Hunkai / Kaihun / Kaise / Sekai
Friendship / Bromance / Crime / Hurt
Rated T+
Warning! Typo bertebaran! Jadi mohon maaf buat ketidaknyamanannya. Kadang karena kesalahan pengetik tapi kadang karena autocorrect computer yang emang rada kayak yang punya :p
Selamat membaca!
.
.
Wajah Sehun terlihat tertekuk. Sehun menenggelamkan wajahnya malas di atas mejanya, mencoba mengganti jam tidur malamnya. Semalam ia kurang tidur karena Jongin memaksanya mengerjakan pr dan belajar. Sebenarnya ia hanya meminta Jongin mengajari Xiumin tapi orang itu malah menyeretnya juga.
"Kudengar kau mendapat tugas mengajar privat Oh Sehun!" ucap Yoongi yang memilih duduk di depan Jongin. Senyum Jongin terkembang lalu mengangguk dengan semangat.
"Apa kau baik-baik saja? Kau terlihat kurang tidur hari ini, Jongin!" ungkap Jimin terdengar prihatin.
Jongin menggaruk kepalanya, "benarkah? Apakah terlihat separah itu?"
"Bukankah kau bisa menolak?! Kau tahu bagaimana bahayanya Oh Sehun bukan?"
"Aku baik-baik saja!" ujar Jongin masih dengan wajah tersenyum.
"apa dia tidak lelah berakting seperti itu?" pikir Sehun prihatin.
Sehun mengangkat kepalanya. Ia terlihat tak menghiraukan bunyi bel masuk yang sudah berdendang dan tatapan tajam Jongin ke arahnya, "cih, mereka hanya tidak tahu siapa yang lebih berbahaya!" gumam Sehun lirih lalu membanting pintu kelas.
Yoongi dan Jimin terlihat terperanjat dengan sikap Sehun tadi, "kau beruntung Jongin. Aku rasa dia tidak bisa melawanmu karena ayahmu seorang polisi."
Jongin hanya tersenyum kecut mendengar komentar-komentar temannya tentang Sehun. Bukankah seharusnya ia membela Sehun? Tapi keadaannya sekarang benar-benar membuatnya tak bisa mengatakan apa-apa.
Jongin membenarkan kacamatanya yang tak berlensa. Membenarkan letak duduknya ketika guru kelasnya memasuki ruangan meski sekali-kali melirik ke arah bangku Sehun yang kosong.
-xoxo-
5
.
Wajah Sehun masih ditekuk saat ia sampai di rumah. Ia sudah mendapat firasat buruk sejak Jongin tersenyum ke arahnya, menyambut kedatangannya yang telat sampai rumah. Seharusnya ini menjadi liburan dan dia bisa tidur tenang atau menghabiskan waktunya dengan Xiumin di rumah barunya. Bukan belajar untuk mendapat nilai tambahan.
Tapi Jongin bukan orang yang akan menerima alasan dan penolakan dengan mudah.
Sehun tidak terlalu bodoh. Bahkan dia yang terpandai dalam hal taktik dan strategi dalam kelompok. Dia yang terbaik.
Asal kalian tahu, tahun lalu dia gagal ujian bukan karena dia bodoh. Selama ini dia bisa melalui ujiannya dengan baik. Setiap ulangan ia selalu mengikuti meski saat pelajaran ia lebih sering membolos karena tak mengerjakan pr. Tentunya agar tak mendapat hukuman.
Ia sering lupa mengerjakannya karena kesibukan hidup luarnya. Terlalu banyak berandalan yang menginginkannya untuk masuk ke dalam kelompok mereka dan jika ia menolak, tentu saja ia harus menjadi musuh kelompok itu. Dan ia sudah terlalu lelah ketika sampai kerumah dan selalu melupakan pr-nya.
