Session talkshow
Bella : Minna, terima kasih sudah setia membaca fanfic ini sampai chapter empat. Padahal Bella mau prioritaskan fanfic De Angela dulu. Tak tahunya malah skor nilainya lebih banyak ini. Jadi Bella update fanfic yang ini lagi.
Kazusa : Untuk fanfic lainnya, mohon bersabar menunggu. Kalau skor nilainya melebihi fanfic lainnya, bakal di-update kok sama author. Iya kan?
Bella : Yap betul, baiklah Bella bakal buka chapter ini.
Kazusa : Lho nggak bales review dulu.
Bella : Sekarang balas review-nya ditaruh di bagian akhir. Jadi terserah para readers mau baca atau langsung keluar begitu selesai membaca chapter ini.
Kazusa : Oh gitu, ya sudah. Selamat membaca minna.
Title : Vampire Game
Chapter 4 : Death Game
Disclaimer : Kamichama Karin Chu © Koge Donbo
~Vampire Game~ © Bella-chan
Rated : T
Genre : Fantasy ; Hurt/Comfort
Pairing : KazuRin
Warning : AU, OOC, typo, abal, gaje, alur kenceng, nggak nyambung, dll
Summary : "Aku hanya membawa teman kesini, memangnya salah ya." / "Berhubung kita semua sudah berkumpul, bagaimana kalau kita main sebuah game." / "Baiklah kita mulai game ini, Death game start." / 'Pemain harus menusuk tangan mereka sendiri dengan pisau kebenaran.' / "Ini bukan masalah besar." / "Seperti yang kau lihat, aku benar-benar bukan manusia."
.
.
Please Enjoy Reading
.
.
~Vampire Game~
Karin POV
"Kami sudah menanti kedatanganmu Karin," ujar pemuda berambut blonde yang aku kenali sebagai ketua dewan siswa, Kujyou Kazune.
"Egh?" Hanya kata itu yang terlontar dari mulutku.
"Karin, senang bertemu denganmu!" seru pemuda berambut caramel yang tiba-tiba saja langsung memelukku.
"Micchi, tidak sopan memeluk orang sembarangan," ujar Kazusa sambil berkacak pinggang.
Micchi langsung melepaskan pelukannya, dan berbalik menatap kesal ke arah Kazusa.
"Kenapa kau membawa dia kemari?" tanya pemuda berambut hitam yang sedari tadi diam saja.
"Aku hanya membawa teman kesini, memangnya salah ya," ujar Himeka seraya tersenyum penuh arti.
Semuanya terdiam mendengar perkataan Himeka. Aku yang merasa canggung dengan suasana ini berniat untuk pulang saja. Tapi ketika aku ingin mengutarakan keinginanku. Aku sudah dipaksa duduk oleh Himeka di kursi, bergabung dengan anggota dewan siswa lainnya.
"Akan aku buatkan teh, kau duduk saja dulu disini," ujar Himeka yang setelah itu langsung masuk ke ruangan lainnya, yang menurut perkiraanku adalah dapur.
Tidak butuh waktu lama, Himeka sudah kembali dengan membawa enam cangkir teh hangat. Setelah menaruhnya di depan semua anggota dewan siswa ditambah denganku. Himeka segera duduk di samping kananku.
"Berhubung kita semua sudah berkumpul, bagaimana kalau kita main sebuah game," usul Micchi.
"Jangan bilang kau mau main game itu," ujar Kazune dingin.
"Aku setuju dengan usul Micchi, kebetulan ada Karin disini. Jadi pasti menarik," ucap Jin seraya menyeringai ke arahku.
Entah kenapa, tiba-tiba bulu kudukku berdiri. Aku merasa ada aura hitam yang menyelimutiku. Namun, aku berusaha untuk tenang.
'Tenang Karin, tenang. Kau harus tenang,' batinku berulang kali dalam hati.
"Kau jangan bercanda, ini sudah sore tahu," ujar Kazusa kesal.
