Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto

Story by Ichihara Sakura

Pairing : Sasuke U & Sakura H

Warning : OOC, typo, gaje, dan kekurangan lainnya.

Disarankan membaca fict ini sambil mendengarkan lagu "Good Time" dari Owl City feat Carly Rae Jepsen setelah tanda *Music ON*

Uchiha Hinata menatap lembut putri kecilnya yang kini tengah tertidur pulas. Wajah damai putri kecilnya, Hikari, membuatnya tak tahan untuk tak menyunggingkan senyuman. Sungguh ia sangat menyayangi putrinya ini. Teringat akan sesuatu, air mata Hinata perlahan jatuh dan mengenai pipi putri semata wayangnya. Takut putrinya terbangun, Hinatapun beranjak pergi menuju kamarnya -bersama Sasuke-.

[Hinata PoV's] Aku membuka pintu kamarku pelan, takut mengganggu tidur suamiku, Sasuke. Namun, nihil. Sasuke-kun tidak ada di ranjang. Dan kalau sudah begini, aku sudah tau kalau ia pasti tidak akan tidur bersamaku. Darimana aku tau? Tentu saja aku tau, karna sudah 3 bulan ini Sasuke-kun tak tidur bersamaku. Selama 3 bulan ini, ia lebih sering tidur di kamar tamu. Aku tak tau apa alasannya, dan aku pun tak berani menanyakan alasannya. Toh akupun tak terlalu peduli. Aku dan dia menjalani pernikahan ini bukan karna cinta, melainkan karna perjodohan dan sesuatu yang harus dilakukan untuk menutupi aib keluargaku. Semua yang kulakukan untuknya pun hanya untuk menunaikan kewajibanku sebagai istri, begitupun sebaliknya. Dan aku pun bertahan hanya demi Hikari. Ia masih membutuhkan sosok ayah diumurnya sekarang. [End Hinata PoV's]

Hinata menangis tanpa suara mengingat perihal rumah tangganya dan masa lalunya yang ia tutupi. Ia terus menangis, hingga lelah dan tanpa sadar dirinya terlelap dengan sendirinya.

Haruno Sakura tengah menatap replika dirinya didepan cermin, saat ini Sakura terlihat cantik dengan dress selututnya yang berwarna peach dan bermotif bunga sakura. Rambut panjangnya yang ikal menggantung dibiarkannya tergerai indah, tangan kanannya dihiasi jam tangan vintage berwarna coklat, sedangkan kakinya dibalut dengan wedges setinggi 7cm. Tak lupa, cincin pertunangannya yang bertengger manis di jari manis kirinya. Sungguh, penampilan Sakura saat ini sangat sempurna.

Dirinya kini akan bertemu dengan tunangannya, Gaara. Ia ingin memberi Gaara surprise, seperti yang dikatakannya kemarin pada Ino.

Diliriknya jam dinding yang bertengger manis di apartment-nya, waktu menunjukkan pukul 15.00. Langsung saja Sakura bergegas menemui Gaara di apartmentnya, di sekitar pusat kota.

Sakura berjalan mantap di lorong apartment yang ditinggali tunangannya. Namun, langkahnya terhenti ketika ia sampai di depan pintu nomor 215, pintu apartment Gaara.

Tok Tok Tok

Sakura mengetuk perlahan pintu apartment Gaara, dirinya sudah siap menampilkan senyum cerianya sebelum—

"Sakura"

—seorang pria dan wanita berdiri dihadapannya, si wanita berambut coklat sebahu dengan lancangnya bergelayut manja di lengan sang pria berambut merah.

Sakura membulatkan matanya tak percaya, seketika air matanya jatuh. Ia tak menyangka, sungguh tak menyangka. Pria yang dicintainya saat ini berselingkuh, dan ketika itu pula—

"Siapa dia anata?"

—si wanita berambut coklat bertanya sembari mencium lembut bibir Gaara.

