Session Talkshow
Kazusa : Minna apa kabar, bertemu lagi dengan chara yang paling difavoritkan disini. Siapa lagi kalau bukan saya, Kazusa.
Karin : Ugh apaan itu, siapa juga yang memfavoritkanmu *sambil ngelempar sandal ke arah Kazusa*.
Kazune : Iya, siapa juga yang memfavoritkanmu, adanya tuh yang ngeselin kamu tau *sambil ngelempar sepatu ke arah Kazusa*.
Kazusa : Lumayan nih sandal sama sepatunya bisa dijual *sambil menangkap sandal sama sepatu yang dilempar sama Karin dan Kazune*.
Micchi : Ternyata gitu-gitu Kazusa punya jiwa dagang ya.
Jin : Jiwa dagang apanya, kere baru iya.
Himeka : Egh ngomong-ngomong, author mana. Kok nggak kelihatan dari tadi.
Kazusa : Oh cari author ya, tuh dia lagi bungee jumping di gedung situ.
All : *Langsung ngeliat author yang lagi diikat kakinya terus digelantungin di puncak gedung*.
Kazune : Kenapa author malah main-main sih, bukannya ngisi session talkshow ini.
Bella : Woi siapa yang main-main, ini semua ulah Kazusa tahu *teriak author pakai toa*
Kazusa : Salah sendiri, author lama banget update-nya. Itu sebagai hukuman untuk author karena terlambat update.
Karin : Author aku turut bersuka ria di atas penderitaanmu.
Micchi : Seharusnya berduka cita kan.
Bella : Whoaa, awas kau Kazusa kubalas kau nanti.
Kazusa : Oke kita abaikan author tak bertanggung jawab itu. Baiklah minna, kita bakal bacain balasan review. Untuk yang pertama buat dci dan mila chan, ini dah update kok. Maaf kalau author 'lama banget' update-nya.
Karin : Terus buat xxxx, vampir yang aku temui waktu kecil. Hehehe, aku sendiri juga nggak tahu apa Kazune orangnya. Yang tahu cuma author, soalnya dia yang bikin ceritanya. Kita cuma sebagai pemain.
Jin : Lalu buat sehunnieoppa, wah keenakan tuh kalau Kazune dibilang mirip Edward culen. Mirip dari mana coba, miripan juga aku.
All (-Jin) : *Langsung berlagak mau muntah*.
Micchi : Dua-duanya nggak ada yang mirip. Terus buat syofalira, wah dikasih nilai 10. Makasih ya.
Himeka : Berikutnya buat LICHING, wah nilai yang dikasih nyakang banget. Tapi nggak apa-apa lumayan lah. Salam kenal Liching-san.
Kazune : Buat jamilah, syukur deh kalau chapter kemarin menarik. Berarti ada peningkatan.
Kazusa : Untuk balasan review yang lainnya, akan dibacakan di akhir chapter nanti. Baiklah, sebagai asisten author aku bakal buka chapter ini.
All : Selamat membaca minna.
Title : Vampire Game
Chapter 3 : Vampire in Dream
Disclaimer : Kamichama Karin Chu © Koge Donbo
~Vampire Game~ © Bella-chan
Rated : T
Genre : Fantasy ; Hurt/Comfort
Pairing : KazuRin
Warning : AU, OOC, typo, abal, gaje, alur kenceng, nggak nyambung, dll
Summary : 'Gelap, tidak ada siapapun disini. Aku dimana?' / "Jangan takut, kau tidak sendirian disini." / "Kau tidak bisa kabur, kami selalu mengikutimu." / "Kau sudah tahu siapa kami Karin, kami adalah temanmu. Percayalah itu." / "Minna, hari ini kita kedatangan tamu." / "Kami sudah menanti kedatanganmu, Karin."
.
.
Please Enjoy Reading
.
.
~Vampire Game~
Karin POV
'Gelap, tidak ada siapapun disini. Aku dimana?' tanyaku dalam hati.
Aku menatap sekelilingku, namun yang kutemukan hanya kegelapan. Tidak ada cahaya dimanapun. Tiba-tiba saja tubuhku bergetar, karena ketakutan. Aku paling benci berada di tempat gelap dan sendirian. Aku menoleh menatap ke kanan dan kiriku, tapi hasilnya tetap nihil. Aku tidak menemukan seseorangpun selain diriku.
