Session Talkshow
Bella : Minna-san, apa kabar? Berdasarkan perolehan nilai, Bella update yang ini dulu ya. Untuk yang lainnya mohon sabar menunggu. Padahal perbedaan fanfic ini dengan fanfic De Angela cuma beda tipis, 2 angka doang. Mungkin setelah ini Bella baru bikin.
Karin : Jadi mohon sabar menunggu ya minna. Oke kali ini kita berdua bakal bacain balasan review chapter satu.
Bella : Kok berdua sih, yang lainnya pada kemana?
Karin : Tahu tuh, katanya lagi pada sibuk semua.
Bella : Kurang ajar mereka, pasti mereka pada malas datang.
Karin : Sudahlah author jangan nuduh orang sembarangan. Ingat lagi puasa.
Bella : Egh iyaya. Oke deh daripada kebanyakan ngomong. Bella bacain balasan buat failasofi. Makasih atas nilainya, tapi lain kali jangan lupa kasih alasannya ya.
Karin : Selanjutnya buat Jamilah. Nilainya 4 atau 5 nih. Tapi author hitung tengah-tengahnya jadi 4,5.
Bella : Wah nilainya rendah harus remidial nih. Makasih ya atas nilainya. Kasih jelek juga nggak apa-apa yang penting ikut kasih nilai.
Karin : Lalu buat X-chan. Wah makasih kalau dibilang menarik. Author juga suka cerita yang ber-genre fantasy. Soalnya seru. Makasih atas nilai dan review-nya.
Bella : Terus buat gea. Nggak ada namanya. Kan itu Karin POV, jadi aku itu sama dengan Karin. Kalau soal pria baruh baya sama anak kecil itu. Masih jadi rahasia ya. Hehehehehe
Karin : Berikutnya buat KK LOVERS, sama seperti sebelumnya. Nilai yang dihitung tengah-tengahnya 7,5. Makasih atas dukungannya dan kalau update kilat itu tergantung perolehan nilainya.
Bella : Terus buat Guest. Cari Kazune ya. Masih belum ada, mungkin chapter depan baru ada. Jadi ditunggu saja ya.
Karin : Buat fukito, makasih sudah dibilang cool ceritanya. Padahal biasa-biasa saja.
Bella : Ka…rin… *sambil men-death glare ke arah Karin*
Karin : Bercanda kok author *sambil menunjukkan jarinya yang membentuk huruf V*
Bella : Ugh awas kalau kau macam-macam. Oke, balasan terakhir buat Kazuka Kujyou Tsania-Chan. Nggak apa-apa dapat nilai 8, sudah di atas KKM kok.
Karin : Emang pelajaran.
Bella : Hehehehe, oke karena balasan review sudah dibalas semuanya. Bella bakal buka chapter dua ini.
Karin : Minna jangan lupa kasih nilai setelah membaca ya dan beserta alasannya.
Title : Vampire Game
Chapter 2 : Rumor
Disclaimer : Kamichama Karin Chu © Koge Donbo
~Vampire Game~ © Bella-chan
Rated : T
Genre : Fantasy ; Hurt/Comfort
Pairing : KazuRin
Warning : AU, OOC, typo, abal, gaje, alur kenceng, nggak nyambung, dll
Summary : Aku tahu kalau mimpiku memang aneh. Lagipula mana ada vampir di dunia ini. /Andai kau tahu kalau mimpi buruknya itu adalah masa lalunya. / Karin, aku tidak menyangka kau akan kembali. / Kau siapa ya? / Banyak rumor aneh tentang mereka berlima / Entah kenapa aku merasa tidak asing dengan mereka semua.
.
.
Please Enjoy Reading
.
.
~Vampire Game~
Normal POV
"Karin, sarapan sudah siap ayo cepat turun!" teriak Bibi dari lantai bawah.
"Iya, sebentar lagi," balas Karin dengan teriakan pula.
Setelah memastikan seragamnya sudah lengkap dan rapi. Karin bergegas mengambil tasnya dan turun ke bawah untuk sarapan.
Sejak umur 7 tahun, Karin sudah diasuh oleh Bibinya. Karena orang tuanya sudah meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Sebenarnya Karin juga kehilangan ingatannya dalam kecelakaan tersebut. Itulah yang menyebabkan Karin tidak mengingat apapun tentang masa kecilnya dan juga kampung halamannya.
Setelah kecelakaan tersebut, Karin langsung diadopsi oleh Bibinya dan tinggal di luar kota. Namun sekarang ia dan Bibinya memutuskan untuk kembali ke kota tempat kelahiran Karin. Itupun setelah Karin memohon-mohon kepada Bibinya. Bahkan ia mengancam Bibinya kalau ia akan pergi sendirian. Jika Bibinya tidak mengijinkannya.
