"Apa yang terjadi?" tanya Sehun.
"Mereka sudah mati. Diperkirakan sudah dua hari yang lalu! Kami belum bisa membuka pintu mobil tersebut karena di dalam mobil mengandung gas!" jelas Joonmyeon sambil menatap iba mobil tersebut, "mereka didiagnosa keracunan gas tersebut dan diduga itu adalah gas arsenic! Jadi sebisa mungkin kami harus mengisolasi terlebih dahulu gas tersebut agar tak tercemar."
Sehun jatuh meluruh. Airmatanya menetes tanpa henti. Bukan ia bukan menangisi ayahnya sekarang tapi ia sedang menangisi temannya. Kim Taehyung. Laki-laki kecil yang selalu membuat lelucon untuknya agar dia tersenyum. Lelaki yang selalu mengkhianatinya dengan wajah penuh rasa bersalah. Lelaki kecil dengan senyum anehnya.
Ia belum sempat meminta maaf padanya. Ia belum sempat berterima kasih padanya.
Jongin menundukan dirinya meraih tubuh Jongin. Ia memeluk Sehun erat dan ikut menangis dalam diam.
-xoxo-
Hunkai / Sekai / Sejong / Hunjong
Friendship / Bromance / Crime / Hurt / Action
Warning! Typo bertebaran! Jadi mohon maaf buat ketidaknyamanannya. Kadang karena kesalahan pengetik tapi kadang karena autocorrect computer yang emang rada kayak yang punya :p
Selamat membaca!
.
.
Sequel Twogether
Empat Tahun Kemudian
Jongin melepas topi seragamnya ketika ia memasuki bangunan besar berlabel Rumah Sakit. Ia menelusuri ruangan bercat putih itu sambil memperhatikan papan nama yang tertempel di tembok samping pintu.
Hingga pada sebuah nama bertuliskan Kim Minseok, senyum Jongin terkembang dan segera meraih gagang pintu tersebut. Senyumnya semakin lebar ketika ia melihat Minseok sedang duduk di tepi ranjangnya bersama Hwanhee.
"Sepertinya aku datang disaat yang tidak tepat!" goda Jongin pada kedua orang tersebut namun tak menampakan rasa bersalah sedikitpun.
Jongin berjalan mendekat ke arah Minseok, ia meletakkan topinya. Hari ini adalah hari kelulusannya di akademik kepolisian. Bulan depan ia akan memulai magang di kantor kepolisian daerah.
Jongin menatap Minseok secara lama dan intens. Terlihat dengan jelas sebagian tubuh gadis itu kini sedang dibalut dengan kain kassa. Jongin tak bisa memeluknya. Ia memilih mencium pusuk surai adik angkatnya itu lebih lama, "maafkan Oppa karena tak bisa datang menemanimu saat operasi, Xiu!"
Minseok menggeleng saat Jongin menarik tubuhnya, memberi jarak antara mereka agar saling bisa memandang. Tapi gadis itu masih membisu. Sepertinya ia belum boleh bicara karena otot wajahnya lebih sensitive dan dapat merusak hasil operasi wajahnya.
Ya, Minseok akhirnya melakukan operasi plastik untuk bekas luka yang ia dapatkan. Jongin yang melakukan konsultasi sebelumnya beberapa tahun lalu tapi dokter menganjurkan padanya untuk melakukan operasi sesudah ia berumur paling tidak lima belas tahun. Operasi diusia muda mungkin saja berpengaruh buruk pada traumanya. Apalagi Minsoek pernah mendapat luka cukup fatal karena pisau.
Jadi pada akhirnya barulah sekarang Minseok melakukannya.
"Sehun Hyung menungguinya sejak kemarin! Jadi kau tak perlu khawatir! Lagipula aku juga bersamanya sepanjang waktu!" kata Hwanhee menggantikan Minseok untuk bicara.
Mata Jongin melebar. Ia sedikit terkejut mendengar nama Oh Sehun diikutsertakan, "kau bilang Oh Sehun? Dimana dia?" tanya Jongin memburu dengan tangannya yang mencengkeram lengan Hwanhee kuat.
Jika ada yang bertanya kenapa Jongin menjadi kalap mendengar nama Oh Sehun disebut, itu karena Sehun menghilang bersama Bibi Hao dari rumah mereka sejak kejadian empat tahun lalu. Tidak ada yang tahu kemana mereka pergi.
