Session Talkshow

Bella : Minna, apa kabarnya? Bella kangen sama kalian semua. I miss you so much.

Kazusa : Kenapa setelah sekian lama nggak ketemu, kenapa author jadi tambah stress ya.

Bella : Memang, Bella strees karena banyak tugas yang menumpuk. Sudah gitu sekarang gurunya suka ngasih sistem ulangan dadakan. Jadinya Bella harus siap belajar terus setiap harinya.

Kazusa : Author ini bukan saatnya untuk curhat, sekarang waktunya buat buka chapter ini tau! *teriak Kazusa kayak nenek lampir*.

Bella : Iya ya, bawel banget sih. Oke minna, berhubung hari ini sekolah Bella HUT sehingga pelajaran ditiadakan semua. Bella sempetin buat fanfic ini, semoga kalian suka.

Kazusa : Bukannya nyorakin teman-temannya yang berlomba malah asyik sendiri di kelas.

Bella : Sudah diem *sambil ngelemparin pom pom yang tadi mau dipakai buat nyorakin teman-temannya*.


Title : Vampire Game

Chapter 6 : Past Time

Disclaimer : Kamichama Karin Chu © Koge Donbo

~Vampire Game~ © Bella-chan

Rated : T

Genre : Fantasy ; Hurt/Comfort

Pairing : KazuRin

Warning : AU, OOC, typo, abal, gaje, alur kenceng, nggak nyambung, dll

Summary : "Seperti yang kau lihat, mereka sudah dibunuh." / "Sepertinya ayahmu masih tidak terima atas kematian ibumu yang telah dibunuh." / "Kazune kau… kau vampir." / "Jangan sentuh aku, a-ayahmu su-sudah membunuh orang tuaku!" / "Maaf Karin, aku harus menghapus ingatanmu."

.

.

Please Enjoy Reading

.

.

~Vampire Game~

Normal POV

Kazune tidak menghiraukan ucapan Kazusa. Ia hanya memandang keluar jendela, menatap rembulan yang bersinar terang. Ia teringat peristiwa yang terjadi beberapa tahun silam saat dia masih berumur tujuh tahun. Saat itu sedang terjadi badai dahsyat pada malam harinya. Badai yang dikatakan paling hebat dalam dua puluh tahun terakhir yang pernah melanda Negara Jepang. Sebuah peristiwa pahit dimana Karin kehilangan kedua orang tuanya dan juga ingatannya yang dengan amat terpaksa harus dia renggut dari diri Karin. Ingatan tentang hubungan Karin dengan Kazune, Kazusa, Himeka, Micchi, dan juga Jin. Ingatan tentang kenangan-kenangan yang mereka lalui bersama. Dan yang paling penting ingatan tentang seorang vampire yang telah membunuh kedua orang tua Karin.

Flashback on

Kazune kecil tampak berlarian di sepanjang jalan setapak. Dia terus saja berlari meninggalkan jejak sepatu kecilnya di atas salju. Dia tidak mempedulikan badai salju yang menerpa tubuh mungilnya. Akhirnya dia sampai di sebuah rumah yang berukuran lumayan besar. Dia langsung saja masuk lewat pintu yang memang sejak awal sudah terbuka lebar. Begitu memasuki ruang keluarga, Kazune dikagetkan dengan pemandangan yang mengerikan.

Kazune melihat kedua orang tua Karin sudah meninggal dengan keadaan yang terbilang cukup mengenaskan dengan tubuh yang berlumuran darah. Banyak pecahan kaca yang tercecer di sekitar mayat keduanya.

Crak

Tiba-tiba terdengar seseorang yang menginjak pecahan itu. Kazune pun menyipitkan matanya untuk melihat siapa orangnya. Samar-samar Kazune melihat ada sosok berjubah dan bertudung seperti yang sedang dipakainya saat ini. Kazune langsung mengenali siapa sosok itu.

"Apa yang sebenarnya sudah terjadi?" tanya Kazune pada sosok itu.

Sosok itu pun lantas membuka tudung yang sedang dikenakannya, memperlihatkan rambutnya yang berwarna gelap dan sepasang mata onyx-nya.

"Seperti yang kau lihat, mereka sudah dibunuh," ucap sosok itu atau mungkin kita mengenalnya sebagai Jin kecil.

"Maaf Kazune, aku tidak bisa mencegah ayah," ujar seorang gadis bersuraikan blonde sepinggang yang tampak berdiri di samping Jin.

"Sepertinya ayahmu masih tidak terima atas kematian ibumu yang telah dibunuh," ujar Micchi yang tiba-tiba saja muncul di samping Kazune.

"Lalu dimana Karin sekarang?" tanya Kazune tajam.

"Tadi kami lihat, paman sedang mengejarnya ke arah hutan," jawab Himeka yang baru masuk ke ruang keluarga.

"Lalu kenapa kalian tidak menghentikannya, heh!" bentak Kazune keras.

