Bagian 14: Dear You, Gerimis di Bulan Januari
Apa yang terjadi di bulan Januari bagi mereka...
1 Januari 2011
"Cinta memang tak terduga. Semua serba tiba-tiba. Datang, tiba-tiba, pergi tiba-tiba. Lalu, datang lagi, pergi lagi. Akankah kamu datang sekali lagi, tiba-tiba?"
Yellow's POV
Aku kecewa sekali...
Aku ada di rumahnya Blue. Seperti biasanya, dia menyelenggarakan pesta tahun baru. Semua dexholder yang dekat-dekat datang. Ada yang dari Johto, Hoenn, dan Sinnoh. Sementara itu dexholder dari Unova dan Kalos tersambung lewat Pokegear.
Kami bersenang-senang sepanjang malam tahun baru itu. Gold dan Diamond saling beradu makan, dan kelihatannya Diamond yang menang. Aku heran dengan anak itu. Dia makan banyak tapi tak pernah gemuk. Aku ingin tahu rahasianya.
Lalu Ruby menampilkan fashion show kecil-kecilan dengan tema ...
"Inilah aku, Ruby! Desainer baju profesional untuk manusia dan Pokemon! Menampilkan desain baju terbaru untuk 2011, dan tema tahun ini adalah..."
"NATURALIS-FUTURISTIS!"
Dan muncullah Sapphire dengan pakaiannya, benar-benar campuran alam dan masa depan dengan motif daun berwarna perak. Sapphire terlihat tidak senang dengan bajunya.
"Ruby, SUDAH CUKUP! AKU TAK TAHAN DENGAN PAKAIAN INI!" dan aku melihat Sapphire siap untuk membuka bajunya sampai diteriaki oleh Blue.
"Hei, kau ingin rumahku kebanjiran darahnya Gold?" seru Blue.
"HEY... APA MAKSUDMU MEMASUKKAN AKU DALAM MASALAH INI?" teriak Gold. Dibalas tendangan tepat di wajah oleh Crystal.
"Semua orang sudah tahu tabiatmu, Gold!" dan saat itu, aku memutuskan untuk keluar menuju balkon.
Aku melihat langit yang gerimis saat itu. Hanya ada kepulan awan hitam tanpa menyisakan ruang untuk bintang-bintang untuk muncul. Juga tepat dengan perasaanku yang kecewa dengan apa yang terjadi hari ini...
Lalu aku membuka Pokegear-ku, melihat pesan yang, bisa dilihat, menyayat hati. Ini dari orang yang sebenarnya sudah kutunggu-tunggu dari tadi. Pesannya berbunyi begini.
"Yellow, maaf, aku tak bisa datang ke pesta. Jalan dari Johto ke Kanto macet, dan aku tak yakin aku bisa datang tepat waktu,"
Aku tak percaya, dia menyerah dengan hanya macet.
Lalu aku tutup Pokegear-ku dan memutuskan untuk kembali ke dalam untuk menikmati acara lainnya. Saat aku masuk, aku melihat Crystal membicarakan sesuatu. Akupun penasaran.
"Hei, Crystal, kau membicarakan apa?"
"Wah, dari mana saja kau? Kau tertinggal banyak bagian. Crys membicarakan gerhana bulan besok Juli , katanya jadi yang terlama abad ini," Emerald menjelaskan beberapa hal.
"Emerald benar. Ini akan jadi pengalaman seumur hidupmu karena kejadiannya akan sangat lama, sekitar 2 jam," aku masih bingung. Maklum, aku tidak begitu tahu hal seperti itu. Jadi sisanya aku mendengarkan penjelasan Crystal.
Cukup panjang, sampai saat Blue melihat jam, ...
"Hei, 8 menit lagi jam 12! Aku akan menyalakan televisi," kata Blue. Lalu Blue menyalakan televisinya, dan muncul gambar perayaan malam ganti tahun dari Pusat Ruang Angkasa Mossdeep, dimana pada saat itu juga, akan diluncurkan roket yang membawa satelit komunikasi ke orbit.
Sementara itu...
Red's POV
Aku terlambat! Aku terlambat! Aku terlambat!
