Chapter 2 : Kenangan yang Disamarkan

Setelah kejadian di tempo hari, Nagisa mencoba memperbaiki kehidupannya dengan memulai komunikasi sosial, makan secara teratur, dan belajar lebih keras di rumahnya. Sepertinya rankingnya di SMA naik drastis ke peringkat 20 karena pada dasarnya ia termasuk tipe yang mudah mengerti terhadap pelajaran yang disampaikan. Selain di bidang tersebut, ternyata pelatihan menjadi seorang pembunuh berdampak positif dengan kegiatan olahraganya. Dan dimulai kembali kehidupan normal Nagisa.

"Karma?"

Nagisa menoleh ke arah Isogai yang tengah membersihkan jendela. Ketua kelas tersebut kembali merespon, "Iya. Kudengar peringkatnya di kelas 3 tetap di peringkat pertama bersma Asano. Dan sepertinya dia mulai dilirik oleh seseorang dari pemerintah."

"Oooh… yah, nggak heran, sih.."

Setiap pulang sekolah, tak tentu waktunya, beberapa alumni kelas 3-E selalu berkumpul di gedung kumuh tersebut sekadar belajar bersama. Juga, setiap minggunya mereka selalu membersihkan kelas lama mereka. Meski hanya sekitar 10 orang yang turut mengikuti kegiatan tersebut, mereka tetap antusias dengan tugas masing-masing. Dengan kehadiran Ritsu di kelas, selain belajar, terkadang mereka bermain kartu, catur, dan lain sebagainya.

Sering kali Nagisa menelpon seseorang untuk diajak datang ke kelas 3-E, namun kontaknya selalu tak bisa dihubungi. Mungkin sibuk dengan tugas, pikirnya.

Setelah menghabiskan waktu di kelas E, satu per satu murid mulai berpamitan pulang. Tentu Nagisa pun turut berjalan pulang bersama Sugaya. Di persimpangan jalan, mereka saling melambaikan tangan karena berbeda jalur pulang.

Si surai biru melangkahkan kakinya menuju rumah, dan tak disangka-sangka, ia bertemu dengan seseorang yang tak asing baginya. Seorang lelaki yang seumuran, bersurai merah, dan memakai seragam SMA Kunugigaoka.

"Karma?"

Setelah berpapasan, keduanya memutuskan untuk pulang bersama. Lelaki yang kerap dipanggil Karma sama sekali tidak mengalihkan pandangan dari buku yang ia baca. Jarang-jarang temannya itu membaca buku pelajaran dengan rajinnya, dan didasarkan dengan pemikirannya, Nagisa yang terheran memutuskan untuk bertanya, "Sedang baca apa?"

"Buku IPA."

"Jarang-jarang kamu belajar di jalan."

"… sudah kebiasaan."

"Kebiasaan?"

"..."

Lawan bicara menutup mulutnya rapat-rapat, tak menjawab pertanyaaan dari Nagisa. Seingat Nagisa, Karma sama sekali tak punya kebiasaan belajar saat jalan pulang. Dan dari pembicaraan tersebut, Nagisa mengetahui bahwa temannya itu menjadi lebih pendiam dari saat SMP dulu. Pengaruh dari tiadanya Koro-sensei kah?

"Karma, kalau kau ada senggang, bagaimana kalau kau pergi ke kelas-"

"Nagisa, aku lewat sini. Sampai jumpa."

"Lho, Karma? Bukannya rumahmu masih lurus?"

"… mau mampir ke toko buku sebentar."

"O-ooh… ok…"

Setelah berpamitan, Karma langsung berjalan menjauh ke arah yang ditunjuknya. Sementara Nagisa masih terdiam di tempat, masih tidak mempercayai perubahan karakter Karma yang begitu drastis.

Sesampainya di toko yang dituju, Karma mencari-cari berbagai buku pelajaran, baik buku saku ataupun buku latihan. Selain itu, ia juga berniat untuk melihat-lihat buku di bagian sosial. Membaca sekilas buku sejarah, dan buku perekonomian, kemudian mengembalikannya di tempat semula. Setelah membayar buku yang ia pilih, ia segera melangkahkan kakinya keluar toko.

"… membosankan."

Karma membaringkan kepalanya di atas meja, di samping buku-buku yang ia baca. Menghela napas sejenak untuk menghilangkan keletihan yang didapat. Kemudian menutup matanya. Tak ada maksud untuk tertidur dan bermain di alam mimpi. Ia hanya mencoba menenangkan diri dari kegiatan belajar-nya.

