Terima kasih atas review review yang diberikan (_ _) *hormat90derajat. Bales review dulu sebelum memulai~
Urara S. H : ini udah dilanjutin kok
NuruHime-chan19 : disini Nana benar – benar super OOC, hha. Yup, karena para guardiannya punya adik dan saudara, Giotto sedikit iri dengan mereka yang punya adik, jadi Giotto sangat senang waktu tau klo dia punya adik. Kuharap juga Varia gag membuat kehancuran dimarkas Vongola (?) Okeh, diusahakan yaa~
DevKiRai : Uaaahhh, terima kasiihh *pelukciumDevKiRai
Yuna : Xixixi *Ketawadevil. Gpp, udah dilanjutin kok. Iya, ini All27
Hibari Nura : Sama – sama gan :D (y)
Calista Miu : Oke, bagaimana kalau Miu-Chan ? atau Miu-Kun ?. Huaa, terima kasih atas pujiannya *pelukcium. Terima kasih juga buat review-nya, akan OzLen perbaiki untuk selanjutnya. Sudah di update ya :D
Nabila Chan BTL : Cia, Terima kasih. Hhhe
Malachan12 : Salam kenal juga Malachan. Tenang saja, OzLen akan tambahkan banyak ke-moe-an Tsuna. Oh ya, terlalu cepat ya ? Akan OzLen coba lamain deh alurnya, diusahakan juga ya untuk menambah words-nya.
tsunayoshi yuzuru : Aaaaa, Tsuna miliikkuuu *nangisgulingguling (?). Akan diusahakan untuk mempercepat updatenya ya
LalaNur Aprilia : Wah, gpp Nur-san ( bolehkah dipanggil begitu ? ). Huaa, tapi OzLen suka kalau Tuna-chan sama Hibari. Iya, disini juga dimunculkan Cozart. Hueee, maafkan OzLen *pukulinkepalakemeja. Yup, panggil Oz-San boleh kok :D
DeLoAniMan U-know : Wahh, makasihh DeLoAniMan (_ _). OzLen sangat suka sama All27, jadi kuputuskan untuk membuat pair ini. Hhe :)
Title : Please Give Me Love
Genre : Hurt/Comfort, Family
KHR © Amano Akira
Warning : OOC!, Bashing!Nana, Bashing!Iemitsu
"Tsuna" = berbicara biasa
"Tsuna"=berbicara dalam hati
Cerita Sebelumnya :
Setelah mengucapkan terima kasih dan menyuruh seluruh makhluk menunggu diruangan ini, aku langsung berlari dan menuju keluar. Aku membuka pintu berukuran sedang itu dan melihat seorang anak berambut coklat dan bertubuh kecil. Begitu Ia melihatku, rasanya jantungku berhenti dan sulit bernafas. Tsuna manis sekaliii…..
…
Giotto POV
Aku terpaku menatap sosok indah ? Bukan, manis ? Tidak juga, moe kah ? kawai ? Aaahh sudahlah, tidak ada kata – kata yang tepat untuk menggambarkan sosok yang berdiri didepanku. Kalau saja aku tidak tau kalau Tsuna adalah laki - laki, aku pasti sudah mengira Ia adalah perempuan. Tsuna memiliki tubuh mungil yang pas untuk dipeluk, rambut dan bola mata berwarna coklat muda lembut yang menawan, bibir mungil berwarna pink natural yang mengundang siapa saja untuk menciumnya, ah Tsuna juga masih memiliki pipi bayi, menambah kesan imut untuknya.
Tapi ada yang sedikit aneh denganya, Hyper Intuition-ku mengatakan ada yang salah dengan keadaan Tsuna. Tidak ada anak laki – laki seumuran Tsuna yang sekecil dan sekurus itu. Warna kulitnya yang pucat juga sangat tidak wajar, seperti Dia memang tidak pernah keluar dari rumah sepanjang hidupnya, dan yang paling aneh adalah matanya. Mata Tsuna seperti tidak ada tanda – tanda keinginan untuk hidup, terlihat kosong dan seperti sering melihat terror disepanjang hidupnya.
Terlalu banyak yang aku pikirkan tentang Tsuna sampai aku tersadar ketika Ia menundukan kepalanya.
