Bagian 8: DOR!

KEJUTAN! SPECIALSHIPPING DENGAN JUMLAH 2,5 KALI LIPAT BIASANYA!

1. Dear you, mulai berlajarlah melupakanku. Jika tak mampu, biasakanlah mencintaiku.

Red's POV

Akhirnya, aku membuat keputusan itu. Aku sudahi petualanganku di Gunung Silver. Aku tak dapat berkonsentrasi sama sekali, karena selama aku bertarung, aku sama sekali tak bisa melupakanmu, justru semakin ingat dan semakin ingin dekat denganmu.

Aku akan pulang, Yellow...

2. Yes, Sniper! Bantu aku menembakkan rindu dari jarak ribuan kilometer.

Red's POV

Masih aku dalam masa-masa pertarungan dengan manusia-manusia dari Team Aqua dan Team Magma di Hoenn, dan masih dengan Blue. Saat itu aku dan Blue sedang istirahat. Blue bertanya padaku.

"Hey, Red, apa kau kangen dia?" tanya Blue. Aku sedikit terkejut karena pertanyaan itu, namun aku sadar tentang siapa yang Blue maksud.

"Kalau aku sih, kangen si Green, ya, dia memang tidak di rumah sekarang. Aku dengar dia ada di Kalos. Kalau kau, Red?" tanya Blue lagi. Tiba-tiba pipiku memerah. Saat itu, aku membayangkan seorang perempuan kecil yang pernah kuselamatkan dari makhluk itu. Orang yang sama yang membuatku sembuh setelah pertarunganku melawan Giovanni beberapa tahun yang lalu. Orang yang sama dengan orang yang kukira laki-laki. Orang yang sama dengan yang kubopong sebelum kami membatu. Dan ...

Orang yang kusukai...

"Red?" Blue melihatku melamun.

Waduh, bisa ketahuan kalau Blue tahu aku memikirkannya sekarang. Ayolah, Yellow, kau sewa sniper ya? Kenapa aku jadi kangen kau sekarang?

"Hmmm... mencurigakan... Red, apa kau rindu dia?" kata Blue dengan tatapan curiganya, yang membuatku...

Mati aku...

11. Dear you, rinduku tak kenal ambigu. Ia cuma kenal kata kamu, satu.

Yellow's POV

Aku sedang duduk-duduk di pohon, seperti biasa, menunggu pancinganku dimakan. Semenjak Red-san tak ada di sana, aku hanya melakukan ini. Dan sambil menunggu, aku menggambar. 2 hari yang lalu aku menggambar sungai. Kemarin, aku menggambar hutan. Dan hari ini aku akan menggambar dia.

Setelah 2 jam menggambar, maklum, karena aku sangat menyukai dia, aku harus menggambarnya dengan sempurna. Jangan sampai ada yang kurang maupun yang salah. Aku selesai menggambarnya. Kau ingin tahu bagaimana gambarku? Boleh, kalian boleh kok melihatnya, asalkan jangan beri tahu Red-san. Aku jadi malu nantinya.

Aku menggambar Red-san yang berada di sebuah pantai di Hoenn, melihat ke arah yang jika diproyeksikan, akan menjurus ke rumahku. Lalu di pojok kanan bawahnya, aku menambahkan tulisan.

I miss you, Red-san...

16. Aku menangis untuk bahagiamu. Aku tersenyum untuk sedihmu. Kamu? Tauuu...!

Yellow's POV

"RED-SAAAAANNN!" seruku memanggilnya. Setelah dia kembali dari Hoenn, langsung saja aku berlari untuk meraihnya, melepaskan kerinduan yang sebesar dan seberat Jupiter. Dan saat sampai...

Dia langsung memelukku. Dia dekatkan bibirnya ke telingaku, lalu berbisik

"Maaf, Yellow, telah meninggalkanmu. Tapi sekarang, dunia telah aman, dan aku kembali. Aku rela bersusah-susah agar kau aman, Yellow. Maukah kau memaafkanku?"

Yang bisa kulakukan hanyalah memeluknya lebih erat.

Red's POV

Akan kuanggap sebagai "ya".

17. Cinta bilang cinta. Sayang bilang sayang. Pergi kok enggak bilang-bilang!

Pastinya para SpecialShipper berharap Red minta izin pergi ke Hoenn kepada Yellow, kalau Red benar-benar cinta dan sayang kepada Yellow.

Kalau tidak, pasti mereka akan menyiapkan sebuah bintang yang siap meledak, dan saat meledak, semburan sinar Gamma-nya akan memanggang Red dan membuatnya menyesal karena tidak izin terlebih dahulu.

(ide ini langsung ditolak oleh Blue dan Grenn karena menurut mereka hal ini terlalu berlebihan)

23. Galau itu sebagian dari rindu. Kalau berlangsung terus-menerus, segera hubungi rumah sakit terdekat.

Yellow's POV

Aku galau. Benar-benar galau. Bisa dibilang ratunya galau. KARENA RED-SAN BELUM KEMBALI DARI GUNUNG SILVER DAN AKU SENDIRIAAAAAAANNN!

Jadi kuputuskan untuk pergi ke PokeNet untuk mencari hiburan.

Setelah menyelesaikan segala sesuatunya sebelum meluncur di dunia maya, aku masuk ke situs untuk menonton video. Aku mengetik di bagian pencariannya

"Obat galau"

Lalu aku menemukan video berjudul BMC (Batu Masalah Cinta), lalu aku menontonnya.

"Pernahkah Anda punya masalah ini?" lalu tampil orang menangis dan tak mau melakukan apa-apa dan hanya berkata "Aku galau".

"Jangan sedih, pakailah saja Batu Masalah Cinta," lalu aku melihat bagaimana cara penggunaannya. Setelah kulihat tingkah kocak para pemakainya, aku memutuskan untuk...

Ganti latar...

"Aku rindu Red-san, pak Prof..." aku mampir ke laboratoriumnya Prof. Oak untuk curhat tentang kegalauanku. Saat itu, ada pak Prof dan Crystal.

"Sudah, Yellow, pasti dia akan kembali..."

Paling tidak, aku tidak mau membenturkan kepalaku dengan batu...

