Lucy perlahan membuka kedua matanya. Pandangannya masih samar-samar dan kabur. Dia mengedipkan matanya beberapa kali agar pandangannya menjadi jelas. Setelah Lucy merasa pandangannya sudah lebih baik, dia berusaha menggerakkan tangannya dengan perlahan. Ia memandangi tangannya dimana ada sebuah infus yang melekat disana. Dia menurunkan kembali tangannya dan berusaha bangkit duduk. Ia berusaha dengan perlahan walaupun ia masih merasakan sedikit pusing. Tapi ia tetap bertekad untuk bangkit duduk.

Bersusah payah Lucy bangkit duduk, ia mencabut selang oksigennya yang berada dihidungnya yang merupakan alat bantu pernapasannya dan meletakkan diranjangnya. Ia bernafas dengan normal. Lucy mendengar sebuah dengkuran halus diruangan yang sama dengannya. Ia mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan, dan pandangannya berhenti saat melihat sosok yang sedang terlelap di sofa. Lucy pun tersenyum.

'Natsu..' batinnya

Fairy Tail © Hiro Mashima

A Fairy Tail Fanfiction

Three Heart for One Love

By Yusa-kun

Warning : AU, Typo(s), OOC.

.

.

.

.

.

Lucy merasa tubuhnya sudah tidak apa-apa. ia juga sudah mampu menggerakkan otot-otot tubuhnya. Ia dapat menggerakkan tangan dan kakinya. Hanya saja rasa sakit dikepalanya masih terasa. Lucy dengan nekat mencabut infus yang melekat ditangan kanannya dan turun dari ranjangnya. Dengan perlahan Lucy melangkahkan kakinya, sedikit oleng, tetapi ia langsung memegang tepi ranjang untuk menahan agar ia tidak jatuh. Merasa kakinya sudah kuat untuk menopang tubuhnya, Lucy mencoba kembali melangkahkan kakinya yang tanpa alas kaki. Lucy merasakan dinginnya lantai ruangan itu.

Lucy berjalan perlahan menuju tempat dimana Natsu sedang terlelap. Lucy tersenyum melihat wajah Natsu yang terlihat begitu damai saat tertidur. Lucy membelai lembut rambut milik Natsu. Karena tidak mau membangunkan Natsu, Lucy segera keluar dari ruangan dengan perlahan.

Saat diluar ruangan, ia bertemu seorang perawat. Perawat itu terkejut dan berlari menghampiri Lucy.

"Anda sudah sadar? Anda tidak boleh berjalan-jalan seperti ini" ucap perawat itu.

"Aku sudah tidak apa-apa" Lucy pun tersenyum.

Perawat itu masih mengkhawatirkan keadaan Lucy, dengan sigapnya perawat itu merangkul Lucy dan membantunya untuk berjalan.

"Anda harus diperiksa dulu oleh dokter" Perawat itu membantu Lucy berjalan dengan merangkul Lucy. Lucy menoleh kearahnya dan mengangguk.

"Baiklah, tapi jangan diruanganku. Aku mohon.." pinta Lucy dengan wajah yang memelas membuat perawat itu tersenyum lembut dan mengerti permintaan Lucy. Perawat itu segera mengangguk dan menuntun Lucy untuk keruangan Dokter yang menanganinya.

Lucy pun sampai diruangan Dokter yang menanganinya dan diperiksa oleh dokter tersebut. Dokter tersebut menjelaskan kalau keadaan Lucy sudah baik-baik saja. Hanya Lucy tidak boleh melakukan gerakan yang terlalu berat, karena rasa sakit dikepalanya akibat kecelakaan belum sepenuhnya sembuh. Lucy mengerti akan hal itu.

Setelah diperiksa, Lucy keluar dengan dibantu oleh perawat yang mengantarnya.

"Anda mau kembali keruangan anda?" tanya perwat itu dengan ramah. Lucy menggeleng.

"Aku ingin berjalan-jalan sebentar, tidak jauh-jauh. Aku akan berada disana" Lucy menunjuk ujung koridor dimana disana terdapat sebuah jendela besar yang menyajikan pemandangan luar rumah sakit. Perawat itu pun mengerti dan mengangguk.

"Baiklah, apa ingin saya antar?" tawar sang perawat. Lucy menggeleng "Iiee, Arigatou."

Lucy pun melangkahkan kakinya melewati koridor rumah sakit, ia berjalan menuju ujung koridor tersebut. Dengan perlahan, tapi langkahnya begitu pasti. Setelah beberapa lama ia berjalan, akhirnya ia sampai diujung koridor dan berdiri didepan jendela tersebut. Ia memandang keluar dan melihat hiruk-pikuk diluar sana. Ia tersenyum.

Sekilas kilatan-kilatan ingatan terdahulu terpintas diotak Lucy. Lucy memejamkan matanya seperti menikmati kepingan-kepingan ingatannya yang hilang. Lucy tidak sadar kalau ada seseorang yang sedang berdiri dibelakangnya menatapnya dengan tidak percaya.

"Lu..cy.." panggil seseorang tersebut. Suaranya begitu familiar ditelinga Lucy. Lucy membuka matanya dan menoleh kebelakang. Dan ia melihat sosok yang begitu ia rindukan. Natsu Dragneel.

Lucy tersenyum dengan manisnya. "Natsu.."

Betapa kagetnya saat tiba-tiba Natsu menariknya kedalam pelukannya. Lucy tersenyum dan membalas pelukan Natsu. Lucy merasakan kehangatan yang begitu ia rindukan sejak dulu. Seseorang yang telah ia lupakan, seseorang yang ternyata selama ini berada disampingnya. Lucy begitu merindukan cinta pertamanya ini.

"Tadaima.." Lucy mengucapkan kalimat itu dengan suaranya yang lembut. Natsu yang mendengar suara Lucy hanya tersenyum.

"Okaeri, Luce.."

