Session Talkshow
Bella : Agh akhirnya update juga, padahal Bella niatnya mau cuti dulu sampai UAS selesai. Tapi tak tahunya update juga, mungkin karena sudah ada banyak yang demo ke Bella.
Kazusa : Maaf ya kalau lama banget update-nya. Author benar-benar sibuk dengan urusan sekolahannya. Ini saja buatnya dalam waktu dua jam. Coba banyangin dua jam!
Bella : Makanya maaf kalau pendek dan kosa katanya sedikit berantakan. Bella benar-benar maksa banget buat update malam ini.
Kazusa : Yap betul, sebelum dibaca. Kita mau kasih tahu genre-nya diganti Fantasy dan Mystery. Kalau kalian tanya kenapa, jawabannya tidak tahu. Mungkin lebih cocok begitu.
Bella : Oke minna, selamat membaca.
Title : Vampire Game
Chapter 8 : Agreement part 2
Disclaimer : Kamichama Karin Chu © Koge Donbo
~Vampire Game~ © Bella-chan
Rated : T
Genre : Fantasy ; Mystery
Pairing : KazuRin
Warning : AU, OOC, typo, abal, gaje, alur kenceng, nggak nyambung, dll
Summary : "Benar, kami adalah vampir. Tepatnya semua anggota dewan siswa adalah vampir." / "Karin, kau harus menerima apa yang baru saja terjadi." / "Dan jika aku menolak?" / "Jangan membenciku untuk ini." / "Kenapa semua orang tidak mau mengakui keberadaan kami. Kenapa!" / "Ingatan Karin benar-benar akan dihapus lagi." / "Jadi itu pilihanmu, baiklah… aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi."
.
.
Please Enjoy Reading
.
.
~Vampire Game~
Karin POV
"Hah…." Entah sudah keberapa kalinya aku menghela napas. Mungkin sudah lima kali atau sepuluh kali. Entahlah, yang pasti aku tidak terlalu mempusingkannya.
Sekarang yang perlu aku pusingkan adalah masalah yang mungkin akan segera menimpaku. Berulang kali, aku bertanya-tanya dalam hati. Ada perihal apa Kazusa memanggilku ke ruang dewan siswa. Sebenarnya tadi pagi dia sudah bilang, kalau dia akan menjelaskan peristiwa kemarin. Tapi bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah kenapa Micchi dan Jin melarangku untuk datang kesana. Apa mungkin, mereka tidak ingin aku mengetahui fakta kalau mereka itu vampir. Tapi, bukannya tadi pagi aku juga sudah bilang kalau aku sudah tahu soal itu. Lalu kenapa? Agh memikirkannya membuat kepalaku semakin pusing saja. Sebaiknya aku segera pergi ke ruang dewan siswa, dengan begitu semua akan jelas.
Akhirnya aku tiba juga di depan ruang dewan siswa. Aku pun menghela napas untuk terakhir kalinya sebelum aku membuka pintu di depannku ini.
'Karin, apapun yang terjadi. Kau harus siap!' tekadku dalam hati.
Aku pun langsung mengetuk pintu di hadapanku, tapi sebelum aku melakukannya. Tiba-tiba pintu di hadapanku sudah terbuka. Aku hanya bisa melongo melihat Himeka, orang yang membukakan pintu sudah berdiri di hadapanku dengan senyum yang terukir di wajahnya.
"Karin, akhirnya kau datang juga. Silahkan masuk," ujar Himeka ramah seraya menggeser tubuhnya agar aku bisa lewat.
Aku dengan ragu-ragu mulai melangkahkan kakiku masuk ke dalam. Aku bisa melihat anggota dewan siswa lainnya, yang sedak sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada Kazune yang sibuk membaca setumpuk kertas yang tertata di meja kerjanya. Lalu saudara kembarnya, Kazusa, orang yang telah memanggilku kemari. Terlihat sedang sibuk mengetik sesuatu di laptopnya. Ada juga Jin dan Micchi yang sedang sibuk memainkan sesuatu dengan I-Pad-nya. Sekilas aku bisa melihat mereka melirikku dengan tatapan khawatir. Namun, setelah itu mereka kembali sibuk dengan I-Pad-nya lagi.
