Hunkai / Kaihun / Kaise / Sekai
Friendship / Bromance / Crime / Hurt / Action
Rated T+
Warning! Typo bertebaran! Jadi mohon maaf buat ketidaknyamanannya. Kadang karena kesalahan pengetik tapi kadang karena autocorrect computer yang emang rada kayak yang punya :p
Selamat membaca!
.
.
"Aku tidak akan memberikan sahamku kepadamu jika kau tak membawa Shixun kemari!" ucapan ayahnya menggelegar saat itu di ruang kerjanya, "kau memalukan! Hanya mengurus seorang anak saja tidak becus!" tambah ayahnya.
Yifan ingin sekali membunuh ayahnya saat itu tapi ia mengurungkannya karena membunuhnya sekarang adalah sia-sia. Dia hanya perlu membawa Sehun kehadapan orang tuanya saat ini dan mendapatkan tanda tangan pengesahan saham dari orang tuanya.
Itu yang terpenting sekarang.
Ia sudah terlalu kesal dengan kedua orang tuanya yang terlalu menyukai Yixing. Dia bisa memiliki anak kapanpun ia mau tapi orang tuanya itu bersikeras bahwa ia ingin Sehun. Mereka tidak mau keturunan dari wanita sembarangan yang ditiduri Yifan setiap malam. Karena nama keluarga mereka yang dipertaruhkan disini.
Tapi dimana Yifan harus mencari Sehun? Anak itu sudah menghilang tujuh tahun lalu dan sekarang ia harus mencarinya dengan tiba-tiba. Orang tua sialan dan selalu menyusahkan!
"Aku akan mencarinya di Korea! Dan kuharap ayah segera menyiapkan dokumen yang aku butuhkan karena sekembalinya aku dari sana akan aku pastikan membawa Shixun ke hadapanmu!"
"Aku akan menyiapkannya setelah Shixun pulang dan membuktikan dia memang benar-benar cucuku!" Yifan berdecak kecil lalu mohon pamit. Ia segera keluar dari ruang kerja ayahnya lalu setelah itu mengumpat.
Ia benar-benar kesal sekarang, "siapkan pesawat pribadiku! Dan hubungi semua anggota kita di Korea, aku perlu mereka untuk mencari seseorang! Aku akan memberikan imbalan yang besar untuk orang yang menemukannya."
Seseorang di sampingnya itu mengangguk, "saya mengerti, Tuan!" katanya.
-xoxo-
7
.
Yifan memijat pelipisnya ketika anggota yang terkumpul tak sebanyak yang ia kira. Sejak perkelahian antar geng setahun yang lalu memang jumlah anggotanya berkurang sangat banyak. Ditambah lagi Naga Timur harus ia bubarkan saat itu karena permintaan pihak kepolisian agar ia terbebas dari tuntutan.
Tapi mengumpulkannya kembali seharusnya bukan hal sulit tapi ini.
"Aku ingin kalian mencari seseorang. Dia anakku yang menghilang tujuh tahun lalu." Ucap Yifan mengawali. Tak ada yang bergeming. Semua diam meski pikiran mereka sebenarnya mempertanyakan kenapa Ketuanya tiba-tiba mencari anaknya yang hilang tersebut.
"Aku juga akan memberi imbalan yang sangat besar untuk kalian yang bisa menemukannya dan membawanya pulang!" Yifan mengibaskan tangannya pada ajudan di belakangnya untuk membagikan selebaran sebagai sumber informasi mereka, "namanya Shixun. Meski begitu aku rasa kini dia sudah mengubah namanya karena aku tak dapat melacak keberadaannya. Aku hanya memiliki fotonya saat usia sepuluh tahun dan gunakan itu sebagai rekaan wajahnya sekarang!" ucap Yifan.
Ia pun akan melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut kalau saja seseorang tidak berteriak memanggilnya dan berkata, "sepertinya saya mengenal orang yang anda cari!"
Yifan menyeringai lalu membalikkan badannya. Ia menatap seseorang yang diyakininya mengatakannya tadi, "siapa namamu?"
