Bagian 12: Love is Beautiful
Cinta itu indah... bagi Red dan Yellow.
1.
Dear you,
Kepada Senja itu, dan Kamu.
Senja. Apakah kamu masih menunggu? Di ujung jalan itu, seperti kemarin.
Senja. Jangan rasa itu! Kamu bisa melukan dirimu sendiri.
Senja. Jangan mengatup sampai gerimis datang. Kuingin menikmati tiap tetes tangisan ini sebagai keindahan.
Senja. Dua hal yang ingin kuselipkan di lembar ceritamu; pertemuan dan keterpisahan. Atau sebaliknya; keterpisahan yang mencumbui pertemuan dan penyatuan di ujung pengakhirannya. Maka berjanjilah, Senja! Kita akan bertemu lagi di satu titik cinta; di suatu hari tanpa nama.
Gold's POV
Aku berlatih dengan senior Red di Gunung Silver tiap hari. Aku jadi makin kuat tiap hari karena aku berlatih dengan ahlinya.
Namun aku melihat senior Red semakin tak bersemangat dalam berlatih akhir-akhir ini.
Aku ingin bertanya padanya, namun saat aku ingin bertanya, dia selalu berkata...
"Gold, ayo berlatih lagi,"
Namun sekarang, tidak lagi. Saat itu, malam yang cerah di tempat berlatih kami. Kami beristirahat sambil memandang bintang-bintang.
"Senior Red, aku boleh tanya?" aku melihat senior Red menoleh padaku.
"Ya. Ada apa?" tanyanya.
"Kaau tak terlalu bersemangat berlatih belakangan ini. Aku jadi heran. Apa senior Red punya sesuatu untuk dibicarakan? Ayo, katakan saja. Kalau ditahan sakit lho... Si cewek superserius itu kalau tertekan sering curhat ke aku. Masa senior Red tak berani?" kataku.
Aku melihatnya terdiam saja sambil memandang langit. Lalu dia berkata...
"Kau lihat bintang yang agak kekuningan itu?" tanyanya, lalu aku mencoba mencari bintang yang dimaksud senior Red. Setelah aku berhasil menemukannya...
"Aku rindu Yellow..."
Rahangku jatuh sampai tanah.
2. Cinta memiliki aturannya sendiri. Tak bisa dicerna kecuali dengan mata hati. Ikuti saja ke mana ia akan membawa serta.
Red's POV
Yellow suka padaku?
Itu yang kupikirkan pertama kali saat aku mendengar Yellow mengungkapkan perasaannya padaku. Aku jadi bingung. Untung saja Blue dan Green ada di sini juga, jadi...
"Tenang saja, Red. Katakan saja perasaanmu padanya," kata Green.
"Ayo Red, jangan gantungkan perasaannya Yellow," kata Blue.
Sebenarnya aku juga suka padanya. Rambutnya, wajahnya, matanya, hidungnya, tangannya...
Semuanya... tapi aku takut persahabatan kita hancur kalau aku tahu Yellow tak sama rasa denganku.
Namun sekarang aku tahu Yellow menyukaiku. Jadi tak ada yang perlu disembunyikan. Inilah waktunya untuk menyatakan perasaanku juga.
Yellow, I li- no, I LOVE YOU!
4. Cinta mewujud dalam berbagai bentuk tak terduga. Tangis yang mencakup bahagia, juga tawa yang mencatut luka.
Yellow's POV
Aku menangis bahagia karena Red-san...
"Selamat, Red-san! Kau menang!" kataku sambil menangis bahagia.
Aku juga tersenyum dalam luka karena Red-san...
"Yellow! Sudah cukup!" aku mendengar Red-san memintaku menghentikan proses penyembuhannya yang aku tahu akan membuatku kelelahan. Namun kalau itu untuk Red-san, aku rela. Dan aku selesai. Red-san sudah sehat, dan...
"Red-san... kalahkan dia..." dan aku jatuh...
5. Yang terdalam itu lautan hati. Tak teraba radius kedalamannya. Seperti saat kuputuskan masuk ke dalam laut hatimu, aku pun berenang jauh melawan jarak dan waktu.
Red's POV
Aku dan Yellow diundang oleh Mossdeep Space Center untuk menjadi sukarelawan untuk alat terbaru mereka. Alat yang dapat membuat pemakainya dapat menembus ruang dan waktu.
"Baiklah, Red, Yellow, silakan masuk ke ruang itu. Oh, juga silakan pakai gelang ini. gelang ini akan membuat kalian bisa kembali ke sini," kata petugasnya. Lalu aku dan Yellow masuk ke ruangan itu.
Setelah ruangannya ditutup rapat, penghitungannya dimulai.
"Persiapan transfer materi antar-ruang-waktu. 10, 9, 8,..."
Pada saat itulah, aku menggenggam tangan kecil Yellow dengan erat, membuatnya heran.
"Red-san?" tanyanya.
"Aku tak ingin kehilanganmu di perjalanan ruang-waktu ini. Jika kau hilang, tak ada yang bisa menolongmu. Kalau kau hilang, aku lebih memilih hilang bersamamu," kataku dengan meyakinkan. Yellow hanya bisa tersenyum malu dan senang.
"3, 2, 1..."
ZIIIINNGGGG...
...
Kami telah sampai ke ruang-waktu lain. Dan saat kami membuka mata kami, kami sangat terkejut karena...
Hutannya Hutan Viridian. Rumahnya seperti rumahnya Yellow. Dan semuanya seperti apa yang ada di masa kami. Namun ada yang lain...
Kami berdiri tepat di depan diri kami sendiri 10 tahun di masa depan, yang mana Yellow masa depan menggendong seorang anak dengan rambut acak pirang.
Anak mereka...
Anak kita...
"Red-san..."
"Yellow..."
Sementara itu di masa awal...
"Tee-hee, ideku bagus kan?" tanya Blue. si ketua misi angkat kedua jempolnya untuk Blue. Dan laki-laki di sampingnya hanya bisa berkata...
"Sekarang dia main-main dengan ruang-waktu. Gadis si**an..." kata Green.
15. Mari menenggelamkan diri dalam cinta. Dan bernapaslah dari kedalamannya. Tak ada salahnya.
"Apa kalian pernah melihat orang ini?" aku menunjukkan gambar yang menunjukkan 2 orang. Yang satu dengan pakaian merah dan yang satunya dengan pakaian kuning dan topi jerami.
"Oh, mereka ke sana," lalu berjalan lagi. Dan bertanya hal yang sama. Dan jawabannya...
"Oh, mereka ke sana," lalu berjalan lagi. Dan bertanya hal yang sama. Dan jawabannya...
"Oh, mereka ke sana," lalu berjalan lagi. Dan bertanya hal yang sama. Dan jawabannya...
"Oh, mereka ke sana," lalu berjalan lagi. Dan bertanya hal yang sama. Dan jawabannya...
"Oh, mereka ke sana," lalu berjalan lagi. Dan bertanya hal yang sama. Sampai 74 kali. Aku akhirnya bosan.
Sementara itu, target pencarianku sedang berada di Kota Lumiose, tepatnya di Menara Prisma.
"Pemandangannya indah ya..." kata lelaki rambut acak itu. Perempuan yang kepalanya menyandar pada pundak si laki-laki itu hanya mengangguk.
"Kuharap kita bisa begini terus," kata si perempuan. Lalu mereka melanjutkan kemesraan mereka dengan melihat matahari terbenam dari menara itu.
Sementara itu aku berada di Kota Laverre. Dan aku malah bertemu dengan X dan Y.
Setengah sia-sia...
17. Selamat ulang tahun, cinta. Satu detik terlampaui. Melesat jauh, menanak seribu jejak kaki. Selamat mengarungi bahtera Nuh, hari ini dan nanti.
Red's POV
Aku sengaja bangun lebih awal. Aku sedang membuat sarapan. Biasanya istriku yang membuatnya, tapi karena hari ini spesial, aku yang membuatnya.
Kau tahu hari apa ini? Oh, istriku sudah bangun ternyata, dan untungnya makananku sudah jadi semua.
"Hei, my honey blonde..."kataku. Dia hanya terkekeh dengan wajah yang masih lemas karena baru bangun tidur.
"Hei, my crimson hero..." katanya, yang suaranya juga masih lemah. Lalu dia melihat meja makan dan sedikit kaget.
"Kau membuat semuanya, sendiri?" tanyanya. Aku mengangguk yakin.
"Ini kan hari spesialmu. Hari ini aku akan melayanimu sepanjang hari," kataku. Kemudian aku mendekat padanya dan memeluknya.
Happy birthday, Yellow...
18. AMIN. Hanya itu yang mampu kudesiskan dalam khusyuk doa untuk sebuah pernikahan. D suatu hari, di suatu masa.
Yellow's POV
"Tuhan, kali ini aku berserah diri pada-Mu. Aku bukan apa-apa dibandingkan dengan kuasa-Mu. Karena itulah kali ini aku berdoa padamu,"
"Baru saja aku berulang tahun yang ke-25. Dan dia sudah berusia 26 tahun dan besok Agustus sudah 27. Aku diberitahu Blue bahwa usiaku sekarang sudah cukup matang untuk membangun bahtera rumah tangga,"
"Jadi, Tuhan, buat dia mengetahui perasaanku padaku. Buatlah dia tahu betapa aku mencintainya, dan buatlah aku tahu bahwa dia mencintaiku juga. Buatlah cinta kami murni dan suci,..."
Terdiam sebentar karena saking gugupnya aku. Walau bisa dibilang aku adalah yang paling beriman dari teman-temanku, tapi aku masih gugup...
Karena kuasa Tuhan, lalu dia.
"YA TUHAN, IZINKAN AKU MENIKAH DENGAN RED-SAN!"
Langsung tutup mulut. Aku bicara terlalu keras. Di dekatku ternyata ada Prof. Oak. Dia hanya tersenyum sambil mengatakan satu kata.
"Amin..."
Aku terpana dengan yang baru saja dikatakan Prof. Oak. Lalu tiba-tiba...
"Red, kau boleh masuk sekarang..." katanya. Apa? Red-san ada di sekitar sini? Lalu aku mendengar pintu terbuka, dan Red-san masuk. Yang membuatku lebih kaget lagi adalah dia memakai pakaian yang sangat rapi. Jas hitam dengan dasi merah dan sepatu kets berkilau yang sepertinya baru selesai dipoles. Rambutnya tertata rapi dan wajahnya berseri.
Dia terus berjalan mendekatiku yang hanya berdiri diam di sana, tak percaya akan banyak sekali probabilitas yang akan terjadi. Aku hanya memakai pakaian kuning biasaku, hanya ukurannya lebih besar.
Akhirnya dia ada tepat di depanku sekarang.
"H-Hei, Yellow..." katanya dengan wajah yang memerah.