Himeka mendorongku ke depan meja kerja Kazune, memosisikan diriku berdiri di depan Ketua Dewan Siswa. Setelah itu Himeka langsung kembali bergabung dengan anggota dewan siswa lainnya yang sudah menghentikan kegiatannya masing-masing. Kazusa sudah menutup laptopnya. Jin dan Micchi sudah menyimpan I-Pad-nya. Dan Kazune, dia sudah mengalihkan pandangannya dari kertas-kertas yang tadi dibacanya ke arahku. Aku hanya bisa mengernyitkan dahi menatapnya. Entah kenapa aku bisa merasakan suasana disini mulai terasa menegangkan.
"Kau sudah tahu, kenapa kau disuruh kesini?" tanya Kazune.
Aku hanya menggelengkan kepala. Lagipula kalau aku sudah tahu, kenapa juga aku masih datang kesini. Merepotkan saja.
Tampak Kazune mendelik ke arah Kazune seraya bergumam, "Bukannya aku menyuruhmu untuk menceritakannya?"
Kazusa langsung memasang tampang tidak berdosa. Kalau aku jadi Kazune, mungkin aku sudah marah padanya. Tapi sepertinya, Kazune tidak marah. Dia hanya menghela napas, sepertinya sudah terbiasa dengan sikap saudara kembarnya ini.
"Dari wajahmu, kelihatannya kau sudah tahu mengenai kami," ujar Kazune seraya menatapku tajam.
"Tentang apa?" tanyaku pura-pura bingung. Meski sebenarnya aku mengerti maksud dan perkataan Kazune. Tapi aku merasa, lebih baik aku pura-pura tidak tahu.
"Kau bohong ya." Hanya kata itu yang terlontar dari mulut Kazune. Tapi berhasil membuatku terkejut setengah mati.
'Darimana dia tahu kalau aku berbohong?' tanyaku dalam hati.
'Apa seorang vampire dianugrahi kekuatan untuk membaca pikiran,' pikirku sambil mengingat peristiwa tadi pagi. Dimana Jin waktu itu juga bisa membaca pikiranku.
"Aku diberitahu oleh Jin dan Micchi kalau kau sebenarnya sudah tahu," terang Kazune begitu melihat ekspresi bingungku.
Aku langsung menoleh menatap Jin dan Micchi yang langsung memalingkan wajahnya begitu tahu aku sedang memperhatikan mereka.
"Kita langsung ke topik utama kita ya, mungkin kau merasa ini lelucon yang paling tidak lucu sekarang," ujar Kazune.
"Lelucun?" tanyaku bingung. Memangnya apanya yang lucu.
"Tapi seperti yang kau saksikan kemarin sore adalah sebuah fakta yang tidak terbantahkan bahwa kami vampir ada," terang Kazune.
"Va-vampir," ucapku terbata-terbata. Meski aku sudah menduga hal ini. Tapi tetap saja aku masih merasa kaget dengan penuturan langsung dari mulut Kazune sendiri.
"Benar, kami adalah vampire. Tepatnya semua anggota dewan siswa adalah vampir," ujar Kazusa yang sekarang ikut angkat bicara.
Aku hanya bisa terpaku, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan atau bagaimana reaksiku begitu sadar bahwa aku sekarang ini berada di dalam sebuah ruangan bersama lima vampir. Ini bahkan lebih buruk dari mimpiku tentang vampir selama ini.
"Karin, kau harus menerima apa yang baru saja terjadi," ujar Kazune.
Aku hanya terdiam begitu mendengarkan perkataan Kazune. Apa maksudnya. Tiba-tiba saja aku teringat dengan kartu hukuman yang aku terima saat bermain Death Game dulu.
"I-itu tidak mungkin," ucapku tak percaya atau tidak mau mempercayainya.
