Session Talkshow
Bella : Akhirnya fanfic ini mencapai puncaknya yaitu chapter terakhir. Hayoo siapa yang sudah penasaran sama ending-nya?
Akira : Karena ini chapter terakhir author spesial buat panjang deh biar para readers puas bacanya.
Kazusa : Pastikan ruangan anda terang dan jangan membaca terlalu dekat ya.
Bella : Nih anak ngomong apa coba? -_-
Akira : Jadi minna~
All : Ini dia chapter terakhir Vampire Game *nebarin kemenyan*
Title : Vampire Game
Chapter 14 : Finally
Disclaimer : Kamichama Karin Chu © Koge Donbo
~Vampire Game~ © Bella-chan
Rated : T
Genre : Fantasy ; Mystery
Pairing : KazuRin
Warning : AU, OOC, typo, abal, gaje, alur kenceng, nggak nyambung, dll
Summary : "Kau dan aku sudah menjadi vampir." / "Karena seseorang meminta kami untuk melakukannya." / "Rasanya sudah lama sekali, aku tidak main kesini." / "Aku tahu kau pasti memiliki pertanyaan Karin. Tanyakanlah, aku akan menjawab semuanya." / "Hahahaha kerja bagus Akira, aku rasa aku akan cocok denganmu."
.
.
Please Enjoy Reading
.
.
~Vampire Game~
Karin POV
Aku membuka mataku perlahan-lahan dan mendapati diriku yang sudah terbaring di kamarku sendiri. Aku menatap langit-langit kamarku dengan pandangan kosong. "Apa semua itu hanya mimpi," gumamku lirih.
"Karin!" Tiba-tiba saja ada suara dan disertai suara pintu kamarku yang dibuka dengan kekerasan(?). "Wah, kau sudah bangun rupanya," ucap sosok manis berambut twintail panjang itu seraya tersenyum padaku.
"Akira," panggilku padanya.
"Nani?" balas Akira yang masih mempertahankan senyuman di wajahnya.
"Jadi kemarin itu bukan mimpi?" tanyaku padanya.
"Menurutmu bagaimana?" tanya Akira balik.
Aku hanya terdiam mendengar perkataannya. Aku sudah mengingat siapa Akira dan juga yang lainnya. Aku sudah bisa mengingat semua masa laluku. Kalau begitu berarti semua yang terjadi kemarin bukanlah mimpi.
"Aku tidak menyangka kau masih memiliki ini."
Aku langsung menoleh untuk menatap Akira dan mendapati dirinya sedang membuka-buka album masa kecilku. Yah, album yang aku temukan beberapa waktu lalu.
"Akira bagaimana kau bisa berada disini?" tanyaku penasaran.
"Entahlah aku juga tidak tahu pasti, tapi ketika aku terbangun aku sudah berada di rumah ini," jelas Akira tanpa menoleh ke arahku.
"Begitu ya," ucapku sambil menghela napas.
"Ya ampun, kenapa album fotomu terkesan horror sekali."
"Heh." Aku langsung menoleh menatap Akira. Benar juga, foto-fotoku dalam album fotoku kebanyakan terbakar tanpa sebab yang jelas.
"Pasti ini kerjaannya Kazune, kenapa dia tidak membuang album foto ini saja daripada harus repot-repot membakarnya segala."
Selanjutnya aku hanya menatap Akira yang masih sibuk melihat-lihat album fotoku. Entah kenapa Akira yang sekarang berada di hadapanku ini sudah kembali ke Akira yang dulu. Tidak seperti Akira yang beberapa waktu lalu datang ke sekolahanku sebagai murid baru.
"Akira, ada yang ingin kutanyakan padamu?"
"Soal apa?" Akira langsung menutup album fotoku dan segera duduk di sampingku.
Baru saja aku membuka mulutmu untuk berbicara, Akira sudah memotongnya. "Tunggu sebentar kalau kau ingin bertanya soal yang terjadi kemarin. Kau bertanya pada orang yang salah," ujar Akira.
"Maksudmu?" tanyaku sambil memiringkan kepalaku.
"Karena aku sendiri juga tidak tahu kejadian pastinya seperti apa. Yang aku tahu, aku mengejar vampir menyebalkan lalu bertemu kau. Lalu kita dihadang oleh sekumpulan oni. Kau kabur dan aku merasa tubuhku kesakitan. Setelah itu aku tidak ingat apapun. Yang terakhir kuingat aku melihat Miyon, Yuuki, Kazusa, dan juga Jin. Setelah itu aku benar-benar pingsan. Dan begitu sadar, aku sudah berada disini," jelas Akira panjang lebar.
Mulutku hanya bisa menganga mendengarkan ceritanya. Antara mengerti dan tidak mengerti. "Bisa kau perjelas maksud perkataanmu," pintaku.
Tampak Akira menghela napas. "Intinya aku tidak tahu menahu apa yang terjadi kemarin padaku dan padamu. Tapi ada satu hal yang aku tahu."
"Apa?" tanyaku penasaran.
"Kau dan aku sudah menjadi vampir," ucap Akira dengan mimik wajah serius. "Yah meskipun aku pada awalnya sudah menjadi vampir, tapi sekarang aku sudah tidak perlu takut lagi berubah menjadi oni. Begitu pun dengan kau."
"Tunggu sebentar. Kau bilang pada awalnya, tapi kau kan seorang manusia bukan vampir. Bagaimana bisa kau berubah menjadi vampir?"
"Agh ceritanya sangat panjang. Intinya dulu ada seorang vampir yang sudah seenaknya merubahku menjadi vampir," ujar Akira sambil mengibas-ngibaskan tangan kanannya.
"Lalu bagaimana denganku, darimana kau tahu aku seorang vampir?"
"Bukannya kau yang paling tahu bagaimana prosesnya," ucap Akira seraya tersenyum.
