Bagian 6: Selamat Pagi, Mata
Bangunlah, Sang Petarung dan Sang Penyembuh! Saatnya meraih hari.
10. Sarapan apa hari ini? Sepiring memori tentangmu yang terpatri dan tak pernah basi.
Red's POV
"Pika?" suara itu menyambut pagiku hari ini. Setelah sedikit peregangan otot, aku melihat ke arah sumber suara itu. Dan ternyata itu berasal dari salah satu Pokemon setiaku, Pika.
"Oh, selamat pagi, Pika. Cuacanya bagus ya?" tanyaku sambil melihat luar jendela. Dan benar saja, cuacanya bagus. Matahari bersinar terang dengan banyak Pokemon yang berkeliaran menikmati hari.
Setelah melakukan segala sesuatu yang selalu kulakukan tiap hari –membersihkan kamar, mandi, makan-, aku bersiap untuk berlatih lagi.
"Oke, Pika. Kau siap untuk bertemu dia lagi?" tanyaku. Pika langsung paham siapa yang kumaksud dan mengangguk. Kemudian kukeluarkan Aerodactyl dari bolanya.
"Aero, seperti biasa, Hutan Viridian!" langsung kami terbang, terbang ke tempat latihan biasaku. Ini semua untuk mewujudkan satu hal.
Aku berjanji akan menjadi Gym Leader di Viridian. Untukmu, Yellow...
16. Satu detik bermimpi tentangmu, menggurat begitu nyata; meniupkan napas keindahan di jejak pagiku.
Yellow's POV
"Chu?" suara itu menyambut pagiku hari ini. Membuatku terbangun dari satu lagi mimpi indahku bersama Red-san. Setelah sedikit peregangan otot, aku melihat ke arah sumber suara itu. Dan ternyata itu berasal dari salah satu Pokemon setiaku, Chuchu.
"Oh, selamat pagi, Chuchu. Cuacanya bagus ya?" tanyaku sambil melihat luar jendela. Dan benar saja, cuacanya bagus. Matahari bersinar terang dengan banyak Pokemon yang berkeliaran menikmati hari di tengah hutan ini.
Setelah melakukan segala sesuatu yang selalu kulakukan tiap hari –membersihkan kamar, mandi, makan, mempersiapkan alat pancing, mempersiapkan alat gambar-, aku bersiap bersantai lagi.
"Oke, Chuchu. Kau siap untuk bertemu dia lagi?" tanyaku. Chuchu langsung paham siapa yang kumaksud dan mengangguk. Kemudian kukeluarkan Dodrio dari bolanya.
"Dodrio, seperti biasa, tempat latihan Red-san!" langsung kami lari, terbang ke tempat latihan biasanya. Ini semua untuk mewujudkan satu hal.
Aku ingin menyatakan perasaanmu padamu, Red-san...
19. Maaf, aku hanya bisa menghidangkan sepiring kecupan di sudut bibirmu, pagi ini.
Red's POV
Aku masih tertidur. Lelah dari pekerjaan kemarin. Rasanya masih ingin tidur lebih lama, walau aku sudah tahu ini pagi hari, tapi, ayolah... ini hari Minggu.
Aku terus protes sampai tiba-tiba...
Aku merasakan ada kontak antara bibirku dengan sesuatu. Sesuatu yang lembut, namun hangat di tempat dan waktu yang sama. Aku tahu apa ini. Ini adalah bibir. Ada yang menciumku. Dan aku tahu siapa yang menciumku.
Langsung saja kupeluk orang yang menciumku erat-erat. Dan sekaligus kuperdalam ciumanku. Lalu, sedikit "French Kiss" untuk intinya. Dan akhirnya, kami sudahi karena alasan klasik: udara.
Kubuka mataku, untuk melihat tersangka sekaligus korban dari kasus ciuman mesraku hari ini. Awalnya aku melihat siluet kuning emas yang sangat terang, seterang matahari itu sendiri. Kemudian semakin lama semakin jelas. Aku bisa membedakan anggota tubuh seperti kepala, tubuh, tangan. Lalu, wajahnya semakin jelas. Matanya, hidungnya, bibirnya yang sedikit basah, mungkin karena ciuman tadi, telinganya, pipinya yang merona, dan setelah 3 detik identifikasi dan penyusunan kata-kata dalam otakku, aku bisa memutuskan siapa tersangka sekaligus korban yang kumaksud.
