Title : Vampire Game

Chapter 7 : Agreement part 1

Disclaimer : Kamichama Karin Chu © Koge Donbo

~Vampire Game~ © Bella-chan

Rated : T

Genre : Fantasy ; Hurt/Comfort

Pairing : KazuRin

Warning : AU, OOC, typo, abal, gaje, alur kenceng, nggak nyambung, dll

Summary : "Kalau kau ingin tahu soal apa yang kau lihat kemarin. Datanglah ke ruang dewan siswa sepulang sekolah nanti. Kami akan menjawab semua pertanyaanmu." / "Aku sarankan sebaiknya kau tidak usah datang." / "Aku adalah kawanmu, tapi bisa juga menjadi lawanmu. Itu tergantung dengan pilihan apa yang kau pilih nantinya." / "Aku harap, kau memilih pilihan yang tepat Karin."

.

.

Please Enjoy Reading

.

.

~Vampire Game~


Karin POV


Aku memaksakan kakiku berangkat menuju ke sekolah. Mataku masih terlihat sayu, dan kepalaku juga terasa berat. Semangatku yang selalu menemaniku setiap paginya, seakan-akan menguap begitu saja. Ini semua gara-gara peristiwa kemarin sore yang masih terngiang-ngiang di kepalaku. Peristiwa yang membuatku tidak bisa tidur semalaman. Peristiwa yang bagiku merupakan mimpi buruk diantara semua mimpi buruk yang pernah aku alami. Mimpi buruk yang menjadi kenyataan.

"Karin!" panggil seseorang.

Aku pun langsung menoleh ke belakang untuk melihat si pemanggil. Tampak Miyon yang tengah berlari-lari kecil ke arahku sambil melambaikan tangannya. Aku hanya berdiri diam saja, menunggunya datang menghampiriku.

"Selamat pagi, Karin!" sapa Miyon begitu sudah berada di sampingku.

"Pagi," balasku dengan senyum dipaksakan.

"Kau kenapa Karin, wajahmu terlihat pucat. Apa kau sakit?" tanya Miyon khawatir.

Aku hanya menggeleng lemah. "Aku baik-baik saja kok, aku hanya kurang tidur saha," ujarku mencoba memberi alasan.

Tampak Miyon tidak sepenuhnya mempercayai ucapanku barusan. Ia masih menatapku dengan pandangan cemas.

"Karin!" Aku dan Miyon langsung menoleh begitu mendengar ada yang memanggil namaku lagi.

Kami berdua langsung mendapati sosok perempuan berambut blonde panjang dan beririskan biru sapphire . Sosok itu kami kenali sebagai Kazusa, teman sekelas kami.

"Bisa bicara berdua sebentar!" pinta Kazusa dengan seulas senyum manisnya.

Tapi bagiku senyuman itu begitu menakutkan. Bahkan kini aku sudah merasakan tubuhku mulai gemetar.

"Hmm… kalau begitu aku pergi ke kelas dulu ya. Sampai bertemu di kelas," ujar Miyon yang setelah itu langsung ngeloyor pergi meninggalkanku berdua dengan Kazusa. Aku hanya bisa meringis melihat kepergiannya.

Dalam hati, aku merutuki sikap Miyon tadi. Padahal aku ingin sekali menghindari Kazusa saat ini. Kenapa dia malah meninggalkanku. Seharusnya dia mengajakku tadi, bilang saja dia ada urusan denganku atau apalah yang penting bisa membuatku kabur dari sini.

"Karin, kau baik-baik saja?" tanya Kazusa dengan raut wajah yang terlihat cemas. Entah itu aku yang salah lihat atau tidak.

"Ti-tidak, aku baik-baik saja kok," ucapku dengan jawaban yang sama yang aku berikan tadi pada Miyon.

"Kau yakin?" tanya Kazusa lagi.

Tuh kan, lagi-lagi jawabanku tidak dipercayainya. Tapi, memang benar sih aku bohong soal keadaanku. Saat ini keadaanku sedang tidak baik-baik saja. Bahkan menjadi lebih buruk ketika bertemu denganmu Kazusa.

"Karin!" Panggilan Kazusa itu membuatku tersadar dari lamunanku.

"Heh, a-aku benar-benar tidak apa-apa kok. Oh ya, kau ada perlu apa denganku?" tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan.

Kazusa hanya diam menatapku. Raut wajahnya terlihat sedang berpikir. Lalu dia mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arahku.

"Kalau kau ingin tahu soal apa yang kau lihat kemarin. Datanglah ke ruang dewan siswa sepulang sekolah nanti. Kami akan menjawab semua pertanyaanmu," bisik Kazusa kepadaku.