26. Aku hanya ingin melihatmu bahagia, lain tidak; dan (bukan) lain-lain.

Red's POV

"Yellow, lihatlah aku!" seruku pada Yellow yang memancing, sebenarnya aku juga sedang memancing. Kami berdua sedang memancing. Aku sedang membawa ikan besar hasil tangkapanku sendiri.

"Wah, Red-san, besar sekali, kau hebat sekali, Red-san..." katanya sambil tersenyum. Dan di pikiranku tertulis...

MISSION: MAKE YELLOW SMILE "SUCCESS"

29. Katakanlah selamat malam, akan kugandakan dengan selamat tidur sayang.

Red's POV

Pesta bantal baru saja selesai. Dan ini saatnya untuk tidur. Sebenarnya aku tak masalah tidur dengan siapa saja, tapi Blue mengatur teman tidur kami. Jadi ya, sebenarnya tak masalah. Hanya saja kalau aku tidur dengan nya, aku pasti merasakan pipiku memanas.

Pasti dia juga merasakan hal yang sama.

"Selamat malam, Red-san..." dan dia tidur dengan kepalanya di atas dadaku, bagaikan dadaku itu bantal empuk baginya. Aku sudah terbiasa dengan itu. Dan aku terlalu mengantuk untuk memikirkannya terus. Jadi...

"Selamat tidur, Yellow-chan..."

Sementara itu...

Emerald's POV

"Kok panas ya? Ruby, Sapphire, kalian tidak-" aku melihat mereka sudah tidur, dan tak seperti biasanya, mereka sedikit memisah. Ya... nanti mereka pasti saling berpelukan lagi. Tapi kalau sumber panas ini bukan dari mereka, lalu dari mana ya?

Ah... sudahlah...

31. Dear dor! MAAF, BERTUBI-TUBI MAAF. Maaf, sebaris waktu telah mencuri kelengahanku. Sejenak, berpaling dari matamu. Selain maaf, aku tak punya bekal lain untuk mengembalikan senyumanmu. Maaf kuiba. Tulus caraku berlindung dari bencimu yang bertakhta. Untuk serapah kata yang tak sengaja mencederai perasaanmu, maafkan aku. Jika kesalahan yang berulang ini tak pantas mendapatkan maafmu, maafkan aku. Sebukit salahku, sebesar inginku menjura maaf kepadamu. Dan, maafku bukan pura-pura apalagi tipu daya. Jika tak percaya, tinggalkan aku sendiri dengan penyesalanku.

Red's POV

Aku hanya berlutut di depan rumahnya. Lemah, dalam tangisan. Dalam penyesalan terdalam yang pernah kualami. Dan itu terjadi karena...

"Yellow, aku minta maaf... Aku memang tak tahu apa-apa tentang cinta... Aku baru sadar saat kau menunjukkan kelaminmu yang sebenarnya... Aku tak tahu harus berbuat apa untuk menebus kesalahanku...untuk..."

"MENGABAIKAN PERASAANKU PADAMU, YELLOOOOOWWW!"

Dan tanpa kusadari, ada orang yang menepuk pundakku.

"Red-san, ada apa—" aku tak peduli apa yang kulakukan sekarang ini. Aku hanya berbalik setelah mengetahui siapa yang memanggilku, dan langsung saja...

Kucium Yellow dengan energi terbesar yang pernah kupunya sambil kupeluk dia, juga dengan energi terbesar yang pernah kupunya. Aku ingin Yellow benar-benar tahu perasaanku padanya sekarang. Ya. SEKARANG! DAN UNTUK SETERUSNYA.

Yellow's POV

Aku tak percaya ini. Red-san... Red-san... aku merasakan pipiku semakin terbakar oleh tindakan romantis yang dilakukan Red-san kali ini. Akhirnya aku juga memberanikan diri untuk memperdalam sesi indah ini.

Aku maafkan kau, Red-san, walau aku tak tahu apa kesalahanmu padaku. Aku maafkan kau...

Sementara itu...

Blue's POV

"Tee-hee... dapat video panas sekaliii..." kataku, bersembunyi di semak-semak. Green, yang ada di sampingku, hanya mengeluh sambil melihat 2 orang itu sedang panas-panasnya berciuman.

"Hei, kenapa kau bawa aku ke sini, gadis si**an?" tanya Green.

"Aku butuh teman, lagipula nonton sendiri itu tak asik," kataku, sambi tersenyum padanya.

"Gadis si**an," kata Green.

Dan kehangatan Red dan Yellow masih berlanjut...

32. Sandarkan saja beban rindu itu di keningku. Aku setuju tanpa syarat apa pun.

Red's POV

Aku sedang menikmati kesenangan. Itu, walaupun hanya menyandarkan keningku pada kening perempuan yang kucintai. Dan kami hanya saling berbincang hal ringan.

"Red-san, apakah kau kangen padaku?" tanya Yellow, sambil tertawa kecil. Senyumannya membuat hatiku semakin berdebar. Aku semakin mengeratkan pelukanku.

"Tentu saja, Yellow-chan. Bagaimana denganmu, apa kau kangen aku?" tanyaku.

"Ya, Red-san. Sampai kapan kita hanya begini terus?" tanya Yellow. Eh? Ternyata dia minta lebih... hehehe...

"Maumu apa?" tanyaku. Lalu Yellow mendekatkan bibirnya ke telingaku dan berbisik...

"Red-san... cium aku..." pipiku langsung memanas melihat Yellow yang...

'Wow... sekarang Yellow lebih berani... ini membuatku lebih mencintainya,"

43. Tunggu aku di pertigaan jalan usah bunga, wangi tubuhmu lebih dari bius untuk meninabobokkanku.

Yellow's POV

Aku bisa tidur nyenyak sekarang. Tidak seperti tadi. Tadi aku mendapatkan mimpi yang buruk sekali. Lalu pada akhirnya, aku bangun dan memutuskan untuk pergi ke kamarnya Red-san.

"Red-san..." kataku sambil mengetuk pintu kamarnya. Beberapa saat kemudian, Red-san membuka pintunya.

"Uhh... Yellow? Ada apa?" tanya Red.

"Aku mimpi buruk... bi-bisakah aku tidur denganmu?" tanyaku. Red-san terlihat agak canggung saat aku tanya begitu, begitu pula aku.

