Bagian 11: Dalam Senja dan Hujan Aku Menari
Ditulis ketika senja dan hujan...
1.
Dear you,
Dalam Hujan, Aku Telanjang
Apa yang kurekam dari hujan siang ini? Larik-larik rindu yang menghias rintiknya saat kita sepayung berdua; di kota sana, di suatu hari tanpa nama. Sepayung membelah hujan. Dalam magis lirih rintiknya yang menorehkan bahagia, dan luka. Bersama!
Tawa-bahagia dan sedu-sedan tangis meramu satu. Dalam hujan itu, tersimpan jejakmu. Lewat riuh rintiknya, aku mengadu dan mengaduh pilu. Aku katakan pada hujan, kita masih satu; seadanya-setiada-tiadanya. Karena kamu telah memenangi hatiku, begitu juga aku.
Hujan boleh saja reda. Tapi tidak dengan rinduku. Kau telah merenggutnya tanpa sisa. Dan kini, tinggallah kosong meraja.
Dan tetaplah dalam hujan. Karena di sana, aku terbiasa menari denganmu.
Yellow's POV
Aku sekarang berada di Kota Lumiose. Kata Blue, inilah Kota Cinta. Memang aku melihat banyak hal berbau cinta di sini. Dari kafenya, musiknya, pemandangannya, dan orang-orang yang melakukan hal yang sama denganku kali ini.
Berjalan-jalan dengan orang yang mereka cintai...
Dan kau tahu aku berjalan dengan siapa?
Saat itu, kotanya hujan. Aku sangat khawatir karena aku pernah dengar kota ini adalah kota dengan curah hujan tinggi. Namun...
"Yellow, aku ambil payungnya dulu," kata pasanganku. Langsung saja, dari tasnya muncul payung yang masih dalam keadaan terlipat, lalu dia membuka payungnya. Untunglah, payungnya cukup lebar untuk kita berdua.
"Terima ka-kasih..." dia memberikan senyumannya sebagai balasan ucapan terima kasihku. Lalu kami berjalan berdua. Lama-kelamaan, dia semakin cepat. Akupun mengikuti.
"Ada apa?" tanyaku.
"Tak apa-apa, aku hanya ingin menikmati hujannya saja..." lalu dia melempar payungnya dan... "Ayo, Yellow! Kita main hujan sama-sama!" serunya.
Eh? Dia mengajakku main hujan bersama? Ini tidak biasanya dia melakukan itu, tapi selama itu dengan dia, tak masalah.
Akhirnya, kami bermain dan berlari di tengah hujan di Kota Lumiose bersama. Ya, dan saat itu, hanya ada aku dan dia...
Red-san...
5. Kamu telah mengajarkanku bagaimana menari dalam hujan. Dalam hujan itu kutemukan tawa dan tangis mengeja bahagia bersamamu, satu demi satu.
Red's POV
Nah, aku masih berputar-putar dengan Yellow. Kami tertawa bersama sampai tiba-tiba...
"Uuuuuhhhh..." aku melihat Yellow melemah.
"YELLOW, ADA APA? BADANMU SAKITKAH?" tanyaku, langsung kubopong ke tempat berteduh yang sepi di dekat posisi kami. Lalu aku baringka dia di kursi.
"Kau merasa pusing?" tanyaku dengan lembut. Yellow hanya mengangguk. Aku tersenyum padanya.
"Maaf, aku membuatmu pusing dengan putaran itu. Ini, ada obat untukmu," kataku.
"Terima kasih, Red-san..." jawabnya sebelum dia tertidur pulas.
12. Jika saja gelas kosong itu penuh terisi, kan kutelan endapan sapamu dengan rona pipi kemerahan. Malu karena ada bahagia yang – tiba-tiba, menyisir ketermanguan.
Yellow's POV
Kenapa aku kalau bertemu Red-san, selalu pipiku memerah dan tak bisa kukendalikan? Dan itu hanya terjadi kalau aku bertemu Red-san saja...
"Hai, Yellow! Kau sedang apa?"
Dia muncul...
Dan pipiku memerah lagi...