XXX

Lucy dan Natsu sudah berada diruang rawat dimana Lucy dirawat selama beberapa bulan. Natsu tidak berhenti memandang wajah Lucy dan tidak melepaskan genggaman tangannya. Karena sikap Natsu yang seperti itu, pipi Lucy sudah merah merona.

"Mouu..Natsu jangan memandangi diriku seperti itu" rengek Lucy. Lucy sudah tertunduk malu. Natsu terkikik melihat Lucy yang malu seperti itu.

"Kenapa? Toh aku kan punya mata, masa aku tidak boleh melihat" sahut Natsu

"Natsu, baka!" ujar Lucy. Lucy berusaha memukul Natsu dengan tangan yang bebas tetapi ditahan oleh Natsu. Natsu tersenyum. Dan sekarang Natsu menggenggam kedua tangan Lucy dan Natsu duduk ditepi ranjang Lucy.

"Aku benar-benar takut kehilanganmu, Luce" ucap Natsu dengan wajah tertunduk dan suaranya bergetar. Lucy merasakan genggaman tangan Natsu melemah. Dengan segera Lucy mengangkat tangannya dan meraih wajah Natsu agar menatap dirinya. Mata onyx milik Natsu dan mata karamel milik Lucy bertemu dan saling memandang.

"Daijoubu, Natsu.." Lucy berusaha menenangkan Natsu yang terlihat begitu ketakutan. Ia bisa merasakannya karena ia mendengar suara Natsu yang bergetar, bukan hanya itu saja, ia melihat rasa penyesalan dimata Natsu. Natsu memegang salah satu tangan Lucy yang berada diwajahnya dan memejamkan matanya. Ia begitu menikmatinya.

"Maafkan aku, Luce..Maaf" gumam Natsu. Tatapan matanya begitu nanar. Lucy menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Tidak. bukan salahmu, Natsu"

"Tapi ini kedua kalinya kau—" ucapan Natsu terpotong karena Lucy meletakkan jari telunjuknya didepan bibir Natsu. "Jangan bicara apapun lagi". Natsu mengangguk.

"Seharusnya aku berterimakasih. Karena kecelakaan ini, aku sudah bisa mengingat semuanya. Mengingat dirimu, kenangan kita. Aku, kau, dan Sting. Begitu juga kenanganku bersama keluargaku" ucap Lucy. Natsu yang mendengar pernyataan Lucy kaget. Ia tidak menyangka kalau Lucy sudah bisa mengingat siapa dirinya. Natsu tertunduk.

"Terimakasih katamu? Bagaimana kalau nyawamu tidak terselamatkan? Kenapa kau mempertaruhkan nyawamu untuk seseorang seperti diriku? Aku..aku tidak berhak menerimanya, Lucy. Ini sudah kedua kalinya, Lucy. Kedua kalinya!" ujar Natsu

Lucy kembali membelai wajah Natsu dengan lembut dan tersenyum.

"Tapi nyatanya? Aku selamat bukan? Karena aku ingin melindungi dirimu. Seperti kau melindungiku. Bukankah aku sudah bilang padamu alasanku menolongmu? Kau tidak mendengarnya? Apa aku kurang jelas mengucapkannya?" Lucy menatap datar Natsu. Natsu hanya terdiam.

"Kenapa? Apa aku perlu mengulangnya? Aku sudah mengulangnya sebanyak dua kali dan kau ma—" ucapan Lucy terpotong karena Natsu telah mengecup bibirnya. Pada awalnya Lucy sedikit terkejut tetapi kemudian ia menikmati kecupan yang diberikan Natsu. Natsu menjauhkan wajahnya dan memandang Lucy. Natsu melihat semburat merah yanhg menghiasi kedia pipi Lucy dan menurutnya Lucy begitu manis dengan ekspresi itu. Lucy juga memandangi wajah Natsu. Wajah Natsu pun terlihat memerah. Tiba-tiba Natsu membalikkan tubuhnya, Lucy melihatnya dengan bingung.

Natsu menutup matanya dengan salah satu tangannya. Kedua pipinya sudah merah merona.

'Astaga dia manis sekali..' pikir Natsu

"Kau kenapa, Natsu?" tanya Lucy dengan polosnya. Natsu menggeleng. Lucy memiringkan kepalanya dan menyentuh bahu Natsu. Natsu tersentak. Natsu akhirnya membalikkan tubuhnya kembali untuk memandang Lucy. Lucy menatapnya dengan bingung.

"Jangan..Jangan wajah seperti itu Lucy..aku benar-benar tidak tahan melihatnya.." ujar Natsu dengan terbata-bata. Lucy bingung dengan maksud perkataan Natsu. memangnya kenapa dengan wajahnya?

"Maksudmu apa, Natsu?" tanya Lucy yang masih tidak mengerti dengan ucapan yang dilontarkan oleh Natsu.

"Wajahmu terlalu manis.." ucap Natsu dengan suara yang pelan tetapi masih dapat didengar oleh Lucy. Lucy pun blushing. Natsu sudah mengalihkan pandangannya. Mungkin ia merasa malu.

Lucy memberanikan dirinya untuk meraih wajah Natsu dan menuntunnya untuk memandang dirinya.

"Lihat aku.." pinta Lucy

Natsu memandang wajah Lucy. Lucy tersenyum manis padanya. Wajah Natsu tidak berhenti untuk blushing. Lucy tidak mengatakan apapun. Mereka hanya saling memandang. Natsu meraih kedua tangan Lucy yang memegang wajahnya dan menurunkannya. Natsu menggenggam erat tangan Lucy, begitu pun juga Lucy. Mata Lucy tidak lepas pada mata onyx hitam milik Natsu, Natsu mendekat lagi, Natsu merasa ragu, tetapi kemudian ia tetap mendekat kepada Lucy. Begitu dekat hingga Lucy dapat merasa hembusan nafas Natsu yang hangat di pipinya. Lalu Natsu membisikkan "I love you, Luce..".