Blush
"Agh Karin, kenapa wajahmu memerah. Apa memang sudah terjadi sesuatu antara kau dan Kazune," goda Akira.
"Di-diamlah dan bagaimana kau bisa tahu soal itu!" seruku keras.
"Ups jadi benar ya telah terjadi sesuatu padahal aku hanya asal menebak lho."
"AKIRA….!"
"Maaf maaf, aku hanya bercanda kok. Aku bisa mengetahuinya dari darahmu. Tepatnya aku mencium darah Kazune yang berada di dalam tubuhmu. Jadi aku menyimpulkan kalau kau sudah diubah menjadi vampir oleh Kazune. Ck aku tidak akan mengampuni orang itu karena sudah seenaknya meminum darahmu," sewot Akira.
Aku hanya terdiam tanpa berniat membalas perkataan dari Akira. Tapi kalau dipikir-pikir. Aku juga mencium bau darah Kazusa dari tubuh Akira. Apa Kazusa juga melakukan hal yang sama seperti yang Kazune lakukan padaku meskipun dengan cara yang berbeda.
"Karin… Akira… cepat turun. Ada teman-temanmu datang!" seru Bibi yang memanggil kami berdua.
Aku dan Akira saling berpandangan setelah itu kami segera berebut untuk turun ke bawah untuk menemui tamu yang tak diundang ini.
"Miyon!" seruku.
"Yuuki!" seru Akira.
"Apa kabar kalian?" tanya Miyon ceria.
"Ba-" Mau saja aku ingin menjawab pertanyaan dari Miyon. Lagi-lagi perkataanku sudah dipotong duluan oleh Akira.
"Tak perlu basa-basi, untuk apa kalian kemari?" tanya Akira tajam. Sepertinya dia sudah kembali menjadi mode evil-nya(?).
"Ya ampun Akira, seperti biasanya kau selalu tidak sabaran," ucap Miyon sambil geleng-geleng kepala.
"Ara kalian masih disitu rupanya. Ayo duduk, Bibi sudah siapkan cemilan untuk kalian," ujar Bibi begitu masuk ke dalam ruang tamu sambil membawa nampan.
"Terima kasih Bi," ucap Miyon dan Yuuki sambil membungkuk. Setelah itu langsung duduk dan menyambar kue yang dihidangkan.
Aku dan Akira hanya bisa melongo melihat tingkah kedua teman kami ini. Hanya beberapa menit saja mereka sudah menghabiskan setengah dari kue yang dihidangkan. Bibiku hanya tersenyum melihat kuenya laris. Setelah puas memakan kue, Miyon dan Yuuki kembali angkat bicara.
"Kami kesini mau minta maaf padamu Karin. Karena aku tidak memberitahumu sejak awal tentang kenyataan yang sebenarnya," ucap Miyon sambil menundukkan kepalanya.
"Aku juga, aku juga ikut terlibat dalam masalah ini," tambah Yuuki.
Aku hanya terdiam mendengar perkataan dari kedua sahabatku ini. Ada rasa kesal dan marah yang menyelimuti hatiku begitu tahu mereka sudah menyembunyikan masa laluku dariku. Bagaimana pun, selama ini aku selalu mempercayai mereka sebagai sahabatku. Aku tak menyangka mereka menyembunyikan hal sebesar ini dariku.
"Aku juga minta maaf, meski aku memang berniat memberitahumu sebelumnya. Tapi tetap saja, sejak awal aku tidak mengatakan sebenarnya dan malah ikut bermain dalam drama yang dibuat oleh mereka," terang Akira dengan nada menyesal.
"Mereka tidak salah Karin, mereka hanya mencoba melindungimu. Mereka tidak mau membuatmu mengalami trauma seperti dulu. Jujur saja Bibi juga sudah menyembunyikan hal ini darimu selama bertahun-tahun. Bahkan Bibi sampai membawamu pergi dari kota ini setelah peristiwa itu. Karena Bibi tidak mau melihat wajah sedihmu Karin," ujar Bibi seraya mengusap puncak kepalaku dengan lembut.
"Bibi…," ucapku dengan nada bergetar. Mataku mulai terasa panas. Sepertinya aku mau menangis.
"Gomen Karin, kami benar-benar minta maaf. Kami tahu perbuatan kami salah dan kau memang pantas untuk marah atau benci pada kami. Tapi kami hanya… kami hanya…"
"Kami hanya tidak mau melihatmu terluka lagi Karin karena kami semua sayang padamu," ujar Yuuki melanjutkan perkataan Miyon yang terputus.
Aku tahu itu. Aku tahu. Mereka semua terlalu peduli padaku. Terlalu mencemaskanku. Memang saat ini aku terluka dan sedih. Tapi aku senang mereka berada disisiku untuk menemaniku. Bagiku itu sudah cukup menutupi kekesalanku pada mereka. Karena aku sayang pada mereka semua.
"Hiks hiks hiks…" Tanpa sadar air mataku mulai jatuh melewati kedua pipiku. Sontak saja mereka memandangku dengan raut wajah khawatir.
"Karin maaf," ucap Miyon lirih. Kelihatannya ia juga ingin menangis.
Aku segera menggelengkan kepalaku dengan cepat. "Tidak perlu, justru aku memaafkan kalian semua kok," ucapku sambil berusaha menunjukkan senyuman terbaikku pada mereka.
"Karin…. Arigatou." Sontak saja Miyon langsung memelukku membuatku sedikit terkejut.
"Aku benar-benar takut. Karin akan membenci kami karena ini. Tapi syukurlah, semua baik-baik saja," ujar Miyon disertai tangisannya.
Aku membalas pelukan Miyon. "Aku tidak akan membenci Miyon dan yang lain karena hal ini kok."
Akira, Yuuki, dan Bibi yang melihat kami berdua langsung tersenyum lega. Satu beban sudah terangkat dari benak mereka semua.
