Session Talkshow

Bella : Yahoo, Bella balik lagi di fanfic ini. Siapa yang sudah menanti-nanti chapter ini. Ayo angkat kaki!

BLETAK

Kazusa : Author, jangan menulari virus gila sama para readers.

Bella : Hehehehe…

Akira : Author, benar-benar sudah gila (sweatdrop)

Bella : Oke minna, Bella mau minta maaf atas update-nya yang super lama. Tapi Bella nggak bisa mengelak dari tugas-tugas Bella di sekolah. Jadi mohon pengertiannya ya.

Akira : Dan satu lagi maaf kalau chapter ini pendek. Awalnya mau di tambah dengan adeganku dengan Kazusa. Tapi kata author chapter depan saja sekalian adegannya Karin dan Kazune.

Kazusa : Mungkin chapter ini ceritanya nggak terlalu menegangkan, tapi di chapter depan bakal ada adegan yang bombatis deh pokoknya.

Bella : Yah, adegan Akira sama Kazusa yang berubah jadi yuri (langsung digampar sama Akira dan Kazusa)

Kazusa : Enak saja, aku masih waras tahu!

Akira : Betul. Baiklah, sebaiknya para readers baca saja chapter ini selama aku dan Kazusa sibuk nyiksa author satu ini.

Bella : Huweee…. Apa salahku?!


Title : Vampire Game

Chapter 12 : Help me!

Disclaimer : Kamichama Karin Chu © Koge Donbo

~Vampire Game~ © Bella-chan

Rated : T

Genre : Fantasy ; Mystery

Pairing : KazuRin

Warning : AU, OOC, typo, abal, gaje, alur kenceng, nggak nyambung, dll

Summary : "Siapapun tolong aku hiks." / "Entahlah, aku hanya mengikuti instingku." / "Cepat, kita harus bergegas. Sepertinya aku mencium darah Karin!" / "Bukan satu menit, tapi tiga puluh detik saja cukup untuk menghabisi mereka semua."

.

.

Please Enjoy Reading

.

.

~Vampire Game~

Karin POV

Aku mulai membuka mataku dengan berat. "Ah dimana ini?" Begitu aku berhasil membuka mataku sepenuhnya.

Aku mengerjap-ngerjap mataku berulang kali, berharap kesadaranku akan pulih. Tapi begitu mataku sudah dapat melihat dengan jelas, aku dikejutkan oleh pemandang di depan mataku. Pemandangan dimana sekumpulan oni yang menatapku dengan tajam seolah mereka dapat menerkamku begitu saja. Pemandangan ini sudah tidak asing lagi bagiku.

Tanpa perlu dikomando, tubuhku langsung bergetar hebat. Perasaan ini sama seperti dulu. Perasaan takut.

"Ini sama seperti dulu," gumamku lirih. Dapat kurasakan kalau air mataku sudah menggenang di mataku, bersiap untuk jatuh kapanpun. Meski sekarang sudah lewat tujuh tahun semenjak kejadian itu, tapi rasa takutku masih sama seperti dulu.

"Tenang saja, Karin." Aku langsung mendongakkan kepalaku untuk melihat sosok yang sedang berdiri tidak jauh dariku. Sosok yang amat sangat kukenali.

"Akira!" seruku tak percaya. Dan yang membuatku lebih tak percaya, kenapa dia melawan oni-oni ini. Baru saja aku ingin menanyakan tentang hal itu. Tiba-tiba saja tanpa diduga olehku, ada satu oni yang mulai merangkak ke arahku. Seakan berusaha untuk menggapaiku.

Aku langsung bergidik ketakutan. "Arrrggghhh!" jeritku keras. Dan tanpa berpikir lagi, aku langsung bangkit dan berlari menjauh dari para oni-oni itu. Aku masih bisa mendengar suara Akira yang berteriak tunggu. Tapi aku tidak mempedulikannya karena sekarang aku dapat melihat kalau beberapa oni tadi berusaha untuk mengejarku seakan tidak mau membiarkan mangsanya lepas.

DOR

Aku langsung menoleh ke belakang begitu mendengar ada suara tembakan. Dapat kulihat ada satu oni yang tumbang. Sepertinya Akira tadi sempat menembaknya. Tapi meskipun demikian, masih ada beberapa oni yang masih mengejarku. Dan aku tidak bisa berharap kalau kali ini Akira akan menolongku lagi. Jadi dengan secepat kilat aku langsung memasuki gedung yang sepertinya sudah lama tidak terpakai karena terlihat jelas dari bangunannya yang sudah tua dan tidak terurus lagi. Aku langsung menaiki tangga yang kutemukan begitu masuk ke dalam gedung tersebut. Sekali lagi aku menoleh ke belakang dan sialnya aku. Oni-oni itu masih mengejarku. Aku semakin mempercepat lariku.