"H-h-hai, R-Red-san..." kataku, tak jauh beda dengannya. Aku melihatnya ingin bicara, namun sepertinya dia gugup. Jadi, aku menunggu sampai...
"Yellow, kita sudah berteman selama, entahlah, 16-17 tahun mungkin. Dan dulunya aku kira kau laki-laki dan aku pernah berkata kalau kita harus hidup bersama, walau saat itu aku hanya bercanda. Lalu semenjak aku tahu kau perempuna, tepatnya, perempuan yang pernah kutolong sejak waktu yang sama itu, rasanya aku juga mempelajari hal baru selain berlatih dengan Pokemonku. Dan kau tahu apa itu?"
Sementara itu, di luar, Blue menunggu.
"Ayolah, Red. Kau tak perlu berbelit-belit begitu..." katanya.
"Perempuan berisik..." kata laki-laki di sampingnya.
Kembali ke dalam...
"Apa itu, Red-san?" tanyanya. Aku melihatnya dengan wajah yang memerah...
"Itu... adalah cinta. Dan aku merasakannya saat aku bopong kau selama kita membatu. Kau masih tersenyum, memikirkanku. Aku tak tahu apa yang bisa kulakukan untuk membalasnya. Kita terus menjadi teman sampai sekarang, dan kita sangat menikmatinya. Bahkan kau tahu? Kita bahkan tak terpikir untuk pacaran, hehehe..." katanya sambil menggaruk kepala belakangnya. Aku juga ikut tertawa karena mengetahui fakta itu.
"Benar juga..." kataku.
"Dan pasti suatu lompatan besar kalau terjadi suatu hal positif yang tak terduga dalam cinta kita. Benar kan, Yellow?" tanyanya. Aku hanya mengangguk pelan. Lalu aku melihatnya lagi, namun dengan tatapan meyakinkan.
"Dan Yellow, aku akan melakukan lompatan besar itu sekarang," aku kaget. Lompatan besar apa yang dimaksud Red-san? Apa jangan-jangan...
Sementara itu...
"Video streaming sudah berjalan sejak Red masuk, Blue. Semua sudah beres dan undanganmu sepertinya sukses," kata Crystal, menunjukkan laptopnya. Di situs pemutar video itu tertulis judul yang teramat jelas.
"Red and Yellow; The Romantic Proposal of The Fighter to The Healer" dengan yang menonton ada 1,7 miliar orang.
"APA? 1,7 MILIAR? Mereka luar biasa..." kata Silver, yang agak kaget juga.
Intinya, peristiwa ini bukan hanya ditonton Dexholder saja, namun semua orang di seluruh dunia. Semua orang menunggu acara inti dari video siarang langsung ini, bahkan Giovanni, Maxie, Archie, pasukan semua tim yang serupa kejahatannya di dunia ini, sampai Arceus ikut menonton.
Kembali ke dalam...
Aku benar-benar syok saat aku melihat Red-san tiba-tiba berlutut di depanku dan mengambil sesuatu dari kantung celananya. Dan saat sepertinya dia sudah siap, dia mulai.
"Amarillo del Bosque Verde..." yang menonton di videonya mulai diam da memperhatikan. Semua sepertinya deg-degan melihat peristiwa ini.
Sambil mengeluarkan sesuatu dari kantungnya, Red-san...
"Maukah kau menikah denganku?" sambil membuka kotak kecil berisi cincin platinum dengan mata berlian...
Tuhan... doaku... sementara aku hanya bisa menutup mulutku karena tidak percaya dengan apa yang dikatakan Red-san tadi.
Semua orang juga mulai menunggu, tepatnya menunggu jawabanku. Mereka seperti orang yang menonton acara sepak bola, dimana seorang pemain siap untuk melakukan tendangan penalti terakhir di final Piala Dunia.
Dan akhirnya, aku harus menjawabnya...
Dengan air mataku yang terus mengalir, dengan keberanian yang terus muncul, dan dengan rasa cinta yang memuncak... aku langsung memeluk Red-san, melepas semua emosi yang terkumpul, melepaskannya seperti Hypernova.
"RED-SAAAAAAAANNNNNN...! YAAAAAA!"
Dan aku langsung mendengar semua orang berteriak senang. Mereka seperti orang yang menonton acara sepak bola, dimana seorang pemain siap untuk melakukan tendangan penalti terakhir di final Piala Dunia, dan dia berhasil mencetak gol. Seluruh teman-temanku langsung masuk dan bersuka cita, bukan hanya mereka, namun juga seluruh dunia. Dan Arceus tersenyum.
Sementara itu, aku dan Red-san hanya duduk di sana, saling menangis bersama dan berpelukan bersama. Aku menangis karena baru saja dilamar oleh orang yang kucintai. Namun kenapa Red-san menangis?
"R-Red-san? Kenapa kau..." tanyaku. Dia tersenyum di tengah tangisannya.
"Aku menang, Yellow... aku memenangkan tantangan terbesar hidupku, melamar orang yang kucintai..." Lalu kami menangis dalam kebahagiaan murni dan suci bersama, lagi.
Dan aku tahu, bahwa doaku baru saja dikabulkan...
Terima kasih, Tuhan...
Terima kasih, Red-san...
Terima kasih, semuanya...
19. Ternyata, rindu dan kesendirian adalah kombinasi yang berbahaya.
Karena keduanya terjadi di waktu yang sama. Butuh contoh?
Saat Red di Gunung Silver, pasti dia merindukan Yellow, karena pada saat itu, Yellow tak ada di sampingnya.
Begitu pula Yellow. Dia hanya di sekitaran rumahnya saja. Pasti Yellow merindukan Red karena Red tak ada di dekatnya.
Kesimpulannya adalah, untuk menyelesaikan masalah ini, kenapa mereka tak hidup bersama saja?
Tee-hee
21.
Dear You,
Takkan Terbayar Lunas, Rinduku
Rindu itu pertemuan senja. Bersamanya, kita menari.
Rindu itu nyanyian sunyi. Kita adalah melodinya, kini. Berdua saling menautkan keterasingan dalam denting keindahan yang bertubi-tubi.
Dari dekat, rinduku semakin dahaga. Haus mengecup pucuk penantian yang tinggal sejengkal dari jari manismu.
Lelaplah! Di pangkuanku, rindumu kutimang seiya, dan setia kujaga. Aku sadar, tak akan pernah terbayar lunas rindu yang sekian lama mengerami kematangan. Meskipun, sekian senja terus merekatkan jemari kita yang bermanja.
Arceus' POV, bahasa telah diterjemahkan.
Aku sedang berjalan-jalan di Kanto. Dan sekarang aku ada di Hutan Viridian. Aku suka tempay ini. Airnya jernih dan bersih, udaranya segar, dan pemandangan hutannya indah sekali. Aku juga sering melihat 2 orang yang ada di sini.
Satu dengan pakaian merah yang terus berlatih dengan Pokemon-nya, sementara satunya dengan pakaian kuning dan topi jerami sedang menggambar. Aku tak tahu apa yang dia gambar, namun kelihatannya dia senang degan gambarnya.
Aku melihat mereka bersama terus sampai sorenya. Sorenya, mereka tertidur di bawah pohon. Akupun mendekati mereka. Aku melihat mereka tersenyum dengan tangan yang saling menggenggam. Kepala si rambut pirang itu disandarkan pada bahu si laki-laki. Sekarang aku ingat siapa 2 orang ini.
Aku melihat mereka membuka mata. Aku tak memilih untuk kabur. Aku ingin melihat mata mereka. Saat mereka sadar akan keberadaanku, mereka sama-sama berkata...
"Arceus..." aku hanya tersenyum pada mereka, dan langsung pergi dengan cepat.
Itulah ceritaku saat aku melihat 2 orang ini. Red dan Yellow.
24. Jika malu itu mengenal komposisi, warnanya lebih pas pucat pasi. Untuk rindu? Warna pelangi.
Yellow's POV
Itulah aku. Aku yang selalu malu kalau aku berada di dekat Red-san, mendengar warnanya, melihat rupanya dari televisi, mendengar suaranya via telepon, membaca pesan singkat darinya, atau apapun yang berhubungan dengan Red-san, dan orang lain melihatnya.
Sementara itu, saat aku sendiri, aku sangat menikmati rasa rinduku saat aku berada di dekat Red-san, mendengar warnanya, melihat rupanya dari televisi, mendengar suaranya via telepon, membaca pesan singkat darinya, atau apapun yang berhubungan dengan Red-san.
Aku bingung pada diriku sendiri, kenapa aku bisa seperti ini hanya karena Red-san.
Red-san, kau harus tanggung jawab dengan memberikanku satu ciuman, suatu saat nanti. Pikirku meyakinkan.
25. Kalau jatuh cinta itu antibiotik, aku akan menghabiskannya, untukmu. Rela dan mampu, demimu.
Red's POV
"KEMBALIKAN YELLOW!" seruku kepada musuh beratku, Giovanni, yang menaruh Yellow dalam kurungan berarus listrik tegangan tinggi.
"Hehehe, memangnya gampang kubebaskan Yellow? Ingatlah, aku punya kekuatan yang diberikan dari tempat yang sama dengannya, dan aku akan mengambilnya untuk MENGUASAI DUNIA!" serunya membuatku sedikit syok.
"TAK AKAN KUBIARKAN KAU CELAKAI YELLOW!" seruku, mempersiapkan Pikachu-ku untuk menyerang.
"Oke, kau ingin main kasar ya? Tak masalah..." Lalu energi dari Yellow tiba-tiba disedot paksa dengan alat penyedot energi yang sudah terpasang pada tiap sisi kurungan dan mengalir ke tubuh Giovanni.
Yellow, tentu saja dia berteriak kesakitan karena energinya yang disedot paksa.
Dan inilah saatnya aku membuat strategi. Tentu saja Viridian akan memberikan energinya lagi kepada Yellow. Pertanyaannya adalah bagaimana menghancurkan alat penyedot itu tanpa menyetrum Yellow, dan aku harus melakukannya sebelum energinya benar-benar habis.
Aku punya ide.
"Pika, aku punya ide..." lalu kubisikkan ideku pada Pika, dan dia menjawabnya dengan sekali anggukan, tanda dia paham, walau dengan wajah agak khawatir.
"Tenang saja, aku pasti baik-baik saja. Ini untuk Yellow juga..." kataku. Dan akhirnya...
"Giovanni, kalau kau berani, mendekatlah padaku!" seruku.
"Oh, kau ingin bertarung jauh dari pacarmu itu, agak dia tak melihat kekalahanmu yang menyedihkan itu?" tanyanya.
"Oke, kalau kau tak mau..." jawabku dengan tenang. Lalu aku langsung berlari mendekat.
"Eh? Malah mendekat?" tanyanya
"RED-SAN, JANGAN!" seru Yellow, memintaku untuk berhenti mendekatinya. Namun terlambat.
