The Kim
Story By: Secii / Eunhacii
Cast: Kim Minseok (Xiumin), Kim Joonmyun (Suho), Kim Jongdae (Chen), Kim Jongin (Kai). Other Cast will appear.
Ide dan Cerita murni milik saya, maaf bila bertebaran typo
Happy Reading! ^^
Teleportasi. Tidak salah lagi itulah kekuatan Jongin. Jongin sendiri bingung apa itu teleportasi tapi Jongdae memberitahunya tadi pagi dengan wajah sumringah, sepertinya ia bangga adiknya memiliki bakat eximius.
"Ada apa dengan wajahmu bodoh? Kau terlihat seperti mayat hidup" A.B menepuk lengan Jongin, yang ditepuk hanya menampilkan wajah datarnya.
"Tidak…apa hari ini kita benar-benar akan ujian A.B?"
"Kai, sejak kapan kau jadi bodoh? Ventus tidak menulari mu kan?"
"Siapa yang kau panggil bodoh, idiot?" tiba-tiba Ventus muncul dengan tampang kusutnya, rambutnya terlihat berantakan dan pakaiannya tidak jauh berbeda. Ia langsung mengambil duduk didekat Kai.
"Wow Ventus… kau memang ahli menarik perhatian guru. Apa dengan penampilan berantakan seperti ini kau akan mendapat nilai bagus?" A.B mengeluarkan ejekan yang membuat Ventus mengeluarkan pusaran angin ditangannya, tatapannya nyalang kearah A.B
"Diam kau mata panda….. kalau kau tahu apa yang menimpaku pagi ini…" A.B menatap Ventus dengan tatapan mengejek karena melihat kekuatan pure temannya, ia sama sekali tidak takut ketika pusaran itu semakin membesar dan putaran anginnya semakin cepat karena ia tahu yang ia lakukan hanya tinggal menjentikan jarinya. Tik.
Waktu berhenti seiring dengan jentikan jari A.B, dengan sigap A.B mengubah posisinya yang didepan Ventus menjadi di belakangnya lalu menaruh Kai didepan Ventus. Jentika jari kedua membuat pusaran angina Ventus mengenai Kai
"Shit! Ventus kenapa mengenai ku?!" kursi-kursi terlihat terpelanting, kertas-kertas berterbangan dan Kai terlihat tersungkur kebelakang kelas dengan tumpukan barang lainnya. Kondisi kelas terlihat porak-poranda dan A.B hanya bisa terkikik dibelakang Ventus
"Ka-Kai?! Ta-Tapi A-"
"A.B? aku dibelakangmu , Ventus" dengan cepat Ventus menoleh kebelakang dan menemukan target awalnya
"Cih! Kau eximius sialan…."
"Apa kau pure? Jangan anggap aku remeh…" keduanya sudah bersiap saling membalas ketika Kai datang dan melerai mereka.
"Sudahlah A.B…. kau hanya eximius, bukan fortiss dan lagi lebih baik kau mundurkan waktu sebelum kelas ini berantakan. Sepertinya doctor Hans akan datang" dengan dua jentikan jari A.B kondisi kelas kembali normal, Kai tersenyum puas sambil merangkul A.B dan Ventus
"Sudahlah… pure atau eximius bukan masalah, yang penting kita lulus dari Viridis dan menuju Caerulus" A.B dan Ventus mengangguk setuju. Ujian menuju Caerulus adalah hari ini, semoga para dewan meluluskan mereka.
-7 Tahun kemudian-
"Aku pulang…." Suho membuka pintu berwarna cokelat itu dengan lesu, mengurus anak-anak Viridis memang melelahkan. Apalagi rata-rata mereka belum bisa mengontrol bakat mereka
"Hei kak, bagaimana kelasmu? Apa anak-anak itu membuat masalah lagi?" Suho atau Joonmyun menatap laki-laki yang dulunya setinggi dadanya tapi sekarang sudah melampauinya
"Kau tahu bagaimana saat di Viridis kan? Jadi kau tak perlu menanyakannya lagi. Lagipula bagaimana dengan kelasmu?"