"Natsu.." gumam Lucy, Natsu mengecup bibir Lucy dengan perlahan lalu bergeser untuk menciumnya penuh. Meluapkan rasa rindu mereka yang ada. Untuk sebentar, dunia sekeliling terasa memudar..

XXX

Natsu dan Sting sedang membantu Lucy mem-packing barang-barang Lucy dari rumah sakit. Karena hari ini Lucy sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Ini sudah lewat empat hari sejak Lucy sadar. Natsu dengan segera mengabarkan Sting dan teman-teman lainnya bahwa Lucy sudah sadar. Hubungan antara Natsu, Lucy dan juga Sting menjadi akrab kembali.

"Yossh! Sudah semua" ujar Natsu. ia telah selesai memasukkan barang-barang Lucy kedalam sebuah tas. Sting yang dari luar untuk menyiapkan sebuah taksi masuk kedalam ruangan.

"Apa sudah siap? taksinya sudah menunggu" ucap Sting

Lucy mengangguk. Ia turun dari ranjang dibantu oleh Sting. Natsu berjalan keluar lebih dahulu untuk membawa tas Lucy. Lucy berjalan dengan pelan dan beriringan dengan Sting. Terkadang mereka saling memandang dan tersenyum. Sting sudah tahu kalau ingatan Lucy telah kembali. Sting pun sudah membicarakan tentang bagaimana kelanjutan hubungannya bersama dengan Lucy. dan Sting memutuskan mundur dan akan tetap menjadi sahabat Lucy walau ia masih mencintai Lucy dengan sepenuh hatinya.

Lucy masuk kedalam taksi, begitu pun dengan Sting dan Natsu. Sting duduk disamping supir, sedangkan Natsu duduk disebelah Lucy. Sting terkadang jengkel melihat kedekatan Natsu, tapi mau bagaimana lagi, ia sudah memutuskan untuk menyerah bukan?

"Kenapa yang lainnya tidak ada yang ikut mengantarkan aku pulang? Mereka menyebalkan" gerutu Lucy.

Natsu dan Sting hanya tertawa pelan menanggapi Lucy. "Kau manja sekali, Luce." Ucap Natsu

"Iya, kenapa mempermasalahkan hal sepele seperti itu. Toh mereka sering menjenguk saat kau tidur seperti kerbau" timpal Sting dengan nada meledek. Lucy mulai memonyongkan bibirnya dan mulai menggerutu.

XXX

"Apa semua sudah siap?" ujar Levy dengan bertolak pinggang. Didepannya sudah ada teman-temannya yang sedang sibuk mendekor kamar Lucy. Mereka berencana untuk menyambut Lucy saat pulang.

"Gajeel, tulisan itu miring" teriak Levy pada kekasihnya. Gajeel sedang memasang sebuah spanduk besar bertuliskan 'Welcome home' bersama dengan Gray. Sedangkan Juvia dan Lisanna sedang menempelkan beberapa pita dan balon-balon.

"Bagaimana? Masih miring tidak, Levy?" tanya Gray. Levy melihat spanduk itu dan mengacungkan jempolnya. "Sudah pas!". Gray dan Gajeel menghembuskan nafasnya.

"Baiklah, dekorasi sudah siap. aku akan berdiri untuk menyalakan lampu nanti. Ohiya, bagaimana kuenya? Duh Erza dan Jellal belum datang-datang" ucap Levy yang tidak ada henti-hentinya. Gajeel menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kekasihnya panik seperti itu.

"Hey udang, tidak usah panik. Mereka akan sampai tepat waktu" Gajeel berusaha menenangkan Levy, tetapi Gajeel mendapatkan death-glare dari kekasihnya. Ia pun menghela nafas. Padahal ia berniat baik, kenapa dibalas seperti itu..

Akhirnya Jellal dan Erza pun datang dengan membawa kotak kue yang berukuran cukup besar.

"Kue sudah dataaaanggg" ucap Erza. Erza meletakkan kuenya dimeja yang telah disediakan. Ia membuka kotaknya dan terlihat sebuah kue yang bertuliskan sama dengan spanduk yang dipasang. Mereka semua tersenyum dengan ceria.

"Baiklah, dengan begini semua sudah siap. Tinggal menunggu Lu-chan datang" ucap Levy.

Tiba-tiba terdengar suara mobil yang sampai didepan apartemen Lucy. Levy segera berlari ketempat dimana saklar berada. Tetapi ia ditahan oleh Jellal. "Aku saja" Jellal menawarkan diri untuk memainkan saklar lampu. Jellal mematikan lampu dan mereka semua terdiam.

XXX

Lucy dibantu turun dari taksi oleh Sting, sedangkan Natsu membawa barang-barangnya. Sting dan Natsu saling memandang dan saling menyengir.

"Ayo kita masuk" ajak Natsu.

Lucy sudah berdiri didepan pintu apartemennya, ia membuka pintu dan masuk kedalam disusul oleh Sting dan Natsu. Apartemennya terlihat gelap. Dan tiba-tiba..

Klik.

"WELCOMEEE HOOMMEEE, LUCYYYYY" ujar teman-temannya. Lampu apartemen Lucy tiba-tiba menyala dan menampakkan teman-temannya yang berdiri didepannya dengan senyum mereka yang melekat diwajah.

Lucy terkejut sampai-sampai ia menutup mulutnya. Mata karamelnya berkaca-kaca melihat surprise dari teman-temannya. Lucy melihat disana ada Gray, Gajeel, Lisanna, Juvia, Erza, Levy, dan Jellal. Natsu menaruh barang-barang dan ikut berkumpul dengan yang lainnya, begitu pula dengan Sting. Mereka semua tersenyum kearah Lucy. Lucy teringat mimpinya saat melihat mereka semua. Lucy tidak dapat membendung airmatanya, ia menangis terharu.

"Arigatou, minna.."