"Pikachu, lompat, ekor besi, dan 100000 V!" Langsung Pikachu melompat dari atas kepalaku, dan beruntungnya Giovanni tak sadar dengan kemunculannya, lalu aku rangkul dia untuk mencegahnya bergerak.
Pikachu langsung memotong kabel yang menyalurkan energi dari kurungan ke mesin, lalu dengan listriknya, dia menghancurkan alatnya, yang aliran listriknya menyambar ke Giovanni, untungnya aku lepaskan sebelum dia tersetrum.
Tepat waktu, karena terlambat sedikit saja, aku juga bisa tersetrum dan Yellow yang akan kuselamatkan justru akan kerepotan merawatku nantinya, hehehe...
Tapi aku menang. Aku menang melawan Giovanni, dan sekarang dengan sedikit otot dan banyak otak. Satu hal terakhir, membebaskan Yellow.
"Pikachu, ekor besi!" seruku, langsung saja Pika memotong besi kurungan dengan ekor besinya, dan membebaskan Yellow. Langsung saja Yellow berlari ke arahku dan memelukku dengan erat.
"TERIMA KASIH... TE-TERIMA KASIH, R-R-RED-SAAAAANNN..." katanya dalam tangisan bahagianya.
"Sudah, sudah, Yellow. Kau sudah bebas sekarang. Ayo kita pulang," langsung kubopong dia.
"Eeeehhh, Red-san! Kau tak perlu bopong aku!" katanya.
"Aku tahu, tapi energimu banyak tersedot, dan perjalanan kita juga jauh. Lebih baik kubawa kau daripada kau tidur sambil jalan. Kau bisa tidur untuk memulihkan kekuatanmu selama kita pulang kalau aku membopongmu," kataku. Gadis pirang di depanku hanya bisa tersipu malu dan akhirnya mengangguk.
Akhirnya, aku dan Yellow berjalan keluar, dan pulang kembali ke Hutan Viridian dengan aman.
27. Mungkin waktu terlalu sibuk mengingat kita atau kita yang melupakannya. Terburu-buru mencapai akhir padahal kita baru saja beranjak memulainya – perjalanan cinta itu.
Yellow's POV
Ahhh... kenapa hari ini cepat berakhir? Aku masih belum puas berkencan dengan Red-san... ya, walaupun sebenarnya aku sudah pergi ke mana-mana bersama Red-san. Ke Kota Saffron, sudah. Ke Zona Safari Kanto, sudah. Belanja banyak hal di Kota Celadon, bahkan hampir mati ketakutan di Kota Lavender. Namun pada akhirnya inti kencan kami hanya jalan-jalan dari Kota Viridian ke Kota Pallet, dan kembali ke rumahku di Hutan Viridian.
"Ya, kita sudah pulang!" seru Red-san, dengan wajah yang agak kecewa. Aku jadi heran karenanya.
"Ada apa, Red-san? Ada yang salah?" tanyaku. Dia mengambil napasnya.
"Jika saja kita bisa berkencan lebih lama, pasti lebih mengasikkan. Benar kan, Yellow?" tanyanya. Aku hanya bisa terdiam.
Ternyata Red-san sepikiran denganku...
"Mmmm... bagaimana kalau kita menonton televisi sama-sama?" tanyaku. Wajah Red-san berseri kembali.
"Wah, ide bagus, Yellow! Ayo..." katanya, lalu kami berdua masuk ke rumahku.
Dan kencan kami berlanjut...
30. Peduli apa dengan luka. Seketika lunas terbayar dengan satu senyumanmu, saja.
Red's POV
Tersandung, tercebur, tertiup angin, diserang Pokemon liar, membeku, membatu, semua penderitaanku selama hidupku saat aku sekali mengatakan kata ini. Sebuah jawaban dari pertanyaan dan jawaban ini adalah keyakinan hatiku, dan kata ini hanya kutujukan untuk satu orang saja.
Orang yang membuatku tersenyum saat aku susah, dan orang yang dapat kubuat tersenyum saat dia susah. Orang yang akhirnya resmi menjadi istri sahku dan hidup bersama dengannya sampai maut memisahkan.
I do love you, my honey blonde...
33. Karena Tuhan punya rencana. Kita berusaha, berdoa, dan bertawakal saja. Cinta dan penyatuan kita tak akan ke mana.
Dan benar saja. Tiba-tiba ada berita bahwa Red akan melamar Yellow. Paman Wilton setuju, dan semua orang kaget dengan informasi ini. Yellow memang menunjukkan keinginan yang kuat ingin hidup bersama Red, namun sifat Red yang tak peduli dengan cinta membuatnya penuh tanda tanya.
Untungnya berita ini cepat tersebar. Berterima kasihlah pada Blue.
Bagian lamaran ada di nomor 18.
34. Makanan termanis. Ketika suapan demi suapan langsung dari tanganmu. Dan, mata kita beradu.
Red's POV
Seperti biasanya, Yellow selesai memasak, dan aku selesai mempersiapkan diri untuk bekerja. Hanya satu hal untuk dilakukan; makan.
Aku melihat makanan yang dibuat Yellow kali ini; sayur pare, tempe, sesisir pisang, teh hangat, dan sebakul nasi.
Aku mengambil bagianku. Aku melihat Yellow masih sibuk dengan persiapan akhirnya. Jadi...
"My honey blonde, kau ingin kuambilkan bagianmu tidak?" tanyaku.
"Ya, my crimson hero. Ambilkan aku sayur pare dan tempenya," kata istriku dari sana.
Yellow's POV
Akhirnya aku selesai dengan bagian akhir memasakku. Sekarang waktunya makan dengan suamiku tercinta.
Aku pergi ke meja makan dimana Red-san sudah menunggu, beserta makanan yang ada di piringku. Aku tersenyum melihatnya dan duduk di depannya.
"Terima kasih, Red," kataku.
"Eh? tak ada Red-san kali ini?" katanya, sepertinya dia mencoba untuk menggodaku lagi. Ahh... seperti setelah kami menikah, sifat romantis Red-san lebih terlihat.
Plus aku memang sengaja lupa, untuk menguji saja, hehehe...
"Hehehehe, aku hanya bercanda, Red-san..." kataku dengan tertawaan kecil.
"Nah, ayo kita makan," kata suamiku. Aku mengangguk saja dan mulai makan dengannya.
Beberapa saat kemudian, Red-san sudah menyelesaikan prosesi makannya. Sementara itu aku masih setengahnya. Aku melihat Red-san tersenyum melihatku.
"Perlu kusuapi?" tanyanya.
Eh? Sejak kapan Red-san minta agar dia menyuapiku? Jujur, sebenarnya aku kangen saat itu, terutama pada saat awal pernikahan kami. Namun setelah Red-san sibuk, sudah jarang terjadi. Ini kesempatan emas yang tak boleh dilewatkan begitu saja!
"Hmmm... boleh..." lalu Red-san berpindah dari depanku ke samping kananku. Aku membiarkannya mengambil sendokku, mengambil sedikit makanan, dan ...
"Ayo Yellow, buka mulutnya, kereta datang!" aku agak terkekeh mendengar hal kekanak-kanakan seperti itu, tapi juga senang. Akupun membuka mulutku dan membiarkan Red-san memasukkan sendok berisi makanan ke mulutku, sebelum akhirnya dikeluarkan lagi.
"Bagaimana?" tanyanya, aku masih mengunyah makananku, dan akhirnya...
"B-Bisakah k-k-kau suapi aku lagi?" tanyaku.
Red's POV
Catatan mental: Terima kasih banyak, Blue!
Ini sebenarnya campuran ideku dan Blue tentang cara mengembalikan keharmonisan, atau lebih tepatnya, mempertahankan keharmonisanku dan Yellow. Dan sepertinya berhasil.
Aku ambil makanannya lagi, dan bersiap untuk memasukkannya lagi ke mulutnya Yellow.
"Ngeeeeeeeeeennnggggg, Yellow, pesawatnya mau mendarat..." dengan sedikit kekehan dariku. Yellow langsung melahap makanannya seperti anak kecil yang disuapi ibunya. Kami berduapun tertawa melihat tingkah Yellow tadi. Lalu, tiba-tiba...
"Red-san, bolehkah aku suapi kamu?" tanyanya. Aku hanya bisa tersenyum sambil berkata...
"Tentu saja boleh," oke, giliranku yang disuapi istriku. Aku melihatnya mengambil makanan, dan siap untuk memasukkannya ke mulutku.
"Ayo Red-san, makan makannya, katanya ingin jadi Gym Leader, Gym Leader harus kuat, kalau ingin kuat, harus ma... ma..."
"MAKAN MAKANANNYA ISTRI TERCINTA!" langsung pipi kami memerah di tengah tertawaan kami, lalu kulahap makanannya seperti Yellow tadi. Yellow tersenyum sambil berkata...
"Suami pintar... ayo dimakan lagi..." kayanya sambil mengambil makanan dan siap memasukkannya lagi. Langsung aku melahapnya lagi. Membuat kami tertawa lagi.
Neutral POV
Itu terus terjadi, acara suap-suapan sampai terjadi 38 menit. Dan berakhir saat seorang manusia muda dengan rambut acak pirang muncul ke ruang makan.
"Mama, Papa, aku mau disuapi juga..." dan kedua manusia yang bersuap-suapan itu akhirnya berhenti dan melihat manusia itu. Mereka saling berpandang-pandangan dan akhirnya tersenyum pada manusia itu.
"Tentu, Flavus. Kemarilah..." kata Yellow. Lalu anak itu mendekat dan berpangku pada Red. Lalu Yellow siap menyuapinya.
"Ayo, kalau mau menang melawan Papa, harus kuat. Kalau mau kuat, harus ma... ma..." kata Red.
"MAKAN MAKANANNYA MAMA PAPA!" serunya, lalu melahap makanannya seperti anak kecil, karena dia memang masih kecil. Semuanya tertawa mendengar jawaban tadi.
Dan acara suap-menyuapi ini terus berlanjut sampai makanannya habis, 32 menit kemudian.
35. Cinta? Tanpa definisi. Yang biasa dan bisa kita kalukan adalah mengekspresikannya. Kasihan cinta kalau harus diartikan ini-itu. Cinta menjadi terisolasi, dan masuk ke dalam kotak!
Cheren's POV
Aku menyerah...
Benar juga yang dikatakan orang-orang itu. Aku tak bisa lagi mengusahakan penelitian tentang arti cinta yang sebenarnya.
Aku tanya sesama pembaca buku, Nona Berlitz saja, juga tidak tahu. Dia malah berkata begini.