Hidupnya benar-benar tak pernah sepi oleh hal kekerasan. Jika bukan karena ditarik masuk kelompok maka alasan lainnya adalah balas dendam. Dan terkadang hanya karena ada yang menantangnya berkelahi. Wajah Sehun yang selalu dingin dan jarang tersenyum adalah alasannya.
Bahkan ketika ia tersenyum, orang lain malah menganggapnya sedang meremehkannya. Sehun tidak ingat bagaimana awal hidupnya menjadi seperti ini. Seakan tak ada hal yang benar dalam hidupnya.
Ia ingat ketika malam setelah hari pemakaman ibunya, Bibi Hao menuntunnya pergi dengan Xiumin yang tertidur dalam gendongan. Bibi Hao – wanita paruh bayah itu – terlihat tegesa-gesa dan tak tenang ketika melintasi jalanan yang terlihat telah sepi. Sehun juga ingat kepalanya saat itu dibalut perban – tanpa ia ingat bagaimana ia bisa terluka – dan saat itu kepalanya berdenyut tak karuan.
"Bibi, aku pusing!" rengek Sehun.
Peluh di wajah Bibi Hao semakin deras ketika ia menangkap sosok orang-orang yang dikenalnya, "Tuan Shixun, bisakah bibi minta tolong pada anda?" Sehun mengangguk dengan polosnya.
Bibi Hao menyerahkan sepucuk surat pada Sehun, "bawalah ini dan temui teman bibi! Ia mungkin sudah menunggu anda di bawah jam di tengah taman kota!"
Sehun tidak mengerti saat itu. Tapi Sehun memilih mengangguk lagi dan tanpa bertanya menerima pucuk surat itu. Ingatan di kepalanya seakan kosong dan kepalanya akan berdenyut hebat jika ia memaksanya untuk mengingat. Ia lalu memutuskan berjalan menjauh. Tanpa ia tahu bahwa mungkin itu adalah perpisahannya dengan Bibi Hao dan Xiumin.
Sehun besar di sebuah panti asuhan di pinggiran kota. Orang yang ia temui saat itu adalah Suster Oh, teman Bibi Hao. Bibi Hao adalah pelayan pribadi keluarga Zhang. Sejak keluarga Zhang bangkrut, Yixing tinggal di rumah keluarga Wu sebagai jaminan. Mereka memiliki hutang yang tak bisa mereka bayar terhadap keluarga itu.
Meski begitu Yixing masih mencintai ayah dan ibunya. Yixing tak pernah menyalahkan orang tuanya bahkan keluarganya. Ia yakin bahwa semua ini adalah takdir yang harus ia lalui. Yang Yixing benci adalah dirinya dan orang bernama Wu Yifan.
Setiap malam Yifan selalu pulang dalam keadaan mabuk dan masuk ke dalam kamarnya. Menyumpahinya dengan kata-kata terburuknya dan menidurinya. Mereka tak pernah menikah karena Yixing tak pernah menginginkannya. Dengan alasan ia tak mau merubah namanya menjadi nama keluarga yang menghancurkan hidupnya.
Meski alasan di hatinya adalah karena ia masih terlalu mencintai Joonmyeon.
-xoxo-
Sehun kabur dari panti asuhan saat ia menginjak kelas tiga SMP. Sebab orang-orang yang mencarinya tidak segan datang ke panti asuhannya dan membuat keonaran disana. Dan Sehun tak suka masalah pribadinya membuat orang-orang di sekitarnya ikut terseret.
Meski Suster Oh terus berkata tidak apa-apa tapi ia tahu bagaimana kesan yang ia dapat dari penghuni lain panti asuhan itu. Malam itu, ia memutuskan kabur dengan uang tabungan miliknya.
Sehun mendapat nama Oh Sehun dari Suster Oh. "untuk berjaga-jaga agar seseorang tak menemukanmu!" ujarnya dan Sehun hanya mengangguk ketika namanya berganti dari Zhang Shixun menjadi Oh Sehun.