Jongin masih mengunjungi rumah Sehun di pinggir kota tersebut bersama Minseok dan Hwanhee untuk berlibur sesekali. Meski terkadang itu membuatnya sedih dan harus mengingat Sehun dan semakin membenci pria itu karena meninggalkannya.
"Kau sudah berjanji untuk saling bersama tapi kau pergi begitu saja! Padahal kau tahu bahwa aku paling benci dikhianati!" pikir Jongin ketika ia memutuskan berlari keluar dari ruangan rawat Minseok segera setelah mendengar penjelasan Hwanhee jika Sehun baru saja pergi lagi dan sekali lagi dia tidak mengatakan ia akan pergi kemana.
Mata Jongin sudah memanas bahkan memerah. Matanya tak tenang dan selalu berpendar. Kepalanya sesekali menengok berlawanan arah dengan cepat seolah-olah takut ia melewatkan seinchi pun.
Ini benar-benar membuat Jongin gila ketika ia harus mendapati bahwa ia benar-benar tak mampu menemukan Sehun dimanapun disana.
-xoxo-
Ini hari pertama Jongin bertugas. Ia tidak tahu ia harus menangani kasus pembunuhan yang dilakukan oleh sebuah geng pada kasus pertamanya. Bayangan masa lalunya perlahan kembali menyeruak ketika melihat lokasi dimana ia harus menyelidik. Ini sudah lama sejak ia tidak lagi berpatroli diam-diam. Sekarang tugas itu dilakukan oleh Jongdae sepenuhnya.
Bukan karena ia tidak bisa melakukannya tapi itu hanya karena ia akan menjadi orang yang terlihat menyedihkan jika melakukannya. Setiap kali ia pergi berpatroli yang ia lakukan hanya berbicara dan memanggil Sehun. Seolah-olah ia sedang melakukannya dengan Sehun.
Joonmyeon tahu jika itu tidak baik untuk Jongin. Ditambah pemuda itu lebih banyak melamun saat tugas dan membahayakan keselamatannya. Ia pun khirnya menyuruh Jongin untuk fokus pada akedemiknya dan menyerahkan semua pada Jongdae.
Hingga saat ini Jongin tidak tahu kenapa Sehun pergi tanpa memberikan alasan atau apapun. Meski ia merasa aneh jika ayahnya terlalu diam menyikapi perginya Sehun. Sudah beberapa kali Jongin bertanya pada ayahnya tapi ayahnya itu hanya diam dan tak mengatakan apapun.
Jongin menghela napas berat hingga menjadi sorotan rekan kerja.
"Apa kau tak suka pekerjaan seperti ini?" tanya Hoseok sambil menepuk pundak Jongin.
Jongin menggelengkan kepalanya pelan, "bukan! Hanya saja... Ah, Kakek!" panggil Jongin ketika melihat sosok seseorang yang sangat ia kenal. Ia menghambur ke arah seseorang tersebut dan Sehun selalu memanggilnya Paman Lee.
Paman Lee memicingkan matanya dan tersenyum setelah tahu siapa yang datang, "ini sudah lama sejak kau tak kemari!" sapa Paman Lee. Kerutan di wajahnya sudah bertambah dari terakhir kali ia datang kesana. Paman Lee melongok ke belakang Jongin dan kerutan di dahinya sepertinya bertambah karena melihat orang-orang yang mungkin tak dikenalnya.
"Kau tidak datang bersama Sehun?" tanya Paman Lee, "ah, kau kesini untuk menemuinya?" tanya Paman Lee selanjutnya.
"Maksud, Paman?"
"Apa kau tidak tahu? Beberapa hari ini kondisi disini mulai tidak aman kembali. Seseorang datang mengumpulkan semua mantan anggota Naga Timur dan geng yang lain. Dalam semalam tempat ini seperti neraka tapi anehnya, paginya semua bersih seolah tak pernah terjadi apa-apa dan Sehun datang berkunjung saat itu. aku sempat terkejut, Kupikir dia Ketua Wu yang hidup kembali." Cerita Paman Lee dengan menggebu seolah sedang menceritakan sebuah dongeng pada cucunya.
"Lalu apa Kakek tahu dimana Sehun sekarang?"
