Bagian 13: Dear You, Namamu adalah Pernikahan Huruf yang Ingin Kutahbiskan di Awal Bulan Juli

For The Charmer and The Conqueror...

Edisi Khusus FranticShipping

1. Dear You, Rindu, Cepatlah Berkemas

Kamu memang tak bernama Juli. Tapi di dalam Juli ada namamu yang tinggal di baris pertama. Permisi. Boleh menengok isi hatimu sekali lagi? Kuingin memastikan, aku masih menjadi nomor satu di luka penantianmu. Dan, teruslah membumbung tinggi dengan harapan yang mengelopak bunga hingga getar keakuan itu mencium langit cintamu. Aku menunggu.

"Cepatlah berkemas dari kecemasanmu. Aku keburu lemas menunggu senyumanmu,"

Sapphire's POV

"Lama sekali sih dia. Kita sudah menunggu 2 jam, dan sebentar kapalnya berangkat. Bagaimana, Rald? Sudah ada tanda-tanda bocah itu belum?" tanyaku.

"Belum. Aku sudah kirim pesan ke dia tapi belum dijawab-jawab," kata Emerald.

Ya, kali ini adalah 1 Juli, dan kami memutuskan untuk pergi ke Kanto untuk 3 hal.

Aku, untuk berlatih dengan Senior Red.

Emerald, untuk membahas Pokedex bersama Senior Green dan Crystal.

Bocah itu... ahh... bocah itu... si prissy itu, mungkin hanya ingin minta saran mendandani Pokemonnya agar cantik dengan Senior Blue dan Yellow.

Plus...

Aku ingin membuat kejutan baginya. Kalian lihat saja besok...

Keesokan harinya, 2 Juli, ya, 2 Juli. Hari spesial baginya. Ini ulang tahunnya, dan untungnya kami sudah sampai ke Kanto. Kami berada di rumahnya Senior Red, dan semuanya sudah siap kecuali dia. Seperti biasa, dia ingin memastikan badannya bersih tanpa cela.

Dan akhirnya, waktunya kejutan.

Aku berada di kamar dimana dia beristirahat. Aku memakai pakaian yang biasanya kubenci. Gaun sederhana, mirip dengan milik Yellow, namun dengan warna biru, langsung dibeli oleh Blue.

Hanya penampilanku yang berbeda. Sifatku tetap sama.

"RUBYYYYYYY! CEPAT KELUAAARRR!" seruku memanggil si tukang dandan ini. Lalu aku mendengar pintunya terbuka dan...

Ruby's POV

Katakan kalau aku masih bermimpi...

Aku melihat penampakan gadis barbar itu, bukan sebagai gadis barbar, tapi mirip seperti gadis manis dari Hutan Viridian itu.

AKU TAK SUKA DIA LHO, AKU TAK INGIN BADANKU REMUK DIKALAHKAN SI PETARUNG DI GUNUNG SILVER!

Apa aku bermimpi...

"Ruby? Kau tak apa-apa?" tanyanya. Aku tak berpikir apa-apa, selain hanya bisa berkata...

WOW... Sapph, kecantikan aslimu akhirnya keluar... dan aku melihatnya tersenyum. Sepertinya dia tahu isi pikiranku...

"Hei, aku hanya melakukan ini untukmu, lho... selamat ulang tahun, Ruby!" katanya, lalu mencium pipiku.

Aku tak bisa berpikir apa-apa. Otakku seperti terkena hubungan pendek arus listrik. Dan aku langsung punya perkiraan untuk apa yang baru saja terjadi.

It must be Blue's plan...

3. Dear you,

SAAT PELUKMU TERLEPAS...

Saat bertemu, sebenarnya rindu baru saja beranjak dari langkah pertama. Masih jauh perjalanan yang harus ditempuh. Sejenak pelukmu terlepas, selarut ini aku menghitung rindu yang terhempas di ruang kegelisahanku.

