Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto

Story by Miyoko Via

Pairing : Sasuke U & Sakura H

Warning : OOC, typo, gaje, dan kekurangan lainnya.

Don't Like Don't Read!

Preview Chap:

"Hinata!"

Aku tersentak ketika kurasakan seseorang memanggilku dari kejauhan. Segera saja kutolehkan kepalaku menuju asal suara, dan dapat kulihat seorang pemuda tengah berlari kearahku sambil melambaikan tangannya ke arahku. Aku tersenyum menatapnya, dan dapat kurasakan getaran-getaran yang slalu kurasakan di dadaku setiap aku melihatnya.

"Fuh, kau tau? Baru saja aku dari rumahmu! Dan katanya, kau ada disini jadi langsung saja aku berlari kesini." ucapnya riang disertai cengirannya yang slalu membuatku menghangat.

"Ya a-aku se-sedang me-me-nemani Hikari-chan be-bermain." kataku gugup. Haah selalu saja gugup ketika berhadapan dengannya.

"Hahaha, kau ini masih saja gugup setiap berbicara dengan orang!" ucapnya sambil terkekeh pelan. Aku hanya tersenyum melihatnya.

"Na-naruto-kun a-ada pe-perlu ap-apa?" tanyaku masih dengan tergugup.

"Aku hanya ingin menemui Teme! Tadi aku dari kantornya, tapi katanya ia sudah pulang. Jadi aku langsung kerumahmu. Tumben sekali ia pulang cepat? Dan hey apa ia tak bersamamu?"

Aku mengernyitkan alis bingung, Sasuke-kun? Sudah pulang? Benarkah?

"Sa-sa-suke-kun su-sudah be-b-berapa hari ini tidak pulang, ka-katanya ia se-sedang dinas keluar negeri." ucapku. Ya, Sasuke-kun memang pernah bilang akan keluar negeri saat terakhir kami bertemu. Meski aku tak tahu kemana dan kapan ia kembali. Tapi ini aneh, bila Sasuke-kun sudah pulang ia seharusnya sudah berada dirumah saat ini.

"Begitu yaaa. Lalu? Kapan ia kembali?"

"A-aku tak tau Na-naruto-kun. Me-me-mang ada apa?" tanyaku heran.

"Tak apa, aku hanya ingin mengajaknya mengunjungi Sakura-chan!" ungkapnya ceria. Sesungguhnya hatiku berdenyut sakit ketika ia menyebut nama Sakura, wanita yang sangat ia dan Sasuke cintai.

"Sa-sa-kura-chan su-sudah kembali?"

"Ya! Ia kembali sekitar 3 bulan yang lalu!" ucapnya ceria.

Tunggu! Kalau Sakura-chan sudah kembali, mungkinkah? Mungkinkah akhir-akhir ini Sasuke-kun menemui Sakura-chan?

"Kaa-chaaann"

Aku menoleh ketika mendengar suara cempreng khas anak kecil yang telah akrab di telingaku. Dan dapat kulihat Hikari yang tengah berjalan sembari menangis ke arahku.

"Hikari-chan, ada apa? Kenapa menangis?" tanyaku sembari mendekatinya.

"Hiks... aku jatuh kaa-chaan" ujar Hikari sesenggukan. Hikari kemudian menunjukkan lututnya yang terluka dan mengeluarkan darah.

"Sstt sudah jangan menangis, sini kaa-chan obati" ucapku menenangkan sembari mulai membersihkan dan mengobati lutut Hikari yang terluka.

"Sakit kaa-chaan... Hiks... Hiks" tangis Hikari makin pecah ketika aku mulai membersihkan lututnya dengan sapu tangan yang sudah kubasahi air mineral.

"Sst Hikari-chaan jangan menangis, jii-san janji akan membelikan ice cream kalau Hikari-chan tidak menangis." seru Naruto-kun tiba-tiba. Aah, karna terlalu fokus dengan Hikari aku sampai lupa kalau masih ada Naruto-kun disini.