"Taehyung. Kim Taehyung!"
"Baiklah, apa yang kau tahu tentangnya?"
"Dia mengubah namanya menjadi Oh Sehun dan sekarang bekerja menjadi kaki tangan ketua Black Tiger." Kata Taehyung memberi informasi.
Yifan terkekeh, "jadi orang yang menghancurkan kelompok kita satu tahun lalu adalah anakku sendiri?" tanyanya lalu tertawa.
"Kita butuh rencana yang tepat bila anda ingin dia kembali! Itu jika anda tidak keberatan, Ketua!"
Yifan tersenyum. Ia memandang lekat anak muda di hadapannya yang mungkin saja seumur dengan Sehun, "baik! Tugas kali ini kau yang akan memimpin dan pastikan dia kembali! Dan kau boleh lakukan apapun padanya asalkan dia dibawa kepadaku dengan hidup-hidup!"
Terlihat wajah Taehyung yang menunduk menyanggupi perintah atasanya dan terlihat seriangaian teraut di wajahnya, "tenang saja, Tuan!"
-xoxo-
Jongin terlihat terengah ketika menghindari pukulan Taehyung. Ia tidak tahu melawan Taehyung akan membuatnya begitu kualahan seperti ini. Dia salah karena sempat meremehkan kemampuan anak itu.
"Kenapa Kai? Apa kau sudah lelah? Aku tak tahu apa yang membuat Sehun berada disisi orang yang lemah sepertimu!" ucap Taehyung yang membuat Jongin menatap nyalang padanya.
"A-aku rasa itu sesuatu yang tak bisa kau miliki!" Jongin berkata dengan susah payah. Ia sedang mengatur napasnya agar tetap stabil.
Taehyung terlihat tersenyum meremehkan, "Oh, benarkah? Tapi kenapa rasanya aku yang lebih mengenal Oh Sehun daripada dirimu?"
Jongin menggeram ia melayangkan pukulnya pada Taehyung dan dengan cepat Taehyung menangkisnya dengan kedua tangannya yang menyilang ke depan. Saat itu Jongin langsung mengambil kesempatan dengan memukul bagian perut Taehyung dengan lututnya, membuat Taehyung tersedak dan terkejut mendapat serangan mendadak itu.
Jongin tak menyia-siakan kesempatan itu untuk membalas semua pukulan Taehyung tadi. Tapi semakin banyak pukulan yang ia berikan laki-laki kecil itu semakin tertawa senang. Jongin tidak mengerti. Ia melompat mundur memberi jarak antara dia dan Taehyung.
"Apa yang kau rencanakan sebenarnya Kim Taehyung?" tanya Jongin.
Taehyung tertawa keras seolah-olah Jongin baru saja mengatakan lelucon untuknya, "aku merencanakan?" Taehyung tertawa kembali dan itu membuat emosi Jongin tak tertahan. Di saat Jongin akan bersiap memukulnya. Taehyung segera menghentikan tawanya dan menatap ke arah Jongin dengan serius, "aku datang untuk menjemput Tuan Muda kami, Wu Shixun. Anak ketua kami Wu Yifan!"
Mata Jongin memerah lalu melayangkan pukulannya pada Taehyung dengan sekuat tenaga, "kau pembual!"
Taehyung tersungkur jatuh. Ia menatap remeh pada Jongin, "orang yang telah membunuh ibumu adalah ayah Sehun!"
"Tutup mulutmu, Kim Taehyung! Atau kubunuh kau disini!"
Taehyung tersenyum miring mendapati Jongin yang kalap, "kau selalu membutuhkan Sehun tapi apakah Sehun membutuhkanmu? Ohya, sepertinya tugasku disini sudah selesai! Aku akan pergi! Kuharap kau akan baik-baik saja setelah ini, Kai!"
Taehyung berdiri dengan santai seolah ia tak merasakan sakit sama sekali di sekujur tubuhnya. Ya, dia sudah biasa mendapat luka seperti itu. Jika diingat dia terlalu sering mendapat pukulan seperti itu karena Oh Sehun.
