Session Talkshow

Bella : Minna, Bella kembali hadir dengan chapter terbaru. Yeeeaayyy…

Kazusa : Chapter ini spesial dari author. Makanya dipanjangin dikit, dikit lho. Nggak usah banyak-banyak.

Bella : Yap betul, entah kenapa Bella suka ngerjain chapter ini. Seruuu!

Kazusa : Memangnya bagian yang seru apa, author?

Bella : Hmm…, nggak tahu. Pokoknya seru saja.

GUBRAK

Kazusa : *segera bangun lagi* Baiklah kita abaikan author payah itu.

Bella : Siapa yang kau bilang author payah *sambil menunjukkan cambuknya*

Kazusa : *menatap ngeri ke arah cambuk yang dibawa sama author* Egh minna, sebaiknya kalian langsung baca saja chapter ini ya. Happy nice reading *setelah itu langsung kabur seribu langkah*.

Bella : Heh tunggu! *langsung mengejar Kazusa yang kabur*.


Title : Vampire Game

Chapter 5 : Piece of Memory

Disclaimer : Kamichama Karin Chu © Koge Donbo

~Vampire Game~ © Bella-chan

Rated : T

Genre : Fantasy ; Hurt/Comfort

Pairing : KazuRin

Warning : AU, OOC, typo, abal, gaje, alur kenceng, nggak nyambung, dll

Summary : "Egh apa ini?" / Sebuah album foto / 'Apa yang terjadi, kenapa hanya wajahku saja yang tidak terbakar...," / Tiba-tiba saja muncul pecahan peristiwa di kepalaku / 'Ini tidak mungkin, pasti ini halusinasi. Iya, pasti halusinasi. Sadarlah Karin.' / 'Apa mungkin dewan siswa itu vampir.' / "Tentu saja dia tidak ingat, karena kau yang sudah menghapus ingatannya."

.

.

Please Enjoy Reading

.

.

~Vampire Game~

Normal POV

Pagi yang cerah, matahari mulai menyinari isi semesta alam. Tak lupa diiringi dengan kicauan burung-burung bagaikan nyanyian alam. Meski demikian, suasana hati gadis beririskan emerald ini tidak secerah hari ini. Ia tampak memandang lesu ke arah pantulan dirinya di cermin yang menampakkan wajahnya yang terlihat masam. Tidak biasanya ia seperti ini, biasanya ia selalu ceria setiap paginya. Namun, hari ini tidak dan hal itu disebabkan tidak lain dan bukan adalah peristiwa sore kemarin.

Karin masih mengingat betul peristiwa yang dialaminya kemarin sore. Dimana ia menolong Himeka membawakan buku-bukunya. Lalu diajak bermain death game oleh Micchi dan Jin. Tertawa bersama dengan anggota dewan siswa lainnya ketika melihat Micchi mendapatkan hukuman untuk melakukan cross dress. Bahkan ia masih mengingat betul dimana Kazune menggigit lehernya.

Tapi anehnya, Karin tidak menemukan bekas gigitan sedikitpun di lehernya.

'Apa itu semua benar-benar hanya mimpi,' batin Karin dalam hati.

Kalau itu semua memang mimpi, tapi kenapa terasa sangat nyata. Rasa takut, rasa sakit yang dialaminya terasa sangat nyata. Tapi kalau seandainya itu benar-benar kenyataan. Jadi Kazune itu vampir. Agh, itu tidak mungkin. Mungkin itu hanya efek dari mimpi yang Karin alami akhir-akhir ini. Jadinya ia berhalusinasi yang tidak jelas.

Tampak Karin menjambak ikatan twintail-nya saking gemasnya.

"Argghhhh, masak itu cuma halusinasi. Aku tidak percaya!" seru Karin kesal sampai-sampai ia tidak sadar telah menendang sesuatu.

BRAK

"Egh apa ini?" tanya Karin seraya mengambil kotak yang tadi tidak sengaja ditendangnya.