Namun akhirnya aku bisa tidur dengannya. Ini rahasia, sebenarnya, aku suka baunya Red-san. Baunya seperti penyatuan bau hutan, Pokemon, baunya sendiri, dan sebagian bauku. Tolong jangan katakan ke Red-san. Aku nanti malu jadinya.

47. Seberapa hitam mendung bergayut, jangan biarkan ia singgah di matamu. Tolong, jangan biarkan sedih menjamu harimu.

Yellow's POV

Aku tak percaya aku melihat ini. Saat itu, aku ada di Gym, melihat pertarungan antara Red-san dan Lance. Untung saja saat ini adalah masa damai, jadi Lance dan Red-san hanya bertarung biasa. Namun sayangnya...

Red kalah...

Aku bisa melihat Red-san sangat kecewa dengan kekalahannya. Saat dia kembali ke tribun penonton, aku bisa melihat wajahnya muram sekali. Akupun segera mengejarnya.

"Red-san! RED-SAN!" aku harus berteriak karena sepertinya Red-san tak mendengarkanku. Dan saat akhirnya aku bisa mendekat dengan Red-san...

"Red-san, tolong berhentilah..." akhirnya Red-san berhenti. Lalu dia berbalik, menghadapku. Masih dengan wajah muramnya...

"Yellow..." lalu dia langsung memelukku.

"Maaf, Yellow, aku kalah dari Lance... maaf..." kata Red-san, dan ternyata, dia menangis. Jarang aku melihat Red-san menangis. Ini pasti pukulan keras baginya. Ini misiku untuk menyembuhkan sakit hatinya.

"Sudahlah, Red-san... semua orang pernah kalah kok. Jangan menangis terus. Kalau kau berlatih lebih keras lagi, pasti suatu saat kau bisa mengalahkan Lance. Aku mau kalau kau ingin berlatih denganku..." kataku, walaupun aku tak yakin aku bisa bertarung seperti Red-san. Namun mengejutkannya, Red-san justru...

"Eh, kau ingin berlatih denganku? Wah, pasti asik! Baiklah, Yellow! Aku akan berlatih lebih keras lagi sehingga aku bisa menang dan bisa menjadi Gym Leader di Viridian!" seru Red-san, sepertinya dia sudah baikan.

Syukurlah...

48. Ikutkan aku dalam embusan napas bahagiamu. Juga sertakan aku di setiap raatp lirih sakitmu. Get well soon.

Red's POV

Aku tak kuat... badanku lemas... kurang energi... bahkan untuk berdiri...

Aku tak bernyanyi, memang inilah keadaan tubuhku. Karena kehujanan kemarin, badanku jadi terkena flu. Aku hanya bisa batuk, bersin, tidur, dan hal-hal menyebalkan lainnya.

Namun untung saja ada yang merawatku. Dia adalah temanku, bisa dibilang, teman terbaikku. Rambutnya bagaikan matahari yang menyinari semua obyek di Bumi, matanya bagaikan tanah yang kupijak, dan kebaikannya seperti malaikat yang langsung didatangkan Tuhan untukku.

Dan sekarang, dia sedang menyuapiku dengan sup ayam yang enaknya tiada tara. Sepertinya aku ingin sakit terus kalau seperti ini, agar bisa dilayani malaikat ini setiap hari. Namun... Tidak! Aku tahu ide yang lebih baik.

"Bagaimana manakannya, Red-san?" tanya malaikat itu.

"Ma-mantap, Yellow. Kau benar-benar ah-ahli memasak," kataku, agak malu karena baru saja aku disuapi oleh sesosok malaikat kuning yang menjadi teman terbaikku saat ini.

"Te-terima ka-kasih, Red-san..." dan yang membuatku lebih terpana lagi adalah, senyumannya yang bagaikan lukisan alam terindah di jagad raya. Dan aku tahu apa yang akan kulakukan saat aku sehat.

Mengajak malaikat itu untuk kencan denganku. Kau tahu siapa malaikatku itu?

Amarillo del Bosque Verde.

51. Dear you, karena pagi tak bosan menjadi awal. Kamu, di baris pertamaku. Lalu, hujan.

Yellow's POV

Aku melihat langit mendung di mana-mana. Aku sudah mencium bau tanah yang bercampur air hujan di rumahku. Hujan pasti akan turun di sini segera.

"Tok, tok, tok,"

'Ada yang mengetuk pintu pagi mendung ini? Siapa ya?' tanyaku dalam pikiranku. Aku berjalan dari dapurku ke pintu depan untuk mengetahui siapa yang mengetuk pintu. Dan saat aku membuka pintunya, ternya yang mengetuk pintunya adalah...

"Red-san?" tanyaku. Dia hanya tersenyum dan menggaruk kepala belakangnya.

"Hehe... hai, Yellow. Bolehkah aku berteduh di rumahmu?" dan tiba-tiba hujan turun tepat setelah Red-san selesai bicara.

"Boleh, boleh. Ayo cepat masuk, nanti kau kebasahan," kataku.

Beberapa saat kemudian, aku dan Red-san sedang menikmati teh yang baru saja selesai kubuat.

"Red-san, mengapa kau keluar pagi-pagi ini?" tanyaku.

"Oh, aku hanya ingin lari pagi seperti biasa, tapi ternyata cuacanya memburuk. Aku ingin pulang tapi ternyata dari jauh aku bisa lihat dari PokeGear kalau Kota Pallet sudah hujan, jadi aku nyasar ke rumahmu. Maaf, kalau menyusahkanmu pagi-pagi ini, Yellow... hehe," kata Red, agak malu. Aku hanya bisa tersenyum karena tingkah Red-san.

"Tak apa-apa. Aku senang Red-san tidak ke sini dalam keadaan basah. Aku sebenarnya... ummm..." sekarang giliranku yang malu.

"Ada apa, Yellow?" tanya Red-san, membuatku bingung.

"Um... hanya ingin tahu... MAUKAH KAU COBA MASAKAN SARAPANKU?" langsung kututup mulutku dengan kedua tanganku karena malu bicara terlalu keras di hadapan Red-san. Dia hanya terdiam beberapa saat, lalu...

"Kau buat sarapan? Wah, penasaran aku dengan rasanya. Memangnya kau memasak apa?" tanya Red-san.

'Apa? Dia malah penasaran? Aduh, bagaimana ini? Bagaimana kalau nanti makananku tak enak?' itu yang kupikirkan sampai aku mendengar suara perut yang keroncongan. Dan itu bukan dariku.