"Tidak masalah… ujian menuju Aurum hampir mulai jadi sedang banyak tes dadakan"
"Lalu nilaimu bagaimana?
"Baik, sejauh ini aku tidak ada masalah dengan doctor-doctor yang lain"
"Matamu…tidak ada yang sadar kan?" Jongin terdiam, lalu tersenyum kecil kearah kakaknya. Masih teringat saat kejadian itu terjadi…
=FLASHBACK=
"Kondisi Jongin bagaimana?" Jongdae menghampiri Joonmyun yang tengah mengganti kompres dikepala Jongin, wajah Jongin memerah dan nafasnya tersenggal-senggal
"Belum turun…lebih baik kau segera berangkat sekolah Jongdae" Jongdae menatap Jongin khawatir, walaupun dia anak yang kurang ajar tapi tetap saja mengkhawatirkan bila sakit
"Baiklah, pastikan Jongin makan kak"
"Hey idiot. Aku tahu apa yang harus aku lakukan" Jongdae hanya menyeringai kecil dan meninngalkan kedua saudaranya, Jongin menatap kakaknya yang pergi lalu beralih kepada Joonmyun
"Kak… mataku perih"
"Kau hanya kurang minum, coba habiskan air ini lalu istirahat" Joonmyun memberikan sebotol air yang langsung ditenggak habis oleh Jongin. Tapi mata Jongin tak kunjung terasa membaik hingga ia memutuskan untuk tidur.
Udara panas membuat Jongdae terbangun dari tidurnya, ia memutuskan untuk mengambil segelas air di dapur. Tapi langkahnya terhenti ketika ia mendengar alat makan yang berjatuhan, dengan hati-hati Jongdae melangkah kearah dapur sambil membawa tongkat baseball milik Jongin. Suara alat makan berjatuhan itu mulai diiringi oleh teriakan kesakitan yang cukup dia kenal. Tunggu dulu…Jongin?! Dengan segera Jongdae berlari kearah dapur dan menemukan bocah itu yang tersungkur dengan menetupi wajahnya
"Jo-Jongin..?! kenapa?! " Jongdae menghampiri Jongin, membuka kedua tangannya. Ternyata yang ia temukan dibalik kedua tangan adiknya adalah wajah dan tangan b berlumuran darah segar
"Arrgghh..! arrggh..! kakak sakit..!" darah segar mengalir dari kedua mata Jongin yang menutup, kalap Jongdae langsung berlari kearah kamar Joonmyun
"Kak! Darah! Jongin!" Joonmyun yang sudah terlelap langsung terbangung dari tidurnya ketika Jongdae membuka pintu dengan kasar dan meracau panic
"Apa yang terjadi?! Aku tidak paham kalau berbicara terburu-buru be—"
"Argghhh…! Kakak…!" dari arah dapur terdengar teriakan kesakitan milik Jongin, Jongdae tidak perlu lagi menyelesaikan ucapannya karena Joonmyun langsung berlari kearah dapur
"Jongin?! Apa yang terjadi?! Cepat telfon dokter!" Joonmyun meneriaki Jongdae yang berdiri mematung karena paniknya. Dengan cepat ia mengambil telfon dan meminta ambulans untuk segera datang
"Kakak…kakak….tolong aku…." Jongin mulai menggapai-gapai mencari sosok kakaknya dan dengan sigap Joonmyun langsung memeluknya
"Tenang Jongin…kakak bersamamu"
"Perih…mataku perih….aku masih mau melihat…."
"Sst…kau akan melihat..tenanglah Jongin"
Tidak beberapa lama kemudian datanglah ambulans dan Jongin dilarikan ke rumah sakit.