13. Terjagaku, dan haiii... kamu masih setia meniupkan napas kerinduan pada arakan senja.
Yellos's POV
Satu lagi senja yang indah di Hutan Viridian, dan aku memilih untuk menggambar suasananya di buku gambarku. Ada pohon, langit jingga, pokemon terbang, sungai, Chuchu, Pika, Red-san – tunggu, Red-san?
"Hai! Kau sedang menggambar ya?" katanya.
Entah mengapa tapi aku memang merindukan saat dimana Red-san mengunjungiku setiap senja, yang setelah latihannya di Gunung Silver berakhir, bisa dia lakukan lagi.
17. Saatnya menari dalam hujan. Setiap ruas jalan menuju rumah hatiku tergenangi air keraguan yang mengaburkan arah pandang getarku.
Red's POV
Hujannya derasnya minta ampun, dan aku harus pergi ke rumah Yellow sekarang. Namun apa dengan hujan seperti ini aku bisa pergi ke sana?
Lalu aku ingat kata-kata dari Blue...
"Kalau kau bingung, kenapa kalian tak hidup bersama saja?"
Dan itu membuatku punya satu pemikiran.
Aku sedang bingung. Untuk menghilangkan kebingunganku, aku harus bersama Yellow, yang berarti, aku harus pergi ke rumahnya.
YA, AKU HARUS PERGI KE RUMAHNYA, SEKARANG!
19. Aroma hujan yang merayu mata untuk tidur lagi. Tiba-tiba aku begitu merindukan manjamu, deik ini. Happy Sunday.
Yellow's POV
Itu adalah pagi yang penuh hujan yang deras. Dinginnya udara pagi itu membuatku ingin tidur lagi. Dan untunglah aku punya 2 benda untuk menghangatkan tubuhku dalam tidur panjangku hari ini.
Selimut yang tebal, dan Red-san.
Dan kekuatan apa yang dimiliki Red-san, dia tahu pikiranku, dan langsung memelukku, mentransfer panas tubuhnya padaku, membuatku menghangat dan dapat tidur kembali.
Ini hari Minggu, jadi aku bisa tidur selama yang kumau, selama itu dengan Red-san.
kali melihat hujan, selalu saja ingatanku tentangmu banjir seketika. Begitu derasnya rindu ini membasahiku.
Red's POV
Hujan... aku bosan di kamar. Hanya tidur sambil memperhatikan foto-fotoku di dinding. Sebenarnya juga ada foto teman-temanku, namun yang aku sangat perhatikan saat ini adalah sebuah foto dengan pemandangan matahari terbenam dengan siluet dirinya berdiri di sana.
Dia sekarang sedang pergi dengan pamannya ke Kepulauan Sevii, katanya pamannya ada bisnis, dan saat itu, aku hanya punya satu harapan...
Cepat pulang... Yellow...
22. SURAT ANONIM
Kepada: kamu.
"Langit gelap, hujan deras mengguyur. Hati-hai di jalan. Mataku selalu menjagamu,"
Kurang lebih itulah juga SMS yang dikirimkan Yellow pada suaminya yang masih ada di kantor dan bersiap untuk pulang. Saat sang suami membaca SMS-nya, dia hanya tersenyum dan mulai mengetik balasan.
"Terima kasih. Aku baik-baik saja. Kau juga kan? Aku akan pulang segera. Sampai bertemu nanti, my honey blonde. Dari suamimu, Red,"
23. SURAT ANONIM 2
Kepada: hujan.
"Tolong jangan hasut petir datang. Biarkan dia menari dalam rintikmu dengan senyuman,"
Itulah harapan Yellow terhadap cuaca malam ini. Tak ada badai dan hujan deras, sehingga perjalanan Red pulang ke rumah bisa lancar dan Yellow dapat bertemu dengan suaminya lagi dalam keadaan sehat tanpa halangan suatu apapun.
Itu juga harapan Red dalam perjalannya pulang.
24. SURAT ANONIM 3
Kepada: kamu.
"Hujan hari ini jadi pertanda. Ada rindu, untukmu. Tumpah-ruah memenuhi bejana pengharapanku,"
SMS ini masuk saat Red masih dalam perjalanan. Saat itu, lampu merah dan waktu hijaunya lampu masih lama. Red mengambil waktu itu untuk membuka SMS itu. Ternyata dari istrinya, dan saat dia melihatnya, dia tersenyum lagi dan berpikir...
