Lucy telah memakai pakaian maid. Begitu juga dengan Levy dan Lisanna. Lucy melihat kafenya telah berbeda. Sekarang sudah ada panggung, ya walaupun panggung kecil-kecilan. Dimana ada alat-alat musik. Sesekali pengunjung memainkannya dan memberikan pertunjukkan.
"Lu-chan kau coba bernyanyi doong" pinta Levy
"Ayolah Lucy" rengek Lisanna
Lucy menggeleng. "Tidak ah, aku kan disini dibayar untuk menjadi maid bukan penyanyi"
Tiba-tiba pemilik kafe berdiri diatas panggung dan memberikan sambutan. Lucy, Levy dan Lisanna mulai bekerja lagi.
"Yah bagi para pelanggan, kami persembahkan nyanyian merdu dari maid cantik kita..Lucy.."
Lucy sontak kaget.
"Hah? Kenapa aku?" Gumamnya
Fairy Tail © Hiro Mashima
A Fairy Tail Fanfiction
Three Heart for One Love
By Yusa-kun
Warning : AU, Typo(s), OOC.
.
.
.
.
"Ayo Lucy silahkan naik keatas panggung dan menyanyi"
Lucy menghela nafas dan berjalan menuju panggung. Setelah berada dipanggung, ia melihat kearah keyboard. Ia berjalan menghampiri keyboard dan mencoba memainkannya. Saat permainannya mulai ia disambut oleh tepukan tangan dari semua orang dikafe.
Lucy pun mulai bernyanyi sambil memainkan not-not keyboardnya.
It started out as a feeling
Which then grew into a hope
Which then turned into a quiet thought
Which then turned into a quiet word
And then that word grew louder and louder
'Til it was a battle cry
I'll come back when you call me
No need to say goodbye
Saat bernyanyi, Natsu masuk kedalam kafe bersama dengan Gray, Gajeel, Jellal, Juvia, dan juga Erza. Mereka segera duduk dan mendengar Lucy bernyanyi. Mereka semua tersenyum, begitu pula dengan Natsu. Ia menatap Lucy dengan takjub.
Just because everything's changing
Doesn't mean it's never been this way before
All you can do is try to know who your friends are
As you head off to the war
Pick a star on the dark horizon and follow the light
You'll come back when it's over
No need to say goodbye
You'll come back when it's over
No need to say goodbye
Tangan Lucy masih memainkan not-not keyboard yang menjadikan sebuah melodi yang indah. Lucy masihh terus bernyanyi.
Now we're back to the beginning
It's just a feeling and no one knows yet
But just because they can't feel it too
Doesn't mean that you have to forget
Let your memories grow stronger and stronger
'Til they're before your eyes
You'll come back when they call you
No need to say goodbye
You'll come back when they call you
No need to say goodbye..
Setelah selesai bernyanyi, Lucy merundukkan kepalanya dan disambut meriah oleh para pelanggan dikafe.
"Lucy-chan kau sangat hebat" teriak salah satu pelanggan yang memberikan standing applause
"Lucy-tan kawaiiii"
Lucy hanya tersenyum sambil mengedarkan pandangannya pada seluruh pelanggan. Pandangannya berhenti saat ia dan Natsu bertemu pandang. Entah kenapa reflek Lucy mengalihkan pandangannya ke yang lain. Lucy merasa jantungnya berdebar-debar. Baru pertama kalinya ia bertatapan mata dengan Natsu seintens itu.
"Yah itu adalah penampilan dari maid cantik kita, bagaimana bagaimana? Kalian menyukainya?" Tanya pemilik kafe itu sebagai mc
"Sugoooiiii!" Seru para pelanggan
Lucy turun dari panggung dan kembali bekerja. Sebelum itu, ia menghampiri teman-temannya yang baru saja datang.
"Ah Lu-chan membuatku iri, suaranya sangat merdu" puji Levy
"Iya Lucy, suaramu bagus" puji Gray
Juvia memandang iri. "Gray-sama, Juvia juga mempunyai suara yang bagus~"
"Iya iya terserah dirimu" sahut Gray
Natsu tidak mengatakan apapun. Ia hanya memandang kearah lain. Lucy memandangnya. Gray pun menyadarinya. Gray menginjak kaki Natsu.
"Ah ittai!" Seru Natsu yang terlonjak
Gray pura-pura tidak tahu.
"Apa-apaan kau ini menginjak kakiku, Gray!" Omel Natsu sambil memandang Gray dengan tatapan sebal.
Gray menyueki Natsu. "Lucy aku pesan double ice cream disini ya" pinta Gray
"Oke, kalau kalian?" Tanya Lucy
"Aku pesan cheesecake dan strawberry cake" ucap Erza
"Aku memesan ice cream yang sama seperti Gray-sama" ucap Juvia
"Aku pesan minuman bersoda saja" pinta Gajeel
"Ah kalau dirimu, khusus yang melayani itu Levy-chan" ucap Lucy sambil menunjuk Levy.