"Mungkin Anda harus bertanya kepada Red dan Yellow. Mereka adalah salah satu dexholder tertua dan yang telah merasakan perasaan itu,"
Red dan Yellow ya? Mereka disebut Si Petarung dan Si Penyembuh. Mereka sudah menikah dan sudah punya 2 anak. Mereka sudah dapat pengalaman cinta kompleks dan luar biasa. Mungkin bisa menjadi referensiku.
Oke, waktunya pergi ke Kanto.
39. Dan biarpun berkelana sejauh udara berembus, ia akan menghampiri jiwa-jiwa yang dahaga dan mendamba; cinta itu.
Ini tak perlu dijelaskan lagi.
Red merindukan Yellow, dan Yellow merindukan Red. Selalu terjadi selama mereka berada di ruang yang terpisah di waktu yang sama.
Dan angin yang berembus di wajah mereka mengingatkan mereka akan masing-masing. Mulai sejak pertama mereka bertemu sampa sekarang, mereka telah merasakan angin yang sama.
Angin kerinduan...
Akan terus datang kepada yang dahaga dan mendamba.
42. Begitu masuk wilayah hati, segala sesuatu sukar diprediksi. Hati-hati! Percayakan pada kata hati.
Red's POV
Apa ini yang namanya cinta?
Hari ini, aku pergi ke Hutan Viridian untuk berlatih dengan Pokemon-ku lagi. Dan aku mengambil tempat yang sama setiap harinya. Ini membuat beberapa Pokemon-ku bosan.
Salah satunya Pikachu.
"Piiiiiiikaaaaaa..." katanya, aku tak tahu apa yang dia katakan tapi dari raut wajahnya, dia pasti kebosanan.
"Ada apa, Pika?" tanyaku. Aku sudah menduganya, dia pasti kebosanan.
"Hei, aku ingin memberitahukanmu sesuatu, tapi ini rahasia kita saja. Ini alasan kenapa aku memilih tempat ini," kataku, lalu membisikan rahasia itu di telinga Pika. Setelah selesai...
"Pika?" katanya agak kaget.
"Hehehe... ya... entah kenapa, aku suka berlatih di sini, karena mengingatkanku akannya, dan mengingatnya membuatku bersemangat. Pika, menurutmu, inikah yang namanya cinta?"
Pika's POV
Ya ampun...
Ternyata, setelah bertahun-tahun, akhirnya dia mengikuti kata hatinya yang lain itu. Tapi kenapa aku harus menunggu lama untuk itu?
Akhirnya dia merasakan cinta juga. Aku tahu tempat ini. Ini tempat dimana tuanku dan temannya saling bercengkerama. Ya, temannya yang berambut pirang panjang yang tuanku kira dia laki-laki itu...
Dan sebenarnya, hari ini dia akan datang. Aku tak tahu apa yang ada dalam pikirannya sekarang.
Apa mungkin akan menyusul aku dan Chuchu dalam keseriusan cinta?
Kuharap...
43. Sekecil apapun, ungkapkan lepas landas, terjun bebas dan silakan sandarkan di dadaku.
Red's POV
Aku melihat teman-temanku. Aku sangat menyukai mereka. Mereka punya kelebihan dan kelemahannya masing-masing.
Blue, cantik, namun juga agak jail. Tapi tak masalah karena dialah yang membuat kelompok dexholder dari Kanto jadi berwarna.
Green, walaupun pendiam dan cenderung cuek, namun jawabannya selalu cerdas. Makanya dia bisa jadi Gym Leader lebih cepat daripada aku. Sepertinya aku harus belajar lebih banyak lagi, termasuk darinya.
Dan Yellow. Aku mencintainya. Walaupun terkadang dia sering tertidur. Dan beberapa hal yang dia ungkit-ungkit. Dan akhirnya aku yang harus menyelesaikan masalahnya juga.
Contohnya tadi.
"Red-san..."
"Ada apa?" tanyaku. Aku melihat wajahnya tiba-tiba sedih.
"Apa aku kurang cantik untukmu?" eh? Pertanyaan apa itu?
"Kenapa kau tanyakan hal itu, Yellow?" tanyaku. Dia hanya menundukkan kepalanya dan berkata...
"Kau punya banyak teman perempuan. Contohnya Misty. Dia sudah jadi Gym Leader di Cerulean. Lalu Blue, dia kan juara kedua setelah kau di lomba itu. Ditambah lagi mereka lebih cantik, lebih feminim, dan lebih..."
Tiba-tiba pipinya memerah. Eh, apa lagi ini?
"Mereka lebih... lebih..." aku melihat tangannya yang dikepalkan di depan dadanya, dan aku langsung paham apa maksudnya. Dan aku menaruh tangan-tanganku pada pipinya, dan mengarahkan wajahnya ke hadapanku.
"Yellow, apa yang kau bicarakan? Aku tidak mencintaimu karena gelarmu, kekuatanmu, apa lagi tubuhmu. Aku mencintaimu karena satu hal..." lalu kucium bibir manisnya dengan singkat, namun lembut, sesuai yang disukainya.
"Aku mencintaimu karena hatimu, dan karena hanya kau yang membuatku lengkap..."
Sekali lagi, aku cium Yellow, sekarang dengan ciuman yang lebih hangat. Akhirnya aku dan Yellow mengakhiri ciuman kami karena kehabisan udara, dan memutuskan untuk pergi ke kamar kami.
"Red-san..." katanya.
"Ada apa?" tanyaku. Lalu dia merebahkan kepadanya di atas dadaku. Dan sebelum dia tertidur, dia berkata...
"Thanks, my husband, my crimson hero..." langsung saja kujawab sebelum aku juga tertidur.
"You're welcome, my wife, my honey blonde. Good night, sleep tight, have a nice dream, Yellow..."
...
"You too, Red-san..."
45. Kalau saja hati itu seperti buku terbuka, betapa indahnya membaca dan menuliskan cinta – untukmu.
Di dimensi lain...
Yellow masuk ke dimensi lain, dan di sana, dia bertemu seseorang. Perempuan seusianya. Dia juga diberi kekuatan oleh Hutan Viridian, bahkan dengan kekuatan yang sama; kekuatan penyembuhan. Tapi perempuan itu memilih untuk pergi ke dimensi lain, setelah...
"Ya, begitulah. Dia pergi ke alam yang indah di atas sana. Dan daripada aku menderita di sana, aku memilih untuk tinggal di sini," katanya.
"Wah, kau benar-benar setia dengannya sampai kau rela pergi dari dimensimu sendiri. P-pasti ka-kalian saling men..." kata Yellow, sedikit memerah pipinya karena malu dan iri.
"Ya, kami berdua saling mencintai. Karena perasaanku padanya..." lalu dia mengambil sebuah buku. Dia mengambil pensil yang dia taruh di telinganya, dan membuka sebuah halaman. Dia gambar banyak hati kecil di sana. Setelah dia selesai...
"Bagaimana denganmu? Maksudku, kau dan Red?" Yellow agak terhenyak karena kaget dengan pertanyaan itu, lalu menunduk malu dengan wajah yang sedikit memerah. Lalu dia mengambil pensil itu, dan menggambar hati yang otentik.
Satu hati yang besar, memenuhi satu lembar buku itu.
...
"Sepertinya, ini waktunya kita berpisah. Jangan lupa berbahagia dengan Red..." katanya dengan senyum.
"Kau juga, Jenar..." kata Yellow.
Dan pertemuan mereka selesai, dan pertemuan Yellow dengan Red dimulai, lagi.
47. Dunia begitu kecil saat merangkumnya dengan mata dan pikiran. Dan kamu jadi bintangnya karena hati turut serta merengkuhnya.
Neutral POV
Perkumpulan dexholder di rumahnya Platinum. Kali ini, Crystal akan membacakan puisi. Sebenarnya bukan puisi, tapi sebuah artikel dari sebuah buku.
"Nona Berlitz, apa kau punya bukunya Carl Sagan?" tanya Crystal.
"Buku itu? Oh, aku punya. Sebentar, akan aku akbilkan," lalu Platinum pergi ke perpustakannya dan mengambil buku yang dimaksud.
Pale Blue Dot: A Vision of the Human Future in Space
"Ini bukunya, Crystal, oh, ya. Mulai sekarang, kalian boleh memanggilku Platinum," katanya.
"Oh, terima kasih, Platinum," kata Crystal, Platinum tersenyum.
"Crystal baca puisi, pasti enaknya seperti donat ini..." kata Diamond sambil memakan donat ke-42-nya.
"HEY! MAKAN SAJA PIKIRANMU!" seru Pearl, membuat orang lain di sana tertawa. Dan setelah tenang, Crystal mulai berpuisi.
Titik Biru Pucat
Dari jarak sejauh ini, Bumi tidak lagi terlihat penting. Namun bagi kita, lain lagi ceritanya. Tatatplah lagi titik itu. Titik itulah yang dinamai 'di sini'. Itulah rumah. Itulah kita. Di satu titik itu semua orang yang kamu cintai, semua orang yang kamu kenal, semua orang yang pernah kamu dengar namanya, semua manusia yang pernah ada, menghabiskan hidup mereka. Segenap kebahagiaan dan penderitaan kita, ribuan agama, pemikiran, dan doktrin ekonomi yang merasa benar, setiap pemburu dan perambah, setiap pahlawan dan pengecut, setiap pembangun dan pemusnah peradaban, setiap raja dan petani, setiap pasangan muda yang jatuh cinta, setiap ibu dan ayah, anak yang bercita-cita tinggi, penemu dan penjelajah, setiap pengajar kebaikan, setiap politisi busuk, setiap "bintang pujaan", setiap "pemimpin besar", setiap orang suci dan pendosa sepanjang sejarah spesies manusia hidup di sana, di atas setitik debu yang melayang dalam seberkas sinar.
Bumi adalah panggung yang amat kecil di tengah luasnya arena kosmik. Renungkanlah sungai darah yang ditumpahkan para jenderal dan maharaja sehingga dalam keagungan dan kejayaan itu mereka dapat menjadi penguasa sementara di sebagian kecil dari titik itu. Renungkanlah kekejaman tanpa akhir yang dilakukan orang-orang di satu sudut titik ini terhadap orang-orang tak dikenal di sudut titik yang lain, betapa sering mereka salah paham, betapa siap mereka untuk membunuh satu sama lain, betapa bergejolah kebencian mereka. Sikap kita, keistimewaan kita yang semu, khayalan bahwa kita memiliki tempat penting di alam semesta ini, tidak berarti apapun di hadapan setitik cahaya redup ini. Planet kita hanyalah sebutir debu yang kesepian di alam yang besar dan gelap. Dalam kebingungan kita, di tengah luasnya jagad raya ini, tiada tanda bahwa pertolongan akan datang dari tempat lain untuk menyelamatkan kita dari diri kita sendiri.