Ketika ruang batin disesaki kosong tanpamu, aku menyebutnya rindu, lain tidak. Rindu yang kujaga untukmu adalah sesepi-sepinya rasa yang menyekat keterpisahan. Terasing jauh dari mata, dan sentuhanmu.

Selamat datang, rindu. Aku meradang; menunggumu. Entah sampai kapan menunggu, akan kutunggu.

Ruby's POV

'Kali ini, 2 pesanan baju untuk jenis Pikachu, 2 untuk pemiliknya. Oke! Ayo kita buat!"

Berbekal ukuran tubuh yang sudah kupunya, aku segera membuat pola pakaian. Temanya musim semi. Suasananya hijau muda dengan beberapa semburat merah dan kuning, sesuai untuk sang pemesan dan Pikachu mereka.

Kalau aku melihat mereka, sepertinya mereka memang sudah sangat saling mencintai. Lihat saja, mereka menginginkan sebuah simbol cinta mereka, dan aku juga yang harus memikirkannya. Saat aku melihat data mereka, aku tersenyum, dan tiba-tiba...

Itu mengingatkanku akan seseorang. Saat ini dia berada di Unova, menemani ayahnya dalam melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan Pokemon. Dan dia mungkin juga dikenalkan dengan dexholder dari sana.

Ahh... jika saja aku bisa ikut dengannya...

Sapph... I miss you...

4. Dear you,

SEDETIK PUN TAK LUPA

Di lentik jemarimu, rengkuh genggamanku memudar, dan kini rindu menularkan sakit kesepian. Dan, tujuanku tak kemana. Di pinggir bibirmu, kuingin menepi. Berteduh dari rindu yang mengaduh.

Sesering kita mengingkar hati, sedalam tak terukur kita membodohi diri sendiri. Sedalam inginku berlari mengingkari, secepat getarku kembali bertekuk lutut di hatimu, satu-satunya. Sedetik tak lupa. Sekujur tubuhmu adalah segenap ingatan yang mencetak satu rindu, sebenarnya.

Ruby's POV

Sapph... I miss you...

Dan langsung saja setelah aku berkata itu...

Aku ingat semua, dengan kata lain, aku memilih untuk mengingat lagi semua. Mengingat apa?

Kejadian Pulau Mirage...

Karena pada saat itu, ...

"Ruby, aku menyukaimu..."

Aku teringat aku syok saat itu.

Kemudian, ketika kami berada di Kota Sootopolis, gliranku. Aku mendorong Sapph ke mobil udaranya guruku, lalu...

"... Aku juga menyukaimu, sejak pertama kali kita bertemu..."

Setelah pertarungan itu, aku memilih untuk melupakannya. Itu hanya menyebabkan Sapph terus mencekokiku dengan pertanyaan yang sama.

"Masa kau tidak ingat?"

"Kau pasti hobong!"

"Ingatlah kembali, Prissy boy!"

Aku merenung tentang semua pertanyaan itu. Semua pertanyaan yang muncul dari kebohonganku padanya.

'Selama ini, aku berbohong padanya terus, dan setelah pertunjukan itu, aku masih berbohong padanya. Padahal ini sudah sekali sejak kejadian itu. Apa aku harus terus berbohong tentang itu? Aku benci melihat wajahnya yang tak puas itu terus-menerus. Sapph...'

Lalu aku menulis pesan ke Sapph.

"Sapph, aku ingin kau segera pulang,"

Sementara itu, di Kota Nimbasa...

Sapphire's POV

Aku membaca pesannya si prissy itu. Aku lantas kaget. Aku langsung bertanya dengan pesan juga. Lalu dia menjawab...

"Sangat penting..."

Aku penasaran apa yang penting itu. Kalau itu hanya untuk mengukur baju lagi, akan kulempar dia ke tumpukan kotoran Tepig.

Saat sudah sampai rumah, tepatnya, rumahnya Ruby...

Aku sudah sampai ke rumahnya Ruby. Aku berusaha untuk memanggilnya keluar. Aku mengetuk pintu dan memanggilnya.