"Good morning, my hero crimson, Red-san..."
"Good morning too, my honey blonde, Yellow-chan..."
19. Jika esok pagi menjelang, aku inginkan kamu ada. Cukup kok, dengan satu senyuman saja.
Red's POV
Aku berlatih dengan Pokemonku, dan kali ini, dengan Pika.
"Pika, 100000V!"
"Pika—chuuuu!..." petir kuning menyambar dari bawah ke langit yang luas. Aku tersenyum puas. Dan akhirnya, kuputuskan untuk menyudahi latihanku hari ini.
"Pika, tadi itu hebat sekali. Kau sudah semakin kuat saja," kataku, sambil mengelus kepala hewan tikus listrik favoritku itu. Lalu, dalam acara elus-elus kepala itu, aku mendengar suara langkah hewan berlari.
Awalnya aku tak dapat melihatnya dengan jelas, namun semakin lama, aku tahu Pokemon apa yang mendekatiku. Itu seekor Dodrio, dan orang yang menaikinya adalah...
Mengapa tiba-tiba pipiku memerah ya?
"Hei, Red-san..." senyuman dari perempuan itu, pada akhirnya...
"Hehe... hai, Yellow. .."
Pada akhirnya, ini hanya acara saling memandang...
23. Sinyal cemas, terusik mimpi tadi , segera inginku berlari pagi ini ke arahmu dengan kecepatan tinggi!
Yellow's POV
"Red-san, Red-san, Red-san, Red-san, Red-san, Red-san, Red-san,..." hanya itu yang bisa kulakukan. Berlari dari Viridian ke Pallet, dengan membawa kekhawatiran.
Aku punya mimpi buruk, kalau Red diserang Team Rocket.
Ternyata, aku melihat sesosok merah di taman kota Pallet, aku berhenti sejenak untuk memastikan siapa orang merah itu. Dan tiba-tiba, dia melihatku. Sontak aku kaget dan memalingkan pandanganku.
Namun beberapa detik kemudian, dia ternyata sudah ada di depanku...
"Yellow? Ada apa?" tanya Red, dan aku mengangkat kepalaku untuk melihat Red-san yang nampak bingung. Dan semakin bingung karena melihatku yang mulai menangis.
"ADA APA? ADA YANG MENYERANGMU? POKEMONMU DICULIK? KATAKAN, YELLOW!" aku tak tahan, jadi langsung saja...
Red's POV
Aku langsung kaget karena tiba-tiba Yellow memelukku. Lalu aku tahu dia sedang melepas semua emosinya dalam pelukannya.
"Aku takut... aku takut...Red-san..." aku heran. Apa yang dia takutkan? Sambil menepuk kepalanya, kutenangkan orang yang memelukku ini.
"Sudah, sudah, Yellow... Kau menangis pagi-pagi ini, pasti kau bermimpi buruk, kan? Tenanglah, itu hanya mimpi buruk. Sudah..." lalu pada akhirnya aku memutuskan untuk mengeratkan pelukanku pada Yellow.
Dan begitulah Red menenangkan Yellow. Cara yang sama berlaku untuk segala penyebab ketakutan Yellow, baik secara fisik maupun mental, dan berlaku sepanjang Red masih hidup.
40. Seperti barisan pagi kemarin, kini, dan nanti, "I love the way you say good morning."
Yellow's POV
Ada-ada saja cara Red-san membangunkanku. Kadang lembut, kadang mengagetkan, kadang agak menggoda, kadang, apapun itu caranya. Semenjak kami menikah, rasanya seperti dia tak pernah kehabisan ide untuk membangunkanku, kalau dia bangun lebih dulu.
Hari pertama...
Dia menciumku dengan sangat kuat sampai aku hampir pingsan dalam tidurku. Hehehehe... pingsan dalam tidur? Kau bisa bayangkan itu?