Aku harus berlari ke rumahnya Blue karena macetnya jalan yang aku tak percaya itu bisa terjadi. Aku sudah berlari dari setengah jam yana lalu denga sedikit bantuan Aero, yang karena masih mengantuk, tak berani kuperintah jauh-jauh.
Saat aku melihat jam tanganku, aku makin panik.
5 menit lagi...
Dan rumahnya Blue masih 1 kilometer lagi. TERPAKSA AKU HARUS BERLARI TERUS.
Kembali ke rumahnya Blue.
Yellow's POV
Sebentar lagi, roketnya siap untuk melesat, tepat dengan tahun baru. Dan aku sudah menyerah untuk berharap kedatangan Red-san, karena dia pasti masih terjebak dalam macet itu. Dan aku memilih untuk menonton televisi seperti yang lain.
Dan sekarang sudah tinggal 1 menit lagi.
Red's POV
HAMPIR SAMPAI, HAMPIR SAMPAI, HAMPIR SAMPAI!
Dan akhirnya aku membukan pintunya, dan...
Neutral POV
Semua orang di dalam sana kaget, ya, mungkin selain Green, Silver, dan Crystal yang memilih fokus dengan persiapan roket meluncur.
Dan yang paling kaget adalah...
Yellow's POV
Red-san... Red-san disini... Red-san benar-benar disini... cubit aku! Aku pasti bermimpi...
Langsung saja aku mendekatinya, melihatnya yang sangat terengah-engah. Aku langsung khawatir.
"Red-san! Kau tak apa-apa?" tanyaku.
"Hah... hah... hah... aku... aku tak apa-apa... hah... hah... hanya lelah berlari. Aku tak ingin membiarkanmu... hah... hah... kecewa kalau aku... hah... hah... tak datang..." kata Red-san.
Aku tak menyangka, Red-san rela berlari sejauh itu, hanya untuk membuatku senang...
"Red-san... terima kasih telah datang..." kataku dengan senyumanku yang hangat untuk mengembalikan energinya. Dan tepat...
"Roket akan segera meluncur, hitung mundur dimulai dari 20, 19,..."
Aku langsung teringat legenda buatan Blue yang pernah kudengar.
"Kalau mau hubunganmu dengan Red lancar, cium dia saat pas ganti tahun,"
"18, 17..."
"Red-san, bo-bolehkah aku..." pipiku langsung tak dapat kukendalikan untuk menjadi merah karena pertanyaan itu. Dan Red-san hanya tersenyum dan mengangguk.
"12, 11..."
Sepuluh hitungan terakhir, dan aku semakin mendekat dengan Red-san. 5 hitungan terakhir, kami saling merangkul satu sama lain, dan sisanya...
"5, 4, 3, 2, 1..."
Hari terbaik dalam hidupku, tepat di tanggal 1 Januari 2011, aku dan Red-san berbagi ciuman hangat dan kuat selama 1 menit. Dan di dalamnya, aku dan Red-san saling bermain dengan rambut kami masing-masing. Setelah itu kami melepaskan bibir kami dan saling memandang dengan senyuman cinta yang sama-sama kuat.
"Selamat tahun baru, Red-san..."
"Selamat tahun baru juga, Yellow..."
Dan sesi ciuman kami berlanjut lagi.
Sementara itu...
Green's POV
Aku dan teman-temanku hanya melihat 2 manusia di depan sana saling berciuman, dan kau tahu apa yang dilakukan manusia di sampingku?
Ya, dia merekam semua kejadian.
"Blue, bisakah kau hormati privasi mereka dengan tidak merekam mereka sedang melakukan itu?" tanyaku.
"Oh, tidak bisa! Ini harus di-a-ba-di-kan!" kau tak perlu mengatakannya tiap suku kata, Blue.
Dasar, perempuan si**an. Dan aku kembali memutuskan untuk melihat roket yang sudah meluncur.
2 Januari 2011
Inikah memerdekakan diri; melepaskan pesonamu yang membelenggu? Tidak! Ternyata, jeratmu tetap yang kubutuhkan, tak terelakkan.