"Aku mengerti kenapa hal itu akan sulit untuk dipercaya," ujar Kazune seraya menyandarkan tubuhnya pada kursi. "Tapi bagaimanapun, sekarang kau sudah tahu rahasia kami. Aku tidak bisa membiarkanmu berjalan keluar dari sini," sambungnya.
"A-apa!" seruku kaget.
"Jadi Karin, aku ingin kau menjadi anggota dewan siswa," ujar Kazune yang terdengar seperti perintah di telingaku.
"Kenapa aku?" tanyaku mencoba memprotes.
"Entahlah, aku hanya menyukainya saja," ucapnya santai. Tapi bagiku ucapannya itu tidak terdengar seperti sebuah jawaban.
"Dan jika aku menolak?" tanyaku padanya.
Kazune hanya tersenyum. "Maka aku harus menghapus ingatanmu," ujarnya tajam. "Sama seperti yang aku lakukan pada gadis itu sebelumnya," lanjutnya.
'Gadis sebelumnya, agh mungkin yang dia maksud gadis yang kemarin sore,' ujarku dalam hati.
Tubuhku menegang, aku tak tahu harus memilih yang mana. Kulihat anggota dewan siswa lainnya yang sedari tadi hanya menonton juga ikut terkejut mendengar perkataan Kazune. Terutama Jin dan Micchi, mata mereka berdua sampai melotot ke arah cowok yang sedang duduk di hadapanku ini.
"Yah dalam kasusmu, aku akan mengambil ingatanmu dari saat kau dipindahkan ke sini," terang Kazune.
"Sejak aku pindah sekolah ke sini," ucapku lirih.
"Itu benar, kau akan memulainya dari nol," ujar Kazune enteng.
"Tunggu sebentar, kau-"
"Sudahlah Kazusa, biarkan dia sendiri yang menentukan pilihannya. Sebaiknya kau tidak usah ikut campur," potong Kazune tajam.
Kazusa langsung terdiam, tidak berani berkata-kata lagi. Dia hanya menatapku dengan pandangan cemas. Begitu pun dengan anggota dewan siswa yang lain.
'Mulai dari awal lagi,' batinku dalam hati.
Sebenarnya ini kesempatan yang bagus, mengingat aku ingin sekali melupakan apapun yang berhubungan dengan vampir. Tapi memulainya dari awal, bukankah itu artinya aku akan melupakan teman-temanku disini dan juga Miyon. Tapi…
"Aku mengerti," ucapku pada akhirnya. "Menghapusnya, aku…"
Tiba-tiba saja aku teringat kalau anggota dewan siswa ini juga sudah menjadi temanku. Aku langsung memandangi mereka, wajah mereka terlihat sangat kaget begitu mendengar keputusanku.
"Maafkan aku," gumamku pada mereka semua. Berharap mereka akan mendengarnya.
"Jadi begitu. Yah, itu tidak apa-apa," respon Kazune. "Bagi orang yang melarikan diri dari kehidupan tanggunga jawab yang telah diberikan kepada mereka, tempatnya bukan disini," lanjutnya.
Aku hanya terdiam, tidak sanggup untuk membalas perkataannya.
"Nah Kazusa, aku akan meninggalkan sisanya padamu!" seru Kazune tiba-tiba.
"Eh…, kenapa harus aku. Kenapa tidak kau sendiri yang melakukannya," ujar Kazusa menolak.
"Aku sedang sibuk sekarang ini. Jadi, aku tidak bisa melakukannya," ujar Kazune yang sekarang mulai menekuni bacaannya yang sempat tertunda tadi.
Kazusa hanya mendengus kesal. Dia pun segera menarikku keluar dari ruang dewan siswa, dan membawaku entah kemana.
Aku terus mengikuti langkah Kazusa. Kami berdua sama-sama tidak berani untuk memulai pembicaraan. Entah apa yang sedang ada di pikiran Kazusa. Apa dia marah padaku?
Rupanya Kazusa membawaku ke sebuah danau kecil yang dibangun di halaman belakang sekolah. Air danau tersebut terlihat sangat berkilau, apalagi dengan panorama sore hari. Membuat tempat ini terlihat sangat indah. Kami berdua masih terdiam seraya memandangi danau.
