Bagian 7: Say Goodbye

Catatan penulis: aku tak kuat menulis ini, tapi kuharap aku bisa menjelaskan tiap bagian yang paling mungkin.

2. Seribu kali aku tersadar: kamu begitu berarti. Karena hanya ada sepi, kini.

Red's POV

Dia pergi. Dia telah pergi. Entah mengapa aku merasakan kesepian yang lebih parah daripada kesepianku di Gunung Silver karena kepergianmu.

Sudah 2 tahun semenjak kepergiannya, dan masih belum kembali. Rasanya seperti matahari kehilangan warnanya. Pisang kehilangan warnanya. Bunga matahari kehilangan warna kelopaknya. Bahkan segala yang mengingatkanku padamu kehilangan warnanya.

Hanya perasaanku saja, atau saat semenjak dia pergi, aku kesepian...

4. Bagaimana bisa percaya kalau harapan itu hilang.

Neutral POV

Bisakah kita bayangkan jika Red dan Yellow, bersama dengan Green, Blue, dan Silver tidak pernah bisa bebas dari kutukan jadi batu yang terjadi bertahun-tahun yang lalu? Pikiran Yellow mungkin akan seperti ini.

Maksud hati memeluk Red-san, apadaya tangan tak sampai.

8. Aku yang membuatmu terluka, tapi kenapa justru perih yang berbalik tajam melukakan lukaku,

Neutral POV

Inilah yang dimaksud dengan "Paradoks Cinta dan Ketidakpekaan". Kau menjadi sangat-sangat tidak peka terhadap orang yang menyukaimu, tapi pada saat orang itu menghilang, kau merasakan ada yang kurang. Ada banyak contoh korban paradoks ini.

Contohnya, Red.

17. Setelah perpisahan, menunggu kamu itu tak ubahnya putaran nasib. Mungkin, tidak... mungkin... tidak... saja, setidaknya aku masih bisa menunggu.

Yellow's POV

"Yellow, maaf, tapi aku harus kembali ke Gunung Silver,"

"Tak bisakah kau pergi nanti?"

"Tak bisa, aku harus pergi sekarang,"

Dan mulai saat itu, yang bisa kulakukan setiap hari hanya menghitung di kala aku akan tidur

"Dia akan kembali, dia tak akan kembali, dia akan kembali, dia tak akan kembali..."

Terus-menerus sampai aku bosan...

21. Dear you, Begitu Beda, Tanpamu. Begitu beda, tanpamu. Begitu sepi, tanpamu. Begitu tak bisa dan tak terbiasa aku tanpamu. Yang aku tahu... begitu bahagia aku denganmu. Titik!

Yellow's POV

Hari pertama... rasanya hambar... tak ada teman juga untuk Chuchu, juga untukku. Ini hari pertamanya dia pergi ke Gunung Silver. Dan aku ditinggal sendiri, sementara teman-temanku yang lain sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.

Hari ketiga... semakin hambar. Aku seperti kebosanan untuk melakukan rutinitasku. Aku hanya di rumah saja. Padahal biasanya aku memancing dan kau menemaniku.

Hari ketujuh. Semakin membosankan. Aku coba meneleponnya sesekali, namun selalu saja tak dijawab. Yang bisa kulakukan hanya melihat Pokemonku yang berlarian di hutan.

Hari kedua belas. Aku sudah kehilangan keinginan untuk menggambar alam dan apapun itu, hanya satu obyek yang kugambar. Dia.

Hari kedua puluh delapan. Hari terakhir aku menggambarnya. Sekarang aku bosan melakukan apapun. Aku hanya menonton televisi sambil makan makanan kecil.

Hari kelima puluh. Aku menyadari sesuatu.

AKU KESEPIAN... RED-SAN... KEMBALILAH...

Aku sepi tanpamu. Rasanya seperti semangatku mengering bagaikan danau yang mengering akibat kemarau panjang. Red-san, hujani aku dengan semangatmu, dan caranya,...

KEMBALILAAAHHH...

24. "Rela mengunyah sejarah penantian, untuk satu namamu." Aku di dalam kenanganmu, di suatu hari tanpa nama. Semoga. "Dan, setiaku berjalan ke rumah hatimu." Aku di dalam kenanganmu, di suatu hari tanpa nama. Semoga.

Red's POV

AAAAAAAAAKKHHHH! AKU BOSAN MENUNGGU! TAK ADA YANG MAU DATANG KE GUNUNG INI, aku heran mengapa. Tapi yang paling penting, aku akan pulang besok. Dan aku tahu siapa yang akan kukunjungi pertama kali. Dia...