Sehun menyayangi Suster Oh seperti ia menyayangi Ibunya, Bibi Hao dan Xiumin. Menurutnya mereka adalah orang-orang yang berharga baginya. Kecuali ayahnya. Ia melupakan bagaimana ayahnya dan dia berterima kasih untuk itu.
Sehun hidup sebatang kara dan ia mendapat uang dari jalan yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya. Ia terkadang mendapat tugas mencari orang, memukul orang, dan menarik hutang. Terkadang dia tanpa sengaja harus menghunuskan pisau pada tubuh seseorang tapi dalam hati ia selalu berharap orang itu tidak mati. Ia lebih senang jika orang itu mendatanginya untuk balas dendam daripada ia mendapat kabar orang itu meninggal.
Uang yang ia dapat ia kumpulkan untuk membayar keperluan sehariannya termasuk uang sewa rumah. Ia tak pernah memakainya untuk makan. Ia bisa mendapat makanan sisa dari Paman restoran di gang pasar belakang rumahnya. Laki-laki itu cukup baik dan masuk dalam list orang yang harus dilindungi oleh Sehun, mengingat bahwa tempat tinggalnya bukan tempat yang layak disebut tempat tinggal karena pertempuran yakuza sering terjadi disana.
Dan pertemuannya dengan Jongin malam itu merubah hidupnya. Menurut Sehun, berkat Jonginlah ia bisa kembali berkumpul kembali dengan keluarganya Bibi Hao dan Xiumin tentunya.
.
Jongin menjitak kepala Sehun dengan sangat keras ketika Sehun memilih meladeni Xiumin yang kesusahan bermain puzzle ukuran satu meter. Sehun melotot tidak terima, "aku sedang libur, Jongin! Dan tak seharusnya kau memukulku terus!" Jongin mendengus. Ia hanya kesal karena Sehun lebih memilih peduli pada gadis kecil itu daripada dirinya.
"Ujian sebentar lagi dan kau malah bermain-main. Kau sudah berjanji akan lulus tahun ini denganku!" keluh Jongin.
Xiumin menghentikan aktivitasnya. Ia memandang ke arah kakaknya yang terlihat tak peduli dengan rengekan Jongin. xiumin merasa tidak enak dan mendorong tubuh Sehun menjauh. Sehun mengenyit sekaligus terkejut. Ia menghela napas paham maksud adiknya.
Ia melirik tajam pada Jongin. ini pertama kalinya ia benar-benar merasa kesal pada Jongin, "apa kau tak bisa membiarkan aku bersama adikku barang sehari saja? Aku sudah menemanimu selama dua tahun terakhir! Apa salahnya jika aku menghabiskan waktu bersama Xiumin seminggu saja?"
"Kim Jongin! Aku membencimu!" Sehun menggendong tubuh Xiumin paksa. Terlihat gadis kecil itu meronta dan memandang tidak enak ke arah Jongin tapi Sehun sudah tidak peduli.
Ia masuk ke dalam kamar Xiumin dan mengunci kamarnya dari dalam, "nah, Xiumin! Kau ingin bermain apa? Atau adakah soal latihanyang tak kau mengerti? Kakak akan membantumu." Xiumin hanya diam. Dia memandang ke arah kakaknya tak mengerti.
Disisi lain Jongin masih menganga. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Bahkan saat Bibi Hao menyapanya dan memberitahunya bahwa makan malam sudah siap, Jongin sama sekali tak bergeming.
Jongin menatap nanar ketika Sehun melewatinya begitu saja. Semalam mereka berpisah ranjang. Ya, Sehun tak kembali ke kamarnya semalam dan memilih tidur dengan Xiumin. Sehun tak pernah semarah ini padanya? Apa dia benar-benar terlihat keterlaluan?