"Kalau kau Jellal?" Tanya Lisanna
"Hmm aku orange juice dan cheese cake seperti Erza" sahut Jellal.
Lucy ingin membuka mulutnya untuk bertanya pada Natsu tapi Natsu sudah terlebih dulu menjawabnya.
"Aku nanti saja" ucap Natsu
Lucy tersenyum "Baiklah, tunggu sebentar ya"
Lucy pun meninggalkan teman-temannya untuk mengambil pesanannya, disusul oleh Lisanna dan juga Levy.
"Mereka sangat manis dengan pakaian seperti itu ya" ucap salah seorang pelanggan
"Iya kau suka yang mana?" Tanya salah satu kawan pelanggan itu
"Aku suka yang berambut pirang, tubuhnya itu terlihat hot" jawab temannya
Natsu mendengarnya dan merasa risih. Dengan segera ia bangkit berdiri dan teman-temannya menatapnya.
"Aku ketoilet sebentar" ucap Natsu
Saat ditoilet, Natsu mencuci mukanya dengan air. Ia menatap wajahnya yang terpantul di cermin.
"Seharusnya memang dia tidak bekerja dengan pakaian seperti itu" gumamnya
XXX
"Pesanan dataaaang!" Ujar Lisanna
Lisanna membawa beberapa pesanan teman-temannya lalu disusul oleh Levy. Lucy sedang melayani pelanggan lain.
Natsu pun sudah kembali dari toilet.
"Bagaimana kalau kau duduk temani kami disini?" Terdengar suara salah seorang pelanggan. Natsu menoleh dan mendapati Lucy sedang di pegang tangannya oleh pelanggan itu.
"Tidak bisa, master. Saya harus kembali bekerja" ucap Lucy dengan ramah.
"Hanya sebentar saja" rengek pelanggan itu. Pelanggan itu melihat Lucy dengan pandangan mesum. Natsu memandangnya dengan tidak suka. Natsu mengepalkan tangannya dan menghampirinya.
Natsu menarik tangan Lucy agar berdiri dibelakang Natsu. Lucy menatap punggung Natsu karena ia berada dibelakang Natsu. Natsu masih menggenggam tangan Lucy dengan erat, Lucy memandanginya.
'Rasanya..seperti de javu..tapi kapan?' Pikir Lucy
"Kalau ia bilang tidak bisa, ya berarti tidak bisa!" Seru Natsu sambil berdiri menghalangi Lucy.
Lucy terperangah. Natsu melindunginya dari pelanggan yang mencoba menggangu Lucy.
'Kapan? Ini seperti..' Batin Lucy lagi
"Kau! Siapa kau!" Bentak pelanggan itu
Karena suara pelanggan yang keras, maka seluruh yang ada diruangan menoleh kearahnya. Natsu menarik tangan Lucy untuk berjalan menjauhi pelanggan itu. Tetapi tangan Natsu ditahan oleh sang pelanggan.
"Kurang ajar!" Seru pelanggan itu sambil melayangkan tinju hangatnya pada Natsu. Natsu melepaskan genggaman tangan Lucy dan menangkap tinju dari sang pelanggan.
"Yang kurang ajar itu kau! Brengsek!" Ujar Natsu dengan penuh amarah ia melayangkan tinjunya kearah sang pelanggan. Pelanggan itu sampai terjatuh.
"Aku harap kau tidak akan datang ke kafe ini lagi untuk mengganggunya! Kau mengerti? Om-om tua bangka yang mesum?" Ucap Natsu
Gray, Gajeel, dan Jellal bangkit berdiri dan menghampiri Natsu. Dan yang lainnya menghampiri Lucy.
Pelanggan itu mendecih.
"Hoy! Jawab!" Seru Natsu sambil menyiapkan tinjunya tapi ditahan oleh Jellal dan Gajeel. Gray memegang bahu Natsu. Natsu menoleh dan Gray hanya menggeleng.
"Maafkan kelakuan teman kami. Tapi seharusnya anda tidak mengganggu pelayan itu" ucap Jellal
Pemilik kafe pun keluar dan melihat adanya keributan.
"Ada apa ini? Kenapa jadi begini?" Ucapnya dengan lantang.
Levy dan Lisanna mendekati pemilik kafe dan membisikkan sesuatu.
"Ap-apa?! Lucy-chan kau tidak apa-apa kan?" Ucapnya sambil melihat keadaan Lucy.
Lucy tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Aku tidak apa-apa, Rinzo-san"
"Ah syukurlah" ucapnya
Pemilik kafe itu menghampiri pelanggan yang masih terduduk dibawah karena jatuh setelah dipukul oleh Natsu.
