Bagian 4: Selamat Malam, Cinta

Selamat malam, Red dan Yellow. Izinkan kami melihat apa yang kalian lakukan malam ini.

Di luar cerita, di dalam mimpi...

"TOLOOOOOOOOOONGGGG!" ada yang berteriak dalam mimpi. DAN ITU AKU!

Blue's POV

"APA YANG KAU LAKUKAN KEPADA YELLOW?!" seru seseorang di belakangku, dengan membawa SENAPAN API AK-47?

"DORDORDORDORDORDORDORDORDORDORDORDORDORDOR..."

Red membawa senjata, ditembakkan ke udara, membuatku takut setengah mati. Dia berteriak lagi.

"BAGAIAMANA KAU BISA MEMIKIRKAN YELLOW SEPERTI ITU, HEEHH?! YELLOW TIDAK MUNGKIN BERPIKIRAN SEPERTI KAU!" siap menembak lagi... sekarang senjatanya mengarah tepat padaku. Oh, oh... aku tahu apa yang akan terjadi.

"DORDORDORDORDORDORDORDORDORDORDORDORDORDOR..."

Keluar dari mimpi...

"HENTIKAN!" lalu aku menyadari sesuatu... fiksiku... ini pasti fiksiku... ini pasti dari fiksiku yang mana aku membunuh ke-innocence-an Yellow, lalu Red... BALAS DENDAM...

"MAAF, RED, YELLOW, MAAF... AKU JANJI AKAN MENGENBALIKAN JADI DIRI YELLOW YANG SEBENARNYA... AKU TAHU! AKU HARUS MEMBUAT CERITA YANG BENAR-BENAR RedxYellow TANPA ADA YANG ANEH-ANEH, DAN AKU HARUS MELAKUKANNYA..." aku melihat jam... 01.35.

"SEKARANG!"

Masuk ke cerita...

6. Terbangun dari mimpi dan-tiba-tiba, 'ku ingin kau ada.

Yellow's POV

Setiap pagi, aku bangun tidur, bangun dari mimpi indah yang sering muncul sepanjang malam. Dan saat aku membuka mataku, aura kesenangan berubah 180 derajat.

Pertama, karena itu hanya mimpi, dan kedua, dia tak ada di sampingku seperti dalam mimpi.

'Red-san... temani aku...' pikirku pagi itu, dan pagi-pagi sebelumnya.

7. Sayangku, mataku tak bisa terpejam, pikiranku mengelana entah ke mana. Mungkin, saaat ini sedang tertuju ke arahmu di ujung dunia sana. Hanya sekadar untuk memuaskan rasa penasaran, "Mimpi apa kamu malam ini? Apakah tentangku... atau dia?"

Yellow's POV

Aku terus membayangkan itu sepanjang malam sebelum tidur, dua kenyataan pahit yang harus kuhadapi untuk mendapatkan Red-san:

Ketidakpekaan Red-san, dan rival beratku.

Di saat itu, aku berpikir...

'Red-san, mengapa kau sangat tak peka? Aku harap mimpimu bisa menghilangkan ketidakpekaanmu. Namun bagaimana nanti ternyata bukan aku jawabannya? Bagaimana...'

AKU TAK TAHAN! Akupun menangis lirih di tempat tidurku, masih dengan berpikir...

'Red-san... bermimpilah tentangku... kumohon...'

KEESOKAN PAGINYA...

Red menelepon Yellow pagi itu, dan mengejutkannya...

"Hei, Yellow, aku punya mimpi aneh..."

"Mimpi apa?" di pikiranku... 'Kumohon... jangan tentang dia... jangan tentang dia...'

"Tentang sebuah pertanyaan, jika 2 pokemon saling menyukai namun beda pemilik, apa yang harus dilakukan pemilik para Pokemon itu?"

"Dan kau menjawab..."

"Ya... aku jawab, kita harus hidup bersama ^_^ " saat itu aku sadar, bunga di hatiku baru saja mekar, karena itu juga mimpiku tadi malam. 'Terima kasih... terima kasih... terima kasih...'. Lalu...

"Yellow, kau punya acara tidak? Kalau tidak, tolong temani aku beli baju baru di PokeMart," sekarang, aku merasakan kupu-kupu masuk ke perutku.

'Terima kasih, Red-san...'

8. Saatnya masuk ke dunia mimpi. Siapa tahu besok bisa bangun dan jatuh cinta lagi kepadamu.

SMS sederhana sebelum dan sesudah tidur, bagi Red dan Yellow.