26. Kuat dan bertahan, itu mungkin bukan aku. Sepertinya, aku tak mampu melakukannya karena begitu takut menciumi kenyataan dan perpisahan.

Yellow's POV

Aku hanya mengurung diri selama 7 hari 7 malam. Aku tidak mandi, tidak makan banyak, tidak minum banyak, tidak ganti pakaian, kau bisa lihat betapa menyedihkannya aku. Wajahku pucat pasi, lebih kurus, dan lemah. Dan yang kulakukan hanya berbaring sambil memeluk sebuah bingkai. Di dalamnya ada sebuah foto seseorang. Seseorang yang menjadi kompas bagiku sejak kecil.

Dia kembali ke pelukan Bumi karena aksi heroiknya sendiri. Dia mencoba menolongku dari serangan langsung Team Rocket dengan mendorongku, dan menggantikan posisiku dengan dirinya sendiri. Dan langsung saja...

BAGIAN SELANJUTNYA TIDAK DITERUSKAN KARENA YELLOW MENANGIS LAGI SELAMA 7 JAM.

Di luar cerita...

Blue's POV

Aku bingung harus menulis apa lagi. Aku sudah bilang aku tak kuat menulis ini. Jadi kuputuskan untuk jalan-jalan sebentar kelilingi Hutan Viridian.

Di perjalananku, aku bertemu dengan, aku tak percaya melihat ini, Yellow, sedang tidur bersandar pada pohon dekat sungai.

'Hmm... tipikal Yellow, tidur siang-siang begini di tempat ini, tapi...' aku melihat ada sebuah 'Jalan Kenanga-'

HEY, KENAPA AKU MALAH MIKIR LAGU ITU SIH?

Oke, fokus. Aku melihat sebuah 'jalan' di pipinya. Sebuah 'jalan' yang sepertinya baru kering. Dan aku lihat bibirnya. Aku langsung terkejut melihat bibirnya tidak melengkung seperti biasanya. Justru cemberut yang kulihat. Aku langsung bisa menyimpulkan bahwa dia bermimpi buruk.

Aku berniat untuk membangunkannya, namun dia terlihat merenggangkan badannya, bersiap untuk bangun, dan saat dia membuka matanya...

"Ehhhh... mmm... Blue?" kata Yellow di sela-sela kantuknya.

"Hai, Yellow. Kau tak apa-apa?" tanyaku, setelah melihat wajahnya tadi. Yellow memang kuanggap adikku sendiri, jadi kalau ada masalah, dia tak begitu malu mengungkapkannya padaku, kecuali...

"Ehh... aku.. aku tak apa-apa," kata Yellow. Aku langsung memasang wajah curigaku. Aku tahu, satu-satunya saat dimana Yellow berbohong adalah saat...

"Tee-hee, lihat wajahmu sendiri, menurutmu itu tak apa-apa?" lalu Yellow pergi ke sungai dan melihat refleksi wajahnya.

Bekas air mata, mata agak merah, wajah agak pucat, mata agak MERAH...

"EEHHH...! Blue! A-aku-aku..." Yellow mulai salah tingkah di depanku. Perkiraanku benar.

"Kau mimpi buruk tentang Red ya...?" tanyaku. Wajahnya langsung meMERAH karena pertanyaanku tadi. Dan mulai salah tingkah lagi.

"EHH... TIDAK! TIDAK!" katanya, berusaha bersembunyi di balik telunjuk. Aku tahu itu tiada berguna.

"Jangan bohong kau, aku tahu kau, tahu. Sudahlah, ceritakan saja..." kataku. Pada akhirnya aku melihat Yellow menyerah dan mendekat padaku yang duduk di bawah pohon yang baru saja dia pakai menyandar.

Lalu, Yellow mulai bercerita.

"Blue, aku mimpi buruk tadi. Aku bermimpi kalau Red-san... Red-san..." sepertinya dia mulai mengingat mimpinya lagi dan...

Dia langsung memelukku, melepaskan semua kesedihan yang dia punya karena mimpi itu.

"Sudah, sudah, Yellow. Jangan menangis terus, nanti tak jadi cerita malahan," kataku, berusaha menenangkan Yellow yang masih saja menangis. Namun masih saja dia menangis. Pasti mimpinya saking buruknya sampai membuat Yellow bisa menangis sesedu ini.

"Ceritanya, Red-san berjalan denganku, lalu ..."

Di dalam mimpi Yellow semalam...

Red dan Yellow sedang berjalan bersama di taman Kota Pallet. Saat itu, Red melihat sekitar, sepertinya mencari sesuatu. Ini membuat Yellow heran.

"Red-san, ada apa?"

