"Kemana aja?"
Eunra sedikit kaget ketika sesuatu yang dingin menyentuh pipinya. Ternyata itu Donghae, dengan sekaleng soda di tangannya. Eunra langsung mengambilnya tanpa bertanya minuman untuk siapa itu, dan ia menenggaknya."Bikin kaget aja sih lu."
"Gua kira lu di lapangan," kata Donghae, dan ia duduk di sebelah Eunra. "Tadi sih iya," jawab Eunra.
"Gimana rasanya sekelas sama Yifan? Ngelihat pemandangan seorang idol sama sasaeng fans?" tanya Eunra, dan ia langsung tertawa heboh. Donghae juga tertawa dan ia mengangguk, "Lihat! 'oppa, oppa!'" tirunya, dan mereka berdua langsung tertawa.
"Gua denger."
Mereka berdua menoleh ke belakang, dan tepat di belakang mereka, Yifan sedang menaruh nampan makanannya di meja kantin tempat mereka duduk. Donghae langsung menatap sekeliling, meja kantin yang lain benar-benar penuh dan satu-satunya meja yang kosong hanyalah yang mereka duduki itu.
Jelas mereka shock banget! Baru aja ngetawain dan ngomongin orang, tiba-tiba orang itu muncul di belakang mereka. Sekilas Yifan memberi glare pada mereka, namun sekarang ia sudah makan dengan cuek.
"Sori!" gumam Eunra. Ia dan Donghae pun bangkit berdiri dan siap-siap pergi. Yifan hanya melirik mereka berdua dengan dingin.
Berani banget ngomongin orang… kuping gua panas dari tadi dengerin mereka.
…
Hari ini hari Kamis, jadi tidak ada kegiatan klub. Seharian hanya diisi dengan pelajaran dan pelajaran. Bagi Eunra hari ini sangat bosan meski ini baru pelajaran kedua, karena sama sekali tidak ada klub. Ia melirik ke depan kelas, dan Donghae sedang tertidur di mejanya. Ia yakin sebentar lagi gurunya akan sadar kalau ada satu muridnya yang tertidur.
Donghae dan Eunra memang berada di satu kelas. Kelas biologi dan kelas matematika mereka hanyalah kelas optional yang bebas mau diambil kapan saja, tapi dasarnya mereka berdua tetap murid kelas 10-A. Gangnam High School memang unik, murid bebas mau mengambil pelajaran apapun dan kapanpun asal masih di jam pelajaran. Jadi mungkin saja kalau seorang anak kelas sepuluh mengambil pelajaran kelas sepuluh sekaligus sebelas dan lulus terlebih dahulu. Hanya saja sekarang wali kelas mereka mengambil jam pelajaran dan memaksa muridnya untuk mengikuti briefing. Tak terasa sekolah sudah seminggu, dan sejak hari Yifan tersenyum, klub diliburkan karena tidak ada yang melatih. Jadilah mereka berlatih sendiri di lapangan, tapi Eunra memutuskan untuk mengambil kelas fisika lebih banyak.
Tepat sebulan setelah hari pertama masuk sekolah, Gangnam High School akan mengadakan pentas seni bertema 'Monochrome'. Akan ada banyak murid dari sekolah lain yang berkunjung, dan klub-klub seperti dance akan mempertunjukkan sesuatu.
Dan bagusnya, akan ada banyak kompetisi!
Kompetisi seperti futsal dan basket akan diadakan, namun satu tim hanya boleh berasal dari kelas yang sama. Setiap kelas akan ditandingkan (tapi hanya kelas 10 dan 11) dan akan ditentukan tiga pemenang. Bahkan kadang kelas yang menang akan diberi hadiah dari sekolah.
Untuk 10-A, rencananya pemilihan delapan peserta lomba akan dilakukan oleh ketua kelas –Park Jungsoo– saat istirahat, tapi Eunra sendiri sudah melakukan ikut basket kemungkinan dirinya, Donghae, Sunyoung, dan sebagian anak cowok yang menurutnya lumayan dalam olahraga. Intinya, Eunra excited banget soal kompetisinya!
…
"Permisi…"
Wakil ketua OSIS, Kwon Jiyong, berjalan memasuki kelas 10-A dan terlihat berbicara dengan sang wali kelas sejenak. Setelah wali kelas mengangguk, ia langsung berteriak. "Satu orang perwakilan buat tanding basket nanti siapa?"
