Hunkai / Kaihun / Kaise / Sekai

Friendship / Bromance / Crime / Hurt

Rated T+

Warning! Typo bertebaran! Jadi mohon maaf buat ketidaknyamanannya. Kadang karena kesalahan pengetik tapi kadang karena autocorrect computer yang emang rada kayak yang punya :p

Selamat membaca!

.

.

Joonmyeon bukan pria brengsek yang akan meniduri wanita manapun yang ia temui. Ia terlalu pemilih dalam urusan pasangan. Seperti orang tuanya yang sudah memilihkan pasangan yang tepat untukmya. Seharusnya Joonmyeon saat itu tidak jatuh cinta lagi. Cukup wanita pilihan ayahnya yang merupakan sahabatnya sendiri itu yang berhak mendampingi harinya.

Tapi sejak hari itu. hati Joonmyeon berubah. Ia tidak bisa berpaling dari melihat wajah gadis China itu.

Langit sangat mendung ketika ia melakukan patroli di jalanan seperti biasa. Air hujan menetes perlahan ketika seorang gadis tiba-tiba melompat ke arahnya guna menyelamatkannya dari tabrakan.

"Kau tidak apa-apa?" tanya gadis itu lembut, "apa kau melamun? Kau terlihat tidak seperti biasanya!" ungkap gadis China itu membuat Joonmyeon terperangah.

"Apa kau mengenalku?" tanya Joonmyeon sambil menunjukkan jari telunjuknya sendiri padanya dengan tatapan tak percaya. Gadis itu tertawa dengan suara yang merdu, suara yang membius gendang telingan Joonmyeon saat itu. Ia tidak pernah menyadari bahwa ia akan jatuh cinta untuk pertama kalinya.

Gadis itu tinggal di ruko belakang pasar tempat biasa ia melakukan patroli dan tentu saja ia tidak mengenal nama asli dari Joonmyeon. Ia hanya mengenal Joonmyeon dengan nama samarannya Suho.

"Kau cukup terkenal di gang!" celotehnya, "atau haruskah kau kupanggil Suho Oppa?"

Joonmyeon terkesiap lalu menutup mulut gadis itu cepat, "berbahaya menyebut namaku disini! Siapa namamu?"

"Yixing!"

Joonmyeon tersenyum lembut, "Yixing? Hemm, nama yang indah! Aku berterima kasih padamu!"

Gadis itu menggeleng pelan lalu ia terlihat terkesiap ketika melihat jam tangannya, "aku harus pergi sekarang!" ungkapnya dan terlihat tergesa.

"Apa aku bisa menemui lagi?" Yixing terlihat mengangguk sekilas lalu berlari berbelok ke arah gang di depannya. Joonmyeon teersenyum. Ia sekilas lupa tentang kehidupannya juga tentang mitos bahwa cinta pertama tak akan pernah berakhir dengan kebahagian.

.

Joonmyeon menggenggam tangan gadis China itu dengan protektif. Wajahnya nampak keruh saat ia menatap wajah cantik itu. Ada sebuah kebenaran yang selalu ingin ia katakan pada wajah lembut itu tapi tak pernah mampu ia lakukan. Harusnya sejak dari awal ia mengungkapkan segalanya pada gadis itu tapi perasaan Yixing mungkin saja akan meninggalkannya jika mengetahui hal itu membuatnya urung.

"Kudengar kau akan menikah bulan depan!" ucap Yixing lembut namun entah mengapa membuat Joonmyeon tercekat dan sesak.

"Kau tahu?" Yixing mengangguk pelan.

"Aku tahu segalanya tentangmu tapi kurasa kau tak pernah tahu siapa aku, Kim Joonmyeon!" ungkap gadis itu lirih dan lagi-lagi pria kecil itu terperangah ketika mendengar Yixing memanggilnya dengan nama aslinya.

Bagaimana bisa perempuan itu tahu namanya dan darimana ia tahu bahwa ia akan menikah besok?

Yixing menarik tangannya dari cengkeraman tangan Joonmyeon untuk menutupi wajahnya yang telah berlinang airmata. Suara isakan lirih tak terelakan, "maafkan aku, Joonmyeon!" ucapnya dan Joonmyeon segera merengkuh tubuh kurus ke dalam pelukannya.

Mereka menghabiskan malam itu berdua di tempat itu. Tempat yang hanya mereka berdua yang tahu. Tempat yang tak bisa dikatakan romantis. Dan seharusnya Joonmyeon tahu bahwa keesokan harinya dan seterusnya ia takkan melihat Yixing kembali.