"Sepertinya ini kotak perkakas milik Bibi waktu kami pindah kesini. Tapi kenapa bisa ada disini dan kenapa kotak ini belum dibuka. Memangnya isinya apa?" tanya Karin penasaran sambil memandang kotak yang sudah terlihat sedikit lusuh.

Akhirnya karena rasa penasaran yang sudah tidak bisa dibendung lagi. Karin pun membuka kotak tersebut. Isinya bukan benda berharga. Hanya beberapa mainan, mungkin itu mainan Karin sewaktu kecil dulu. Tapi ada satu benda yang menarik perhatian Karin. Diambilnya benda tersebut, dan ditiupnya agar debu-debu yang menempel menghilang.

Sebuah album foto.

Dibukanya album foto tersebut dengan hati-hati. Apa mungkin album foto ini bisa membantu Karin untuk mendapatkan ingatannya kembali.

Halaman pertama.

Ada foto Karin waktu masih bayi. Dalam foto itu Karin terlihat tertidur pulas sambil memegang dotnya.

Karin pun tersenyum melihat foto tersebut. Ternyata waktu kecil, dia lucu juga. Setelah puas melihatnya, ia pun membalikkan halaman selanjutnya.

Halaman kedua.

Di sebelah kiri, ada foto Karin yang merangkak. Dia terlihat mengejar seekor anak kucing. Agh lagi-lagi foto yang lucu. Lalu dialihkan pandangannya ke sebelah kanan. Ada foto Karin berumur sekitar 3 tahun yang tampak asyik bermain di ayunan.

Karin pun membuka halaman selanjutnya.

Halaman ketiga.

Di sebelah kiri, ada foto Karin dengan memakai seragam sekolahnya dan ditambah dengan pose hormat ke arah kamera. Karin tertawa kecil melihatnya, begitu polosnya ia saat itu. Lalu di sebelah kanan, ada foto Karin yang menangis saat jatuh dari sepeda. Karin sadar ternyata waktu kecil ia cengeng sekali. Masak jatuh dari sepeda langsung nangis.

Dibaliknya lagi halaman itu ke foto selanjutnya.

BRUGH

Tiba-tiba saja Karin menjatuhkan album foto itu ke lantai sehingga menghasilkan suara dentuman kecil. Tangan Karin bergetar, mulutnya menganga. Ia menatap tak percaya pada halaman tersebut.

Ada sebuah foto yang ukurannya sedikit lebih foto-foto sebelumnya. Foto yang berisi enam orang anak yang salah satunya adalah Karin. Tapi, yang membuatnya terkejut. Kelima wajah anak lainnya ada bekas sudah dibakar. Hanya wajah Karin saja yang masih terlihat. Karin pun segera berjongkok untuk mengambil album itu kembali. Dibukanya halaman selanjutnya dengan tangan yang masih bergetar.

Ternyata di halaman selanjutnya pun sama. Di sebelah kiri, ada foto Karin dengan seseorang yang tampak melambai ke arah kamera. Lalu di sebelah kanan, ada foto Karin dengan lima orang anak berseragam sekolah. Tapi sama seperti halaman sebelumnya. Selain foto wajah Karin, wajah yang lainnya terbakar. Karin pun segera membuka halaman selanjutnya dan selanjutnya sampai ia menutup album tersebut. Semuanya terbakar kecuali wajahnya sendiri.

Karin menyandarkan tubuhnya ke dinding. Ia menatap album yang masih tergeletak di atas lantai.

'Apa yang terjadi, kenapa hanya wajahku saja yang tidak terbakar. Apa hal ini disengaja, tapi kenapa. Kenapa setiap aku ingin mengingat masa laluku. Selalu saja ada halangannya. Apa mungkin aku tidak diijinkan mengingat masa laluku lagi, tapi…tapi aku hanya ingin-'

~Vampire Game~

Karin POV

Deg

Tiba-tiba saja kepalaku terasa sakit. Sontak saja aku langsung memegangi kepalaku dengan erat.

Sakit.

Pusing.