Setelah tersadar dari shock-nya, "Se-sepertinya aku men-mengganggu. Le-lebih baik, a-aku pergi. Terima kasih untuk semuanya." Sakura mengatakannya, sembari melepas cincin yang tersemat di jari manis kirinya, dan memberikannya pada Gaara. Setelahnya, ia berlari dari apartment Gaara sambil menangis.

Sakura berlari tak tentu arah, tak mempedulikan orang-orang yang menatapnya.

Sampai—

"Aduh!"

—ia menabrak orang itu.

Orang yang dikasihinya, orang yang dirindukannya, dan orang yang mungkin—

"Sasuke-kun..."

"Sakuraa..."

—masih dicintainya.

Sakura menatap tak percaya sosok yang ada di hadapannya, ditelusurinya wajah orang itu. Semuanya masih sama, masih seperti 4 tahun lalu. Paras tampannya, sorot tajamnya, dan iris itu, iris sehitam jelaga yang selalu menariknya, dalam.

"Sakuraa, kau...sudah kembali?" Setelah cukup lama saling bertatapan, Sasuke memecah keheningan yang tercipta diantara mereka.

"Y-ya a-aku baru kembali ke-kemarin" kata Sakura yang entah kenapa menjadi gugup.

"Lalu? Kenapa kau menangis?" tanya Sasuke.

"Ehm, sepertinya tidak enak kalau kita bicara ditengah jalan seperti ini. Bagaimana kalau kita ke mobilku?" Lanjut Sasuke seraya menggengam tangan Sakura untuk ikut bersamanya menuju parkiran Taman Konoha. Sedangkan yang digenggam hanya diam mengikuti kemana si empunya tangan membawanya.

"Jadi?" Sasuke membuka percakapan setelah mereka —Sasuke dan Sakura— sampai didalam mobil Sasuke.

Sakura menoleh kearah Sasuke, seraya menaikkan sebelah alisnya bingung.

"Kenapa kau berlarian dijalan dan...menangis?"tanya Sasuke. Sungguh, baru kali ini dirinya merasa sangat ingin tahu kehidupan orang lain.

"Aku..." ucapan Sakura terputus akibat tangis yang tiba-tiba kembali pecah.

Sasuke panik ketika dilihatnya Sakura yang tiba-tiba menangis, dirinya refleks langsung memeluk Sakura yang masih terisak.

"Mungkin kau masih belum tenang, kau ingin pergi keluar kota untuk menenangkan diri? Kebetulan aku ada vila di daerah kepulauan Izu." kata Sasuke masih sambil memeluk Sakura.

Sakura hanya mengangguk dipelukan Sasuke. Sesaat setelahnya, Sakura melepaskan diri dari pelukan Sasuke.

"Maaf sudah merepotkanmu Sasuke-kun" kata Sakura masih dengan suara parau.

Sedangkan Sasuke hanya tersenyum tipis dan mengangguk.

"Sebaiknya kau tidur, mungkin kau bisa lebih tenang setelahnya." ucap Sasuke sambil menyalakan dan menjalankan mobilnya.

5jam perjalanan mereka lewati dalam sunyi. Sakura masih tertidur pulas, sedangkan Sasuke masih fokus menyetir. Meski tak dapat dipungkiri, sesekali Sasuke melirik wajah tidur Sakura yang sangat ayu. Seperti saat ini, dirinya tengah memperhatikan wajah tidur Sakura sambil tersenyum tipis, hingga tak sadar bahwa ada seekor kucing yang melintas tiba-tiba. Sasuke yang kaget refleks membanting setir ke arah kanan. Untungnya, sebelum menabrak pohon yang ada dihadapannya, ban mobil bagian kanan Sasuke masuk kedalam lubang besar.

Hal itu tentu saja menggangu tidur Sakura hingga ia terbangun.

"Engh~ Sasuke-kun, apa yang terjadi?"

"Sakuraa, maaf aku tak fokus hingga harus banting setir dan membangunkanmu." jelas Sasuke merasa bersalah.