"Karma-kun, -"

Ucapan Koro-sensei sesaat terlintas di pikirannya, membuatnya membuka matanya kembali. Segera ia bangun, dan membenarkan posisi duduknya. Memijat keningnya, mencoba untuk melupakan apa yang ia pikirkan tadi.

Tak lama, ibunya mengetuk pintu dan memasuki kamarnya dengan sepiring nasi dengan kare, ia menghampiri anaknya tersebut. "Belajar lagi?" sang ibu bertanya demikian. Kemudian hanya dijawab dengan anggukan singkat dari Karma, "Hm…."

"Ibu tak akan melarangmu untuk belajar, tapi jangan terlalu berlebihan, ya," ucap wanita tersebut menaruh piring yang ia pegang di dekat meja Karma. "Makan malamnya ibu taruh di sini, ya."

"Iya."

Karma kembali mengambil pensilnya dan mengerjakan soal-soal yang ada. Tak ada percakapan lagi di antara mereka. Meski ibunya mengangkat topik pembicaraan lain, kemungkinan besar Karma hanya akan menjawab dengan jawaban seadanya yang sangat singkat sehingga tidak terjadi pembicaraan yang menarik. Wanita itu heran dengan perubahan sikap anaknya.

Karma baru-baru ini menjadi sangat pendiam, dan seakan-akan menolak komukasi berlebihan. Benar-benar bertolak belakang dengan dirinya semasa SMP lalu. Semakin lama waktu berjalan, ibunya mulai menyadari alasan dari perubahan anaknya. Ia berpikir hal itu disebabkan oleh kematian mantan guru Karma. Setelah menyadari hal ini, ia ragu menjadi ragu untuk bertanya lebih lanjut tentang guru Karma yang mengajar di bangku kelas 3 SMP dulu.

Selama beberapa saat ibunya menatap sosok sang anak yang serius dalam mempelajari soal-soal. Lalu ia beranjak pergi dari kamar Karma. Namun, suatu benda yang terletak di meja menarik perhatiannya sehingga ia memberhentikan langkahnya.

Benda tersebut ialah bingkai foto yang dibiarkan terbaring terbalik sehingga foto yang berada di dalamnya tak dapat dilihat. Ibu Karma mendekati benda tersebut, dan bertanya pelan seraya mencoba mengambil foto tersebut, "Karma? Kenapa foto i-" hampir Ibunya itu mengambil foto tersebut jika Karma tidak melarangnya. Dengan penuh penekanan, ia berkata, "Jangan diambil. Biarkan saja begitu."

"Eh? Ah, baiklah…"

Ibunya kembali menaruh foto yang hampir ia ambil tadi, kemudian beranjak keluar kamar. "Jangan tidur terlalu malam, ya," pesannya pada Karma sebelum menutup pintu kamar. Membiarkan si surai merah kembali terbenam dalam dunianya.

Keesokan harinya Nagisa berinisiatif untuk belajar di perpustakaan. Sebab di jadwal yang ia catat, besok akan diadakan semacam test untuk pelajaran matematika. Sesampainya di perpustakaan sekolah, ia segera menuju ke rak yang bertuliskan buku matematika. Ia mencari dari ke ujung ke ujung rak untuk menemukan buku yang dicari.

Namun nihil, buku-buku yang ada di sana sudah selesai ia kerjakan karena sewaktu SMP dulu Koro-sensei sudah sering meminjamkan buku latihan. Dengan menghela napas kecewa, ia keluar dari perpustakaan. Ia berencana untuk membeli buku yang lain di toko buku yang terletak di dekat rumahnya.

Berdiri di depan toko, kemudian memasukinya. Mencari-cari buku latihan yang ia cari di rak tertentu. Sekali lagi, ia mencari dari ujung ke ujung rak untuk mendapat tujuannya. Dan sepertinya ia kurang beruntung, buku yang dicarinya berada di rak teratas sehingga ia harus bersusah payah berjinjit untuk menggapainya.

Tapi sayangnya, karena tubuhnya sama sekali tidak makin meninggi, ia sama sekali tak bisa menyentuh buku. Tiba-tiba seseorang mengambilkannya buku tersebut, kemudian menyerahkannya, "Nih." orang tersebut menyodorkan kepada Nagisa. Setelah melihat sekilas, Nagisa menyadari bahwa sosok tersebut sangat familiar di matanya, Karma.