"Be-benalkah?" tanya Hikari masih sesenggukan.

"Ya! Setelah lukamu selesai diobati, kita akan pergi ke kedai ice cream yang ada di depan taman ini! Bagaimana?" Naruto-kun berseru sembari menunjuk kearah kedai ice cream yang ia maksud.

"Hikali mau ji-chan!" Hikari berujar riang dengan mata berbinar.

"Kalau begitu jangan menangis lagi? Oke?" ujar Naruto-kun sembari menampilkan cengiran khas-nya.

"Tidak! Aku tidak menangis ji-chaan!" Hikari kemudian berujar sembari menghapus air mata yang ada di pipi chubby-nya. Aku yang telah selesai mengobati lukanya hanya terkekeh melihat tingkah polosnya yang lucu.

"Yosh! Ayo kita makan ice cream!" ujar Naruto-kun ceria. Dirinya kini tengah menggendong Hikari-chan sambil berjalan menuju kedai ice cream yang ada di depan taman ini.

"Yeaay! Ice cleam!" sedangkan Hikari hanya menyahut tak kalah ceria. Aah entah mengapa melihat pemandangan itu hatiku merasa hangat. Andai saja Sasuke bisa seperti Naruto-kun.

.

.

.

Selang beberapa menit kemudian aku, Naruto-kun, dan Hikari-chan kini telah sampai di kedai ice cream yang kami tuju. Naruto-kun dan Hikari-chan yang memang sudah sampai terlebih dulu sedang sibuk memilih ice cream yang mereka inginkan. Saat ini, posisi Hikari sedang berada di pangkuan Naruto-kun. Hikari-chan terlihat sangat nyamaaan sekali berada di pangkuan Naruto-kun. Dan entah mengapa itu membuatku merasa seperti errr... keluarga?

"Jii-chaan! Hikali ingin ice cleam lasa coklat! Boleh tidak?" seru Hikari tiba-tiba sembari menunjuk gambar ice cream yang terdapat dibuku menu.

"Tentu saja!" ucap Naruto-kun semangat.

"Hikali ingin lasa stobeli juga deh!" ujar Hikari polos, matanya memandang Naruto dengan pandangan penuh harap yang membuatnya terlihat sangat menggemaskan.

"Boleh, boleh! Lalu, Hikari-chan ingin rasa apalagi? Vanilla? Atau Pisang?" Naruto berujar sembari menunjuk satu persatu gambar ice cream yang berada di daftar menu.

"Ya! Hikali ingin lasa Vanilla, Stobeli, dan Coklaatt!" ungkap Hikari ceria.

"Eh Hinata, kau ingin ice cream rasa apa?" tanya Naruto-kun sembari memandang kearahku.

"Ti-tidak usah Na-naruto-kun, bi-biar Hikari-chan sa-saja" ucapku terbata.

"Hey sudah tak apa! Aku yang traktir!" kata Naruto-kun dengan cengiran khasnya.

"Ti-tidak usah Na-naruto-kun. Na-nanti merepotkan."

"Sudah tak apa! Aku pesankan ya? Kau ingin rasa apa? Oh, atau ku pesankan Banana Split saja?" usul Naruto-kun agak memaksa.

"Ti—"

"Yosh! Triple ice cream rasa Coklat, Vanilla, dan Strawberry satu dan dua Banana Split 1 ya pamaan!" Naruto berseru kepada pelayan tiba-tiba.

Aku hanya menghela nafas pasrah, kalau sudah begini mau diapakan lagi?

.

.

.

Aku benar-benar tak bisa menahan senyumku ketika kulihat Hikari yang tengah bercanda dengan Naruto-kun. Sungguh, ekspresinya kali ini terlihat sangat bahagia. Aku merasa Hikari dapat menangkap sosok ayah dalam diri Naruto-kun. Terlebih saat ini mereka benar-benar terlihat seperti ayah dan anak. Haahhh andai saja Sasuke dapat sehangat itu dengan Hikari.