'Dia pasti sudah menungguku di rumah. Tunggu saja, my honey blonde, aku akan pulang segera,' lalu dia menulis balasannya.
"I miss you too, my honey blonde, Yellow..."
33.
Dear you,
Yes You
Senja. Kutandai ramai jalanan dengan satu kecupan di pipimu. Bisakah esok kejutan itu datang lagi? Tahu-tahu rindu menyelinap tanpa rencana.
Senja yang tak terbilang, getar melawan lesung pipitmu yang membilang-bilang satu rindu, tiba-tiba. Jejak baru ingin kupijak. Di biru matamu, aku tak ingin beranjak.
Tanpa praduga, tahu-tahu udara dipenuhi bingkai matamu. Satu demi satu, mengundang bibirmu di dekatku. Mungkin terdengar lugu. Tapi peduli apa ketika gersang keterasinganku serentak merumput hijau oleh kecupanmu.
Red's POV
Aku berada di negeri asing. Namun ada beberapa hal yang kutahu: aku di tengah kota, di dekat sungai, ada jembatan merah besar di sana, ada pulau kecil di tengah sungai, dan satu hal.
Tidak ada Pokemon di sini.
Aku bingung. Aku tak tahu manusia-manusia di sini. Hujan turun semakin deras dan aku tak punya pilihan selain berteduh di sembarang tempat.
Di sampingku, ada orang yang sepertinya asli tempat ini, jadi aku bertanya padanya beberapa hal.
"Permisi, ini di mana?" tanyaku. Orang di sampingku tersenyum sambil menjawab...
"Palembang. Aku juga baru datang di sini," katanya. Ini kesempatanku untuk bertanya lebih jauh.
"Apa anda pernah melihat temanku, rambutnya pirang panjang dengan topi jerami dan pakaiannya kuning dengan lengan hitam, tingginya kurang lebih seperti ini," menunjukkan bahunya. Lalu aku lihat orang itu berpikir dan tiba-tiba, aku mendengarkan suaranya.
"Red-san!" serunya. Namun karena hujannya deras, aku tak bisa melihatnya dengan jelas, jadi aku putuskan untuk keluar dari tempat berteduhku.
"YELLOW! AKU DISINI!" seruku.
"KAU DI MANA, RED-SAN?"
"DI SINI!" lalu aku semakin lama semakin dapat melihat rupa yang memanggil namaku. Dan beberapa saat kemudian, aku bisa melihatnya dengan jelas.
"RED-SAN!"
"YELLOW!" langsung saja aku memeluknya dan menggiringnya ke tempat berteduhku tadi. Orang yang tadi di sana masih di sana, dan terlihat senang karena aku menemukan temanku.
"Oh, ini temanmu?" tanyanya. Waktunya aku jujur.
"Bukan, dia istriku..." senyumanku membuat orang itu dan Yellow kaget.
"Red-san..." langsung saja kucium pipinya, membuktikan aku berani romantis di depannya.
"Red-san? k-Kau t-t –" aku tersenyum saja, dan aku lihat dia tambah merah.
"Wah, kalian serasi sekali. Semoga kalian bahagia. Ngomong-ngomong, kalian dari mana?"
Pertanyaannya membuat kami bingung.
35. Senja. Maaf jika harus air mata yang membasahi cantikmu. Maafkan aku.
Red's POV
Apa kau tahu rasanya jatuh dari ketinggian 30 meter di atas permukaan tanah? Sakit sekali. Rasanya aku bisa mati segera. Dan itu yang kurasakan setelah aku berhasil membebaskan Pika dan Chuchu dari cengkeraman Team Rocket.
Aku memotong kantung yang berisi dua Pokemon kami saat pesawat Team Rocket yang terikat pada kantung itu terbang, membawaku dan kantung itu. Dan saat aku berhasil memotongnya, tanpa sadar aku juga ikut terjatuh. Pokemonnya selamat, namun aku...
"RED-SAN! RED-SAN!" ada yang memanggilku, dan dia...