"Karma, kenapa kau ada di sini?"

"Seperti yang kau lihat, mencari buku."

Nagisa mendelik. Ia terheran dengan alasan Karma. seingatnya, kemarin Karma pergi ke toko buku. "? Bukannya kemarin kamu ke toko buku juga?"

"Iya."

"Sudah selesai membaca buku yang kau beli kemarin?"

"Sudah."

"Oooh…"

Pembicaraan pun selesai. Meski ia tahu Karma semakin menjadi pendiam sejak kematian Koro-sensei, ia tidak menduga gaya bicara temannya itu turut berubah karenanya. Bahkan Nagisa merasa aneh dengan sikap Karma yang asing. Karma benar-benar seperti orang lain yang tak dikenalinya.

Apa ini juga karena Koro-sensei sudah meninggal?

Pikir Nagisa dengan tanda tanya memenuhi kepalanya. Jika benar Karma berubah karena hal tersebut, lantas apa yang akan terjadi padanya di kemudian hari?

"Karma, bagaimana peringkatmu di sekolah?"

"Seperti biasa."

"Oooh…."

"Bagaimana denganmu sendiri?"

Nagisa tersontak kaget saat Karma bertanya demikian. Jarang-jarang si surai merah yang pendiam tersebut memulai pembicaraan. Seraya melihat-lihat isi buku yang dipegang, ia menjawab pertanyaan yang dilontarkan padanya.

"Peringkatku semakin membaik."

"Oh, begitu…"

"Aku cukup puas dengan hasil belajarku. Untung saja aku ikut belajar bersama teman-teman kelas E," dengan senyum, Nagisa berkata. Sedangkan Karma mendelik saat mendengar ini.

"Setelah pulang sekolah, kami selalu berkumpul di gedung lama."

"…"

"Menyenangkan, lho! Selain belajar, kami juga sering main. Gimana kalau Karma juga-"

"Nagisa, bisa tolong jangan membicarakan hal itu?"

Karma menutup buku yang ia baca, membuat Nagisa kembali tersontak kaget.

"Eh? Memangnya kenapa?"

"Aku benci."

"Benci? Apa maksudmu?! Bukankah kau sangat menikmati saaat-saat kita masih di kelas E?! Apa kau sama sekali tidak merasa senang saat kita mencoba membunuh Koro-sensei?! Bukankah dirimu yang sekarang juga berkat dirinya!? Dan juga-"

"Bisa tutup mulutmu, Nagisa? Kau tak tahu apa-apa tentangku. Jangan sok hanya gara-gara kita berteman baik di SMP," ucap Karma penuh penekanan. Membuat Nagisa takut dengan tekanan yang dihasilkannya. Setelahnya, ia melirik sinis Nagisa sebelum meninggalkan lelaki twintail tersebut.

"Karma-kun,-"

"Enyah! Enyah! Enyah! Enyah!"

Karma berteriak demikian saat ucapan Koro-sensei kembali terlintas di pikirannya. Menghela napas dengan tergesa-gesa, ia menunduk ke bawah seraya memegang kepalanya. Kemudian ia memukul dinding yang berada di sampingnya, "Sial!"

Masih menunduk ke bawah, ia menunjukkan raut wajah kekesalan yang memuncak. "Aku… tak boleh bergantung lagi!"

Selama ia mempertahankan amarahnya, ia sama sekali tidak menyadari bahwa ada seseorang yang memperhatikannya dari jauh.

"Hei, lihat! Akabane dan Asano lagi-lagi di peringkat pertama!"

"Meski lompat ke kelas 3, mereka sama sekali tidak bisa ditandingi!"

"Menyebalkan."

Sekian banyak komentar-komentar yang digumamkan oleh murid-murid yang memenuhi pengumuman peringkat teratas. Karma dan Asano sudah sering mendengar ejekan dan pujian yang diberikan pada mereka. Bahkan meski mereka sudah menjadi bagian kelas 3.

"Asano.."

"Apa?"

"Hari ini aku nggak bisa belajar bareng."

"… kenapa?"

"…"

Karma tidak menjawab. Ia hanya terdiam, menolak untuk menjawab pertanyaan Asano. Setelah Karma masuk SMA Kunugigaoka, mereka mulai mengobrol, dan berakhir menjadi teman yang sering belajar bersama. Namun, kali ini salah satu pihak berkata bahwa dirinya tak bisa mengikuti kegiatan belajar bersama yang rutin mereka lakukan tiap harinya. Hal ini tentu mengundang kecurigaan Asano. Namun, ia mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut. Mungkin ini ada hubungannya dengan tadi malam.