"Dan kau! Jangan pernah lagi kesini kalau hanya ingin mengganggu pelayan-pelayanku! Pergi sana!" Usir pemilik kafe itu yang bernama Rinzo
Pelanggan itu langsung berlari kabur keluar dari kafe. "Dasar, memangnya kafe ini tempat pelayanan untuk orang-orang mesum apa, seenaknya saja!" Gerutu Rinzo. Pemilik kafe itu menoleh kearah Natsu dan tersenyum. "Terimakasih ya, sudah melindungi Lucy" ucap Rinzo
"Iya, lagipula ia juga temanku" jawab Natsu sambil berjalan meninggalkan keluar kafe. Lucy memandang kepergiannya.
'Teman?' Pikir Lucy. Lucy tersenyum.
"Aku akan menyusulnya" ucap Lucy pada teman-temannya.
Natsu berjalan kearah tempat motornya terparkir. Ia memakai jaket dan bersiap memakai helm sampai pada Lucy memanggilnya.
"Natsu!" Panggil Lucy
Natsu menoleh dan meletakkan helmnya kembali.
"Ada apa?" Tanyanya
"Hmm ano..terimakasih untuk yang tadi" ucap Lucy
"Tidak masalah, aku hanya tidak suka pria brengsek sepertinya. Jadi jangan salah paham" terang Natsu.
Lucy tersenyum dan mengangguk. "Iya aku mengerti"
Didalam hati Lucy, Lucy tahu benar kalau Natsu memang setia kawan dan sangat peduli pada teman-temannya. Lucy sangat senang sudah dilindungi oleh Natsu, ia merasakan bahwa apa yang Natsu katakan bahwa ia tidak membenci Lucy itu benar.
"Baiklah, aku pulang duluan. Salam untuk yang lain" pamitnya
"Oke. Hati-hati dijalan" sahut Lucy sambil melambaikan tangannya.
Natsu menyalakan motornya dan melesat pergi dengan cepat. Lucy pun kembali masuk kedalam kafe.
"Natsu sudah pulang ya?" Tanya Gray
Lucy mengangguk.
"Yasudah Lucy-chan, lanjutkan lagi pekerjaanmu ya" ucap pemilik kafe
"Baik" sahut Lucy
"Aku kembali bekerja ya" pamitnya pada teman-temannya.
Teman-temannya pun kembali ke meja mereka dan menikmati pesanan mereka. Setelah selesai, mereka pun pamit pulang.
XXX
"Lucy, ayo kita pulang" ajak Lisanna
"Gomenne Lisanna, aku dijemput oleh Sting" ucap Lucy sambil menepuk kedua telapak tangannya untuk meminta maaf.
"Aaaah enaknya ada yang menjemput. Yasudah lah, aku akan pulang sendiri. Sampai bertemu besok, Lucy" pamit Lisanna.
"Sampai jumpa" sahut Lucy
Lisanna pulang sendiri karena Levy sudah diantarkan pulang oleh Gajeel, sedangkan Lucy, Lucy akan dijemput oleh Sting.
Lucy berdiri didepan kafe. Ia mengingat kejadian disekolah, dimana ia dan Sting saling mengungkapkan perasaannya.
"Jadi mulai hari ini kau menjadi pacarku kan?" Tanya Sting
Lucy mengangguk dengan malu-malu. Sting tersenyum dan mengecup dahi Lucy.
Lucy pun kembali ke keadaan sekarang. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Wajahnya memanas.
"Lucy?" Panggil seseorang. Lucy merasa familiar dengan suara itu. Akhirnya ia menoleh.
"Sss-Sting? Sejak kapan kau disitu?" Tanya Lucy
"Sejak tadi. Aku memanggil-manggil dirimu tapi kau malah bengong dengan muka memerah dan menggeleng-gelengkan kepala. Dasar aneh" jelas Sting
"Ti-tidaaak! Apa sih yang kau katakan haha" sahut Lucy dengan gugup
"Memangnya kau sedang memikirkan apa?" Tanya Sting
"Eh? Tidak! Aku tidak memikirkan apapun. Ayo kita pulang" sahut Lucy sambil naik ke motor Sting. Sting tertawa pelan.
"Pegangan ya" pinta Sting
Lucy pun mengalungkan tangannya kepinggang Sting. Dan mereka pun melesat meninggalkan kafe.
XXX
Sting dan Lucy akhirnya sampai diapartemen. Lucy turun dari motor.
"Kau tidak masuk dulu?" Tanya Lucy
"Hmm apa boleh?" Sahut Sting
"Haha ya bolehlah. Ayo" ajak Lucy.
Lucy pun membuka pintu dan menyuruh Sting duduk.
"Aku akan buatkan minum. Tunggu sebentar" ucap Lucy yang berjalan kearah dapur untuk membuat minuman.
Setelah beberapa menit, Lucy kembali datang bersama dengan segelas minuman ditangannya.