XXX

Sudah lewat beberapa hari setelah pesta penyambutan Lucy yang kembali dari rumah sakit. Kesehatan Lucy pun berangsur-angsur membaik, Lucy pun mengikuti ujian susulan kenaikan kelas dengan lancar, tinggal menunggu hasilnya. Saat menunggu hasil ujian itu keluar, ia dan Natsu menyempatkan jalan-jalan bersama. Mereka benar-benar menikmati liburan kali ini. Mereka berjalan-jalan, menonton film bersama, bermain di game center, dan kegiatan-kegiatan lainnya mereka habiskan bersama. Terkadang beberapa kegiatan mereka mengajak Sting. Tetapi Sting selalu menolaknya, karena Sting takut mengganggu mereka berdua.

Hubungan Natsu dan Lucy sudah jelas. Mereka sekarang berpacaran. Sting pun menerima hal itu. Sting sadar kalau karena dirinyalah, Natsu dan Lucy tersiksa dengan perasaan mereka selama beberapa tahun.

XXX

Lucy sedang berada dikamar apartemennya. Ia sedang sibuk membaca novel di meja belajarnya. Ia begitu suka menghabiskan waktu luangnya untuk membaca novel-novel yang ia pinjam dari Levy walaupun mereka sering sekali bertukar novel.

Lucy melipat lembar novel yang ia baca dan menutupnya, ia melirik jam dindingnya yang tertempel dikamarnya. Sudah pukul setengah sembilan malam. Cukup lama Lucy berkutat dengan novel tersebut. Novel yang menceritakan kisah cinta yang begitu manis. Tiba-tiba terlintas tentang bayangan seseorang dipikiran gadis manis ini. Lucy memikirkan Natsu, kekasihnya.

"Sedang apa ya dia? Hmm mungkin aku akan meneleponnya" ucap Lucy yang sudah bangkit berdiri untuk meraih ponselnya yang tergeletak di ranjang tidurnya.

"Lucy.." Samar-samar Lucy mendengar ada suara yang memanggil dirinya. Suara seorang laki-laki. Apa mungkin itu Natsu?

Sreeek

Jendela kamar Lucy terbuka dan membuat angin malam menerbangkan gorden yang menutupinya. Lucy sedikit kaget mendengar jendelanya terbuka. Beberapa detik kemudian, muncullah sosok Natsu yang membuka gordennya dan menunjukkan grins khasnya pada Lucy. Itu merupakan hal yang tidak aneh lagi, mengingat dirinya sudah beberapa kali muncul dari jendela kamar Lucy sejak Lucy keluar dari rumah sakit.

"Natsu! aku sudah bilang beberapa kali, kalau masuk keapartemenku harus lewat pintu!" omel Lucy sambil bertolak pinggang, sedangkan orang yang diomeli sibuk lompat dari jendela dan duduk ditepi ranjang Lucy sambil nyengar-nyengir tidak jelas dan itu membuat Lucy tambah jengkel.

"Aku ingin mengajakmu kesuatu tempat. Aku yakin kau akan menyukainya" ujarnya dengan sorot mata yang berbinar-binar. Lucy hanya tersenyum melihat kelakuan Natsu.

"Tapi ini sudah malam, Natsu. Besok saja, bagaimana?" sahut Lucy dengan suaranya yang penuh kelembutan.

"Kau harus ikut, kau tidak akan menyesal kalau sudah melihatnya, ayo!" ucap Natsu. Natsu melangkahkan kakinya menghampiri Lucy lalu menggenggam pergelangan tangan Lucy. Lucy tersenyum dan akhirnya Lucy tidak mempunyai pilihan lagi untuk mengikuti Natsu.

XXX

Natsu membawa Lucy ke sebuah tempat dimana ada hamparan ilalang. Angin berhembus pelan membuat ilalang-ilalang itu bergoyang. Natsu masih menggenggam pergelangan tangan Lucy dengan erat. Lucy hanya bisa mengikuti langkah Natsu yang membawanya entah kemana.

"Sebentar lagi kau akan melihatnya" ujar Natsu dengan antusias.

Lucy tidak menjawabnya, Lucy hanya mengedarkan pandangannya kesekelilingnya yang menghamparkan luasnya padang ilalang. Tak sengaja, Lucy menangkap sebuah cahaya berkedip-kedip di antara ilalang. Lucy berpikir, apakah itu kunang-kunang?

Semakin jauh kaki mereka melangkah, cahaya tersebut kian bertambah banyak. Lucy memandangnya dengan takjub. Tiba-tiba Natsu menghentikan langkahnya membuat Lucy tersadar dan memandang Natsu.

"Lihatlah" Natsu menunjuk kearah depan. Lucy mengikutinya dan Lucy melihat berpuluh-puluh cahaya yang berkedip-kedip dengan indahnya. Lucy tersenyum. Terlihat Lucy benar-benar menyukai pemandangan tersebut. Natsu menoleh kearah Lucy, "Kau menyukainya?" tanya Natsu.

Lucy mengangguk. "Indah sekali, Natsu.." jawab Lucy. Sorot matanya begitu terlihat menyukai apa yang ia lihat sekarang. Natsu tersenyum melihatnya. "Syukurlah.."

"Arigatou, Natsu. ini sangat indah" ucap Lucy. Natsu tersenyum. "Benarkan? Kau tidak akan menyesal ikut denganku" jawab Natsu.

Natsu mulai berlarian untuk menangkap kunang-kunang, Lucy hanya tertawa melihat Natsu yang berlarian kesana-kemari seperti anak kecil.

"Lihat!Lihat! aku menangkapnya, Luce" ujar Natsu sambil membuka kedua telapak tangannya. Terlihat dua ekor kunang-kunang telah ditangkap olehnya, seiiring Natsu membuka telapak tangannya, kunang-kunang tersebut berterbangan kembali berkumpul dengan kaumnya yang lain. Lucy tersenyum senang.