Kenapa Karin sampai melakukan itu semua. Itu karena ia merasa harus mengingat masa lalunya. Setiap ia bertanya kepada Bibinya tentang masa lalunya, Bibinya akan selalu menghindar untuk menjawab. Untuk itu ia memutuskan untuk mencari tahu sendiri ingatannya yang hilang. Mungkin dengan tinggal di kota kelahirannya, Bisa membuat Karin mengingat sesuatu.
"Ohayou!" sapa Karin seraya duduk di meja makan.
"Ohayou Karin, ini sarapan untukmu," ujar Bibi seraya menyodorkan sepiring roti bakar dan segelas susu cokelat.
"Arigatou," ucap Karin seraya menerimanya.
Setelah itu Karin mulai memakan roti bakarnya. Ia tampak tidak bersemangat, karena pikirannya masih terngiang-ngiang akan mimpinya semalam.
Bibinya yang menyadari itu mencoba bertanya,"Ada apa Karin, kau tampak tidak bersemangat?"
Karin hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum. Namun tidak cukup membuat kekhawatiran Bibinya berkurang.
"Sebenarnya ada apa, ceritakan saja pada Bibi?" tanya Bibi dengan raut wajah khawatir.
Karin meletakkan roti bakarnya, ia tampak sedang berpikir keras.
"Umm… sebenarnya semalam aku bermimpi buruk," ujar Karin pelan.
"Mimpi buruk, memangnya kau mimpi apa?" tanya Bibi lembut.
"Aku bermimpi sedang berada di daerah bersalju. Waktu itu sedang badai salju. Aku melihat seorang gadis kecil sedang menangis lalu aku menghampirinya. Begitu sampai di dekatnya. Aku baru sadar gaun yang dikenakan gadis itu penuh dengan noda darah. Gadis itu terus menangis dan meneriakkan ayah dan ibunya. Dan tiba-tiba saja ada seorang pria paruh baya datang mendekati gadis itu. Gadis itu berteriak kepada pria itu dan mengatakan kalau pria itu sudah membunuh ayah dan ibunya. Pria itu tampak sedikit kesal dan tiba-tiba saja mata pria itu berubah menjadi merah. Gadis itu langsung ketakutan dan berlari ke arah hutan. Lalu aku menyusulnya begitu aku mendengar teriakan gadis itu. Begitu sampai di dekatnya, aku melihat gadis itu dikelilingi oleh orang-orang menyeramkan bermata merah. Tapi tiba-tiba saja ada angin kencang dan berhasil membuat orang-orang menyeramkan itu pergi. Beberapa saat kemudian, aku melihat ada seorang anak kecil yang menggunakan jubah dan tudung hitam berjalan menghampiri gadis itu. Anak itu tampak berusaha menenangkan tangisan gadis itu. Tapi begitu ada angin yang lewat dan tudung yang dipakai anak itu lepas. Gadis itu menjerit ketakutan karena melihat sosok bermata merah, bertaring tajam, dan berbau darah. Setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi pada gadis itu, karena aku langsung terbangun. Jadi begitu ceritanya," jelas Karin panjang lebar.
Raut wajah Bibinya tampak memucat begitu mendengar cerita dari Karin, keringat dingin mulai berjatuhan dari pelipisnya.
Karin yang menyadari itu mencoba bertanya, "Bibi, kenapa?"
"Egh ti-tidak hanya saja ceritamu aneh. Sebaiknya kau lupakan saja mimpimu itu," ujar Bibi dengan senyum dipaksakan.
"Aku tahu kalau mimpiku memang aneh. Lagipula mana ada vampir di dunia ini. Iya kan, Bi?" ujar Karin meminta persetujuan.
Bibinya hanya mengangguk lemah.
"Ah sudah jam segini, aku harus cepat-cepat berangkat ke sekolah," ujar Karin bergitu melihat jam dinding di ruang makan.
"Iya, kalau begitu cepatlah. Kau tidak ingin terlambat di hari pertamamu pindah ke sekolah baru kan," ujar Bibi.
"Iya, kalau begitu aku berangkat dulu ya."
Setelah berpamitan pada Bibinya, Karin bergegas berangkat menuju ke sekolah barunya.
Raut wajah Bibinya kembali memucat begitu Karin sudah pergi. Pandangannya kosong.
"Andai Karin tahu kalau mimpi buruknya itu adalah masa lalunya," ujar Bibi seraya tersenyum miris.
~Vampire Game~
Karin POV
"Minna, hari ini kita kedatangan murid baru. Namanya adalah Hanazono Karin, dia pindahan dari Kota Hokkaido," jelas sensei memperkenalkan aku.
"Salam kenal semuanya, aku harap kita bisa menjadi teman yang baik," ujarku seraya tersenyum.