"Aku mencari tempat yang cocok untuk melakukan sesuatu... sesuatu yang... romantis?" kata Red. Itu membuat jantung Yellow berdebar lebih cepat daripada langkah lari cheetah. Akhirnya Yellow juga mencari-cari tempat di sana.

"Bagaimana kalau disana?" tanya Yellow. Red tersenyum. Itu adalah sebuah pohon yang mirip dengan tempat Yellow tidur kali ini.

"Ide bagus. Terima kasih, Yellow," kata Red.

Berganti latar waktu, sekarang Yellow sendiri, berjalan di taman kota di sore hari, ingin bertemu Red. Saat dia di dekat pohon yang ditunjuknya tadi, dia justru melihat peristiwa yang...

Kembali ke dunia nyata...

Yellow menangis lagi...

"Yellow, sudah, jangan menangis terus, coba cerita intinya saja, ada apa dengan Red," kataku. Masih berusaha untuk menenangkan Yellow yang sepertinya memang tak bisa berhenti menangis kalau mengingat mimpi itu.

"Red... kencan ... dengan... M-" aku akhirnya langsung sadar dengan apa mimpi Yellow. Mimpi terburuk Yellow, Red berkencan dengan perempuan lain yang juga menyukai Red, dan intinya adalah...

"Oh... begitu ya? Yellow, lihat aku," dengan lambat, Yellow mengangkat kepalanya, menatapku.

"Itu hanya mimpi buruk. Selama itu mimpi, kau punya 2 kemungkinan, bisa jadi kenyataan atau tidak. Berharaplah itu tak jadi kenyataan. Dan untuk memastikannya, mengapa kau tak telepon Red?" tanyaku, lalu, aku berdiri.

"Eh, Blue, kau mau kemana?" tanyanya.

"Tee-hee, kirim email gelap lagi lah, Apa lagi? Dahhh.." kataku, lalu jalan santai meninggalkannya.

'Ya ampun, benar-benar susah Yellow kalau itu sampai terjadi... Yellow kan tak bisa ucapkan selamat tinggal pada Red...' pikirku.

Kembali ke cerita...

37. TENTANGMU. Melupakan, tak mampu. Menjaga dan menyimpannya rapi di sudut hati, itu kuasa pilihanku.

Yellow's POV

Rambutmu, matamu, topimu, bibirmu, telingamu, tubuhmu, kakimu, sepatumu, pakaianmu, aku ingat semuanya.

Bahkan walaupun sudah pergi sangat lama, 50 tahun, tapi tetap saja, aku masih mengingatnya.

Dan berharap bahwa itu bukan hanya sesuatu untuk diingat, tapi untuk hidup bersamanya...

42. Baru saja mentari akan menampakkan wajahnya, tiba-tiba mendung datang lalu gerimis. Dan kita 'terjebak' di dalamnya; bisu juga kesedihan karena perpisahan.

Red's POV

Hujan lagi. Ayolah, aku bosan kalau hujan terus. Aku jadi tak bisa bermain dan berlatih dengan Pokemonku, tak bisa menikmati hangatnya mentari, dan tak bisa melihat senyuman hangat darinya. Ahh... hariku akan sepi hari ini.

Yellow's POV

Hujan lagi. Ayolah, aku bosan kalau hujan terus. Aku jadi tak bisa menggambar alam yang cerah, menikmati angin hutan yang sejuk, dan tak bisa melihat mata kerennya saat dia berlatih dengan Pokemonnya. Ahh... hariku akan sepi hari ini.

43. Bagiku, setidaknya perpisahan ini bukan akhir. Masih ada hari esok untuk membuka lembaran baru - jika yang lama enggan, atau tutup buku.

Yellow's POV

Satu lagi hari tanpa Red-san. Dalam perjalannya yang panjang bersama Blue ke Hoenn untuk membantu Ruby dan Sapphire. Aku ingat saat Red akan pergi.

Beberapa minggu yang lalu...

"Yellow, aku harus pergi. Ini untuk keselamatan dunia juga. Kau tak mau kan Red dan Blue Orb berada di tangan orang jahat?" aku hanya mengangguk.

"Kau harus cepat kembali kalau kau sudah selesai," kataku. Dia tersenyum dan mengangguk.

"Semoga berhasil, Red-san, Blue," kataku pada mereka. Lalu mereka pergi. Saat Red sudah sangat jauh, aku hanya bisa berpikir...

"Red-san...jangan tinggalkan aku..."

Kembali ke dunia nyata.

Aku terbangun pagi itu, hanya untuk menemukan fakta menyakitkan bahwa...

"Red-san..." dengan nada sedih.