-#-#-#-
"Bagaimana keadaannya?" Joonmyun menatap dokter yang menangani Jongin dengan tatapan harap-haraap cemas. Sang dokter hanya mengangguk sekilas, anggukan itu cukup membuat Joonmyun bernafas lega
"Bisakah kita berbicara sebentar"
"Untuk? Saya kira Jongin baik-baik saja"
"Dia memang baik. Amat baik…tapi ada satu kondisi yang harus aku beritahu"
"Soal?"
"Jongin….dia special."
=FLASHBACK END=
Joonmyun tersenyum kecil sambil melihat adik kesayangannya yang tengah melepas softlense miliknya dan kini pupil silver miliknya terlihat
"Kenapa kakak terus memandangiku? Apa aku tampan? Hahahaha" Joonmyun mendengus geli dan membiarkan adiknya mengagumi dirinya sendiri
"Kau memang tampan Kim Jongin"
"Wow… tidak biasanya. Apa ada sesuatu yang membuatmu berkata seperti itu?"
"Tidak juga…ngomong-ngomong ada surat dari Jongdae" Joonmyun mengibarkan selembar amplop dan itu langsung membuat Jongin mengambil duduk didekat Joonmyun
"Cepat bacakan~!"
"Iya-iya dasar kau banyak bicara." Joonmyun mulai membuka amplop tersebut dan membacakan isi surat dari Jongdae
Hai dua idiot!
Hal yang pertama yang harus aku katakan….aku merindukan kalian. Dan aku sudah bertemu dengan Minseok. Dia hebat sekali sekarang. Dia memimpin satu unit tentara khusus untuk melawan Confentrix dan itu sebab dari dia jarang mengirimi kita surat maka dari itu aku menggantikannya untuk menulis surat. Hahahaha.
Bagaimana sekolahmu Jongin? Aku tebak kau semakin terkenal dikalangan dan kak Suho! Kirimkan masakan rumah….aku rindu L.
Pekerjaanku semakin rumit. Obat dan percobaan biologiku dikembangkan disini dan aku menjadi kepala divisi dalam riset ini. semoga hari kalian menyenangkan!
-Salam. Jongdae-
Joonmyun selesai membacakan suratnya dan terkekeh geli sedangkan Jongin hanya termenung
"Kenapa? Ada yang salah?"
"Tidak…aku hanya merasa dia amat hebat sekarang"
"Hahahaha benarkah? Kau mengakuinya sekarang?" Jongin mengangguk sekilas. Yaa… sedari dulu dia memang mengakui kepintaran dan ambisi Jongdae. Melebihi siapapun dia yang paling paham dan mengerti Jongdae. Jongdae memang terlihat menikmati pekerjaannya di medan perang tapi sepertinya dia sedikit tertekan.
"Aku ingin berkunjung…." Jongin berbisik kecil membuat Joonmyun menatapnya heran
"Kemana?"
"Ke tempat kak Jongdae"
"Astaga Jongin…kapan kau menjadi manja seperti ini? istirahatlah besok kau ada kelas dengan Doctor Grint" Jongin membelalakan matanya. Guru ketahanan fisik yang tidak disukai oleh semua murid
"Oh astaga! Yang benar saja!" Joonmyun terkekeh kecil melihat reaksi adik laki-lakinya
"Istirahatlah…okay?"
"Baiklah…kalau kakak ada perlu kau tahu dimana dapat mencariku"
"Domhan? Dasar pasangan"
"Hentikan…memangnya kau tidak?"
"Aku? Tentu saja tidak."
"Yayaya…gossip kau dan Kris sudah menyebar" seketika muka Joonmyun memerah dan itu membuat Jongin tersenyum senang
"Lihat? Bahkan kau tidak dapat menyangkalnya"
"Me-mang apa yang para murid gosipkan?"
"Oh hanya…bagaimana kalian bercumbu di kelas kosong dan…aku tidak tahu Kris semesum itu" Jongin menyeringai puas melihat wajah kakaknya yang benar-benar menjadi kepiting rebus
"Pergi kau ketempat Domhan!" Jongin terbahak melihat reaksi kakaknya dan langsung berlari pergi.
