Bagian 15: Mencintaimu atau Melupakanmu, Sekali Lagi?
The end... (?)
1.
Tentangmu dan Pertanyaan yang Belum Usai
Tentangmu dan pertanyaan-pertanyaan yang belum usai. Mungkin, inilah salah satu hal yang kusuka dari dirimu. Begitu masuk ke dalammu, ruang yang kuhuni tak serta merta benderang serupa pagi dengan pendar matahari.
Tentangmu dan pertanyaan-pertanyaan yang belum usai. Begitu masuk ke dalammu, ruang yang kudiami serpa pagi yang bermendung. Sesekali, senja hadir mendatangkan jingga yang kabur, dan bersamanya aku terbawa arus entah ke mana. Kilir yang kusisir berkelok jauh melintasi hutan-hutan dan sungai-sungai. Hulu hatimu yang kutuju masih jauh dari titik pertemuan, dan meninggalkan sisa perjalanan yang belum usai.
Tentangmu dan pertanyaan-pertanyaan yang belum usai. Malam gemetar menyapa rindu yang nanar menyapu masa lalu. Tanpa merasakannya, begitu susah menuliskan kebenarannya. Rindu yang gagu bergerak lirih dari balik punggung malam. Dan, ternyata, belum usai dan entah kapan rindu mencium titik pertemuan. Mungkin, lusa, mungkin nanti atau mungkin, terhenti di separuh perjalanan.
Telah sampai perjalanan di kening pagi. Membawa debar kerinduan di antara debur ombak, pasir putih, dan pendar matahari. Sudahkah kita saling merindukan? Inilah salah satu pertanyaan tentangmu yang belum usai, dan belum terjawab.
Selamat pagi, kamu, mata hati.
Tak perlu kamu bertanya, ini kangen atau rindu. Dua-duanya tak ada bedanya. Saat kehilangan hadir menyapa, dan merasuk dalam-dalam; dalam diam pun telanjang transparan, begitulah rindu, beginilah kangen, kubakukan; dalam dekat dalam jarak.
Masihkah kita saling merindukan? Kepadamu, pertanyaan ini kuajukan. Setelah sekian hari, sekian detik, mematri jejak kita di sekian kilometer perjalanan rasa dan ruang penantian.
Masihkah kita sebagai pasangan hati yang saling menanti kepastian? Jika iya, beriku secarik tanda, atau dekaplah aku seketika saat pertemuan menitiknyata di bawah gerimis, senja dan kerling mata manja.
Dan, tiba-tiba, kita berpelukan menghapus kenangan lama.
Cinta mereka memang kompleks.
Bertemu – belajar – selesai.
Bertemu – disembuhkan – selesai.
Bertemu – dirahasiakan – dibuka – pembatuan – ditunda.
Pembebasan – bertemu.
Dan tetap saja, masih banyak potensi yang masih tidak diketahui tentang mereka. Tentang isi pikiran Red yang sebenarnya, tentang usaha Yellow berikutnya, dan tentang potensi mereka untuk bersatu.
Kesimpulannya, pada akhirnya, kita masih memakai teori lama untuk memaknai cinta mereka. Cinta yang mengencang dan mengendur bagaikan benang merah takdir.
Entah sampai kapan...
5.
Permisi
Aku merindukanmu tanpa permisi
Aku butuh segera bertemu kamu dengan permisi.
Bolehkah? Permisi...
Permisi, bolehkah aku merindukanmu berkali-kali sampai tak kenal perkalian lagi? Permisi...
Permisi, aku mau menengok isi hatimu sekali lagi; apakah aku ada di sana sebagai yang kamu nanti? Permisi...
Yellow's POV
Di sebuah kerajaan yang besar dan indah, aku lahir, hidup, dan berkembang. Aku punya banyak teman dari berbagai latar belakang karena bakatku. Aku sering menggambar. Segala sesuatu dapat kugambar. Sampai suatu hari, Raja Green memanggilku.
"Apakah kamu Amarillo del Bosque Verde?"
"Ya, Yang Mulia,"
"Saya punya tugas denganmu. Tolong gambarkan Pangeran Red sesuai apa saja yang kauketahui. Saya tahu kau berteman dengannya. Saya ingin tahu bagaimana Pangeran Red dalam masyarakat, melalui gambarmu,"
"Siap, Yang Mulia. Permisi, saya ingin menuju Pangeran Red untuk meminta izin padanya,"
"Izin diterima," lalu aku masuk ke kamarnya.
Ya, aku memang berteman dengannya, bahkan, lebih dari itu, aku sudah menanamkan bibit-bibit cintaku, karenanya.
Karena itulah, sebuah kehormatan bisa menggambar orang yang kaucintai.
"Permisi, Red-san, bolehkah aku menggambarmu?"
7.
Dengan Telak, Aku Jatuh Cinta Kepadamu
Pernahkah kamu berpikir tentang jawaban? Ah, ternyata yang namanya jawaban itu tidak selalu lugas dan tegas, Kadang, hanya berbentuk seperti tanda yang diam dan hening, seperti halnya cintaku kepadamu.