Bumi adalah satu-satunya dunia, sejauh ini, yang diketahui memiliki kehidupan. Tidak ada tempat lain, setidaknya sampai beberapa waktu ke depan, yang bisa dijadikan tempat tinggal. Ada yang bisa kita kunjungi, tetapi belum ada yang bisa kita tinggali. Suka atau tidak, untuk saat ini, Bumi adalah satu-satunya tempat kita hidup. Sering dikatakan bahwa astronomi adalah sebuah pengalaman yang menumbuhkan kerendahan hati dan membangun kepribadian. Mungkin tak ada yang bisa menunjukkan laknatnya kesombongan manusia secara lebih baik selain citran dunia kita yang mungil ini. Bagiku, gambar ini mempertegas tanggung jawab kita untuk bertindah lebih baik terhadap satu sama lain, dan menjaga serta merawat sang titik biru pucat, satu-satunya rumah yang kita kenal selama ini.
Carl Sagan.
Crystal's POV
Wow, ternyata membaca puisi lebih melelahkan daripada yang kupikirkan. Bahkan dengan saran Gold untuk memberikan sentuhan puitis di sana-sini.
Saat aku mengalihkan visualku dari buku ke orang-orang, aku terkaget.
Red dan Yellow terlihat sangat menghayati sampai mereka tak sadar mereka berpelukan. Dan saat mereka sadar, mereka saling menyingkir dan mulai memerah.
Green tersenyum, sementara Blue tertidur di pundaknya. Dasar Blue...
Gold, ...
"WAAAAAA...! CRYSTAAAAAALLLL!" Eh? Gold menangis? Dan memanggil namaku dengan lengkap? Wow...
Sementara aku menenangkan Gold, aku melihat Silver di samping Gold, dia berkata padaku...
"Crystal, sepertinya puisimu benar-benar masuk ke hatinya," katanya, lalu memberikan senyumannya. Lalu aku melihat Ruby, Sapphire, dan Emerald saling berpelukan, tak tahan untuk menangis juga.
Diamond dan Pearl kagum dengan puisinya, sampai Diamond lupa dengan donat-donatnya. Platinum terlihat menekan tombol berhenti.
"Eh, kau merekamnya?" tanyaku.
"Ya, aku ingin sesekali belajar berpuisi darimu, secara langsung maupun dari video ini. Kau luar biasa, Crystal," kata Platinum, membuatku terpana.
"Oh, terima kasih, Platinum..."
Ganti latar...
Yellow's POV
Di luar rumahnya Platinum, sebenarnya lebih seperti istana bagiku, aku dan Red-san memandang langit yang luas. Sambil membayangkan puisi Crystal itu tadi.
"Red-san..."
"Yellow..."
Eh, kami saling memanggil bersamaan? Awalnya kami hanya terdiam, namun akhirnya kami tertawa.
"Hahaha... ada apa, Yellow?" tanya Red-san di tengah tertawaannya.
"A—aku hanya berpikir... berpikir tentang puisi tadi..." kataku. Tiba-tiba, suasana menjadi sangat tenang. Hanya ada tiupan angin dalam cuaca malam yang cerah.
Red-san juga maju selangkah mendekatiku. Dan saat aku ingin berkata sesuatu, tiba-tiba...
Ya Tuhan Pemilik Titik Biru Pucat... kalau ini mimpi... jangan bangunkan aku...
Aku merasakan bibirnya Red-san menekan bibirku, dan semakin lama, semakin dalam. Rasa-rasanya aku ingin meleleh dalam ciumannya, dan akhirnya, aku juga memperdalam ciumanku.
Aku dan Red-san hanya berciuman terus di sana, terkadang dangkal, tapi sering dalam sampai kami berdua sering mengerangi nama kami. Itu, sampai kami kehabisan udara dan akhirnya sesi ciuman kami berakhir.
"Hah... hah... hah... Red-san... Aku mencintaimu..."
"Hah... hah... hah... Yellow-chan... Aku juga mencintaimu..."
Kami akhirnya saling berpelukan, ingin merasakan kehangatan masing-masing di tengah angin malam sejuk ini, di bawah bintang-bintang, di dalam Titik Biru Pucat.
... setiap pasangan muda yang jatuh cinta ...
49. Sepotong sapa, kejutan berjuta. Mengunci lidah, kelu berkata. Ada binar bahagia, malu-mau tapi nyata. PS: "Hati-hati ya..."
Yellow's POV
Aku hanya duduk saja di bawah pohon, seperti biasa, menggambar Red-san. Kabarnya dia sudah kembali dari Hoenn setelah menang dalam pertarungan yang menentukan nasib seluruh dunia.
Yang bisa kulakukan sekarang ini adalah menunggu sampai dia kemari. Aku tahu mungkin bukan hari ini, tapi daripada dia menyesal karena tidak bertemu aku di sini, lebih baik aku menunggu di sini.
Ya. Aku sudah selesai. Gambar Red-san dengan Pikachunya, bertemu dengan seorang perempuan dengan Pikachunya, mereka saling berpelukan. Kau tahu siapa perempuan itu?
Itu aku...
"Hai, Yellow! Gambarmu bagus!"
EEHHHHH! RE-RE-RE-RE-RED-S-S-S-S-SSAAANNN...
Indikasi: tidak dapat berbicara, tidak dapat bergerak, pipi memerah merona, ada perasaan malu tapi senang di dalamnya.
Kesimpulan: orang yang dicintai datang tiba-tiba
Dan siapa orang yang dicintai Yellow?
JELAS.
52. Menjadi orang yang kuinginkan, itu terlalu egois. Menjadi seorang yang kubutuhkan, itulah maknamu di sisiku.
Red's POV
Nah, sekarang aku sudah menjadi mahasiswa di Universitas Kanto. Dan kali ini adalah acara orientasi mahasiswa.
Malam itu, adalah malam surat cinta. Dimana kita harus membuat surat ini untuk seseorang yang kita sukai, baik teman maupun dari panitia acara.
Oke, waktunya untuk menulis.
"Kepada AdBV...
Aku tak tahu apa kau ada di sini atau tidak. Kalau kau ada di sini, aku harap surat ini bisa mengungkapkan perasaanku padamu. Aku mencintaimu. Aku membutuhkanmu dari awal sampai akhir. Tak akan kubiarkan kau kesusahan selama aku ada di sisimu. Aku akan selalu bersamamu sampai pada akhirnya kita berpisah sementara oleh kematian, dan dipersatukan kembali di surga.
Dari orang yang kaucintai, dan yang mencintaimu
R"
Selesai. Aku mengumpulkan surat itu dan akhirnya aku memilih tidur.
Sementara itu
POV-nya panitia acara...
"Eh, ada surat menarik nih..."
"Apaan?"
"Surat dari 'R', menurutmu siapa itu 'R'?"
"Hmmm... banyak yang inisialnya 'R', ini tujuannya ke 'AdBV'. Siapa lagi itu 'AdBV'?" terlihat salah satu orang membawa daftar mahasiswa baru yang ikut acara ini.
"Hmmm... sepertinya ada yang cocok, coba lihat ini," orang itu menunjukkan sebuah nama. Seluruh panitia langsung kaget melihat nama itu.
"Lho, ini kan temannya si juara Kanto itu. Wah, jadi berita betulan kalau sampai kita membacakan ini besok,"
"Betul sekali. Sepertinya kita sudah tahu siapa 'R' dan 'AdBV' ini, dan siapa yang akan maju besok,"
Hehehehehehehe... semua panitia mengeluarkan tertawa jahat ala Blue.
Keesokan harinya...
"Baiklah, kami sudah membaca surat-surat kalian tadi malam," kata salah satu pembawa acara.
"Ada yang biasa-biasa saja, ada yang luar biasa tapi aneh-aneh, ada yang saking luar biasanya sampai kami memutuskan untuk membuat yang membuat surat ini untuk maju ke depan sini," kata pembawa acara yang lain.
Yellow's POV
'Ya Tuhan mudah-mudahan bukan punyaku...' aku menulis surat juga. Aku tak tahu apakah teman-temanku yang lain ada di sini, terutama...
Semoga saja suratku tak terbaca.
"Kepada R...
Aku tak tahu apa kau ada di sini atau tidak. Kalau kau ada di sini, aku harap surat ini bisa mengungkapkan perasaanku padamu. Aku mencintaimu. Aku membutuhkanmu dari awal sampai akhir. Tak akan kubiarkan kau kesusahan selama aku ada di sisimu. Aku akan selalu bersamamu sampai pada akhirnya kita berpisah sementara oleh kematian, dan dipersatukan kembali di surga.
Dari orang yang kaucintai, dan yang mencintaimu
AdBV"
Tiba-tiba aku mendengarkan suara yang tiba-tiba muncul.
"Hei, ada 2 surat yang isinya sama persis! Hanya saja penerima surat di surat yang satu adalah pembuat surat di surat yang lain!"
"Maksudnya seperti pikiran mereka saking terkoneksi sampai bisa seperti itu?"
"Ya. Bagaimana ini?"
"Tenang saja. Aku punya ide," lalu, si pembawa acara berbicara lagi.
"Wah, sepertinya ada keajaiban di sini. Saya memegang 2 surat, isinya sama persis, hanya berbalik pembuat dan penerima suratnya saja. SISANYA SAMA PERSIS! Saya akan membacakannya sampai selesai, dan siapapun yang mengaku menulis ini, harap maju ke sini,"
'Ya Tuhan , semoga itu bukan suratku!' pintaku, aku sudah sangat gugup. Lalu si pembawa acara mulai bicara.
"Aku tak tahu apa kau ada di sini atau tidak. Kalau kau ada di sini, aku harap surat ini bisa mengungkapkan perasaanku padamu. Aku mencintaimu. Aku membutuhkanmu dari awal sampai akhir. Tak akan kubiarkan kau kesusahan selama aku ada di sisimu. Aku akan selalu bersamamu sampai pada akhirnya kita berpisah sementara oleh kematian, dan dipersatukan kembali di surga."
Mati aku...
POV-nya pembawa acara.
"Ya, siapa yang mengaku menuliskan surat ini? Aku menunggu..." kataku. Sesaat aku melihat kerumunan orang itu saling memandang, mencari siapa orang yang membuat surat itu. Sampai akhirnya, aku melihat ada 2 orang yang mendekat ke tempatku.
'Waduh, betul ternyata perkiraanku. Itu pasti si juara Kanto sama temannya itu,' pikirku. Lalu saat akhirnya mereka terlepas dari kerumunan dan saling melihat satu sama lain...
"R-R-RED-SAN!"
"Y-YELLOW!" Dan tiba-tiba gadis itu malah pingsan. Langsung saja si laki-laki itu menangkap perempuan itu dan langsung membopongnya.
"UKS! MANA UKS-NYA?" teriaknya, akupun akhirnya menjawab.
"UKS-nya di dekat sumur di timur sana," lalu aku melihat si laki-laki itu membopong si gadis itu ke UKS. Oh, ya, UKS di sini artinya Unit Kesehatan Sementara.