"Ye... Ye –" batuk darah. Dan aku bisa melihat Yellow menangis melihat keadaanku. Namun tiba-tiba dia menutup matanya, berusaha untuk memelukku tanpa membuat tubuhku tambah sakit, dan melepaskan kekuatan penyembuhnya sambil menciumku.
Aku hanya bisa membayangkan surga...
Maaf, Yellow, aku harus membuatmu melepaskan energi yang banyak hanya untuk menyelamatkanku...
Akhirnya, energinya Yellow terkuras habis, dan dia tertidur tepat di atasku. Untunnya badanku tak sesakit tadi.
"Red-san... jangan pergi..." aku mendengar dia mengigau, tentangku?
Daripada terlalu banyak memikirkan hal-hal itu, lebih baik aku juga tidur. Dengan Yellow.
41. Dear you, kemarin, aku berlari dan menari di bawah rintik hujanmu. Kini, izinkan aku berteduh dari gaduh.
Kemarin, Red dan Yellow bermain-main dalam cuaca hujan ringan yang terjadi seharian. Dan hari ini, mereka ada di rumahnya Yellow, berlindung dari badai.
"Hujan ringan yang terjadi kemarin di Kanto adalah dampak dari Badai Rosa yang akhirnya datang hari ini. Diharapkan untuk mengurangi kegiatan di luar rumah,"
Dan terlihat mereka berdua menonton saluran cuaca memakai kompres dan memakai jaket. Kenapa? Karena mereka terkena flu.
Kesimpulannya, Red dan Yellow anak nakal. Sudah tahu hujan akan menjadi badai malah main hujan.
53. Lalu, hujan. Merenda kesunyian senja bermuram kegelisahan. Di mana akan kusandarkan jika kamu tak datang.
Yellow's POV
Red-san, why are you so dense?
Aku kedinginan di halte bis. Sendirian, dan mulai malam. Hujan turun seharian dan aku lupa untuk membawa payung atau jas hujan. Padahal Paman Wilton sudah mengingatkanku untuk membawanya.
Aku sudah SMS seseorang untuk menjemputku, namun katanya dia sibuk bertarung dengan seorang penantang yang tiba-tiba datang. Dia orang yang sangat kusukai, namun sifatnya itulah yang mambuatku sedikit kecewa dengannya.
'Red-san, kapan kau selesai bertarungnya?' pikirku. Dan masih dalam keadaan kedinginan.
65. Hujan reda. Senyumku menjura bahagia untuk baikmu, di sana. Semoga, sebuah pusat badai menggulung rindu di pikiran. Menjangkau hadirmu yang sulit terjamah.
Red's POV
Badai kencang melanda daerahku, dan membuat banyak pohon dan rumah rusak dan terlepas dari tanah. Dari tayangan televisi yang berhasil kutonton sebelum tiba-tiba mati lampu, kecepatan badainya bisa mencapai 200 km/jam. Aku jelas tak berani mengeluarkan Aero.
Namun tiba-tiba...
Angin kencangnya berhenti bertiup. Suasananya tenang seperti tak ada badai. Aku sempat keluar untuk melihat sekitar. Aku melihat atas dan melihat langit di sana cera dengan awan tebal di sekitarnya. Dan itu membuatku memiliki kesimpulan.
Aku berada dalam mata badainya.
Dan aku langsung ditelepon.
"Halo?" aku mendengar suara orang ketakutan.
"R-R-Red-san... aku t-t-akut..."
"YELLOW, KAU TAK APA-APA? AKU AKAN KE SANA, SEKARANG SUDAH MATA BADAINYA, DAN AKAN DATANG LAGI BADAINYA. AKU TAK AKAN BIARKAN KAU KETAKUTAN SENDIRI!" langsung kumatikan teleponnya dan berlari menuju rumahnya Yellow.
Selama belum masuk badainya, aku aman, dan harus sampai ke rumahnya Yellow sebelum badainya sampai lagi. Kalau tidak...
Mati kita...
70. Di perjalanan, rindu berkemas pulang. Menyiapkan payung saat hujan tiba. Di beranda, ia menunggu; kepastian perjumpaan.
Kepada kamu, rindu itu. Maka, jangan ragu! Katakan iya, hadirmu akan mengiringi hujan.