Setelah puas bermain dipadang ilalang bersama dengan kunang-kunang, Lucy dan Natsu berjalan pulang dengan saling menggenggam tangan. Mereka terlihat begitu manis. Saat berjalan mereka membicarakan kunang-kunang yang berada dipadang ilalang tersebut, lalu tertawa. Mereka terlihat seperti pasangan yang begitu bahagia.

"Terimakasih ya, Natsu" ucap Lucy. Kini, mereka sudah berada didepan apartemen milik Lucy. Natsu masih menggenggam tangan Lucy.

"Kau senang?" tanya Natsu. Lucy mengangguk, "Sangat" jawabnya. Jawaban Lucy membuat Natsu tersenyum.

"Aku akan membuatmu bahagia, Luce. Aku berjanji" ucap Natsu. Lucy tersenyum dan mengangguk. "Ganbatte ne" ledek Lucy. mereka pun tertawa.

"Masuklah, sudah malam. Istirahat." Ucap Natsu.

Lucy mengangguk. "Kau pulangnya hati-hati ya, kabari aku kalau sudah sampai diapartemenmu. Hmm?"

"Baiklah" jawab Natsu

Lucy membuka pintu apartemennya dan melangkah masuk kedalam, saat Lucy ingin menutup pintu, tiba-tiba Natsu menahannya.

"Ada apa?" tanya Lucy dengan wajah yang polos.

Natsu menarik Lucy kedalam pelukannya. "Aku sangat mencintaimu, Luce..sungguh.." ucap Natsu. Lucy tersenyum dan membalas memeluk Natsu. "Aku juga, Natsu.."

Natsu melepaskan pelukannya dan mencium dahi Lucy. "Oyasumi.." ucapnya. Lucy tersenyum, "Oyasumi, Natsu"

Setelah momen itu, Natsu akhirnya berjalan pulang, Lucy masuk kedalam apartemennya dan mengunci pintunya untuk beristirahat.

XXX

Lucy dan yang lainnya sudah menginjak kelas tiga SMA. Dalam waktu dekat ini, mereka akan melaksanakan ujian kelulusan. Mereka belajar dengan giat, ikut les tambahan, dan sering belajar bersama. Terkadang pula, mereka berjalan ke toko buku untuk membeli buku kumpulan soal-soal ujian untuk melatih kemampuan mereka. Lucy dan Levy yang notabene nya sebagai siswi-siswi terpintar menjadi pembimbing bagi teman-temannya.

"Haaaah, beberapa hari lagi ujian, pastikan kesehatan kalian semua" ucap Erza.

Ya sekarang mereka semua sedang berada dirumah Erza, mereka semua sedang belajar bersama. Ada Gray, Gajeel, Levy, Lucy, Natsu, Juvia, Lisanna, Jellal, dan juga—Sting. Ya semenjak kecelakaan Lucy, Sting menjadi akrab dengan mereka semua.

"Tenang saja, aku ini kuat!" ujar Gray sambil memamerkan otot-otot lengannya dan membuat Juvia fangirling.

"Ahhh Gray-sama, kau gagah sekali~~~" ucap Juvia.

"Gagah apanya, dia itu pemuda lembek yang suka sekali es krim, mana ada laki-laki yang suka sekali dengan es krim" ejek Natsu. Lucy menyikut perutnya. "Sudahlah" ucap Lucy.

"APA KAU BILAAAANGG?!" geram Gray. Gray mencoba untuk menggaruk Natsu yang duduk didepannya tapi meja yang berada didepannya membuat Gray kesulitan. Akhirnya Natsu hanya mengejeknya.

"Tidak sampai yah aha kasian sekali" ejek Natsu.

"AWAS KAU YAA, DASAR OTAK APIIII!" Gray bangkit berdiri dan melangkahkan kakinya untuk menghampiri Natsu.

"HAAAHH KAU MENGAJAKKU RIBUT YA, ICE-BRAIN?!" Natsu ikut bangkit berdiri dan menantang Gray. Tiba-tiba terasa aura yang tidak enak berasal dari arah Erza. Gray dan Natsu menoleh kikuk kearahnya dan tersenyum canggung.

"Graaayy, Naaatsuuu, kalian bertengkar yaaa? Kalian ingin merasakan bogeman dariku, hmm?" Erza sudah mengepalkan tangannya dan menunjukkan kepada kedua pemuda tersebut. Kedua pemuda tersebut tiba-tiba saling merangkul dan tertawa.

"Hahaha tidak Erza, kami hanya bercanda kok. Ya kan, Natsu?" ucap Gray. Terlihat keringat dingin turun dengan derasnya dari wajahnya. Natsu mengangguk, "Iya itu benar. Kau tidak bisa melihat kami begitu akrab hahaha" tambah Natsu.

Lucy hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, begitu juga dengan yang lainnya.

XXX

Hari-hari pun berlalu, Ujian telah dilaksanakan, Lucy dan kawan-kawan mengerjakan soal-soal ujian dengan tenang dan tidak gegabah. Mereka semua begitu fokus pada ujiannya. Sesekali Natsu bertanya jawaban pada Lucy jika ada kesempatan. Begitu juga siswa yang lainnya.

Ini adalah hari terakhir ujian kelulusan. Lucy duduk ditempatnya, ia sudah menyelesaikan ujiannya, tetapi belum mengumpulkan kedepan. Lucy melihat keluar jendela dan pandangannya menerawang. Ia berpikir, sebentar lagi ia akan lulus dan melanjutkan ke jenjang universitas. Lucy sudah memutuskan untuk berkuliah di universitas yang ada di Crocus. Ia juga sudah memutuskan untuk mengambil jurusan sastra. Ia benar-benar bercita-cita sebagai penulis nantinya. Sedangkan Natsu, Natsu akan berkuliah diluar negeri. Ayahnya menyuruhnya untuk berkuliah disana dan mengambil juruan bisnis. Karena Natsu adalah pewaris dari perusahaan yang dikelola ayahnya. Natsu sudah menjelaskan pada Lucy dan Lucy bisa mengerti akan hal itu. Sting juga sudah merencanakan untuk kuliah di luar negeri, ia disana bersama dengan sepupunya. Karena keluarga Sting juga sama seperti Natsu, yang mempunyai sebuah perusahaan.