Red's POV
Keesokan harinya, pada sore hari, aku dan Yellow sedang bersantai di rumahnya Yellow. Kami hanya menceritakan beberapa hal yang kami alami selama permulaan tahun 2011 ini.
"Red-san..." katanya, suaranya sedikit sedih.
"Ada apa, Yellow? Ada masalah?" dia menggeleng.
"Tapi... ada satu hal yang ingin kubicarakan,"
"Tentang apa?"
"Tentang kemarin. Saat kau hampir terlambat datang ke pestanya Blue,"
"Oh... Oke. Aku mendengarkan," lalu Yellow menarik napasnya, dan mulai bercerita.
"Sebenarnya aku hampir menyerah saat kau beritahu aku kalau kau akan terlambat, jadi aku hanya fokus pada tayangan televisi,"
"Sebenarnya, aku juga ingin mengakui sesuatu, Yellow," dan giliran Yellow yang heran.
"Apa itu, Red-san?" aku menarik napasku.
"Sebenarnya, setelah aku mengirim pesan itu, aku melihat seseorang dengan barangnya, berlari dari mobilnya. Saat aku bertanya dia ingin kemana, dia ingin berlari membawa hadiahnya untuk istrinya di rumah. Dia berkata kalau dia sangat mencintai istrinya dan dia ingin memberikan hadiahnya tepat tahun baru. Itulah yang kemudian mengingatkanku akan kenapa aku ingin pergi ke pesta itu,"
"Eh? Apa itu?" tanya Yellow, semakin heran. Dan pipiku semakin memerak saat kuingin menjawab pertanyaan itu. Namun, aku juga harus menjawabnya.
"Aku ingin memberikan hadiah padamu tepat pada tahun baru itu,"
"Tunggu, kau tidak memberikanku apapun kemarin," kata Yellow, lalu aku tersenyum, melihatnya tak sadar akan maksudku.
"Hadiahku padamu, Yellow... adalah cintaku padamu..."
Aku melihat Yellow harus berpikir keras untuk mencerna apa yang kukatakan tadi, namun setelah itu, aku melihatnya memerah, dan saking merahnya, membuatnya pingsan.
"Hehehe, Yellow... Yellow..."
Pekerjaanku dimulai, lagi.
3 Januari 2011
"Di lipatan hatimu, aku ingin bersembunyi malam ini,"
Yellow's POV
Aku masih ingat kemarin, saat Red-san ada di sampingku di kamarku saat aku tersadar dari pingsanku.
Aku sangat bersyukur punya Red-san sebagai orang yang kucintai, dan orang yang mencintaiku.
Dan malam ini, aku mendapatkan pesan dari Red-san.
"Hai, Yellow! Kau sibuk tidak besok? Kalau tidak, ikut aku ke tempat biasa aku latihan. Aku ingin melihat hujan meteor bersamamu. Kau bisa kan?"
Aku hanya bisa memeluk Pokegear-ku sambil membayangkan wajahnya Red-san yang senang saat bertemu denganku besok. Ini akan menjadi hal yang sangat luar biasa bagiku.
Jadi untuk memulainya, aku balas pesannya Red-san.
"Tentu saja, Red-san. Aku tunggu setelah matahari terbenam," dan beberapa saat kemudian setelah terkirim...
"Oke! Kutunggu, Yellow! Selamat malam!"
Langkah kedua, tidur, dengan bermimpi tentang hutan, hujan meteor, dan Red-san.
Digarisbawahi, Red-san!
"Ketidakberdayaan itu segera datang. Maka, biarkan aku tenggelam di dasar hatimu. Selamat malam," - 4 Januari 2011
Inilah yang terjadi malam ini.
Aku dan Yellow, sendirian, di tengah hutan gelap yang luas di cuaca yang beruntungnya cerah, melihat hujan meteor bersama. Kami bersandar pada sebuah pohon sambil mencoba peruntungan menghitung jumlah meteor yang jatuh. Aku dapat 28, Yellow 33. Aku akui penglihatan Yellow bagus sekali.
