Hunkai / Kaihun / Kaise / Sekai
Friendship / Bromance / Crime / Hurt
Rated T+
Warning! Typo bertebaran! Boleh kritik sama sarannya!
Selamat membaca!
.
.
Jongin tersenyum menakutkan saat kakinya menginjak-injak dengan ganas korban kekerasannya yang terakhir. Sehun yang masih konsen menangkis serangan lawan di hadapannya tidak bisa menghentikan aksi Jongin. Sehun sudah terlalu geram ia menyepak kedua orang di hadapannya hingga rubuh dan berlari ke arah Jongin untuk menghentikan tingkahnya yang sudah keterlaluan.
"Ya, hentikan itu, Kai!" serunya sambil menarik lengan Jongin paksa agar menjauh dari orang tersebut yang langsung terbatuk memuntahkan darah.
Jongin menatap nyalang pada Sehun, "kenapa kau menghentikanku, Sehun?"
"Kemana pikiranmu, Kai? Apa kau sudah gila?" Jongin yang tidak terima dengan perkataan Sehun melayangkan pukulannya pada Sehun. Sehun hanya pasrah menerima hinga laki-laki di hadapannya itu menghentikan aksinya.
"Kenapa kau selalu menghentikanku?"
"Karena kau terlihat menakutkan dan aku tidak ingin merasa takut jika di dekatmu! Jadi, Kai, tolong! Tolong jangan bertingkah gila seperti itu lagi!" mohon Sehun dengan mencengkeram kerah baju Jongin yang terlihat tak bersih lagi. Kemeja putih itu sudah kusut, kotor dan terdapat percikan darah disana.
-xoxo-
2
.
Jongin terduduk lemas. Ia bersandar pada sisi tembok. Sehun melangkah mendekat ke arahnya dan mengulurkan botol minuman yang ia temukan di dapur orang tersebut, "minumlah!" Sehun harus menghelakan napasnya karena Jongin lebih memilih memalingkan wajahnya darinya.
Sehun mendudukan dirinya di samping Jongin. Menegak habis air dari botol dengan sekali tegukan. Ia mengaduh ketika dirasakannya nyeri pada wajahnya. Ia lupa tadi sempat membiarkan Jongin membiarkannya memukul wajah tirusnya. Seharusnya tadi ia menghindar jika akan merasakan sakit seperti ini.
Membunuh memang bukan hal baru bagi Sehun. Bahkan ia sudah membunuh saat ia mencoba bertahan hidup dulu. Tapi yang ditakutkan Sehun bukanlah Jongin membunuh mereka tapi saat Jongin menyiksa korbannya dan tersenyum seakan Jongin tidak memiliki rasa penyesalan sedikitpun terhadap yang ia lakukan. Ia suka saat Jongin tersenyum tapi tidak saat seperti ini.
"Berapa yang kau tumbangkan?" Jongin membuka suara.
Sehun melirik sekilas pada Jongin lalu membuka botol keduanya tapi langsung disahut oleh Jongin, "32!" jawab Sehun.
Jongin melirik ke arah Sehun dan masih sibuk menegak air dalam botol hasil rampasannya, "kau bohong!" ujar Jongin saat telah selesai dan menyeka kasar mulutnya dengan punggung tangannya.
"Kau sendiri?" tanya Sehun tanpa menggubris omongan Jongin.
"29!" Jongin berdecak kesal, "cih, aku tak percaya. Aku kalah denganmu!"
Sehun meringis lalu merubah rautnya menjadi terkulum dengan senyum seringainya, "apa aku sudah boleh meminta permohonanku?"
Jongin melirik curiga kearah Sehun yang duduk di sampingnya, "tak kukira secepat itu kau sudah memikirkan keinginanmu?"
Sehun tersenyum senang, "jadi berikan aku libur selama satu minggu!"
Jongin melotot pada Sehun, "HAH! Kau pasti merencanakan ini Oh Sehun!" lengkingan Jongin terdengar nyaring saat mengetahui permintaan Sehun.
Sehun tertawa, "apakah aku ketahuan?"
.
Sehun melangkah pada sebuah bangunan putih menyerupai gereja. Ia membuka pintu pagarnya perlahan dengan kakinya. Asal kalian tahu saja kini tangannya sedang penuh dengan barang bawaan dan ia terlalu malas hanya untuk meletakkan barangnya sekarang.