Sedangkan teman-temannya yang lain juga akan berkuliah ditempat lain. Seperti Erza dan Levy yang akan berkuliah di tempat khusus para wanita, lalu ada Gray dan Gajeel yang sudah memutuskan untuk masuk akademi musik dan mengasah bakatnya dalam bidang musik, lalu Lisanna dan Juvia akan melanjutkannya ke universitas swasta yang begitu terkenal di Magnolia. Dan Jellal, Jellal akan melanjutkan ke pendidikan kemiliteran.

Tidak terasa bel akhir dari ujian pun berbunyi, pengawas ruangan pun mengumpulkan lembar jawaban para siswa yang mengikuti ujian tersebut.

Lucy keluar paling terakhir dari kelasnya. Ia membawa tasnya dan beberapa kali ia menghela nafasnya.

"Luce..bagaimana? kau bisa kan?" tanya Natsu sambil merangkul Lucy. Lucy mengangguk. "Kalau kau?" tanya Lucy. Natsu menghela nafas, "Ada beberapa nomor yang aku jawab dengan asal" keluhnya

"Aku juga. Hah hari terakhir ujian memang suram" timpal Gray

"Sudahlaaah! Bagaimana kalau kita merayakannya? Ujian telah selesai, tinggal tunggu hasilnya saja" ujar Lisanna dengan ceria.

"Ah itu ide yang bagus, hitung-hitung refreshing" respon Gajeel. Levy mengangguk.

"Yosssh! Ayo kita merayakannya" ujar Natsu dengan antusias. Mereka semua tertawa.

XXX

Lucy dan kawan-kawan pergi ke tempat karaoke. Mereka bernyanyi bergantian, lalu kadang berpasangan. Mereka semua terlihat begitu gembira. Setelah puas berpesta, mereka semua berjalan pulang kerumah mereka masing-masing. Begitu pula dengan Natsu, Lucy, dan Sting. Mereka berjalan bersama-sama. Lucy berjalan ditengah-tengah mereka sambil tersenyum.

"Hah, sebentar lagi kita lulus dan harus berpisah" ucap Lucy sambil memandang Natsu dan Sting secara bergantian. Natsu dan Sting hanya tertunduk dan diam. Lucy menghentikan langkahnya.

"Hey, kenapa kalian terlihat begitu murung?" ujar Lucy membuat Sting dan Natsu menoleh kearahnya.

"Gommen ne Luce.." ucap Natsu

"Iya, maafkan aku.." tambah Sting. Lucy tertawa melihat tingkah pemuda yang berada dihadapannya.

"Kenapa kalian meminta maaf? Kalian berbuat salah? Tidak kok" sahut Lucy sambil berjalan menghampiri kedua pemuda itu. Sting dan Natsu hanya terdiam.

"Kami akan meninggalkanmu, kami tidak bisa menjagamu" ucap Natsu. Lucy tersenyum dan memandang kedua pemuda itu. Lucy menggeleng. "Tidak, aku benar-benar tidak apa-apa. Memangnya kalian itu bodyguard-ku yang harus selalu menjagaku? Bukan kan? Lagipula aku senang kalian membuat keputusan seperti itu. Jujur saja, aku benar-benar khawatir dengan kalian. Aku takut kalian nantinya hanya menjadi pedagang sayuran. Terutama kau, Natsu" Lucy tertawa pelan dan menunjuk kearah Natsu. Natsu termangu dan mencibir "Enak saja". Akhirnya mereka tertawa.

Lucy menggenggam tangan Natsu dan Sting bersamaan. Kedua pemuda itu tersentak dan memandang wajah gadis yang berada ditengah-tengah mereka. Mereka melihat sebuah senyuman bahagia dari gadis ini.

"Walaupun nantinya kita berjauhan, kalian akan selalu ada diingatanku dan juga dihatiku." Lucy mengucapkan kalimat itu tanpa menoleh. Senyum masih merekah diwajahnya. Lucy membelalakkan matanya karena tiba-tiba kedua pemuda yang mengapitnya memeluk dirinya.

"He—hey!" Lucy menjadi gugup.

"Arigatou, Lucy.." gumam Sting

"Hontou, Arigatou, Luce.." tambah Natsu dengan gumamannya.

Lucy tersenyum dan mengangguk.

XXX

"Selamat kepada seluruh siswa-siswi Fairy Tail High School atas kelulusannya.."

Lucy benar-benar tidak memperhatikan pidato dari kepala sekolahnya. Ia mengedarkan pandangannya kesekelilingnya, mencari sosok Natsu yang tiba-tiba menghilang. Ia melihat kawan-kawannya, seperti Gray dan Gajeel sudah terlelap ditempatnya. Lucy bersweatdrop.

'Kemana Natsu?' pikir Lucy

Lucy bangkit berdiri dan berjalan keluar dari aula.

"Kau mau kemana, Lucy-san?" tanya Mira-sensei

"Hmm toilet" jawab Lucy. Mira-sensei mengangguk. Lucy berjalan keluar aula dan setelah sampai diluar aula, ia berlari untuk mencari Natsu.

"Haaah Natsu kemana sih" gerutunya sambil berlari disepanjang koridor. Lucy berpikir, kalau Natsu sedang berada disuatu tempat dan tertidur. Lucy yakin kalau Natsu ada di ruang kesehatan atau bisa jadi ia berada di atap sekolah. Lucy segera masuk kedalam ruang kesehatan tetapi tidak menemukan seorang pun disana. Lucy bergegas menuju keatap sekolah. Setelah sampai, Lucy dengan perlahan membuka pintu atap dan masuk kedalam. Ia menoleh kesana-kemari mencari Natsu. dan akhirnya ketemu. Natsu sedang berbaring dan sepertinya, terlelap. Lucy menghampirinya dan berjongkok disebelahnya. Lucy tersenyum memandang wajah Natsu yang terlelap.