"Kazune, kita masih kecil. Kita belum punya cukup kekuatan untuk melawan ayahmu. Jadi maafkan kami," jelas Jin seraya menundukkan kepalanya.

"Agh kalian semua tidak berguna!" seru Kazune yang setelah itu langsung menerobos keluar rumah untuk mencari Karin. Meninggalkan keempat sosok yang masih berdiri diam di ruang keluarga. Seakan tidak berniat untuk menyusul Kazune yang sudah berlari ke arah hutan.

~Vampire Game~

Kazune POV

'Apa mereka semua benar-benar bodoh. Sama sekali tidak berpikir bahwa nyawa Karin sedang terancam bahaya,' rutukku dalam hati.

Aku masih terus berlari melawan badai yang semakin bertambah dahsyat saja. Bahkan beberapa pohon pun sampai tercabut dari tanahnya.

"Arggghhhh….!"

Tiba-tiba aku mendengar suara teriakan Karin dari arah hutan. Aku yakin betul bahwa itu benar-benar suara Karin. Aku pun langsung mempercepat lariku masuk ke dalam hutan.

Aku terus berlari menerobos semak-semak untuk mencari sosok Karin. Akhirnya aku berhasil menemukannya. Dia sedang duduk di depan sebuah pohon. Terlihat dari wajahnya kalau dia sangat ketakutan saat ini.

Aku pun langsung melangkahkan kakiku untuk mendekatinya sampai aku menyadari sesuatu. Sontak aku pun menghentikan langkahku, aku menatap ke sekeliling Karin. Ternyata Karin sudah dikepung oleh sekawanan oni. Pantas saja dia sampai ketakutan seperti itu. Aku tidak bisa membiarkannya, aku harus menolong Karin. Mataku yang awalnya berwarna biru sapphire langsung berubah menjadi merah menyala sama seperti mata milik oni-oni tersebut. Lalu kuarahkan tanganku ke arah oni-oni itu, dan membuat sebuah angin kencang yang melebihi angin badai saat ini. Akhirnya oni-oni tersebut langsung kabur. Sepertinya mereka sudah menyadari akan kehadiranku disini, karena pada dasarnya seorang oni tidak bisa mengalahkan vampir. Karena oni hanyalah sosok berwujud setengah manusia dan setengah vampir.

Aku pun kembali mendekat ke arah Karin. Tiba-tiba ada rasa bersalah yang menjalar di hatiku. Aku pun menjajarkan tinggiku dengannya. Kulihat tubuhnya masih bergetar ketakutan membuatku semakin merasa bersalah.

"Jangan takut, aku akan menolongmu," ucapku lembut padanya berharap bisa mengurangi rasa takutnya.

"Benarkah?" tanya Karin polos.

Hampir saja aku tertawa melihat betapa polosnya dia saat ini. Pada akhirnya aku hanya menyunggingkan sebuah senyum padanya.

"Iya, aku akan selalu menjagamu. Jadi kau jangan takut ya," ucapku lagi padanya.

Tiba-tiba saja ada angin yang berhembus membuat tudung yang sedang kupakai untuk menutupi wajahku terlepas. Membuat wajahku sekarang ini terlihat jelas olehnya. Tampak matanya membulat begitu melihat wajahku. Mulutnya menganga lebar.

"Kazune kau… kau vampir," ucap Karin tak percaya.

"Maafkan aku yang tidak bilang padamu soal ini sejak awal," ujarku merasa bersalah.

"Jangan-jangan Kazusa, Himeka, Micchi, dan Jin juga-"

"Iya, mereka sama sepertiku," potongku cepat.

"Tidak, ini tidak mungkin. Kau pasti bohong," ucap Karin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya cepat.

"Ini semua kenyataan, aku sama sekali tidak berbohong padamu," ucapku sembari berusaha menyentuhnya. Tapi tanganku langsung ditepis dengan tangan kecilnya dengan gerakan kasar.

"Jangan sentuh aku, a-ayahmu su-sudah membunuh orang tuaku!" seru Karin dengan nada tinggi.

"Karin." Aku hanya bisa menatap nanar ke arahnya. Aku pun menghela napas.

'Maaf Karin, sepertinya aku harus melakukan ini padamu. Sekali lagi maafkan aku,' batinku yang setelah itu langsung memosisikan tanganku di dahinya. Tiba-tiba muncul sebuah cahaya yang keluar dari telapak tanganku. Membuat Karin perlahan-lahan menutup matanya dan akhirnya terpejam.

(Bella : Hmm kayaknya bagian ini Bella sudah nggak asing lagi deh)

(Kazusa : Yee itu kan bagian waktu Kazune nidurin Karin di fanfic De Angela. Masak sudah lupa)

(Bella : Oh iya ya. Ya sudah lanjut!)

Sontak aku langsung menangkap tubuh mungilnya sebelum jatuh ke tanah. Aku hanya bisa menatap sedih ke arahnya.