"Tentu saja!" jawab Paman Lee semangat, "dia ada di rumah lamanya sekarang! Kau bisa kesana. Kau lurus saja ke selatan lalu belok kiri. Rumah nomor tiga dengan ukiran naga di pagar besinya. Rumah itu sudah sangat lama kosong."
Jongin menatap tiga orang rekan lainnya. Mereka hanya mengangguk kecil dengan raut serius, menyetujui keinginan Jongin untuk bertandang ke rumah itu. Jongin membungkuk pada Paman Lee sebagai ucapan terima kasih.
.
Jongin menelan air ludahnya saat sampai pada pagar besi sebuah rumah yang ciri-cirinya sesuai yang dibicarakan Paman Lee. Jantungnya berdegup kencang dan ia memekik keras karena terkejut saat bahunya tiba-tiba ditepuk dari belakang.
"Maafkan aku!" Seokjin mengangkat kedua tangannya, "aku tak bermaksud mengagetkanmu tapi aku penasaran apa hubunganmu dengannya?"
"Dia mantan temanku!" kata Jongin.
"Benarkah?" suara berat seseorang menyela di antara mereka berempat dan otomatis membuat empat kepala itu menengok ke arahnya.
Sebuah senyum tanggung terlihat menghiasi wajah dingin orang tersebut. Baju kemeja biru muda dengan celana chino slim fit panjang. Tidak ada rambut hitam kecokelatan yang terlihat dari surai Sehun. Warna rambutnya kini benar-benar hitam legam dan disisir ke belakang, menambah kesan dia sekarang telah menjadi seorang pria dewasa.
Sehun berjalan mendekat dengan kantong plastik besar di kedua tangannya. Ia melewati ke empat orang tersebut dan membuka pintu pagar rumah tersebut, "masuklah! Mungkin akan sedikit berantakan karena aku juga baru kembali beberapa hari yang lalu!" Mereka saling pandang sebelum akhirnya memilih mengikuti Sehun masuk ke dalam.
Semua orang terkesiap dengan apa yang mereka lihat. Mereka pikir rumah itu akan terlihat menakutkan dan berbau gangster. Kelam dan berat. Tapi ini benar-benar jauh berbeda dari sisi sangar yang dapat dilihat dari pagar pintu rumah tersebut.
Sehun ikut memandang berkeliling mengikuti arah pandang mereka yang terlihat keheranan. Ia lalu tersenyum dan menuntun mereka untuk pergi ke halaman samping rumah mereka.
"Kita bisa bicara disini! Aku juga baru saja membeli beberapa makanan dan minuman!" kata Sehun sambil meletakkan barang belanjaannya di sebuah meja. Ia mempersilahkan mereka duduk dan mengambil beberapa minuman dalam tas plastiknya untuk diberikan pada tamunya.
"Rumah ini rancangan Ibuku! Jadi mungkin agak banyak berbeda dengan selera ayahku!" kata Sehun lagi karena tak ada yang membuka suara sejak tadi. Sehun tersenyum kecut dan membuka penutup botol minumnya. Ia melirik ke arah Jongin saat minum, "apa ada yang ingin kalian tanyakan padaku?" tanyanya.
Semua terlihat tegang. Entah mengapa perasaan mereka menjadi tak karuan secara bersamaan. Sepertinya perasaan Jongin dapat mereka tangkap. Apalagi mengingat mungkin saja Sehun yang memiliki kendali Naga Timur dan sekarang mereka malah masuk ke dalam sarang naga tersebut.
Hoseok menyikut lengan Seokjin diam-diam, membuat pemuda cantik itu menatap protes pada Hoseok.
"Kami ingin mendengar penjelasanmu tentang Naga Timur! Kudengar mereka mulai beroperasi lagi!" suara Jongin menyeruak dan suasana terasa semakin canggung.
Sehun tersenyum, "aku tidak tahu tapi aku bisa membantu dan itu dengan syarat!" semua pandangan menatap ke arah Sehun tak mengerti, "aku tahu kalian kesulitan mengikuti jejak mereka."
Jongin tersenyum meremehkan, "heh, kau bicara seolah-olah kau tidak berpartisipasi dalam hal itu. Mungkin saja kau dalang dibalik ini semua!"