"Egh kenapa, Karin tidak keberatan kok kalau kita main game. Iya kan?" tanya Micchi seraya menoleh ke arahku.
"I-iya, kalau sebentar tidak apa-apa," ucapku sedikit gugup.
"Tuh kan, ya sudah kita main saja yuk!" seru Micchi senang.
Kazusa hanya melengos kesal. Begitu juga dengan Kazune. Entah kenapa, mereka tidak terlihat menyukai permainan ini.
"Ini kotaknya," ucap Himeka seraya menyodorkan sebuah kotak besar kepada Micchi.
Micchi pun segera menerimanya dan membuka kotak tersebut. Lalu mengeluarkan perlengkapan yang digunakan untuk permainan ini. Ada papan, dua buah dadu, setumpuk kartu, dan orang-orangan kecil yang berfungsi sebagai pion. Kalau dilihat-lihat permainan ini seperti monopoli. Hanya saja tidak ada rumah-rumahan.
"Permainan ini sama seperti permainan ular tangga. Siapa yang cepat sampai ke kotak terakhir, dia yang menang. Bedanya setiap kita berhenti di kotak manapun, kita diharuskan untuk mengambil kartu ini," jelas Micchi seraya menunjukkan setumpuk kartu yang sudah dikocok tadi.
"Kita harus menuruti apapun yang ditulis di kartu tersebut. Entah itu perintah kita harus turun ataupun hal-hal yang tidak kita inginkan. Pokoknya kita harus menurutinya, kalau tidak sesuatu yang buruk akan menimpamu," jelas Jin seraya tersenyum penuh arti ke arahku.
"Kau sudah mengerti kan, Karin?" tanya Himeka kepadaku.
Aku hanya menganggukkan kepala.
"Ugh aku pas, aku tidak ikut permainan konyol ini," ucap Kazune tiba-tiba.
"Aku juga pas," ujar Kazusa ikut-ikutan.
"Egh kenapa, kalian takut ya," sindir Micchi.
"Payah nih, masak sama beginian takut," ejek Jin.
"Enak saja, baiklah aku ikut," ujar Kazune yang merasa tidak terima dibilang begitu.
"Aku juga, siapa juga yang takut," ucap Kazusa memprotes.
Micchi dan Jin hanya tersenyum puas melihatnya.
"Baiklah kita mulai game ini, Death game start."
~Vampire Game~
Skip Time
Permainan yang sengit ini masih berlangsung. Jin yang memimpin dengan pionnya yang berada di kotak 74. Tidak jauh dari pion Jin, ada pion milik Kazune yang berada di kotak 70. Lalu di urutan ketiga ada Micchi di kotak 64, di belakangnya ada Kazusa di kotak 63. Berikutnya ada aku di kotak 58, dan yang terakhir Himeka di kotak 52. Kami bersaing secara sengit. Berulang kali Jin dan Kazune saling bergantian di posisi pertama.
Sedangkan aku, jujur saja aku tidak terlalu beruntung dalam permainan yang mengharuskan menggunakan dadu. Aku selalu saja mendapatkan angka kecil yang membuatku berulang kali mengambil kartu. Aku saja sudah mendapatkan berbagai macam hukuman. Dan yang lebih gilanya lagi, hukumannya aneh-aneh. Ada yang disuruh melumuri wajahnya dengan bedak, terus ada juga yang tangannya harus diikat selama permainan berlangsung. Dan yang lebih gilanya lagi, ada juga kartu yang memberi perintah untuk ber-cross dress. Coba bayangin cross dress. Untung saja bukan aku yang mendapatkannya, tapi Micchi. Jadi sekarang Micchi tengah memakai pakaian cewek lengkap dengan wig-nya. Hahahahaha, aku saja tertawa melihatnya. Intinya, permainan ini benar-benar gila.
"Karin, jangan ngelamun saja. Sekarang giliranmu!" seru Kazune tiba-tiba.