"Maaf, aku sudah lapar sepertinya," kata Red-san.

"Um... bagaimana dengan bubur kacang hijau? Itu yang kumasak hari ini," kataku. Red-san mengangguk sambil tersenyum.

Sekaligus untuk mengisi perutku juga, aku mengambil 2 piring bubur. Maklum, Chuchu masih tidur, dan Red-san sepertinya tidak membawa Pokeball berisi Pika. Setelah kuambil buburnya, aku membawakannya ke ruang makan dimana Red-san sudah menungguku dengan senyumannya. Itu membuat pipiku tambah merah.

"Wah, Yellow. Kau-kau... umm... cantik..." aku bisa merasakan kalau jantungku sekarang berhenti berdenyut. Benarkah tadi Red-san berkata itu?

"Uhh... Red-san, benarkah kau ta-tadi bilang kalau..." bagus, aku sekarang kehabisan kata-kata. Dan aku hanya melihat Red-san mengangguk dan langsung mencoba bubur buatanku.

"Enak sekali, Yellow. Kau memang pandai memasak," kata Red-san sambil makan. Aku melihat Red-san senang sekali dengan masakanku. Dan pikiranku berkata...

'Bagus! Langkah pertama mendapatkan hati Red-san sukses!'

57. Entah sudah ke berapa Sabtu, aku jatuh dan jatuh cinta lagi kepadamu.

Yellow's POV

Red-san punya kebiasaan baru kali ini, dan kebiasaan baru ini membuatku senang sekali. Karena dia sudah lama sekali bertengger di Gunung Silver dan sepertinya tak punya teman bicara, dia pergi ke rumahku tiap malam Minggu.

Dari semua temannya, kenapa ya dia ingin pergi ke rumahku saja?

Tapi ada satu hal yang jelas mengenai malam Minggu ini. Apa itu?

Perasaanku pada Red-san semakin kuat karenanya.

64. Sebaik-baik keinginan adalah yang ditopang oleh niat, harapan, dan usaha tak henti-henti untuk mencintaimu. Dan semua telah kulakukan!

Yellow's POV

"Red-san..."

"Ya, Yellow?"

"Terima kasih telah menyelamatkanku dari Dratini itu. Itu membentuk takdirku. Dari tahu kelebihanku bisa menyembuhkan siapa saja, dipercaya menjadi salah satu pemegang Pokedex, dapat bertarung dengan apa yang kupunya, dan bisa menyelamatkan orang yang kucintai,"

"Aku juga berterima kasih padamu, Yellow. Karenamu, aku bisa sedikit keluar dari fokusku terhadap Pokemon, sesuatu yang bisa membunuhku. Dan aku bisa bersantai denganmu di pohon ini sekarang,"

Lalu, kami terdiam sejenak, dan tertawa kemudian.

66. Aku tak ingin jatuh cinta, selainmu!

Yellow's POV

"Mau Green?" geleng.

"Mau Gold?" geleng.

"Mau Silver?" geleng.

"Mau Ruby?" geleng.

"Mau Emerald?" geleng.

"Mau Diamond?" geleng.

"Mau Pearl?" geleng.

"Mau Black?" geleng.

"Mau Lack-Two?" geleng.

"Mau X?" geleng.

"Maumu apa?"

"Red-san,"

Yang bertanya langsung facepalm.

67. Apa boleh buat. Aku relakan bibirmu mengunci lidahku, tak berkutik.

Yellow's POV

Itu adalah momen ter... apa ya? Aku tak bisa bayangkan. Rasanya seperti melayang di ruang yang sangat luas antara langit dan Bumi. Luar biasa...

Red dan aku berciuman. Ciuman antarbibir pertamaku, karena biasanya Red-san menciumku di pipi saja. Awalnya memang hanya kontak antarbibir saja, namun semakin lama, semakin dalam dan kuat.

Red-san merangkul pinggang kecilku dan aku balas dengan merangkul lehernya, sama-sama ingin memperdalam ciuman yang kami rasakan. Semakin lama sekamin dalam sampai aku merasakan sesuatu di bibirku yang bukan bibirnya.

Ternyata itu lidahnya, memintaku untuk membuka bibirku untuk merasakan bagian dalam mulutku. Awalnya, aku bingung dengan kode yang diberikan Red-san, namun pada akhirnya aku paham dan secara perlahan membuka bibirku untuknya.

Pertarungan memasuki level baru untukku dan Red-san. Tentunya karena Red-san sudah memasukkan lidahnya ke mulutku dan membuat kontak dengan banyak bagian dalam mulutku, aku punya hak membalas. Dan aku membalasnya juga, sama dengan yang dilakukan Red-san lakukan.

Perang lidah di dalam ciuman ini membuat kami semakin mempererat ciuman dan pelukan kami. Rasanya seperti tidak ingin menghentikannya. Namun tiba-tiba ada dorongan dari dalam tubuh kami yang mengharuskan kami berpisah, dan itu adalah alasan klasik, udara.

Kami akhirnya menyudahi kehangatan ciuman ini dan menghirup udara dalam-dalam, karena kami benar-benar kehabisan udara segar setelah 2 menit memanas.

"Wow... benar-benar..." kataku... hampir kehabisan kosakata. Pipiku juga memerah karena sesi hangat ini. Begitu pula dengan Red-san.

"Kau mau lagi?" apa? Red-san ingin lagi?

Aku menyerah saja... aku rela, kalau itu aku dan Red-san. Dan sesi ciuman kami dimulai lagi.

PERINGATAN: JANGAN BIARKAN GOLD MEMBACA BAGIAN CERITA INI, ATAU RASAKAN AKIBATNYA! TERTANDA, BLUE.

83. Bahkan tak muluk-muluk. Untuk alasan yang terdengar picisan, tiba-tiba aku ingin hadir di rengkuh bahumu.

Red's POV

"Red-san!" seru seseorang membangunkanku dari tidur pulasku setelah aku berlatih. Aku penasaran dengan orang yang memanggilku tadi, jadi kubuka mataku, dan kulihat siapa yang memanggilku. Padahal aku sudah tahu, hanya satu orang yang ada di seluruh Bumi yang akan memanggilku begitu.

"Yellow? Ada apa?" tanyaku, berusaha bangun dari tidurku. Dia hanya terkekeh sambil menjawab...