Sudah 5 hari Karma membolos belajar bersama Asano, hingga si manik violet ini kembali curiga. Sekali lagi, ia bertanya, "Karma, selama 5 hari berturut-turut ini kau tidak pernah ikut belajar bersama."

"…"

"… kenapa?"

"Aku sedang tidak mood untuk belajar."

Ucapannya kali ini sukses membuat Asano memicingkan mata curiga. Sejauh yang ia tahu, Karma tak akan mengatakan hal semacam itu. Sekalipun. Yang hanya sering ia dengarkan hanya keluh kesah dari si surai merah yang berkata malas. Namun, setelah itu ia langsung belajar dengan giat kembali. Dan mata Karma sekarang terlihat berbeda sekali. Mata yang dulunya selalu antusias kini menunjukkan ketidak niatan yang benar-benar berbeda dengan dirinya yang Asano kenal.

"Apa ini ada hubungannya dengan gurumu sewaktu kelas 3?"

Karma mendelik saatmendengar pertanyaan ini. ia menarik kerah Asano dengan amarah yang memuncak. Bingo, perkiraan Asano memang benar adanya. Iapun menyeringai khasnya, dan menyindir si surai merah.

"Heh, ternyata memang benar, ya?"

"Bukan urusanmu!"

"Memang bukan urusanku? Aku hanya bertanya."

"Asano…!"

"Terbawa amarah lagi? Hei, aku hanya bertanya. Dan kau bermaksud untuk melukaiku yang tidak bersalah apa-apa?"

"Ck…!"

"Sering terbawa emosi, marah tanpa sebab… Seperti saat kau SMP saja."

"Berisik…!"

"Ooh… tapi bagaimanapun, kau yang sekarang benar-benar berbeda dengan Karma yang kukenal, ya…"

"Berisik!"

"Karma yang kukenal tak akan membentak tak jelas."

"Berisik!"

"Hei, kamu siapa?"

"Berisik!"

Sudah seminggu berlalu. Dan selama itu, hubungan Karma dan Asano makin merenggang dari hari ke hari. Tentu saja hal ini menjadi topik pembicaraan di sekolah. Bahkan rumornya pun sudah beredar ke SMP. Kelas 3 yang berada di posisi ketiga ke bawah sudah memenuhkan hasrat mereka untuk mendapat kemenangan dengan memanfaatkan kerenggangan di antara dua murid tersebut.

Namun, kerenggangan di antara mereka bukan berarti mereka tidak berinteraksi. Terkadang, mereka saling menanyakan tugas-tugas. Itupun hanya berlangsung singkat, dan tidak terjadi komunikasi yang berkepanjangan.

Perubahan sifat Karma menjadi pendiam memang sudah disadari oleh Asano sejak ia masuk SMA. Dan Asano sudah sadar bahwa yang merubah sikap dan perilakunya adalah kematian seorang guru kelas E. Awalnya Asano berencana untuk menjadikannya anak buah dengan mengetahui rahasia-rahasia kelas buangan tersebut. Namun, ia sama sekali tidak mendapati Karma membuka mulut tentang hal itu sehingga rencananya diubah menjadi skenario teman dekat.

Asano sudah tahu akan rahasia kelas E yang menjadi kelas pembunuhan. Tentu saja, karena beritanya sudah tersebar luas di mana-mana pada saat itu. Ia sudah memaklumi perubahan sikap Karma, namun perubahan sikap Karma yang sekarang membuatnya kembali curiga. Apakah ini ada hubungannya dengan yang waktu itu?

Di perjalanan pulangnya, Asano mendapati seorang anak yang ia kenal. Murid tersebut berpakaian SMA yang berbeda, namun ia tahu siapa dia. Bersurai biru bertwintail, Shiota Nagisa, teman baik Karma sewaktu SMP. Segera ia menghampiri Nagisa yang berjalan melewati gerbang sekolah, "Hei!' tegurnya datar.

Nagisa membalikkan badan, melihat si mantan ketua OSIS menghampirinya. "Oh, Asano-kun. Sekolahnya sudah selesai?" bertanya hanya untuk berbasa-basi sementara. Ia masih belum nyaman dengan orang tersebut.

"Seperti yang kau lihat."