"Maaf Karin, aku harus menghapus ingatanmu. Aku hanya tidak ingin kau mengingat peristiwa ini lagi. Meski pada akhirnya kau juga melupakanku dan juga yang lainnya. Tapi itu lebih baik daripada kau membenci sosok kami, sosok yang telah membunuh orang tuamu," ujarku lirih pada Karin yang sudah tertidur dalam pelukanku.

Flashback off

~Vampire Game~

Normal POV

Tampak Kazune menghela napas panjang begitu selesai mengenang masa lalunya. Dia sudah mengambil keputusan tentang tindakan apa yang akan dilakukan terhadap Karin. Mungkin memang sudah waktunya. Dia pun langsung berbalik untuk menghadap teman-temannya yang masih setia menunggunya.

"Kazusa, aku mau minta bantuanmu," ujar Kazune seraya menatap Kazusa yang berdiri tidak jauh darinya.

"Minta bantuan apa, apa ada hubungannya dengan Karin?" tanya Kazusa.

"Memangnya siapa lagi kalau bukan dia," jawab Kazune sekenanya.

"Jangan bilang kau mau menghapus ingatannya lagi," ujar Jin tajam.

Sontak Micchi, Kazusa, dan Himeka kaget mendengar penuturan Jin. Mereka langsung menatap ke arah Kazune untuk menuntut penjelasan.

"Kalian tenang saja, aku tidak akan menghapus ingatannya. Justru aku ingin memberikan penawaran yang menarik untuknya," jelas Kazune seraya tersenyum penuh sejuta arti dibaliknya yang hanya diketahui oleh dirinya saja.

.

.

To Be Continued

.

.

Please Review


Session Talkshow

Bella : Minna, berhubung Bella update-nya di sekolah. Balas review-nya pendek-pendek saja ya. Oke, silahkan Karin dan Kazune yang membacakan balasan review-nya.

Karin : Iya ya, ugh seenaknya nyuruh orang saja. Balasan pertama buat dci, yu, karin0kazune, Kirei, jg, jj, dan hanazono. Ini sudah di-update kok maaf ya kalau LAMA BANGETupdate-nya. Diusahain untuk selanjutnya nggak lama lagi update-nya.

Kazune : Buat Kujyou Angelita. Apa! Aku minum darah. Author aku masih doyan sama yang namanya air mineral kok.

Bella : Heh disini kan kau jadi vampir jadi jelas lah minumannya darah, masak susu. Sudah lanjutin sana balas review-nya.

Kazune : Ya ya, nggak usah marah-marah deh. Kayak nenek-nenek saja.

Bella : Apa kau bilang!

Kazusa : (Tiba-tiba datang entah dari mana dan langsung menendang author dan Kazune keluar) Sana, kalau mau ribut di backstage saja!

Karin : Hebat Kazusa, terus yang bacain balasan review-nya siapa dong.

Kazusa : Ya kamulah, chapter ini bukan aku yang dapat jatah bacain balesan review-nya.

Karin : *Langsung ngeloyor pergi nyusul Kazune dan author yang di backstage*.

Kazusa : Woy, jangan kabur. Terus siapa dong yang bacain balesan review-nya.

Readers : Ya kamulah!

Kazusa : Hah, ya udah deh. Untuk nuri, makanya jadi fans-ku saja. Lalu buat Kazuka Luna Dragneel, wah jangan pingsan. Aku nggak kuat nanti ngangkutnya. Buat Rizki Kinanti, ide bagus. Aku tampung ide Rizki-chan itu buat ngerjain Kazune nanti. Terus buat Asahina Natsuki, kalau mau tahu sejak lahir. Hanya beberapa orang yang tahu kalau Kazune orangnya narsis berat. Selanjutnya Lan Dewi, takut ya. Padahal genre-nya nggak horror. Lebih horror lagi kalau ngeliat muka author kalau lagi ngamuk.

Kazusa : *Ambil napas sebentar terus lanjut baca lagi* Buat Jamilah, aslinya lebih kejaman aku daripada Kazune lho. Untuk Meirin Hinamori, maaf author nggak bisa bikin fanfic yang panjang. Bisanya bikin yang lebar. Hehehe bercanda, nanti diusahain deh. Lalu buat meida-rospitasari-1, dua chapter depan MUNGKIN aka nada adegan romance-nya. Jadi ditunggu saja ya. Dan yang terakhir untuk Nitsuki Matsushima29, itu nggak perlu nitsuki-chan. Sekarang aja Micchi sedang dirawat inap di rumah sakit gara-gara kemarin babak belur.

Kazusa : Akhirnya semua balasan sudah selesai dibacain, jangan lupa kasih nilai dan review lagi ya. Terima kasih juga bagi semua para readers yang sudah menyempatkan untuk membaca fanfic ini apalagi sampai me-review-nya. Arigatou gozaimatsu. Akhir kata, sampai jumpa minna.

At Backstage

Bella : Siapa yang mau nambah satenya.

Karin dan Kazune : Akuuu!