"Karin setelah ini kau mau ikut denganku?" tanya Miyon begitu melepaskan pelukannya dari Karin.
"Kemana?" tanyaku penasaran.
"Kau akan segera tahu nanti. Jadi cepatlah bersiap-siap!" seru Miyon yang sudah kembali bersemangat. "Kau juga ikut Akira," tambah Miyon seraya menatap Akira.
"Hah, baiklah. Sepertinya aku juga punya urusan yang harus diselesaikan," ujar Akira sambil mengedikkan bahu.
"Kalau begitu cepatlah kalian bergegas. Jangan membuat Miyon dan Yuuki menunggu lama!" seru Bibi sambil memaksa kami untuk segera bergegas.
"Miyon Yuuki, kalian tunggu sebentar ya. Kami tidak akan lama," ucapku yang setelah itu langsung bergegas menuju ke kamarku bersama dengan Akira.
Miyon dan Yuuki hanya mengangkat kedua jempolnya. "Siap bos!" seru mereka serempak.
~Vampire Game~
Normal POV
Skip Time
Sekarang Karin, Miyon, Yuuki, dan Akira sudah sampai di depan sebuah rumah atau bisa disebut mansion megah dengan halamannya yang luas dan dipenuhi oleh aneka macam bunga dan pagar yang menjulang tinggi yang berdiri kokoh di depan mereka.
"Miyon, ini kan rumahnya…"
"Agh sepertinya kau masih mengingatnya Karin," ucap Miyon seraya menoleh ke arah Karin.
"Kenapa kau mengajakku kesini?" tanya Karin bingung.
"Karena seseorang meminta kami untuk melakukannya," jawab Yuuki enteng.
"Apa aku juga termasuk?" tanya Akira tiba-tiba.
"Terutama kau Akira. Kami bahkan harus memaksamu jika kau menolak untuk ikut," ujar Miyon tajam.
"Egh sepertinya firasatku tidak enak nih," ucap Akira dengan berpura-pura ketakutan.
Tampak Miyon dan Yuuki terkikik geli melihat tingkah Akira. Sedangkan Karin, ia masih menatap rumah di depannya ini.
"Rasanya sudah lama sekali, aku tidak main kesini," ucap Karin lebih kepada dirinya sendiri.
"Karin, kau tidak apa-apa. Maaf kami tidak bilang padamu kalau kita akan kesini," ucap Miyon.
"Jika kau merasa belum siap. Kita bisa pulang kok, nanti aku akan bilang pada mereka kalau kau sedang tidak enak badan," usul Yuuki.
"Kecuali kau Akira. Kau harus masuk dan jelaskan apa maksud perbuatanmu selama ini pada mereka," ucap Miyon tajam.
"Baiklah, kurasa aku tak punya pilihan lain. Lagipula aku berhutang budi pada gadis itu," ucap Akira cuek.
"Daijobou, aku sudah siap kok."
"Karin…"
"Cepat atau lambat aku harus menghadapi kenyataan. Aku tak mau terus-terusan terbelenggu dengan masa laluku," ujar Karin yakin.
"Baiklah kalau kau bilang begitu. Kita masuk!" seru Yuuki sambil membuka pagar yang rupanya tidak terkunci itu.
"Kami akan melindungimu Karin. Jadi kau tak perlu khawatir," ucap Miyon sambil tersenyum.
"Arigatou," balas Karin seraya tersenyum.
Mereka berempat segera masuk ke halaman depan melewati jalan setapak yang menuju ke pintu utama dari rumah itu. Baru saja Yuuki akan membuka pintu itu. Pintu itu sudah terbuka dengan sendirinya. Mereka segera memasuki rumah itu. Meski luarnya terlihat indah dan bagus bagaikan istana di negeri dongeng. Tapi begitu masuk ke dalam kau akan mendapatkan kesan seperti memasuki rumah hantu. Karena ruangan itu begitu gelap sekali. Hanya ada lilin-lilin yang dipasang di sepanjang dinding untuk menyinari jalan yang kami lalui
"Rasanya aku benar-benar masuk ke dalam dunia vampir," ujar Miyon sambil memegang lengan Yuuki dengan erat. Sepertinya gadis toska satu ini kelihatan ketakutan dengan tempat gelap.
"Hunter dengan sukarela masuk ke sarang vampir. Benar-benar menarik," ucap Akira seraya menyeringai.
Karin hanya bisa bergidik ngeri melihat ekspresi Akira. Jujur saja dia sendiri pun takut sekali dengan kegelapan. Mengingatkannya dengan peristiwa kemarin. Tapi berhubung ini dilakukan ramai-ramai. Jadi rasa takut Karin setidaknya berkurang.
"Egh disana ada pintu!" seru Yuuki sambil menunjuk sebuah pintu yang sedikit terbuka. Sontak saja tanpa pikir panjang mereka berempat segera menuju ke sana.
Duar
Duar
Tiba-tiba saja ada banyak kertas confetti warna-warni yang jatuh di atas kepala Karin, Miyon, Yuuki, dan juga Akira. Rupanya pelaku dari penyebaran confetti itu tidak lain dan tidak bukan adalah Micchi dan Jin.
"Selamat datang di rumah kami," ucap Himeka yang langsung menyambut mereka dengan senyumannya yang ramah.
"Kami sudah menyiapkan makanan untuk kalian semua," tambah Kazusa.
"Hah!" Hanya satu kata itu yang keluar dari mulut keempat makhluk ini. Apalagi ditambah ekspresi bingung, cengo, bloon, sweatdrop, speechless dan kaget.
(Bella : Coba bayanging sendiri seperti apa ekspresi mereka XD)
"Kalian mengundang kami kesini hanya untuk makan?" tanya Miyon mewakili ke-cengo-an teman-temannya.
"Iya, bukannya Kazusa sudah memberitahumu?" tanya Kazune balik.