"Celana dalammu keliatan tuh" ucap Natsu dengan tiba-tiba, sontak membuat Lucy panik, wajahnya sudah memerah. Natsu bangkit duduk dan memandang Lucy. Ia tersenyum.

"Bercanda" ucap Natsu sambil terkikik. Lucy memukul bahu Natsu. Natsu pura-pura kesakitan lalu disusul oleh tawa Lucy.

"Kenapa kau disini? Kau harusnya ikut upacara kelulusan tahu" omel Lucy.

"Aku malas, bagaimana dong?" ledek Natsu. Mata Lucy menyipit sinis. Natsu tertawa.

"Upacara itu sangat membosankan, Luce. Pasti Gray dan Gajeel sudah terlelap diruangan itu" ucap Natsu. "Ya memang benar mereka sudah tertidur" gumam Lucy. Natsu tertawa mendengar pernyataan Lucy.

"Benarkan?" Natsu masih tertawa. Lucy ikut tertawa. "Dasar kau ini"

Lucy dan Natsu sekarang sudah duduk bersandar ditembok. Ia mengingat kenangan yang ada diatap ini. Dari belajar bersama dengan teman-temannya, lalu Natsu yang bernyanyi bersama Lucy. Sekolah ini memberikan banyak kenangan bagi mereka.

"Cepat sekali ya.." ucap Natsu. Lucy mengangguk.

"Kapan kau berangkat?" tanya Lucy. Natsu menoleh dan memandang tangan Lucy yang bebas. Ia meraih tangan Lucy dan menggenggamnya. "Keberangkatanku dipercepat menjadi besok"

Lucy menoleh tersenyum pada Natsu. "Aku akan mengantarmu, besok" ucap Lucy

Natsu menarik Lucy kedalam pelukannya, Lucy membalasnya."Kenapa kau tidak terlihat sedih? Apa kau berencana mencari yang lain saat aku tidak ada?" ucap Natsu

Lucy tertawa pelan. "Kalau aku bisa, aku akan mencarinya" ledek Lucy.

Natsu melepaskan pelukannya dan memandang Lucy dengan jengkel. "Jadi benar? Tega sekali kau, Luce" ucapnya sambil memalingkan wajahnya dari Lucy. Lucy tersenyum dan meraih wajah Natsu.

"Bercanda" ucap Lucy sambil tertawa pelan. Lucy bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya pada Natsu.

"Jadi? Bagaimana kalau kita turun kebawah, sepertinya upacaranya sudah selesai" ajak Lucy. Natsu mengangguk dan menyambut tangan Lucy. Mereka keluar dari atap sekolah dengan berpegang tangan.

XXX

"Lu-chan, ayo kita berfoto bersama-sama" ajak Levy dari kejauuhan. Lucy berlari menghampiri sahabatnya. Natsu terdiam melihat Lucy yang tersenyum bahagia. Lucy menyadari kalau Natsu masih diam ditempat. Lucy melambai-lambaikan tangannya untuk menyuruh Natsu menyusulnya. Natsu tersenyum dan berlari kearah Lucy dan teman-temannya.

Mereka—Gray, Juvia, Gajeel, Levy, Jellal, Erza, Lisanna, Sting, Lucy dan Natsu berpose dengan hebohnya. Terlihat senyum bahagia yang merekah diwajah mereka semua. Lalu Levy mengambil foto masing-masing untuk kenang-kenangan. Lucy mengeluarkan ponselnya dan berjalan kearah Natsu.

"Kita foto yuk" ajak Lucy. Natsu tersenyum dan mengangguk.

Lucy mengangkat ponselnya untuk mengambil fotonya, ia berpose dengan jarinya membentuk tanda peace dan tersenyum manis, lalu Natsu memamerkan grins khasnya.

Klik

Lucy dan Natsu melihat hasil fotonya dan tertawa.

"Nanti kirimkan foto itu padaku. Bagaimana kalau kita foto bertiga dengan Sting?" Natsu menunjuk kearah Sting yang sedang asik mengobrol dengan siswa lainnya. Lucy tersenyum dan mengangguk.

Natsu menyentuh bahu Sting dan membuat Sting menoleh. Sting tersenyum melihat Lucy dan Natsu. Natsu memamerkan ponselnya. "Ayo kita berfoto" ajaknya

Natsu berdiri disebelah kanan, Sting berdiri di sebelah kiri, mereka mengapit Lucy yang berada ditengah. Mereka bertiga menyiapkan pose-posenya. Mereka meminta tolong kepada siswa lain untuk memotretnya.

"1..2..3"

Klik

Siswa itu mengembalikan ponsel kepada pemiliknya. Natsu, Lucy dan Sting melihat hasilnya. Mereka semua tersenyum.

"Ah ini seperti yang dulu" ucap Natsu sambil menunjuk hasil fotonya. Lucy dan Sting menoleh dan tersenyum.

XXX

Besok harinya, Lucy bersiap untuk mengantar keberangkatan Natsu. Ia diantar oleh Sting untuk kebandara. Begitu juga dengan teman-temannya juga ikut mengantarkan keberangkatan Natsu ke luar negeri.

Natsu berdiri dengan membawa tas ranselnya dan menuntun sebuah koper berwarna hitam. Natsu memandang teman-temannya yang berada didepannya, begitu juga dengan Lucy. Ia melihat Lucy tersenyum.