"Ruby! Keluarlah!" seruku. Lalu pintunya terbuka, dan tiba-tiba sebuah tangan menarikku dengan cepat.

"EEHHH! APA-APA—" dan aku lebih kaget lagi karena...

Bukan Ruby yang ingin mengukur tubuhku, bukan Ruby yang berwajah ceria...

Tapi Ruby yang menangis... sambil memelukku erat. Aku hanya bisa terdiam dengan mataku yang terbelakak tak percaya. Dan yang membuatku lebih kaget lagi adalah sesekali aku mendengar dia berkata...

"Maaf..." dia hanya berkata itu.

Ruby's POV

... Karena aku tak tahu apa yang bisa kulakukan untuk menebus kesalahanku melupakan semuanya, selain dengan memohon maaf padanya.

"Kenapa, Ruby? Kenapa kau minta maaf?" tanyanya, lembut. Dan itu hanya membuatku memeluknya lebih erat.

"Maaf... aku berbohong... padamu..." kataku di tengah tangisanku. Lalu aku melepaskan pelukanku, menaruh lengan kuatku pada pundaknya, dan memandangnya.

"Maaf, aku brebohong tentang... semuanya. Sebenarnya... aku... aku..." ayolah, kenapa sulit sekali keluarnya?

"Ada apa?" tanyanya. Lalu akhirnya...

"AKU INGAT SEMUA! PULAU MIRAGE! PENGAKUANMU, PENGAKUANKU, SEMUANYA! Dan maaf..."

"Maaf kalau aku berbohong kalau aku lupa kisah kita saat itu..."

Sapphire's POV

Apakah inilah pengakuannya? Ruby... jujur padaku...

"Be... benarkah itu... kau masih... ingat..." tanyaku, dan Ruby yang sekarang wajahnya dipenuhi penyesalan, hanya bisa mengangguk. Lalu aku memeluknya dengan lembut, sambil berbisik padanya.

"Aku maafkan kau. Tapi dengan satu syarat,"

"Apa"

"Kau tak boleh lupa lagi. Kau tak boleh lupa kalau aku menyukaimu, dan kau menyukaiku," sial! pipiku jadi merah karena ini! Lalu Ruby tertawa.

"Hehehe, sekarang sudah berbeda. Aku tidak menyukaimu, kau tidak menyukaiku. Sekarang..."

"Aku mencintaimu, dan kau mencintaiku..."

Dan aku kaget lagi, kukira dia benar-benar tidak menyukaiku, ternyata...

Ini melebihi ekspektasiku...

Dan akhirnya, kami saling memandang. Mata safirku bertemu dengan mata rubinya. Dan lama-;ama keduanya semakin dekat dan...

Ruby's POV

Aku tak akan pernah melupakan cinta kita lagi, Sapph...

6. Dear you,

DAN MENANGISLAH...

Tak selamanya, pedih itu berarti sakit. Kadang, tangis yang mengiring adalah bahagia tang tak kita sadari. Paling tidak, kita jadi mengerti apa sesungguhnya sakit ketika kita merasakan air mata mengalir. Inilah kebahagiaan sesungguhnya.

Betapa tidak ada maknanya hidup ketika kita tak pernah punya air mata. Tawa, mungkin, tak pernah terselami arti sejatinya saat mata kita kering dari air mata. menangislah sejadi-jadinya jika itu yang menjadi apa yang paling kita inginkan saat ini, detik ini.

Ruby's POV

Dan aku masih menangis sampai sekarang.

"Sudah, sudah, Ruby. Kau tak perlu menangis terus. Aku juga ingin minta maaf sebenarnya," kata Sapph.

"Eh? Kenapa kau yang minta maaf? Aku yang bersalah atas hal ini, seharusnya aku yang minta maaf," kataku.

"Ayolah, aku juga salah karena terus menyerangmu dengan pertanyaan yang sama terus. Aku hanya ingin..."

Sapphire's POV

'Kenapa tiba-tiba aku tak bisa mengatakannya...'