"Jangan takut, kau tidak sendirian disini."
Aku pun langsung menoleh ke arah belakangku begitu mendengar ada suara. Mataku langsung membulat begitu mendapati sosok berjubah hitam berdiri di hadapanku. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, karena selain gelap. Sosok itu juga memakai tudung yang berwarna senada dengan jubahnya. Namun, satu hal yang pasti. Aku melihat mata sosok itu berwarna merah menyala dalam kegelapan gulita ini. Aku merinding begitu mengingat sosok yang hanya memiliki kedua mata itu.
Merah.
Vampir.
Sontak aku langsung berlari entah kemana, yang pasti aku berusaha menjauhi sosok itu.
Meski aku merasa sudah berlari jauh, namun kegelapan masih menyelubungiku. Aku menoleh ke belakang. Sepertinya vampir itu tidak mengejarku. Aku bernapas lega, lalu aku kembali menghadap ke depan. Namun, lagi-lagi aku mendapati sosok berjubah hitam sama seperti yang dipakai vampir tadi. Hanya saja sosok di depanku sedikit lebih tinggi. Aku menatap sosok itu dengan perasaan takut.
"Kau tidak bisa kabur, kami selalu mengikutimu," ujar sosok itu seraya mendongak memperlihatkan matanya yang berwarna merah menyala.
Lagi-lagi vampir. Aku pun langsung kabur dari hadapan sosok itu. Aku terus berlari dan berlari. Aku takut berhenti, karena jika aku berhenti. Aku takut vampir-vampir itu akan mengejarku lagi.
"Kenapa kau lari dari kami?"
Aku pun langsung menoleh ke arah kananku. Aku terkejut begitu mendapati satu vampir lagi berlari di sampingku. Bukan berlari sih, tapi lebih tepat seperti melayang.
"Bersama kami, kau tidak akan sendirian lagi."
Kali ini suara itu terdengar dari samping kiriku. Rupanya ada vampir lain yang mengikutiku. Aku langsung memejamkan mataku. Berusaha menghiraukan keberadaan mereka.
BRUK
Tiba-tiba saja aku terjatuh. Aku berusaha untuk berdiri, namun aku terjatuh lagi. Sepertinya kakiku terkilir. Tiba-tiba aku teringat sesuatu, aku pun langsung menoleh ke kanan kiriku. Aku bernapas lega begitu mengetahui vampir-vampir itu telah pergi.
"Mencari kami!" seru sebuah suara.
Aku pun langsung mendongak menatap sosok vampir yang berdiri tegap di hadapanku.
"Kami selalu mengawasimu." Kali ini gantian vampir yang tiba-tiba muncul di samping kananku yang angkat bicara.
"Kau tidak selalu sendirian." Aku pun langsung menoleh menatap samping kiriku. Rupanya disana juga sudah berdiri vampir yang menatapku tajam dengan mata merahnya.
"Siapa kalian?" tanyaku dengan suara bergetar.
"Kami, kami adalah temanmu," jawab vampir yang tiba-tiba muncul dari arah belakangku.
"Jangan, aku mohon jangan dekati aku!" seruku seraya mengeleng-gelengkan kepala.
Kini aku terdesak, aku sudah dikepung oleh keempat vampir di sekelilingku. Tidak ada jalan untuk kabur.
Tidak terasa, tiba-tiba saja air mataku sudah mengucur dengan derasnya. Aku takut berada disini. Sangat takut. Aku memejamkan mataku, berharap ada yang menolongku.
Tiba-tiba saja ada yang menepuk bahuku dengan lembut. Sontak aku langsung membuka mataku dan menoleh untuk melihat siapa yang menepuk bahuku.
Lagi-lagi aku dibuat terkejut begitu mendapati sosok di hadapanku.
"Jangan takut, kami tidak bermaksud jahat kepadamu," ujar sosok itu seraya tersenyum.