"Menemanimu. Aku hanya ingin menemanimu," kata Yellow. Eh? Dia berjalan dari rumahnya ke sini hanya ingin menemaniku saja? Yellow, Yellow... kau tak perlu repot-repot—

Apa? Tiba-tiba Yellow menyandarkan kepalanya ke bahuku. Lalu aku dengar dia tertidur. Dia pasti kelelahan karena perjalannya ke sini. Ah.. sudahlah, lebih baik kunikmati saja istirahat ini dengannya. Apa salahnya?

Lalu kusandarkan kepalaku di atas kepala berambut kuningnya itu. Dan akhirnya kami tidur bersama.

Di bawah pohon yang rindang, kami beristirahat bersama sampai matahari terbenam...

84. Sejenak (bersamamu) yang melelapkan. Tapi kenapa aku inginkan seterusnya. Hmmm...!

Seterusnya... hehehehehHehehHEHEHEHEHEHAHAHAHAHAHAHAAAAAHAHAHAHAHA! Dan seterusnya.

(PERINGATAN, BLUE SEDANG DALAM MODE PERVERT LAGI. SIAPA SAJA YANG PUNYA ALAT HIPNOTIS, SILAKAN DATANG KE RUMAHNYA BLUE UNTUK MEMPERBAIKI PIKIRANNYA)

Red dan Yellow akan terlalu canggung jika disuruh melakukan itu. Walaupun sebenarnya...

Hukum Paradoks Kepolosan Red dan Yellow

Se-innocence-innocence-nya Yellow, dan se-dense-dense-nya Red, pasti akan ada sesuatu yang ingin mereka berdua lakukan bersama, dan hanya mereka berdua.

HUEHUEHUE

87. Tabungan masa depan: investasi perasaan. Bunga progresif. Jaminan kebahagiaan. Di kamu, kubukukan.

Red's POV

"Selamat datang ke Bank Yellow! Ada yang bisa saya bantu?"

Ini mimpi apa? Aku berada di sebuah bank, yang semua atributnya berwarna kuning, lantainya kuning, dindingnya kuning, vasnya kuning, bunganya kuning, kursinya kuning, bagian pelayanannya kuning, lampunya kuning, semua nasabahnya memakai pakaian kuning, bahkan petugas banknya adalah...

"Yellow?"

"Ya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Petugas Yellow. Aku jadi sangat canggung karena hanya aku sendiri yang mencolok karena pakaianku...

Tunggu, sejak kapan pakaianku juga kuning?

"Uhh... be-begini... aku ingin buka ta-tabungan di b-bank ini. Apa semua hal di sini berwarna kuning, jadi namanya Bank Yellow?" tanyaku.

"Benar, pak. Disini bank yang berwarna kuning. Bahkan, bukan hanya bank ini saja. Semua di jagad raya ini berwarna kuning..."

Aku tak percaya. Aku langsung keluar untuk melihat kenyataan yang gila itu, dan ternyata...

...

"Kau benar, Nona Yellow. Ya sudah, aku ingin buka tabungan investasi,"

"Investasi apa yang Anda inginkan, Tuan Red?" Apa? Dia tahu namaku?

"Um... investasi perasaan—" langsung kututup mulutku. Apa yang baru saja kukatakan tadi?

"Oh, pilihan Tuan Red bagus sekali. Bunganya progresif dan jaminanya luar biasa, yaitu kebahagiaan. Anda ingin membukukan ini di mana?" tanyanya.

Di luar mimpi, tapi terkait dengan mimpi Red...

Aku tertidur. Dan aku mengigau. Mengigau tentang mimpi itu. Dan aku menjawab...

"Yellow, bukukan itu di Yellow..."

Di luar cerita...

Blue's POV

"Ini maksudnya apa sih? Aku jadi bingung sendiri," kataku, melihat bagian cerita yang satu ini. Walaupun aku senang mencuri, namun tetap saja aku bingung dengan sistem perbankan, terutama yang terkait hal biasa.

Kembali ke cerita...

90. Karena jarak bukan penjara. Dalam perpisahan pun, pertautan rindu tetap bebas mencium pucuk keindahannya.

Pusat Misi Ruang Angkasa Unova

(Disarankan membaca Bagian 3)

Red's POV

Hari ini adalah hari penghargaan atas prestasi kami atas pendaratan kami ke Bulan. Aku, Green, dan Gold berada di atas panggung untuk bersiap-siap diberi medali. Dan akhirnya waktunya tiba.

"Pada hari ini, kita sangat berbangga hati karena pada akhirnya, kita sebagai manusia dapat menginjakkan kaki kita be permukaan Bulan, dan itu diwakili oleh mereka bertiga," kata Prof. Oak, yang ternyata juga pemimpin misi. Sambutan itu dijawab dengan tepuk tangan meriah dari semua orang yang hadir di sana.

"Untuk mengapresiasi perjuangan mereka untuk mencapai bulan, kami atas nama Pusat Misi Ruang Angkasa Unova akan memberikan perhargaan kepada mereka dengan memberikan medali Deoxys Emas," kemudian pembawa medali datang dengan medalinya. Dan bersiap untuk memberikannya satu persatu.

"Untuk keberanian dan ketiadaan rasa takut, Pilot Modul Bulan Gold," Gold menunduk sedikit agar Prof. Oak bisa mengalungkan medali itu, kemudian disusul dengan tepuk tangan dari para hadirin. Berikutnya...

"Untuk ketenangan yang menenangkan, cucuku, Pilot Modul Perintah Green," dia melakukan yang yang sama dengan yang dilakukan Gold tadi. Dan yang terakhir...

"Untuk sebuah kenangan yang tak akan terlupakan oleh seluruh umat manusia, Komandan Misi Red, medali akan diberikan oleh istri tercinta, Nyonya Amarillo del Bosque Verde, atau yang kita kenal dengan, Nyonya Yellow," Yellow berdiri dari kursinya dan naik ke panggung, bersiap untuk memberikan medali itu. Dan perjalanannya diikuti dengan tepuk tangan yang meriah.

"Red-san..." langsung saja, Red menunduk, karena tingginya yang terlalu bagi Yellow, lalu Yellow mengalungkan medali itu kepada Red.

"Terima kasih, Yellow..." lalu mereka berpelukan.