"Ini. Diminum ya" ucapnya. Sting meminum minuman yang dibuat oleh Lucy. Dan meletakkan kembali ke meja. "Bagaimana tadi di kafe? Apa berjalan dengan lancar?" Tanya Sting
"Hmm tidak begitu. Tadi aku bernyanyi lalu tadi juga dikafe ada pelanggan yang kurang ajar padaku. Tapi tenang saja. Aku dilindungi oleh Natsu. Natsu menghajar orang itu" terang Lucy
Sting yang mendengar cerita Lucy menjadi geram. Ia berpikir kenapa ia tidak kekafe untuk melihat Lucy. Dan kenapa juga harus Natsu menolong Lucy?
'Sial' batin Sting
"Lalu?" Tanya Sting lagi
"Pelanggan itu juga diomeli oleh pemilik kafe" jawab Lucy
"Hmm begitu ya. Jadi Natsu menolongmu? Kau sudah berterimakasih padanya?" Tanya Sting. Lucy mengangguk.
"Sudah kok" jawab Lucy
"Sepertinya aku juga harus berterimakasih padanya karena telah melindungi pacarku yang cantik ini" ujar Sting sontak membuat Lucy blushing.
"Stiiiing!"
XXX
Gray datang keapartemen milik Natsu. Natsu sedang memetik gitar miliknya. Gray sedang duduk sambil memakan beberapa snack.
"Tadi kau sangat keren, aku akui itu" ucap Gray sambil membuka snack yang lain.
"Hah jangan meledekku" ucap Natsu
"Dasar tsundere" ejek Gray
"Bodo amat" sahut Natsu
Gray telah mengetahui masa lalu tentang Lucy dan Natsu. Dan tidak lupa dengan Sting. Gray berpikir hubungan mereka bertiga sangatlah rumit. Dan juga ia berpikir, Natsu itu bodoh. Sangat bodoh.
'Ia menahan bebannya sendiri, dasar sok kuat' pikir Gray
XXX
Pagi harinya, tidak biasanya Natsu sudah datang kesekolah. Tetapi yang ia lakukan dikelas hanya meringkuk dimejanya. Lucy dan Sting pun datang bersama.
"Ohayou minna" sapa Lucy
Natsu mendengar suara Lucy hanya bisa memejamkan matanya kembali. Natsu pun juga bisa mendengar suara Sting. Menurutnya suaranya sangat mengganggu.
"Lucy, nanti pulang sekolah kau harus ikut rapat. Kita akan membicarakan soal ujian tengah semester dan festival yang akan dilaksanakan setelah itu" terang Erza
"Hah baiklah" jawab Lucy dengan lemas.
Sting menatap Natsu yang sedang tertidur dimejanya dengan tatapan yang tidak suka.
Bel masuk pun berbunyi membuat para siswa duduk ditempatnya masing-masing. Natsu yang sepertinya tidurnya pulas tidak bangun. Lucy menoleh kebelakang. Dengan ragu tangan Lucy terulur untuk membangunkan Natsu. Tapi pada akhirnya ia menggoyangkan tangannya Natsu.
"Natsu..Natsu.. Bangun..sudah bel masuk" ucap Lucy
Natsu pun akhirnya bangun, dengan mata merahnya. Sepertinya ia benar-benar mengantuk. Guru pun masuk kedalam kelas dan memulai pelajaran.
XXX
Ditempat lain yaitu dikota Crocus, dimana keluarga Natsu tinggal. Ayah dan ibu Natsu masih hidup dan tinggal dengan baik di kota itu.
"Sayang, bagaimana ya keadaan Natsu disana?" Ucap seorang wanita dengan rambut pink yang sama dengan Natsu.
"Tenang saja, ia kan anak yang kuat. Lagipula semalam ia menghubungiku, kalau dia baik-baik saja" jawab seorang pria dengan rambut merah.
"Apa uang yang kita kirimkan cukup untuk dirinya? Aduh aku takut dia kekurangan disana" ucap ibu Natsu
"Jangan memanjakan dia dengan uang, Grandine. Nanti dia tidak akan mandiri-mandiri kalau seperti itu" jawab ayah Natsu.
"Bukan begitu, Igneel. Hanya saja tinggal sendiri itu sangat berat" elak Grandine
"Yasudah terserah dirimu. Sebentar lagi dia akan ujian. Kau harus menghubunginya" ucap Igneel
"Baiklah" sahut istrinya.
XXX
Natsu membeli roti isi daging dan juga sekotak jus apel dikantin. Ia tidak ingin makan dikantin, ia ingin memakan makanannya diatap.
Saat sampai diatap, betapa kagetnya ia melihat Sting sudah berdiri disana. Natsu menghampirinya.
"Ada apa?" Tanya Natsu
Sting membalikkan badannya dan memandang Natsu sinis.