Aku langsung membeku. Apa yang dia maksud dengan kemarin itu peristiwa kemarin sore. Lalu apa maksudnya dengan menjawab semua pertanyaanku.

Baru saja aku mau menanyakan sesuatu kepada Kazusa. Tiba-tiba saja dia sudah menghilang begitu saja.

'Kemana perginya?' tanyaku dalam hati.

~Vampire Game~

Aku langsung berjalan menuju ke kelasku dengan langkah gontai. Wajahku yang sejak pagi tadi sudah kusut, kini bertambah kusut lagi. Otakku masih mencerna ajakan Kazusa tadi. Apa aku harus datang atau tidak. Tapi kalau dipikir-pikir, memang benar aku punya sejuta pertanyaan yang ingin aku tanyakan pada dewan siswa. Tapi begitu mengingat peristiwa kemarin. Aku langsung bergidik ngeri, jangan-jangan aku yang akan jadi korban selanjutnya.

Tanpa aku sadari, tiba-tiba ada sepasang tangan yang menarikku masuk ke dalam sebuah ruang laboratorium. Tangan itu langsung membungkam mulutku untuk memastikan aku tidak berteriak.

Aku langsung kaget begitu melihat siapa pelaku dibalik ini semua. Rupanya tidak lain adalah Micchi dan Jin.

"Emm euumm." Aku langsung berusaha melepaskan tangan jin dari mulutku.

"Akan aku lepaskan, kalau kau mau diam!" seru Jin.

Aku hanya mengangguk lemah, dan akhirnya Jin mau melepaskanku. Aku langsung menjauh dari mereka berdua.

"Kalian mau apa, sampai membekapku segala disini," ujarku kesal.

"Maafkan kami Karin, tapi kami tidak bisa membicarakan ini diluar," ucap Micchi mencoba meminta maaf padaku.

"Memangnya kalian mau bicara apa?" tanyaku heran.

Jujur saja aku bingung. Tadi Kazusa yang ingin berbicara denganku. Sekarang malah gantian Micchi dan Jin. Jangan-jangan yang mereka bicarakan itu sama dengan Kazusa.

"Tenang saja, justru yang ingin kami bicarakan denganmu kebalikan dari yang dibicarakan Kazusa tadi," terang Jin seakan-akan bisa membaca pikiranku.

"Apa maksudmu?" tanyaku bingung.

"Tadi Kazusa memintamu untuk datang ke ruang dewan siswa kan sepulang sekolah nanti?" tanya Micchi.

Aku hanya menganggukkan kepalaku sebagai tanda iya.

"Apa kau berniat datang?" tanya Micchi lagi.

Aku terdiam untuk beberapa saat lalu menggeleng dengan lemah. "Aku tidak tahu," jawabku jujur. Memang aku masih bingung untuk memenuhi ajakan Kazusa tadi atau tidak.

"Aku sarankan sebaiknya kau tidak usah datang," ujar Jin dengan wajah serius.

"Kenapa?" tanyaku yang lagi-lagi dibuat penasaran.

"Tidak ada alasan, hanya saja aku tidak ingin kau terlibat jauh lagi dengan kami. Malahan aku menyarankanmu untuk menjauhi kami saja," ujar Jin tajam.

"Kalau tidak ada alasan, kenapa kau sampai melarangku segala. Itu tidak adil," protesku.

"Karin, kami hanya berusaha melindungimu. Sebaiknya kau ikuti saja kata-kata Jin. Aku yakin kau tidak ingin mengetahui fakta bah-,"

"Bahwa kalian vampir. Kalau soal itu aku sudah tahu, jadi apa gunanya kalian menyembunyikannya dariku," ujarku yang kali ini dengan nada tinggi.

"Tidak, bukan soal itu. Kami tidak masalah kalau kau tahu soal rahasia kami. Hanya saja, kami tidak ingin kau terlalu mencampuri urusan kami. Hanya itu saja," jelas Micchi.

Aku hanya terdiam mendengar perkataan Micchi. Aku mulai mengepalkan tangan-tanganku. Aku merasa kesal pada mereka. Apa maksudnya dengan jangan campuri urusan kami. Lagipula siapa dulu yang memaksaku untuk terlibat dengan mereka semua. Siapa yang dulu mengajakku bermain death game.

Sebelum amarahku mulai meluap, aku langsung menghambur keluar dari laboratorium tersebut meninggalkan Jin dan Micchi. Meninggalkan mereka tanpa sepatah katapun.