Red's POV
Oke, aku kaget, ternyata Yellow juga menjadi mahasiswi di Universitas yang sama denganku, bahkan juga ada di acara orientasi ini. Tapi itu tak penting lagi. Aku harus membawanya ke Unit Kesehatan. Aku tak ingin membiarkannya pingsan terus. Dia harus sadar.
Karena dia membutuhkanku...
Karena aku membutuhkannya...
53. Saat terang susah didekap, aku Cuma butuh kamu. Saat dingin menyergap, tarik selimut saja, dan tahu-tahu kau sudah bersamaku, menghangatkanku.
Yellow's POV
Dingin...
Badanku yang kecil tak mampu mempertahankan panas tubuhku. Akupun jadi tak bisa tidur dengan nyenyak. Namun tiba-tiba, badanku menghangat seketika.
Itu karena tiba-tiba Red-san mendekapku dan memberikan panasnya padaku. Itu membuat aku bisa tidur lebih nyenyak dan hangat.
"Terima kasih, Red-san..."
57. Semua yang telah kita jalani bukan buang-buang waktu apalagi sia-sia. Setiap detiknya berharga dan bermakna. Melekang indah pada sejarah semsta.
Alien's POV, bahasa telah diterjemahkan
Kami menaiki pesawat Kliouan-938592 menuju sebuah planet yang di mata kami cukup indah. Dan menurut data kami, planet itu bernama Bumi.
Kami mendaratkan roket itu di suatu tempat di mana banyak benda putih di atasnya, da rasanya dingin.
"Komputer, tempat apa yang memuliki benda putih dingin di atasnya dan menjulang tinggi?"
"Gunung,"
Lalu kami menunggu di sana. Lalu ada salah satu orang kami yang melihat hal aneh.
"Pak, saya melihat kumpulan makhluk hidup berkumpul di satu tempat di sana," lalu dia megatur posisinya di monitor, dan saat terlihat jelas, sepertinya mereka para makhluk hidup ini memasang satu tipe wajah yang sama.
"Ayo kita datangi," lalu dengan pesawat kami, kami meluncur ke sana.
Saat kami sampai di daerah berwarna hijau dan coklat dan suasananya segar, kami turun dari pesawat kami, dan dengan alat transparan kami yang membuat kami tak terlihat, kami masuk ke tempat itu.
Saat kami sampai, kami melihat semua makhluk hidup ini, dan langsung menaruh alat scanning kami. setelah prosesnya selesai, kami mendapatkan semua datanya, dan memutuskan untuk kembali.
Saat kami membuka data dari scanning kami, kalimat pertama yang muncul di sana adalah...
Pernikahan Red dan Yellow
Kami akan membawanya ke pusat budaya semesta dan menyimpannya sebagai bahan bersejarah dari planet yang bernama Bumi.
60. Berakit-rakit ke ulu, berenang ke hati bersama-sama, kemudian.
Red's POV
Hari itu adalah saat yang buruk sekali. Ada hujan badai menerpa Kanto. Aku dan Yellow tak menyangka. Saat itu kami baru selesai belajar di sekolah, dan selangkah setelah keluar dari gerbang sekolah, hujan dengan angin kencang mulai turun. Sekarang, kami berlari ke rumahku.
"Yellow! Bagaimana kalau kita pergi ke rumahku? Badainya bisa lebih buruk!"
"Ya, Red-san!"
Kami terus berlari dengan saling berpegangan tangan, agar tidak kehilangan yang lain. Setelah berkutat dengan badai besar itu, akhirnya aku dan Yellow sampai ke rumahku. Aku langsung membukakan pintu, membawa kami masuk dan menutup pintunya lagi.
Pada awalnya, suasananya tenang, lalu kemudian, kami tertawa.
"Haahaha... ya ampun, anginnya cepat sekali," kata Yellow.
"Aku setuju. Bagaimana kalau kau pergi ke kamarnya ibuku? Ibuku sedang pergi, akan kukabari ibuku,. Aku juga akan mengabari pak Wilton juga," kataku. Yellow hanya mengangguk.
Beberapa saat kemudian, aku sudah membuatkan teh hangat dan menaruhnya di depan kamar utama, dan Yellow sudah selesai berganti pakaian.
Bahkan dengan pakaiannya ibuku, Yellow masih asli Yellow...
"Hai, Red-san..."
"Hai, sudah kubuatkan teh hangat dan ada biskuit di sini. Bagaimana kalau kita makan bersama?" tanyaku. Aku bisa melihat pipinya memerah, lalu...
"Ya,"
Akhirnya, acara hari itu adalah minum teh, makan biskuit, dan akhirnya tertidur bersama.
Cuaca seburuk apapun, kalau aku bersama Yellow, rasanya seperti cuacanya cerah sepanjang masa.
63. Untuk urusan hati kok coba-coba. Hati-hati, itu sangat berbahaya!
Satu hal yang mirip dengan ini adalah apa yang pernah dikatakan seorang alien di sebuah film fiksi ilmiah yang saat itu Red dan Yellow tonton.
"Do, or do not. There is no try,"
Dan entah kenapa bagian itu masuk ke otaknya Yellow sebagai hal lain.
Aku harus mengungkapkan perasaanku pada Red-san. Aku tak akan coba-coba tentang ini sekarang.
64. Aku percaya cinta itu menuntun. Tapi kubutuh tanganmu untuk sampai ke tujuan.
Yellow's POV
"... jadi dalam sebuah proses reproduksi, harus ada 2 induvidu dengan beda jenis kelamin untuk menyelesai proses ini..."
Pelajaran biologi. Salah satu pelajaran favoritku. Tapi entah kenapa aku sekarang ini sedang tidak terlalu memikirkannya. Yang aku pikirkan justru...
Aku menggambar diriku dan Red-san, tepatnya, anatomiku dan Red-san. lalu... berikutnya, aku menggambar aku dan Red-san yang menikah, dan gambar aku dan Red-san bersama 2 anak kami. Di antara keduanya...
AKU MASIH TAK KUAT MEMBAYANGKANNYA!
Blue's POV
Aku melihat Yellow berkeringat banyak. Dan kalau pikiranku tak salah, pasti, pasti...
Dia pasti memikirkan dirinya dan Red...
Tee-hee
70. Kadang, cinta itu tak perlu bicara. Dalam diam pun cinta tetap bisa berkata-kata.
Red's POV
Ya, waktunya bersantai. Aku sudah berlatih, dan aku lelah. Aku kembali ke pohon tempatku istirahat dimana di sana juga ada Yellow, selesai menggambar.
Kami hanya duduk di sana, saling memandang. Saling mengagumi indahnya orang yang ada di depan kami. Lalu kami saling bersandar pada kening kami. Sambil mengeratkan genggaman tanganku, aku mambayangkan semua hal indah dengan Yellow, dan aku yakin Yellow juga membayangkan hal yang sama.
Lalu aku putuskan untuk memberikannya satu kecupan manis di bibirnya, membuatnya sedikit kaget dan membuat pipinya merah merona, satu hal yang membuatku sangat menyukainya; dia sangat manis.
Lalu aku peluk dia dengan lembut, ingin menyinkronisasikan suara jantung kami. Aku rasa jantung berdebar lebih cepat dan aki bisa merasakan detak jantungnya Yellow juga semakin cepat.
Akhirnya, kami memilih untuk larut dalam pelukan itu, sampai tanpa sadar, kami tertidur, dan masih dalam keadaan pelukan itu, tanpa peduli apa yang terjadi.
Ganti latar, 1000 tahun kemudian...
Sekelompok arkeolog menemukan sesuatu yang mengejutkan di suatu tempat yang dulunya adalah Hutan Viridian, namun sekarang bernama Padang Rumput Viridian.
1000 tahun yang lalu, ada sebuah meteor yang jatuh di daerah Gunung Silver, membuatnya aktif dan meletus. Awan panasnya meluncur sampai ke Hutan Viridian, dan kecepatannya yang tinggi membuat apapun yang ada di sana tak dapat melarikan diri, termasuk...
"Seperti apa fosil yang kelompok Anda temukan?" tanya seorang reporter.
"Kami menemukan 2 fosil Pikachu dan 2 manusia dalam keadaan membatu. Dan saat kami menemukannya, ada seekor Jirachi hidup di sekitar. Sepertinya dia tahu siapa orang-orang ini,"
"Apakah anda telah membuat harapan kepada Jirachi untuk menghidupkan mereka kembali?"
"Itulah yang akan kami lakukan sekarang," lalu sang ketua arkeolog ini membuat harapan pada Jirachi.
'Aku berharap fosil-fosil ini dapat dihidupkan kembali,' dan keajaiban muncul.
Bentuk batu mereka berangsur-angsur kembali menjadi bentuk organik khas makhluk hidup. Termasuk pakaian, Pokeball, bahkan buku gambar itu, semuanya kembali seperti semula.
Yellow's POV
Aku terbangun. Melihat Red-san yang tersenyum di pelukanku. Aku ingat, dia memelukku setelah dia menciumku. Aku kemudian membangunkannya.
"Red-san, Red-san, bangun," kataku. Lalu, dia membuka matanya, dan langsung memasang mata kaget.
"Ada apa?" tanyaku.
"Siapa mereka?" aku menoleh, dan ikut kaget.
Beberapa saat kemudian, orang-orang itu menceritaka bahwa mereka adalah arkeolog yang menemukan kami dalam keadaan membatu selama 1000 tahun. Aku dan Red-san langsung kaget dan tidak percaya.
"Tunggu, benarkah kita membatu selama 1000 tahun?" tanya Red-san.
"Benar. Mungkin saat kalian tertidur pulas. Ada meteor yang jatuh di Gunung Silver dan membuatnya meletus. Kalian tak sempat kabur dari awan panasnya dan langsung membatu. Untung kami menemukan Jirachi dan berharap kalian hidup kembali," kata si ketua arkeolog.
"Wah... kita sudah 2 kali membatu, dulunya hanya beberapa bulan, dan sekarang 1000 tahun, dan kita dihidupkan kembali dan ..." entah kenapa pipiku memerah lagi. Ini pasti karena...
"Ya, kita masih bersama, Yellow. Dan selama itu juga aku... aku mencintaimu, Yellow..." kata Red-san. Apa?
Red-san mencintaiku? Ini masih mimpikah?
"Yellow, ini bukan mimpi," katanya. Lalu dia memelukku lagi.
Archaeologist's POV
Sepertinya waktunya aku untuk pergi. Aku tak ingin menganggu privasi mereka. Tapi ada satu hal yang kucatat dalam bukuku.
Membatu 1000 tahun, dan mereka masih saling mencintai.
71. Dear you, hiduplah dalam cinta, jika ingin berbahagia.
Red's POV
Misiku hari ini: Membuat Yellow Bahagia.