Entah dia harus mensyukurinya sekarang atau dia harus menyesal. Karena saat orang-orang mencari Sehun di panti, dialah orang yang selalu memberitahu mereka keberadaan Sehun. Karena dia yang selalu kena pukulan sebagai ganti jika ia melindungi Sehun.
Dia membenci orang-orang seperti ini. Mereka selalu melakukan kekerasan dan menyakiti siapapun tanpa melihat. Tapi sekarang, dia sendiri terjerumus pada dunia itu. Sebenarnya dia juga rindu akan keberadaan Sehun. Tanpa ia sadari Taehyung menangis. Ia mendapat kabar bahwa tembakan yang diarahkan untuk Suho meleset mengenai Sehun.
.
"Ayah! Kau baik-baik saja?!" tanya Jongin cepat sambil memeriksa keadaan tubuh Joonmyeon secara menyeluruh.
"Ayah, baik!" kata Joonmyeon dengan bada yang terdengar lemah, "bagaimana Namjoon dan Jongdae?"
Wajah tegang Jongin terlihat berangsur luruh, "Jongdae hanya terluka kecil! Sekarang paman sedang menemaninya melakukan pengobatan!"
Joonmyeon mengangguk, "kau juga seharusnya mengobati lukamu dulu!"
Jongin menunduk dalam, "bagaimana dengan Sehun?"
"Dokter sedang mengoperasinya!" Jongin terkesiap. Terlihat wajah Joonmyeon yang menatap khawatir ke arah pintu operasi yang masih menyalakan lampu merah di atasnya, "ia menyelamatkan ayah dari tembakan!"
Jongin mengangguk mengerti. Joonmyeon tersenyum lalu memeluk tubuh anaknya itu, "kau pasti terkejut! Maafkan ayah karena membuatmu harus mengalami hal-hal sepeti ini!"
Jongin menggeleng di ceruk leher Joonmyeon, "aku senang bisa membantu ayah!" kata Jongin. Perasaannya masih terasa kacau sekarang.
Ada banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada ayahnya tapi bibirnya terasa kelu. Terlebih ia takut mendengar kenyataan yang ternyata tak sesuai yang ia harapkan.
-xoxo-
Jongin menatap Sehun yang masih tertidur di atas ranjang. Beberapa perlengkapan medis sudah terlepas dari tubuhnya. Jongin mendudukan dirinya di tepi ranjang lalu menidurkan tubuhnya di sisi Sehun, memeluknya. Sehun membuka matanya ketika ia merasa seseorang memeluknya dan terlihat Jongin memang sedang tidur di sampingnya.
"Sehun." Ucap Jongin dan sertamerta Sehun menutup matanya berpura-pura tidur kembali, "kau tahu, aku benci pengkhianatan! Jadi kuharap kau tak akan pernah mengkhianatiku! Karena aku tak mau membunuh sahabatku!" cicit Jongin.
"Tapi sebenarnya yang lebih aku takutkan bukanlah kau mengkhianatiku tapi kau meninggalkanku! Kenapa kau selalu membuat keputusan sendiri? Bagaimana jika peluru itu mengenai organ vitalmu? Bagaimana jika aku tak pernah melihatmu lagi?" air mata Jongin mulai mengalir. Sehun hanya bisa terdiam sambil menggigit bibir bawahnya untuk menahan dirinya.
Sehun membuat gerakan dan itu membuat Kai tersentak. Ia segera menghapus air matanya, "kau bangun?"
Sehun tersenyum tipis, "tentu saja!"
Jongin merengut, "boleh aku tidur disini sebentar? Aku tak menyangka tempat tidur disini begitu empuk! Atau mungkin aku yang lelah?"
Sehun terkekeh, "tidurlah!"
Jongin memejamkan matanya perlahan, selalu berakhir seperti ini. dia yang ingin menghibur Sehun malah akhirnya dia yang dihiburnya. Mungkin Taehyung benar, Sehun tak emmbutuhkannya tapi dialah yang membutuhkan Sehun. Tapi meski begitu, dia boleh egois bukan? Mempertahankan Sehun untuk disisinya.