Aku pun tersadar dari lamunanku. Aku segera mengocok dadu dan melemparkannya. Dua dan tiga, aku mendapatkan angka lima. Aku segera menjalankan pionku lima langkah maju ke depan. 59, 60, 61, 62, dan 63. Sekarang pionku berhenti di kotak yang sama dengan pion Kazusa. Aku segera mengambil satu kartu yang telah disediakan. Aku pun membacanya.
"Pemain harus menerima apa pun yang akan terjadi," ucapku begitu membaca tulisan yang tertulis di kartu tersebut.
Alisku bertaut, apa maksudnya?
"Sekarang giliranku," ujar Kazune seraya melemparkan dadu.
Dua belas, dia langsung mendapatkan angka maksimum yang bisa didapat dari kedua dadu tersebut. Aku sedikit kesal melihatnya, sedangkan Kazune tersenyum puas. Sekarang ia bisa mendahului posisi Jin yang berada di depannya.
Begitu pionnya sudah berhenti di kotak 82, Kazune langsung mengambil satu kartu dari tumpukan paling atas.
"Oh tidak, ini tidak bagus," ucap Kazune lirih namun masih bisa didengar.
"Apa apa, memangnya isinya apa?" tanya Micchi penasaran.
"Jangan-jangan kau juga mendapatkan kartu yang menyuruhmu melakukan cross dress seperti Micchi ya," ujar Jin sambil tersenyum geli.
"Enak saja, aku mendapatkan kartu ini tahu," ucap Kazune seraya menunjukkan kartunya kepada yang lain.
"Kau mendapatkan kartu hukuman," ucap Himeka begitu membaca isi kartu tersebut.
Aku pun menyondongkan tubuhku sedikit agar bisa membaca tulisan di kartu tersebut.
'Pemain harus menusuk tangan mereka sendiri dengan pisau kebenaran,' batinku dalam hati.
Lagi-lagi aku tak mengerti maksud dari isi di kartu tersebut. Apa maksudnya menusuk tangan mereka sendiri dengan pisau kebenaran. Jangan konyol.
"Peraturan tetap peraturan, kau harus menuruti apa yang tertulis di kartu tersebut," ujar Micchi enteng.
"Heh?"
Apa dia sudah gila, masak Kazune harus menusuk tangannya sendiri. Jangan bercanda. Aku pun langsung menatap wajah Kazune, wajahnya datar-datar saja. Tidak ada ekspresi takut atau gelisah sedikit pun.
"Bagaimana Kazune, kau tidak akan lari kan?" tanya Jin sinis.
Kazune langsung beranjak dari kursinya. Ia bergegas mengambil sebilah pisau dari mejanya, yang awalnya digunakan untuk memotong buah.
Micchi dan Jin tersenyum puas melihatnya. Sedangkan Himeka hanya memasang wajah tenang. Kazusa sendiri, sedari tadi ia hanya cuek bebek saja melihat tingkah kembarannya ini. Dan aku, aku hanya menatap ngeri ke arah Kazune. Apa benar ia akan menusuk tangannya dengan pisau itu. Kalau dia melakukannya sama saja bunuh diri dong.
Sebelum Kazune menusukkan tangannya dengan pisau tersebut, aku mencegahnya.
"Tunggu dulu, aku tahu kalau peraturan itu harus dituruti. Tapi tidakkah konyol, kalau kita harus menusuk tangan kita sendiri cuma gara-gara permainan ini," jelasku.
"Memang sih, tapi kita tidak bisa melanggar peraturan itu sekarang," ujar Jin.
"Jin benar, lagipula aku tidak apa-apa," ucap Kazune seraya mengangkat pisau itu tinggi-tinggi.
JLEB
Pisau itu kini sudah menancap di tangan Kazune. Mataku membulat, dia benar-benar menusuk tangannya sendiri. Ini benar-benar sudah gila.
"Dengan begini, kita bisa melanjutkan permainannya," ucap Kazune.