Miyon langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak, ia tidak bilang padaku."
"Hehehe sepertinya aku lupa mengatakannya." Kazusa langsung nyengir tanpa dosa begitu merasa dirinya di death-glare oleh kakak kembarnya.
"Hah sudahlah," ucap Kazune sambil menghela napas. Setelah itu ia menatap Akira, Miyon, Yuuki, dan yang terakhir tentu saja Karin. "Terima kasih kalian sudah mau datang. Dan silahkan duduk, nikmati saja hidangan yang kami sediakan ini," ucap Kazune seraya tersenyum lembut.
Sontak saja Karin, Akira, Miyon, dan Yuuki kaget. Kazune tersenyum, sepertinya dunia sudah mau kiamat.
(Kazusa : Lebay amat -_-)
(Bella : Hiperbola dikit nggak apa-apa kan)
Tidak hanya Kazune saja. Kazusa, Himeka, Micchi, dan Jin juga melakukan hal yang sama pada mereka yaitu tersenyum.
(Bella : Selamat hari senyum#langsung digampar Kazusa)
(Kazusa : Mana ada hari senyum?!)
Tapi Karin, Akira, Miyon, dan Yuuki tampak tidak bergeming sedikitpun. Mereka masih terpaku di tempat dengan sejuta pertanyaan di benak mereka masing-masing.
"Daijobou, semuanya sudah berakhir. Jadi bisakah kita segera menikmati hidangan ini. Jujur saja perutku sudah lapar," ucap Kazune sambil memasang wajah memelas.
(Bella : Wkwkwkwk nggak bisa bayangin gimana wajahnya Kazune yang memelas. Agh pasti kawaii…)
(Kazune : Urusai#langsung nendang author)
"Yeay makan makan!" seru Micchi sambil mengambil tempat duduk di samping Himeka.
"Dasar rakus," omel Jin seraya duduk di samping Kazusa.
"Agh sudahlah, tidak baik mengabaikan makanan di depan kita," ucap Akira cuek sambil duduk di samping Jin.
"Sepertinya begitu," ucap Miyon yang langsung menarik Yuuki dan segera duduk di samping Micchi dengan Yuuki di sebelahnya.
Sedangkan Karin, dia sendiri masih menatap Kazune dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Karin, cepatlah duduk!" seru Akira menyadarkan Karin. Karin pun segera mengambil tempat di samping Akira.
"Nah, kalau begitu selamat makan!" seru Micchi yang bersiap-siap untuk mengambil potongan ayam di depannya. Tapi sebuah tangan langsung mencegahnya.
"Micchi, tidak bisakah kau tunggu sebentar. Kurasa ada yang ingin dikatakan oleh Karin," omel Himeka.
"Agh gomen," sesal Micchi.
"Aku tahu kau pasti memiliki pertanyaan Karin. Tanyakanlah, aku akan menjawab semuanya," ujar Kazune seraya menatap Karin.
"Benarkah," gumam Karin lirih. "Kalau begitu, kenapa dulu kau menghapus ingatanku. Setelah beberapa tahun berlalu, kita akhirnya bertemu kembali. Tapi kalian malah bersikap seolah tidak mengenalku sebelumnya. Kenapa… kenapa kalian tidak jujur padaku?"
Semua yang ada disana langsung menatap sendu ke arah Karin termasuk juga Kazune. Rasa bersalah mulai menyelimuti benaknya.
"Aku merasa orang bodoh saja yang tidak tahu apa-apa. Bahkan masa laluku sendiri aku tidak ingat. Apa hanya aku satu-satunya yang tidak tahu menahu apa yang sebenarnya terjadi!" seru Karin keras.
"Karin tenanglah," ujar Akira berusaha menenangkan Karin.
"Pertama alasan kenapa aku menghapus ingatanmu adalah karena aku tidak mau kau terlibat lagi dengan kami, para vampir. Tapi pada akhirnya niat kami gagal karena kau mengetahui rahasia kami dan jadi terlibat dengan kami," jelas Kazune seraya menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi.
"Kedua alasan kenapa kami bersikap seolah kami tidak mengenalmu sewaktu kau menjadi murid baru di sini sama dengan yang pertama. Kami tidak ingin kau terlibat lagi dengan kami tapi entah itu permainan takdir atau apa. Kau berkenalan dengan Himeka dan selanjutnya kau mengenal kami semua." Kazune menarik napas panjang setelah itu ia kembali melanjutkan penjelasannya. "Dan yang terakhir alasan kenapa kami tidak jujur. Itu karena kami egois Karin, kami tidak mau membuatmu menjadi membenci kami tepatnya makhluk seperti kami. Hal itu kami lakukan semata-mata karena kami sayang padamu Karin," ujar Kazune seraya tersenyum pada Karin.
"Tapi ujung-ujungnya kau membenci kami juga setelah semua yang sudah terjadi. Hanya kata maaf yang bisa kami ucapkan. Maafkan kami," lanjut Kazusa.
"Maaf," ucap Himeka dengan raut wajah seperti ingin menangis.
"Aku juga minta maaf," ucap Micchi sambil menundukkan kepala.
"Maaf juga," sesal Jin.
"Maafkan kesalahan dan kebodohan kami Karin. Saat itu kami benar-benar tidak punya pilihan lain. Jadi maafkan kami," ucap Kazune sedih.
"Karin."
Karin langsung mendongak dan mendapati Miyon dan Yuuki tengah tersenyum padanya.
"Karin, semuanya akan baik-baik saja," ucap Akira sambil menganggukkan kepalanya yakin.
Karin kembali menundukkan kepalanya seraya meremas ujung roknya. "Aku… aku terima permintaan maaf kalian," ucap Karin sambil memalingkan wajahnya.
Sontak saja wajah Kazune, Kazusa, Himeka, Micchi, dan Jin langsung sumringah. Termasuk juga Akira, Miyon, dan Yuuki yang tersenyum lega mendengarnya.