Sampai suatu saat, aku merasakan sesuatu di pundakku. Ternyata itu kepalanya Yellow, kelelahan karena memang sudah malam.
"Yellow, ayo pulang..." lalu kutuntun dia ke rumahnya, dan kuantar ke tempat tidurnya. Dan seperti ibu pada anaknya, aku memberikan ciuman selamat malam di kening.
"Selamat malam, Yellow-chan..."
"Selamat malam, Red-san..." igau Yellow. Dan aku tersenyum sambil kembali pulang.
Dear you,
BAHAGIA, MENUNGGUMU!
"Kamu memintaku tinggal di sini. Jika aku memintamu tinggal bersamaku di sana, apa kamu bersedia?" – 6 Januari 2011
Yellow's POV
Hujan deras. Dan aku sendirian, dan aku takut sendirian, dan aku butuh teman, dan aku butuh...
"Red-san, bisakah kau ke rumahku? Aku takut..."
Dan beberapa saat kemudian...
Aku mendapati diriku tertidur pulas dengan alat penenang hati di sebelah kananku, yang sekaligus sebagai alat penghangat tubuh dan hati. Dan sebagai balasannya, aku menciumnya, dan aku juga mendapatkan balasan dengan pelukan yang lebih hangat dan nyaman.
Kau tahu alat yang kugunakan untuk ini?
Red-san.
"Demi apa? Demikian aku mencintaimu," – 7 Januari 2011. Aku tak ke mana. Karena hatiku – satu-satunya, telah kau renggut tanpa sisa.
Red's POV
Yellow bermain ke rumahku, dan aku dan dia sedang bermain pesta minum teh. Dan saat puncaknya, tiba-tiba aku harus pergi, dan berpisah darinya.
"Red-san! Jangan pergi..."
"Sebenarnya, aku tak ingin pergi, tapi ini penting sekali dan tak bisa kulewatkan,"
"Bisakah kau tunda sebentar?"
"Tidak bisa, Yellow. Harus sekarang," lalu terdiam sejenak, lalu...
"Baiklah, berhati-hatilah di sana. Semoga berhasil,"
"Oke, Yellow! Aku akan berusaha!"
Dan kemana aku akan pergi setelah ini?
...
...
...
...
...
...
TOILET
HUEHUEHUE
10 Januari 2011
Kamulah yang pertama, tak ada kedua, bahkan dalam mimpi yang kuiba-iba.
Yellow's POV
Benar. Aku bertemu banyak orang. Tua, muda, besar, kecil, gemuk, kurus, cantik, tampan, laki-laki, perempuan, masih sendiri maupun punya pasangan, bahkan sampai orang baik dan jahat.
Namun, memang hanya dia cintaku yang pertama, dan kuharap, cintaku yang terakhir juga.
Karena dia yang mengajariku cinta dan bagaimana rasanya. Karena dia yang menyelamatkanku. Karena dia yang membuat hariku lebih berwarna dan berarti. Karena dia yang membuat diriku ada di mata dunia.
As the healer of the fighter...
Me, as the healer...
And him, as the fighter...
Siapa dia? Red-san.
Dan aku siap untuk bermimpi tentangnya lagi malam ini.
Dear you,
KETIDAKBERDAYAAN ITU
Terlalu dini aku bilang kebersamaan kita nyaris basi. Sekam rindu ini masih panas menyulut api.
Kupilah ragu apakah kesetiaanku menjamu nyata, bukan semu. Saat kita mencipta ziarah penyatuan, yang kudapat justru terhentinya jejak kaki pada ketidakberdayaan.
Tiba-tiba saja, aku kembali ke pangkuan kesendirian. Rebah sejenak, mengistirahatkan pikiran dari sergapan huruf dan alinea. Tengadah membelakangi kenangan, "Hai, apa kabarmu?"
Dan kudapati retak perpisahan mengelopak. Pudar kugambar senyummu. Rinduku lemah merayap di genggaman jemarimu. "Selamat malam, Sayang. Mari kita mengeringkan luka sebelum air mata tumpah memerah darah. Semoga esok pagi mendekap masa lalu dengan kenangan dan masa depan dengan penantian. Karena pagiku adalah musim semi. Maka, temaniku, Sayang... menyirami harapan dan mimpi kita," – 13 Januari 2011
...