Itulah yang kurasakan saat ini. Tiba-tiba saja muncul pecahan peristiwa di kepalaku.

"Karin, ayo kita main petak umpet!" seru seorang anak kecil mengajakku bermain.

Siapa anak kecil itu, kenapa aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Belum sempat pikiranku kembali tenang. Muncul lagi adegan peristiwa lainnya.

"Ingat, kita akan berteman selamanya sampai kapanpun kita adalah sahabat."

"SAHABAT!"

Apa itu, siapa anak-anak itu? Kenapa aku merasa tidak asing dengan mereka semua. Belum sempat aku menyelesaikan pemikiranku. Aku sudah dipusingkan dengan adegan baru lagi.

"Karin, maaf selama ini kami sudah membohongimu. Sebenarnya kami adalah-"

"Arrgggghhhhh….!"

Kepalaku sudah terasa amat sangat sakit. Membuat adegan yang belum selesai itu terputus begitu saja saking sakitnya kepalaku ini. Mungkin ini sudah batas kemampuanku untuk mengingat.

Aku memijat-mijat kepalaku untuk mengurangi rasa sakit. Dan itu berhasil, beberapa saat kemudian. Kepalaku tidak sakit lagi, meski aku masih merasa sedikit pusing. Tapi itu lebih baik daripada sakit yang kualami tadi.

Aku menghela napas panjang. Apa yang barusan terjadi tadi. Apa tadi itu ingatanku. Kalau memang iya, peristiwa apa saja tadi itu dan siapa anak-anak kecil itu. Ugh, kenapa aku tidak bisa mengingat mereka semua. Karin bodoh, Karin bodoh.

Aku mulai memukul-mukul kepalaku saking kesalnya.

"Karin, kau mau berangkat sekolah jam berapa. Ini sudah hampir bel masuk lho," teriak Bibi dari lantai bawah.

Aku pun langsung tersadar dan buru-buru mengambil tasku. Sebelum turun, aku menyempatkan diri untuk merapikan rambutku dan menyimpan album foto itu di tempat yang aman. Baru setelah itu aku turun ke bawah dengan langkah tergesa-gesa.

~Vampire Game~

Aku berlari menuju ke kelasku. Bulir-bulir keringat sudah menetes dari pelipisku. Bel masuk sekolah sudah berbunyi sedari tadi. Aku menoleh ke setiap kelas yang kulewati dan semua kegiatan belajar mengajar sudah dimulai. Kali ini aku hanya bisa berharap, semoga sensei yang mengajar kelasku datang terlambat. Meski itu kemungkinannya kecil sekali.

Akhirnya aku sampai di depan pintu kelasku. Nafasku masih tersengal-sengal. Aku menyeka keringatku dan menarik napas panjang. Aku pun membuka pintu tersebut. Dan seperti yang sudah kuperkirakan. Pelajaran sudah dimulai. Semua pasang mata langsung menoleh ke arahku. Aku bisa melihat Miyon yang menatapku cemas.

"Hanazono Karin, jam berapa sekarang!" teriak sensei di depanku.

'Ya ampun tidak bisakah ngomong pelan-pelan saja. Nggak usah pakek teriak-teriak segala,' batinku kesal.

Aku hanya bisa menunduk pasrah menunggu hukuman apa yang akan kudapat.

"Sekarang kau cepat masuk dan duduk di bangkumu," ujar sensei sambil memberi jalan

Aku langsung menengadahkan kepalaku. Aku tidak percaya, tidak ada hukuman. Baru saja aku menikmati kebahagiaanku karena tidak mendapatkan hukuman. Sensei tiba-tiba saja bicara sesuatu yang membuat kebahagiaanku lenyap seketika.

"Meski saya mempersilakankanmu untuk duduk. Bukan berarti kamu terbebas dari hukuman. Pulang sekolah nanti kamu harus membantu petugas perpustakaan untuk merapikan buku."

'Apa!' batinku shock.