"Arigatou Karin," ucap Kazune mewakili teman-temannya.
"Kami janji tidak akan mengecewakanmu lagi," ucap Kazusa sambil mengangkat jempolnya.
"Kalau begitu saatnya kita makan!" seru Micchi yang langsung mengambil potongan ayamnya yang tadi gagal diambilnya dan memakannya dengan lahap.
Semuanya langsung tertawa melihat tingkah konyol Micchi. Setelah itu mereka juga mengikuti jejak Micchi untuk segera menikmati aneka hidangan yang sudah disajikan di depan mereka.
"Oh ya ngomong-ngomong aku juga minta maaf pada kalian. Selama ini aku sudah berprasangka buruk pada kalian!" seru Akira tiba-tiba. Ada rasa penyesalan yang terlukis di raut wajahnya.
"Agh tidak perlu dipikirkan. Kami tidak pernah menganggapmu musuh atau apa," ucap Kazune enteng.
"Yah, kami sudah menganggapmu seperti teman kami sendiri," tambah Kazusa seraya tersenyum penuh arti pada Akira.
"Hmm… untuk yang kemarin arigatou sudah menolongku," ucap Akira kikuk.
"Tenang saja, berkat itu aku mengalami kejadian yang menarik," ucap Kazusa sambil mengedipkan sebelah matanya.
Untuk beberapa saat Akira bingung dengan perkataan dari Kazusa. Tapi begitu melihat wajah Jin yang merona. Akira langsung paham maksud Kazusa. "Begitu rupanya syukurlah, aku doakan kalian awet," goda Akira sambil menyenggol bahu Jin.
Sontak saja Jin langsung tersedak. Setelah minum air, Jin langsung menoleh menatap Akira. "Apa maksudmu, kami tidak jadian!" seru Jin. "Setidaknya belum," tambah Jin yang wajahnya sudah seperti kepiting rebus.
"Hahahaha kerja bagus Akira, aku rasa aku akan cocok denganmu," ucap Kazusa seraya bertos ria dengan Akira. Jin langsung melotot pada Kazusa sedangkan Kazusa sendiri hanya tersenyum manis kepada Jin yang berhasil membuat Jin tambah blushing.
Sedangkan yang lain yang sedari tadi hanya menjadi penonton hanya bisa menggelengkan kepalanya seraya menikmati makanan mereka masing-masing.
"Karin soal orang tuamu. Aku benar-benar tidak tahu menahu."
"Sudahlah Kazune, aku tidak mau membahasnya lagi. Masa lalu biarkanlah berlalu. Aku tak mau terus-terusan terbelenggu dalam masa laluku. Jadi jangan ungkit-ungkit masalah itu lagi," ujar Karin seraya tersenyum.
"Baiklah."
"Hah aku tidak menyangka kita bisa berkumpul seperti ini. Rasanya seperti sulit dipercaya mengingat kami hunter dan kalian vampir!" seru Miyon tiba-tiba.
"Iya, benar-benar tidak diduga hal seperti ini akan terjadi," tambah Himeka.
"Tapi tunggu sebentar. Kalau Akira sekarang sudah berubah menjadi vampir bangsawan. Kau akan memihak pada hunter atau vampir?" tanya Yuuki.
Semuanya langsung menoleh menatap Akira. "Hmm bagaimana ya enaknya~" goda Akira berniat membuat gemas pada yang lain. "Tentu saja aku akan tetap menjadi hunter. Lagipula masih ada satu vampir yang harus aku basmi," sambung Akira geram hingga membuat sendok di tangannya terbelah menjadi dua.
Semuanya langsung bergidik ngeri melihat Akira dan kembali melanjutkan aktivitas makannya.
Di suatu tempat
"Hatcchhiii." Niimi langsung menutup hidungnya dengan sapu tangan. "Sepertinya ada yang sedang membicarakanku."
~Vampire Game~
"Minna, ayo kita main death game!" seru Micchi begitu mereka selesai makan.
"Ayooo!" seru Jin bersemangat.
"Kalian juga harus ikut?" pinta Himeka pada Karin, Akira, Miyon, dan Yuuki.
"Baiklah, aku ikut!" seru Karin.
"Kalau Karin ikut, aku juga ikut!" seru Miyon.
"Aku juga," ujar Yuuki.
"Sepertinya menarik, baiklah aku ikut," ucap Akira.
"Kazune Kazusa, kalian ikut kan?" pinta Himeka dengan puppy eyes andalannya.
"Baiklah kali ini aku ikut," ucap Kazusa seraya tersenyum.
Semuanya menatap ke arah Kazune, menanti jawaban dari Kazune. "Iya ya aku ikut," ucap Kazune pada akhirnya.
"Yeeaayyy!" sorak mereka (-Kazune, Kazusa, dan Akira) serempak.
Setelah mempersiapkan segalanya. Mulai dari pion, papan, kartu hukuman, dan urutan mainnya. Akhirnya tibalah waktunya untuk bermain.
"Oke minna, kalau begitu kita mulai permainannya. Death game start!"
.
.
END
.
.
~OMAKE 1~
Normal POV
Kazune sedang menikmati semilir angin di beranda rumahnya. Setelah bermain death game tadi yang tentu saja dimenangkan olehnya setelah mengalami pertarungan sengit dengan Akira dan Jin. Sekarang ini teman-temannya sedang karaokean di ruang keluarga. Berhubung Kazune tidak menyukai suasana yang berisik ia memilih balkon rumahnya untuk menikmati keheningan malam. Agh sesuatu yang sangat Kazune sukai. Ketenangan.
"Kazune, kau disini rupanya?"
Kazune langsung menoleh ke belakang dan mendapati sosok Karin yang sedang berdiri di ambang pintu balkon.