"Nah Karin kau bisa duduk di samping Kazusa," ujar sensei sambil menunjuk bangku yang dimaksud.
"Terima kasih, sensei," ucapku seraya membungkuk.
Setelah itu aku segera menuju bangku yang dimaksud. Aku pun segera mendudukinya, karena pelajaran sudah dimulai. Tampak sesekali aku melirik gadis yang berada di sampingku. Rambut blonde, bola mata kebiruan, cantik. Entah kenapa aku merasa pernah bertemu gadis itu sebelumnya.
Tampaknya gadis itu menyadari kalau sedari tadi aku melihatnya dan menoleh menatapku.
Aku hanya tersenyum karena kepergok melihatnya terus. Gadis itu hanya menatapku datar untuk beberapa saat. Setelah itu ia menampakkan seulas senyumnya. Lalu ia kembali menghadap ke arah depan. Begitu juga denganku.
Teng… teng… teng…
Jam istirahat telah tiba, aku segera membereskan buku-bukuku. Tampak Kazusa langsung beranjak pergi begitu mendengar bel berbunyi. Padahal aku ingin mengajaknya makan siang bersama tadi.
"Karin, aku tidak menyangka kau akan kembali," ujar seorang gadis berambut hijau tosca.
"Ma-maaf, kau siapa ya?" tanyaku bingung.
Tampak gadis itu menepuk dahinya lalu berkata, "Maaf aku lupa kalau kau pernah hilang ingatan waktu kecil. Namaku Miyon."
Aku sedikit kaget mendengarnya. Bagaimana gadis ini tahu kalau aku kehilangan ingatanku sewaktu kecil.
"Apa kau dulu mengenalku. Maksudku sebelum hari ini, apa kau pernah mengenalku?" tanyaku hati-hati.
"Tentu saja, aku ini adalah sahabat terbaikmu waktu kecil," ujar Miyon.
"Kalau begitu kau pasti tahu kan tentang masa laluku. Maksudku sebelum aku hilang ingatan," ujarku senang.
Tampak Miyon terkejut mendengarnya, ia tampak sedang memikirkan sesuatu.
"Miyon, kenapa kau diam saja. Ayo ceritakan padaku tentang masa laluku," ujarku bersemangat.
"Aku minta maaf Karin, aku juga tidak terlalu tahu tentang masa lalumu," sesal Miyon.
"Kenapa?" tanyaku bingung.
"Aku memang sahabatmu, tapi aku tidak terlalu tahu tentang kehidupanmu. Karena dulu keluargamu sangat tertutup. Jadi aku hanya tahu sebatas kehidupanmu di sekolah," jelas Miyon.
"Begitu ya," ucapku sedikit kecewa.
"Tapi aku akan menceritakan segalanya yang aku tahu sambil kita makan siang. Mau?" tawar Miyon.
"Emm," ucapku seraya mengangguk.
Meski dalam hati aku menginginkan masa laluku bersama keluargaku.
Pelajaran berikutnya adalah olahraga. Aku dan Miyon segera berganti pakaian. Sekarang aku sudah cukup bisa berbaur dengan teman-teman yang lainnya. Itupun berkat bantuan dari Miyon. Ternyata ada beberapa anak yang mengenalku waktu kecil saat aku masih tinggal di kota ini.
Tapi aku merasa ada yang kurang. Sedari tadi aku tidak melihat Kazusa dimanapun. Padahal sebentar lagi olahraga akan dimulai.
"Kazusa, kemana ya?" tanyaku pada Miyon.
"Ohh anak itu, paling ada urusan. Dia memang sering tidak ikut pelajaran. Jadi biarkan saja," ujar Miyon.
"Kenapa begitu?" tanyaku heran.
"Nanti kau juga tahu sendiri. Sebaiknya kita bergegas ke lapangan sekarang sebelum dihukum lari keliling lapangan gara-gara terlambat," ujar Miyon.
"Iya."
Akhirnya aku dan Miyon pergi menuju ke lapangan menyusul teman-teman yang sudah lebih dulu kesana.
Hari ini olahraganya adalah permainan voli. Kelas kami dibagi menjadi empat tim. Dua tim cowok dan dua tim cewek. Aku beruntung karena bisa satu tim dengan Miyon, karena Miyon cukup jago bermain voli. Sekarang tim cewek dan tim cowok sedang melakukan pertandingan voli. Tim kami unggul, tentu saja itu berkat Miyon. Tapi baru saja setengah permainan. Tiba-tiba saja ada suara ribut dari arah belakang kami. Sontak semuanya langsung menghentikan permainannya dan menghampiri keributan entah apa itu. Aku sendiri tidak tahu.
Miyon segera berjalan menghampiriku begitu melihat ekspresi bingung di wajahku.
"Ayo kita kesana juga!" ajak Miyon.
"Heh."