"Hah hah hah." Nafasku mulai terasa sesak, sepertinya aku sudah mencapai batas maksimum untuk berlari. Tapi aku tidak bisa berhenti sekarang, setidaknya belum saatnya. Karena jika aku berhenti sekarang, aku akan mati.

Begitu melewati belokan, aku melihat sebuah pintu yang sedikit terbuka. Tanpa buang waktu, aku langsung masuk ke dalam ruangan itu dan langsung menutupnya. Aku menyandarkan tubuhku di balik pintu dan memasang telinga baik-baik.

Drap drap drap

Aku langsung menahan nafas begitu mendengar suara langkah kaki yang aku yakini sebagai suara langkah kaki dari oni-oni yang tadi mengejarku. Keringat dingin mulai berjatuhan dari pelipisku.

'Jangan sampai mereka menemukanku,' batinku harap-harap cemas.

Beberapa detik kemudian aku mendengar suara langkah kaki itu mulai menjauh. Sepertinya kali ini aku berhasil selamat. Aku langsung saja bernapas lega dan duduk di depan pintu karena kedua kakiku sudah terasa lemas setelah tadi kupakai untuk berlari.

Aku pun mulai mengatur nafasku agar kembali normal. Setelah beberapa menit, nafasku sudah kembali normal. Aku mulai menggunakan kakiku yang sudah lumayan baikan untuk berdiri dan berniat untuk keluar dari sini. Tapi begitu aku memutar kenop pintu, pintu itu malah tidak mau terbuka.

"Apa! Kenapa bisa!" seruku kaget sambil berusaha membuka pintu itu kembali. Tapi hasilnya nihil, pintu ini masih belum mau terbuka.

Keheningan mulai merasuki tubuhku, aku mengedarkan pandanganku ke sekiling ruangan dan aku tidak bisa melihat apapun dengan jelas.

"Gelap sekali di sini," ucapku ketakutan. Aku memeluk tubuhku sendiri, karena udara malam ini terasa sangat dingin sekali.

Aku menatap jendela besar yang ada di ruangan itu yang menampakkan rembulan yang tadi sempat tertutup awan kembali bersinar dan cahayanya menembus masuk ke dalam kaca jendela. Sehingga membuatku mampu melihat dalam kegelapan. Tiba-tiba saja di dalam ruangan itu banyak suara yang tidak bisa dikatakan sebagai suara manusia maupun hewan. Mereka mengerumuniku.

"Mustahil, ruangan ini penuh dengan oni," ucapku sambil mundur beberapa langkah hingga badanku menempel pada pintu.

Air mata yang sedari tadi kutahan akhirnya berhasil jatuh juga melewati pipiku. Aku mulai menangis. Dengan perasaan panik dan takut, aku langsung menggedor-gedor pintu yang ada di balik tubuhku. Berharap itu akan terbuka.

"Siapapun tolong aku hiks," ucapku lirih.

Aku kembali menatap ngeri ke arah oni-oni itu sampai salah satu oni menggigit lengan kiriku. Sontak saja aku langsung menendangnya hingga membuat oni tersebut berhasil melepaskan gigitannya dari tanganku.

Tapi entah kenapa, tiba-tiba rasa sakit mulai menyebar dalam tubuhku. "Arrrggghhhh!"


~Vampire Game~


Kazune POV

Aku terus berlari dan berlari. Sama seperti tujuh tahun yang lalu, aku berlari hanya untuk mencari Karin. Hanya Karin seorang.

"Kazune, memangnya kau tahu Karin pergi kemana?" tanya Himeka padaku.

"Entahlah, aku hanya mengikuti instingku," ucapku sekenanya.

"Yah, semoga instingmu tidak membawa kita ke jalan yang sesat," ujar Micchi sambil mengedikkan bahu.

Aku hanya menatapnya tajam dan dia balas dengan sebuah cengiran yang terbentuk di wajahnya.

'Bisa-bisanya ia bercanda di saat begini,' batinku tak habis pikir.

"Kazune lihat!" seru Himeka tiba-tiba.

Aku dan Micchi pun langsung menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Himeka. Tampak beberapa oni yang keluar dari gedung yang kelihatannya sudah lama tidak dipakai. Kami bertiga pun langsung menuju ke arah gedung tersebut. Kalau dugaanku tidak meleset, aku berasumsi kalau Karin berada di sana.

"Biar aku urus oni-oni i-"

Aku langsung mengarahkan telapak tanganku ke arah oni-oni yang barusan keluar tadi. Seketika ada angin kencang dari arah belakangku yang langsung menyerang oni-oni itu dan mencabik oni-oni itu hingga mereka menghilang dari hadapanku.