Dan masa lalu, Jongin bisa menanyakannya nanti pada Sehun. Dia pasti mau mengatakannya bukan?
-xoxo-
Yifan yang mendapat kabar kegagalan anak buahnya menyapu meja kerjanya dengan tangannya dan membuat semua barang di atas sana terlempar.
"Bagaimana bisa semuanya gagal?" teriak Yifan. Semua yang hadir disana menundukkan kepalanya kecuali Kim Taehyung. Pemuda itu masih menegakkan kepalanya memandang ke arah atasannya itu.
Ia teringat percakapannya dengan Sehun saat di panti asuhan.
"Kau terluka lagi, Sehun?" tanya Taehyung dan segera berlari mengambilkan kotak obat untuk Sehun.
Sehun tersenyum, "aku baik-baik saja! Hal seperti ini sudah biasa!"
Taehyung tersenyum kecut, "maaf kemarin malam aku mendengar percakapanmu dengan Suster Oh!" Sehun menatap Taehyung yang tertunduk, "apa benar ayahmu adalah pria bernama Wu Yifan?"
Mata Sehun terlihat dingin. Ia juga memasang wajah mengerti, "ya, begitulah! Ayahku yang membunuh ibu dan ayahmu!" ucap Sehun datar dan membuat Taehyung tersentak. Terlihat tangan Taehyung yang mengepal dan bahu Taehyung juga bergetar.
"Jika kau ingin membunuhku silahkan! Tapi biarkan aku membunuh ayahku lebih dulu!" kata Sehun yang membuat mata Taehyung membola saat itu.
Tanpa sadar ia tersenyum sekarang dan itu menarik perhatian Yifan, "apa yang kau tertawakan?" Yifan mendekat ke arahnya dan akan melayangkan pukulan ke arahnya tapi ucapan Taehyung membuatnya urung.
"Aku sudah membuat janji bertemu dengan Sehun tiga hari lagi! Jika anda percaya pada saya, saya akan mengantar anda pada tempat perjanjian itu."
-xoxo-
Xiumin tersenyum cerah ketika mendapati siapa orang yang membuka pintu utama rumah. Ia berlari ke arah Sehun dan memeluknya erat, "Shixun oppa!" teriak Xiumin dan sekaligus membuat Jongin tersentak.
"Shixun?" Jongin bertanya sambil menatap Sehun penuh tanya.
Sehun tersenyum ke arah Jongin, "ya, itu nama kecilku dulu!" Sehun mengelus rambut Xiumin dengan lembut.
Jongin berkedip. Ah, benar! Kenapa dia baru sadar sekarang? Bibi Hao juga memanggilnya dengan sebutan Tuan Shixun. Jongin menatap Sehun yang masih sibuk melepas rindu dengan Xiumin, "kau orang China?" tanya Jongin dan melihat ke arah Xiumin.
Bukankah Xiumin juga nama China?
Sehun mengangguk dan menuntun Xiumin untuk berjalan ke ruang tengah. Ia masih sibuk dengan Xiumin sehingga tak menyadari ekspresi Jongin yang terlihat terkejut. Jongin mengikuti langkah Sehun, "apakah ayahmu adalah Wu Yifan?"
Deg. Tidak hanya Sehun yang berhenti. Kali ini Xiumin juga ikut berhenti. Gadis itu tiba-tiba bergetar. Ia melepas genggaman tangan Sehun lalu meringkuk takut, "sakit! Sakit! Aku janji aku tidak akan berisik lagi!"
Jongin terkesiap. Sehun juga terperangah, Ia segera mendekat ke arah Xiumin lalu memeluk gadis mungil itu, "Gege disini, Xiu! Aku berjanji Tuan Wu tak akan menyentuhmu lagi!"
"Gege! Sakit! Wajahku sakit!" Sehun menepuk punggung gadis itu pelan. Terus seperti itu hingga gadis itu terlelap dan Jongin hanya bisa mematung di tempatnya.