Beberapa anak langsung spontan memanggil Eunra, dan Eunra yang sedari tadi tiduran di meja mengangkat wajahnya. "Heh?" mukanya benar-benar kusam karena ia baru saja tidur.
"Nah, Kim Eunra!" Jiyong berjalan ke mejanya, lalu menyerahkan sebuah plastik yang berisi kertas yang digulung-gulung. "Ini apaan, sunbae?" tanya Eunra yang sebenarnya hanya setengah sadar.
"Nomor urutan basket," jawab Jiyong sekenanya. Eunra langsung mengulurkan tangannya masuk, dan mengambil satu kertas. Ia membacanya, lalu menyerahkannya lagi pada Jiyong. Jiyong membacanya juga, lalu menuliskan sesuatu di catatannya. "Oke… Sekarang siapa perwakilan futsal?"
Eunra sendiri sudah kembali tiduran di meja, matanya nggak bisa diajak kompromi. Dari depan Donghae berteriak padanya, "Woi, Eunra-ya! Urutan berapa?"
"Hah? Urutan?" Eunra tiba-tiba bangun, dengan mata merah melototnya ia menatap lurus ke Donghae. Donghae mengangkat satu alisnya bingung, sedangkan satu kelas sudah berdebar-debar, apalagi yang akan mengikuti basket. "Kertas yang lu ambil tadi ditulisin angka berapa?"
"Satu….."
Dan Eunra harus persiapan mental buat nggak digebukin sekelas.
…
"Emang kenapa sih kalo pertama…." desah Eunra. Donghae, ia dan Sunyoung sedang berjalan di kantin, setelah seluruh kelas menyerukannya karena nggak hoki dengan mengambil nomor urutan satu.
"Nggak kenapa-kenapa sih, tapi kan nggak enak! Baru mulai kompetisi tapi kita udah harus langsung tanding, nggak ada waktu buat persiapan dulu," jawab Donghae, lalu ia menjitak Eunra. Sunyoung sendiri hanya minum dengan kalem, lalu menyambung omongan Donghae, "Gua setuju. Lagian biasanya urutan pertama itu nggak hoki."
Eunra duduk di bench depan dapur sekolah, lalu berkata, "Alasan kalian itu nggak logis…. Malah kalo urutan pertama lawan kita nggak berat-berat amat!" kilah Eunra, tapi Donghae langsung mengerutkan alisnya. "Nggak berat apanya? Lawan kita langsung kelas 11-C! Kelasnya Yonghwa sunbae, tau nggak?!"
"Ya… sesekali lawan kakak kelas dulu…" gumam Eunra, dan Donghae hanya bisa menghela napas. Sunyoung malah cekikikan dan menyodorkan jus lecinya yang tadi dibeli di kantin. "Nih, minum aja. Kayaknya lu capek."
"Aaaah, akhirnya ada satuuu orang yang pengertian sama gua! Thanks!" Eunra langsung mengambilnya dan menenggaknya sampai setengah. Ia mengelap mulutnya yang basah dan memberikan gelas plastik itu pada Sunyoung lagi. Sunyoung mengintip isinya dan langsung cengo. "Lu ini haus atau napsu?"
"Dua-duanya," Eunra langsung nyengir polos dan Sunyoung serta Donghae menjitaknya pelan. Eunra langsung mengaduh, dan kebetulan Sunye, guru musik mereka melewati mereka. "Ini kalian sedang apa?" tanyanya bingung, dan mereka bertiga langsung bersikap sok ramah. "Halo seonsaeng… tadi kita cuma bercanda, kok!"
"Terserah, lebih baik kalian bantu saya saja. Taruh ini di kelas 10-C," ia memberikan Donghae sefolder daftar nilai yang kelihatan sangat berat dan penuh. Donghae menerimanya (dengan ogah-ogahan), dan mengangguk. "Iya, seonsaeng."
Sunye Seonsaeng berlalu dari hadapan mereka, dan mereka bertiga langsung bangkit berdiri menuju lantai dua. Donghae benar-benar keberatan dengan kertas-kertas itu, tapi di antara Eunra dan Sunyoung sama sekali tidak ada yang mau membantunya. Namun pada akhirnya Sunyoung bersedia membawakan setengah ketika Donghae terlihat sangat keberatan. Masa Sunye Seonsaeng kuat bawa segini berat, sih? Yang gua bawa aja sekarang cuma setengahnya, pikir Donghae.