Hari ketiga...
Dia menggigit telingaku dengan lembut, membuatku merinding. Lalu saat aku terbangun, dia langsung menciumku, juga dengan lembut.
Hari kedelapan...
Ini yang mengagetkan. DIA LANGSUNG MELOMPAT KE ARAHKU! Aku dan dia jadi memantul-mantul di kasur.
Hari kelima belas...
'Eh? Red-san tidak membangunkanku?' dan ternyata saat aku turun ke dapur, aku melihat Red-san sudah siap dengan semua sarapannya.
"Eh? Sudah bangun ya, Yellow?"
Hari ke-30...
Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi saat aku bangun, aku melihat kalau aku tidak ada di kamar. Aku di luar dengan pemandangan matahari yang akan terbit. Dan aku melihat sekitar lagi, dan ternyata...
"Red-san, apa yang kau bawa? Dan mengapa kau membawaku kesini?" lalu aku melihat Red-san mendekat dan menaruh sebuah mahkota terbuat dari bunga-bunga yang warnanya sama dengan namaku, lalu dia mengecup keningku sambil berkata...
"Sudah sebulan, ya? Ini saja hadiah dariku untuk perayaan sebulan pernikahan kita," diakhiri dengan senyuman lagi.
Dan itu berlangsung sampai tadi pagi, saat Red-san melakukan hal yang sama dengan hari pertama, padahal ini sudah hari ke-10000.
Namun intinya, aku menikmati semua cara Red-san membangunkanku.
42. Ketika cerita demi cerita hampir saja terhenti, pagi mempertemukannya kembali. Morning, you.
Di dalam mimpi...
"Sah? Sah?" dan tiba-tiba cahaya aneh membungkusi Yellow sampai dia tak bisa melihat apa-apa. Dan...
Keluar dari mimpi...
Yellow membuka matanya, untuk melihat sekitarnya, ternyata kain penutup jendelanya terbuka. Siapa yang membukanya pagi-pagi begini?
Lalu Dia melihat Red yang ada di sampingnya, duduk menunggu. Langsung saja Yellow menepuk pinggang sang suami.
"Eh, Yellow, sudah bangun ya?" acara yang sebenarnya baru saja dimulai.
45. Sudah berpuluh pagi ini hanya ada senyummu yang merambah pada dinding dan kaca cermin. Bagaimana dengan esok? Datanglah! Janganlah ragu untuk memelukku.
Red's POV
Aku sudah bangun, dan sudah mandi. aku sudam memakai pakaianku dan hanya tinggal mengatur sedikit rambutku. Aku pergi ke lemariku, yang memiliki kaca besar, dan mulai menyisir rambutku. Sembari aku menyisir rambutku, aku melihat gambar dari stiker yang menempel di kacanya. Semua temanku sesama DexHolder.
X yang mengejar Y, Whi-Two dan Lack-Two yang berpose bagaikan tentara, Black dengan Munna di kepalanya, White yang membawa kamera dan merekam Black dengan Munna di kepalanya, bagian itu membuatku tertawa selalu. Diamond dan Pearl yang sedang stand up comedy dengan Platinum menikmati pertunjukan, Ruby dan Sapphire yang sedang bertengkar dengan Emerald protes di tengah mereka, mungkin ingin berkata "BISAKAH KALIAN BERHENTI MAIN MATA DI DEKATKU?", Silver dengan topengnya, Crystal dengan gaya biasanya saat bekerja, Gold yang sedang bermain biliyar, Blue dengan kembarannya yang dia buat dari Ditto-nya, Green dengan gayanya yang paling kalem, dan...
Aku melihat gambarku dan dia sedang bergandengan tangan. Aku terlihat seperti tidak merasakan apa-apa, sedang yang ada di sampingnya terluhat malu-malu, salah satu yang kusukai darinya. Kemudian aku melihat sekitar kamarku. Banyak fotoku dan teman-temanku. Namun yang paling banyak adalah fotoku dengannya.