Aku berusaha untuk mengeluarkan apa yang kupikirkan dalam bentuk suara, namun entah kenapa mulut ini susah diajak kompromi.

"Ada apa, Sapph? Kau ingin berkata apa?" tanya Ruby.

"Ehhhmmm... sebenarnya aku... aku..." lalu aku menarik napasku...

"Aku hanya ingin mendapatkan kepastian darimu..."

Dan aku melihat Ruby terdiam.

'Sapphire bodoh! Sapphire bodoh! Aku bodoh!' pikirku. Sekarang pasti Ruby akan menertawakanku.

Dan ternyata benar. Ruby tertawa, namun hanya pelan sampai hanya dalam waktu singkat. Lalu dia memandangku serius.

"Sapph, kau tak perlu mencari kepastian dariku lagi, karena mulai sekarang, aku akan memberikanku kepastian," lalu aku melihat Ruby mendekat padaku. Semakin dekat sampai aku bisa mencium bau tubuh Ruby yang memang dapat kukenal dari cara bertahan hidupku di hutan dulu.

Dan dia tak berhenti mendekat sampai...

7. Dear you,

TANPA ADUH TERANTUK DI BIBIRMU

Malam berkelindan dengan rindu, tanpa malu-malu utuh mengikatku, tak berjarak, dari tepimu.

Jika boleh, aku ingin terantuk di bibirmu, berkali-kali. Sampai tercetak lebam rindu, tanpa keluh aduh di kemudian hari.

Dan, biarkan semua ini mendakwa sadarku makin nyata. Di puncak mimpiku, kuinginkan kamu ada. Seketika, dan tidak semena-mena.

Sapphire's POV

Aku hanya bisa merasakan sentuhan bibir lembutnya di bibi kasarku. Awalnya hanya kontak biasa, sampai Ruby memperdalam ciumannya. Akupun ikut memperdalamnya untuk mendapatkan sensasi luar biasa dari ciuman kami, baik untuk Ruby maupun untukku.

Semakin dalam ciuman kami kami berdua juga semakin agresif. Baru saat ini aku melihat Ruby bisa agresif untuk hal yang satu ini. Kemudian, tiba-tiba aku merasakan hal lain selain bibir halusnya, yang ternyata itu lidahnya, meminta izin padaku untuk mengekplorasi bagian dalam mulutku dengan lidahnya.

Aku ingin sedikit bermain-main dengannya. Aku menutup bibirku dan membiarkan lidah itu mendorong terus. Namun, ternyata Ruby tambah agresif. Dia menambah tekanan pada lidah dan pelukan kami, memaksa akses untukku. Dan pada akhirnya, aku menyerah.

Aku membuka mulutku untuk membiarkan lidahnya meliuk-liuk di dalam mulutku. Tentunya aku membalas dengan melakukan hal yang sama.

Akhirnya, kami terus memperdalam ciuman kami, bahkan kami sampai tak peduli kalau air liur kami terus mengalir. Sesekali Ruby mengelus rambutku, dan aku melakukan hal yang sama, juga dengan memegang bekas luka di kepalanya yang pada akhirnya menyatukan kami.

Kuharap ini bukan mimpi...

Sementara itu...

Norman's POV

"Hehehe, pemandangan bagus sepertinya. Lebih baik aku hubungi dia," lalu aku menekan nomor telepon seseorang, lalu aku berdiri di dekat manusia yang tak sadar akan keberadaanku itu. Dan saat tersambung...

"Halo, Birch,"

"Wah, ada apa, Norman! Ada apa? Pasti tentang itu ya?"

"Betul. Jadi kapan bisanya?"

"Kapan saja bisa, tenang saja. Kalau untuk itu, aku fleksible,"

"Ya, sepertinya anak-anak kita sudah sangaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaatttt dekat..." itu tadi kode untuk mereka berdua, hehehe...

"Wah, baguslah! Aku tak perlu susah-susah mencarikan calon yang cocok untuk anakku," untung hanya aku yang bisa mendengarkannya.