-xoxo-

4

.

Sebuah tamparan mengenai wajah Yixing hingga membuatnya tersungkur jatuh. Harusnya ia sudah biasa merasakannya. Seharusnya seperti waktu-waktu yang lalu, ia tidak akan menangis saat tamparan itu mengenai wajahnya. Tapi sesuatu yang lebih menyakitkan selain di wajahnya membuatnya harus menangis sekarang.

"Aku menyuruhmu untuk menghancurkan hidupnya Yixing! Bukan menghancurkan hidupmu dan memiliki anaknya! Kau tahu itu?" suara tinggi itu memekak penuh dengan emosi di depan Yixing, "kau harus menggugurkannya! Jika tidak, aku yang akan melakukannya!" ungkap laki-laki tinggi itu lebih menekan. Kemudian pergi berlalu dari hadapan Yixing dengan membanting pintu kamar Yixing.

Yixing menangis. Ia tak mampu menjawab apapun. Mulutnya terlalu berat dan tercekat untuk mengatakan iya dan ia tidak punya keberanian untuk mengatakan tidak. Ia seharusnya pergi dari tempat itu. Ya, jika ia bisa. Tapi pada akhirnya ia akan selalu terdampar di tempat itu. Ia tidak bisa kabur dari seorang Wu Yifan dengan mudah.

Dan tanpa ia sadari sesuatu yang berbau anyir mulai merembes dari bawah tubuhnya. Mengalir pelan dan membasahi kakinya. Yixing gemetar ketika melihatnya. Suaranya tercekat ketika ia memanggil nama Bibi Hao. Ia sudah berusaha memanggilnya sekuat tenaga yang ia bisa tapi nyatanya tak ada suara yang yang keluar dari mulutnya kecuali isakan.

Yixing menangis. Tubuhnya terhuyung. Kesadarannya menghilang, dalam kebisuan ia terus bergumam meminta maaf pada Joonmyeon.

.

"Kau gila, Joonmyeon!" suara gadis itu terdengar tak percaya, "pernikahan ini hanya tingal menunggu waktu dan kau mau membatalkannya?"

"Gadis itu, aku tidak bisa melupakannya." Kyungsoo menghela napas. Ia tahu siapa orang yang dimaksud Joonmyeon. Bahkan ia tahu apa yang terjadi pada mereka sekarang. Ia sangat tahu.

"Aku mengijinkanmu menemuinya secara diam-diam setiap malam bukanlah untuk membatalkan pernikahan ini! Kau tahu itu dan kau sudah janji padaku! Kau seharusnya menepati janjimu, Joonmyeon!"

Joonmyeon mengusak rambutnya kasar. Dua jam lagi mereka akan menikah. Ia sudah berada di hotel sekarang. Bahkan Kyungsoo sudah memakai gaun pernikahannya dengan sangat apik. Hanya tinggal dia yang belum melakukan apapun. Rambutnya masih kusut seperti orang habis tidur. Bajunya terlihat compang-camping dan untungnya tidak ada bau alkohol yang menguar.

"Baiklah! Aku akan melakukannya! Kau tunggulah aku di luar dan tolong panggilkan Namjoon kemari!" Joonmyeon menarik dirinya untuk berdiri dan menuju kamar mandi. Kyungsoo menghela napas lega dan segera berlalu meninggalkan Joonmyeon.

Joonmyeon memandang wajahnya di cermin kamar mandi. Ia terlihat mencemooh dirinya sendiri sekarang, "aku harap kau dan anak kita baik-baik saja."

-xoxo-

Sehun datang ke ruang kerja ayah Jongin dengan dipaksa. Wajahnya terlihat tertekuk dan takut. Kau tahu? Bagaimana bisa ia merasa baik-baik saja saat orang yang baru saja menodongkan pistol ke arah kepalamu tiba-tiba malah mengajak kerumahnya.

"Ayah, aku membawakan Sehun untukmu!" kata Jongin ceria.

Sehun hanya tertunduk ketika ayah Jongin beranjak dari belakang tempat duduknya mendekat ke arahnya. Joonmyeon menatap intens Sehun dari atas hingga bawah. Ia menyuruhnya mengangkat wajahnya dan ia sempat terkesiap sebentar. Ya, hanya sebentar agar tak seorang pun tahu bahwa sekarang ini ia merasa terkejut seakan melihat hantu di siang bolong.