"Ji-chaann! Hikali cenaang cekali hali ini!" Suara cempreng Hikari mengalihkan perhatianku dari pemikiranku.

"Ohya? Apa yang bisa membuatmu sesenang ini?" tanya Naruto-kun sembari menyantap ice cream-nya. Namun, matanya tetap tertuju pada lawan bicaranya.

"Hikali cenang bica teltawa dan belmain belcama ji-chan. Tou-chan telalu cibuk jadi tidak punya waktu untuk Hikali. Celama ini Hikali celalu cedih kalau melihat teman-teman Hikali caat belcama ayah meleka." ucapan polos Hikari sukses menyentak hatiku. Dan dapat kurasakan rasa sakit yang berdenyut didalam hatiku. Ugh, maafkan kaa-san yang sudah membawamu dalam situasi seperti ini Hikari.

"Ahahaha tou-san mu itu memang begitu, dia terlalu pekerja keras sehingga kurang memperhatikan keluarganya. Tapi aku yakin, dia pasti sangat menyayangimu." ucap Naruto sembari mengelus pelan kepala Hikari. Sungguh, pemandangan seperti ini entah mengapa membuatku ingin menangis.

"Um. Tapi kalna cekalang ada Naluto-jichan Hikali jadi tidak cedih lagi! Ji-chan maukan telus belmain belcama Hikali?" Uh, ucapan polos Hikari membuatku benar-benar ingin menangis. Dan tak terasa air mata yang sedaritadi tertahan sudah menggenang di pelupuk mataku. Siap keluar kapan saja jika aku tak menggigit bibir bawahku agak keras.

"Tentu saja! Kau itu sudah seperti anakku sendiri. Dan ji-san janji akan terus menemani Hikari-chan bermain!" ucapan Naruto-kun sukses meruntuhkan pertahananku. Ugh, andai saja saat itu tak terjadi. Mungkin saat ini aku tak akan melihat Hikari-chan seperti ini. Maafkan kaa-san sayang, karna dosa kaa-san dimasa lalu kau jadi harus menanggung semuanya.

[End Hinata PoV's]

[Sakura PoV's]

Aku menatap replika diriku didepan cermin. Tubuh yang terbalut gaun pengantin berwarna putih, rambut merah muda yang tegelung rapi, wajah yang di make up natural, dan sebuah mahkota yang terpasang manis di kepalaku. Benarkah ini aku? Kenapa aku terlihat begitu... Cantik?

"Kau cantik sekali Sakura" sebuah suara menyentakku dalam lamunan. Dan dapat kulihat Tsunade-sama tengah menatapku kagum.

"Terimakasih Tsunade-sama" balasku sambil tersenyum kearahnya.

"Haah, rasanya baru kemarin kau resmi menjadi anak asuhku. Sekarang, aku sudah harus melepasmu dengan seorang pria. Waktu berputar sangat cepat yaa." ujar Tsunade-sama sendu. Ya, sejak kematian kedua orang tuaku Tsunade-sama lah yang bertugas menjadi waliku.

"Jujur, aku kaget ketika Sasuke mendatangiku dan melamarmu. Kufikir ia hanya bergurau namun ketika kulihat matanya, entah mengapa ada sesuatu yang membuatku yakin untuk menerima lamaran ini." ucap Tsunade-sama. Setelah melamarku waktu itu, Sasuke memang langsung mendatangi Tsunade-sama untuk meminta izin meminangku.

"Aku juga kaget ketika Sasuke datang dan melamarku. Terlebih ia sudah punya Hinata. Meski aku mengandung anaknya. Aku tak pernah berfikir untuk meminta pertanggung jawabannya. Aku bahkan berfikir untuk tidak memberi tahunya perihal kehamilan ini." ucapku sendu.