Jongin mengerucutkan bibirnya lalu mengekor Sehun kemana pun laki-laki itu pergi tak terkecuali ke kamar mandi. Sehun menghela napas. Semalaman ia tak bisa tidur karena merasa bersalah pada Jongin. Tak seharusnya ia berkata sekasar itu padanya.
"Maafkan aku!" ucap mereka berdua saat berdiri bersebelahan di depan wastafel kamar mandi. Mereka terdiam dan saling pandang cukup lama hingga akhirnya tawa mereka pecah. Bukankah ini kali pertama mereka saling berdiaman secara sungguhan?
"Oppa?" seorang muncul diambang pintu sambil mengucek kedua matanya yang masih terasa berat untuk dibukanya.
Mata Sehun melebar saat ia tersadar akan sesuatu. Xiumin, adiknya, akhirnya mengatakan sesuatu!
-xoxo-
Sehun bersenandung sambil menggandeng tangan adiknya erat. Ia berencana bolos hari ini dan Jongin tidak berkata apa-apa. Biasanya pemuda itu akan sangat cerewet untuk urusan sekolah tapi kali ini Jongin sepertinya mengerti situasi.
"Kau ingin aku membelikanmu apa?" tanya Sehun tapi Xiumin bukan menjawab ia hanya menunjuk kedai es kacang merah yang tak jauh dari tempat mereka berada. Sehun mengangguk mengerti.
"Bagaimana jika kita memakannya disini dan membungkusnya juga?" tanya Sehun dan Xiumin lagi-lagi hanya mengangguk dan tersenyum di balik topi.
Sehun merengut tapi ia bisa mengerti. Xiumin juga tak pernah menangis. Seingatnya gadis itu adalah gadis yang cengeng. Ia sudah bertanya pada Bibi Hao semuanya. Sejak Xiumin sadar dan mendapat luka itu, ia tak pernah mengeluarkan suaranya.
Itu karena Yifan memarahinya jika ia menangis dan berisik. Ini sudah tahun kelima sejak Xiumin mendapat lukanya. Sehun merendahkan tubuhnya menatap adiknya. Ia mencubit pipi Xiumin dan tanpa terasa air matanya menetes. Xiumin menatap kakaknya sedih, ia mengusap air mata Sehun.
"Jangan menangis, Oppa! Tuan Wu akan marah!" ucap Xiumin.
Ah, mereka memang tak pernah memanggil laki-laki itu dengan sebutan ayah. Karena menurutnya ia memang tak pantas mendapatkan sebutan itu dari mulut mereka. Bahkan laki-laki itu juga tak pernah menganggap Xiumin sebagai anaknya.
Air mata Sehun makin deras. Ia tidak peduli terhadap tatapan aneh orang sekitarnya. Ia sedang merasa sedih, lega, marah dan menyesal sekarang. Ia memeluk tubuh Xiumin dengan erat. Gadis itu masih bergumam pelan, menyuruhnya untuk tidak menangis lagi.
"Kau harus banyak bicara mulai sekarang! Dan apapun yang kau katakan Oppa pasti akan menurutinya!" ucap Sehun setelah ia merasa cukup mendramatisir kehidupannya.
Xiumin tersenyum dan mengangguk. Ia mengangkat jari kelingkingnya dan menarik tangan Sehun untuk melakukannya juga. sehun tersenyum mengerti, "aku janji!" kata Sehun dan membuat senyum Xiumin makin merekah.
.
Sehun terkejut ketika mendapati seseorang sedang duduk dengan tenang di meja makan bersama Bibi Hao. Wajahnya yang teduh mengulas senyum menyambut kedatangan mereka. ia beranjak dan mendekat ke arah Sehun yang membeku.
"Bagaimana Paman Joon, ah, ayah bisa sampai kemari?" tanya Sehun ketika laki-laki paruh baya itu sudah berdiri di hadapannya.