Red: "Selamat malam, Yellow. I love you,"

Yellow: "Selamat malam juga, Red-san, I love you too,"

Red: "Selamat pagi, Yellow. I love you,"

Yellow: "Selamat pagi juga, Red-san, I love you too,"

Selesai.

20. Semoga kau mendapatkan bulannya. Aku hanya ingin bermimpi saja, tentangmu.

(Ada hubungan dengan Bagian 3)

Yellow's POV

Tentu saja, aku sangat lelah karena peristiwa yang menguras emosi tadi. Karena itulah aku lebih memilih tidur sekarang.

Tidur dan memimpikan saat kau kembali dan memelukku

29. Berbisiklah meski sebatas desah. Telah cukup untukku, lebih dari cukup untuk bahagiaku, malam ini.

Red's POV

Rencananya aku dan Yellow ingin mengamati hujan meteor bersama, namun seperti biasa, Yellow sudah tidur terlebih dahulu, padahal ini baru pukul 9 malam.

Aku berniat untuk membangunkannya sekarang, tapi...

'Yellow, Yellow... kau cantik sekali kalau sedang tidur. Aku tak tega membangunkanmu, tapi...' Aku harus membangunkannya. Ini karena dia yang mengajakku. Ini dia...

"Yellow, Yellow, ayo bangun..." dan hanya dibalas dengan desahan kecil dan sedikit gerakan untuk menyesuaikan kepalanya dengan sandarannya, yang mana itu adalah pundakku.

"Red-saan..." aku hanya tersenyum saat aku melihat senyumannya yang semakin manis. Mungkin ini adalah rencananya yang sebenarnya.

Bukan untuk mengamati hujan meteor, tapi untuk saling menyandar di bawah langit berbintang jatuh.

Akhirnya aku menyerah, dan aku memilih untuk menyandarkan kepalaku ke kepalanya Yellow.

Benar-benar saat indah untuk kami. Sampai...

JEPRET!

It must be Blue's plan...

30. Percayalah! Aku setia menjadikanmu ratu di setiap tidurku. Selalu.

Red's POV

Truth or Dare, Gold bertanya pilihanku, aku pilih "Dare".

"Kutantang kau untuk tidur bersama Yellow setelah permainan ini selesai, untuk malam ini," langsung pipiku memerah karenanya, dan kulihat Yellow juga sama, sambil menghindari pandangannya dariku, mungkin karena malu.

'Si**an kau, Gold' pikirku. Namun malamnya...

"Red-san... k-kau t-tak perlu melakukan ini..." dan aku berdiri. Dan dengan senyumanku, aku berkata padanya...

"Terima kasih, Yellow. Kau boleh tidur di kasurku. Aku tidur di lantai saja," kataku.

Yellow's POV

'EEHHH... Benarkah yang dia katakan? Aku jadi kasihan...' tapi aku jadi sangat bingung...

"Red-san... sebenarnya... aku... aku..." langsung dipotong oleh suaranya.

"Tak usah kauhiraukan. Itu hanya permainan. Kau tak harus melakukan semua hal, kan? Lagipula..." aku melihat pipinya memerah.

"...akan ada waktu yang tepat untuk itu. Sudahlah, aku ingin tidur. Jaga dirimu, Yellow," lalu kulihat dia tidur di lantai, hanya dengan sleeping bag -nya. Aku lalu berpikir hal yang luar biasa.

Red-san... semoga waktunya datang cepat... I love you, Red-san...

32. Cukup satu kecup saja. Meskipun hanya dalam kata dan menjelma dalam mimpi, hmmm... bahagia, nyatanya.

SMS lagi. Namun ini setelah mereka menikah dan Red sedang berada di luar kota.

Red: "Good night, my honey blonde Yellow :* "

Lalu, Yellow juga membalasnya.

Yellow: "Good night too, my hero crimson Red :* "

Lalu Yellow menghela napas panjang, dan tenggelam dalam mimpinya yang indah.

Tambahan:

"Mimpi indah" adalah segala mimpi yang berakhir baik bersama Red-san (diambil dari Kitab Kamus Yellow halaman 823)

39. Tidurku tak meraih sempurna. Terjaga demi sepotong tanya: "Apakah aku ada dalam mimpimu?"

Yellow's POV

Aku membawa banyak bunga. Bunga liar yang kuambil dari halaman rumahku. Hanya satu hal yang ingin kulakukan dengan bunga-bunga itu malam ini. Kau tahu apa yang akan kulakukan?

Ya, kupetik kelopaknya, satu persatu. Untuk apa? Mengetahui apakah dia memimpikanku malam ini atau tidak. Dan aku mulai.