"Sama, Birch! Kita bisa berbesan nanti—"

"AAPPAAAAA!?"

Misi menggoda anak kami, sukses!

8. Dear you,

ENGGAN PISAH

Selalu ada enggan tiap kali kita salig melambaikantangan. Seolah menegaskan jarak yang bakal kita hitung beberapa hari ke depan. Hasilnya kita sama-sama tahu. Barisan detik yang berlalu pasti akan menghasut rindu tanpa pandang bulu.

Kini rasakanlah! "Baru saja pelukan kita terlepas. Dadaku sontak sendat satu menit kemudian,"

Ruby's POV

Setelah momen memalukan tapi mengena itu, ini sudah waktunya Sapphire untuk pulang.

"Ruby, terima kasih... untuk semua yang terjadi hari ini,"

"Aku juga. Aku senang sekali bisa melepaskan semua dosaku padamu..." aku merasakan pipiku memanas.

"Dan digantikan dengan hal yang luar biasa tadi," katanya sambil membersihkan air liur bekas tadi, aku jadi reflek ikut membersihkan mulutku juga.

"Baiklah, aku pulang dulu, Ruby," kata Sapph sambil memelukku. Aku pun memeluknya.

Dan dari saat itu, kami hanya berpelukan di depan rumahku. Tak peduli ada orang atau Pokemon yang melihat. Aku tidak peduli. Sapph tidak peduli. Kami tidak peduli.

Kami hanya peduli dengan pelukan dan rasa cinta yang menyebar pada diri kami.

Sementara itu...

Birch's POV

"Wah, benar ternyata katanya si Norman. Mereka mesra sekali di sana. Hehehe..." kataku, sambil mengambil kamera, lalu memotret 2 orang itu di depan sana.

"Kuharap fokusnya pas, jadi gambarnya jelas," kataku, lalu...

JEPRET!

"Oke, waktunya pergi ke tukang cetak foto, memintanya untuk mencetak foto ini, lalu menggantungnya di kamarnya Sapphire secara rahasia. Juga ke kamarnya Ruby dengan bantuan Norman,"

Neutral POV

Lalu Prof. Birch dan Norman memikirkan hal yang sama.

"Rencanamu hebat, Blue..."

33. Berani jatuh cinta berarti berani jatuh tanpa cinta. Berani jatuh cinta berarti berani jatuh bersakit-sakit untuk cinta.

"Berani jatuh cinta?"

"Berani! Asal sama kamu!"

Ruby's POV

"Aw! Aduh, Hi... Waaaaahh! Awawaw..."

"Ayolah, prissy boy, ini tak semenjijikkan yang kau pikirkan. Aku ingat dulu kau suka main lumpur,"

Benar juga, dulu, aku adalah orang yang suka berpetualang dan bertarung. Sementara dia, orang di sampingku, lebih suka dandan dan berhias diri. Sampai kejadian itu mengubah segalanya. Membalikkan kepribadian kami dan menjadikan kami seperti sekarang ini.

Nah, ini ulang tahunku, dan Sapph telah mengagetkanku dengan pakaian gaun itu, bukti bahwa dia bisa jadi wanita.

SEKARANG, SAPPH MINTA BALASAN...

"Ayo masuk ke lumpur sana! Aku sudah susah payah pakai pakaian ini, dan kau tak ingin masuk ke lumpur? Teman macam apa kau?" tanyanya sambil berkacak pinggang. Aku kalah kali ini, dan aku harus masuk.

Dan akhirnya, setelah bertahun-tahun, akhirnya aku masuk ke dalam lumpur.

Demi masa lalu kita...

Demi kita...

Ada pertanyaan?

Berlanjut...

Bagian 13 selesai! Sedikit saja, karena kemarin sudah banyak, saking banyaknya sampai aku lelah. Dan hanya inilah bagian Frantic di sini. Besok kembali ke SpecialShipping. Tapi cuilannya mungkin masih ada...

Kripik jaran...

RWD keluar...