"Aku dengar kemarin kau menyelamatkan Lucy" Ucap Sting
"Memang kenapa?" Tanya Natsu
"Tidak. Tidak apa-apa. Aku hanya ingin berterimakasih padamu karena telah menyelamatkan pa-car-ku" jawab Sting dengan menekan kata 'pacarku'.
Natsu memandang Sting tanpa ekspresi.
"Souka..jadi kalian sudah berpacaran" ucap Natsu
Sting tertawa meremehkan. "Kenapa? Kau tidak suka dengan kabar itu?" Tanya Sting
Natsu berjalan dan duduk bersandar ditembok. Ia membuka jus kotaknya dan membuka roti isi dagingnya dan melahapnya.
"Aku ingatkan lagi padamu, jangan dekati Lucy lagi. Lucy sudah jadi milikku" ucap Sting dengan nada mengancam.
"Aku akan bertindak kalau kau menyakitinya dan membuatnya sedih" jawab Natsu
Sting mengepalkan tangannya. Berusaha menekan emosinya.
"Baiklah. Kau akan lihat kalau Lucy akan bahagia bersamaku" ucap Sting sambil meninggalkan Natsu sendiri. Setelah Sting pergi Natsu berhenti memakan rotinya. Ia meremas kotak jusnya dan melempar kesembarang arah.
"Sial!" Serunya
Ia bangkit berdiri, melempar sisa rotinya. Ia menendang tembok dan meninju tembok.
"Sial!sial!siaaal!" Seru Natsu dengan frustasi
Natsu pun jatuh terduduk. Ia menyembunyikan wajahnya dibalik poninya. Airmatanya mengalir dari mata onyxnya. Satu tangannya menutupi matanya.
"Lu..cy" lirihnya
XXX
Natsu kembali kekelasnya. Wajahnya benar-benar dingin. Ia benar-benar tidak terlihat biasanya. Ia duduk ditempatnya, Gray dan Gajeel memperhatikan temannya. Gray melihat ada bekas luka ditangan Natsu.
'Ada apa dengannya' pikir Gray
Lucy pun duduk ditempatnya dan menoleh kebelakang. Ia melihat Natsu yang diam lalu mengedarkan pandangannya ke tangan Natsu. Ia melihat bekas luka disana yang masih baru.
"Natsu? Kau terluka ya?" Tanya Lucy. Natsu tidak menjawab.
Lucy mencoba menyentuh tangan Natsu tetapi ditepis oleh Natsu. Natsu menatap mata Lucy.
"Jangan pedulikan diriku, Lucy" ucapnya
Lucy membelalakkan matanya, ia melihat kekesalan dimata Natsu. Lucy merasa ada kesedihan yang terbesit didalam lubuk hatinya. Lucy pun memegang dadanya.
'Kenapa? Kenapa aku merasa sedih' batin Lucy
Gray melihatnya langsung menarik keluar Natsu. Sting tersenyum sinis.
Lucy menundukkan kepalanya. Entah kenapa ia merasa sedih. Lucy tahu kalau ia bukanlah teman dekat Natsu seperti yang lainnya. Tetapi ada perasaan jauh dilubuk hatinya merasa sedih saat melihat tatapan Natsu tadi.
XXX
"Kau ini kenapa? Kenapa kau berbicara pada Lucy seperti itu. Kau tidak lihat tadi dia terlihat sedih!" omel Gray
"Aku hanya emosi, mungkin" jawab Natsu sambil mengacak-ngacak rambutnya.
"Emosi? Kenapa kau tiba-tiba emosi dengannya? Baka!" Ujar Gray
"Dia sudah berpacaran dengan Sting" ungkap Natsu.
Gray tidak kaget mendengarnya, karena dia sudah tahu dari gelagat Sting dan juga Lucy.
"Oh begitu, lalu?" Tanya Gray
"Aku merasa emosi karena hal itu" jawab Natsu, pandangannya menerawang jauh. Sekarang terlihat Natsu yang putus asa. Gray mendecih dan berjalan mendekati Natsu.
BUUKK!
Gray meninju pipi Natsu dengan keras sehingga Natsu jatuh terjerembab. Natsu memelototi Gray. Natsu pun bangkit dan membalas memukul Gray. Dan mulailah perkelahian diantara mereka. Setelah merasa capek, mereka pun jatuh duduk. Nafas mereka terengah-engah, keringat mereka terlihat mengalir diselingi dengan darah segar yang keluar sedikit dari bibir mereka masing-masing. Wajah mereka pun penuh dengan luka lebam.
"Sial! Aku tidak akan kalah darimu, Natsu" ujar Gray
Natsu hanya tertawa. "Terserah kau saja, Gray. Lihat saja lukamu lebih banyak dibanding diriku"
"Arrrrgh kau menyebalkan, flamehead!" Gerutu Gray.