"Dia memimpikanku, dia tidak memimpikanku, dia memimpikanku, dia tidak memimpikanku, dia memimpikanku, dia tidak memimpikanku, dia memimpikanku..." rerus sampai kelopak bunga terakhir. Dan ternyata...

"Eh? Untuk apa aku melakukan ini?" langsung kubersihkan semua kelopak itu, lalu kembali tidur. Aku baru tersadar sesuatu.

Bahwa dia akan terus memimpikanku.

40. Tidur tidurlah! Menjadilah bintang dan bersinarlah. Karena terangmu adalah bahagiaku juga, senyatanya.

Red's POV

Malam itu, aku dan Yellow sedang berkemah di dekat rumahnya. Ya, aneh memang berkemah di dekat rumah salah satu yang sedang berkemah.

Namun ini keinginannya, jadi tidak masalah bagiku.

Dan kami memilih berkemah di dekat danau dekat rumahnya. Saat itu, sudah malam, dan kami sudah tertidur. Semuanya tenang sampai tiba-tiba aku merasakan Yellow sedikit gemetaran.

Dia pasti kedinginan...

Jadi kuambil inisiatif untuk memeluknya, memberikan kehangatanku padanya, dan sebelum aku tertidur juga, aku bernyanyi sedikit untuknya. Sebuah lagu yang baru saja diberikan Gold. Dia berkata kalau lagu ini cocok untuknya. Aku sebenarnya agak heran, sebuah lagu dengan judul yang jelas.

Namanya... Yellow...

Aku bisikkan selarik, atau mungkin dua, lagu itu di telinganya...

"Look at the stars, look how they shine for you, and everything you do, yeah, they were all yellow..."

"I came along, I wrote a song for you, and all the thing you do, and it was called..."

Akupun akhirnya tak dapat menahan kantukku, dan akhirnya tertidur, setelah kata terakhirku hari ini keluar dari mulutku.

Yellow...

55. "Marry me...!" pintaku. Meski Cuma dalam mimpi, telah cukup untuk bahagiaku malam ini.

Dan keesokan harinya, mimpi itu akan jadi kenyataan... Itulah satu keping kebahagiaan universal dan eternal...

62. "I love the way you say good night." Tak pernah bosan, meski aku telah mendengarnya beribu kali.

Yellow's POV

Red-san, Red-san...Entah mengapa...

Tiap kali kau mengucapkan "Selamat malam" padaku, pasti aku melayang...

Akapah kau telah menjadi narkoba jenis baru, yang hanya bisa menyebabkan kecanduan pada seorang manusia saja, yaitu aku?

Saking kecanduannya, sampai-sampai aku tak bosan mendengarkannya darimu, meskipun sudah kaulakukan ribuan malam.

Benar, kaulah narkobaku, Red-san...

72. Malam. Aku sudah kehabisan akal. Tapi percayalah, cintaku kekal.

Marilah kita lihat kandungan pikiran Red dan Yellow saat mereka tertidur.

Red: 23% Pokemon, 25% diri sendiri, 35% Yellow, 17% hal lain.

Yellow: 48% Red, 23% Pokemon, 25% diri sendiri, 4% hal lain.

76. Selamat malam. Selamat tidur, kamu pemilik lugu sapa, dan bening mata. Aku di dalam pelukanmu.

Yellow's POV

"Red-san..." panggilku, untuk yang sedang memelukku, malam itu, di cuaca berangin dingin.

"Hmm... ada apa, Yellow-chan?" tanyanya, sambil tersenyum padaku, dan langsung saja membuat pipiku memerah bagaikan yang sedang memelukku saat ini.

"Ayolah, Red-san... berhentilah memanggilku dengan –chan..." kataku. Dia mengangguk, lalu...

"Kalau kau berhenti memanggilku dengan –san," katanya. Aku berpikir, dan akhirnya, aku lebih memilih... mengeratkan pelukanku dan menutup mataku sembari berkata...

"Red-san..." aku merasakan Red-san juga mengeratkan pelukannya.

"Yellow-chan..." aku kalah dalam permainanku sendiri, namun kalau yang mengalahkanku adalah Red-san...

...sama saja seperti kami menang bersama.

77. Kenapa masih berdiri di depan pintu? Masuklah! Telah kusiapkan paket perjalanan kePulau Bahagia untuk tidurmu.

Di dalam mimpi...

Red's POV

"Tok, tok, tok," aku dengar ada yang mengetuk pintu rumahku. Aku berjalan ke arah pintu itu dan melihat siapa yang mengetuj pintu. Dan ternyata...