Aku mengamati sosok yang berdiri di hadapanku. Aku berani bertaruh, kalau sosok di hadapanku ini juga vampir, karena ia juga memakai jubah yang sama dengan vampir yang mengepungku. Tapi yang berbeda, mata vampir ini tidaklah merah. Tapi biru safir yang menentramkan hati siapapun yang melihatnya.
"Kenapa?" Entah kenapa pertanyaan itu meluncur keluar begitu saja dari mulutku.
Lagi-lagi sosok itu tersenyum.
"Karena kau bagian dari kami." Bukan sosok yang berdiri di hadapanku yang menjawab, tapi teman-teman vampirnya yang menjawab. Kini mereka semua berdiri di hadapanku, dan mata mereka tidak berwarna merah lagi. Tapi warna mata yang memandangku dengan lembut.
"Karin, kami selalu menunggumu," ujar salah satu dari mereka.
"Da-dari ma-mana kalian tahu namaku," ujarku ketakutan.
Mereka hanya tersenyum mendengarnya. Lalu salah satu dari mereka yang memiliki postur tubuh yang paling tinggi dari yang lainnya menjawab, "Karena kami temanmu, kami tahu segalanya tentangmu."
"Apa! Jadi kalian juga tahu tentang masa laluku?" tanyaku sedikit penuh harap.
Mereka hanya menganggukkan kepala. Wajahku langsung sumringah begitu tahu ada orang yang mengetahui masa laluku.
"Kalau begitu ceritakan padaku!" seruku.
"Tidak sekarang Karin, belum waktu yang tepat untuk mengatakannya," ujar sosok beririskan biru safir itu.
"Kenapa?" tanyaku merasa kecewa.
Sosok itu langsung berjongkok di hadapanku, mensejajarkan tubuhnya denganku. Sekarang aku bisa melihat mata biru safirnya dengan jelas.
"Itu rahasia," ucap sosok itu seraya menunjukkan senyum misteriusnya.
"Sudah saatnya kami harus pergi," ujar sosok yang memiliki tubuh paling pendek dari lainnya.
Sosok yang berada di hadapanku kembali berdiri, mensejajarkan dirinya dengan teman-temannya.
"Tunggu dulu, kalian siapa?" tanyaku penasaran.
"Kau sudah tahu siapa kami Karin, kami adalah temanmu. Percayalah itu."
Setelah mengatakan itu, kelima sosok itu menghilang bagai ditelan kegelapan. Dan tiba-tiba saja muncul cahaya menyilaukan di hadapanku. Setelah itu aku tidak mengingat apapun lagi.
~Vampire Game~
Normal POV
"…rin, Karin, kau mau tidur sampai kapan!" seru sensei di depan meja Karin.
Karin pun membuka matanya dengan malas. Ia pun langsung menatap bingung ke arah sensei yang berwajah marah.
"Sekarang kamu cepat berdiri di luar kelas sampai jam istirahat!" perintah sensei.
Karin yang masih setengah sadar, hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan keluar kelas. Pikirannya masih melayang ke mimpi yang barusan ia alami. Mimpi yang berbeda dari mimpi-mimpi yang biasa ia alami. Mimpi yang menurutnya aneh.
Tanpa Karin sadari, ada sepasang mata yang menatapnya sedari tadi. Sepasang mata yang menatapnya penuh kesedihan.
Skip Time
"Karin, kamu kok bisa-bisanya tidur di kelas sih," ujar Miyon begitu mereka sedang makan siang.
"Maaf, mungkin aku kecapekan," jawab Karin sekenanya.
"Benarkah begitu?" tanya Miyon sedikit tidak percaya.
Karin hanya menunjukkan senyumannya seakan mengatakan semuanya baik-baik saja.
"Oh ya Karin, maaf nanti aku tidak bisa pulang sekolah bersamamu. Soalnya aku akan pulang dengan Yuuki," ujar Miyon.
"Tidak apa-apa, kebetulan nanti aku mau ke perpustakaan dulu kok," ujar Karin seraya tersenyum.
"Sekali lagi aku minta maaf ya tidak bisa menemanimu," sesal Miyon.
Karin hanya menggelengkan kepala lalu berkata, "Tidak perlu minta maaf, aku tidak apa-apa kok."