Semua orang yang ada di sana bertepuk tangan untuk pasutri ini, bahkan kameramen juga ikut bertepuk tangan. Inilah puncak dan hasil dari kerinduan mereka berdua setelah misi yang panjang antara Bumi dan Bulan.

95. Karena cuma kamu. Dan cuma-cuma kuberikan hatiku, untukmu.

Yellow's POV

Aku tak menyangka. Benar-benar tak kusangka, bahwa rasa sukaku pada Red-san dimulai saat aku diselamatkan dari Dratini, dan akhirnya, aku biarkan saja rasa ini berkembang terus. Aku menyukaimu tanpa apa-apa, atau dengan alasan apa. Hanya, aku menyukaimu karena...

Aku mencintaimu, Red-san...

98. Kesinilah! Aku cetak saja wajahmu di dadaku tanpa "copy paste".

Emerald's POV

Aku heran tentang siapa yang aneh disini. Aku, atau mereka?

Aku ingat apa yang dikatakan Blue seminggu yang lalu. Sesuatu yang membuat semua ini terjadi.

"Tee-hee, kalian harus membuat baju couple minggu depan saat acara kumpul-kumpul. Kalau tidak, kalian akan menderita dengan semua email gelap yang akan kukirimkan pada kalian,"

"HEY, TERUS YANG TAK PUNYA COUPLE BAGAIMANA?" seruku. Blue tersenyum. Oh...oh...

"Ini hanya berlaku untuk yang kusebut. X-Y, Lack-Two-Whi-Two, Black-White, Diamond-Platina, Ruby-Sapphire, Gold-Crystal, Green-aku, dan Red-Yellow. Yang paling keren, dapat hadiah spesial. Tenang saja..." katanya sambil tersenyum jahat.

"AAPAAA?!" seru kami semua.

"Tee-hee" tawa Blue.

Itulah yang membuatku melihat pemandangan yang lucu hari ini. X dan Y sama-sama memakai pakaian pink, dan aku lihat X tak terima. Lack-Two dan Whi-Two memakai pakaian ala polisi, untunglah mereka bekerja di sana. Black dan White sama-sama memakai pakaian model Tepig. Diamond dan Platina, ehh... sepertinya mereka lebih ingin menyamakan warna saja. Pakaian mereka biasa-biasa saja, tapi warnanya sama persis. Ruby dan Sapphire, untung saja sekarang Sapphire agak penurut sekarang, karena dia dan Ruby memakai model yang sama; model pakaian Ruby. Gold dan Crystal tak jadi berangkat karena tiba-tiba mereka mendapatkan tugas dari Prof. Oak. Beruntunglah mereka...

Green dan Blue memilih sama-sama hitam. Aku melihatnya seperti suasana kematian. Lalu Red dan Yellow... eh? Mereka memakai pakaian biasa?

"Kak Red, kak Red tak takut dihukum Blue?" tanyaku, Red terlihat agak tersipu, sedangkan gadis di sampingnya...

"Oh, itu? Sebentar, Yellow, kau butuuh udara segar?" tanya Red pada Yellow, dan dia hanya mengangguk malu. Lalu mereka mulai berjalan. Saat itulah aku sadar bahwa...

Kak Red dan Kak Yellow membuat tulisan dari benang di pakaian belakang mereka, ada gambar wajah mereka juga. tulisannya "Red belongs to Yellow" dan "Yellow belongs to Red". Aku paham sekarang. Paling tidak mereka selamat dari email gelap Blue.

"Tee-hee, ideku hebat kan?" tanya Blue, tiba-tiba muncul di sampingku.

Mati aku...

99. Selamat pagi, segelas kopi, satu janji, dan semata hati untuk mencintai; kamu.

Red's POV

Ahhh... kopi yang nikmat. Jarang sekali aku minum kopi yang senikmat ini, karena istriku biasanya membuatkanku teh atau susu. Tapi hari ini aku diberikan kopi oleh istriku.

Dia istri yang sangat baik. Aku tak pernah menyangka bahwa aku pernah menganggap istriku sendiri sebagai laki-laki. Tapi untunglah saja, setelah aku tahu dia perempuan, dan yang mengejutkannya, perempuan yang pernah kuselamatkan, aku jadi punya tanggung jawab untuk melindunginya.

Sebuah tanggung jawab yang kubawa sampai sekarang.

Kau tahu siapa istriku itu?

"Red-san..." ahh... tiba-tiba dia datang. Bahkan walaupun aku sudah menjadi suaminya, dia tetap saja memanggil Red-san. Itu satu bagian yang kusukai darinya.

"Hai, my honey blonde Yellow, kopinya enak sekali. Terima kasih, ya..." senyumku pantas untuk dia dapatkan.

Yellow, Yellow, kau benar-benar... my honey blonde...

108. Aku ingin berlibur di hatimu saja.

Red's POV

"Aero, rumah Yellow!" langsung saja, Pokemon terbangku, Aerodactyl, mengantarku ke rumah Yellow. Karena tak ada lagi peperangan atau musuh yang bisa mengancam dunia, dan tak ada banyak penantang Pokemon Battle yang datang padaku, aku lebih memilih menghabiskan waktu dengan teman-temanku. 2 hari yang lalu dengan Green, kemarin dengan Blue, dan hari ini, yang paling menyenangkan, dengan Yellow.

Akhirnya, kami sampai ke rumah Yellow. Ahh... udara bersih hutan tempat tinggalnya memang membuatku nyaman berlama-lama di sini. Langsung saja kumasukkan Aero ke Pokeball-nya, dan berjalan ke pintu depan rumah Yellow.

"Yellow, ini aku, Red," dan beberapa saat kemudian, pintunya terbuka.

"H-hai, Red-san, ayo masuk..." kata Yellow, aku bisa melihat pipinya yang merona, yang hanya menambah kecantikannya.

Ahh... seharusnya aku pergi bersama Yellow tiap hari, agar aku bisa melihat kecantikan itu setiap hari.

112. Bagaimana aku bisa berpaling kalau hatiku telah kamu maling!

Yellow's POV

"Kau telah mencuri hatiku, Red-san, dan aku tak akan pergi darimu,"

Red's POV

"Kau juga telah mencuri hatiku, Yellow-chan, dan aku tak akan berpaling darimu,"

-Perjanjian dalam Kencan, Red dan Yellow-

113. Terlalu dini melipatgandakan harapan. Bersikap biasa-biasa saja, itu pilihannya.

Yellow's POV

Truth or dare, dan ini giliran Red-san. Dan dia ditanya oleh Platina.