Aku jatuh cinta kepadamu dengan telak. Kamu akan tahu kebenarannya, kelak. Kelak, saat waktu berpihak kepadamu; menyuguhkan arti ketulusan cinta itu. Terlambat atau tidak, atu tak tahu.
Mungkin, aku bukan lagi orang yang sama saat kamu menyadarinya. Tahu-tahu, kita terlambat untuk bersama atas nama cinta.
Maka, bacalah setiap tanda yang tercermin dari kata dan gerak tubuhku. Bahwa, dengan telak aku jatuh cinta kepadamu. Dan, kamu tak lagi butuh kata "kelak" untuk menemukan jawaban itu; sebelum semua terlambat di lipatan waktu.
-Sebuah tulisan curhat dan harapan Yellow terhadap Red-
Red-san, please stop being so dense.
8.
Benar atau Salah, Aku Mencintaimu
Aku berpikir untuk tidak berpikir tentangmu. Maaf, aku tak mampu.
Aku berpikir untuk tidak menantimu. Maaf, aku menunggu
Aku berpikir untuk tidak mencintaimu. Maaf, aku terlanjur jatuh cinta; kepadamu.
Aku berpikir untuk tidak terburu-buru. Maaf, aku tergopoh merindukanmu.
Aku pikir, rasaku telah bugil bulat: aku mencintaimu tanpa ini itu.
Karena aku mencintaimu, benar atau salah!
Tambahan...
"Aku mencintaimu tanpa memperhatikan fisik, kekayaan, kelebihan, kekurangan, usia, golongan darah, gelar akademik maupun kebangsawanan, dan apapun itu..."
Karena Red mencintai Yellow, benar atau salah.
Karena Yellow mencintai Red, benar atau salah.
14.
Bahagia Bersamamu
Hari dan tahun yang berulang, menyisir tak henti di garis waktu. Dan, aku ingin berbahagia berulang-ulang bersamamu.
Tak terbilang satu cintaku yangmemanah palung hatimu. Tak terbilang setiap rinduku yang meletupkan napas keundahan di tapal batas penantianku, menunggumu.
Di pusat badai rasaku, kamu adalah jawaban perjalanan ketabahan yang menguras kewarasan, juga ingkar logika. Satu detik yang berlalu adalah buncah getar yang gemetar, demi dan atas nama keakuan perasaan; utuh tulus untuk bisa bersamamu.
Maka, peluklah aku sekarang, dan jangan pernah lepaskan! Karena hatiku telah jatuh tepat sasaran; kepadamu. Bersamamu akan kucari kebahagiaan itu.
Red's POV
Itulah yang kami lakukan saat ini, saling berpelukan dengan Yellow. Perempuan yang telah memberikanku berbagai kejutan dan kegembiraan, tak perlu disebut kalau dia adalah penyembuh yang hebat.
Yellow's POV
Akhirnya, setelah selama ini, aku bisa memeluk Red-san dalam waktu yang sangat lama. Ini memang membutuhkan perjuangan yang teramat keras dan kadang menyakitkan.
Dimulai dari hampir diserang Dratini, harus merawat Red-san setelah pertarungannya dengan Giovanni, kisah penyelamatan yang kulakukan saat dia menghilang, dan segala yang kami lakukan sampai kami terbebas dari pembatuan.
Bahkan sampai orang-orang menganggapku gila karena aku hanya memikirkanmu, Red-san. Tapi semuanya pantas, terlihat dari apa yang kulakukan dan kurasakan saat ini.
Red's POV and Yellow's POV in the same time
Karena kaulah, aku berkembang. Karena kaulah aku lebih kuat. Karena kaulah aku memahami dunia lebih luas. Karena kaulah kebahagiaanku datang dan menetap.
Karena kaulah, aku bisa merasakan cinta sejati...
I love you, Red...
I love you, Yellow...
Bagian 15, selesai, dan bagian inti Dear You selesai. Kurang 1 epilog, dan aku selesai. Memang dikarenakan bagian terakhir buku itu singkat, jadi bagian ini juga singkat.
Di luar cerita...
Blue's POV
"Akhirnya, selesai juga!" seruku, meregangkan tubuhku. Melihat hasil ketikanku. Aku sekalian mengebut banyak bagian, karena aku punya misi untuk besok.
Aku melihat internet, dan melihat situs pemesanan tiket online, dan dengan senyumanku, sambil melihat tulisan bahwa pembayaran tiket pesawat untuk 14 orang sukses, aku melihat tujuan dan waktu sampainya.
"Kanto – Palembang, March 1, 2016, 04.30 UTC"
"Red, Yellow, kalian akan bersatu, segera..." lalu keluarlah tertawaan kejam lagi kejiku, memenuhi seluruh ruangan.
hehhehehehehehehehehehahhahahahahahahahahHAHAHAHAHAHAHAHAHAAAHAAHAAAA!
"HEI, DIAM KAU, GADIS SI**AN!"
RWD, keluar... (?)