Sehun bersiul. Entah mengapa hari ini ia merasa senang. Ini adalah libur hari pertamanya. Dan perlu digaris bawahi bahwa liburan kali ini ia lakukan tanpa Jongin! ia sendirian dan bebas kemana pun ia inginkan!
Beban di pundaknya terasa pergi entah kemana. Jika ia bersama Jongin, ia rasa liburan tak akan menjadi liburan untuknya. Jongin pasti akan menyuruhnya melakukan banyak hal ini dan itu tanpa menungu ia bernapas.
Dan ini adalah libur pertama yang ia lakukan tanpa Jongin. Sejak mengenal Jongin tak ada hari tanpa Jongin. bahkan ke kamar mandi pun mereka selalu bersama. Ah, kecuali jam sekolah. Mereka harus berpura-pura menjadi orang yang tak dikenal.
Sebenarnya apa yang dilakukannya bukanlah hal yang perlu ia rahasiakan pada Jongin. Ia hanya tidak mau mendengar ceramah Jongin jika ia mendatangi tempat itu guna menemui seseorang disana.
"Ah, Sehun! Kau datang!" seru seorang wanita yang terlihat lebih tua beberapa tahun darinya dengan tudung dan pakaian putih hitamnya selayak biarawati, "apa kau mencari Xiumin? Gadis itu ada di kamarnya!" ucapnya sambil memindahkan bawaan Sehun ke tangannya.
"Terima kasih, Suster Jang!" ucapnya dan bergegas menuju tempat dimana ia menemui orang yang memang ingin ia temui.
Sehun mengintip dari balik pintu yang terbuka beberapa derajat itu. Terlihat seorang gadis sedang bersimpuh dan menundukan kepalanya di bawah kapel kecil di kamar itu. Rambut lurusnya yang panjang terlihat dibiarkannya menjuntai hingga ke lantai.
Sehun mengetuk pintu itu tiga kali lalu melangkah masuk. Membuat gadis berusia 12 tahun itu berlari menghampirinya dan membiarkan badannya menubruk tubuh tinggi Sehun. Ia tersenyum lalu mengelus rambut Xiumin, "oppa datang menjemputmu, Xiu!" ucapnya.
Gadis itu melepas pelukannya karena terperangah dengan ucapan Sehun yang baru saja ia dengar. Dan gerakan itu membuat rambutnya yang panjang menutup sebelah kanan tubuhnya lurus hingga ke lutut tersibak. Mata Sehun menatap sendu ke arah Xiumin. Ada bekas luka lurus di tubuh mungil gadis itu. Luka yang tak mungkin hilang seumur hidupnya.
"Kau mau membawa kemana gadis itu?" sebuah suara menyeruak diantara mereka. Sehun menatap ke arah asal suara. Ia menatap jengah ke arah pintu kamar ketika sosok Jongin tengah berdiri di ambang pintu kamar.
"Kau mengikutiku?"
Jongin melipat tangannya di depan dadanya dan melangkah maju. Ia memandangi gadis kecil itu dengan seksama. Sejak Sehun memungutnya, Jongin sudah tidak suka dengannya. Sehun bisa merasakannya tapi ia punya alasan kuat membawa gadis itu bersamanya.
"Aku tidak mengikutimu! Hanya saja naluriku mengatakan kau ada disini!" Jongin masih setia menatap tajam gadis yang kini meringkuk di belakang tubuh Sehun.
Dia benci gadis itu.
Sehun menghela napas, "tentu saja kerumahku! Jika kau mau ikut, aku harap kau tak mengeluarkan komentar apapun atas apa yang akan aku lakukan!"
"Aku tidak mau ikut campur!"
-xoxo-
Xiumin terlalu pendiam. Sejak mereka menemukannya, ia tak pernah mengeluarkan suaranya. Jongin melirik dari arah spion mobil, menatap gadis yang kini duduk di bangku kursi belakang mereka. Jongin heran kenapa Sehun begitu perhatian pada anak tersebut.
Gadis duabelas tahun itu terlihat beringsut memeluk boneka beruang yang baru saja dibelikan oleh Sehun untuknya saat tahu Jongin sedang menatapnya dengan tajam. Ia tidak tahu kenapa pemuda itu selalu memandangnya seperti itu kepadanya.
Sehun menghela napas melihat tingkah Jongin, "jika kau terus seperti itu kau akan membuatnya semakin takut!"
Jongin mendengus, "kau selalu saja lebih membelanya!" ungkap Jongin sambil mengerucutkan bibirnya.