"Red, Truth or Dare?" Red-san terlihat berpikir sejenak, lalu menjawab...

"Truth,"

"Oke, siapa orang yang kausukai?" tanya Platina. Pertanyaan itu langsung masuk dalam hatiku. Aku sempat berpikir seperti ini.

'Apakah Red-san akan mengatakan kalau dia suka padaku? Akapah mimpi akan jadi kenyataan?' dan tanpa kusadari, pipiku merona sendiri.

"Yellow, ada apa?" tiba-tiba, Crystal bertanya itu. Aku lantas langsung mencoba menutup wajahku, dan menggeleng pada Crystal.

Lewat sela-sela jariku, aku melihat Red-san berpikir. Yang bisa kulakukan sekarang hanya... berdoa. Kemudian, aku melihat mulut Red-san terbuka. Dia siap menjawab.

"Aku... suka... suk...ka...SATU DUA TIGA, SUKA SEMUANYA!" serunya sambil bernyanyi. Semuanya kaget dan memasang wajah curiga padanya. Platina paham kalau Red berusaha untuk membohonginya, tapi sepertinya gagal, sementara aku...

Hancur, hancur hatiku... hancur, hancur hatiku...

Dan aku tetap pada posisiku. Setelah hilang harapan, yang ada hanyalah rasa sakit di hati. Juga beberapa tetes air mata yang keluar dari kandangnya. Hanya satu hal yang kupikirkan setelah itu...

'Red-san, why are you so dense?'

CATATAN: ini juga pertanyaan pada SpecialShipper.

116. Membunuh perasaan itu lebih kejam daripada binuh diri.

Crystal's POV

"Yellow, kau tak apa-apa kalau kau masih menyukai Red? Dia sepertinya tidak memiliki ketertarikan dengan hal romantis seperti itu," kataku, melihat Yellow yang masih muram wajahnya karena acara Truth or Dare semalam.

"Tak apa-apa, Crystal. Aku juga tak ingin mengubur perasaanku ini. Lebih baik aku hidup dengan rasa sakit ini daripada tak pernah merasakan cinta sama sekali," kata Yellow.

Wow, Yellow ternyata tegar juga...

120. Aku tak mampu memberikanmu apa-apa selain hatiku secara cuma-cuma.

Red's POV

"Red-san, apa tak apa-apa kau punya istri sepertiku?" pertanyaan ini membuatku sedikit bingung. Itu adalah sebuah malam bersalju di bulan Januari, sangat dingin sampai membuat kami harus saling berpelukan untuk menghangatkan diri.

"Apa maksudmu?"

"Aku... aku tak ada apa-apanya, ka-kalau dibandingkan dengan Misty, atau Blue, atau... yang lain..." katanya gugup. Akupun tersenyum padanya dan berkata...

"Yellow, aku tak mencintaimu karena tubuhmu. Aku mencintaimu karena hatimu. Kau berikan hatimu padaku saja, itu sudah membuatku puas, Yellow. Sudahlah, ayo, tidur," kataku, akhirnya memposisikan diri untuk tidur.

Paling tidak, itu membuat Yellow tersenyum dalam tidurnya.

126. I LOVE YOU. Ada aku, dan kamu di situ. Kita satu. Setuju?!

"I love you, dengan gambar hati besar, namamu dan namaku di dalamnya. Kita menyatu dalam cinta yang sejati, kekal abadi dan dikenal antardimensi,"

Yellow's POV

Nyanyian sederhana itu muncul di otakku, saat aku menggambar tentang dia, Sang Petarung, yang sekarang sedang tidur di sampingku. Bayangkan saja, saat tidur, dia sangat damai dan manis. Dan aku tak bisa melakukan apa-apa melainkan menggambar saat dia tidur.

Dan gambar itu diakhiri dengan sentuhan akhir, dengan ciuman dari bibirku sendiri di buku gambarku, dan di pipi Red-san.

130. Rinduku rasanya tawar. Sesendok gula dari tanganmu cukup untuk memaniskannya.

Red's POV

Siapa yang kukangenkan? Semua teman-temanku. Namun ya, hanya sebatas kangen. Tak lebih. Namun ada perbedaannya, kalau itu dikaitkan dengan orang itu.

Tangan kecil yang bisa kututup dengan satu tanganku ini, memubuat hatiku tenang, sekaligus bergejolak di waktu yang sama. Wajah manisnya membuat aku yang awalnya sedih kalau kalah tanding jadi ceria kembali. Dan rambut kuningnya, bagaimana dia bisa membuat sehalus ini?

Ahh... rasanya ingin langsung kabur dari Gunung Silver ini dan memeluknya. Peluk erat sampai kami berdua kehabisan udara dan mati dengan cinta yag mengubur kami sedalam palung terdalam di jagad raya. Namun sayangnya yang bisa kulihat sekarang hanya matahari terbenam. Surya kemerahan dengan sedikit kuning di satu titik...

Tunggu, titik kuning di satu titik? Aku melihat dengan teliti, dan aku baru sadar, itu bukan titik biasa. Titik itu semakin besar dan berbentuk. Seperti burung kepala tiga dan orang di atasnya. Warnanya semakin jelas dan saat aku mendapatkan view yang jelas, baru sadarlah aku bahwa ternyata...

"Yellow?"

135. Kalau sudah sayang, jangan dibuang sembarangan.

Red's POV

"Selamat ya, Red!" seru Blue, tersenyum lebar, dengan Green yang memberikan senyuman kerennya yang biasa. Ya, ini memang acara spesial untukku dan Yellow.

Akhirnya, 2 bulan setelah melamar, aku dan Yellow menikah. Pernikahan sederhana di dekat rumahnya di Hutan Viridian. Walaupun sederhana, namun dapat memberikan kesan yang mendalam bagi semua orang di acara ini pada umumnya, dan padaku dan Yellow pada khususnya. Tiba-tiba Green berkata padaku...

"Red, jaga Yellow baik-baik. Jangan buat dia terluka. Buat dia bahagia. Aku yakin kau pasti bisa," kata Green. Aku, Yellow, dan Blue kaget dengan kata-katanya tadi. Lalu Blue langsung tersenyum lebar.