"Aku tak tau apa yang terjadi antara Sasuke dan Hinata, sebenarnya aku masih agak keberatan dengan pernikahan ini. Tapi mengingat kau tengah mengandung anaknya dan ia terlihat sangat bersungguh-sungguh. Aku tak punya pilihan. Jadi kuharap pilihanku benar-benar tepat. Dan kuharap kau bahagia Sakura." ujar Tsunade-sama selaku waliku sambil mengusap puncuk kepalaku sayang. Ah dia benar-benar seperti mendiang ibuku. Dan perlakuannya itu pun sukses membuatku menitikan air mata.

"Ssst Sakuraa, jangan menangis. Kau pasti akan bahagia kan?" ujar Tsunade-sama sembari menghapus air mataku.

"Iya Tsunade-sama, aku berjanji akan bahagia. Aku berjanji" ucapku sambil memeluknya erat.

"Ya, kau memang harus bahagia Sakura. Harus. Akan ku patahkan tulang-tulangnya jika ia berani membuatmu menangis!" gurau Tsunade-sama.

"Sudah jangan menangis lagi. Kau akan terlihat jelek kalau menangis." seru Tsunade-sama sambil kembali menghapus air mataku.

"Ehm, aku tak ingin mengganggu sebenarnya. Tapi, upacara pernikahan sudah akan dimulai. Dan... Sakura, kau sangat cantik." suara baritone yang sudah kukenal memecah suasana haru antara aku dan Tsunade-sama. Dan dapat kulihat Kakashi-sensei, selaku waliku dalam upacara pernikahan ini yang tengah menungguku sembari memandangku takjub.

"Ya, terimakasih. Dan aku sudah siap sensei." ucapku sembari tersenyum.

"Ya, ayo!" ucap Kakashi-sensei sembari menggenggam tanganku dan menuntunku menuju ruang upacara pernikahan.

"Kau tau? Aku masih tak menyangka ketika kemarin Sasuke datang menemuiku dan memintaku untuk menjadi walimu. Kufikir ia hanya bergurau." ujar Kakashi-sensei ditengah perjalanan kami menuju ruang upacara pernikahan yang memang agak jauh.

"Aku sendiri pun masih tak menyangka sensei." ujarku sembari terkikik pelan.

"Yaah, dan aku merasa sudah sangat tua sekarang. Rasanya baru kemarin aku bertemu kau, Sasuke, dan Naruto di KHS. Dan rasanya juga baru kemarin kalian mengerjaiku dan merengek meminta diajarkan tentang hukum Hook. Sekarang, kau dan Sasuke sudah akan menikah saja. Haah, apa aku sudah terlihat sangat tua saat ini?" gurau Kakashi-sensei sedikit dibuat frustasi.

"Ahaha kau memang sudah tua sensei! Kau tak ingat berapa umurmu saat ini?" ujarku sembari terkekeh geli. Ah aku jadi ingat saat-saat aku, Sasuke, dan Naruto mengerjai Kakashi-sensei. Saat itu, tak ada yang menyangka kalau kami akan menjadi seperti saat ini.

"Yaya terserah, yang pasti aku merasa tenang melepas putriku bersama orang yang terpercaya. Dan hey! Kenapa kalian tidak memberi tahu Naruto?" ucapan Kakashi-sensei sukses menghentikan tawaku. Dan itu membuatku merasa perjalanan dari ruang pengantin wanita menuju ruang upacara pernikahan menjadi semakin jauh.

"Hft, aku tak ingin ia shock sensei. Mengingat ekspresinya ketika aku memberi tahu saat aku berencana akan menikah dengan Gaara saja membuatku merasa pilu. Apalagi kalau aku harus memberi tahunya bahwa aku akan menikah? Terlebih itu dengan Sasuke, sahabat sekaligus rivalnya sendiri. Aku tak tau ekspresi seperti apa yang akan diperlihatkannya." ucapku sendu.