"H-hai", hanya kata itu yang bisa kulontarkan untuk memecah kesunyian. "K-kau pasti Tsuna ya ?" "Aku tidak tau harus berbicara apa, Tolong aku Kami-Samaaa." Mendengar pertanyaanku, Tsuna hanya menganggukan kepalanya, dan suasana kembali menjadi sunyi. "Aku Giotto, Kaa-san pasti sudah memberitahu tentangku kepadamu kan ?" Aku memutuskan untuk mengenalkan diriku dan Tsuna kembali menganggukan kepalanya. "Baiklah, bagaimana kalau kita masuk dulu, teman – teman ku tidak sabar untuk bertemu denganmu." Aku berbalik dan mengajaknya ketempat semua berkumpul.
Normal POV
Giotto dan Tsuna jalan menyusuri lorong – lorong yang panjang menuju ruangan tempat guardian dan yang lainnya berkumpul. Giotto melihat wajah Tsuna sedikit gelisah walaupun Ia sendiripun tidak yakin apakah Tsuna gelisah atau tidak. Sejak tadi, Tsuna tidak pernah memperlihatkan ekspresi apapun kepadanya.
"Tenang saja Tsuna, teman – temanku semuanya baik kok kecuali beberapa orang, kau pasti akan senang bertemu dengan mereka."
Merekapun sampai didepan pintu berukuran cukup besar, Giotto membuka pintu itu dan masuk terlebih dahulu dengan Tsuna yang mengikutinya dari belakang. Semula ruangan itu terdengar sangat berisik dan gaduh, tapi saat Giotto membuka pintu, semua yang ada disana menghentikan aktivitas mereka lalu memandang kearah Giotto dan seseorang yang berada dibelakangnya.
.
.
.
"Minna, perkenalkan ini adalah Tsuna, adik laki – lakiku." Semuanya mengalihkan pandangannya kearah Tsuna, terlihat sedikit blush menghiasi wajah mereka yang melihat sosok Tsuna. Tsuna yang mempunyai banyak pengalaman buruk dan memiliki arti tersendiri jika seseorang memandanginya hanya bisa menunduk dan menunggu 1 atau 2 pukulan yang akan mengenainya. Tsuna menyiapkan hati dan tubuhnya untuk menerima rasa sakit dari mereka. Tidak ada yang menyadari perubahan yang terjadi pada Tsuna, mereka terlalu sibuk memikirkan hal apapun itu didalam pikiran mereka masing – masing.
5 menit, 10 menit terlewat begitu saja, tidak ada yang bisa berbuat dan berkata apa – apa, selain memperhatikan sosok didepan mereka.
"Jadi dia yang namanya Tsuna, tidak buruk juga" Hitman itu menyeringai dan menurunkan fedora-nya hingga menutupi matanya.
"Kau benar, dia sangat man.. eh e.. tidak terlalu buruk kora"
"Maa maa, Dia mirip sekali denganmu Giotto, hanya warna mata dan rambutnya saja yang berbeda dengamu, dan e.. dia lebih hmm.. imut ?"
"Shishishi, pangeran sudah menemukan putrinya"
"Heh, sekali sampah tetap sampah" pemuda bermuka seram(?) itu mengalihkan pandanganya, terlihat sedikit rona merah dimukanya.
"Haha, Tsu-chan manis sekali ya" kata pemuda berambut putih sambil memakan marshmallow kesukaannya.
"Kufufufu, aku tidak sabar untuk mengambil alih tubuhnya" pemuda bermata heterochromatic itu memandang Tsuna dengan tatapan yang mesum(?) dan seluruh penghuni diruangan itu mengerti maksud tersembunyi dibalik perkataanya itu.
"Jangan berharap herbivore, Usagi itu adalah miliku. Menyentuhnya kamikorosu!"
"Nfufufu, Kau yang jangan terlalu berharap skylark otouto. Sudah jelas Tsuna akan menjadi milik kami berdua"
"Nanas-pedo I'll arrest you 'til death !" Daaann dimulailah kembali pertarungan kedua pasangan kakak beradik perusak itu.