"Yah, aku tidak suka suasana yang bising," jawab Kazune apa adanya.
Karin hanya ber-oh ria menanggapinya lalu memposisikan dirinya berdiri di samping Kazune seraya ikut merasakan angin malam yang menerpa wajah dan rambutnya dengan lembut.
"Kau dan teman-temanmu tidak pulang. Bukannya ini sudah larut malam?" tanya Kazune.
"Ohh Akira sudah meminta ijin pada Bibi untuk menginap di sini. Begitu juga dengan Miyon dan Yuuki," jawab Karin.
"Sepertinya mereka cepat akrab. Syukurlah kalau begitu," ucap Kazune sambil menghela napas lega.
"Iya," ucap Karin seraya tersenyum tapi tanpa menoleh ke arah Kazune.
Hening. Itulah yang dirasakan oleh Kazune dan Karin. Tidak satupun dari mereka yang berbicara lagi. Mereka berdua sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Maaf Karin/Kazune," ucap mereka berbarengan.
Mereka hanya bisa melongo menatap satu sama lain. Setelah itu gelak tawa mulai memecah keheningan di antara mereka. "Hahahaha…"
"Haha… tadi kau mau bicara apa?" tanya Kazune begitu berhasil mengendalikan tawanya.
"Tidak, Kazune dulu. Tadi kau ingin bicara apa?" tanya Karin balik.
"Baiklah kalau begitu aku mau minta maaf soal kejadian kemarin," ucap Kazune seraya menundukkan kepalanya.
"Seharusnya aku yang minta maaf, karena kemarin aku sudah menampar Kazune bahkan sampai tidak mempercayai Kazune," sesal Karin.
"Tidak kok, aku memang pantas mendapatkannya. Berbeda denganku, kemarin aku sudah melakukan hal buruk padamu," ujar Kazune.
"Hal buruk apa maksudmu?" tanya Karin berpura-pura bingung.
"Egh yah pokoknya hal yang tidak mengenakkan," ucap Kazune seraya menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
"Memangnya hal seperti apa?" tanya Karin dengan wajah polosnya. Tentu saja ini juga akting.
"Ya ampun Karin, masak aku harus mengatakan hal itu padamu," ucap Kazune dengan wajah memelas.
"Kalau kau tidak bilang, aku mana ngerti maksudmu apa," ujar Karin pura-pura kesal.
"Arrgghhh baiklah maksudku soal ciuman itu. Aku benar-benar kehabisan akal saat itu agar kau mau meminum darahku. Cuma hal itu yang terlintas di pikiranku. Jadi maafkan aku," ucap Kazune seraya memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya.
"Bagiku, Kazune pantas mendapatkannya kok," sahut Karin.
"Egh!" Kazune langsung menoleh untuk menatap Karin dan
Cup
Karin mencium bibir Kazune. Sontak saja mata Kazune langsung membulat, tidak menyangka Karin akan seagresif ini. Tapi tak urung juga ia membalas ciuman itu dengan lembut. Mereka berciuman cukup lama sampai ada sebuah suara yang mengintrupsi mereka.
"Kau hebat Akira, bagaimana kau bisa tahu bakal ada adegan kayak gini," ujar Micchi.
"Tentu saja karena aku diberi tahu oleh author," ucap Akira.
"Himeka, kau sudah memfotonya kan?" tanya Kazusa.
"Tentu saja," ucap Himeka sambil menunjukkan hasil jepretannya.
"Aku tak menyangka Karin bisa seangresif ini, seperti bukan dirinya saja," ucap Miyon sambil menghela napas.
"Kenapa kau juga mau," balas Yuuki seraya tersenyum yang sontak saja membuat wajah Miyon memerah.
"Ckckc kalau kalian pacaran, jangan disini dong," ejek Jin.
Tanpa mereka sadari kedua makhluk yang sedari tadi menjadi bahan pengamatan sudah berdiri di depan mereka. "KALLIIIAAANNNN MAAATTIII!" seru Kazune dan juga Karin dengan aura membunuh.
"Saatnya kabur!" seru Kazusa yang langsung kabur dan segera diikuti oleh Akira, Jin, Himeka, Micchi, Miyon, dan Yuuki. Seakan tidak mau kehilangan mangsanya. Kazune dan Karin langsung mengejar mereka. Akhirnya terjadilah kejar-kejaran antara mereka di kediaman Kazune.
~OMAKE 2~
Normal POV
Keesokan paginya…
Setelah terjadi insiden kejar-kejaran kemarin. Akhirnya mereka memutuskan untuk menjadikan pagi ini sebagai pagi bersih-bersih(?).
"Arrghhh Kazune, aku masih ngantuk. Bersih-bersihnya nanti saja ya~" rengek Micchi.
"Salah siapa coba yang sudah membuat rumah ini jadi berantakan. Heh!" seru Kazune dengan aura membunuh.
"I-iya, aku bersih-bersih sekarang," ucap Micchi yang langsung menyapu seluruh ruangan.
Kazune menghela napas panjang. Rasanya sudah lama rumahnya tidak seramai ini. Biasanya ia hanya tinggal bertiga dengan Kazusa dan Himeka. Pelayan mereka hanya datang setiap satu minggu sekali untuk membersihkan rumah. Kalau urusan memasak atau apa. Kazusa dan Himeka lah yang biasanya mengerjakannya. Di saat semuanya sedang sibuk membersihkan rumah. Tampak Akira yang sedang mengamati sebuah foto yang dipajang di atas laci. Karena penasaran, Kazune menghampirinya.
"Gadis ini…" ucap Akira seraya mengambil foto tersebut untuk mengamatinya lebih dekat.
"Gadis itu kenapa?" tanya Kazune yang sudah berdiri di belakang Akira. Sontak saja Akira langsung terkaget-kaget dan membalikkan badannya untung menghadap Kazune.
"Kau menganggetkanku saja," sewot Akira.