Normal POV


"Sekarang bagaimana, Jin. Karin tidak mau mendengarkan kita?" tanya Micchi pada pemuda beririskan onyx tersebut.

"Tidak ada pilihan lain, kita hanya bisa berharap dia akan menolaknya," ujar Jin lirih.

"Yah, kau benar," ucap Micchi menyetujui.

~Vampire Game~

Karin hanya memandang kosong ke arah depan kelas. Tak satupun materi pembelajaran yang masuk ke dalam otaknya. Meski setiap harinya, memang selalu begini. Tapi bagi Karin, ini pertama kalinya dia tidak konsen dengan pelajaran. Karin melirik bangku kosong di sampingnya, bangku milik gadis yang ditemuinya tadi pagi. Karin sudah tidak heran lagi jika bangku itu terlihat selalu kosong. Kata Miyon, Kazusa memang sering tidak masuk kelas alasannya sih sibuk dengan tugas dewan siswa. Meski aku tidak yakin akan kebenarannya. Lagipula Karin sedikit merasa lega, dia tidak masuk hari ini. Setidaknya Karin tidak perlu bertemu dengannya.

Karin menyandarkan kepalanya pada meja di hadapannya. Kepalanya terasa berat, pusing, pokoknya serasa mau meledak.

"Psshh Karin, kau tidak apa-apa?" bisik Miyon di belakangnya.

Karin hanya menggeleng lemah tanpa sedikitpun merubah posisinya tadi. Miyon tidak mencoba bertanya lagi. Mungkin Karin tidak ingin mengatakan masalahnya pada siapapun.


Karin POV


'Dimana aku?' tanyaku seraya memandangi sekelilingku.

Tempat ini, tempat yang sama saat aku bertemu dengan kelima vampir misterius itu. Jangan-jangan aku sedang bermimpi lagi.

Tap tap tap

Tiba-tiba aku mendengar ada suara langkah kaki yang mendekat, aku langsung merasa was was. Tiba-tiba muncul sesosok gadis sebayaku dengan rambut hitam panjangnya yang diikat twintail. Gadis itu mengenakan jubah berwarna merah. Hanya saja gadis itu tidak menutupi wajahnya dengan tudungnya. Sehingga aku bisa melihat wajah gadis itu dengan jelas.

"Siapa kau?" tanyaku padanya. Aku merasa tidak mengenali gadis ini sebelumnya, tapi aku merasa ada sesuatu dari diriku yang terhubung dengannya.

Gadis itu tidak menjawab, dia malah menunjukkan seulas senyumnya.

"Jawab aku!" seruku yang mulai merasa kesal akan sikapnya.

"Aku adalah kawanmu, tapi bisa juga menjadi lawanmu. Itu tergantung dengan pilihan apa yang kau pilih nantinya," jelasnya.

"Apa maksudmu dengan pilihan yang aku pilih. Memangnya aku diberi pilihan?" tanyaku tidak mengerti maksud perkatannya.

Lagi-lagi gadis itu hanya tersenyum. "Tidak, hanya saja nanti kau harus memilih. Dan aku harap kau memilih pilihan tepat. Sehingga kita tidak perlu menjadi musuh," terangnya.

"Kenapa kau harus menjadi musuhku?" tanyaku bingung.

"Aku tidak bilang mau menjadi musuhmu, aku hanya bilang hubungan kita bergantung pada pilihanmu nanti. Aku tidak mau kejadian yang dulu terulang lagi," ujarnya dengan senyuman yang masih terlukis di wajahnya.

"Oke, kalau kau bilang begitu. Tapi bisakah kau memberitahuku, siapa kau?" tanyaku sedikit memaksa.

"Kau akan tahu nanti, tak lama lagi kita akan bertemu lagi yang pasti di dunia nyata. Tidak di dunia mimpi lagi, dan aku harap, saat kita bertemu nanti. Aku menganggapmu sebagai kawan." Setelah mengucapkan itu sosoknya menghilang dari hadapanku seperti disedot oleh kegelapan di sekelilingku.

'Apa yang dikatakannya barusan. Aku sama sekali tidak mengerti,' batinku pusing.

~Vampire Game~


Normal POV


"Rin... Karin, bangun. Ini sudah jam pulang!" seru Miyon sambil menggoyang-goyangkan tubuh Karin.

Karin langsung membuka matanya, ia hanya bisa menatap bingung ke arah Miyon.

"Untung saja tadi kau tidak ketahuan tidur di kelas. Lagipula kenapa kau bisa-bisanya tidur sih di kelas. Tidak biasanya?" tanya Miyon antara heran dan khawatir.