Sehun terdiam sejejnak lalu tertawa mendengar lontaran kalimat Jongin, "ah, benar! Aku lupa memikirkan hal itu! Tapi jika kalian berpikiran begitu, bukankah kalian bodoh jika masuk ke tempat ini begitu saja?"
"Aku bisa melumpuhkan mereka!" kata Jongin sinis.
Sehun tersenyum tanggung lalu mencondongkan tubuhnya ke depan Jongin, "di depan teman-temanmu ini? Kurasa kau tak bisa bertindak seperti itu! Kau sekarang hanyalah Kim Jongin!" kata Sehun sambil menekankan nama Kim Jongin lalu menyandarkan tubuhnya di punggung kursi.
Jongin mendadak diam. Ia menggigit ujung bibirnya kesal. Ia selalu saja kalah berdebat dengan Sehun. Entah dulu atau sekarang, padahal ia setiap hari sudah bersumpah untuk membalas Sehun jika mereka bertemu kembali.
"Permisi, aku sungguh tak mengerti apa yang sedang kalian bicarakan tapi," Seokjin mengoreksi mereka, "jika kau tak merasa bahwa kau yang melakukan ini lalu apakah kau punya pandangan siapa orang tersebut?"
Sehun nampak berpikir, "haruskah aku mengatakannya pada kalian? Tapi sayangnya, aku hanya akan mengatakannya jika kalian menerima syaratku."
.
Sehun menarik napas dan menghelanya pelan ketika Jongin memilih tinggal dan tak pulang bersama rekannya, "kau tidak pergi?" tanya Sehun pelan dengan ragu.
Jongin bersungut mendengar pertanyaan Sehun, "kau mengusirku? Apa kau benar-benar tak ingin menemuiku?"
Sehun menggaruk pipinya dan melirik ke tempat lain, "bukan begitu. Hanya saja ini hari pertamamu magang, aku tak mau kau membolos kerja. Kita bisa bertemu sepulang kau kerja! Aku akan menjemputmu!" kata Sehun.
Jongin menarik sudut bibirnya sedikit, ya sedikit. Dia tak ingin dianggap mudah untuk Sehun jadi sebisa mungkin dia menahan ekspresinya di depan Sehun. Dia tidak mau terlihat senang karena perkataan Sehun barusan, karena Sehun tahu ini adalah hari pertamanya magang dan yang lebih penting Sehun berkata akan menjemputnya nanti.
"Bagaimana kau tahu ini hari pertamaku magang?" tanya Jongin dengan tatapan menyelidik.
Sehun masih belum mampu memandang ke arah Jongin, "Paman Joonmyeon yang memberitahuku! Maafkan aku karena tak pernah memberimu kabar! Aku akan menjelaskan semuanya tapi tidak sekarang karena kau harus bekerja!" kata Sehun.
Jongin menarik ujung bibirnya guna menampilkan senyum dinginnya, "baik! Kuharap kali ini kau menepati janjimu itu, Oh Sehun!" kata Jongin dengan suara yang sengaja ia tekan dan akhirnya memilih beranjak pergi.
Sehun tersenyum melihat punggung Jongin yang menjauh meninggalkannya. Sehun merasa senang karena ternyata Jongin tak berubah sama sekali meski sudah berpisah selama empat tahun. Padahal dia sendiri sekarang sudah banyak berubah.
Sehun menengok ke arah dalam rumah. Seseorang menggeser pintu halaman dan terlihat orang tersebut membungkukkan badannya di depan Sehun, "apa kau sudah berhasil menyusup menjadi bagian mereka?"
"Sudah, Tuan Muda Wu!" kata orang tersebut sambil memperlihatkan tato naga yang terukir di pergelangan tangan kirinya.
Sehun meraih tangannya dan menatap detil tato yang terukir indah tapi membiaskan rasa benci di hatinya, "maafkan aku!"
"Tidak, Tuan! Ini sudah tugas saya! Lagipula ini bukan tato permanen. Saya sengaja mengukirnya sendiri." jelas laki-laki tinggi bernama Chanyeol tersebut dan membuat Sehun tertawa.
"Kau selalu membuatku tertawa Chanyeol! Dan berhenti memanggilku Tuan Muda Wu! Itu terasa menggelikan jika kau yang mengucapkannya! Kau bisa memanggilku dengan seperti biasa, lagipula kita tidak sedang di kantor!" kata Sehun dan menarik kursi untuk duduk Chanyeol.