Dan tentunya ini bukanlah harapan mereka. Mereka tidak mengharapkan kesusahan dan perpisahan yang menyakitkan. Mereka sudah berkali-kali bertemu dan berpisah, namun mulai sekarang, mereka mulai sadar bahwa mereka tak bisa hidup tanpa yang lain.
"Red-san..."
"Ya?"
"Temani aku terus..."
"Oke..."
Begitulah pemandangan pada matahari terbenam, setelah pertarungan yang hampir melenyapkan Red, tepat di depan Yellow, namun untungnya, Red menang, walaupun dengan luka yang banyak, dan Yellow langsung menyembuhkannya.
Selesailah kisah buruk mereka, dan dimulailah kisah baik mereka.
Dear you,
BOLEH KUPINJAM TANGANMU, SELAMANYA?
Haruskah saling tak acuh sementara rasa itu masih mengepakkan sayap keakuannya? Inilah kesendirian paling getir. Bersatunya rasa tak berujung pada kebersamaan dan kepemilikan raga.
Derak getar itu nyaris seperti ranting pohon layu yang patah. Meradang tersapu rasa yang membisu kelu. Haruskah gelisah menertawakanku? Membaca gerak bibirmu di antara lemah hati yang mendambamu dengan rindu bertubi-tubi?
Aku butuh tanganmu untuk menyeka air mata ini. Boleh aku pinjam selamanya? Semoga, kau izinkan.
Di puncak pengharapan tertinggi, kuserahkan lidah dan mataku untuk mengawal cintamu. Karena nanar bermuram, satu kerling matamu yang kugugat. Menjadilah kunang-kunang di jelaga mataku.
- 14 Januari 2011
Red's POV
Tiap kali ada orang yang berkata kalau aku punya hubungan dengannya. Dan sekali lagi aku berkata,
"Tidak, kami hanya teman saja kok..."
Ada yang marah, sedih, maupun kecewa, itu wajar. Aku tak bisa menjadi orang sempurna.
Namun kenapa lama-lama aku jadi memikirkan sesuatu? Sesuatu yang membuatku menyesal karena aku teruskan dari dulu hingga sekarang.
Aku sudah menciumnya, bahkan sudah mengajaknya menonton bersama, tapi apakah aku akan tetap menjadi teman saja?
Yellow's POV
Aku terus menangis kalau aku melihat tingkah Red-san yang masih tak tahu perasaanku. Aku hanya berharap satu hal dari dia.
Bisa bersama dengannya, tiap hari, tiap saat, dimanapun, kapanpun, dalam keadaan apapun, selamanya.
Neutral POV
Akhirnya, mereka tahu apa yang akan mereka lakukan...
18 Januari 2011
Dear you,
Titah Rindu, Satu Kecupanmu
Malam menitikkan air mata. Bukan menahan sakit karena luka cinta, hanya meratapi kesepiannya.
Sepotong praduga jauh menepi. Percaya yang kubela seumur hati. Di cintamu, bulat telanjang kupasrahkan diri. Bahkan, dalam mimpi pun aku tak ingin menepi.
"Cukup satu helaan napas, dan kureguk manis napasmu di tidurku,"
Sepertinya, aku terlambat mengucapkan selamat tidur. Lelapmu tak terusik sepatah kata pun. Atau kau ingin menyanjung kesendirian? Tolong, jangan! Karena sayang tak pernah sia-sia. Kali keseribu katakan saja. Palung rindu yang menguji kedalamannya. Suatu ketika, sayang itu utuh milikmu.
Kapan pun itu, tanggalkan saja murammu di pundakku. Bawa serta senyumku untuk hapus setiap gelisahmu. Hingga rasa bisu singkirkan malam kemilau. Membungkam puji kata untuk cinta tanpa getar bertalu. Hingga akhirnya bahagia dan sedih itu berciuman di rongga persetubuhan hati kita, aku akan menjagamu.