"Ya aku mengerti. Kalau aku ada diposisi kau dan Sasuke aku juga pasti akan merasa sangat tak enak. Tapi kusarankan agar kau lekas memberitahunya. Tak baik menutupi sesuatu terlalu lama." ucap Kakashi-sensei sembari mengelus puncak kepalaku sayang. Ah, aku dan Sasuke-kunmemang tak salah memilihnya sebagai waliku.

"Aku dan Sasuke memang tak salah memilihmu sebagai waliku sensei." ucapku sembari tersenyum.

"Ya, baiklah kita lupakan sejenak tentang semuanya. Sekarang, ayo kita fokus pada sang mempelai pria." seru Kakashi-sensei ketika kami sudah berada di depan pintu ruang upacara pernikahan.

"Aku gugup sensei." bisikku ketika pintu ruang upacara pernikahan sudah mulai dibuka.

"Tenang, dan tatap saja mata calon suamimu. Aku yakin itu dapat membantu." usul Kakashi-sensei.

Kemudian tatapanku langsung tertuju pada Sasuke yang tengah tersenyum kearahku. Aku balik tersenyum kearahnya dan dapat kudengar musik pengiring pernikahan mulai terdengar.

Aku menatap onyx hitam milik Sasuke, melihat manik kelam itu aku merasa teringat saat itu. Saat itu, ya saat aku pertama kali bertemu dengannya, dan saat pertama kali aku jatuh cinta padanya.

Aku ingat, saat itu adalah hari pertama aku masuk KHS. Karna bangun kesiangan, aku terpaksa harus berlari dari rumah menuju sekolah dengan tergesa-gesa. Aku mengutuk jam wekerku yang kehabisan baterai saat itu.

Setelah sekian lama berlari, akhirnya aku sampai di depan gerbang KHS. Aku tersenyum senang dan langsung saja aku berlari menuju kelas X-A, aku tak perlu repot-repot mengecheck di papan pengumuman, karna Tsunade-sama sudah mengatakannya sehari sebelum hari pertama masuk. Dan jangan tanyakan upacara penyambutan siswa baru. Karna upacara tersebut sudah terlewat sekitar 15 menit sebelumnya.

Saat itu, aku benar-benar terburu-buru. Aku bahkan sampai harus berlari saat melewati tangga saking terburu-burunya. Akibatnya, aku terpeleset saat akan melangkah menaiki anak tangga terakhir. Aku memejamkan mata saat dirasa tubuhku akan jatuh menyentuh anak tangga yang kupijaki. Namun, dugaanku meleset ketika dirasanya tubuhku tak menyentuh tanah sama sekali, melainkan melayang diudara. Bingung, akupun memberanikan diri membuka mata. Hal yang kulihat pertama kali saat itu adalah iris hitam kelam milik Sasuke. Dan sejak saat itu, aku pun jatuh cinta pada sosok Uchiha Sasuke.

.

.

Aku tersentak ketika kurasakan lenganku berpindah dan digenggam oleh lengan lain. Dan aku baru menyadari bahwa aku telah bersanding di altar pernikahan dengan Sasuke. Haah, karna terlalu sibuk mengenang awal pertama kali aku bertemu dan jatuh cinta dengan Sasuke aku sampai tak sadar bahwa tadi aku tengah berjalan menuju altar bersama Kakashi-sensei.

"Uchiha Sasuke, bersediakah kau berjanji untuk setia menemani Haruno Sakura istrimu dalam setiap langkahnya, dalam susah, senang, sehat, maupun sakit, kaya, atau pun miskin sampai maut memisahkan?" tanya sang pendeta kepada Sasuke-kun.

"Aku bersedia." Sasuke-kun menjawab mantap. Aku yang mendengarnya hanya merona. Ugh, aku jadi semakin gugup saat ini.

"Haruno Sakura, bersediakah kau berjanji untuk setia menemani Uchiha Sasuke dalam setiap langkahnya, dalam susah, senang, sehat, maupun sakit, kaya, atau pun miskin sampai maut memisahkan?" sang pendeta beralih kepadaku. Aku yang sudah gugup menjadi semakin gugup ditatap seperti itu.