"Yah, padahal sudah kubilang biar aku yang mengurusnya," ujar Micchi sambil mengehela napas kecewa.

Tapi aku tidak terlalu mempedulikan ucapan dari Micchi, karena ada sesuatu yang tiba-tiba mengusikku yaitu aku mencium darah yang sudah tidak asing lagi yaitu darah Karin.

"Cepat, kita harus bergegas. Sepertinya aku mencium darah Karin!" seruku pada Micchi dan Himeka.

"APA?!" pekik mereka kaget. Dan tanpa membuang waktu lebih lama lagi, mereka segera menyusulku yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam gedung.

Aku mengedarkan pandanganku sekeliling. Gedung ini begitu luas, Karin bisa ada dimana saja. Aku pun mengendus-endus udara di sekitar sini untuk mencari tahu dimana bau darah Karin berasal. Dan aku menemukannya. Sontak saja aku langsung berlari menaiki tangga menuju ke lantai dua bersama dengan Himeka dan Micchi yang ada di belakangku.

"Arrrggghhh!"

Deg

"Itu suara Karin," ucap Himeka begitu terdengar suara jeritan perempuan.

'Ini sama seperti dulu. Ya Tuhan, semoga kali ini aku tidak terlambat untuk menolongnya,' batinku dalam hati.

"Suaranya berasal dari sini," ujar Micchi sambil mencoba untuk membuka pintu yang sekarang berada di hadapan kami. "Pi-pintunya dikunci," ucap Micchi begitu mendapati pintunya tidak mau terbuka.

"Bagaimana ini, kita harus menolong Karin," ucap Himeka yang mulai panik.

"Kalau begitu biar aku dobrak saja," usul Micchi yang sudah bersiap-siap untuk mendobrak pintu yang ada di hadapannya.

"Jangan Micchi, biar aku yang melakukannya!" seru Kazune tiba-tiba. Ia mulai mengarahkan tangannya ke pintu dan seketika…

BLAM

Pintu itu langsung dihempas oleh angin hingga menyebabkan pintunya terlepas dari engsel-engselnya.

"Hah, lagi-lagi kau bertindak sesukamu sendiri," gumam Micchi sambil mengehela napas.

Aku tidak menggubris ucapannya dan langsung masuk ke dalam ruangan itu. Tapi aku dibuat terkejut begitu mendapat pemandangan yang ada di depanku saat ini.


~Vampire Game~


Normal POV

BLAM

Karin langsung menoleh begitu mendengar suara itu dan dirinya dibuat terkejut begitu melihat sosok Kazune. Di belakangnya juga ada Himeka dan Micchi. Mereka tampak terpengarah begitu melihat pemandangan yang ada di depan mereka. Apalagi begitu mendapati sosok Karin yang sedang berlutut lemas dengan memegang lengan kirinya yang terus-menerus mengeluarkan cairan berwarna merah yang tak lain adalah darahnya sendiri.

"Jangan-jangan Karin…. Dia sudah digigit oleh oni," ucap Himeka yang langsung menutup mulutnya saking shock-nya.

"Ini gawat kalau dia benar-benar sudah digigit oleh oni," tambah Micchi.

Kazune langsung berjalan menghampiri Karin. "Kau baik-baik saja, Karin?" tanya Kazune dengan raut wajah cemas.

PLAK

Bukannya mendapatkan sebuah jawaban dari mulut Karin, ia justru mendapatkan sebuah tamparan keras dari gadis tersebut.

"Kau sudah menipuku selama ini, dan… dan ayahmu sudah membunuh orang tuaku. AKU BENCI PADAMU?!" Setelah mengatakan itu, Karin langsung berlari menerobos keluar dari ruangan itu sambil menangis.

"Sial, sepertinya vampir brengsek itu sudah mengembalikan ingatannya," ucap Kazune geram.

"Kazune, kita tidak bisa meninggalkan Karin sendirian. Kita harus cepat, kalau tidak ia akan segera berubah menjadi oni," terang Himeka.

"Aku tahu, biar aku yang mengejarnya. Kalian berdua urus saja oni-oni sampah ini!" titah Kazune yang setelah itu langsung berlari keluar ruangan untuk mengejar Karin.

"Akhirnya, aku bisa mengambil bagian di sini. Yah, rasanya sudah lama sekali aku tidak main-main dengan para oni," ucap Micchi sambil menyeringai.

"Kau benar, lagipula ini bagus untuk melatih kemampuan bertarung kita," tambah Himeka.

Seketika warna mata Himeka dan Micchi berubah menjadi merah. Tampak Micchi menggigit ibu jari kanannya hingga menyebabkan darah segar keluar dari ibu jarinya. Tapi anehnya darah yang keluar itu mulai membentuk sebuah cambuk di tangannya.