"Gadis itu kenapa?" tanya Kazune lagi mengulangi pertanyaannya.
"Tidak," ucap Akira seraya meletakkan kembali foto tersebut. "Hanya saja gadis itu yang sudah membunuh orang tuaku," ucap Akira sendu. "Dan dia juga yang sudah mengubahku menjadi vampir," lanjutnya.
"Aku turut berduka cita," sesal Kazune.
"Kau tahu, gadis inilah yang mengatakan padaku kalau pembunuhan yang terjadi tujuh tahun lalu adalah ulah dari ayahmu," terang Akira.
"Apa?! Ayahku tidak mungkin melakukan itu!" bantah Kazune.
"Aku tahu," ucap Akira seraya tersenyum.
"Jadi karena itu kau jadi sangat membenci kami," tebak Kazune.
"Yah, dia sudah menghasutku dan memintaku untuk membalaskan dendamku pada kalian terutama padamu Kazune," jelas Akira. "Tapi aku sadar selama ini aku telah salah menilai kalian. Kalian vampir yang baik tidak seperti vampir di bayanganku selama ini. Pantas saja Karin bisa berteman baik dengan kalian," lanjut Akira.
"Jadi sekarang ini kau dendam pada gadis ini?" tanya Kazune memastikan.
Akira hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Tidak, aku tidak mau dendam pada siapapun. Aku sudah capek tapi satu hal yang aku yakini," ucap Akira sambil menerawang.
"Apa?"
"Gadis itu punya niat yang jahat padamu Kazune, aku yakin dia tidak akan berhenti sampai disini," ujar Akira memperingati.
"Kalau soal itu aku tahu pasti, dia tidak akan menyerah begitu saja," ujar Kazune seraya tersenyum.
Akira terdiam untuk beberapa saat. "Agh sepertinya aku tidak perlu khawatir padamu," ucap Akira sambil beranjak pergi dari situ. "Tapi satu hal yang kau perlu ketahui Kazune, vampir yang bernama Niimi itu aku rasa memiliki keterkaitannya dengan gadis itu."
"Begitu juga dengan kau," ucap Kazune tiba-tiba.
"Hah?" Akira langsung menoleh menatap Kazune dengan tatapan bingung.
"Bukan apa-apa, aku hanya asal bicara. Dan terima kasih atas informasinya," ucap Kazune yang setelah itu langsung pergi meninggalkan Akira yang masih terbengong-bengong.
~OMAKE 3~
Normal POV
"Benar-benar hunter tidak berguna. Seharusnya dari dulu aku bunuh saja dia langsung. Aku pikir dia bisa melakukan sesuatu untukku," ujar Rika geram.
"Gadis itu tidak segampang itu kau bodohi," ucap Niimi berargumen.
"DIAMLAH KAU?!
Prang
Barang-barang disana langsung jatuh berserakan. Melihat itu Niimi langsung bungkam seribu bahasa. Dia tidak berani membantah perintah vampir Blackrose atau dia akan mati.
"Tapi tak apa aku memang tidak terlalu berharap banyak pada gadis itu. Niimi panggilkan orang itu!" perintah Rika.
"Siapa?" tanya Niimi bingung.
"Apa anda memanggil saya nona."
"Hah kau sudah disini rupanya. Aku minta kau bunuh orang yang ada di foto ini," ucap Rika seraya melemparkan selembar foto pada orang itu. Yang langsung ditangkap dengan baik oleh orang itu.
"Terserah bagaimana caramu untuk membunuhnya. Yang pasti lakukan perintahku ini dengan baik!" seru Rika tegas.
"Baiklah nona, perintah anda adalah tugas bagiku," ucap sosok itu seraya menyeringai. Menampilkan kedua taringnya dan kedua matanya yang berawarna merah seperti ruby. Setelah itu gadis itu langsung menghilang bagai ditelan kegelapan.
Rika langsung duduk di sofanya kembali. "Niimi bawakan aku manusia lagi. Sepertinya aku ingin meminum darah manusia," ujar Rika.
"Baiklah," sahut Niimi seraya berjalan keluar ruangan. "Orang itu kalau tidak salah…"
.
.
Really END
.
.
Please Review
Session Talkshow
Bella : Yosh, akhirnya selesai juga fanfic Vampire Game (menangis terharu)
Kazusa : Author berhasil, author sudah menyelesaikan fic ini dengan tepat waktu.
Bella : Yap betul, karena setelah ini mungkin Bella bakal hiatus beberapa saat.
Karin : Huwee author mau pergi kemana?
Bella : Bella akan pergi ke tempat yang jauuuuuhhhh seeekkaaallliiiii (sok puitis)
BLETAK
Akira : Lebay amat, author hiatus karena ada kepentingan dengan sekolahnya.
Niimi : Yap, karena author bakal tidak konsen belajar kalau masih sibuk ngurus ficnya.
Yura : Iya.
Kazune : Akhirnya kita bisa dapat cuti juga selama author hiatus.
Micchi : Setuju!
Bella : Yah anggap saja itu hadiah dari Bella karena kalian sudah memainkan peran dalam fic ini dengan baik.
Himeka : Author hiatus berapa abad?
Bella : Hah, nggak selama itu kok. Paling lama mungkin satu setengah bulan. Paling cepat mungkin satu bulan. Tapi Bella masih aktif di ffn tapi sebagai reader bukan writer.
Jin : Maunya -_-
Kazusa : Author, aku mau protes soal omake-nya?
Bella : Apa Kazusa-nyan? (sok imut)
Kazusa : (langsung muntah)
Jin : Iya juga ya, ada yang ganjil. Kalau fic ini sudah tamat. Kenapa omake-nya gantung akhirannya.
Niimi : Peranku juga dikit banget disini T.T
Bella : Hehehehe itu karena Bella ada rencana buat bikin session duanya.