Red's POV
Ahhh... kerja selesai, waktunya pulang. Dan untuk memulai perjalanan pulangku, lebih baik SMS istriku dulu.
"My honey blonde, aku akan pulang segera. Kau bisa buatkan minuman hangat untukku? Cinta suamimu, Red,"
-lima menit kemudian-
Aku masih di perjalanan. Aku memilih berjalan kaki karena untuk menjaga kesehatanku. Dan di perjalanan, aku merasa ponselku bergetar, membuat tubuhku bergoyang. Aku berhenti sebentar untuk mengecek apa yang membuat ponselku bergetar.
SMS dari Yellow
"Ya, my crimson hero. Aku menunggu di rumah. Cinta istrimu, Yellow,"
Dan saat itulah, hatiku melayang, lagi.
72. Jangan biarkan sedih menjangkau matamu. Semoga hujan menghapus jejak lelahmu. Dan tidurlah dalam buaian napas yang mengelopak bunga. Tanpa retak sedikit pun sampai lembut pagi menyapa.
Red's POV
Aku akhirnya pulang. Perjalanan dari kantor ke rumah dengan keadaan hujan seperti ini membuatku terlambat. Langsung saja aku masuk kamarku dan melepas baju kerjaku.
Setelah kuganti pakaianku dengan pakaian tidurku, aku melihat istriku yang sudah tertidur. Namun saat aku melihatnya lebih dekat, ada beberapa hal ganjil yang kulihat.
Bekas air mata...
Dia pasti bermimpi buruk. Aku langsung berbaring di sampingnya dan memeluknya dengan hangat. Berusaha untuk mengusir mimpi buruk dari pikirannya.
Beberapa saat kemudian, saat aku melihatnya lagi, bukan wajah kesedihan lagi yang kulihat, melainkan wajah gembira dan senang, yang juga mmbuatku senang dan gembira. Dan akhirnya aku terlelap tenang.
75. Aku inginkan hadirmu sekarang! Terlalu indah melewatkan setiap rindu yang mengetuk di temaram senja, tanpamu.
Yellow's POV
"Red-san..."
"Ya, Yellow?"
"Kaupikir senja apa yang lebih cantik, senja di langit cerah atau senja di langit berhujan?"
"Aku suka semua jenis senja, asalkan aku melihatnya denganmu," dan senyumannya membuatku mabuk kepayang, lagi.
78. Apa kabarmu, mata manja? Sengat rinduku tak usai. Masih saja melengkungi langit senja; milikmu.
"Hei, Red-san. Kau sedang apa?" tanya Yellow, menelepon Red yang sedang berada di Hoenn.
"Aku sedang beristirahat. Kau tahu? Lihatlah langit sekarang. Rasanya indah sekali melihat langit jingga itu," lalu Yellow keluar untuk melihat langit senja itu.
Yellow tersenyum memandang awan-awan jingga dan hujan yang diturunkannya. Dan itu mengingatkan Yellow akan...
"Kau tahu? Saat aku melihat hujan ini, aku malah jadi kangen de-de..." kegugupan datang lagi...
"Benarkah? Se-sebenarnya, aku juga kangen rumah. Bisa menikmati ketenangan, Pokemon khas, Hutan Viridian, bertemu Yellow –" ups...
Ketahuan, deh...
91.
Dear You,
Hujan Rindu dalam Hujan
Dalam hujan, biarkan rindu mengerang dalam kesakitannya.
Dalam hujan, biarkan rindu menari-nari.
Dalam hujan, biarkan rindu menyudahi kuyup lelahnya menanti perjumpaan.
Dalam hujan, berikan rindu ruang untuk menyetubuhi kesepian. Sekian.
Yellow's POV dan Red's POV di waktu yang sama...
Aku memandang langit senja... melihat ke arah sana. Di cuaca hujan yang terus turun, Hanya satu hal yang kuharapkan.
"Cepatlah datang, my crimson hero..."
"Aku akan datang, my honey blonde..."
Sekian.
Ada pertanyaan?
Berlanjut...
Bagian 11 selesai. Sekali lagi aku minta maaf kalau terdeteksi typo di sana-sini. Dan benar, ini ditulis saat senja dan hujan.
Kripik jaran...
RWD keluar.