"Untuk yang terakhir kalinya, tidakkah kau ingin merubah keputusanmu ini?" tanya Kazusa memecah keheningan diantara kami.
"Tidak, tolong segera selesaikan saja," jawabku sambil menoleh ke arahnya.
Tampak Kazusa hanya menghela napas panjang. Lalu ia berbalik untuk menghadap ke arahku. "Aku mengerti."
Kazusa langsung menutup matanya, aku hanya bisa terdiam melihatnya. Tiba-tiba saja angin di sekitar kami berhembus cukup kencang membuat rambut Kazusa yang panjang berkibar-kibar tertiup angin. Kazusa kembali membuka matanya. Tapi aku dibuat terkejut oleh sepasang mata sapphire indah milik Kazusa kini digantikan oleh sepasang mata berwarna merah menyala. Sontak saja aku merasa ketakutanku pada vampir kembali lagi. Apalagi ditambah fakta bahwa aku sekarang berdiri tepat di hadapan vampir. Tapi, aku percaya. Kazusa tidak akan menyakitiku.
"Ini akan segera berakhir," ucap Kazusa sambil mengarahkan tangannya ke dahiku. "Tidak apa-apa, jangan takut," lanjutnya mencoba untuk menenangkanku.
Hal terakhir yang aku lihat adalah mata berwarna merah menyala. Setelah itu aku langsung memejamkan mataku.
"Jangan membenciku untuk ini," ujar Kazusa yang sekarang bersiap-siap akan menghapus memoriku.
Tiba-tiba saja aku merasa tangan yang menempel di dahiku bergetar. Sontak saja aku membuka mataku. Aku terkejut mendapati Kazusa menangis sekarang ini.
"Kenapa?" tanyaku tak mengerti.
"Ini tidak adil!" jeritnya keras. "Kenapa semua orang tidak mau mengakui keberadaan kami. Kenapa!" serunya kesal. "Padahal kami ingin mempunyai banyak teman, tapi mengapa setiap kali mereka tahu rahasia kami. Mereka akan langsung mundur," lanjutnya dengan air mata yang masih menetes.
Sekarang aku mengerti, jadi ini sebabnya kenapa banyak murid yang tiba-tiba bertingkah seperti ingatannya dihapus setelah mereka pernah dikabarkan dekat dengan anggota dewan siswa.
"Bu-bukankah kau pernah bilang kalau kau pernah hilang ingatan waktu kecil. La-lu ke-kenapa kau mau saja dihapus ingatannya. Apakah kenanganmu selama berada disini, tidaklah penting. APAKAH KAU MAU MENGHAPUS KENANGAN BERSAMA TEMAN-TEMANMU!" seru Kazusa ditengah tangisannya. "Bukannya kau datang kesini, karena ingin mengembalikan ingatanmu yang hilang. Lalu kenapa kau begitu mudah membuang hari-harimu yang kau habiskan disini?!" ujar Kazusa dengan nada tinggi.
"A-aku-"
~Vampire Game~
Normal POV
Di Ruang Dewan Siswa.
"Aku membayangkan kalau sekarang sudah berakhir," ujar Jin memecahkan keheningan yang tercipta setelah Kazusa menyeret Karin pergi.
"Ingatan Karin benar-benar akan dihapus lagi," ucap Himeka lirih.
"Hmm…. Namun, aku tetap mengharapkan sesuatu darinya," ujar Kazune seraya menutup dokumennya. Sepertinya tugasnya sudah selesai.
"Apa! Bahkan di saat begini kau masih bisa berpikiran seperti itu. Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu, Kazune," ujar Micchi sambil geleng-geleng kepala.
Kazune tidak menanggapi perkataan Micchi. Dia malah menunjukkan seulas senyumnya yang tentu saja membuat anggota dewan siswa lainnya menatap heran ke arahnya.