"Jaga diri kalian baik-baik" ucap Natsu

Semuanya mengangguk termasuk Lucy dan Sting. Natsu menghampiri satu per satu temannya untuk berpelukan. Itu merupakan salam perpisahan dari Natsu. Sampai pada giliran Lucy. Mereka saling memandang dan berpelukan. Mereka diam, tidak mengatakan apa-apa. teman-temannya begitu salut pada Lucy yang tidak mengeluarkan airmata sedikitpun sampai sejauh ini.

"Aku pergi dulu ya" ucap Natsu. Lucy mengangguk. Mereka melepaskan pelukannya dan saling memandang.

"Jaga dirimu baik-baik disana, jangan telat makan, jangan suka membolos, jangan suka telat. Dan yang paling penting, kau harus mengabari diriku melalui email. Bukan hanya diriku, tapi teman-teman yang lain, kau harus mengabarinya" Lucy tersenyum saat memberikan nasehat pada Natsu. Natsu hanya tersenyum dan mengangguk.

"Aku akan cepat lulus dan kembali padamu, Luce. Tunggu aku.." ucap Natsu.

"Hmm" Lucy mengangguk.

Natsu kembali memeluk Lucy. Lucy tersentak dan membalas pelukan Natsu. "Aku akan sangat merindukanmu, Luce.." ucap Natsu. Pelukan Natsu bertambah erat. Natsu merasa sangat berat meninggalkan Lucy.

"Aku pun begitu, Natsu" sahut Lucy

Natsu melepas pelukannya dan beralih ke Sting. Mereka saling memandang dan berpelukan.

"Aku akan menyusulmu beberapa hari lagi" ucap Sting. Natsu mengangguk.

Natsu mundur beberapa langkah, ia sudah mendengar pengumuman bahwa pesawat yang akan dinaiki oleh dirinya akan landing. Natsu kembali memandang Lucy yang tersenyum. Ia benar-benar tidak melihat kilatan kesedihan dimata Lucy. Natsu akan merindukan senyuman itu.

"Sampai jumpa" pamit Natsu. Natsu mulai berjalan menjauh dari semuanya. Lucy tersenyum dan melambaikan tangannya. Tiba-tiba Natsu berhenti dan berbalik. Lucy menatapnya dengan heran begitu juga dengan yang lain. Natsu berlari menghampiri Lucy. Natsu menarik wajah Lucy dan mencium bibirnya. Lucy tersentak kaget, tetapi pada akhirnya, Lucy memejamkan matanya. Teman-temannya yang melihatnya hanya berpura-pura tidak tahu. Natsu melepaskan ciumannya dan beralih mencium kening Lucy.

"Aku akan kembali. Aku akan menjadi pria yang mapan dan dewasa, yang akan menculikmu untuk menjadi pengantinku, Luce. Aku janji. I love you.." ucap Natsu.

Lucy mengangguk dan meneteskan airmatanya. "I love you, too.."

Natsu berjalan kembali dan menghilang didalam kerumunan. Lucy mengusap airmatanya dan tersenyum.

XXX

Beberapa hari setelah keberangkatan Natsu, giliran Sting yang berangkat ke luar negeri. Setelah keberangkatan Sting, Lucy pun bersiap-siap dan berkemas untuk kembali kekampung halamannya, yaitu Crocus. Ia akan tinggal bersama dengan tantenya. Teman-temannya juga sudah membuat pesta perpisahan untuknya. Mereka semua berharap, suatu saat nanti mereka dapat berkumpul lagi. Mereka yakin akan hal itu. Lucy pun juga percaya akan hal itu.

.

.

.

.

.

.

.

.

To be Continued


HALOHAAAAAA BERTEMU LAGI DENGAN SAYAAA AUTHOR GAJE JE JE JEEEEE~~~ XD

Sepertinya untuk chapter ini alurnya kecepetan ya? cepetnya pake banget lagi hadoooh XD

Hmm diluar itu semua, bagaimana menurut kalian, para readers? kecewa gak Natsu ama Lucy nya kepisah lagi? hehehe XD

Mohon reviewnya ya, minnaaa :D

Baiklah, author akan membalas review dari para readers di chapter sebelumnya :

Ellen : Hehe saat ini Stingnya ditinggal, tapi diakhir cerita, akan aku buat semuanya bahagia XD ini sudah lanjuuttt~

TheZarkMon : Anda 100% benaaarrrrr yuhuuuu~~~ Oke lah buat sticy lover, tetep pantengin aja ya yang Love Affair. itu udah pasti Sticy abeezzz XD

ameru-chan : Sejak fanfic ini dibuat, Gray menjadi dewasa wikikiikik XD

winha heartfilia : Hehe biar pada penasaran dooong, biar seruuu wkwkwk bagaimana chapter yang sekarang hehe? XD

LRCN : Author juga ikut seneng (?) XD

kanzo kusuri : Salam kenal juga~ Hmm kalo Lucy mati nanti Natsu ama siapa dooong? XD nah, pertanyaan kamu udah kejawabkaaaan? ternyata Lucy ingeeet masa lalunyaaa yihaaaaa XD pasti author akan buat akhir yang bahagia, tenang ajaaaa ;D

Fi-chan nalupi : Naaaah, Lucy udah inget Natsu kaaan? ini sudah lanjut, ayo dibacaaa.. bagaimana menurutmu ? XD

Okeeee sudah dibales semua reviewnya sekarang, nah untuk chapter besok itu adalah chapter terakhir dari fanfic ini. Hmm mungkin minggu depan diusahakan author akan update chapter terakhirnya. Pokoknya dijamin semuanya akan berakhir bahagia XD

Jadi para readerssss, harus tunggu kelanjutannya yaaa dan jangan lupa utk review hehehe

Oiya, aku juga buat fanfic Nalu juga yang judulnya Between Us, ya mungkin ga kalah serunya ama yang ini. jadi para readers, kalau sempet dibaca juga ya yang fanfic judul itu dan di review jugaaaa hehehe

Arigatoooouu Gozaimasssuuuuu

Author pamit undur diri, sampai bertemu minggu depan dichapter terakhirrr XD

Jaa nee~