Lebih baik aku disuruh berdiri di depan kelas atau nyanyi juga tidak apa-apa. Daripada disuruh membantu petugas perpustakaan. Selain aku akan pulang lebih sore, buku yang harus dirapikan pasti jumlahnya tidak sedikit. Mengingat perpustakaan sekolahku memiliki berbagai macam jenis buku.

Tapi ya namanya murid ya tidak bisa membantah ucapan dari seorang guru. Akhirnya dengan langkah gontai, aku berjalan menuju ke bangkuku.

Skip Time

Tet… tet… tet…

Akhirnya bel pulang pun berbunyi yang artinya tibalah saatnya aku harus menjalani hukumanku. Aku pun berjalan dengan malas menuju ke perpustakaan. Awalnya Miyon berniat untuk menungguku, namun aku menolaknya. Karena aku tahu, hukumanku ini pasti akan memakan banyak waktu.

Begitu sampai di perpustakaan aku sudah dihadapi oleh beberapa tumpukan buku yang habis dikembalikan oleh para murid. Petugas perpustakaan disana mengatakan kalau aku harus menaruh buku-buku itu kembali ke tempatnya masing-masing. Meski aku sudah bisa menebak kalau jumlah buku yang harus kurapikan tidaklah sedikit. Tapi, aku sama sekali tidak menyangka kalau rak buku di perpustakaan ini sangatlah banyak. Sialnya perpustakaan ini berlantai dua. Jadi ceritanya aku harus menaruh kembali buku-buku ini di rak yang sesuai jenis bukunya dan masalahnya aku tidak tahu rak mana yang berjenis fiksi, novel, sastra, dll. Yang aku tahu cuma rak yang berisi komik yang letaknya paling dekat dengan tangga, karena dulu buku yang pernah kupinjam adalah komik.

Akhirnya dengan amat sangat terpaksa, aku harus melihat satu persatu tulisan kertas yang tertempel di setiap raknya untuk mengetahui jenis buku apa yang ada di rak itu. Dan menaruh kembali buku yang sejenis di rak tersebut.

Butuh waktu berjam-jam untuk menaruh kembali semua buku-buku tersebut dan ketika aku melihat jam. Jarum jam panjang menunjukkan pukul enam dan jarum jam pendek menunjukkan pukul lima. Yang artinya sekarang sudah pukul setengah enam sore. Setelah berpamitan dengan petugas perpustakaan yang lainnya yang kebetulan masih harus mengurus data peminjam hari ini. Dan untungnya aku cuma disuruh membantu merapikan buku doang. Jadi sekarang aku bisa pulang.

Aku pun melangkahkan kakiku di sepanjang koridor sekolah. Tampak semua ruangan sudah tertutup dan sepi. Tidak mengherankan juga sih, karena pasti jam segini semua murid sudah pulang ke rumahnya masing-masing. Aku sedikit menyesal karena sudah menolak tawaran Miyon. Seandaianya Miyon menungguku, aku tidak perlu berjalan sendirian di koridor yang gelap ini sendirian. Yah meski ada ssedikit inar-sinar cahaya yang masuk melalui celah jendela. Tapi tetap saja tidak enak berjalan sendirian.

"Arrgggghhh…!"

Tiba-tiba saja aku mendengar suara teriakan seseorang. Aku pun langsung berlari menuju asal suara tersebut.

'Koridor ini, koridor yang sama yang aku lewati sewaktu membantu Himeka membawakan bukunya kemarin,' pikirku.

Langkah kakiku tiba-tiba berhenti ketika aku mencium bau yang tidak asing lagi bagiku.

Bau darah.

Aku pun memaksakan kakiku melangkah menuju ke sumber bau tersebut yang entah kenapa berasal dari ruang dewan siswa.

Aku berniat membuka pintu ruangan itu, tapi tiba-tiba saja tanganku bergetar. Aku takut begitu membuka pintu ini, aku akan melihat sesuatu yang tidak ingin aku lihat. Tapi, aku harus mengeceknya. Bisa saja terjadi sesuatu dengan orang yang berteriak tadi. Ketika tanganku sudah berada di kenop pintu dan akan memutarnya. Tiba-tiba saja aku mendengar suara dari dalam. Otomatis aku mengurungkan niatku untuk membuka pintu itu.