Sehun menatap sekilas ke arah Xiumin lewat kaca spion mobilnya. Kepala Xiumin terlihat terkantuk-kantuk Ia memilih memalingkan wajahnya menatap ke arah luar jendela. Ia terkesiap ketika menyadari pemandangan yang ia tangkap pada manik matanya.
"Tidurlah, Xiu! Kau pasti lelah!" kata Sehun yang mendapat tanggapan dengusan dari Jongin.
Jongin tidak pernah melihat Sehun begitu lembut kecuali di hadapan Xiumin tentunya. Jongin tidak tahu apa yang diharapkan Sehun pada gadis kecil yang bahkan tak pernah mengeluarkan suaranya sedikitpun itu padanya. Menurutnya Xiumin adalah gadis yang tidak tahu terima kasih jika dilihat bagaimana Sehun memperlakukannya.
"Kau sudah terlihat seperti seorang ayah sekarang!"
Sehun melirik sekilas pada Jongin dan fokus pada jalan di hadapannya kembali. Tawa renyah keluar dari mulut Sehun, "benarkah? Anggap saja kita sedang mengasuh anak kita nanti!" ujar Sehun yang membuat Jongin cemberut.
Ia merasa kalah dengan ucapan Sehun. Bagaimana bisa laki-laki pucat itu selalu menang dalam perdebatan mereka dan Jongin selalu berakhir dengan rasa kesal tertahan tapi juga senang. baginya ini adalah cara komunikasi mereka mengungkapankan pendapat. Meski agak begitu unik. Bahkan seringkali mereka bicara bukan lewat ucapan melainkan pukulan. Terkadang Jongin bisa merasakan perasaan terluka Sehun lewat pukulan yang ia dapat dari Sehun.
Jongin terperangah. Matanya membulat ketika melihat apa yang tertangkap oleh kedua matanya sekarang. Sehun terkekeh melihat perubahan drastis Jongin, "kurasa kau juga tak mampu menolak nuansa lautan, Jongin!" Sekarang mata dan mulut Jongin terlihat membulat sempurna. Ia memandang takjub lautan biru yang terpampang disisi seberangnya.
"Tentu saja! Kau seharusnya mengajakku sejak jauh-jauh hari kemari!" ucap Jongin tanpa berpaling kearah Sehun. Ia menekan tombol di sisi pintu mobil guna menurunkan kaca mobilnya sekarang.
Jongin menatap Xiumin dari spion luar mobil dengan intens dan itu tidak luput dari pandangan Sehun. Ia tersenyum.
-xoxo-
Sehun menurunkan semua barang yang ia bawah dari bagasi mobil dan terlihat Jongin sedang berdiri bersender dengan santainya di sisi mobil melihat apa yang dilakukan sahabatnya itu, "kau tak berniat membantuku?" tanya Sehun ketika ia terlihat kesusahan dengan sebuah tas ransel yang cukup besar di punggungnya dan sebuah kardus bertengger di kedua tangannya.
"Bukankah aku sudah bilang aku tidak ikut campur?" ucap Jongin ketus sambil melihat ke arah kuku jarinya yang sudah seminggu lebih belum ia potong.
Sehun menatap malas pada Jongin, "kau juga harus membayar karena ikut sampai disini!" ungkap Sehun sambil melangkah melewati Jongin.
Jongin mendengus dan menatap isi bagasi Sehun yang penuh dengan kardua-kardus, "apa dia berniat pindah? Hey, apakah tak ada barang yang terlihat ringan?" Jongin menengok ke arah Sehun yang terlihat sudah kembali ke arah mobil, "kau seperti niat sekali!"
"Aku sudah merencanakannya selama tiga tahun terakhir dan berkat kau, aku mampu mewujudkannya!" Sehun meletakkan kardus didepannya bersusun dua dan segera mengangkatnya dalam satu waktu.
"Tiga tahun?" tanya Jongin. Itu berarti waktu sebelum mereka bertemu dan Sehun sudah memikirkan semua ini. Ia melirik ke arah dalam mobil. Apa anak itu juga termasuk dari rencananya? Bahkan mereka baru bertemu empat bulan yang lalu dan memungutnya.
Sebenarnya Sehunlah yang memungut anak itu dan tanpa peduli apapun ia tiba-tiba berlari menuju rumah sakit meninggalkan tugasnya, meninggalkan Jongin. Jongin sempat terkejut dengan apa yang terjadi. Selama ia mengenal Sehun, ia tidak pernah mangkir dari tugasnya hingga selesai.