"Nani? Lalu bagaimana Sasuke-kun? Apakah ada yang cedera? Kepalamu tak terbenturkan?" ujar Sakura panik.

"Haha tidak Sakura, aku tidak apa-apa. Justru harusnya aku yang bertanya seperti itu" kata Sasuke sembari terkekeh.

"Gomen ne Sasuke-kun, aku tidur terlalu pulas hingga tak membantumu memperhatikan jalan." ujar Sakura menyesal.

"Tak apa Sakura, aku juga minta maaf karna mengganggu tidurmu" kata Sasuke lembut, sungguh sangat berbeda dengan kepribadian aslinya didepan semua orang.

"Lalu? Bagaimana Sasuke-kun? Hari sudah mulai gelap, dan kita terjebak disini. Kita harus bagaimana? Apa tak ada bala bantuan?" tanya Sakura bingung.

"Terpaksa kita harus menunggu Sakura. Perjalanan ke villaku masih sangat jauh, dan tak bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Saat ini aku tak bisa menghubungi seseorang, handphone-ku mati. Bagaimana dengan handphone-mu? Apa masih bisa digunakan?" kata Sasuke, sesungguhnya ia sangat berharap bisa lebih lama bersama Sakura.

"Handphone-ku juga mati Sasuke-kun, bagaimana ini? Apa kita benar-benar harus bermalam disini?" tanya Sakura khawatir.

"Hmm, bagaimana kalau kita pergi ke kedai yang ada di dekat sini? Mungkin disana kita bisa mencari bantuan? Atau membahas masalahmu mungkin?" tanya Sasuke agak ragu, biar bagaimanapun dia merasa tidak enak telah merasa penasaran pada masalah pribadi orang lain.

"Hmm, ide bagus! Daripada kita hanya berdiam disini?! Ayo Sasuke-kun!" ujar Sakura ceria, sembari bersiap keluar mobil. Entah kenapa bersama Sasuke ia merasa masalahnya menghilang.

Sakura dan Sasuke berjalan beriringan menuju kedai yang dimaksud Sasuke, diperjalanan sesekali mereka saling tatap hingga tak sadar terdapat rona merah menjalar dikedua pipi mereka. Untung saja ini malam hari, jadi rona merah itu tak terlihat.

Setelah sekitar 1menit berjalan, akhirnya mereka sampai di kedai yang mereka tuju. Mereka duduk tepat di meja bar, didepan seorang bartender yang sedang bekerja. Kedai tersebut menjual minuman beralkohol rendah. Sakura memesan 1 gelas wiski sedangkan Sasuke memesan 1 botol bir jenis stout. Mereka menunggu pesanan sembari mengobrol.

"Kau suka minum?" tanya Sasuke penasaran. Karna setau Sasuke, Sakura termasuk orang yang paling anti dengan minuman beralkohol seperti ini.

"Beberapa kali" ujar Sakura sembari tersenyum.

"Hm?" Sasuke bergumam dengan alis terangkat, ia masih belum mengerti maksud Sakura.

"Aku hanya minum-minuman seperti ini ketika ada acara tertentu saja." ungkap Sakura jujur.

"Lalu? Kenapa sekarang kau minum?" tanya Sasuke sembari meminum bir-nya.

"Entahlah, aku hanya ingin merasakan apa yang orang-orang katakan" ujar Sakura agak ragu.

"Kau tau? Banyak yg bilang kalau kita meminum minuman beralkohol kita akan merasa terbang dan merasa masalah beban kita telah terangkat." lanjut Sakura.

"Hmm yaa, kau benar. Jadi, saat ini kau sedang ada masalah, hm?" tanya Sasuke penasaran, sejujurnya, ia masih penasaran dengan penyebab Sakura yang tiba-tiba berlari sambil menangis hingga menabraknya seperti tadi.

"Ya, masalah cinta. Haha" jawab Sakura sembari tersenyum miris.