"Baiklah kalau itu maumu!" kata Chanyeol yang seketika menggunakan bahasa tidak formal pada Sehun, "apakah laki-laki tadi yang bernama Jongin?"
Sehun menaikkan sebelas alisnya dan mengambil beberapa cemilan dari dalam tas plastiknya, "ya! Kenapa?" tanya Sehun, "ah, Chan, aku lapar!" kata Sehun tiba-tiba mengubah topic pembicaraan.
Chanyeol menarik sisi plastik untuk melihat apa saja yang sudah di beli Sehun dan menghela napas, "ini akibatnya jika aku membiarkanmu yang pergi berbelanja! Bahkan kau tidak membeli apapun yang kupinta!"
Sehun mengerutkan dahi lalu ikut melongok ke dalam tas plastiknya. Benar saja, disana hanya ada minuman, sosis dan cemilan. Padahal tadi dia sempat ingat apa saja yang Chanyeol pesankan padanya sebelum masuk supermarket.
Sehun mengeluarkan deretan giginya yang rapi, "maafkan aku, Chan! Kita bisa memakan yang ada lebih dulu. Kita juga bisa pesan makanan di rumah Paman Lee." Cahnyeol mengusak kepala Sehun, membuat tatanan rambut Sehun berantakan.
"Terserah kau saja, Shixun! Aku mau pergi dulu! Ada rapat geng. Jika merasa kesepian kau bisa menghubungi Luhan!" kata Chanyeol.
Sehun nampak tersentak, "laki-laki rusa itu? Untuk apa dia kemari?" tanya Sehun dengan nada tak tenang, "dia bisa mengacaukan semua rencana kita! Kenapa kau mengundangnya kemari?"
"Bukan aku yang mengundangnya tapi dia sendiri yang mengundang dirinya!"
Sehun mengusak rambutnya kasar, "Xiumin! Kau harus menyembunyikan fakta tentang adikku itu! Aku tak mau rusa itu menggodanya dan membawanya lari!"
Chanyeol tertawa. Ia tidak tahu bagaimana cara Luhan jatuh cinta pada adik Sehun tersebut. Kurasa sebenarnya Sehun tidak akan keberatan untuk memperkenalkan Minseok pada Luhan karena Chanyeol pun sudah bertemu dengan gadis tersebut saat mengantar Sehun mengunjungi gadis itu saat akan operasi.
Tapi karena dasar Luhan yang terlalu obsesi pada Minseok membuat Sehun jadi paranoid. Bahkan Sehun kini mengunci semua folder mengenai Minseok di computer dan ponselnya agar laki-laki itu tidak membukanya.
Sehun dan Minseok masih berkirim email dan sesekali Minseok mengirimkan video serta foto pada Sehun untuk obat rindu mereka. Sehun juga masih sesekali berhubungan dengan Joonmyeon tapi ia sengaja tak menghubungi Jongin. Karena jika Jongin tahu kemana ia pergi, laki-laki itu pasti tidak akan tinggal diam.
Setelah kematian Yifan, Sehun memutuskan kembali ke keluarga Wu di China dengan Bibi Hao. Dan untungnya Kakek dan Neneknya bukan orang seperti ayahnya. Mereka menerimanya dengan senang. Ia pikir sifat ayahnya tersebut menurun dari kakek atau neneknya tapi ia salah. Mereka adalah orang-orang yang sangat penyayang.
Meski mereka belum mau mengakui Minseok.
Tidak ada penerus keluarga Wu lagi selain dirinya. Dan Sehun berjanji setelah dia mendapat kedudukan yang pantas di Wu Cooperation, ia akan membawa Minseok kembali ke rumah utama keluarga Wu dan membalas semua kebaikan Joonmyeon pada mereka berdua.
Chanyeol tersenyum dan menepuk pundak Sehun ketika laki-laki itu tiba-tiba terdiam sangat lama, "aku pergi dulu! Jangan membuat masalah selama aku pergi. Tuan Besar bisa membunuhku jika kau terluka!"
Sehun menampilkan senyum kecilnya, "kau juga harus berhati-hati, Sekertaris Park!"
-xoxo-
A/N
Niatnya mau buat 1 chap tapi kayaknya emang harus dibagi. Maaf ya?