"Sekalipun barisan malam tak henti mengempaskan pilu waktu. Tapi peduli apa jika satu kecupanmu telah mengabadikan titah rindu di keningku,"
Red's POV
"Yellow, aku sebenarnya ingin mengatakan ini, tapi aku takut kalau ini akan..."
"Akan apa, Red-san?"
"Akan merusak persahabatan kita,"
"Kau tak pernah dan tak akan pernah melakukan itu, Red-san,"
Okelah, inilah saatnya.
"Yellow, aku ingin hidup bersamamu mulai hari ini sampai seterusnya. Aku ingin menjagamu dan melindungimu dari apapun yang mengancam. Aku ingin berbagi kebahagiaan dan kesedihan bersamamu," lalu aku mengeluarkan kotak kecil biru berisi cincin berlian.
"Yellow, maukah kau menikah denganku?"
Neutral POV
Yang terjadi kemudian, Yellow pingsan...
21 Januari 2011
Dear you,
Malam yang Bergerimis
Selangkah kaki, rindumu kugapai. Terpajang di dindin itu lengkap dengan bingkainya. Mengutip satu namamu di antara keluh kesah dan sesat rindu yang tertahan.
Mungkin, nanti. Bisikmu merambah sepi. Dalam mimpi, tak apa. Bersemi tunas, harapku. Menaungi binga tidur, wajahmu.
Memiliki, tapi tak benar-benar bersama. Karena setiap sentimeter jarak itu belum menyatukan kau dan aku.
Menangislah, Sayang. Rasakan pedihmu sebagai bahagia terdalam. Dan, tersenyumlah! Hidupkan tawa dalam sedihmu. Keterpisahan itu menyakitkan. Tapi, kita masih punya waktu untuk ciptakan keajaiban. Percayalah!
Bersyukurlah bisa menangis. Setidaknya kita tahu, kesedihan itu seperti apa rasanya. Rasakan saja air mata yang tumpah itu obat luka.
Yellow's POV
"Red-san, kumohon, jangan melawannya! Kau tak mampu lagi!" teriakku. Red-san sedang bertarung dengan sisa Team Rocket yang ternyata cukup kuat. Red-san sudah kehilangan banyak tenaga dan terlihat bisa rubuh dengan hanya satu tiupan angin.
"Aku tak apa –"
... dan satu pukulan itu menyelesaika semua...
"Aku selesai..." lalu orang itu menjauh, dan aku mendekati Red-san yang tak sadarkan diri.
"RED-SAN! RED-SAAN! RED-SAAAAAAAANNN!" teriakku, meratapi Red-san yang masih tak bergerak itu.
Lalu tiba-tiba aku merasa Hutan Viridian memberikanku kekuatan peningkatan level. Dan aku memeriksa Chuchu dengan Pokedex, dia sudah level 98. Aku sangat kaget, namun aku memutuskan untuk mengambil kesempatan ini.
"CHUCHU! MEGAVOLT!" dan langsung orang itu tersetrum dengan tegangan satu MegaVolt.
Oke, lawan sudah lumpuh. Sekarang, Red-san!
Masih dengan kekuatan yang sama, aku menyemuhkan Red-san dengan energi yang sangat banyak, sampai sinar kuning dariku terlihat dari jauh. Dan setelah mentransferkan energiku pada Red-san, aku kelelahan, dan akhirnya, aku tertidur. Dan sebelum aku tenggelam dalam tidurku, aku tersenyum.
'Paling tidak, Red-san selamat...'
22 Januari 2011
Dear you,
Di Sini Aku Mendekapmu
Lautan penderitaan tak bertepi, saat tolehkan kepala di sana ada daratan membentang. Hanya setitik tanda yang mengunci mataku dan itu, kamu.
Inilah liang rasaku. Penuh berisi tentangmu. Tengoklah sejeak, betapa dadaku sendat memikirkanmu.
"Seikat masa di tidurmu, semoga aku muara tawa dan tangismu. Karena malam untuk dipeluk, biarpun senyap sunyi tanpa rengkuh ragamu. Meleburkan di semesta tepekurku, di sini aku mendekapmu. Sungguh!"