Karin hanya tersenyum simpul. "Sudah kubilang kan tadi, aku cuma kurang tidur," ujar Karin sekenanya.

"Ya sudahlah, sebaiknya kita cepat pulang. Dengan begitu kau bisa melanjutkan tidurmu di rumah," terang Miyon.

Seketika Karin menghentikan kegiatan memasukkan bukunya ke dalam tas. Dia langsung menoleh ke sekelilingnya lalu ke jam dinding. Matanya melotot begitu melihat waktu sudah menunjukkan pukul setengah empat sore yang berarti jam pulang sekolah sudah lewat setengah jam yang lalu.

Buru-buru Karin langsung membereskan buku-bukunya. "Maaf Miyon, aku ada urusan sebentar. Jadi aku tidak bisa pulang bersamamu," ujar Karin merasa menyesal.

"Tidak perlu minta maaf, kalau begitu aku pulang dulu ya. Sampai jumpa," ujar Miyon yang setelah itu langsung meninggalkan Karin sendirian di kelas..

Karin hanya bisa menundukkan kepalanya, dia sudah memutuskan untuk datang ke ruang dewan siswa. Hati kecilnya merasa ada sesuatu yang memaksanya untuk datang. Dengan sigap, Karin langsung beranjak keluar dari kelasnya untuk menuju ke ruang dewan siswa.

Tanpa Karin sadari, ada sepasang mata yang mengawasinya sejak tadi yang kini tengah berdiri di atap bangunan dekat sekolah. Sosok itu memiliki rambut hitam panjang yang diikat twintail. Dia mengenakan jubah berwarna merah. Kalau diperhatikan sosok ini mirip dengan gadis yang Karin temui lewat mimpinya. Bedanya kali ini gadis ini memakai tudungnya untuk menyembunyikan wajahnya.

"Aku harap, kau memilih pilihan yang tepat Karin," gumam gadis itu begitu Karin sudah menghilang dari kelasnya.

Gadis itu mengganti pandangannya ke sebuah ruangan yang terletak tidak jauh dari kelas Karin. Gadis itu bisa melihat lima sosok yang sedang bercakap-cakap dari jendela ruangan itu. Seketika tatapan gadis itu menajam, rahangnya langsung bergetak kesal.

"Kalian…, pasti akan aku hancurkan!" tekad gadis itu penuh emosi.

.

.

To Be Contiuned

.

.

Please Review


Session Talkshow

Bella : Yahoo minna, sudah lama Bella nggak update fanfic. Gomenasai, sudah membuat kalian menunggu lama.

Kazusa : Oh ya mungkin ada yang bingung dengan judul chapter ini. Sebenarnya bagian ini mau dibuat satu chapter. Tapi tak tahunya, author cuma bikin setengahnya.

Bella : Hehehe, intinya bagian ini dibuat dua chapter. Jadi maaf kalau pendek.

Karin : Author payah, masak sudah update telat terus dikit lagi ceritanya *tiba-tiba muncul dan teriak pakai toa*.

Bella : KARIN KAU MAU MEMBUAT GENDANG TELINGAKU PECAH YA!

Kazusa : Author, biasa aja kali. Nggak usah di-caps lock juga kata-katanya *sweatdrop*.

Bella : Biarin *mulai ngambek*.

Kazusa : Oke, kita biarkan author melakukan aktifitas ngambeknya.

Karin : Kalau begitu kita bacain balasan review.

Kazusa : Nggak usah, author sudah ngetik balasannya sendiri. Jadi nggak usah dibacain. Biar para readers saja yang baca, itu pun kalau sudah pada bisa baca.

Readers : Kazusa jahat, kami bisa baca kok.

Kazusa : Kalau begitu kalian baca sendiri ya. Cekidot.


Guest

Maaf ya kalau lama update-nya. Tanyakan kepada rumput yang bergoyang kenapa Bella dikasih banyak tugas.

Mey–Mey Hinamori

Memang Kazune jahat, dia sampai mencuci otaknya Karin segala. Tapi nggak mau nyuci pakaianku (?)

Kujyou Angelita

Jaaangggaaann, jangan sampai Karin digigit Kazune. Bisa-bisa nanti tertular rabies *langsung ditendang Kazune.

Nitsuki-Ringo Matsushima29

Maaf deh kalau kali ini susah lagi kasih nilainya karena lagi-lagi pendek ceritanya. No problem, Bella ngerti kok susahnya orang yang lagi krisis pulsa. Maklum pernah ngalami juga, malah sering.