"H-hai, Red-san..." Yellow, dengan rupa yang agak murung, dan bukan hanya pipinya yang memerah, matanya juga. Aku mulai khawatir dengan keadaannya.

"Yellow, ada apa? Ada masalah? Masuklah, kita bisa bicara di dalam," aku giring dia ke dalam rumahku. Dan saat akhirnya dia mendongakkan kepalanya untuk melihat apa yang ada di rumahku, dia seperti...

Yellow's POV

'Aku tidak percaya dengan yang kulihat... benarkah ini isi mimpi Red-san?' aku hanya bisa melongo heran.

Mengapa? Karena isi rumahnya penuh dengan sketsaku tentangnya. Semua tempat ada gambar sketsaku. Baik di ruang keluarga, ruang makan, ruang latihan, kolam renang, bahkan kamarnya.

Dan saat aku masuk ke kamarnya, aku sangat terkejut karena...

Red's POV

Aku memandang kagum setiap gambar yang ada di rumahku. Semuanya digambar oleh seniman terhebat di jagad raya.

Namun yang paling kusukai adalah yang ada di kamarku. Kamarku memiliki sebuah tempat tidur dengan bentuk mirip kapal dengan tulisan "SS. SS" dan di depannya adalah gambar yang paling kusukai, bukan karena keindahan alam maupun yang lainnya, ya, mungkin keindahan alam termasuk, karena pemandangan matahari terbenam di pantai memang indah, namun itu bukan alasan utama.

Alasan utamanya karena gambar di kamarku adalah satu-satunya gambar dimana sang seniman berada di dalamnya.

Aku langsung mengajaknya duduk, dan memintanya menceritakan masalahnya.

"Hmm... a-aku tak b-bisa tidur..." dan aku paham langsung. Aku memberikan seluruh ranjangku padanya.

"Tidurlah di ranjangku. aku akan tidur di lantai. Tak apa-apa –" langsung saja, Yellow memelukku.

Yellow's POV

Aku tak tega kalau dia tidur di lantai. Jadi kuputuskan untuk...

"Red-san... temani aku..." lalu aku melihat Red-san tersenyum. Dan akhirnya mengatur posisi tidurnya di sampingku. Dan kata terakhirnya adalah...

"Yellow, ayo pergi ke Pulau Bahagia, bersama..."

89. Cukup rasakan jemari kita bersentuhan. Dan di satu titik rindu, bibir kita bertemu. Goodnight, you.

Yellow's POV

Bagian terakhir kencanku dan Red-san... dia mengantarkanku pulang. Tanganku dan tangannya saling mengeratkan. Aku merasakan kehangatan yang kental di perjalanan kami.

Akhirnya sampai ke rumahku.

"Nah, Yellow, kita sudah sampai. Aku senang sekali hari ini, aku bisa... menyadari perasaanku," aku melihat pipinya agak merona.

"I-iya, Red-san... terima kasih, Red-san," senyumanku membuat Red-san bingung.

"Untuk apa?" tanyanya, lalu, aku langsung ambil tindakan. Seperti yang dikatakan Blue...

"Kalau kau bingung, mengapa kalian tak hidup bersama saja?"

Ini kesempatanku untuk menunjukkan kalau aku ingin hidup bersamanya.

Bersama Red-san.

Aku beri dia kecupan kecil di pipi kanannya, sedikit susah karena perawakannya yang tinggi dibanding aku. Namun aku berhasil. Aku kembali untuk melanjutkan kalimatku yang belum selesai.

"Segalanya..." dan langsung saja, setelah itu...

Sebuah ciuman manis, tepat di bibir, membuatku beku sesaat, sampai akhirnya ciumannya menghangatkanku lagi. Akhirnya kami saling berbagi kebahagiaan di malam itu.

Di bagian akhir kencan kami.

Di luar cerita.

Blue's POV

"Ah... selesai juga. Semoga Red tidak mengejarku kali ini..." setelah mengirimkan cerita malamku ke semua orang, pada akhirnya aku kembali pada tempat peristirahatan sementaraku, tempat tidurku. Untungnya Red akhirnya tidak kembali dengan AK-47 di mimpi kali ini. Namun diganti dengan...

Di dalam mimpi...

"Blue, terima kasih, ya..." Red dan Yellow, memelukku?

Untunglah... kutukanku berakhir...

Ada pertanyaan?

Berlanjut...

Bagian 5 selesai. Dan inilah bukti nyata aku mengembalikan ke-innocence-an Yellow kali ini. Aku tak ingin masuk Dark Side of SpecialShipping walaupun Darth Vader mengajakku terus.

Seperti biasa, kripik jarannya ditunggu.

RWD, keluar.