Natsu menyandarkan tubuhnya ke tembok, begitu juga dengan Gray.
"Oy, kita membolos dan berkelahi hari ini" ucap Natsu
"Yah..nanti jika Jellal atau Erza memarahiku, aku akan bilang ini semua salahmu, kepala api" sahut Gray
Natsu tersenyum.
"Aku hanya menasehatimu sekali ini saja. Jadi kau harus dengarkan" ujar Gray
Natsu menoleh. "Apa lagi?"
"Kau tidak berhak untuk emosi karena Lucy sudah menjalani hubungan dengan Sting.." Ucap Gray
"Kau sudah memilih jalanmu bukan? Kau memilih untuk tidak dekat dengan Lucy kan? Jadi nikmati pilihanmu, jangan salahkan Lucy seperti tadi" lanjut Gray
Natsu terdiam.
"Tapi perasaanku masih tetap sama padanya" ucap Natsu
"Kalau perasaanmu masih tetap sama, kenapa dengan bodohnya kau memberi jalan Sting seperti itu?"
Natsu terperangah. "Karena-" ucapan Natsu dipotong oleh Gray
"Karena kau yang membuat Lucy seperti itu? Dan kau tidak bisa membuat dirinya bahagia? Begitu?" Ucapan yang dilontarkan Gray itu adalah ucapan Sting saat kecil dulu. Karena Natsu telah menceritakan semua masa lalunya kepada Gray.
"Kebahagiaan seseorang itu tidak bisa diukur oleh apapun. Kebahagiaan itu yang merasakan adalah diri sendiri, bukanlah orang lain."
"Kau menyerah saat Sting berbicara seperti itu padamu dulu? Kau bodoh, Natsu. Walaupun Lucy tidak mengingat dirimu dan itu dikarenakan dirimu, Tetapi ia juga tidak mengingat Sting bukan? Seharusnya kau juga berada disampingnya saat itu. Bukan hanya Sting" terang Gray
Natsu terdiam.
"Kalau Lucy tahu, Lucy pun tidak akan membiarkanmu menjauhinya. Mendengar dari ceritamu dulu, Lucy terlihat sangatlah bahagia bersamamu sebelum kejadian itu terjadi" lanjut Gray.
Natsu masih terdiam.
"Lucy tidak akan tahu sampai kapanpun tentang dirimu. Tentang dirimu yang diam-diam mengawasinya, diam-diam melindunginya. Ia tidak akan tahu jika kau tetap seperti ini.." Jelas Gray
"Jadi apakah aku harus.." Belum selesai Natsu berbicara, Gray kembali berbicara.
"Kau harus berjuang. Berjuang melindunginya seperti dulu. Didepannya. Berdiri didepannya. Berada disisinya. Menjadi temannya" ucap Gray.
"Tapi sudah ada Sting disisinya.." Elak Natsu
"Kesempatan itu masih tetap ada, Natsu" ungkap Gray
Natsu menengadahkan kepalanya menghadap kelangit. Ia merasakan hembusan angin yang membelai rambut spike pinknya.
"Jauh dilubuk hati Lucy, Lucy masih mengenalimu. Itu pasti" tambah Gray.
"Kau tahu dari mana? Jangan sok seperti peramal, ice princess" protes Natsu
"Kau tidak tahu kan? Kau saja tidak memperhatikannya. Aku dan Erza memperhatikan kalian. Dari Lucy yang meminjamkan tugas rumahnya untukmu, lalu memandangimu penuh perhatian, lalu ia meminjamkan buku matematikanya hingga ia disuruh keluar oleh sensei, lalu saat dikafe, diam-diam ia memperhatikanmu. Makanya aku menginjak kakimu" terang Gray.
Natsu mengepalkan tangannya.
"Kau tidak melihat itu kan? Mungkin Lucy sendiripun tidak menyadari akan perasaannya padamu, tapi seharusnya kau, kau yang menyadarkannya" setelah menasehati Natsu, Gray pun bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan Natsu.
"Minta maaf dengan perbaiki sikapmu padanya, Natsu. Walaupun ia milik Sting, setidaknya kau bisa berada disisinya sebagai temannya" ucap Gray sebelum keluar dari atap.
Natsu diam. Ia tertunduk. Semua yang dikatakan oleh Gray benar. Kenapa ia bisa begitu bodoh, dapat menyerah begitu saja. Natsu pun keluar dari atap dan berjalan dikoridor kelas. Tiba-tiba..
"Natsu" panggil seseorang.
'Sial' batin Natsu
Natsu pun berbalik dan melihat ketua kedisiplinan berada dibelakangnya bersama dengan wakilnya. Erza dan Jellal. Natsu pun memamerkan deretan giginya dan berlari kabur menjauhi pasangan yang ditakuti seantero sekolah.
"Natsu! Jangan kabur!" Ujar Erza
Erza mengerjar Natsu, sedangkan Jellal sudah menyeret Gray.