"Kazune, sudah hentikan. Kalau kau menghisapnya terus, dia bisa menjadi oni atau lebih gawatnya dia bisa mati," ujar sebuah suara yang aku kenali sebagai suara Kazusa.

"Iya, kau rakus sekali sih. Kami saja mencoba bertahan dengan meminum kapsul ini." Kali ini gantian Micchi yang berbicara.

Sepertinya anggota dewan siswa masih ada di ruangan ini. Tapi yang membuatku bingung, aku sama sekali tidak mengerti maksud perkataan mereka.

Menghisap.

Oni.

Kapsul.

Aku pun memutuskan untuk mengintip dari celah jendela yang sedikit tidak tertutupi oleh korden. Mataku membulat begitu melihat apa yang terjadi di dalam sana. Hampir saja aku menjerit kalau tidak cepat-cepat aku tahan. Kepalaku berulang kali menggeleng-geleng cepat.

'Ini tidak mungkin, pasti ini halusinasi. Iya, pasti halusinasi. Sadarlah Karin,' batinku dalam hati.

"Sepertinya ada tamu tak diundang," ucap Jin.

Deg

Apa yang dia maksud dengan tamu tak diundang itu aku.

Sontak saja aku langsung kabur dari sana dan berlari secepatnya keluar gedung sekolah. Aku masih bisa mengingat jelas apa yang barusan aku lihat tadi. Meski keadaan ruangan itu gelap, namun aku masih bisa melihat dengan jelas bahwa tadi Kazune menggigit leher seorang murid. Apalagi ditambah sepasang matanya yang biasanya berwarna biru sapphire. Namun, tadi yang kulihat bukan warna itu tapi warna merah menyala.

Pikiranku mulai melayang ke peristiwa-peristiwa yang kualami selama ini. Mulai dari rumor tentang dewan siswa hingga kejadian kemarin sore saat dirinya bermain death game dengan para dewan siswa. Aku mulai menyambungkan peristiwa itu satu persatu. Dan akhirnya berakhir pada satu kesimpulan yang sangat membuatku terkejut.

'Apa mungkin dewan siswa itu vampir.'

~Vampire Game~

Normal POV

Kazune menarik taringnya kembali yang sedari tadi menancap di leher seorang gadis. Gadis itu tampak tidak sadarkan diri, namun masih dapat terdengar deru napasnya. Tanda bahwa ia masih hidup.

"Himeka, Kazusa, tolong urus gadis ini!" perintah Kazune seraya menyeka darah yang masih menetes dari mulutnya.

"Baiklah," ucap Himeka seraya membopong gadis itu ke tempat duduk yang tentunya dibantu oleh Kazusa.

"Kazune, sekarang bagaimana. Dia sudah tahu," ujar Micchi seraya menyandarkan tubuhnya pada dinding.

"Apa perlu kita kejar dia," ucap Jin yang sedari tadi hanya duduk di atas meja.

Meski Micchi dan Jin tidak mengatakan siapa yang dimaksud oleh mereka berdua. Namun, Kazune sudah tahu siapa dia.

"Itu tidak perlu," ucap Kazune tegas.

"Egh kau sudah gila, bertahun-tahun kita berusaha mati-matian untuk menyembunyikan identitas kita. Sekarang kau mau membiarkan dia tahu soal kita," protes Micchi merasa tidak terima.

"Bukannya dia sudah tahu, hanya saja dia tidak ingat," ucap Kazune dengan wajah datar.

"Tentu saja dia tidak ingat, karena kau yang sudah menghapus ingatannya," ujar Kazusa tajam.

Kazune hanya diam saja mendengar perkataan Kazusa. Ingatannya kembali melayang ke peristiwa beberapa tahun lalu. Dimana pada hari itu terjadi badai salju yang hebat. Hari dimana Karin kehilangan kedua orang tuanya dan juga hari dimana ia juga kehilangan ingatannya.