Joonmyeon menelan ludahnya kasar dan berdeham beberapa kali untuk mengembalikan suaranya yang seakan tercekat beberapa saat di tenggorokannya, "kau sudah menemukannya, Jongin? Kau yakin kau tak salah mengenali orang?" suara Joonmyeon masih terdengar kaku saat mengatakan hal itu.

"Tentu saja, ayah! Ingatanku bahkan lebih baik dari ayah!" Joonmyeon tertawa canggung mendengar celoteh anaknya itu lalu kembali ke singgasananya. Berpura mengecek beberapa data yang sempat ia telantarkan beberapa menit tapi sebenarnya ia mencoba menutupi kenyataan dari semua orang bahwa ia sedang mencuri pandang ke arah Sehun.

"Meski dia terkenal berandalan tapi kurasa ia bisa kita gunakan!" kata Jongin membuat mata Sehun melotot. Apa maksudnya digunakan?

Joonmyeon hanya mengangguk dan berpura membolak-balikkan lembaran kertas dihadapannya, "baiklah! kuharap kau bisa menemuiku dua hari lagi disini, Oh Sehun!" kata Joonmyeon dan menatap tajam ke arah Sehun, mengharuskan bahwa laki-laki pucat itu menyetujui permintaannya.

Jongin tersenyum cerah, "tenang saja, Sehun! Mulai sekarang kau adalah tangan kananku!" ungkap Jongin seenaknya tanpa bertanya apakah Sehun menyetujuinya ataukah tidak.

.

Dua hari ini adalah waktu yang begitu lama untuk seorang Kim Joonmyeon. Biasanya ia akan melawati hari-harinya tanpa peduli apakah sekarang adalah jam berapa atau hari apa. Dia punya Namjoon, sepupu sekaligus kaki tangannya yang akan mengatur jadwal dan mengecek semua kegiatannya.

Tapi dua hari ini berbeda. Ia selalu mengecek jam dan tanggal. Serasa ia harus melewati dua hari ini dengan perasaan sebulan. Dan saat pintu ruang kerjanya terdengar terbuka dan menyembulkan tubuh tinggi Sehun, Joonmyeon sertamerta berdiri dan berjalan mendatangi Sehun.

Sehun lebih tenang sekarang dan ia juga lebih rapi dari sebelumnya.

Joonmyeon terlihat kaku. Ia bingung harus mengatakannya dari mana dan menjelaskannya. Haruskah ia memeluk Sehun dulu dan berkata, aku mungkin adalah ayahmu. Atau ia harus mengungkapkan jati dirinya terlebih dahulu baru memeluknya.

Sehun membuka mulutnya, "saya rasa saya mengenal anda, Tuan Kim!" suara Sehun pecah dan membuat Joonmyeon berkaca-kaca.

"Apakah ibumu adalah Zhang Yixing?" pertanyaan itu terlontar dari mulut Joonmyeon dengan nada bergetar.

Sehun mengangguk dan hampir saja Joonmyeon ingin merengkuh tubuh tinggi itu untuk dipeluknya tapi suara Sehun membuatnya harus menelan kepahitan, "tapi ayah saya adalah Wu Yifan! Jadi maaf jika ini mengecewakan anda!" ungkapnya Sehun seakan mengerti maksud dari Joonmyeon.

Air mata yang menggenang di pelupuk Joonmyeon tiba-tiba saja kering berganti dengan sebuah wajah terkejut yang tak mampu lagi terhindari. Joonmyeon mengenal siapa Yifan. Laki-laki biadab yang selama ini menjadi incarannya namun tak pernah bisa ia tarik turun ke bawah guna menghabisinya. Apakah selama ini Yixing bersama laki-laki itu? Pantas saja jika Joonmyeon tak pernah tahu dimana keberadaannya saat itu. Yifan selalu tahu bagaimana cara kabur menyelamatkan dirinya.

Joonmyeon memasang wajah dinginnya dan tersenyum mengerti. Ia tetap merengkuh tubuh Sehun. Sehun adalah anak mereka, anaknya dan Yixing. Itulah yang diyakini Joonmyeon. Jika pun Sehun bukan anaknya, dia sudah berjanji pada Yixing untuk menjaganya.

"Meski begitu kau tetaplah anakku, Shixun!" ungkap Joonmyeon.

Mata Sehun berkaca-kaca terakhir kali ia mendengar nama itu disebut oleh ibunya dan setelah itu ia berganti nama, "bagaimana anda tahu nama asliku?"