"Tunggu dulu, apa yang kau lakukan. Kau sudah gila," ujarku tak percaya.
Kazune hanya tersenyum melihatnya. Ia mencabut pisau tersebut dari tangannya. Dan memperlihatkan tangannya yang sudah berlumurkan darah segar. Aku sendiri bergidik ngeri melihatnya. Aku paling takut kalau melihat darah, karena akan mengingatkanku dengan mimpi-mimpi burukku selama ini.
"Ini bukan masalah besar," ucap Kazune santai.
Aku hanya menatap kesal ke arahnya. Bukan masalah besar bagaimana, dengan darah sebanyak itu. Bisa-bisa ia kekurangan darah, dan itu bisa berakibat fatal. Aku kembali menatap luka di tangannya, dan lagi-lagi aku dibuat terkejut, karena luka-luka itu kembali tertutup dan darahnya pun mulai menghilang. Bahkan sudah tidak terlihat lagi bekas tusukan di tangan Kazune sekarang.
Mulutku hanya menganga tak percaya melihat insiden yang terjadi di depan mataku langsung.
"Seperti yang kau lihat, aku benar-benar bukan manusia," bisik Kazune di samping telingaku.
"Hah?" Aku langsung menoleh untuk menatapnya, dan betapa terkejutnya aku begitu melihat dua taring yang mencuat dari mulut Kazune.
Sekujur tubuhku langsung kaku, bahkan aku bisa merasakan hembusan napas Kazune di leherku.
'Apa yang akan dilakukannya,' batinku panik.
"Kau harus menerima apa pun yang akan terjadi. Begitu perintahnya," bisik Kazune.
Aku langsung teringat dengan isi kartu yang kuterima tadi. Aku langsung menatap ke arah Jin, Micchi, Kazusa, dan Himeka. Namun, mereka hanya menatapku datar. Seakan tidak peduli dengan apa yang akan terjadi padaku nantinya.
TES
Aku bisa merasakan darah mulai menetes dari leherku. Aku langsung menghindar dari Kazune. Aku memegangi leherku yang tadi digigit oleh Kazune, yang kini sudah mengeluarkan banyak darah segar. Aku bisa merasakan sakit yang mulai menjalar ke seluruh tubuhku.
Aku mulai merasakan kesakitan yang luar biasa. Rasanya sakit, perih. Rasanya aku ingin mati saja.
"Arrgghhhhhh!"
"Rin… Karin… Karin!" panggil Himeka.
"Heh." Aku pun langsung membuka mataku. Aku melihat semuanya memandangku dengan raut cemas.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Himeka khawatir.
Aku hanya menggelengkan kepala. "Tidak, aku tidak apa-apa."
"Sepertinya kau kecapekan, sebaiknya kita sudahi permainan ini saja," ujar Kazusa pada yang lain.
Semuanya mengangguk menyetujui.
"Baiklah Karin, kau bisa pulang sekarang. Maaf ya gara-gara menemani kami main. Kau jadi harus pulang sore-sore," ujar Himeka merasa bersalah.
Lagi-lagi aku hanya menggelengkan kepala.
"Bagaimana kalau kami antar pulang," tawar Micchi.
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri. Kalau begitu aku pamit pulang dulu," ujarku sambil membungkuk. Setelah itu, aku langsung keluar dari ruang dewan siswa dengan terburu-buru.
Aku menyusuri koridor sekolah dengan langkah cepat.
'Apa yang terjadi padaku, apa tadi semua itu hanya mimpi,' batinku tak mengerti.
.
.
To Be Contiuned
.
.
Please Review
Session talkshow
Bella : Baiklah Bella bakal buka balesan review-nya. Dimulai dari andien hanazono, guest, bulansucidewinu, hikaru dan Kazurin, penasaran ya. Hohohohohoho, kalau gitu baca saja ya lanjutannya. Maaf kalau kalian jadi penasaran lagi dengan chapter ini.