"Apa masalahnya kalau aku boleh tahu?" tanya Sasuke, lagi.

"Sasuke? Kau tak terbentur sesuatukan?" tanya balik Sakura sembari mengernyit bingung.

"Tidak, kenapa?" tanya Sasuke heran.

"Hanya saja, kau sedikit err berubah. Kau jadi lebih ingin tahu urusan orang lain." jelas Sakura kikuk.

"Benarkah? Aku sendiri juga heran sebenarnya. Aku baru kali ini merasa se-ingin tahu ini" kata Sasuke. Dia sendiripun sebenarnya baru sadar akan ke-kepo-an mendadak yang dialaminya.

"Hahaha kau aneh Sasuke. Tapi, baiklah akan ku ceritakan masalahku." ujar Sakura sambil tekekeh.

Sasuke pun tak menjawab, ia hanya diam menunggu untuk mendengarkan cerita Sakura.

"Kau tau Gaara?" tanya Sakura memulai cerita.

"Hm" gumam Sasuke, sembari meneguk beer-nya.

"6 bulan lalu, dia melamarku." ujar Sakura sambil menunduk. Menyembunyikan iris emerald-nya yang kini terlihat sendu.

"Sejujurnya, aku senang. Bahkan sangat senang, karna akhirnya kisah cintaku akan berakhir bahagia. Karna kau tau kan? Sedari dulu aku menjalin hubungan, semuanya menghianatiku." ujar Sakura sembari tersenyum getir.

"Ku fikir Gaara berbeda dengan mantan kekasihku yang sebelum-sebelumnya. Namun ternyata aku salah." Sakura mulai menitikan air mata. Sedangkan Sasuke masih diam mendengarkan sembari sesekali meminum minumannya.

"Tadi siang, ketika aku mengunjungi apartment-nya untuk memberinya kejutan, aku malah dikejutkan dengan ia yang membuka pintu apartment-nya dengan seorang wanita disampingnya. Dan yang lebih parahnya lagi, mereka hiks mereka—"

"Ssst jangan diteruskan"

Ucapan Sakura terhenti ketika Sasuke memotongnya. Sasuke-pun memeluk Sakura erat sembari memberi usapan-usapan kecil dipunggung kecil gadis itu. Sakura sendiri hanya bisa terisak di dada Sasuke.

Setelah beberapa menit berpelukan, dan merasa Sakura mulai agak tenang. Sasuke melepas pelukan mereka dan menatap Sakura lembut.

"Kau kuat Sakura, kau Sakura-ku yang kuat. Yang tidak akan menangis hanya karna di hianati oleh pemuda Sabaku brengsek itu" ucap Sasuke menenangkan. Tangannyapun menghapus jejak-jejak air mata di pipi Sakura lembut.

"Terimakasih Sasuke-kun" ucap Sakura sembari tersenyum dan memeluk Sasuke singkat.

*Music ON*

Tiba-tiba tedengar suara dari atas panggung, suara tersebut membuat sebuah alunan lagu.

[Woah-oh-oh-oh] [It's always a good time]

[Woah-oh-oh-oh]

[It's always a good time]

[Woke up on the right side of the bed]

[What's up with this Prince song inside my head?]

[Hands up if you're down to get down tonight]

['Cause it's always a good time]

"Kau ingat lagu ini Sakura? Ini lagu kesukaanmu bukan?" tanya Sasuke sembari menikmati alunan lagu.

"Yaaa, tentu saja. Aku bahkan masih sering mendengarkan lagu ini." ucap Sakura sembari tersenyum dan sesekali menggumamkan nada yang mengikuti irama lagu.

[Slept in all my clothes like I didn't care]

[Hopped into a cab, take me anywhere]

[I'm in if you're down to get down tonight]

['Cause it's always a good time]

Tanpa sadar, Sasuke mulai bernyanyi mengikuti alunan lagu.

"Hey kenapa tidak bernyanyi? Ini lagu kesukaanmukan?"

