..." langsung dipotong.
"Aku tepat di belakangmu sekarang," langsung saja si gadis pirang ini menoleh, dan melihat Red tepat ada di belakangnya. Tersenyum dengan senyuman khasnya.
"REEEEED-SAAAAANNN!" langsung bendungannya pecah, Yellow melepas semua emosinya pada Red. Kadang memukul dada bidangnya, tapi lebih sering membenamkan wajahnya di sana.
"BODOH! BODOH! BODOH! RED-SAN BODOH! AKU MENELEPON KALAU AKU MERINDUKANMU DAN KAU SUDAH ADA DI BELAKANGKU! RED-SAN BODOH!" itu saja yang dikatakan Yellow. Red hanya terkekeh sambil menahan sakit karena pukulan itu. Lalu...
"Nah, aku sudah disini. Tadi kau belum selesai dengan kalimatmu. Kau ingin apa?" tanya Red, membuat Yellow terkejut, namun dia akhirnya ambil tindakan.
"Temani aku, seharian ini," tangan kecilnya memeluk Red yang memeluk balik.
Kebahagiaan kembali datang kepada dua Homo sapiens sapiens ini.
84. Deja vu. Setiap kali kusesap cawan rasamu. Manis pahit dalam satu rindu.
Yellow's POV
Tiap Red datang ke rumahku, pasti aku merasakan semua hal ini: jantung berdebar kencang, perutku seperti ada kupu-kupu yang ingin keluar, pipiku memerah, dan otakku tak bisa bekerja normal.
Sekarang, hanya membayangkan Red saja sudah bisa membuatku merasakan semua hal ini: jantung berdebar kencang, perutku seperti ada kupu-kupu yang ingin keluar, pipiku memerah, dan otakku tak bisa bekerja normal. Ditambah satu, kedinginan.
Seperti merindukan kehangatan dari rupa manusia bernama Red, yang sifatnya saja sudah panas.
85. Aku telah basah kuyup oleh bahagia yang kau titipkan lewat satu kecup di bibirku, kemarin. Manisnya masih kucecap sampai detik ini.
Yellow's POV
Aku tak tahu mengapa aku tak bisa mengendalikan apapun saat ini. Keringat dingin, tekanan darah, semuanya. Aku tak tahu mengapa. Ini terjadi setelah kemarin...
FLASHBACK MODE: ON
Kemarin, adalah kencan pertamaku dengan Red. Setelah menjalani banyak kesenangan, terutama hanya berdiam diri sambil saling menyandar di Hutan Viridian, tiba-tiba Red bertanya.
"Yellow... kau senang kan hari ini?" tanya Red. Aku hanya bisa mengangguk malu.
"Hmm... bagaimana kalau kuberikan kau satu lagi hal yang membuatmu lebih senang lagi?" aku langsung menolehkan kepalaku ke hadapan Red, agak bingung dalam mencerna kalimatnya tadi. Namun langsung saja...
Dia memberikanku kecupan manis, hangat, di bibir kecilku. Mataku langsung terbuka lebar. pipiku menjadi nama yang menciumku tadi, dan tubuhku tak dapat kukendalikan. Akhirnya aku tak bisa menahan ketidakstabilan tubuhku dan langsung pingsan.
Saat aku bangun, aku melihat sekitar. Aku sudah ada di kamarku. Dan di sampingku, ada Red, Green, dan Blue. Blue yang tampak gemas melihatku, Green yang datar, dan Red yang agak malu sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.
Mereka menceritakan apa yang terjadi saat aku pingsan. Setelah itu, Red tersenyum lebar dan berkata...
"Aku senang kau akhirnya sadar," aku bisa melihat ada genangan air mata di sudut matanya.
"Red, k-kau, kau menangis?" tanyaku? Dia hanya mengangguk. Akhirnya kami semua, termasuk Green dan Blue saling berpelukan.
FLASHBACK MODE: OFF
Dan entah mengapa aku merasa kalau Red baru saja menciumku tadi, karena rasanya masih ada.
Rasa hangat, manis, dan mengena dari ciuman Red di bibir sama dengan rasa teh ternikmat di jagad raya...
95. Tanpa awalan dan akhiran; rindu ini, milikmu saja.
Pada akhirnya, kami semua para fans SpecialShipping akan merindukan setiap hints dan potensi yang diciptakan oleh baik Red maupun Yellow. Dan kami berharap, entah di dimensi apa, Red dan Yellow dapat hidup bersama, saling merindukan, dan saling mencintai, selamanya.
Ada pertanyaan?
Berlanjut...
Bagian bab kedua juga. Akhirnya benar-benar selesai dan benar-benar drabble. Hehehehe... Dark of The Yellow... kapan-kapan akan kubuat Dark of The Red, tapi... (pergi keluar untuk memperbaiki otak yang rusak karena bagian drabble tadi)
Dan sepertinya aku benar-benar membunuh ke-innocence -an Yellow di bab ini -_-
Oke, keripik dan jarannya mana?(kritik dan saran maksudku).
RWD, keluar.