Tapi hari itu berbeda dan Jongin tidak suka ada yang berbeda dari Sehun.
Jongin tersadar ketika kepala boneka tersebut bergerak-gerak, menandakan bahwa Xiumin sudah bangun dari tidurnya. Gadis itu tanpa aba-aba melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil meninggalkan boneka beruang yang bernama Jonggyu, nama yang Jongin berikan tanpa alasan jelas.
Mata Jongin tak lepas memandangi gadis itu hingga rambut panjangnya tersibak oleh angin yang datang semena-semena guna menerpa tubuh gadis itu. Mata Jongin melotot melihatnya. Ada bekas luka yang sangat jelas dan dalam pada wajah gadis itu. jongin hampir saja berteriak tapi entah kenapa sesuatu seperti mengganjal di tenggorokannya.
Ia sangat yakin bahwa luka itu tak hanya sebatas wajah dan lehernya dengan melihat rambut panjang gadis itu, ia pasti sudah menutupnya bertahun-tahun. Apa yang sebenarnya terjadi?
Ini kali ketiga ia bertemu dengan Xiumin. Dua kali secara tak langsung dan tak seintens pertemuannya sekarang. Pertama saar ia melakukan tugas di rumah gadis itu. Kedua saat ia mengantar Sehun guna menitipkan anak itu pada Panti Asuhan. Ia tak pernah benar-benar melihat ke arah Xiumin. Ia terlanjur malas dan tak suka.
Jongin terkesiap sadar dan segera berpura-pura mengambil kardus yang menurutkan lebih kecil dari yang lainnya. Ia mencuri pandang ke arah Sehun yang berjalan mendekat ke arah Xiumin yang berdiri dan terlihat sibuk menahan kibasan rambutnya agar terjaga menutupi wajahnya.
"Masuklah, Xiu! Bibi Hao ada di dalam! Kamarmu ada di lantai atas. Oppa sudah merenovasinya sesuai gambar yang kau buat!" kata Sehun yang hanya dijawab anggukan oleh Xiumin sebelum gadis itu memilih berlalu meninggalkan Sehun di luar rumah. Tatapan Sehun meredup kala gadis itu menghilang dari balik pintu.
Jongin diam dan memilih pergi membawa kardus yang telah ada di tangannya melalui sisi jalan yang lain. Pikirannya masih berkecamuk dan ia sedang sibuk merangkai banyak pertanyaan di otaknya untuk ditanyakan pada Sehun.
Siapa Xiumin sebenarnya? Kenapa gadis seusianya bisa mendapat luka yang cukup mengerikan seperti itu? Apakah Sehun berperan dalam keadaan Xiumin? Dan alasan kenapa gadis itu membisu. Jongin tak mendapat gambaran sedikitpun.
Ia pikir pasti ada sesuatu di masa lalu Sehun dan kuncinya adalah Xiumin. Tapi ia tak tahu apakah bertanya pada Sehun adalah hal yang baik. Apalagi bertanya pada Xiumin, dia tak akan mendapatkan hasil apa-apa, gadis kecil itu selalu membisu.
Tapi yang jelas, Sehun pasti punya alasan!
-xoxo-
A/N :
Bisa dibilang cerita ini terinspirasi oleh manga B-Eyes. Apakah ada yang pernah membacanya disini? Itu komik seri yang jumlahnya cuma tiga volume. Tapi greget.
Mereka emang kerja jadi Yakuza tapi yakuza yang bergerak dibawah naungan polisi buat numpas penjahat yang bebas dari hukum atau yang gak mungkin diadili karena punya koneksi orang dalam. Makanya Jongin suka banget nyiksa mereka, terlebih dia punya masalalu kelam yang nanti bakal aku certain di chapter selanjutnya.
But The Way, Ayahnya Jongin itu kerja di kepolisian dan mereka turun temurun begitu. Makanya Jongin pakai nama samaran jadi Kai. Sehun mah udah aslinya hidup di jalanan dari kecil. *-* ini spoiler amat isinya.
Oh ya, menurut kalian Ayah Jongin itu siapa? Wkwkwkwk.
Ok makasih buat yang udah review
Robiatunohsehoon952 / ariska / fyodult / choi yewon11 / oracle88 / fishyhaerin / silent rider / coffe latte / kimoy
Thanks for suppot this FF by follow dan favourite.