-#-#-#-
Kamar itu minimalis. Tidak berantakan sewajarnya kamar anak lelaki dan Jongin amat menikmati kamar minimalis itu
"Kyungsoo kau akan terus menganggapku tak ada dan membaca terus?" yang diajak berbicara hanya melirik sekilas dari bukunya dan kembali berkonsentrasi dengan bukunya
"Aku ingin bercerita… kau tak mau mendengarkan ku?" Kyungsoo atau Domhan menaruh bukunya lalu menepuk pahanya
"Silahkan" Jongin tersenyum cerah dan langsung menghampiri Kyungsoo meletakan kepalanya di paha Kyungsoo dan Kyungsoo akan memainkan rambutnya
"Terimakasih karena lebih memilihku ketimbang buku itu"
"Aku selalu memilihmu…tapi wajah memintamu sangat menyenangkan" Jongin memajukan bibirnya dan siapa sangka Kyungsoo langsung mengecupnya
"Ya-Yak! Kenapa tiba-tiba menciumku?!"
"Berhenti bertingkah seperti itu…kita sudah melakukan hal lebih dari sekedar mencium"
"Oh…yang sampai membuatmu tidak masuk sekolah selama tiga hari?" Jongin menyeringai sedangkan Kyungsoo hanya mendengus.
"Jadi apa yang kau mau ceritakan?"
"Begini. Apa yang akan kau lakukan jika…temanmu membutuhkanmu? Apa kau akan langsung memberikan pertolongan?"
"Jika dia amat berharga bagiku tentu dia akan kubantu"
"Sekalipun dia di tempat yang berbahaya?"
"Ya…aku lakukan apapun untuknya"
"Bagaimana denganku? Apa kau akan berlaku serupa?" Kyungsoo terkekeh kecil mendengar pertanyaan kekasihnya dan langsung mencubit gemas pipi Jongin
"Posisimu melebihi teman berharga. Kau kekasih berharga"
"Hahahahaha gombal" Kyungsoo tersenyum kecil kemudian ia menatap Jongin dengan tampang datarnya
"Tapi… itukan pertanyaan. Bukan cerita"
"Oh, ya…maksudku bertanya. Bukan bercerita. Mengambil perhatianmu itu amat sulit, kau tahu?" Kyungsoo mendengus kesal dan langsung mengambil buku miliknya lagi tetapi tangannya ditahan oleh tangan Jongin
"Don't you missed me?"
"Why would i?" Kyungsoo menatapnya malas. Ini dia actor drama kolosal dia. Kim Jongin.
"Cus I haven't—" perkataan Jongin terputus ketika bibir lembut kekasihnya mencium dan melumatnya pelan
"Stop acting weird… I know what you want right now"
"How come?"
"Well that explain everything?" Jongin mengikuti arah pandang Kyungsoo. Yaitu bagian bawahnya yang sedikit menyembul
"Glad you know" dengan seringai kecil Jongin menariknya dan membaringkan Kyungsoo disebelahnya. Dan tentu kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya kan?
-#-#-#-
Jongin termenung di sofa ruang tamu. Joonmyun sudah tertidur pulas di kamarnya. Pikirannya masih ingin mengunjungi Jongdae. Seperti kata Kyungsoo tadi, kalau itu memang amat berharga lakukan apa saja. Jongdae menghela nafas, tapi menembus gedung pemerintah? Apa itu tidak apa? Bagaimana kalau ia muncul bukan di kamar Jongdae atau Jongdae tidak sedang ada di kamar?. Jongin masih sibuk berkutat dengan pikirannya. Meminta saran pada Kyungsoo juga percuma, dia pasti tertidur pulas akibat 3 ronde permainan mereka. Setelah menimbang-nimbang cukup lama akhirnya dia memutuskan untuk mengunjungi Jongdae.