"A-aku bersedia." jawabku gugup. Ugh, kenapa aku harus gugup disaat seperti ini?

"Sekarang, saatnya tukar cincin." seru sang pendeta.

Aku langsung mengalihkan pandanganku menuju Sasuke-kun. Kemudian, Sasuke-kun menyematkan sebuah cincin di jarimanis kananku sembari tersenyum lembut kearahku. Akupun demikian, ku ambil cincin yang dibawa Ino dan kusematkan cincin itu dijari manis Sasuke-kun.

"Baiklah, kalian berdua telah resmi menjadí sepasang suami istri. Nah, kau boleh mencium istrimu." ujar sang pendeta.

Setelah berkata seperti itu, dapat kulihat seringai sexy tercetak di bibir Sasuke. Aku yang melihatnya hanya merona malu. Dan tanpa kusadari bibir manis Sasuke-kun kini tengah berada 1cm didepan bibirku. Melihat itu, akupun langsung memejamkan mata. Dan kini, dapat kurasakan bibir Sasuke-kun yang mulai melumat bibirku lembut.

Setelah 1 menit, ciuman kamipun terlepas dapat kudengar sorakan dan tepuk tangan riuh memenuhi ruangan ini. Kurasakan wajahku yang tengah memanas dan pastinya memerah saat ini. Sasuke-kun yang melihat wajahku hanya tersenyum tipis, kemudian ia mendekatkan bibirnya ke telingaku dan mengucapkan "Aishiteru" yang sukses membuat wajahku semakin memerah.

[End Sakura PoV's]

Setelah upacara janji suci pernikahan itu berlangsung, acara pun dilanjutkan dengan acara resepsi pernikahan. Kini raja dan ratu sehari itu tengah berada di singgasana pernikahan. Acara resepsi ini memang langsung dilanjutkan setelah upacara pernikahan tersebut dilangsungkan, acara ini juga hanya berlangsung selama 2 jam. Karna, selain Sasuke yang tak ingin Sakura terlalu lelah, tamu yang mereka udang juga tak banyak. Hanya dihadiri sahabat dan orang terdekat saja. Biar bagaimanapun, pernikahan ini masih dirahasiakan kan?

"Forehead! Selamaattt! Tak kusangka aku dilangkahi olehmu! Semoga kau bahagia yaaa. Aku menyayangimuu." Yamanaka Ino berucap sembari memeluk Sakura, sayang.

"Terimakasih, pig! Aku juga menyayangimu." balas Sakura sambil memeluk balik Ino, sayang.

"Dan hey Uchiha! Ku percayakan forehead-ku padamu yaa! Awas saja kalau kau meninggalkannya, akan kubuat kau impoten dan tidak bisa punya anak!" seru Ino sambil mendelik pada Sasuke.

"Hn." sedangkan yang diajak bicara hanya bergumam.

Dibelakang Ino, tampak Sai yang tengah mengekori Ino. Kemudian dilanjutkan dengan Ten-Ten yang datang bersama Lee, lalu Shino, Kiba, dan Chouji. Para tamu datang silih berganti, mereka mengucapkan selamat dan rasa tak percaya mereka akan pernikahan ini. Dan datanglah tamu yang sebenarnya sangat dihindari Sakura. Dirinya terdiam membeku ketika dilihatnya Temari, kakak Gaara yang tengah datang bersama Shikamaru, kekasihnya.

"Hai Sakura, selamat atas pernikahanmu. Hey jangan melihatku seperti itu! Kau seperti melihat hantu saja." ucap Temari sembari tersenyum pada Sakura.

"Te-temari-san."

"Aku tau, kau merasa tak enak dengan kehadiranku. Sejak awal, sebenarnya aku sangat menyukaimu. Namun, aku tau kau dan Gaara tak mungkin bersatu. Itu sebabnya aku menjodohkan Gaara dengan Matsuri. Maafkan sikapku selama kau bersama Gaara ya, Sakura. Semoga kau bahagia, karna kau pantas mendapatkannya." Temari berujar sembari tersenyum dan memeluk Sakura.