Joonmyeon menarik dirinya. Matanya terlihat memerah panas begitu juga yang ia lihat dari mata Sehun, "tentu saja. Aku dan Yixing selalu membicarakan nama itu sebelum kau lahir. Jadi biarkan aku menjadi ayahmu! Kau bisa memanggilku ayah saat hanya berdua!"

"Bolehkah aku memeluk anda Tuan Kim?" pertanyaan Sehun hanya dijawab dengan anggukan oleh Joonmyeon. Selama dipelukan Joonmyeon, Sehun menangis sejadi-jadinya merasa lega dan melepaskan beban yang sempat terasa berat dipundaknya.

Ia menenggelamkan tubuhnya makin dalam, merasakan kehangatan yang disalurkan Joonmyeon lewat pelukan itu. Inikah rasanya dipeluk oleh seorang ayah? Ia juga ingin mempercayai bahwa ayahnya adalah Joonmyeon.

-xoxo-

Ayah Sehun bukanlah ayah pada umumnya yang akan memberikan kasih sayang selayaknya orang lain. Bahkan ketika seorang wanita datang dengan membawa anak dan mengaku bahwa itu adalah darah dagingnya, Yifan tidak segan-segan akan melukai wanita itu dengan siksaan yang sadis.

Dan ibunya orang yang terlalu baik untuk mendampingi orang seperti Wu Yifan. Dia rela mengasuh anak wanita lain dari ayahnya itu bahkan menamainya dengan nama yang sangat cantik. Sehun sangat menyayangi ibunya. Baginya jika ia ditanya bagaimana malaikat itu maka ia akan menjawab bahwa malaikat adalah ibunya, Zhang Yixing.

Mereka pindah kembali ke Korea karena urusan bisnis Yifan yang entah apa itu – yang jelas itu bukanlah sesuatu hal yang dirasa cukup baik. Yifan orang yang terlalu protektif untuk sekedar meninggalkan Yixing sendirian di Shanghai. Yixing tahu tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Meski ia ingin mati setiap hari tapi ia selalu berpikir jika ia mati maka tak ada lagi yang akan melindungi anak-anaknya lagi.

Tapi berbeda dengan hari itu, hari dimana beberapa letusan terdengar di gang sempit itu untuk sekian kalinya terjadi saat siang hari.

.

"Kau dimana sekarang?" suara Joonmyeon terdengar dari ponsel yang di bawa oleh Kyungsoo, "aku akan menjemputmu dan Jongin!"

"Joonmyeon, Jongin menghilang! Saat di jalan dia berlari mengejar seekor anjing. Apa yang harus aku lakukan?" suara khawatir itu terlontar dari bibir Kyungsoo.

"Dimana kau sekarang?" ulang Joonmyeon dengan nada sama khawatirnya.

"A-aku ada di gang pasar distrik timur! Kau tahu tempat itu, kan?"

"Jangan pergi kemana-mana hingga aku tiba, Kyungsoo!" ungkapnya dan bergegas cepat sebisa yang ia mampu.

Tapi semua terlambat ketika ia sampai. Ia harus melihat Kyungsoo berlumur darah. Kyungsoo seharusnya tahu lebih dari siapapun sebanyak apa musuhnya di distrik timur. Ia seharusnya selalu mengindahkan ucapannya untuk selalu membawa bodyguard kemanapun ia pergi sesuai anjurannya.

"Kau bodoh, Kyungsoo! Kenapa kau menjadi seceroboh ini?" Joonmyeon melepas jas mantelnya lalu membalutkannya pada tubuh mungil Kyungsoo.

Suara Joonmyeon tercekat ketika ia meneriaki nama Jongin. Jongin bukannya tidak tahu ayahnya memanggilnya tapi kakinya benar-benar bergetar dan terlalu lemas untuk sekedar berdiri.

"Sstt!" sebuah desisan terdengar dari arah belakang. Sejak tadi mulut Jongin tertutup oleh sebuah tangan, "jangan berteriak! Jangan menangis! Kau paham?"

Jongin mengangguk cepat dan seseorang di belakangnya segera melepaskan bekapannya, "apa itu ayahmu?" tanyanya yang dijawab anggukan oleh Jongin.

"Kau tetaplah disini! Ini tidak akan berakhir dengan cepat!" ungkapnya sambil mengintip dari celah-celah.