Jongin bukanlah lagi anak kecil yang dulu kaget dengan apa bakatnya. Dia sudah mahir. Satu tarikan nafas dan dia sudah berada di kamar Jongdae
"Astaga! Kau idiot mengagetkan ku!" Jongin menyeringai kecil dan langsung menghampiri kakak favoritnya
"Apa yang membawamu kemari dan kenapa daridulu tidak kau lakukan?!"
"Maaf… melanggar aturan seperti ini perlu pertimbangan yang besar, aku membawa masakan rumah" muka Jongdae berubah cerah, Jongin terkekeh geli melihat kelakuan kakaknya
"Sebegitu tidak enaknya masakan disini?" Jongin melirik Jongdae yang tengah makan seperti orang kerasukan
"Tidak juga…tapi sepertinya masakan kak Joonmyun sudah seperti candu"
"Kak Minseok? Bagaimana dia?"
"Bukannya sudah kuberi tahu di surat?"
"Pasti ada yang lebih kan? Maksudku… Confentrix sudah amat jarang mengusik kita. Bukannya itu membuat dia jadi menganggur?"
"Kau mengikuti pekembangan medan perang dengan baik" Jongdae tersenyum kecil kearah Jongin
"Confentrix memang sudah jarang menyerang kita. Tapi posisi kak Minseok memang sudah sangat tinggi dan dia cukup bisa diandalkan. Dia memimpin departemen dimana aku bekerja. Departemen 'Riset dan Pengembangan' . Menggantikan pimpinan terdahulu"
"Apa yang terjadi dengan pimpinan terdahulu?"
"Terbunuh Confentrix" Jongin menatap Jongdae dengan bingung, tebunuh Confentrix? Bagaimana seorang pimpinan departemen Riset dan Pengembangan bisa terbunuh Confentrix? Memangnya dia ikut terjun ke tempat perang?
"Bagaimana…."
"Ya aku juga sempat heran, tapi ternyata dia terbunuh saat tengah melakukan uji coba di luar gedung. Entah bagaimana salah satu pertahanan benteng kita melemah dan Confentrix berhasil masuk dan membunuhnya"
"Tragis"
"Ya…begitulah. Tapi kak Minseok sudah cukup pantas menggantikan dia."
"Ceritakan secara detail pekerjaanmu" Jongin menyenggol bahu Jongdae dengan usil
"Hmm…aku sedang mengadakan riset tentang penyatuan gen"
"Gen?"
"Ya, untuk meningkatkan kekuatan para tentara"
"Jadi itu riset yang kau kembangkan? Terdengar biasa saja untukku"
"Ada lagi…sebenarnya ini riset yang kak Minseok percayakan padaku saja"
"Oh riset apa?"
"Kau tahu Spectrum?"
"Bola mata dengan pencapuran 7 buah warna?"
"Tepat. Warna yang menyerupai batu mulia. Emerald, Amethyst, Sapphire, Aquamarine, Ruby, Citrine dan terakhir Garnet"
"Kau ingin membuat spectrum? Dan menanamkannya kepada siapa?"
"Ya… aku tidak tahu siapa yang akan ditanami bola mata ini. tapi ini menjadi senjata terakhir kita"
"Sejauh ini? warna apa yang sudah kau dapat?"
"Garnet dan Emerald. Sulit mencari chrome dengan warna yang sama"
"Yah…semoga kau berhasil. Aku berharap bisa bertemu kak Minseok"
"Dia sibuk. Aku saja tidak bisa bertemu kecuali jika kita sedang membahas soal spectrum ini"
"Hmm…baiklah aku akan pergi. Ada yang mau kau titipkan?"
"Aku titip makanan lagi jika kau datang kemari"
"Baiklah…aku pergi dulu"
"Hati-hati".
-RnR-
A/N: Yeaay! aku sangat bersyukur ternyata banyak yang menyukai cerita ini. mulai sekarang saya akan berusaha rajin update!
Terimakasih kalian semua! Saranghae *aegyo*