'Larilah, Natsu. Larilah dari monster itu' batin Gray
XXX
Natsu memutuskan bersembunyi diruang tempat penyimpanan alat olahraga. Nafasnya terengah-engah karena berlari kabur.
'Matilah aku kalau tertangkap olehnya' pikir Natsu
Tiba-tiba pintu ruangan penyimpanan itu terbuka, menampakkan Erza yang sedang tolak pinggang.
"Dimana kau Natsu? Aku tahu kau ada disini" ujar Erza
Natsu sudah berkeringat dingin. Ia bersembunyi dibalik lemari.
'Oh tidak..jangan ketahuan jangan ketahuan jangan ketahuan..' Batin Natsu
Erza pun melangkahkan kakinya masuk. Terdengar hentakkan sepatu Erza membuat Natsu semakin tegang. Tiba-tiba..
"Ternyata kau disini" ucap Erza yang sekarang menemukan Natsu
"Uwaaaaaahhhhh aku ketahuaaaan tolongggg" teriak Natsu dengan histeris
Dengan cepat Erza menjitak keras kepala Natsu.
"I-itttaiii" keluh Natsu
Natsu pun di seret Erza untuk ikut dengannya.
"Pertama, kita harus membersihkan lukamu dulu" ucap Erza
"Ha'I" sahut Natsu
'Uwaaah aku tertangkap' jerit batin Natsu
XXX
Waktu pun cepat berlalu. Bel pulang pun sudah berbunyi. Para siswa dan siswi mulai membereskan bukunya dan berjalan pulang. Tidak halnya Lucy, Lucy membereskan buku-bukunya lalu meninggalkan kelas tanpa tasnya.
"Lucy" panggil Sting
Lucy pun menoleh "Ada apa?"
"Selesai rapat jam berapa? Aku akan menunggumu" tanya Sting
"Hmm biasanya jam empat. Baiklah. Aku ikut rapat dulu ya. Sampai nanti" jawab Lucy sambil pamit.
Sting pun memutuskan sambil menunggu Lucy, ia ingin bermain basket sebentar.
XXX
Sedangkan diruang kesehatan, Gray dan Natsu sudah diobati dan sedang diceramahi oleh Erza dan juga Jellal.
"Kalian mengerti?!" Tanya Erza dengan suara lantang
"Iya kami mengerti" jawab Gray dan Natsu bersama.
"Baiklah, kalian boleh pulang" ucap Jellal
Natsu dan Gray langsung berlari kekelas untuk mengambil tasnya. Saat sudah sampai dikelas, Natsu menoleh kearah meja Lucy. Tas Lucy masih ada, berarti dia sedang ikut rapat.
"Ayo pulang" ajak Gray
"Kau duluan saja, aku masih ada urusan" jawab Natsu
Gray pun mengangkat bahunya dan berjalan keluar kelas.
Natsu duduk ditempat Lucy. Ia membaringkan kepalanya dimeja. Tatapannya terlihat sendu.
"Aku rindu padamu, Luce.." Gumamnya
Dengan tidak sadar, Natsu pun telah memejamkan matanya dan tertidur pulas. Hanya terdengar dengkuran halus dari diri Natsu.
XXX
"Baiklah, masing-masing kelas harus mengadakan pertunjukkan di festival sekolah ini" terang Erza
"Jadi kalian akan diberi waktu dua minggu dari sekarang untuk mendaftarkan acara apa yang akan kalian buat" tambah Jellal.
Lucy pun mengangkat tangannya.
"Setiap kelas harus mengadakan berapa acara?" Tanya Lucy
"Terserah kalian. Dari pihak sekolah akan menyediakan panggung dan juga lapak untuk membuka stand-stand usaha" jawab Erza
Lucy mengangguk.
"Apa ada yang ingin ditanyakan lagi?" Tanya Jellal
Semua diam.
"Baiklah, rapat selesai. Kalian boleh pulang" ujar Erza
Lucy pun bangkit berdiri dan keluar dari ruangan. Ia berjalan menuju kekelasnya karena ia meninggalkan tasnya disana. Saat membuka pintu, lagi-lagi ia melihat Natsu tertidur. Tapi..
'Kenapa dia duduk ditempatku?' Pikir Lucy
Lucy pun menghampirinya. Ia melihat wajah Natsu terdapat luka lebam. Walaupun wajah Natsu terlihat damai saat tidur. Tanpa sadar, Lucy mengulurkan tangannya untuk membelai pipi Natsu, hanya tinggal beberapa sentimeter, Lucy berhenti dan mengepalkan tangannya.
"Natsu bangun" ucap Lucy
Natsu pun membuka matanya dan melihat Lucy dihadapannya.
"Maaf mengganggu tidurmu, tapi aku ingin mengambil tasku" ucap Lucy
Natsu bangkit berdiri dan mempersilahkan Lucy untuk mengambil tasnya.