Sampai pada satu titik keyakinan, aku akan katakan: jarak bukanlah batas, dan kita tetap bersama. Tunggu saja!
Dan suaramu adalah baris pertama yang ingin kudengar kala aku terbangun esok pagi. Temanilah aku! Khusyuk kesendirian ini telah menusukkan rindu di dadaku. Tancapkanlah berulang kali, aku menunggu tikamanmu.
Red's POV
Aku terbangun. Dan rasanya ini bukan hutan tempatku bertarung kemarin. Aku melihat sekeliling dan akhirnya aku memiliki kesimpulan.
'Sepertinya ada yang membawaku kesini saat aku pingsan,'
Dan benar saja. Ini adalah kamarku. Aku sudah ada di rumahku. Aku lalu melihat tubuhku. Banyak balutan. Badanku pasti cukup sakit untuk digerakkan. Lalu aku coba untuk duduk.
'Hmmm... tidak terlalu sakit kalau aku duduk,' dan saat aku melihat sekeliling lagi, ada yang masuk ke kamarku.
"Red-san! Kau sudah sadar?"
Yellow? Bagaimana kau... tunggu, itu berarti...
Aku tersenyum pada Yellow yang semakin mendekat. Kami lalu hanya saling memandang, sampai aku berkata...
"Terima kasih, Yellow, kau sudah menjagaku..."
25 Januari 2011
Siang-siang, aku sudah melayang. Selayang pandang bergayut manja di ikal mayang rambutmu. Sumpah. ini rindu!
Neutral POV
Kali ini, Red dan Yellow memilih untuk beristirahat di Hutan Viridian, sekaligus untuk pemulihan Red.
Mereka hanya bersandar pada pohon dan saling menyandar.
Sesekali Red bermain dengan rambut pirang panjangnya Yellow, dan dibalas dengan Yellow mengusap-usap kepala Red.
Dan, setelah acara sederhana itu, mereka tertidur di sana.
Sederhana kan?
26 Januari 2011
Dear you,
Menyisir Getir Rindu
"Jika pertautan hati yang kita iba –setelah peluh dan air mata, maka lautan doa adalah jembatannya. Seada-adanya, setiada-tiadanya... tak bosan kupintai doa untuk baikmu,"
Rebahku menyisir getir tanpa semilir desah manjamu. Inginku menggoda gulungan angin senja, "bisakah lebih lembut menamparku?"
Aku mulai kepayahan.
Kau tahu. Sebisu-bisunya, semilir rasaku menderu rindu, bahkan lebih dari badai.
Mendengung lebah, suaramu di pikiranku. Mendongeng lelah di penghujung nantiku.
"Kembalilah! Aku lelah melambaikan kata perpisahan,"
Yellow's POV
Seperti kemarin, aku duduk-duduk di bawah pohon di dekat rumahku. Cuacanya sama-sama cerah, anginnnya sama-sama sepoi, bahkan yang terlihat semua sama. Hanya satu yang membedakan.
Tak ada Red-san di sampingku.
Dia berkata hari ini dia harus ke Johto untuk membantu Crystal dalam mengumpulkan data untuk Pokedex. Aku tak keberatan saat itu dan berharap agar dia sukses dalam pengumpulan datanya.
Namun hari ini, aku menyesal.
Aku menyesal karena membiarkan Red-san pergi begitu saja. Meskipun hanya untuk 2 hari, tapi dampaknya ternyata sangat terasa.
Di tengah terpaan angin senja yang sejuk, hatiku yang kecil ini berkata...
Aku merindukanmu, Red-san...
27 Januari 2011
Mendulang senja di tanah seberang. Selamat sore, kamu; gerangan penakluk mata dan pikiranku. Mengapa tiba-tiba jejakmu menghilang dari baris pertama catatanku? Maaf, bukan sama sekali niatku. Boleh aku catat sekali lagi? Jika senja ini milikmu, beri aku sepotong dengan bumbu renyah senyuman. Biar usaikan gelisahku, seketika!
Red's POV
Ahhh... enaknya, pekerjaanku di Johto sudah selesai. Dan aku dalam perjalanan pulang ke Pallet. Namun sebelum itu, aku sempatkan untuk mampir ke Hutan Viridian, di mana lagi kalau bukan...