"Ooh… mau pula-"

"Cukup basa-basinya. Aku mau bertanya denganmu."

"Bertanya?"

"Karma. Apa kau tahu sesuatu tentangnya belakangan ini?"

"Karma? Memangnya ada apa?"

"Akhir-akhir ini dia menjadi terlihat terbawa kebencian yang ditimbulkan oleh entah apa."

"Kebencian?" Nagisa berpikir sejenak, mengingat saat terakhir kali ia bertemu dengan Karma di toko buku.

"Apa kau tahu sesuatu?"

"Aaah… terakhir kali, sih minggu kemarin… waktu itu aku bertengkar dengannya karena mengungkit kelas E…"

"Sudah kuduga. Ternyata memang berhubungan dengan guru lamanya."

"… guru…? Karma tidak-"

"Pasti tentang itu!"

"…"

"… aku tak akan bertanya lebih detail, tapi…" ucapan Asano terpotong sesaat untuk menundukkan kepalanya sopan pada Nagisa. Membuat si surai biru itu kebingungan melihat Asano yang menundukkan kepala. "Kumohon! Tolonglah dia!"

"Belajar dengan perasaan kebencian tak akan membuahkan hasil. Aku tahu itu lebih dari siapapun. Tapi aku yang tak ada hubungannya dengan kelas E tak bisa berbuat apa-apa. Jadi, aku mau kau yang menegurnya."

"Asano-kun…?"

Waktu telah berlalu, awan-awan mendung mulai berkumpul di di atas langit. Menjatuhkan rintik-rintiknya, membasahi seluruh tanah yang ada. Tanpa menghiraukan dirinya yang menjadi basah karena air-air yang berjatuhan tanpa henti, si surai merah terus melangkahkan kakinya. Berjalan pulang tanpa membuka mulut untuk berkeluh kesah.

"Karma," Nagisa menyapa Karma di tengah perjalanannya. Dengan memegang payung transparan, ia menghampiri si rambut merah, namun tak digubris olehnya. Karma hanya terus melangkah melewati Nagisa tanpa melirik sedikitpun. Yang diacuhkan merasa tersinggung dan menaikkan nada suaranya, "Karma!"

Namun, tak dijawab kembali.

"Karma! Hei!"

"…"

"KARMA!"

Kali ini Karma berhenti. Meski ia masih tidak menoleh, ia menghentikan langkahnya sejenak. Namun, Nagisa turut tidak menghampirinya. Ia hanya berdiam di tempatnya, dan hanya meneriakkan ucapan-ucapan yang ingin ia katakan pada Karma.

"Karma, aku dengar dari Asano-kun. Kamu sedang benci terhadap sesuatu, ya…?"

"…"

"Aku nggak bisa menghentikanmu dalam masalah pribadi seperti itu. Tapi… aku hanya mau memastikan… apa yang kau benci itu… memang Koro-sensei?"

Karma mendelik.

"Kalau memang benar, kenapa? Bukannya kau sangat senang saat kita berada di kelas pembunuh itu?"

"Tidak."

"Lalu yang selama ini apa!? Akting!?"

"… bukan urusanmu."

Karma kembali melangkah, meninggalkan Nagisa. Namun si surai biru itu tidak mau menyerah. Ia berusaha untuk menghentikan temannya dengan kata-kata.

"… 'Aku tak boleh bergantung lagi'."

"!" kali ini Karma mendekati Nagisa. Dengan cepat, ia menarik kerah teman lamanya itu, dan membenturkan badannya ke dinding. Membuat payung yang menahan air hujan terpental jauh, dan kini si surai biru itu tidak dilindungi dari hujan. Nagisa menyeringai, kemudian kembali membuka mulutnya, "Apa itu alasanmu?"

"Ck!"

"Ternyata memang benar, ya? Kau merasa bergantung terhadap Koro-sensei di masa lampau?"

"Itu bukan urusan-"

"ITU URUSANKU!"

"!?"

"Karena aku temanmu! Memangnya nggak boleh, ya menghibur teman!?"

"Kau tak tahu apa-apa tentangku! Jangan berlagak, deh!"

"Aku memang tidak tahu! Tapi itu juga karena kau yang tak pernah memberi tahuku tentang itu! Aku tahu kau pasti punya alasan tersendiri!"

"Nagisa-!"

"Apa lagi!? Kau selalu saja menyangkal hal yang sebenarnya!? Kau yang berlagak! Aku tahu, kau tidak membenci Koro-sensei!"