.

.

To Be Contiuned

.

.

Please Review


Session Talkshow

Bella : Minna, nanggung ya akhirannya. Yah, emang sengaja dibikin gitu. Hahahaha.

Micchi : Dasar author, suka banget sih bikin para readers penasaran.

Bella : Hehehehe gomen ya minna, Bella jamin chapter depan bakal diungkapin hubungan Karin dengan para dewan siswa. Yah meski tidak secara keseluruhan.

Himeka : Step by step. Jadi satu-satu dulu jelasinnya. Seperti di chapter ini, sekarang kalian sudah tahu kan kalau Karin hilang ingatan itu gara-gara Kazune.

Kazune : Mungkin sekarang para readers bertanya-tanya, kenapa aku menghapus ingatan Karin.

Bella : Sok tahu kamu Kazune. Tapi kalau kalian mau tahu jawabannya, tunggu saja chapter depan ya. Hahahaha.

Himeka : Igh… author dari tadi ketawa melulu, bacain nih balasan review-nya *sambil menyerahkan setumpuk kertas yang berisi review-review dari para readers*.

Micchi : Aku yang pertama ya *seraya mengambil satu kertas dari tangan author*. Buat kris, pengen ada romansanya ya. Author bakal usahain deh ada. Jadi tunggu saja ya.

Bella : Untuk Asahina Natsuki, tuh Kazune, Asahina-chan saja ngakuin kalau kamu itu super judes dan dingin.

Kazune : Biarin, mau judes kek mau dingin kek. Terserah, yang penting aku tampan.

Bella : Nih anak, selain judes dan dingin. Narsisnya juga nggak ketulungan.

Himeka : Buat piyuki, egh itu bahasa apa ya. Kok pakek ciyus-ciyusan.

Bella : Igh Himeka, itu bahasa anak alay tau.

Himeka : Oh gitu. Kalau begitu. Makacih cudah dibiyang keyen.

Semua langsung sweatdrop, nggak nyangka Himeka bakal ngomong gitu.

Micchi : Oke, kita lanjut lagi. Buat kujyou Angelita, Kazuka Luna Dragneel, Lan Dewi, dan andien hanazono. Pada penasaran ya, makanya ikuti terus fanfic ini. Hehehehe

Bella : Buat bella, wah nama kita sama. Hehehehe, iya ya fanfic ini bakal dilanjutin sampai habis kok. Tenang saja.

Kazune : Untuk nuri, tuh kan aku memang suka dicari-cari. Penggemarku kan banyak.

Bella : Nggak usah narsis kau. Nuri-chan, makasih ya sudah dibilang bagus. Buat romance-nya masih dipikir-pikir.

Himeka : Buat yusnia, ceritanya memang penuh misteri. Orang yang buat juga penuh misteri. Lalu buat Fukito, yusima, dan jg. Ini sudah lanjut kok, lumayan cepet kan update-nya.

Micchi : Selanjutnya buat Rizki Kinanti. Wah aku jadi pengen lihat Kazune nari waka-waka. Kazune coba nari lagi!

Kazune : Enak saja, ogah. Mau dibayar berapapun, aku nggak bakalan mau.

Bella : Untuk 1234, sepertinya ini masih mending. Awalnya Bella mau bikin yang lebih serem, tapi nggak jadi. Nanti genre-nya malah jadi horror.

Micchi : Buat KK LOVERS. Sayang Jin nggak ada disini. Tapi aku setuju semua karakter KK kecuali aku ditambah author-nya memang payah semua.

All (- Micchi) : MICCHI…. *langsung hajar Micchi sampai babak belur*.

Kazune : Untung nggak ada Jin, Karin, dan Kazusa. Kalau ada mereka, tambah penyok mukamu itu.

Bella : Oke minna, Bella sudahi saja talkshow ini.

Himeka : Sampai jumpa minna. Jangan lupa review dan kasih nilai ya.