Kim Jongin & Oh Sehun

Friendship / Bromance / Crime / Hurt / Action

Warning! Typo bertebaran! Jadi mohon maaf buat ketidaknyamanannya. Kadang karena kesalahan pengetik tapi kadang karena autocorrect computer yang emang rada kayak yang punya :p

Selamat membaca!

.

.

Part 2

Jongin masih terdiam. Ia menjadi sopir sekarang. Laki-laki bernama Oh Sehun itu tiba-tiba menyuruhnya menyetir. Bahkan Sehun dulu tidak akan membiarkan dirinya menyetir. Apalagi sejauh ini, ke rumah mereka yang berada di tepi kota.

Dan hal lain yang membuatnya begitu terperangah adalah Sehun membawa mobil Mercedes Benz SL-Class dan sedang ia kendarai kini. Mobil yang sering mereka bicarakan bersama dengan warna biru tua metalik. Membayangkan harganya saja ini cukup mahal. Sehun tidak mencurinya, kan?

"Kau harus fokus menyetir, Jongin!" kata Sehun membuat Jongin tersadar.

"Kau dimana selama ini?" tanya Jongin membuka percakapan mereka.

Sehun membenarkan letak duduknya saat mendengar pertanyaan tersebut dari Jongin, "aku pulang ke rumah!" kata Sehun dengan sedikit ragu. Jongin menatap ke arah Sehun bingung, "aku pulang ke China! Ke rumah keluarga Wu!" lanjut Sehun menjelaskan.

Selanjutnya bunyi ban berdecit sangat keras terdengar karena Jongin mengerem begitu mendadak. Tubuh mereka sempat terdorong ke depan dan terhempas kembali ke belakang. Kini mereka telah menepi di jalan yang sepi. Jongin menatap Sehun dengan serius menginginkan penjelasan.

Jongin memukul kemudi mobil itu dengan kasar sebelum akhirnya menarik kerah Sehun dengan posesif, "kau," geram Jongin, "bisa-bisanya kau kembali ke rumah itu! keluarga itu-."

"Wu Yifan sudah mati! Dan apa salahnya aku pulang ke rumahku? Mereka keluargaku!" sela Sehun dan Jongin menghempaskan tubuh Sehun yang tertarik. Sehun membenarkan letak kerahnya, "kupikir kau sudah menjadi lebih dewasa, Kim Jongin!"

Jongin tersenyum kecut, "terakhir kali kau sudah berjanji tidak meninggalkanku!"

Sehun menghela napas, "aku bukan lagi kaki tanganmu! Jika kau memang menganggapku sebagai teman seharusnya kau memperlakukanku sebagai teman!"

Jongin meremas tangannya pada kemudi dan membenturkan kepalanya disana. Sehun mendelik melihat yang dilakukan Jongin, "kau tidak pernah tahu bagaimana perasaanku, Oh Sehun!" suara lirih Jongin tersebut terdengar mengiris perasaan Sehun.

Percakapan terakhirnya bersama Taehyung tiba-tiba terngiang di pikiran Jongin, "kau selalu membutuhkan Sehun tapi apakah Sehun membutuhkanmu?"

Jongin memalingkan wajahnya dan menatap ke arah Sehun, "Sehun, apakah kau membutuhkanku?" tanya Jongin tiba-tiba dan membuat Sehun mendadak tertegun.

Sehun menelan salivanya dengan berat, "kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?"

"Ya, kau hanya perlu menjawabnya!" teriak Jongin frustasi, "kau tidak pernah tahu bagaimana aku terus memikirkannya selama ini? Aku selalu bertanya-tanya alasanmu pergi dari kami setiap waktu!"

Sehun merebahkan tubuhnya pada punggung kursi dan menatap ke jendela depan. Ia terlihat terdiam beberapa lama hingga kemudian suara beratnya menggema kembali, "jalankan mobilnya kembali, Jongin! Aku akan menceritakan semuanya. Aku tak ingin membuat mereka khawatir karena kita terlalu lama di jalan!" Jongin menatap Sehun lekat saat Sehun mengatakan hal itu dan perlu waktu lama untuk Jongin hingga akhirnya ia menghidupkan kembali mesin mobil tersebut.

.

Hal apa yang paling Jongin benci bukanlah pengkhianatan tapi ditinggalkan atau dilupakan. Ia juga benci jika ada sesuatu hal nampak berbeda dari biasanya. Seperti sikap Sehun sekarang padanya yang terbilang sangat berubah.

Dulu saat Minseok hadir kembali di kehidupan Sehun dan membuat Sehun yang dingin menjadi begitu lembut, ia masih bisa mentoleran. Tapi sejak kejadian empat tahun lalu, entah kematian Taehyung atau kematian Yifan, hal itu benar-benar membuat Sehun berubah.

Semua sikap Sehun yang berubah tersebut membuah Jongin terkadang berpikir bahwa semua ucapan Taehyung adalah benar bahwa dia sama sekali tak mengenal Oh Sehun. Sehun mungkin juga tak membutuhkan kehadirannya. Ia melakukan semua itu hanya karena tugasnya, menjadi kaki tangan Kai.

Jongin terlihat terdiam saat mendengar semua penjelasan Sehun yang bercerita terus tanpa jeda di sampingnya dan ia sibuk memperhatikan jalanan di depan karena menyetir.

Dan hari ini Jongin tersadar, sebesar apa ia begitu egois selama ini. Dari awal dialah orang yang tak pernah bertanya pada Sehun. Apakah Sehun baik-baik saja? Apakah Sehun nyaman? Apakah Sehun mau melakukannya? Apa yang Sehun butuhkan?