"Memangnya kau punya bukti tentang hal itu!?"

"PUNYA!"

"Ap-"

"Ekspresimu… ekspresimu saat kita di kelas E selalu jujur! Marah, malu, senang, sedih…. Kau tak pernah menyembunyikannya! Tidak seperti kau yang sekarang!"

"Itu-"

"Apa!? Kau mau menyangkal lagi!?"

"Itu semua gara-gara si gurita itu-"

"Jadi kau menyalahkan Koro-sensei!?"

"-!"

Menarik napasnya berkali-kali, Nagisa mencoba untuk menenangkan dirinya. Setelah selesai, ia kembali berucap dengan suara yang lebih kecil, dan lebih tenang. "Bukan, kan? Kau bukan menyalahkan Koro-sensei, kan? Habis, wajahmu terlihat sedih…."

"…"

"Bukan menyalahkan… tapi…. Mungkin kau menyesal…?"

"…"

"Apa kau menyesal gara-gara kita membunuh Koro-sensei waktu itu?"

"…"

"Kalau iya, kenapa kau berakting seperti ini? Aku tahu kau nggak ada minat terhadap akting. Terus, apakah itu alasanmu sehingga kau menyembunyikan dirimu yang dulu?"

"..."

"Hei… aku yang membunuh Koro-sensei, lho… Makanya…. aku tahu, apa kata-kata terakhirnya yang belum kau ketahui…"

Mata Karma membulat ketika mendengar ini. Ia melonggarkan cengkramannya di kerah Nagisa, memberi peluang bagi mantan temannya itu bernapas sejenak. Mengerutkan alisnya tak percaya, ia bergumam kecil, "Kata-kata terakhir…?"

"Sensei… Koro-sensei bilang terima kasih. Ia sangat senang bisa dibunuh oleh kita. Kalau kau masih meragukannya, kau bisa membaca surat koro-sensei yang diselipkan di album kelulusan. Kau pasti belum membacanya, kan?"

"… bohong…"

"Aku tidak bohong! Itulah kenyataannya!"

"Kau bohong!"

"Tidak! Jangan menyangkalnya lagi, Karma! Bukankah itu jawaban yang kau inginkan!?"

"Bohong! Bohong! Bohong!"

"Menyangkal, membenci, berakting… Karma yang kutahu tak akan berbuat seperti itu! Kalau kau yang dulu melihatku begitu, pasti kau akan memukulku! Pasti!"

BUAAAK

Nagisa memukul Karma tepat di wajahnya, membuat Karma agak mundur ke belakang, membuat jarak lebih. Karma berdiam di situ. Tidak bergerak sama sekali, meski rasa sakit di wajahnya bukan main, ia tidak berusaha menyeka luka tersebut. Hanya terdiam, melihat ke bawah.

Dan tak disadari olehnya, air mata telah keluar, mengalir ke bawah melalui pipinya yang lebam.

"Sudah kuduga, kau sebenarnya mau minta maaf, kan? Pada Koro-sensei…"

"Aku…"

"Karma-kun, cobalah untuk meminta maaf!"

Aku ingin minta maaf…

"Heh? Memangnya seorang pembunuh perlu yang seperti itu? Itu malah menghalangi, tahu."

"Kau salah, Karma-kun! ada kalanya pembunuh meminta maaf pada orang lain. Maka dari itu, cobalah meminta maaf! Seperti sensei! Sampai sujud juga boleh!"

Ingin bertemu…

"Hee? Apaan, tuh? Ogah, ah."

Tapi…

bagaimana caranya….?

.

.

.

"Hari ini Karma nggak datang lagi, ya…?"

"Mmm…"

Saat Maehara bertanya demikian, Nagisa hanya bisa mengangguk kecil. Wajah menyesal agak terlihat di wajahnya karena keributan yang terjadi tempo hari. Ia hanya bisa menghela napas saat mendapati tujuannya tidak berhasil.

"Oh, sudah pada datang, ya?"

Suara tersebut berhasil membuat langkah teman-temannya terhenti sejenak untuk menoleh, dan didapatilah ia tengah tersenyum khas sembari menyeruput jus stoberry miliknya.

"Karma…?"

"Lama tak bertemu."

.

.

.

TBC

.

.

.

#SPOILER

"Hei, ngomong-ngomong orang itu kemana?"

"Seperti rubik tanpa warna…"

"Payah."

"NAKAMURA!"

Chapter selanjutnya : Kenangan yang Karatan