Rentang waktu misi: Sekarang sampai ke surga.
Contoh:
Hari ini, ulang tahunnya Yellow, jadi aku memutuskan untuk menghentikan SEMUA kegiatan latihanku, dan berfokus pada satu hal.
Misiku untuk membahagiakan Yellow. Bagaimana caranya?
1. Membangunkannya dengan lembut.
2. Membuatkannya sarapan.
3. Menemaninya saat dia bosan.
4. Bersedia digambar secara anatomis oleh Yellow.
5. Melakukan apa yang Yellow inginkan, termasuk hal bodoh dan tak masuk akal, selama masih manusiawi.
6. Memberikan french kiss padanya sebelum tidur.
7...
"Hai, Red-san, kau sedang menulis apa?" eh? Yellow datang, dan aku tak sempat menyembunyikan kertas yang tertuliskan rencana itu, jadi Yellow bisa membacanya. Dan aku hanya bisa berkata...
"Umm... itu rencanaku untuk ulang tahunmu..." kataku, masih menahan malu. Lalu aku mendengar Yellow terkekeh sambil berkata...
"Oh, Red-san, kau tak perlu melakukan itu, dengan kau mencintaiku saja... itu sudah lebih dari cukup... walaupun..." sekarang gilirannya yang memerah.
"Walaupun apa?" tanyaku, heran.
"Red-san bisa memberikan french kiss itu..." dan aku langsung berdiri dan memberikan yang dia inginkan.
Yellow's POV
Red-san... yang kumaksud nanti malam, bukan sekaraaaaanng...
Dan aku tenggelam dalam ciumannya yang dalam lagi hangat. Aku tak dapat melakukan apa-apa...
Red-san, kau menang...!
78. Melihat ke bawah dan bersyukur atas semua yang ada. Melihatmu? Cukup tersipu dan bahagia yang ada.
Yellow's POV
Aku bersyukur, aku bersyukur karena telah diberikan teman-teman yang baik dan mampu mengisi hariku dengan warna kebaikan dan keindahan.
Blue, tempatku curhat saat aku sedih dengan tingkah Red-san yang dulunya dense.
Green, yang telah melatihku saat aku ingin menyelamatkan Red-san.
Gold, yang bersahabat akrab dengan Red-san, walaupun tingkahnya seperti anak nakal.
Crystal, yang aku kenal sebagai anak cerdas dan sama-sama punya cara unik dalam menangkap Pokemon.
Silver, sesama penghuni Hutan Viridian yang membantuku dalam pertarungan sebelum kami membatu.
Ruby, yang membuatkanku pakaian indah ini.
Sapphire, yang memberikanku nasihat saat aku punya masalah dengan Red-san.
Emerald, dengan teknologinya yang berguna saat ini.
Dan teman-teman dexholder yang belum pernah kutemui, yang membuatku tahu bahwa dunia itu luas.
Dan yang paling utama, Red-san.
Red-san is everything...
Dari saat dia menyelamatkanku dari Dratini sampai sekarang, dia telah menunjukkanku warna-warni dunia; hitam, putih, biru, hijau, kuning, merah, dan sebagainya. Dia yang rela membopongku saat kami membatu, dia yang terus berusaha menjaga dan menyelamatkanku...
Dan dia yang mulai hari ini akan mendampingi hidupku sampai kami sampai ke surga.
Aku sekarang berada di dalam mobil, bersama Red-san, saling menggenggam, dan saling menyandar. Acara tadi sangat melelahkan, aku langsung tertidur di bahunya. Dan aku tak peduli lagi karena mulai saat ini, aku boleh melakukan ini kapanpun aku mau, selama ada Red-san.
Dan menikmati hidup baru yang indah bersama Red-san.
PS: mobilnya ada tulisannya di belakang, tulisannya "Just married".
79. Tak pernah kata terlambat untuk cinta. Jika jatuh cinta, katakanlah! Biar tak ada sesal yang menguntit di belakang hari.
Pada zaman dahulu, di galaksi yang jauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuhhhhhh sekali...
Red's POV
Aku, Yellow, dan Gold ada di planet gas Tibia. Sebenarnya, aku, Yellow, dan 2 Pikachu kami yang datang ke sini karena pesawat ruang angkasa kami rusak.
Kami sebenarnya tidak berharap akan bertemu dengan siapapun dari Kekaisaran Rocket, namun nasib berkata lain.
Aku dan Yellow menjadi tahanan, dan lebih buruknya lagi, adalah apa yang akan terjadi kali ini. Aku, Yellow, Pika, dan Chuchu digiring ke tempat yang asing dan terlihat futuristik, namun mengerikan.
"Pikaa..?" tanya Pika.
"Pichu pi..." kata Chuchu, aku tak mengerti apa kata mereka. Saat akhirnya kami berhenti, ada Gold di sana, dan di sisi lain, ada pemimpin Kekaisaran Rocket, Darth Giovanni. Aku langsung bertanya pada Gold tentang apa yang terjadi.
"Ada apa, ... kawan?" tanyaku.
"Kau akan mengalami pembekuan karbon," lalu aku melihat salah satu anak buah Giovanni yang berhasil menguntitku bertanya padanya.
"Bagaimana kalau dia tak selamat? Dia sangat berarti bagiku," katanya.
"Kekaisaran akan memberikan kompensasi padamu kalau dia mati. MASUKKAN DIA!" anak buahnya yang lain mulai mendekat padaku, dan kedua Pikachu kami langsung dalam posisi menyerang. Listrik muncul dari pipi merahnya, mereka melompat turun dan siap menyerang.
"Pika, Chuchu, berhenti! Kalian bisa membunuh kita semua!" seruku. Mereka masih dalam posisi menyerang.
"Pika! Chuchu! Itu tak akan membantu! Simpan tenaga kalian. Akan ada waktu lain..." lalu aku melihat Yellow, yang terlihat sedih dan takut di waktu yang sama.
"Yellow... kalian harus jaga dia," lalu Yellow mendekat ke kedua Pikachu-nya. Mereka sepertinya mulai mendengarkanku.
"Kalian mengerti?" Pikachu kami hanya bisa mengangguk kesal. Satu masalah selesai. Dan aku melihat Yellow, dan kami berjarak kurang dari satu kaki. Langsung saja aku menciumnya.
Sebenarnya, aku bisa memperpanjang ciuman hangat di saat genting itu, jika saja anak buahnya Darth Giovanni tak menarik paksa aku dari Yellow.
Aku ditarik di tempat dimana aku akan dibekukan. Dan saat itulah perasaan kami menyatu.
"Red-san, aku mencintaimu," kata Yellow.
"Aku tahu..." kataku.
Langsung saja setelah aku selesai mengungkapkan perasaanku, lantai tempatku berpijak menurun. Aku bisa mendengar suara Pika dan Chuchu yang rasa-rasanya tak ingin berpisah denganku. Sementara Yellow, dia memeluk erat 2 Pikachu kami, tak mampu melakukan apa-apa selain meilhat saat-saat aku akan dibekukan.
Dan beberapa saat kemudian...
Aku dibekukan...
Yellow's POV
'RED-SAAAAAAAAANNN...!' jeritku dalam hati, namun aku tak dapat berbuat apa-apa untuk menyelamatkan Red-san.
Aku melihat tangan penjepit mulai diturunkan untuk mengambil Red-san. Dan saat dia terangkat...
'Aku tak bisa melihat ini, tapi aku juga tak bisa berbuat apa-apa...' aku melihat wajah Red-san yang membeku. Dan sebagian besar tubuhnya terbungkus karbon beku.
Lalu aku melihat anak buahnya melihat es karbon itu. Dan dengan sedikit dorongan, es karbon dengan Red-san di dalamnya langsung jatuh seperti pohon yang tumbang.
Untung saja es karbon itu kuat. Coba itu es biasa, Red-san sudah pecah dan tercerai berai. Namun melihatnya seperti itu saja membuatku syok. Aku sampai ingin menangis, namun aku tak bisa.
Aku melihat Gold mendekati es karbon itu. Sepertinya dia ingin memastikan Red-san masih hidup atau tidak.
Apa aku siap untuk kemungkinan terburuk?
"Bagaimana, Gold? Apa dia selamat?" tanya Darth Giovanni.
"Ya, dia masih hidup, dan dalam hibernasi sempurna," kata Gold.
"Oke, dia milikmu, pemburu bayaran," kata Giovanni pada anak buahnya itu. Lalu dia membuat perintah untuk yang lain.
"Persiapkan ruangan ini untuk Silver," lalu anak buahnya datang membawa laporan.
"Tuan, Silver sudah ada di sini,"
"Bagus. Biarkan dia mencari jalannya kemari,"
Aku melihat Gold mendekatiku dan berusaha memegang lenganku, namun dalam hatiku aku berkata
'Apa-apaan kau, Gold? Mengorbankan temanmu sendiri untuk bisnismu,' lalu aku dengar Darth Giovanni memaanggil Gold.
"Gold, bawa Putri Yellow dan Pikachunya ke kapalku,"
"Lha, kukira mereka tinggal di bawah pengawasanku," kata Gold, agak bingung, begitu juga aku.
"Aku mengubah perjanjiannya. Berdoalah aku tak mengubahnya lebih jauh," lalu aku melihatnya menjauh, dan melihat Gold memegang lehernya, terlihat takut dengan kata-kata terakhir Darth Giovanni. Dan hal terakhir yang kulihat adalah Red-san yang dibekukan.
Red-san... semoga aku dapat menyelamatkanmu...
80. Dari padi, kita belajar rendah hati. Dari kamu, aku belajar mencintai.
Peribahasanya seperti ini.
Seperti ilmu padi, semakin berisi, semakin merunduk. Artinya, semakin berilmu seseorang, dia akan semakin rendah hati dan menghormati orang lain.
Yang kedua, agak aneh.
Seperti ilmu Yellow, semakin didekati, semakin merunduk. Namun masalahnya, hanya satu obyek yang bisa membuat Yellow merunduk seperti padi.
Red.
Ditambah, ini bukan peribahasa. Ini kenyataan. Jika Red mendekati Yellow, dia akan semakin merunduk karena tersipu malu.
Yang sayangnya adalah hal yang disukai Red, yang membuatnya semakin dekat dengan Yellow.
83. Cinta mencakup segala ruang. Dalam terang, ia cemerlang. Dalam gelap, ia merupa cahaya. Dalam diam, ia berkata-kata.
Itulah yang terjadi.
Kencan Red dan Yellow berjalan dengan indah dan mengena bagi keduanya.
Pagi sampai siang, mereka tampak bergembira dan berseri, terutama setelah mereka selesai jogging. Mereka saling bersandar di kursi taman dan beristirahat bersama.
Siang sampai sore, Red dan Yellow memilih untuk pergi ke mall untuk melihat-lihat barang-barang yang dijual di sana. Walaupun pada akhirnya yang mereka beli hanya es krim Turki seharga 2 dolar Amerika.