Sehun meminta tolong Jongin untuk membawa Xiumin ke kamarnya karena sendi bahunya belum bisa ia gunakan beberapa waktu dan Jongin mengangguk dengan canggung lalu segera menggendong tubuh Xiumin yang luruh di depan pelukan Sehun.
Sehun menghela napas ketika ia menutup pintu kamar Xiumin. Ia memandang ke arah Jongin dan mengucapkan terima kasih sekaligus minta maaf karena terus menyusahkannya.
"Sepertinya ada yang perlu kau jelaskan padaku daripada kau mengucapkan maaf atau terima akasih!" kata Jongin dan membuat Sehun mengulumkan senyumnya.
.
"Nama asliku adalah Zhang Shixun!" kata Sehun mengawali.
"Jadi bukan Wu Shixun?" tanya Jongin heboh mendapati hal yang berbeda dari ucapan Taehyung.
Sehun hanya memandang tak mengerti pada Jongin tapi ia tak mengambil pusing, "seperti yang kau katakan, ayahku memang Wu Yifan! Ketua Naga Timur, musuh terbesar Black Tiger!" kata Sehun dan itu langsung membuat raut wajah Jongin nampak tidak suka.
"Ibuku meninggal dengan luka tembak saat usiaku sepuluh tahun. Aku tidak tahu sebabnya tapi yang jelas Bibi Hao menyuruhku pergi dari rumah keluarga Wu yang berada di Korea. Aku tinggal di panti asuhan dan mengubah namaku menjadi Oh Sehun disana. tapi aku kabur dari sana!"
"Lalu kau tinggal sendiri dan menjadi pekerja buruh?" tanya Jongin dan membuat tawa Sehun meledak.
"Bisa dibilang seperti itu." kata Sehun, "lalu aku bertemu denganmu! Dan aku berterima kasih karena kau menemukanku!" Jongin tersipu ketika mendengar kata-kata Sehun tersebut dan itu tak luput dari mata Sehun, "kau terlihat seperti seorang gadis sekarang!"
Jongin berdeham beberapa kali dan membenarkan cara duduknya, membuat Sehun mengulas senyum. Tingkah Jongin benar-benar menggemaskan untuk dilihatnya.
"Lalu luka Xiumin?"
"Orang itu yang melakukannya!"
"Lalu apa yang ingin kau lakukan." tanya Jongin terlihat serius.
Sehun terdiam lalu menepuk bahu Jongin, "aku tak akan melakukan apapun! Jadi kuharap kau juga tak melakukan apapun! Karena aku sadar, dendam tak akan menyelesaikan semuanya!"
"Tapi selama orang itu ada…."
"Kau dan Paman Joonmyeon akan membantuku untuk menghadapinya setiap saat bukan?" Jongin mengangguk lalu tersenyum diikuti oleh Sehun. Sehun sadar, perkataan Joonmyeon benar. Jongin, laki-laki di hadapannya itu pasti akan mengikutinya dan Sehun tidak ingin lagi siapapun menderita hanya karena dirinya.
-xoxo-
Sehun membuka amplop surat yang Jongdae sodorkan padanya. Ia sedikit heran ketika Jongdae berkata bahwa Kim Taehyung yang menitipkannya padanya. Apalagi Jongin dia sempat memaki orang itu pemuda tak tahu diri.
"Sehun, apa kabarmu? Kudengar kau bergabung dengan Black Tiger! Apa dengan begitu kau yakin bisa membunuh ayahmu sendiri? Kau selalu sombong!
Hey, apa kau ingat janji kita? Janjimu untuk menjaga adikku Hwanhee. Berikan buku tabungan ini padanya dan bilang padanya bahwa aku meminta maaf karena tak bisa di sampingnya. Jangan biarkan ia bertindak sembarangan sepertiku.
Maaf karena selalu mengkhianatimu saat itu. Aku harus bertahan hidup demi adikku. Tentang ayahmu, biar aku yang selesaikan. Sebagai hadiah terakhirku untukmu. Kuharap di kehidupan mendatang kita bisa bertemu kembali dan menjadi Sahabat. Taehyung."