Giotto hanya bisa ber-sweetdrop melihat tingkah mereka. Ia melihat kearah Tsuna dan menyadari keadaan Tsuna yang cukup aneh. "Ada apa Tsuna ? Kau baik – baik saja ?" perkataan Giotto itu sanggup membuat kedua pasangan kakak beradik itu menghentikan pertarungan mereka. Merasa Giotto bertanya padanya, masih dengan kepala tertunduk, Tsuna kembali menganggukan kepalanya.
"Baiklah kalau kau tidak apa – apa. Bagaimana kalau Kukenal-kan terlebih dahulu dengan mereka semua ?" Pertanyaan itu kembali dijawab dengan anggukan kepala Tsuna. Tingkah Tsuna itu membuat beberapa orang merasakan adanya keganjilan padanya, termasuk Giotto yang dari awal bertanya kepada Tsuna dan hanya dijawab dengan anggukan kepala saja.
.
.
.
" Pria berambut pin.. eh maksudku merah itu bernama G, yang disebelahnya adalah adiknya Gokudera Hayato."
"Senang berkenalan denganmu Giotto otouto"
"Che, jangan terlalu dekat dengannya pinky ! Senang bertemu denganmu Tsuna-Sama" terlihat ekor dan kuping puppy dog khas Gokudera.
"Yang memegang seruling itu bernama Yamamoto Asari, yang disebelahnya adalah adiknya Yamamoto Takeshi"
"Halo Tsuna-san, panggil saja aku Asari, Yoroshiku"
"Hai Tsuna, panggil aku Takeshi .Hahaha apa kamu bisa bermain baseball ?" Tsuna menggelengkan kepalanya, dan membuat Takeshi sedikit sedih "Kenapa ? apa kamu tidak mau memanggilku Takeshi ?" Tsuna menganggukan kepalanya, dan membuat Takeshi bingung. "Jadi kenapa tadi kau menggelengkan kepalamu ?" Tsuna hanya terdiam, dan tidak menjawab apa – apa. "Apa maksudmu, Kamu tidak bisa bermain baseball Tsuna ?" Tanya Giotto, dan tsuna menganggukan kepalanya. "Hoo, Aku mengerti sekarang hahaha. Kalau begitu nanti aku akan mengajarimu baseball"
"Pria yang berpakaian pastur itu bernama Sasagawa knuckle, yang disebelahnya Sasagawa Ryohei adiknya"
"EXTRREEEAMMM, Senang bertemu denganmu Sawada. Semoga Tuhan selalu bersertaMu"
"KYOKUGGEENNN. Panggil aku Oni-San, Sawada !" Kedua kakak beradik itu sukses membuat seluruh penghuni ruangan itu menutup rapat kedua kupingnya. Khusus untuk Levi, Ia dibawa keluar menggunakan tandu karena gendang telinganya pecah. Kenapa ? karena Levi menggunakan kedua tanganya untuk menutup telinga "boss"nya tercinta daripada menutup telinganya sendiri. Sedangkan Tsuna sudah terlebih dahulu disumbat lubang telinganya oleh Giotto, karena sudah mengira akan begini jadinya.
"Err, ya. Yang berambut aneh itu bernama Daemon Spade, disebelahnya adalah adiknya Mukuro Spade dan Chrome Spade. Kalau yang dipojok sana bernama Hibari Alaude dan adiknya Hibari Kyouya. Lalu yang sedang tidur dilantai itu Bovino Lampo dan adiknya Bovino Lambo.
( Kita percepat saja ya, Author sudah mulai bosan menulis perkenalan diri yang terlalu panjang ini. )
.
.
.
"Nah, Tsuna apa kamu punya pertanyaan untuk mereka ?" Tsuna hanya menggelengkan kepalanya.
"Hey Dame-Tsuna. Kenapa sedari tadi kau hanya mengangguk dan menggeleng. Kau bisa bicara kan ?" Pertanyaan dari demon tut… maksudnya Reborn berhasil membuat semua terdiam dan melihat kearah Tsuna, mereka juga sangat penasaran kenapa Tsuna tidak pernah mengucapkan satu katapun.