Xiumin menarik tangan kakaknya meminta kakaknya untuk memperhatikannya, "ayah?" tanya Xiumin dan membuat Sehun menelan ludahnya. Ia memandang sulit ke arah Xiumin. Ah, ia lupa ada Xiumin disini. Bagaimana ia bisa menjelaskannya pada Xiumin siapa Joonmyeon?
Joonmyeon tersenyum lalu berjongkok guna menyamakan tingginya dengan Xiumin, "benar, ini ayah! Maafkan ayah karena lama menjemputmu!" Joonmyeon mengelus rambut Xiumin lembut.
Terlihat mata gadis itu berkaca-kaca, "ayah! Ayah! Ayah! Aku takut!" tangis Xiumin pecah dan Joonmyeon dengan segera memeluk gadis itu.
Ia sudah mendengar semua yang terjadi pada Xiumin dari psikiater yang menangani Xiumin dan tentu saja dari Bibi Hao juga. Ia tentu saja mengenal Bibi Hao dengan baik karena wanita tua itu terkadang mengantar Yixing saat menemuinya.
Dia juga sudah tahu kenyataan yang sebenarnya tentang Sehun tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tak mempermasalahkannya, ia tetap masih menganggap Sehun adalah anaknya. Ini salahnya karena tak menjaga orang yang ia cintai dengan baik dan ia sangat tahu bagaimana usaha Yixing bertahan agar anak-anak itu bisa selamat dari Yifan.
Joonmyeon menangis dalam diam, minseok masih menangis meraung-raung dipelukan Joonmyeon, "menangislah, Xiu! Ayah bersamamu sekarang!" ucapnya.
Mulut sehun yang terbuka, tertutup kembali. Sebuah senyum terkulum di wajahnya. Ia membungkuk dalam-dalam di depan Joonmyeon, ia benar-benar berterima kasih pada orang di hadapannya itu. sangat-sangat berterimakasih.
"Aku akan mengurus surat kependudukan Xiumin!" kata Joonmyeon saat Xiumin terlihat sudah terlelap di bahunya karena lelah menangis. Joonmyeon memandang miris ke arah Xiumin, "ia pasti menanggungnya lama! Mungkin aku juga akan mengganti namanya jika kau tak keberatan. Menggunakan namanya sekarang sangat berbahaya."
Sehun mengangguk, "Suster Oh juga pernah mengatakannya pada saya dan mengganti nama saya!"
Joonmyeon memgendong Xiumin dan melangkahkan kakinya menuju lantai dua guna menidurkan Xiumin, "Kim Minseok!" celetuk Joonmyeon saat melihat Sehun mengekor dirinya, "bagaimana menurutmu? Apakah dia akan menyukai nama itu?" tanya Joonmyeon.
Sehun terkesiap. Ia memandang Joonmyeon dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia menunggu saat seperti ini tapi apa Jongin akan menerima Xiumin menjadi adiknya? Sedang setiap bertemu Xiumin, Jongin selalu menatap adiknya tak suka.
"Pulanglah, Sehun!" Sehun terkejut ketika suara ayahnya menyeruak kembali di telinganya, "rumah ini bagus tapi kau tak bisa terus menjaga adikmu disini karena letaknya terlalu jauh. biarkan dia tinggal di rumah utama."
"Dan yang utama, " Joonmyeon terlihat melotot ke arahnya sebelum memasuki kamar dengan label nama Xiumin Room – buatan Sehun, "jangan suka membolos sekolah! Kau bisa mengerjakan tugasmu setelah selesai sekolah! Aku tak suka kau membuatnya menjadi alasanmu membolos sekolah!" Sehun menunduk tapi juga senang. Terakhir kali ia dimarahi adalah oleh Suster Oh. Bahkan guru di sekolahnya kebanyakan terlihat cuek dengan yang dilakukannya.
Sejenak ia bersyukur dan bahagia. Hingga sesuatu mengusiknya. Sesuatu yang membuatnya memilih pilihan tersulit dalam hidupnya.
-xoxo-