Buktinya ia tak pernah tahu tentang Sehun. Hingga seolah-olah Sehun memberinya kejutan secara bertubi-tubi padanya. Kejutan yang sangat tidak menyenangkan bagi seorang Kim Jongin. Karena semua hal yang Sehun perlihatkan tak pernah sekalipun menyantumkan bahwa dia ada di antaranya jika pun ada mereka selalu berada di antara kubu yang berbeda.

"Jika kuingat lagi, aku tak pernah menanyakan padamu apakah kau ingin pergi bersamaku atau tidak saat itu!" kata Jongin di sela-sela cerita Sehun.

Sehun terdiam sejenak dan tersenyum, "tapi aku bersyukur karenanya!" kata Sehun.

Jongin melirik sekilas ke arah Sehun lalu fokus kembali ke arah jalan di depannya, "benarkah? Kau membuatku merinding sekarang!" kata Jongin dan terlihat menggoyangkan tubuhnya karena merasa bulu romanya berdiri.

Sehun tertawa, "apakah itu artinya kau sudah memaafkanku?"

Jongin terdiam, "harusnya aku yang minta maaf, Oh Sehun!" pikir Jongin. Tapi kemudian ia bergumam pelan bahwa ia telah memaafkan Sehun karena sudah meninggalkannya.

-xoxo-

Jongin tersenyum getir ketika menatap Sehun, Minseok dan Hwanhee sedang terduduk bersama di salah satu meja di halaman samping rumah. Wajah Minseok telah bersih dari luka sayatan itu dan ia telah memotong rambutnya sebahu, membuat gadis itu menjadi terlihat lebih dewasa.

Jongin meminum minumannya. Ia tersenyum kecut kali ini, mungkin jika Taehyung juga ada disana, malam ini akan terasa lebih hangat dan berbeda. Atau mungkin saja dia benar-benar akan terlupakan oleh Sehun.

Jongin mengedarkan pandangannya di sudut halaman. Hari itu beberapa orang yang dikenalnya berkumpul disana dan ia memilih untuk tetap menyendiri di pojok halaman bersama segelas minuman. Ia tidak begitu menyukai keramaian meski tamu yang datang tak lebih dari 20 orang tapi rasanya benar-benar ramai.

"Kenapa kau duduk sendirian? Ini pestamu!" tanya Sehun dan mendudukan diri di samping Jongin.

"Terima kasih atas pestanya!" kata Jongin dengan nada yang rumit. Ia cukup senang Sehun peduli padanya tapi entah mengapa ia merasa sakit dengan itu semua.

Sehun merangkulkan tangannya pada pundak Jongin dan menariknya mendekat, "ya, aku tahu apa yang sedang kau pikirkan!"

Jongin menengok ke arah Sehun yang terlihat tersenyum dengan wajah menyelidik, "benarkah?"

"Ya, semua terbaca begitu jelas di matamu!" kata Sehun, "aku tahu kau masih tak terima tentang kepergianku ke keluarga Wu!"

"Kau sudah memberitahuku soal alasannya tadi. Kau hanya ingin menjadi seseorang yang lebih berguna, bukan?!"

Sehun tertawa. Ia menarik tangannya kembali dari Jongin, "itu benar! Dan jika aku harus jujur aku iri padamu! Kau adalah sosok sempurna sejak dulu! Banyak orang mengagumimu dan disini tak ada yang memandangku!"

Jongin melotot, "ada aku, ayah, Jongdae dan Paman."

Sehun menggelengkan kepalanya, "mereka tidak cukup, Jongin! Aku terlalu tergantung pada kalian selama ini dan itu tidak benar!"

Amarah Jongin mulai tersulut kembali. Pembahasan ini takkan pernah berakhir bagus di antara mereka dan Sehun paham itu. Tapi jika ia tidak membahas tuntas masalah ini Sehun yakin hubungan mereka tak akan pernah bisa seperti dulu lagi.

"Jadi dengan bersama mereka kau yakin bisa?"

Sehun mengangguk dengan ragu, "aku tidak bisa memulai hidup baruku jika disini. Jadi aku memutuskan untuk pergi! Paman Joonmyeon menyetujuinya."

Jongin menahan kesal. Giginya bergemeretak. Matanya terlihat merah memanas. Bahkan suaranya kini terdengar bergemetar, "kenapa harus keluarga Wu?"

Sehun menghela napas, "kenyataannya aku memang anak orang itu, Kim Jongin! Sampai kapan kau akan bersikap senaif ini?!"

"Kau bisa menjadi keluarga kami!"

Sehun tersenyum remeh, "kupikir kau akan mengerti aku tapi kurasa aku memang terlalu berharap lebih. Meski aku seperti ini, aku juga masih punya harga diri yang harus aku jaga!" Sehun mengangkat tubuhnya untuk berdiri. Dia menatap dingin ke arah Jongin yang berada di bawahnya, "seminggu lagi aku akan membawa Xiumin kembali ke China! Dan aku tetap akan membantu kalian soal masalah Naga Timur. Kuharap kita bisa bekerja sama dengan baik."

Sehun melangkah pergi meninggalkan Jongin. Jongin meremas gelasnya dengan kesal. Ia kemudian membuang gelas itu sembarangan di atas rerumputan. Ia ingin berteriak sekarang tapi keadaan benar-benar membuatnya membungkam mulutnya kembali.

-xoxo-