"Nah, sepertinya waktu satu menit cukup untuk menghabisi mereka semua," ujar Micchi santai.

"Bukan satu menit, tapi tiga puluh detik saja cukup untuk menghabisi mereka semua," ujar Himeka sambil mengayunkan tangannya ke depan dan ajaibnya bagai disihir semua oni yang berada di ruangan itu langsung membeku oleh es.

Micchi yang melihat itu segera menunjukkan kemampuan dari cambuknya untuk menghancurkan oni-oni itu yang sekarang sudah berubah menjadi es menjadi butiran-butiran kristal yang indah.

Setelah semua sudah hancur, Himeka langsung melirik jam tangan mungilnya. "Dua puluh tujuh detik, rekor yang bagus," ucap Himeka sambil tersenyum puas.

Micchi hanya membalas senyuman Himeka. "Yah, sekarang kita berharap semoga semuanya akan baik-baik saja."

"Tenang saja. Semuanya akan baik-baik saja, seperti yang dikatakan Kazune tadi. Semuanya kan berakhir dengan happy ending," ucap Himeka lembut.

"Aku harap juga begitu," ucap Micchi lirih.

.

.

To Be Continued

.

.

Please Review


Session Talkshow

Karin : Yatta, akhirnya selesai juga chapter dua belasnya.

Micchi : Tapi author mana, tumben nggak ngoceh kayak biasanya?

Jin : Kenapa nggak tanya sama dua makhluk ini. Terakhir author kan sama mereka (sambil nunjuk Kazusa dan Akira)

Kazusa : Heh, hmm… tenang saja author sedang istirahat dengan tenang kok.

Akira : Yap betul, jadi kalian tidak perlu khawatir (sambil mangut-mangut)

Kazune : Mencurigakan, palingan author kalian kunci di gudang kalau nggak kalian ikat di puncak gedung.

Kazusa : Agh Kazune bisa saja. Kita cuma lempar author dari puncak gedung doang kok.

Karin : Heh, berarti author sudah mati dong.

Akira : Habisnya author ngatain aku sama Kazusa yuri.

Micchi : Kalau author mati, siapa dong yang ngelanjutin fic ini.

Bella : Minna, apa kabar? (masuk-masuk dengan keadaan sehat wal'afiyat)

Kazusa : Heh, kenapa author masih hidup! (dengan wajah shock)

Bella : Hehehehe jangan kira kalian bisa membunuhku dengan mudah. Gini-gini aku punya sembilan nyawa.

All (-Bella) : Emang kucing (sweatdrop)

Bella : Oke, berhubung review chapter sepuluh sama chapter sebelas kemarin belum dibacain dan Bella yakin kalau dibacain semua bakal jadi panjang. Jadinya Bella cuma mengucapkan sejuta terima kasih saja untuk para readers yang sudah mau menulis review tentang fanfic ini, antara lain :

TsukiRin Matsushima29

Kazufika

Meirin Hinamori 16

Anaracchi

Rezahz

Takenomaru Hikari

Xenon

Ichiro

Hanazono-san

Yunnah-chan

Viona-chan

Hime Arlin

Ryukutari

Jj

Jg

Karin

Jin

Himeka

Kazune

Kazusa (kenapa pada makek nama semua pemain KK kecuali Micchi)

Akira bella chan (Ini malah ada yang maken pen nameku)

Micih

Shadow (wah kau musuh malaikat #langsung digampar)

Keke

Lian-chan

Arisa

Liching

Aputriabsari

Karin0kazune

ItHinCherrY (waw namanya alay, besar kecil)

KKC 4ever

DAN YANG TERAKHIR UNTUK KAMU YANG SUDAH BACA CHAPTER INI

Kazusa : Pokoknya kita semua terutama author mau ngucapin terima kasih untuk dukungan kalian selama ini. Arigatou gozaimatsu.

Bella : Tinggal dua chapter lagi fanfic ini akan selesai. Bella nggak nyangka bisa bikin fanfic dengan chapter sebanyak ini. Huweee

Kazune : Nggak usah lebay deh author. Mending sekarang kau tutup fanfic ini.

Bella : Iya ya, oke minna. Akhirnya minggu Bella kali ini Bella berhasil memenuhi target untuk update dua fanfic sekaligus. Yeee

Karin : Dan semoga author satu ini nggak lama lagi update-nya.

Micchi : Ayo author tinggal dua chapter lagi. Semangat!

Jin : Dan jangan lupa kau masih punya tagungan satu chapter fic bloody vampire.

Bella : Iya ya, bawel banget sih kalian. Oke akhir kata minna-

All : Jaa ne!