Suara isakan kembali terdengar dari Jongin memanggil ibunya dan membuat anak kecil itu lagi-lagi membekap mulut Jongin, "jangan menangis! Bukankah kau sudah melihat bagaimana mereka melakukannya pada ibumu?"

Jongin mengangguk lagi, "kita tidak tahu apa yang akan mereka lakukan pada ayahmu jadi kita harus menunggu sampai keadaan tenang. Apa kau mengerti?"

"Shixun! Kau dimana?" teriak seseorang lainnya.

"Gawat! Kenapa ibu juga kemari?" ungkapnya dan memandang cemas ke arah luar, "kau disini saja mengerti? Aku akan mengatakan pada ayahmu bahwa kau ada disini!"

Sehun kecil melepaskan bekapannya dari Jongin yang terlihat kemudian mengangkat tangannya untuk membekam sendiri mulutnya agar tak mengeluarkan suara. Jongin sesegukan ketika tangan kecil Sehun mengelus rambutnya lembut, "kau anak pintar!"

Sehun beranjak pergi. Berlari ingin mendatangi ke arah ibunya tapi sebuah tangan menariknya pergi secara paksa. Ia melemparkan tubuh Sehun secara brutal ke sebuah ruangan tanpa menghiraukan kepala dan tubuh Sehun yang membentur dinding tembok dengan kuat hingga membuat anak kecil yang sedaritadi memberontak di bahunya itu terkulai pingsan.

Ia melirik ke arah wanita paruh baya yang memeluk gadis kecil itu dengan begitu protektif sambil terisak. Ia mendengus menatap orang-orang di depannya,"dimana Yixing?" gumamnya dan menutup pintu kamar itu dengan kasar.

Jongin masih terus membisu menatap kejadian yang ada di depannya. melihat ayahnya berkelahi dari balik celah dan tak segan menusuki, memukul serta menendang orang. Ini pertama kalinya ia melihat ayahnya terlihat begitu berbeda. Ia merasa takut dan badannya bergetar.

Tapi suara tangis Jongin kecil akhirnya pecah juga ketika sebuah suara tembakan terdengar kembali. Joonmyeon seharusnya roboh sekarang. Ia seharusnya merasakan sakit di bagian tubuhnya. Tapi melihat seseorang yang terkulai di depannya membuatnya sakit lebih dari yang seharusnya ia rasakan.

"Yixing!" panggilnya tak putus menyebutkan nama itu.

Yixing mengangkat tangannya mengusap pipi Joonmyeon, "Joonmyeon, apakah itu kau? Maafkan aku!" suara Yixing terdengar lirih dan tertahan di telinganya, "tolong jaga anak-anak! Yifan pasti akan melukai mereka! Kumohon!"

Dan teriakan Joonmyeon memekak dengan penuh kegetiran mengalahkan suara tembakan yang terdengar ketika dirasanya cengkeraman tangan Yixing melemah di pundaknya. Matanya berubah nyalang lebih dari sebelumnya. Tanpa melihat siapa dia langsung menyerang membabi buta. Tak peduli apapun ia mematahkan segalanya yang bisa ia patahkan. Erangan kesakitan yang ia dengar seakan menjadi tanda keberhasilannya.

Dan semua itu tak luput dari mata polos Jongin.

-xoxo-

A/N:

Waks, ini masalalu Joonmyeon akhirnya terkuak. :p alasan kenapa Jongin juga bertindak seperti itu karena ayahnya juga karena kematian ibunya :v

Jongin hutang budi banget sama Sehun karena nyembunyiin dia. Jadi dia nggak mati.

Ya begitulah! Sehun anaknya Joonmyeon itu rada gak bisa dibayangin sih secara dia lebih mirip sama Kris. Wekekeke. Dari wajah sama tinggi badan tentunya. *digebukinsuholangkaya*

Jadi kenapa Joonmyeon mikir Sehun adalah anaknya karena saat mereka berpisah Joonmyeon tahu kalau Yixing sedang mengandung dan dia gak tahu kalau Yixing udah keguguran. Apalagi Sehun – dia kan belum lahir, mana mungkin juga kan Yixing cerita keanaknya tentang hubungannya sama Joonmyeon yang begitu. Hahaha, belum cukup umur! *waks*

Terlebih mana maulah Yifan biarin anaknya Joonmyeon hidup. Anaknya sendiri aja dia belum tentu mau ngurusin. Eahh.. si bapak jahat amat!

Thanks for support this FF by follow, favourite and review.