Kazusa : Terus buat Rizki Kinanti, wah 100 jempol itu jempol siapa saja Rizki-chan. Jangan-jangan jempol orang sekampung dipinjem. Hehehehe, makasih author bakal tetep lanjut terus kok. Hubungan Karin sama dewan siswa. Mungkin beberapa chapter ke depan bakal dijelasin kok.
Jin : Berikutnya buat Asahina Natsuki / x. Tenang saja author ngerti kok maksud Asahina-chan. Bahkan author sendiri ngerti bahasa monyet. Aduh! *Langsung mengerang kesakitan begitu dijitak sama author* Ugh, bisanya jitak doang. Oke deh, aku kasih bocoran biar nggak penasaran lagi. Memang betul, vampir dalam mimpi Karin itu aku dkk.
Bella : Jin, kok dikasih tahu sih.
Jin : Sudahlah, cuma itu doang kok.
Karin : Sudah sudah, selanjutnya buat dci, Guest dan AnandaPtrAbsri. Ini sudah lanjut kok. Maaf ya kalau lama, dan soal chapter yang dipanjangin. Itu tergantung sama ceritanya. Kalau adegannya banyak, pasti panjang. Kalau sedikit, yah pendek jadinya.
Kazusa : Buat Kazuka Kujyou Tsania-Chan. Enak saja, aku tuh chara terfavorit tahu dalam KK Awards.
Karin : Memangnya ada ya KK Awards?
Jin : Kau jangan percaya dong, Kazusa kok dipercaya.
Kazusa : *Cuek bebek mendengar percakapan Karin dengan Jin* Tapi nggak apa-apa deh, urutan ketiga lumayan kok.
Bella : AKU NGGAK TERIMA! Kazuka-chan, jangan tertipu dengan tampangnya dong. Memang di animenya polos, baik, imut. Tak tahunya, kayak gitu orangnya.
Kazusa : Yee… itu kan salah author. Membuat karakterku menjadi seperti ini. Merusak image tahu.
Karin : Kebanyakan ngomong, lanjutin nih balasan review-nya. Masih banyak tahu.
Jin : Huff, baiklah buat syofalira, pair-nya ya. Mungkin ada, tapi tidak terlalu menonjol. Tahu deh, terserah author yang bikin. Tapi diusahain ada kok.
Bella : Buat nuri, hah nuri-chan ngefans Kazune. Nggak salah nih, orang judesnya minta ampun gitu nuri-chan suka. Untung Kazune nggak ikut session talkshow ini, kalau dia denger bisa kesenengan tuh anak.
Karin : Selanjutnya buat Jamilah, karinokazune, kirei, dan kujyou Angelita. Wah makasih ya atas review positif kalian, maaf kalau author lama update-nya. Maklum habis lebaran. Hehehehehe.
Kazusa : Terus buat Haruka Hitomi 12, maaf kalau masih ada penulisan yang salah. Author payah nih, pernah belajar Bahasa Indonesia atau nggak sih. Untuk masalah romance, author bakal usahain. Kalau nggak, biar aku yang maksa *sambil tertawa evil*.
Jin : Kenapa ya rata-rata isi review-nya ada kata PENASARAN. Termasuk KK LOVERS, sebegitu penasaran ya sama fanfic ini. Padahal biasa-biasa saja tuh. Aduh, author jangan main jitak melulu deh. Sakit tau!
Bella : *Pura-pura tidak peduli*. Dan yang terakhir buat Lyn kuromuno. Maaf kalau kebanyakan talk, dan maaf kalau chapter ini masih pendek. Pokoknya Bella benar-benar minta maaf deh. *sambil sujud-sujud*.
Karin : Oke deh, kita akhiri saja session talkshow ini.
Jin : Minna, terima kasih sudah membaca, me-review, dan memberi nilai.
Bella : Maaf kalau chapter ini kurang memuaskan.
Kazusa : Jangan lupa review dan kasih nilai lagi ya.
All : Sampai jumpa di chapter berikutnya.