"Baiklah kalau bagitu," ucap Miyon yang setelah itu kembali melanjutkan kegiatan makannya. Begitu juga dengan Karin.
Skip Time
(Karin : Perasaan dari tadi skip time melulu deh)
(Bella : Egh iya maaf, alurnya memang aku bikin kebut nih)
(Karin : Dasar!)
Teng… teng… teng…
Sudah waktunya pulang sekolah, murid-murid langsung berhamburan keluar kelas. Mereka terburu-buru ingin cepat pulang dan menikmati waktu bersantai mereka. Namun berbeda dengan gadis berambut brunette ini. Ia melangkahkan kakinya menuju ke perpustakaan yang letaknya tidaklah jauh dari ruang kelasnya.
Begitu tiba disana, Karin langsung mencari buku yang ingin dipinjamnya. Setelah menemukan buku yang dicarinya, Karin segera berbicara ke petugas perpustakaannya. Begitu selesai menulis namanya di buku peminjam, Karin segera memasukkan buku tersebut ke dalam tasnya.
Berhubung Karin memasukkan bukunya sambil berjalan. Ia tidak sadar kalau ada orang di hadapannya.
BRUGH
Karin POV
"Agh maafkan aku yang tidak liat-liat jalan," ujarku meminta maaf.
"Tidak apa-apa, aku juga salah tidak melihat ke depan," ujar sebuah suara.
Aku pun langsung membantu gadis yang kutabrak itu untuk berdiri. Seketika mata kami bertemu. Entah kenapa aku merasa tidak asing dengan tatapan itu.
"Oh ya maaf, gara-gara aku bukumu jadi berantakan," ujarku seraya memungut buku milik gadis itu yang jatuh berserakan.
"Tidak apa-apa," ucapnya sambil memungut bukunya kembali.
Setelah kami berhasil memungut semua buku yang jumlahnya lumayan banyak ini. Aku berniat untuk membantu membawakan buku gadis ini sebagai tanda permintaan maaf.
"Hmm… aku akan membantumu membawakan buku-buku ini," ujarku.
"Itu tidak perlu, aku bisa membawanya sendiri," tolak gadis itu halus.
"Tidak, aku mohon ijinkan aku membantumu," ujarku memohon.
"Hmm baiklah," ucap gadis itu sedikit ragu, "Kalau begitu aku minta tolong ya," lanjutnya seraya tersenyum.
"Iya," ucapku seraya membalas senyumannya.
Aku pun langsung berjalan di samping gadis ini sambil membawakan buku-bukunya.
"Oh ya namamu siapa?" tanyaku.
Gadis itu menghentikan langkahnya, ia menatapku dengan tatapan aneh. "Kau tidak mengenalku."
"Egh?"
Aku pun mengamati gadis yang berdiri di hadapanku ini dengan baik-baik.
Rambut indigo.
"Kau kan Kujyo Himeka, salah satu dewan siswa di sekolah ini kan!" seruku tak percaya.
"Agh kau akhirnya mengenaliku ya. Benar, aku Kujyou Himeka. Salam kenal," ujar Himeka seraya membungkukkan badan.
Aku pun jadi ikut-ikutan membungkukkan badan juga. "Namaku Ha-"
"Hanazono Karin kan, aku sudah tahu tentang kau," potong Himeka.
"Egh?" tanyaku bingung.
"Maksudku, aku kan dewan siswa jadi aku pasti tahu tentang data murid baru," jelas Himeka.
"Ohh begitu, aku pikir kau juga mengenalku waktu kecil," ujarku.
"Apa?"
"Agh bukan apa-apa, tak usah pikirkan," ucapku sambil melanjutkan perjalanan.
Himeka hanya tersenyum menanggapinya. "Kau ternyata tidak berubah Karin."
~Vampire Game~
"Terima kasih sudah membantuku," ucap Himeka begitu kami sampai di depan ruang dewan siswa.
"Iya sama-sama, aku senang membantu," ujarku seraya tersenyum.
"Kalau begitu masuk dulu yuk, akan aku buatkan teh untukmu!" ajak Himeka.
"Egh tidak perlu, aku mau langsung pulang saja," tolakku.