"Kau pasti sekarang sedang bertanya-tanya kan, apa yang sebenarnya terjadi. Makanya ikut aku saja," ujar Miyon seraya menarik tanganku.
Aku hanya bisa pasrah melihat tanganku ditarik oleh Miyon. Karena sebenarnya aku sendiri juga penasaran. Hal apa yang sampai-sampai membuat semua orang menghentikan permainan volinya dan pergi menonton. Memangnya ada presiden yang datang atau artis.
Begitu sudah berada di dekat. Yang aku lihat bukan presiden maupun artis. Namun tiga cowok dan dua cewek yang salah satunya adalah Kazusa.
"Memangnya mereka siapa?" tanyaku sedikit keras agar Miyon mendengarku.
Karena jujur saja suasana disini tidak kalah ramenya dengan kedatangan presiden maupun artis. Mereka semua pada berteriak memanggil nama-nama yang aku tidak kenali sama sekali.
"Mereka itu adalah dewan siswa," jawab Miyon dengan suara yang keras pula.
"Semacam OSIS ya?" tanyaku lagi.
"Kurang lebih seperti itu. Tapi anggota dewan siswa itu hanya orang-orang tertentu saja tidak sembarang orang bisa menjadi dewan siswa," jelas Miyon.
"Hah maksudnya orang-orang tertentu itu apa?" tanyaku bingung.
"Maksudnya yang menjadi dewan siswa itu hanya orang pintar-pintar saja," ujar Miyon.
"Hah?"
"Pertama yang berambut pirang itu. Namanya Kujyou Kazune, dia adalah ketua dewan siswa. Ia rangking satu paralel di sekolah kita. Sekolah ini juga milik keluarganya. Lalu di sampingnya, kau sudah tahu sendiri kan. Kujyou Kazusa, wakil ketua dewan siswa. Rangking dua paralel juga saudara kembar Kazune."
"Heh, saudara kembar," ucapku tak percaya.
Miyon hanya menganggukkan kepalanya lalu kembali melanjutkan penjelasannya,"Lalu di sebelahnya Kazusa. Yang berambut indigo itu, namanya Kujyou Himeka. Dia rangking tiga paralel dan dia itu sepupunya Kazune dan Kazusa."
Aku hanya mengangguk mengerti.
"Lalu dua cowok itu siapa?" tanyaku seraya menunjuk cowok berambut coklat caramel dan hitam.
"Ohh… yang berambut coklat caramel itu namanya Nishikiori Michiru, rangking empat paralel. Dan yang berambut hitam, namanya Kuga Jin. Rangking lima paralel," jelas Miyon.
"Yah kalau begitu sama saja anggota dewan siswa itu mulai rangking satu sampai lima dong," ujarku.
"Aku pikir juga begitu, tapi aku rasa bukan hanya itu saja alasannya," ujar Miyon seraya menatap kelima orang itu.
"Apa maksudmu?" tanyaku bingung.
"Banyak rumor aneh tentang mereka berlima," jawab Miyon.
"Salah satunya?" tanyaku penasaran.
Miyon menoleh menatapku lalu berkata,"Banyak siswa-siswa disini yang pernah dekat dengan mereka berlima. Tapi waktu ditanya mereka bilang tidak ingat apa-apa kalau mereka pernah dekat dengan mereka. Terus ada juga yang waktu itu mengantarkan proposal ke ruang dewan siswa. Namun orang itu tidak kunjung kembali. Waktu dicari tiba-tiba saja orang itu sudah ada di UKS dan dia juga bilang tidak ingat apapun. Lalu pernah juga waktu malam hari, ada yang melihat mereka masih berada di sekolah. Waktu itu dia kira mereka sedang ada urusan karena mereka dewan siswa. Tapi begitu lewat ruang dewan siswa, dia bilang kalau dia mencium bau darah dan setelah itu dia langsung kabur deh."
Wajahku memucat begitu mendengar kata darah. Miyon yang menyadari hal itu segera memegang pundakku.
"Kau kenapa Karin, sakit?" tanya Miyon khawatir.
"Egh ti-tidak, aku tidak apa-apa," ujarku mencoba ceria.
Miyon tampak menghela napas lalu berkata,"Aku tahu kau pasti merasa aneh dengan ceritaku. Tapi itulah yang sebenarnya terjadi. Banyak orang yang tidak mempercayainya dan berusaha menyangkal. Tapi bukti sudah jelas. Semenjak ada mereka berlima, sekolah ini tidak sama lagi," terang Miyon.
Aku terdiam mendengar ucapan Miyon. Lalu kupandangi satu persatu kelima orang itu.
Kazune.
Kazusa.
Himeka.
Micchi.
Jin.
Entah kenapa aku merasa tidak asing dengan mereka semua.
.
.
To Be Continued
.
.
Please Review