Asahina Natsuki

Makasih sudah dibilang ssseeeerrrrruuuuu

Hmm nggak tahu juga sih. Enaknya dilanjutin atau nggak *para chara Karin siap-siap ngelempar kursi, meja, panic, wajan ke arah Bella*.

Di-dilanjutin kok, iya dilanjutin. Jadi tenang saja ya Natsuki-chan *langsung kabur dari TKP*.

andien hanazono

Maaf kalau nggak kilat, dan malah jadi lemot. Sudah nggak serem, dari awal menurut Bella ceritanya memang nggak serem kok. Sereman juga, HUWAAA KABUUUURRR *langsung lari begitu ngeliat Karin dkk yang masih ngejar Bella*.

Tuh, sereman juga kalau dikeroyok massa.

nuri

Mungkin waktu session talkshow, Kazusa OOC BANGET. Tapi di dalam cerita diusahain OOC-nya nggak parah-parah banget. Maaf ya, Bella tidak bisa memenuhi permintaanmu.

Ikina uruwashii

Udah-udah jangan berantem, pada akur saja. Berantem itu tidak baik, apalagi sesame teman sendiri (nggak sadar kalau author juga sering berantem sama chara lainnya)

YU

Okkeee, ini sudah lanjut kok. Dan bakal dilanjutin terus sampai kiamat *langsung dilempar buku sama para readers*.

ryukutari

Ngeri ya, kalau begitu siapkan bawang putih kalau-kalau ada vampir di sebelahmu #Plaak

Bercanda deh, hmm soal genre Bella memang masih bingung. Mungkin akan Bella pertimbangkan lagi. Makasih atas usulannya.

miss vanilla

Huwee sudah berapa readers yang bilang kalau cerita ini pendek. Maafkan Bella ini yang lebih suka membuat cerita pendek-pendek *sambil nangis guling-guling, maksudnya nangisnya sambil meluk guling*.

Lian-chan

Hmm maaf Bella memang pecinta manga, tapi Bella belum baca manga yang itu. Hehehe makasih atas pujiannya,tapi seriusan deh lain kali nggak usah muji. Nanti Bella kegeeran lagi.

jj

Oke, dilanjutin terus kok. Makasih atas nilainya.

karin

Maaf banget deh kalau lama update chapter ini. Tahu sendiri kan akhir-akhir ini Bella lagi suka update fanfic yang satunya.

jg

Iya iya, pasti dilanjutin kok. PASTI, jadi mohon dukungannya ya.

jin

Sipp deh, dilanjutin terus kok.

akira bella chan

HOEE!, Kenapa ada yang pakek pen name-ku. Tapi nggak apa-apalah, mungkin waktu itu lagi bingung mau pakai nama apa. Jadinya pakek nama penaku deh. Oke, bakal dilanjutin terus.

himeka

Tadi ada yang pakek namanya Karin, terus Jin, sekarang Himeka. Aduh kasian banget deh Kazune, Kazusa, dan Micchi nggak ada yang pakek nama mereka di review-ku *langsung dihajar Kazune, Kazusa, dan Micchi*.

Iya, De Angela bakal dilanjutin juga kok *setelah itu langsung pingsan di tempat*.

Guest

Hee, memang bagian mana yang romantisnya. Perasaan Bella belum masuk ke bagian itu deh. Tapi makasih ya atas pujiannya.

kirin, kina, kana, kira, hakina

Entah ini perasaan Bella atau apa, tapi nama pena kalian kok pada hampir mirip ya. Isi review-nya juga. Jadi maaf ya kalau digabung balasan review-nya. Iya, Bella sadar diri kalau kali ini Bella sudah TELAT BANGET update-nya. Tolong maafkan author yang stress gara-gara tugas yang nggak kelar-kelar.


Kazusa : Balasan apa ini, kenapa nggak ada yang bener *langsung sweatdrop begitu selesai membaca balasan review-nya.

Karin : Iya, aku sependapat *ikut-ikutan sweatdrop*.

Bella : Yee, berhubung Bella update-nya pas lebaran. Bella mau ngucapin selamat idul adha bagi yang merayakannya. Kalau begitu Bella pergi dulu ya.

Kazusa : Egh author mau kemana?

Bella : Mau bakar sate *sambil beranjak pergi*.

Bella : Oh ya Bella ada pengumuman penting, bagi yang pengen tahu baca saja di profil Bella. *teriaknya pakek toa yang setelah itu langsung ngilang begitu saja*.

Karin : Pengumuman apa, Kazusa?

Kazusa : Mana kutahu, ya sudah sampai jumpa minna *setelah itu langsung ngejar author buat ikut makan sate*.