Eunra sendiri masih nggak mau bawa, memang dasar cewek berat tangan. Dengan merdeka ia berlari menaiki tangga menuju lantai dua, dan berteriak kepada Donghae dan Sunyoung. "Cepetan dong!"
"Lu… nggak… usah… ribut!" dengan terengah-engah Donghae membalas. Eunra sendiri hanya nyengir, ia malah memandangi kerumunan anak di depan papan pengumuman lantai dua. Sebagian besar cowok, dan mereka berjinjit untuk melihat papan itu. Eunra penasaran, ada apaan sih? Ia berjalan menuju papan itu, dan sepertinya mereka membicarakan kompetisi beberapa minggu lagi.
"Yaaah, lu mah beruntung doang!" terdengar suara Zitao berteriak dari tengah koridor, lalu disambung dengan tawa Yifan dan Luhan. Eunra berjinjit, dan ternyata mereka bertiga sedang berjalan ke arah papan pengumuman.
"Harapkan aja gua menang," sekarang terdengar suara Yifan, lalu Luhan menyahut, "Pasti menanglah kita! Lawan kita aja kelas 10-C doang, nggak ada apa-apanya."
Yifan hanya tersenyum kecil, lalu ia mengintip papan pengumuman itu. Terlihat beberapa cewek kelasnya (10-D) mengobrol dengannya, dan respon Yifan juga lumayan ramah. Jadi ini alasan dia punya banyak fans, eh? Batin Eunra.
"Menurut lu 10-A bakal menang ga?" tiba-tiba pembicaraan mereka menyangkut kelas Eunra –mungkin karena mereka melihat nama di tim pertama– jadi Eunra ikut mendengarkan. Yifan hanya menjawab dengan datar. "Mungkin. Kan ada cewek MVP itu."
Deg! Eunra kaget mendengarnya, dan ia masih menatap mereka. Yifan sendiri tanpa sengaja bertemu dengan matanya selama beberapa detik, namun sepertinya Yifan cuek dan berlanjut dengan percakapannya bersama teman-temannya.
"Heh, ngapain di sini?" Donghae menarik tangan Eunra keluar, dan Eunra tentu saja kaget. Donghae dan Sunyoung sepertinya sudah menaruh file-file itu di kelas 10-C. Eunra menatapnya sebal. "Kaget, tau. Suka banget sih bikin orang kaget…"
"Masuk ke kelas, yuk!" kata Sunyoung, dan mereka bertiga berjalan ke kelas.
Sebenarnya Yifan masih menatap penasaran Eunra yang sekarang sudah masuk ke kelasnya. Itu Lee Donghae, ya? Dia pacaran sama MVP, ya?
…
"Woi, Ahri!"
Ahri yang sejak lima menit yang lalu duduk manis di kursi kantin menoleh ketika seseorang memanggilnya, dan ternyata itu Eunra. Ahri langsung tersenyum senang dan menepuk kursi di sebelahnya untuk Eunra duduk. Ia memang meminta Eunra untuk menemuinya pada jam istirahat kedua di kantin, karena ia ingin menyampaikan sesuatu.
"Kenapa ngundang gua kesini?" tanya Eunra, namun ia melihat amplop pink yang menyembul dari tangan kiri Ahri yang disembunyikan. "Waduh, lu mau nyatain cinta ke gua?" canda Eunra dengan tampang sok kaget.
Ahri tertawa pelan lalu memukul lengan Eunra. "Jelas enggaklah! Bener aku mau nyatain cinta, tapi bukan ke kamu," kata Ahri. Eunra langsung menjadi penasaran. "Jadi?"
"Sini!" Ahri memberi kode pada Eunra untuk berbisik, dan Eunra mendekatkan telinganya. "Jadi aku mau minta bantuan kamu buat ngasih surat ini ke Yifan… boleh kan?"
"Surat apaan?! Surat cinta?!" jawab Eunra, ia kelewat excited. Ahri langsung mendesis menyuruhnya diam, dan Eunra mengangguk. "Iya, iya. Sini, kasih ke gua dulu suratnya."