48. Padahal, waktu telah menempa tekad itu menjadi baja. Tapi, sungguh, aku lemah melihat air mata dan kau terluka karenanya.

Red's POV

Aku telah berlatih di Gunung Silver, mengorbankan sisi sosialku untuk menjadikanku lebih kuat dan mampu menjadi Gym Leader seperti janjiku padanya.

Tapi kenapa setiap aku kembali ke Hutan Viridian dan bertemu dengannya, pasti dia langsung memelukku sambil menangis. Saking eratnya sampai dia tak ingin melepaskanku sama sekali.

Apa aku melakukan kesalahan?

Di luar cerita...

'Dasar kau, Red. Kenapa kau itu tak peka dengan perasaanya?' pikir Blue.

Kembali ke cerita...

59. Mencederai dan melukaimu. Tak mau, aku berdiri menjadi kata di depannya. Maaf, jika aku tak sengaja melakukannya.

Red's POV

Setelah beberapa saat, akupun tersadar, mengapa Yellow menangis setiap kali aku kembali dari Gunung Silver.

Dia merindukanku. Aku pasti sangat menyakitinya karena aku pergi begitu lama. Bukan sakit fisik, memang, tapi sakit hati, dan itu lebih sakit dari pada sakit gigi.

Akhirnya, aku juga mengeratkan pelukanku padanya, dan berbisik ke telinganya.

"Maaf, Yellow, telah membuatmu terluka. Aku janji tak akan meniggalkanmu lagi,"

69. Belajar lagi mencintai kesendirian. Tanpamu di sisiku, berat membukit mata kuliah yang satu ini.

Dan itulah yang membuat Yellow di-Drop Out dari Universitas Kesendirian karena dia tak pernah hadir di kelas Kesendirian Eternal dan Absolut.

90. Dulu, ada satu keajaiban yang membangunkanku dari ruang hampa, dan itu kamu. Dan aku percaya, akan ada keajaiban kedua. Siapa lagi kalau bukan kamu lagi.

Pada awalnya, keajaiban datang pada Yellow dalam bentuk memahami dunia Pokemon lebih luas, itu karena dia.

Lalu, keberaniannya muncul untuk membantu kawan-kawannya, juga karena dia.

Sampai rela kelelahan sebelum membatu, juga karena dia.

Dan keyakinannya tentang masa depan yang lebih baik, itu akan menjadi kenyataan, juga karena dia.

Siapa dia? Jelas.

100. Kita ini lucu, Bersikukuh mengingkari, tapi hati tetap memekikkan rindu. Tak jemu kuteriakkan rindu dengan lantang. Parau suaraku menampar dinding batu. Kamu tetap teguh dalam bisu.

Yellow's POV

"Kau kangen Red ya...?" tanya Blue, membuatku semakin malu karena dia bertanya hal ini di reuni Dex Holder di rumahnya Blue. Ya, sekali lagi, Red tak bisa berangkat karena masih di Gunung Silver.

"Eh...eh... ti-tidak..." kataku, berusaha untuk menyembunyikan semburat merah di pipiku.

"Ayolah, Yellow, tak tak perlu bohong pada kami. Kami semua sudah tahu hal ini," kata Ruby.

"Ellleeehhh... apaan tuh lo bilang tadi? Ame kejadian Pulau Mirage aje lo lupe, brani-braninye ngomong begituan ama Yellow," cetus Sapphire dengan wajah marahnya.

"Yang apa? Aku tak ingat, bisakah kau ingatkan aku?" tanya Ruby, kembalilah pertarungan epik Ruby-Sapphire mengenai Pulau Mirage terjadi lagi. Dan Yellow lebih memilih untuk keluar dari rumah dan mencari udara segar.

Di sana, Yellow berpikir dalam-dalam.

'Ruby dan Sapphire, walaupun mereka sering bertengkar, namun mereka sudah tahu kalau mereka saling menyukai. Sementara aku dan Red-san...' dan dalam waktu singkat, dia menarik napas panjang-panjang dan berteriak.

"RED-SAAAAAAAAAAAANNNNN! KENAPA KAU TAK PEKA DENGAN PERASAANKUUUUUU...?"

Di luar cerita

"Tentu saja dia tak tahu perasaanmu, kau tak pernah ungkapkan..." kata Blue.

Ada pertanyaan?

Bersambung...

Bagian 7, radon, bagian tersulit... Maaf kalau banyak typo di sana sini. Baru sadar saat kubaca lagi. Aku paling susah buat bagian ini, sampai-sampai aku minta saran teman untuk hal ini. Baiklah, berikan aku keripik jaran.

RWD, keluar.