Back to Karin and Kazusa
Karin POV
Benar kata Kazusa, aku tidak mau melupakan semuanya. Untuk itulah aku datang kesini. Aku ingin mempunyai kenangan yang indah bersama teman-temanku. Aku tidak mau kehilangan itu lagi. Tidak mau. Aku sudah berhubungan dengan semuanya. Aku benar-benar bisa tersenyum dan tertawa dengan mereka. Aku ingin bersama mereka semua. Bersama teman-temanku.
Aku pun langsung memeluk Kazusa yang masih menangis. "Maafkan aku, Kazusa. Aku mohon jangan hapus ingatanku," ujarku padanya.
"Ka-Karin," ucap Kazusa tidak percaya. Ia langsung membalas pelukanku.
Aku tersenyum melihatnya. Aku berjanji, aku tidak akan pernah menyesal telah mengambil keputusan ini.
"Aku tidak mau kehilangan ingatanku lagi," ujarku sambil melepas pelukanku.
"Tidak, seharusnya kau mengatakan bahwa kau tidak ingin kehilangan lebih banyak teman," terang Kazusa seraya tersenyum manis.
Aku hanya membalas senyumannya itu.
~Vampire Game~
Normal POV
"Tolong biarkan aku bergabung dengan dewan siswa," ucap Karin sambil membungkukkan badan.
Tampak Micchi dan Jin langsung bertos ria. Sedangkan Himeka langsung melompat kegirangan. Kazusa, dia sendiri hanya tersenyum ke arah Karin. Lalu Kazune, dia hanya mengangguk mengiyakan. Walau sebenarnya dia sedang bernapas lega, karena Karin sudah memilih keputusan ini sesuai dengan rencananya.
Langsung saja, semua anggota dewan siswa (-Kazune dan Kazusa) menghambur ke arah Karin dan berteriak selamat datang padanya.
~Vampire Game~
Someone POV
"Jadi itu pilihanmu, baiklah… aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi."
Aku tersenyum sedih melihat semuanya. Aku sedih karena dia memilih keputusan itu, yang membuatku harus mencantumkannya dalam daftar musuhku meski aku tak ingin.
Kini aku sedang berdiri di puncak sebuah gedung. Tubuhku masih berbalutan jubah merah. Rambut hitamku juga masih diikat twintail. Aku membiarkan angin bertiup kencang ke arahku, menyibakkan tudung merahku. Sehingga menampakkan wajahku. Selama ini, tidak… mungkin sekitar enam tahun yang lalu. Aku hidup dalam bayangan, menggunakan topeng untuk menutupi segala rasa sakit yang dipendam. Aku hidup dalam kesendirian, tanpa adanya kasih sayang dari siapapun. Tapi aku mencoba bertahan, bertahan untuk mencapai sebuah tujuan yaitu membalaskan semua dendam orang tuaku.
"Arrghh…." Aku meringis kesakitan seraya memegangi leher di bagian kiriku. Aku merasakan sakit yang luar biasa dari bekas lukaku. Bekas luka yang selalu aku tahan selama enam tahun ini.
Aku meringkuk, berharap rasa sakitku bisa menghilang. "Akan aku pastikan kalian akan merasakan rasa sakit yang sama sepertiku."
.
.
To Be Continued
.
.
Please Review
Session Talkshow
Bella : Berhubung Bella masih ada tugas yang harus dikumpulin besok, dan tugasnya baru jadi separo. Jadi kali ini nggak ada balasan review. Maaf ya…
Kazusa : Iya betul, tapi author benar-benar mengucapkan terima kasih atas apresiasi kalian terhadap fanfic ini.
Bella : Untuk semua readers yang telah menyempatkan waktunya yang berharga untuk membaca fanfic Bella dan untuk review-review yang sudah kalian kasih pada Bella. Dan buat semuanya yang sudah men-follow dan men-favorite fanfic ini. Bella ucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Tanpa dukungan kalian semua, fanfic ini tidak akan berlanjut sampai chapter delapan.
Kazusa : Author, sudah deh pidatonya. Panjang banget, lagipula katanya mau bikin tugas.
Bella : Oh iya ya, ya sudah Bella mohon pamit dulu. Minna, jangan lupa review lagi ya.
Kazusa : Sampai jumpa!