"Aku mohon, aku ingin membalas kebaikanmu," ujar Himeka dengan nada memohon.
"Tapi apa tidak merepotkan," ucapku masih ragu.
"Tidak, aku yakin yang lainnya pasti senang bertemu denganmu," ujar Himeka seraya tersenyum penuh arti.
"Benarkah?" tanyaku merasa tak yakin.
Himeka langsung menarik tanganku untuk masuk ke dalam ruang dewan siswa.
BRAK
"Minna, hari ini kita kedatangan tamu," ujar Himeka begitu membuka pintu ruang dewan siswa.
"Siapa?" tanya salah satu dari mereka.
"Ini dia orangnya," ucap Himeka seraya menarikku dari balik punggungnya.
Sontak keempat orang yang berada di dalam ruangan itu terlihat kaget begitu melihat kedatanganku.
"Perkenalkan namaku Hana-"
Belum sempat aku menyelesaikan perkenalanku. Perkataanku sudah dipotong oleh pemuda berambut blonde dan beririskan biru safir, yang aku kenali sebagai ketua dewan siswa. Siapa lagi kalau bukan Kujyou Kazune.
"Kami sudah menanti kedatanganmu, Karin."
"Egh?"
.
.
To Be Contiuned
.
.
Please Review
Session Talkshow
Kazusa : Yahoo, ketemu lagi dengan chara yang paling-
Kazune : Sudah nggak usah kebanyakan cingcong, langsung bacain tuh balasan review-nya.
Kazusa : Iya ya, oke buat ikina uruwashii. Salam kenal ikina-chan. Terima kasih sudah bersedia me-review fanfic author yang masih terbilang payah ini.
Bella : Kazusa, aku dengar omonganmu lho *teriak author pakai toa*
Kazusa : Igh padahal sudah diikat masih saja banyak omong. Mending tadi aku plester mulutnya juga, biar bisa diam.
Bella : Aku juga dengar itu.
Micchi : Ternyata author pendengarannya tajam juga ya.
Karin : Sudah sudah balik lagi ke balasan review, selanjutnya buat KK LOVERS. Hubunganku dengan kelima orang ini. Tentu saja kita sahabat bagaikan kepompong.
All (-Karin) : *Langsung ber-sweatdrop ria*
Himeka : Terus buat biyan rafli, makasih sudah dikasih nilai 10. Yee, nilai sempurna.
Jin : Lalu buat kktsaniachan, nggak apa-apa session talkshow ini juga wadah untuk tempat curhat. Kita bakal dengerin kok, iya kan minna?
Kazune : Ogah, kamu saja yang dengerin.
Kazusa : Igh Kazune kok ngomong gitu, ingat kata author. Readers selalu menang.
Micchi : Berikutnya buat Tamae, wah bakiaknya jangan dilempar-lempar dong. Mending buat tujuh belasan. Hehehehehe
Karin : Aku lagi ya, buat Guest. Tambah penasaran, berarti misi sukses. Author memang sengaja bikin cerita yang bisa bikin penasaran para readers.
Kazune : Buat Kirei, jangan-jangan Kirei-chan lagi masuk angin ya. Makanya merinding.
Kazusa : Ya ampun, kenapa kembaranku jadi bloon gini. Mana ada hubungannya masuk angin sama merinding. Oke selanjutnya buat Rizki kinanti, author dibilang kreatif. Nggak salah, wong ide fanfic ini saja didapat dari hasil melamun author. Kreatif darimana coba.
Bella : Kazusa, aku mendengarmu lho.
Kazusa : Hah, lama-lama pengen kusumpel juga tuh mulut author.
Jin : Sabar Kazusa sabar, terus balasan terakhir buat AnandaPtrAbsri. Siap, bakal dilanjut terus kok.
Kazusa : Minna, berhubung balasan review sudah dibacakan semua. Kita bakal tutup chapter ini.
Karin : Jangan lupa review ya.
Himeka : Kasih nilai juga.
Micchi : Ditambah alasannya.
Kazune : Akhir kata.
All : Sampai bertemu di chapter selanjutnya minna.
Bella : Woi kapan aku diturunin!