"Green? Itu tadi kau yang bicara?" tanya Blue, sedikit menahan tawanya. Green hanya mengangguk.

"Satu lagu, kalau kau sayang Yellow, jangan dibuang sembarangan," katanya lagi. Semuanya jadi tertawa, bukan karena kata-kata Green, tapi karena itu Green yang berkata. Jarang aku mendengar Green berkata-kata seperti Blue.

Kesimpulannya, aku tak akan pernah melepaskan Yellow dari hatiku.

137. Dadaku bukan baru bara, rebahkan saja kepalamu di sana. Bermanjalah sesukamu.

Red's POV

Padang rumput yang luas dan hijau, langit biru, awan putih, sesuatu yang mengingatkanku dengan wallpaper komputerku, disanalah aku dan Yellow beristirahat. Istirahat setelah berusaha untuk menangkap seekor kupu-kupu yang indah, dan kami berhasil, namun tetap saja kami lelah.

Yellow merebahkan kepalanya ke dadaku, lalu dia tertawa kecil.

"Ada apa?" tanyaku. Dia terkekeh lagi dan menjawab...

"Aku bisa mendengarkan suara jantungmu, sepertinya makin keras," katanya. Memang benar, suaranya memang keras karena jantungku memang sedang berdebar keras. Terima kasihlah pada Yellow yang merebahkan kepalanya di atas dadaku.

Kemudian, sesi istirahat kami dimulai. Tenang dan damai, kupeluk Yellow, dan aku dengar dia sedikit mendesah, mungkin menikmati pelukanku. Lalu perjalanan kami di dunia mimpi dimulai.

145. Libur memikirkanmu, tak akan. Lebur menguraimu, itulah jalan pikiranku.

Yellow's POV

Senin, memikirkan Red-san. Selasa, memikirkan Red-san. Rabu, memikirkan Red-san. Kamis, memikirkan Red-san. Jumat, memikirkan Red-san. Sabtu, memikirkan Red-san. Minggu, memikirkan Red-san.

Di Kanto, memikirkan Red-san. Di Johto, memikirkan Red-san. Di Hoenn, memikirkan Red-san. Di Sinnoh, memikirkan Red-san. Di Unova, memikirkan Red-san. Di Kalos, lebih memikirkan Red-san.

Pagi, memikirkan Red-san. Siang, memikirkan Red-san. Sore, memikirkan Red-san. Malam, memikirkan Red-san. Mimpi tentang Red-san.

Sampai ada orang tua yang berkata, "Ini anak, otaknya apa hanya memikirkan Red-san saja ya?"

Jawabannya, ya.

150. Bahaya! Getar rindu ini di luar batas kendali. Bertemu adalah rumus pasti.

Prof. Oak's POV

Sebenarnya ada apa ini? Tiba-tiba aku dihubungi pak Wilton, disuruh pergi ke rumahnya. Pasti ada yang tak beres dengan Pokemonnya, atau Yellow.

Dan benar saja. Saat aku datang ke rumahnya, aku hanya bisa geleng kepala karena aku mendengar teriakan dari kamarnya, kata pak Wilton, dia tertidur sambil teriak, dan teriakannya yang membuatku geleng kepala.

"RED-SAN! JANGAN PERGI!" langsung saja kuambil Pokegear-ku dan memanggil sumber masalah hari ini.

"Red, kau harus ke rumah Yellow, sekarang!"

161.

Dear you,

Dan Aku Mencintaimu.

Tiga kata itu mengukir prasasti janji di setiap butir gerimis.

"Aku sayang kamu!"

Menimbang dam seterusnya. Memperhatikan dan seterusnya. Mencintai dan kaulah pasalnya.

Dan,

Selalu ada rindu yang mengemuka setiap kali kutulis kata "tanpamu".

Dan,

Karena cinta itu kata kerja, maka jatuh cinta adalah belajar mencintai.

"Tanpamu" itu semakin menjepit ruang mimpi dan kenyataan ketika aku ditelan kesendirian.

Serahkan saja pada malam, dan biarkan mimpi memulai kisahnya.

Dan,

Begitu tiba di tempatmu biasa bermanja, rinduku terluka.

Dan,

Rindu itu terluka karena mengeja inci bahagia yang kau pagutkan di batas nyata dan mimpi.

Dan,

Ketukan palu itu jatuh kepadaku. Sebagai terdakwa yang mencintaimu.

Dan,

Berangkat dari titik nol, mengejar satu mimpi. Bersamamu, ini lebih berarti.

Dan,

Hai, kamu. Kutitipkan peluk hangat yang memanas tungku. Lugu menggebu. Tulus melumat malammu.

Dan,

Dari mataku, bahagia pun memendar tersipu tiap kali kutulis kata "denganmu".

Dan,

Bahkan tanpa kata "denagnmu" pun, aku mampu membawa pulang bahagia ini. Asal ada "mu" di awal dan di akhir "ku".

Dan,

Lebih dari pantas aku mencintaimu ketika air matamu menderas karena bahagia itu sendiri.

Dan,

Aku timbun kenangan di ladang anggur. Saat panen tiba, aku ingin berpesta dan mabuk kepayang bersamanya. Selogis-logisnya, cinta itu menempatkan logika di urutan kedua atau bahkan ketiga. Nomor satunya: kegilaan.

Red's POV

'Wah... puisinya indah sekali... Yellow mendapatkan inspirasi ini dari mana ya?'

Acara lomba puisi, dan ini gilirannya Yellow. Sebuah puisi yang cukup panjang yang mengena di hatiku. Lalu aku lihat Yellow terlihat mencoba mengatakan sesuatu.

"Puisi ini kudedikasikan untuk seseorang yang spesial di hatiku. Yang telah menyelamatkanku saat aku kecil, dan yang membawaku hingga ke acara hari ini," lalu dia menoleh ke arahku. Dan dengan senyumnnya, ...

Terima kasih, Red-san...

Ada pertanyaan?

Berlanjut...

BAGIAN 8 SELESAI! Banyaknya... inilah kompensasi dari bagian 7 sebelumnya. semoga otak anda semakin SpecialShippy... :v

Kripik jaran, kripik jaran... aku mau kripik jaran...

RWD, keluar.