Mulai dari saat dia mengakui perasaannya padaku, kencan pertama, pertarungan Pokemon yang tiba-tiba, pendakian ke Gunung Silver lagi, pemandangan gerhana bulan, lamaran, pernikahan, gambarnya mengandung setiap bulan, waktu kelahiran anak pertama kami, saat anak kami berulang tahun ke-2, saat dia bermain dengan teman-temannya, dan akhirnya... saat yang paling kusukai, saat ulang tahunku yang ke-20. Aku dan dia memandang matahari terbit saat gerhana bulan tenggelam.
"Red-san?" tiba-tiba ada yang memanggilku dari pintu. Aku langsung menoleh ke sumber panggilan itu. Aku melihat seorang perempuan kecil berambut pirang madu yang tersenyum memandangnya.
"Kau sedang apa?"
"Oh, hanya melihat masa lalu kita," kataku. Lalu aku melihat dia mendekatiku dan memelukku, menemaniku memandang masa lalu kita. Lalu dia menunjukkan bagian yang paling dia sukai. Bagian yang sama seperti yang aku sukai.
"Kau ingat saat itu kau menunjukkan gerhana itu? Aku benar-benar terharu. Aku tidak pernah menyangka bahwa pada saat spesial kita, jagad raya mendukung kita," katanya sambil tersenyum. Aku bisa melihat pipinya sedikit tersipu malu.
"Yellow... "
Aku tak bisa mengatakan apa-apa lagi. Kami hanya berpelukan. Itu saja, sampai tiba-tiba kami mencium bau gosong.
"Yellow, bau apa ini?" aku mengendus. Pada saat itulah Yellow menyadari sesuatu. MASAKANNYA GOSONG.
"AHH! AKU LUPA MASAKANKU!" langsung saja dia berlari ke dapur lagi. Meninggalkanku keheranan dan tertawa kecil melihat tingkahnya.
"Yellow, Yellow..."
48. Menjadilah pagi untuk malamku. Karena terangmu membuka mata dan hatiku.
Pika's POV
Bahasa telah diterjemahkan
Aku sedang sakit. Badanku tidak enak dan rasanya hanya ingin tidur. Bukan hanya aku yang sakit. Tuanku juga sama.
Sudah banyak yang menjenguk kami. Dan suatu hari, dia datang.
Matahariku, dan untuk tuanku, mataharinya.
"Oh, Pika, kau tidak apa-apa?" tanya matahariku.
"Badanku lemas... aku tak mau bergerak..." kataku lirih. Langsung saja dia menyalurkan energi listriknya padaku. Rasanya membuat tubuhku lebih terasa enak. Lalu aku lihat tuanku juga sedang disembuhkan oleh mataharinya. Setelah dirasa cukup...
"Terima kasih, Chuchu..." kataku. Dia tersenyum. Berbeda dengan tuanku dan tuannya. Hubungan antara aku dan Chuchu sudah sangat serius. Aku punya rencana untuk punya anak lagi, setelah yang pertama.
Kapan tuan kami bisa serius, terutama tuanku?
61. Dear you, hai, kamu. Kutitipkan peluk hangat yang memanas tungku. Lugu menggebu. Tulus melumat pagi.
Yellow's POV
Satu lagi sebuah pagi. Aku dan teman-teman sesama DexHolder berpesta malam kemarin. Dan sialnya, Blue mengatur tempat tidur kami. Dan aku harus tidur dengan...
Aku baru saja menyadari sesuatu. Dia ternyata memelukku. DIA MEMELUKKU. Aku langsung memerah karena tak tahan menahan maluku. Namun kemudian aku mulai merasakan tekanan darahku normal kembali. Karena tak mungkin lepas dari pelukannya sekarang, aku lebih memilih tidur lagi.
Dan tanpa sadar memeluknya balik.
69. Kejutan itu datang. Satu renyah sapa, gulingkan pekat pagiku. Hai, kamu... pemilik senyum sahaja. Aku rindu setengah sadar.
Red's POV
Aku terbangun dari tidurku yang tergolong pulas. Benar-benar pesta yang melelahkan. Dan tidurku lebih pulas karena aku memeluk sesuatu yang hangat dan lembut.