Pelan-pelan Ahri mengambil surat itu, dan langsung Eunra lihat sampulnya. Warnanya merah muda dan kelihatannya surat itu bener-bener dipersiapkan, tapi tidak ada nama pengirim. Hanya ada tulisan 'S.A.R&W.Y.F' di ujungnya, mungkin itu Song Ahri dan Wu Yifan.
"Lucu," komentar Eunra singkat. Ia menaruh surat itu di kantong hoodienya, dan bangkit berdiri. "Bentar ya, gua beli minum. Mau nitip nggak?" dan Ahri menggeleng.
Meskipun Ahri bilang ia tidak mau minum, tapi Eunra merasa agak menyesal membuatnya menunggu selama beberapa menit karena ia malah asyik main basket dengan Donghae, Yonghwa sunbae dan Sunyoung. Jadi Eunra memutuskan untuk mentraktirnya. Ia berjalan ke vending machine, lalu memasukkan beberapa won dan keluarlah dua kaleng soda jeruk.
Eunra berjalan ke arah Ahri dan menyodorkan soda itu, namun langsung ditolak Ahri dengan gelengan manis. "Sori, aku nggak bisa minum soda. Lambungku lemah," katanya, dan Eunra langsung melengos. Ahri menatapnya bersalah dan berkata, "Jadi sodanya diapain?"
"Terserah lu sih," jawab Eunra, meskipun dia agak kesal tapi dia nggak bisa memaksa Ahri minum. Dia kan anak orang, kalau nantinya malah sakit gimana? Tapi tiba-tiba Eunra terpikirkan Yonghwa, yang jelas-jelas suka Ahri. "Gimana kalau kasih ke orang aja?"
"Eh? Maksud kamu Yifan?" tanya Ahri senang, tapi Eunra langsung menggeleng. Ia menarik tangan Ahri keluar kantin, dan dengan bingung Ahri mengikuti Eunra. Rupanya Eunra membawanya ke arah lapangan, dan Ahri langsung bertanya, "Yifan lagi main basket, jadi kamu ajak aku kesini ya?"
Eunra kembali menggeleng. Tadi kan ia main basket juga, dan Yonghwa terlihat sangat lelah karena terus-terusan berlatih shoot dari tengah lapangan. "Dia lebih butuh ini daripada Yifan."
"Dia siapa?" tanya Ahri, namun Eunra langsung menaruh soda itu di tangan Ahri dan mendorongnya ke tengah lapangan. Saat dilihatnya, di lapangan hanya ada Donghae, Sunyoung dan Yonghwa. Apa sih maksud Eunra? Batinnya.
Diam-diam di belakang Ahri, Eunra memberi tanda bagi Yonghwa untuk mendekat. Yonghwa yang masih memegang bola basket sedikit bingung, namun bola yang dipegangnya terjatuh seketika ketika ia melihat Ahri dengan wajah polos dan manis, memegang sekaleng soda jeruk dingin. Sungguh seperti oase di tengah gurun…
Yonghwa berjalan maju, mengikuti komando Eunra. Ahri sendiri masih bingung ketika Yonghwa tiba-tiba mendekatinya. "Ha-hai, Ahri," sapa Yonghwa gugup.
Eunra langsung mendorong punggung Ahri dan seketika ia berlari ke tengah lapangan, mengikuti Donghae dan Sunyoung yang juga sedang menonton telenovela live itu. Ahri terlihat sedikit bingung, tapi ia melihat Yonghwa yang sepertinya kelelahan dan ia menyodorkan soda itu. "Sunbae, kayaknya sunbae capek banget. Ini punyaku, daripada nggak aku minum lebih baik buat sunbae."
"Hah? Buat aku?" tanya Yonghwa, ia berusaha bersikap biasa saja tapi tetap saja ia benar-benar kelihatan nervous. Ahri mengangguk senang. "Diterima dong, sunbae. Kalo nggak diterima kan aku sedih,"
Yonghwa menggaruk kepalanya gugup, lalu tertawa pelan dan mengambil soda itu. "Makasih, ya."
Ahri mengangguk dan tersenyum, "Sama-sama, sunbae! Eh, tadi sunbae latihan shoot ya? Aku nonton, dong!"