Malamnya, mereka hanya berdiam diri, berbaring di hutan sambil memandang bintang-bintang. Tangan mereka saling menggengam, dan terkadang mereka saling pandang dengan wajah tersenyum.
Sekian. Begitulah kencan mereka hari itu. Penuh keceriaan pada siang hari, dan penuh kehangatan pada malamnya.
85. Aku tak ingin sendirian, dan terlupakan. Kuyakin, kamu juga. Mari saling mencintai, maka menyatulah kita.
Yellow's POV
Red-san pergi, dan aku sendiri. Blue pergi dengan Red-san, dan aku sendiri. Green pergi sendiri, dan aku sendiri.
Aku bosan sendiri...
Dalam pikiranku...
"Ayo kita pergi sama-sama, Red-san..." kataku. Red-san mengangguk dan kami pergi bersama.
Kembali ke kenyataan.
Ya Tuhan, semoga pertarungannya berakhir dan Red-san kembali padaku membawa berita kemenangan. Jika saja kekalahan, semoga saja aku bisa membahagiakannya lagi dan bisa bersama-sama meraih kemenangan kami. Amin.
92. Apalagi yang bisa kurangkum selain doa. Selebihnya adalah rindu yang mengembun di nadimu,
Yellow's POV
"Ya Tuhan, sesungguhnya aku aku hanya hamba-Mu yang kecil dan tak berdaya jika dibandingkan dengan kekuasaan-Mu. Karena itulah, kali ini aku berdoa pada-Mu,"
"Ya Tuhan, sesungguhnya aku mecintai seorang laki-laki. Namanya Red, tapi sering panggil Red-san karena aku sangat menghormatinya. Aku sangat mencintainya sampai aku pernah mengorbankan nyawaku untuk menyelamatkannya, setelah dia menyelamatkanku,"
"Ya Tuhan, namun aku sedih, karena dia sampai sekarang belum bisa menyadari perasaanku padanya. Dia tak tahu kalau aku mencintainya,"
"Ya Tuhan, inilah permohonanku. Buatlah Red-san menyadari perasaanku padanya. Buatlah kami bersatu dalam cinta yang Kau kehendaki,"
Ya Tuhan, satukanlah aku dan Red-san.
Amin...
93. Selamat pagi semesta, selamat malam cinta. Harapan selalu melihat dan berjalan ke depan untuk menjadi lebih baik.
Red's POV
Hari baru, semangat baru! Dan aku siap untuk semakin dekat menuju tujuan dan janjiku!
Menempati janjiku pada Yellow untuk menjadi Gym Leader!
Yellow's POV
Hari baru, harapan baru... Dan aku siap untuk semakin dekat menuju tujuan dan cita-citaku...
Mendapatkan hati Red-san...
Neutral POV
Kesimpulannya, mereka memiliki pandangan bahwa masa depan mereka akan lebih baik daripada hari ini. Dan jika benar, Red dan Yellow akan bersatu dan hidup bersama seperti yang pernah dikatakan Red pada suatu saat...
"Untuk menyelesaikan masalah ini, kenapa kita tidak hidup bersama saja?"
94. Tuhan tidak pernah berhenti mencintai kita. Kalau kamu? Semoga tidak berbeda.
Yellow's POV
Aku senang sekali, setiap hari semenjak pernikahan kami, Red-san selalu mengatakan hal yang sama padaku, dan katanya itu membuatku ingin selalu bersamanya. Kata apa itu?
Hari pertama, saat malam pertama.
"I love you, my honey blon—" lalu dia berteriak, begiti juga aku.
Hari ketujuh, saat sama-sama melihat hasil tes kehamilan.
"Selamat, Yellow. I love you, my honey blonde..."
Hari ke-30, sebulan setelah pernikahan kami.
"Yellow, kau tahu kenapa aku membuat sup spesial kali ini?" tanya Red-san. Aku hanya bisa menggeleng. Aku melihatnya dan berkata...
" That because, I love you, my honey blonde..." aku hanya bisa tersenyum mendengar jawaban itu.
Hari ke-100, saat Red-san menang pertarungan Pokemon lagi.
"Kau berhasil, Red-san!" seruku dari tribun penonton. Aku melihat Red-san tersenyum dan memberikan ciuman jarak jauh padaku, lalu berteriak...
"I LOVE YOU, MY HONEY BLONDE!"
Hari ke-280, saat yang paling menyakitkan dalam hidupku, saat kelahiran anakku dan Red-san.
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRGGGGHHHHH!"
"Terus, Yellow! Satu dorongan lagi, dan kau bebas!" kata bidan. Aku hanya bisa terengah-engah karena kelelahan. Aku sudah hampir menyerah. Aku hanya bisa menangis sambil membayangkan bagaimana kalau Red-san dan anak kami ini harus hidup tanpa a—
"YELLOW! KAU HARUS TETAP BERTAHAN! HANYA SATU DORONGAN LAGI DAN KAU BERHASIL! I LOVE YOU, MY HONEY BLONDE –"
Entah kenapa, saat Red-san mengatakan itu, energiku meningkat lagi, dan sepertinya energiku ini cukup untuk mengeluarkan manusia kecil kami ini.
Satu tarikan napas, dan...
"RED-SAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAANNNNNNNN...!"
"YELOOOOOOOOOOOOOOOOWWWWWWWW...!"
...
...
...
Terima kasih, Red-san...
OEEEEEKKKK!
"Selamat! Anak perempuan yang sehat!"
Hari ke-645, ulang tahunnya anak perempuan kami...
"SELAMAT ULANG TAHUN, FLAVUS!" seru Red-san. Flavus hanya bisa tersenyum dan berlari ke ayahnya.
"Hahaha... senyumannya itu loh, seperti ibunya..." goda Red-san, sebenarnya menggodaku juga.
"Hehe, dan larinya yang semangat itu loh, seperti ayahnya..." balasku. Lalu Red-san menoleh ke arahku dengan wajah serius.
"Red-san?" tanyaku.
"Yellow..." lalu tiba-tiba dia memasang wajah santai lagi sambil berkata...
"I love you, my honey blonde..." sambil tersenyum. Aku yang bingung langsung mencubit pipi Red-san dengan manja, merasa tertipu dengan Red-san, dengan cara yang menyenangkan. Lalu kami tertawa bersama. Lalu kami melihat Flavus kecil kami, lalu ...
"We love you too, our yellow sun,"
Hari ke-1526, setelah kelahiran anak kedua kami...
"Ibu, ibu, dia siapa?" tanya Flavus, melihat manusia kecil yang dipeluk ibunya.
"Ini adikmu, my yellow sun,..." lalu pintunya terbuka, dan muncullah suamiku, baru pulang dari belanja makanan kecil bagi kami dan kembali ke kamar rumah sakit tempat kami berada.
"Wah, Yellow, Flavus, kalian tak akan percaya," katanya. Aku melihat Flavus berlari ke ayahnya.
"Ada apa, yah?" tanyanya. Dia tersenyum.
"Aku tadi melihat bulannya merah,"
"AYO LIHAT, YAH! AYO LIHAT, YAH!" seru Flavus.
"Dan meninggalkan ibu dan adikmu sendiri? Tidak, tidak, aku sudah memfotonya. Tadi aku bertemu orang yang membawa teleskop lalu membantuku memotret," kata Red-san sambil mereka berdua mendekatiku.
"Oh, ya. Tadi aku juga cerita tentang kelahiranmu. Dia bilang kalau nama yang cocok baginya itu 'Rubeus'. Bagaimana menurutmu, my honey blonde?" tanyanya padaku. Aku berpikir sejenak, lalu...
"Bagus juga. Itu artinya merah kan?" Red-san mengangguk.
"Dan karena tepat dengan gerhana bulan, jadi dia akan dijuluki..."
"Our red moon..." kata kami berdua. Lalu Red-san memberikan mata dan kalimat cintanya lagi.
"I love you all, my honey blonde, my yellow sun, and my red moon..." sambil mengelus Rubeus.
"We love you too, our crimson hero,"
Hari ke-2100, hari pertama Flavus masuk sekolah. Dia merengek karena tak mau berpisah denganku.
"TAK MAU! AKU TAK MAU DITINGGAL IBU!"
"Hehehe... my yellow sun, katanya mau seperti ibu, tahu Pokemon-Pokemon, jadi my yellow sun harus..."
"Be-belajar..."
"Nah, sebagian belajar dengan ibu, sebagian lagi dengan bu Blue. Tenang saja, dia temanku kok. Ingat, teman ibu berarti..."
"TEMANKU JUGA!" serunya. Sepertinya dia mulai paham. Akhirnya dia bisa lepas dariku dan ikut belajar bersama teman-temannya. Lalu tiba-tiba aku mendapatkan SMS.
"Red-san?" lalu aku melihat isinya.
"Yellow, kau berhasil mengajak anak kita sekolah?" lalu kubalas.
"Sudah," lalu beberapa saat kemudian, muncul balasan. Balasan yang membuatku meleleh.
"Good job, Yellow. I love you, my honey blonde..."
Dan berlama-lama kemudian, saat akhirnya masing-masing anak kami bersekolah, bertarung, berpetualang, sambil akhirnya menikah, hanya tinggal kami berdua lagi. Dan tetap saja...
Hari ke-20000.
"Hei, Yellow..." kata Red-san, dengan suara tuanya.
"Ada apa, Red-san?" tanyaku.
"Kau ingat berapa kali aku mengucapkan 'I love you, mu honey blonde'?" tanyanya.
"Lha, sepertinya sudah setiap hari kau berkata itu. Aku jelas tak ingat sudah berapa kali Red-san mengatakan itu..." lalu dia mengambil napas panjangnya.
"Ya, walaupun sekarang rambutmu memutih, kau tetap sama my honey blonde. Aku tak tahu mengapa," kata Red-san. Lalu langsung saja aku memeluknya dengan lembut.
"Aku tak peduli. I love you, my crimson hero..."
"I love you too, my honey blonde,"
Tetap cinta...
Ada pertanyaan?
Berlanjut...
Bagian 12 selesai! Dan inilah bagian terbesar dari fanficku. Bayangkan saja kalau kisah pengalaman pribadi, Star Wars, Pale Blue Dot, OC, sampai POV dari tokoh tak terduga muncul di sini.
nb. Rubeus adalah bahasa Latin untuk Red dan Flavus adalah bahasa Latin dari Yellow.
Sekian untuk sekarang ini. Maaf kalau banyak typo di sana-sini.
Kripik jarannya masih ditunggu...
RWD, keluar...
CAUTION! Bagian 13 tak akan membicarakan SpecialShipping, tapi sebuah pairing yang menjadi satu-satunya canon dari pairing Dexholder.
Kode: RxS