Sehun meremas surat itu. ia menyambar kunci mobil yang tergeletak di nakas dekat tempat tidurnya. Suara Jongin menggema memanggil Sehun tapi tentu saja Sehun tak akan menghiraukannya. Ia tetap melangkah keluar meninggalkan Jongin dan Jongdae di belakangnya.
Jongin berlari mendahului laki-laki kurus itu lalu memukul wajahnya dengan cepat, "paling tidak bisakah kau dengarkan aku dulu? Aku tahu perasaanmu! Tapi tanganmu belum bisa digunakan untuk menyetir! Biar Jongdae yang menyetir untuk kita!" ucap Jongin cepat.
"Aku?" Jongdae yang namanya ikut disebut tiba-tiba, bingung. Tapi kemudian ia mengangguk mengerti.
Sehun terdiam memegang pipinya. Sepertinya Jongin memukulnya sekuat tenaga. Ia menatap Jongin lalu ke arah Jongdae. Ia menghela napas lalu menyerahkan kuncinya pada Jongdae, "baiklah! antarkan aku!"
"Tapi kau tahu kemana kita harus pergi?" tanya Jongdae was-was karena dalam surat yang di tulis Taehyung tak menunjukkan tempat itu.
"Aku tahu dan aku rasa dia pasti ikut bunuh diri setelah melakukannya." Ungkap Sehun dengan wajah cemas, "boleh aku pinjam ponselmu?" tanya Sehun sambil menengadahkan tangannya pada Jongin. Jongin segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Hallo! Bisakah aku meminta tolong padamu, Paman Joonmyeon?" tanya Sehun. Ia tak ingin terlambat juga untuk kali ini.
Polisi sudah mengerumuni tempat kejadian saat Sehun, Jongin dan Jongdae sampai ketempat tersebut. Ia berlari ke arah Joonmyeon saat melihat sosoknya berdiri di tepi jalan. Sebuah mobil sedan hitam terparkir di tepi sungai, di bawah mereka.
"Apa yang terjadi?" tanya Sehun.
"Mereka sudah mati. Diperkirakan sudah dua hari yang lalu! Kami belum bisa membuka pintu mobil tersebut karena di dalam mobil mengandung gas!" jelas Joonmyeon sambil menatap iba mobil tersebut, "mereka didiagnosa keracunan gas tersebut dan diduga itu adalah gas arsenic! Jadi sebisa mungkin kami harus mengisolasi terlebih dahulu gas tersebut agar tak tercemar."
Sehun jatuh meluruh. Airmatanya menetes tanpa henti. Bukan ia bukan menangisi ayahnya sekarang tapi ia sedang menangisi temannya. Kim Taehyung. Laki-laki kecil yang selalu membuat lelucon untuknya agar dia tersenyum. Lelaki yang selalu mengkhianatinya dengan wajah penuh rasa bersalah. Lelaki kecil dengan senyum anehnya.
Ia belum sempat meminta maaf padanya. Ia belum sempat berterima kasih padanya.
Jongin menundukan dirinya meraih tubuh Jongin. Ia memeluk Sehun erat dan ikut menangis dalam diam.
"Hey, Sehun! Apa cita-citamu nanti?" Tanya Taehyung saat mereka bermain di pinggir sungai itu.
"Aku? Aku akan membeli rumah di pinggiran kota dan kita akan tinggal bahagia disana bersama Bibi Hao, Xiumin, dan Hwanhee!"
"Ah, benarkah? Itu bagus! Kau sudah janji padaku!" Sehun mengangguk.
"Bagaimana denganmu, Tae?"
"Aku! Aku ingin menjadi penyanyi yang menghasilkan uang banyak!"
Dan saat itu mereka tertawa dengan bahagia.
.
-END-
A/N
Akhirnya TAMAT! Wkwkwkwk, gimana endingnya menurut kalian? *plakkk*
Oke, buat yang sudah review makasih banyak ya!
Cute / nisrinahunkai99 / enchris-727 / park rinhyun-uchiha / sejin kimkai / yunyulihun / ulfah-cuittybeams / kakaohun / maiku82 / winda-ii-5
Thanks for support this FF by Favourite and Follow.