Dari kejauhan, trio Donghae-Sunyoung-Eunra menontoni mereka sambil cekikikan. Dalam hati, Donghae dan Sunyoung berpikir 'Eunra pinter juga ya!'
"Lu bakat jadi mak comblang," canda Donghae pada Eunra, dan Eunra langsung menepuk bangga dadanya sendiri.
Di lapangan, Ahri sedang bersorak senang ketika Yonghwa berhasil memasukkan bola basketnya ke dalam ring dari tengah lapangan. Yonghwa juga tersenyum senang dan kembali mengambil bola itu.
Tawa pelan Ahri memudar. Ia tahu alasan Eunra membawanya kesini… ia tahu alasan kenapa ia berada disini… tapi ia tak tahu apa dia bisa membalas perasaan itu.
…
Yonghwa nggak pernah ngerasain yang namanya takut sama cewek. Biasanya dengan seenak jidat dia ngajak orang ngedate. Nggak peduli kakak kelas, adek kelas, temen sebaya, temen beda sekolah, anak tetanggapun dijabanin.
Tapi masa sama satu cewek aja dia nervousnya setengah mati?
Ia membanting bola basketnya ke tanah, lalu bola itu memantul tinggi dan kembali lagi. Terbanting keras-keras lagi ke tanah, lalu melambung tinggi lagi. Begitu terus sampai akhirnya bola itu berhenti bergerak.
Yonghwa bangkit berdiri, lalu berjalan ke tengah lapangan dan mengambil bola itu. Ia men-dribblenya pelan. Sejak dulu, sebenarnya semua cewek yang kencan dengannya hanyalah pelampiasan karena Song Ahri yang disukainya nggak pernah menunjukkan tanda-tanda. Ahri malah digosipkan suka dengan Wu Yifan, cowok populer yang jelas-jelas cuma adik kelasnya.
"Gua kasihan, ya?" gumam Yonghwa pelan, lalu melempar bola itu masuk ke keranjang bola di lobby –dan bola itu masuk dengan sukses. Ia menatap bola yang sekarang sedikit memantul itu dalam diam.
Tiba-tiba dari dalam sekolah, Eunra muncul dan ia berjalan menuju pinggir lapangan. Ia mengadahkan tangannya ke langit, dan Eunra celingukan menatap langit. "Yah, hujan…"
Yonghwa sendiri terlalu sibuk dengan pikirannya sampai ia baru sadar kalau sekarang hujan gerimis. Ketika Eunra sadar kalau ada Yonghwa di tengah lapangan, ia langsung berteriak, "Woi! Lu gila? Udah tau ujan malah diem-diem aja…"
"Iya, iya! Gua masuk!" dengan kesal karena diejek gila, Yonghwa berjalan masuk ke lobby dan duduk di samping Eunra. Eunra sendiri dengan bete sudah duduk diam di bench.
"Kenapa?" tanyanya, dan Eunra langsung menunjuk langit. "Tuh. Baru aja mau latihan, eh udah hujan."
Yonghwa hanya tersenyum kecil. Eunra langsung menyikutnya, "Gimana soal Ahri? Ada kemajuan?" dan Yonghwa hanya menggeleng lemas. Eunra langsung melengos. "Ajak dia kencan, dong!"
Yonghwa menatap Eunra tajam. "Emang gampang ngajak orang kencan…" lalu ia mengalihkan pandangannya ke lapangan yang sekarang sudah diguyur hujan deras. Eunra sendiri bingung harus menjawab apa, namun tiba-tiba ia menjentikkan jarinya. "Paling enggak terus terang dulu aja ke dia kalo lu suka…"
"Gua takut… kalo misalnya nanti dia jadi benci gua atau menghindari gua. Kalo misalnya dia juga suka sih bagus… tapi kalo enggak?" balas Yonghwa. Ini kenapa jadi melow sih, batin Eunra yang nggak tahu gimana caranya mengubah suasana.
Mereka berdua akhirnya terdiam, namun sikutan Eunra memecah keheningan. "Woi, udah siap belum tanding basket sama kelas gua?" dan Yonghwa mengangguk. "Udah dong!" sepertinya moodnya kembali.
"Jangan nangis ya kalo gua bantai skornya!" tantang Eunra, dan Yonghwa meliriknya. "Yang harus bilang kayak gitu itu gua!"