Semenit, dua menit terlewat begitu saja, dan Tsuna belum juga menjawab pertanyaan Reborn. 5 menit kemudian, Tsuna hanya menganggukan kepalanya dan itu semua membuat Reborn sedikit kesal. Reborn mengubah Leon menjadi pistol kebanggannya dan mengarahkanya kekepala Tsuna. "Aku yang bertanya disini dame-Tsuna dan kau harus menjawabnya ! Oh, jangan kira kalau pistol ini mainan ya" Reborn berkata dengan seringai khas-nya.
"Oi oi Reborn, kau terlalu berlebihan Kora"
"Ouji-San !" Yuni mencoba menghentikan Reborn.
"Jawab Sawada Tsunayoshi ! Apa kau ingin sekali mati ?" Reborn tidak memperdulikan orang – orang yang ingin menghentikanya, Ia hanya ingin jawaban atas apa yang ingin Ia ketahui. Semua yang ada disana hanya diam, tidak ada yang berani mati untuk menghentikan Reborn.
Tsuna yang ditondongkan pistol hanya terdiam dan bersiap menerima rasa sakit akibat peluru yang akan ditembak kekepalanya. Ia sudah terbiasa menerima apapun yang terjadi padanya, kalaupun itu berarti kematiannya, Tsuna tetap akan menerimanya.
Reborn melihat Tsuna dan mencari tau apa yang dipikirkan olehnya, "Anak ini benar – benar sulit untuk dibaca, tapi hanya satu yang ku tau, Dia tidak mempunyai cahaya kehidupan. Matanya terlalu kosong dan sepertinya selalu pasrah menerima keadaan apapun." Reborn menurunkan pistolnya, berjalan meninggalkan Tsuna menuju pojok ruangan dan menyenderkan punggungnya ke dinding.
Beberapa menit berlalu dengan keadaan yang awkward. "Bagaimana kalau kalian membantu Tsuna membawa barangnya dan mengantarkanya kekamarnya ?" Giotto memecah ke-awkward dengan menyuruh adik para guardianya dan Cozard serta Dino untuk mengantar Tsuna kekamarnya.
"Baiklah Giotto-Sama/Sawada/Giotto" Lalu mereka pergi meninggalkan ruangan itu, sebelum dibawa pergi, Tsuna menyerahkan sepucuk surat ke Giotto.
.
.
.
"Aneh sekali" kata Reborn
"VRROOOIIIII, memangnya apa yang aneh ?" Squalo langsung mendapat glare dari seluruh orang yang disana.
"Tsuna. Ada yang salah denganya" Reborn melanjutkan kata – katanya "Matanya seperti tidak memperlihatkan keinginan untuk hidup"
"Jadi bukan aku saja yang menyadari hal itu ?" kata Cozard.
"Apa kalian semua menyadarinya ?" Tanya Giotto. Mereka semua merespon dengan menganggukan kepala mereka. "Sejak awal Hyper Intuition-ku memang sudah memberitahu adanya keanehan padanya. Tapi, aku tidak tau apa – apa sama sekali tentangnya"
"Sampah, kau bilang ibuMu memberikan surat untukmu kan ? Surat yang diberikan bocah tadi pasti surat dari ibuMu"
"Ah, kau benar Xanxus" Giotto mengambil surat yang baru saja diterimanya dan membaca surat itu. Semakin lama Giotto membaca surat itu, muka Giotto semakin pucat.
"Ti… Tidak mungkin…"
To Be Continue . . .
.
.
.
Akhirnya selesai juggaaaa
Pertama – tama OzLen meminta maaf kepada reader – reader sekalian, untuk 2 minggu kedepan OzLen gag bisa update dulu, dikarenakan OzLen sedang menempuh UTS, selain itu OzLen udah kelas 12, jadi OzLen bakalan jarang untuk update. Hiks
Sudah lupakan klo sebentar lagi OzLen harus dikejar - kejar dengan ulangan dan tugas – tugas yang menumpuk. (Karya tuliss kuuuu. Hiks)
Ini adalah chapter terpanjang yang bisa OzLen buat.
Gomen klo makin lama ceritanya semakin aneh, dan banyak adegan yang OzLen skip karena factor M ( males )
Okeh, kutunggu reviewnya ya Minna ^^