"Hmm anoo kalau boleh tahu, kau habis berkelahi ya?" Lucy dengan gugup bertanya pada Natsu. Natsu yang sedang duduk ditempatnya hanya menggaruk kepalanya yang sepertinya tidak gatal dan mengangguk.
"Dengan Gray?" Tanya Lucy lagi
Natsu tidak menjawab. Lucy sadar kalau pertanyaannya sangat menyelidik. Padahal ia sudah diperingatkan untuk tidak peduli pada Natsu, tapi entah kenapa Lucy tidak dapat acuh pada Natsu. "Ah maaf, aku tidak akan bertanya-tanya lagi. Gomenasai" Lucy pun berjalan keluar kelas. Saat diambang pintu, Natsu pun memutuskan memanggil Lucy.
"Hoy" panggil Natsu
Lucy berhenti berjalan. Ia menoleh kearah Natsu.
"Iya aku berkelahi dengan Gray si Ice princess. Jadi jangan khawatir" lanjut Natsu
Lucy tersenyum dan tiba-tiba ia menunjuk Natsu.
"Mulai sekarang, panggil diriku dengan namaku, kalau tidak, aku tidak akan pernah menoleh" ucap Lucy
Natsu mengerjap-ngerjapkan matanya, bingung melihat sikap Lucy.
"Lu..cy" gumam Natsu
Gumaman itu terdengar ketelinga Lucy. Lucy pun tersenyum. Natsu yang melihat senyuman Lucy merasa wajahnya memanas. Ia yakin kalau sekarang kedua pipinya sudah merona.
"Aku masih punya kesempatan untuk berteman denganmu kan?" Tanya Lucy sambil terus tersenyum
Natsu terdiam mendengar pertanyaan Lucy dan pada akhirnya Natsu pun mengangguk.
"Syukurlah..aku pulang duluan ya, Natsu" pamit Lucy sambil melambaikan tangannya.
Setelah kepergian Lucy, Natsu pun menutup wajahnya dengan salah satu tangannya.
"Apa-apaan tadi itu, astaga dia manis sekali.." Gumam Natsu
XXX
Lucy mencari-cari keberadaan Sting.
'Kemana sih dia' batin Lucy
Lucy pun memutuskan untuk melihat kegedung olahraga, dan tepat sekali. Sting sedang bermain basket dengan teman-temannya dan diteriaki oleh fans-fansnya. Sedangkan Sting sedang menggiring bola basket sambil senyum-senyum. Sepertinya Sting menyukai teriakan fans-fansnya. Lucy memicingkan matanya.
"Sting!" Panggil Lucy
Sting pun berhenti bermain dan menghampiri Lucy.
"Kau sudah selesai? Aku ambil tas dulu" ucap Sting
Sting dengan segera menyambar tasnya dan pamit pada teman-teman dan juga para fansnya. Lucy hanya menggelengkan kepalanya.
"Yuk" ajak Sting
Mereka berjalan berdua menuju keparkiran. Setelah sampai, mereka bersiap-siap untuk pulang.
XXX
Natsu pulang keapartemennya. Ia melemparkan tasnya kesembarang arah, melepaskan sepasang sepatunya dan membaringkan tubuhnya disofanya. Ia memejamkan matanya dan ia mengingat senyuman Lucy saat disekolah tadi. Ia pun tersenyum.
"Setidaknya kau masih bisa tersenyum seperti itu didepanku, Lucy.." Gumamnya.
.
.
.
.
.
.
.
To be Continued
Minna-san... aku update kilat lagi yuhuuuuu~~~ chapter ini menurut kalian bagaimana? membosankan ya? huaaah gomenasaaaaiiii-_-
Ohiya, lagu yang dinyanyikan oleh Lucy di kafe itu judulnya the call dinyanyikan oleh Regina Spektor. Lagu itu salah satu Soundtrack film Narnia. apa kalian ada yang tahu film itu? ^^
Baiklah, mohon reviewnya aja ya~~
Terimakasih untuk zuryuteki, Fi-chan nalupi, shadow
(guest), hana safir putri (guest) yang sudah mereview cerita ini. hmm mungkin rasa penasaran kalian tentang bagaimana Lucy bisa amnesia itu belum terjawab oleh chapter ini, tapi itu akan terjawab dichapter lainnya, lalu masalah pairing, mungkin ada banyak moment Nalu yang bakalan nanggung-nanggung, lalu ada pula StiCy dan pairing lainnya. tapi akan aku usahakan cerita ini akan menjadi lebih menarik. semoga kalian semua dan para readers menyukainya, yuhuuu XD
baiklah, udah dulu ah bacotannya, yang jelas, mohon reviewnya yaa dan jangan lupa tunggu kelanjutannya.
Jaa nee XD