[Good Morning and Good Night a wake up its twilight.]

[Its gonna be alright]

Sakurapun tak mau kalah, dirinya juga ikut bernyanyi seperti Sasuke. Sasuke yang melihatnya tersenyum dan membiarkan Sakura menyanyi bagiannya.

[We don't even have to try] [Its always a good time!]

Mereka bernyanyi bersama hingga tak sadar mereka bernyanyi dengan suara yang lumayan keras. Membuat seluruh pengunjung menatap kearah mereka. Namun itu tak mereka hiraukan, mereka tetap bernyanyi mengikuti irama.

[Freaked out, dropped my phone in the pool again]

[Checked out of my room, hit the ATM]

[Let's hang out if you're down to get down tonight]

['Cause it's always a good time]

Para pengunjung yang melihat kearah mereka mulai menikmati, dan seluruh pengunjung mulai ikut bernyanyi bersama mereka.

[Good morning and good night]

[I wake up at twilight]

[It's gonna be alright we don't even have to try]

[It's always a good time.]

Seluruh pengunjung yang terbawa suasana yang telah Sasuke dan Sakura ciptakan kini mulai membimbing mereka untuk naik ke atas panggung. Sasuke dan Sakura yang sepertinya sudah agak mabukpun hanya mengikuti dan terus bernyanyi dengan riang diatas panggung.

[Doesn't matter when]

[Its always a good time then!]

[Doesn't matter where]

[Its always a good time there!]

[Doesn't matter when]

[Its always a good time!]

Sasuke dan Sakura sangat terbawa suasana, hingga mereka tak sadar jika mereka sedang melompat-lompat dan bergaya seperti penyanyi internasional. Para pengunjung—yang kini beralih menjadi penonton— pun ikut terbawa suasana, mereka ikut bernyanyi terkadang sambil bersorak dan melompat-lompat mengikuti Sasuke dan Sakura.

[Woah-oh-oh-oh Woah-oh-oh-oh]

[It's always a good time]

[Woah-oh-oh-oh Woah-oh-oh-oh]

[We don't even have to try, it's always a good time, yeay!]

Lagu habis, Sasuke dan Sakura melompat turun dari atas panggung. Merekapun saling tatap selama beberapa detik, onyx bertemu emerald. Membuat mereka merasakan getaran-getaran aneh di dada mereka.

"Aishiteru Sasuke"

"Aishiteru Sakura"

Disisa kesadaran mereka, tanpa sadar mereka mengucapkan kata-kata sakral itu secara bersamaan. Kemudian, mereka pun berciuman. Ciuman mereka terkesan lembut dan penuh cinta.

Lama mereka berciuman, membuat mereka seakan lupa diri. Terlebih saat ini mereka sedang dalam keadaan mabuk. Mereka bahkan tak sadar jika kini mereka sudah berada di dalam mobil Sasuke.

Ciuman itu akhirnya terlepas ketika mereka kehabisan oksigen, pengaruh alkohol membuat mereka lupa diri, dan merekapun berciuman lagi. Namun kali ini ciuman mereka terasa panas, dan malam panjang diantara merekapun dimulai.

-To be Continued-

A/n : Yaaaaa akhirnya saya mempublish chapter 2 ini setelah mendapat inspirasi ide saat saya menonton film favorite saya '27 Dresses', ada yang tau film itukah?

Ohya, saya ingin berterima kasih pada Febri Feven yang sudah baik hati me-review, mem-fave, dan mem-follow cerita ini. Karna sesungguhnya, saya jadi bersemangat meneruskan fict ini berkat review darinya. Tadinya saya mau hapus fict ini sebenernya kalau gaada yg me-review. Sekali lagi terima kasih untuk Febri Feven-senpai. Terima kasih juga untuk silent reader yang sudah menyempatkan diri untuk membaca. *ojigi*

Baik selesai sudah bacotan saya dsiniii.

Akhir kata,

Mind to Review?