"Te-temari-san, terimakasih." ujar Sakura sembari balas memeluk Temari.

"Tolong sampaikan maafku untuk Gaara. Aku minta maaf karna langsung pergi tanpa pamit saat itu." lanjut Sakura sembari melepas pelukan Temari.

"Tentu." ucap Temari sambil tersenyum dan berlalu.

.

.

Pernikahan tersebut kemudian diakhiri dengan acara pelemparan bunga oleh Sakura. Dan tak disangka, bunga tersebut diterima oleh Ino. Senyum tulus terpatri di bibir manis Sasuke dan Sakura, mereka terlihat sangat bahagia. Dan tanpa mereka sadari, ada satu sosok yang tengah memandang sinis ke arah mereka dari kejauhan.

"Aku akan mengambil kembali apa yang telah menjadi milikku."

-To be Continued-

A/n :

Yap! Ini dia chapter 5 nyaaaa! Maaf yaa aku ngaret lagi update-nya, banyak kendala yang menghampiriku fufufu. Dan berterimakasihlah pada kaka kelasku yang baik hati, yang dengan baiknya dia nyuruh aku supaya cepet-cepet update u,u kalo gaada dia mungkin fict ini gaakan update-update kalii. #plak

Dan gimana scene Naruto-Hinata-Hikari? Jujur, aku sulit banget buat scene ituu, aku malah sampe ngubek-ngubek fandom Naruto supaya dapet feel di scene itu hohoho. Ohya, disini aku gaada maksud buat bashing chara, semua karakter disini punya perannya masing-masing. Yaudah segitu aja, saya gamau ngomong panjang-panjang. Dan sekarang, saatnya kita balas review! ;3

hanazono yuri : Ha'i ini sudah update!:D Naru-Hina dipersatukan di chapter-chapter selanjutnya yaaaa~

Eagle onyx : 1. Ya, alurnya emang agak kecepetan, dan aku lagi berusaha buat memperlambatnya hoho. 2. Duh, kalo ini aku gabisa janji u,u tapi aku akan berusaha! Terimakasih kritik-nya:D

Hayashi Hana-chan : Arigatou Hana-chaan!:D

Whitemour : Sudaaaah:D

Kihara : Hikari anak siapa yaaaa? Semua akan terjawab di chapter selanjutnyaaaa:D untuk itu, sasu punya alasan tersendiri hihiw;3

Sasa Cherry : Arigatou Sasa-chaan :D iya, puncaknya belum. Ditunggu yaaaa~ Sama-sama Sasa-chaaan:D

nadira cherry : sasu punya alesan sendiri kenapa belum cerai sama hinata, di chapter-chapter selanjutnya akan dibahas koook. Ditunggu yaaaa:D iyaaa hinata itu cintanya sama naru, hikari anak siapa yaaaaaaa:p ha'i arigatou nadira-chan:D

hyugaa hime : halooo hyugaa-san, entah kenapa aku ngakak lhoo baca flame kamuu hihiw;3 dan satu pesan aku buat kamu, kalo emang gasuka? Yagausah baca~

Alifa Cherry Blossom : hai :D iyaaa konfliknya sasusaku, naruhina. Ha'i arigatouu:D hihi iyaa maafdeh, aku orangnya ga pedean soalnya u,u tapi aku akan berusaha untuk menjadi author professional kok :D terimakasih dukungannyaaa alifah-saannn:D

Ya, terimakasih sudah mereview, dan sudah menyempatkan diri untuk membaca!:D ohya, untuk chapter selanjutnya, mungkin akan agak telat karna bulan-bulan ini aku akan sibuk sama tugas akhir dan ujian u,u kuharap kalian mau bersabar menunggu yaaaa:D sekali lagi, arigatou:D

Akhir kata,

Mind to Review?