Aku melihat dia sedang memancing, kelihatannya, padahal aku tahu dia pasti ketiduran. Dia memang kebiasaan, namun kau tahu? Dia sangat manis saat dia tidur. Sebenarnya setiap saat dia juga manis.
Lalu dengan senyuman, aku membangunkannya.
Wake up, my honey blonde...
Dan saat aku melihat mata coklatnya yang indah, hatiku langsung tenang.
"eeemmm... Red-san?" suaranya yang lemah tanda baru bangun tidur membuatku ingin terkekeh.
"Selamat sore, Yellow,"
Dear you,
Dan, Untukmu Bahagia Kutitipkan
Keniscayaan sebuah penantian. Apakah itu kamu yang setia menjadi satu-satunya? Seindah semesta, sebening mata –milikmu. Utuh kupagut tak jera. Selamat pagi, kamu; mata hati.
Mungkin tak sampai. Seikat masa di tangkai pagimu mengaburkan pesan maafku. Mungkin...
"Di antara doa dan air mata, bahagia ini kutitipkan –untukmu,"
Di wajah pagi kupanjatkan doa-doa. Terik berlalu, gerimis pun datang. Bahagia pergi, sedih bertamu. Seperti hadirmu yang tiba-tiba.
Tapi, bagiku, kamu tak ke mana. Seperti tumbuhan dalam kayu. Makin kokoh akar menghujam, makin merindang daun. Kamu hidup di bagian terdalam dari diriku; palung hati.
Pertemuan senja menggantikan terik siang. Perpisahan berjalan cepat membuang muka, dan melenggang dengan pongah luka di dadanya.
"Perpisahan senja. Rindu itumenaungi mendung di matanya,"
Begitulah tanda yang mengemuka. Seperti menitipkan gerimis, di kedua bola mataku. Sesering sendat di dada tak kuat menampung luka, sekuat tenaga kubela sakit ini sebagai bahagia.
Luka. Selain menikmatinya, aku tak punya cara lain. Biarkan saja sampai hilang ditelan kesenyapan masa.
"Lemah gemulai, jejak rinduku menggarami lautan bibirmu,"
Semoga, sejenak saja. Aku tak ingin berlama-lama menunggu masa itu; mereguk manis bahagia dari bibirmu. Ketika masa itu datang, aku akan berdiam di hatimu seterusnya tanpa kenal kata pisah lagi.
Sejak napas cinta kau tiupkan, dan menghujam jantung, itulah awal bahagiaku. Tertulis di wajah pagi, dan kening senja.
Dan...
"Di setiap pagi, tulisan kebahagiaan itu menyusup embun tanpamu; hanya aku, ternyata"
Datang dan pergi. Begitulah masa lalu membiru-hitamkan tiap lembaran cerita. Dan kamu berada di antaranya, seperti pagi ini.
Dan...
"Di tempat rebahku ini, kamu berpelangi. Selamat pagi, untukmu –entah untuk yang keberapa kali. Yang pasti, aku ingin kembali padamu, suatu hari nanti,"
-31 Januari 2011
Neutral POV
Tiupan cinta itu terjadi pada penyelamatan.
Tulisan kebahagiaan yang hanya sampai padanya saja bagaikan betapa bodohnya dia tentang hal itu. Dan luka yang harus dihadapinya dalam menghadapi hal seperti itu.
Namun mimpinya tetap sama dan tetap kuat.
Ingin bersama dengannya, saling mencintai, dan mengakhiri hidup dengan kebahagiaan untuk selamanya.
Versi kecilnya, seperti saat Red dan Yellow melihat matahari untuk terakhir kalinya pada Januari 2011 ini.
Ada pertanyaan?
Berlanjut...
Bagian 14 selesai. Satu hari, satu drabble, namun karena di buku aslinya tak tercetak semua 31 hari di bulan Januari, jadi aku ikut buku apa adanya saja.
Perhatian, cerita ini mendekati akhir...
Kripik jaran...
RWD, keluar.