Akira : Memangnya anime ada sessionnya segala -_-
Bella : Tapi itu baru rencana. Kalau nggak kesampaian yah Bella ceritakan saja lewat fic Bloody Vampire. Gampang kan#digampar readers.
Micchi : Yah kirain beban kita akan berkurang.
Jin : Fanfic author yang lain juga ada yang belum lunas.
Bella : Gomen gomen, makanya kalian Bella kasih cuti selagi Bella hiatus. Setelah hiatus, bersiap-siaplah kalian untuk Bella kerja rodi lagi. Khuhuhuhu (tawa evil)
Akira : Sabar ya~ (ngeledek para chara KK)
Bella : Termasuk OC Bella juga.
Micchi : Hahaha yang sabar ya neng (menjulurkan lidah ke Akira)
Akira : (cemberut)
Bella : Oh ya Bella kemarin-kemarin iseng gambar tokoh OC-nya Bella. Kalau kalian tertarik silahkan mampir di blog Bella yaitu dreamingistrue()blogspot()com. Kurungnya diganti titik ya.
Jin : Author malah promosi disini. Sedih ya yang follow blognya sedikit.
Bella : Wah jangan buka aib dong.
All (-Bella) : Jadi bener ya (sweatdrop berjamaah)
Bella : Jadi minna siapa yang pengen fic ini dilanjutkan ke session duanya angkat kedua kaki kalian!
Kazusa : Mana bisa, author aneh-aneh saja.
Bella : Gomen-gomen Bella cuma bercanda. Oke untuk yang terakhir kalinya Bella mau ucapin banyak terima kasih untuk kalian yang sudah mendukung dan menyemangati Bella sampai saat ini.
Kazusa : Dan yang sudah mem-fav dan mem-follow fic ini. Arigatou~
Himeka : Arigatou minna.
Bella : Oh ya Bella punya tebakan untuk kalian.
Akira : Apa author?
Bella : Coba tebak siapa orang yang dimaksud di omake 3!
Kazusa : Yang disuruh sama Rika itu.
Bella : Yap.
Karin : Niimi, kau tahu siapa orangnya?
Bella : Aghhh Mi-chan jangan kasih tahu! (mulai panik)
Karin : Heh jadi beneran tahu ya. Siapa? Siapa?
Niimi : Hi-mit-su (sambil mengedipkan sebelah matanya)
Bella : Kyaa Mi-chan kawaii (langsung meluk Niimi) Nah itu tugas kalian para readers untuk menebak-nebak siapa orangnya!
Niimi : Jawabannya bakal author umumin di fic bloody vampire.
Bella : Ini cuma buat asyik-asyikan saja. Jadi kalau kalian nggak ikut jawab juga nggak apa-apa. Tapi lebih bagus kalau kalian ikut berpatisipasi.
Kazune : Jangan mau disuruh-suruh sama author satu ini.
Bella : Diem kau bocah penakut serangga!
Akira : Kayak author juga nggak takut sama serangga (sweatdrop)
Bella : Huweee… jadi ini terakhir kalinya kita bertemu dong T_T
Jin : Author lupa, kita masih bisa ketemu lagi di fic author yang lain.
Bella : Oh iya Bella lupa :D. Kalau begitu Bella nyatakan kalau fic Vampire Game sudah complete. Mana tepuk tangannya!
Krik krik krik
Bella : Kalian semua jahat! (langsung pundung di pojokan dengan aura seram)
Kazusa : Hah, author kumat lagi deh.
Akira : Kita pergi saja yuk dari sini.
Karin : Ayoo!
Akhirnya semua chara KK dan juga OC Bella meninggalkan panggung(?). Sedangkan Bella sendiri masih meratapi nasibnya yang malang T_T.
SPECIAL THANKS
For Cast :
Hanazono Karin
Kujyou Kazune
Kujyou Kazusa
Kujyou Himeka
Nishikiori Micchiru
Kuga Jin
Yii Miyon
Sakurai Yuki
Karasuma Rika
Hanagisa Akira
Hanagisa Niimi
Bibinya Karin
For Reviewers :
TsukiRin Matsushima29
Meirin Hinamori 16
Anaracchi
Ryukutari
Hime Azuya
Shadow
Aputriabsari
Eci
deaclaluceria7
Jg, jj, jin, himeka, dll
Viona-chan
amandaibg5
Yumi Tiffani
Yukina Yume
Fuyuki-hime
Lyn kuromuno
Ai miyano
Mikasa hanazono
Ryumi kimaro
KKC 4ever
ItHinCherrY
Karin0kazune
Liching
Lian-chan
Arisa
Keke
Hime Arlin
Yunnah-chan
Hanazono-san
Ichiro
Xinon
Takenomaru Hikari
Rezahz
Kazufika
Karikazu
Yuiko
Safrina23c
E-chan
Eva Kaban
Syofalira
Yu
Mikasa
Shion
Jamilah Zainab
Yuuko kara
Moci MukOpanCI
NailaaKS
Andien hanazono
Miss Vanila
Dinabilaa
Lan Dewi
Ikina uruwashii
Nuri
Asahina Natsuki
Kujyou Angelita
Hana 'Meida' Namikaze
Kirei
Kazuka Luna Dragneel
Dci
Fukito
KK LOVERS
yusnia
Piyuki
1234
Yusima
Kris
Haruka Hitomi
Syofalira
AnandaPtrAbsri
Hikaru
X
Bulansucidewinu
Kazurin
Tamae
Vanessacchi
biyan rafli
mila chan
LICHING
Sehunnieoppa
xxxx
gea
X-chan
Failasofi
AND
BIG SPECIAL THANKS
TO
YOU
Yang sudah membaca fic ini sampai akhir
~Arigatou Gozaimatsu~
Please
Tinggalkan kesanmu tentang fic ini di kotak review
Tertanda
Akira-Bellachan