Aku memeriksa apa yang kupeluk. Ups, sepertinya bukan apa yang kupeluk, tapi siapa yang kupeluk. Aku memeluk seseorang dengan rambut pirang. Dan setahuku, hanya satu DexHolder yang punya rambut pirang. Dan saat itulah aku sadar bahwa...
Semalaman ini aku memeluk Yellow... dan sekarang dia memelukku balik.
Ternyata dialah yang membuat tidurku lebih lelap.
Lalu aku melihat matanya Yellow terbuka. Dia hanya tersenyum dan berkata...
"Pagi, Red-san..."
74. "Cinta tak selalu cukup, hanya butuh dimengerti." Demikian, kata pagi untuk sendiriku.
Yellow's POV
Ini membuatku sedih, terkadang. Terbangun dari mimpi yang indah (lihat pengertian 'Mimpi indah' di bagian atas), untuk memasuki dunia nyata yang kejam. Kejam, karena satu alasan yang jelas.
"Red-san, why are you so dense?"
nb. ini juga pertanyaan semua SpecialShipper. Kemudian, inilah yang dikatakan para SpecialShipper kepada Yellow.
Sabarlah, Yellow, sabarlah...kalau suka orang yang saking "dense"-nya sampai mirip bintang katai putih, seperti Red, itu memang harus sabar. Diusahakan terus-menerus nanti dia juga sadar sendiri. Kalau tidak sadar, suruh saja Pika dan Chuchu menyambar Red dengan listrik 200000 V.
Mudah, kan? Semua senang.
78. Menjadilah pagi untuk yang kumau untuk gelap penantianku.
Yellow's POV
Di dalam mimpi...
"Yellow, sebenarnya aku ingin mengatakan kalau aku..."
Keluar dari mimpi.
"Yellow, I love you, wake up, Yellow..."
Kesimpulan: mimpi dan kenyataan benar-benar sinkron untuk Red dan Yellow.
82. Karena pagi tak kenal bosan, maka sambutlah dengan senyuman. Selamat pagi, kamu; matahariku.
"Selamat pagi, Red-san!"
"Selamat pagi juga, Yellow-chan!"
"Bisakah kau berhenti memanggilku begitu?"
"Oh, tidak bisa,"
"Mengapa?"
"Manis saja kalau aku memanggilku bergitu," pipi Yellow langsung merona.
"Siapa yang bilang begitu?"
"Seseorang dari dimensi lain yang mengatakan itu,"
Sementara itu di dimensi lain...
"Hehehehe, itu ideku..." kata Regulus.
"Apa itu, Reg?" tanya Mira yang baru saja datang. Aku langsung menyembunyikan bacaanku.
"Kau tak perlu tahu," kata Regulus. Mira agak marah karenanya.
Kembali ke dimensi utama.
"Kau bisa ke dapur sekarang? Makanannya sudah siap,"
"Oke, Yellow-chan..." lalu mereka saling memandang. Ternyata mereka sedang bermain telepon-teleponan. Langsung saja mereka tertawa geli melihat tingkah mereka sendiri yang bermain seperti anak kecil.
"Dasar, kita!" kata Red, masih terpingkal, demikian dengan Yellow.
"Haha... ya, kita memang aneh... ayo, makanannya sudah siap," kata Yellow, berusaha untuk berhenti tertawa.
"Oke, Yellow-chan..."
"Ah, Red-san..." masih dalam tertawaan, mereka berjalan ke dapur.
Kembali ke dimensi yang lain...
"Pairing yang aneh..." kata Regulus.
"Apa itu, Reg?" tanya Mira. Aku langsung menyembunyikan bacaanku.
"Kau tak perlu tahu," kata Regulus. Mira agak marah karenanya, dan akhirnya Mira mengejar Regulus, namun dia berhasil kabur.
Ada pertanyaan?
Berlanjut...
Bagian 6 selesai! Fiuh... paling tidak ke-innocence -an Yellow bertahan di sini. Oke, jangan lupa keripik jarannya untukku, oke?
RWD, keluar.
