Chapter 3 : Kenangan yang Karatan

"Hai, Karma! lama gak temu nih! Ngapain aja?"

"Ya sekolah lah. Emangnya kayak kamu? Bolos melulu."

"Heh! Enak aja! Aku juga sekolah tahu!"

Di sudut kelas terdengar obrolan-obrolan biasa dari geng Terasaka –atau lebih tepatnya Terasaka sendiri yang tengah bertengkar ringan dengan Karma. meski sudah berapa bulan mereka tidak saling berkomunikasi karena salah satu pihak sempat menolak pergi ke kelas 3-E, namun kini mereka sudah mulai bertengkar layaknya mereka yang dulu.

"Oh! Karma! kau datang lagi, ya. Kok datangnya agak telat?" si surai hitam kebiruan mendekati Karma dengan mengenakan seragam SMA-nya yang sekarang. Ialah Sugino yang melambaikan tangannya pada Karma yang tengah duduk di tempat duduknya.

Karma menoleh ke arah Sugino sebelum menjawab pertanyaan dari temannya tersebut, "Oh, tadi aku mampir ke toko buku sebentar."

"Oh, gitu, ya…"

Meski sifatnya sudah kembali ke dirinya yang normal, sepertinya kebiasaan barunya 'belajar berturutan' belum sepenuhnya hilang. Ia masih sering belajar hingga tengah malam tanpa mengenal waktu, ia juga sering pergi bersama Asano ke perpustakaan saat hari libur. Hubungannya dengan teman sekelasnya pun mulai berubar, ia mulai berbaur dengan teman yang berbeda umur tersebut. Terkadang saling bercakap tentang salah satu pak guru yang tak mereka suka, mencelanya juga sering. Dan dilihat dari situ, sifat buruk Karma 'mencela orang' juga mulai kembali ke asalnya.

Nagisa hanya bisa tertawa garing setelah mengetahui hal ini. Ia tak punya hak untuk menghentikan Karma lagi, karena dirinya sendiri yang mengembalikan Karma ke semula. Meski ternyata hasilnya agak melenceng.

"Eh, ngomong-ngomong orang itu kemana?"

Saat Sugaya membuka topik baru, teman-temannya menoleh ke arahnya. Mereka menatap bingung dengan ucapan temannya itu, atau lebih tepatnya belum mengerti maksud dari ucapannya. Salah satu di antara mereka pun memutuskan untuk bertanya, "Orang itu maksudmu siapa, Sugaya?"

"Ah, nggak… aku hanya bingung kenapa Nakamura nggak datang…"

Terdiam, tak ada percakapan lagi. Semuanya fokus melihat bangku sang gadis bernama lengkap Nakamura Rio yang berada di depan. Kalau dipikir-pikir, mereka memang tidak pernah melihatnya lagi sejak kelulusan. Ia juga tidak pernah hadir dalam kegiatan non resmi di sana. Maehara yang sedari tadi berpikir memutuskan untuk angkat bicara.

"Oh, iya. Dari awal dia memang nggak pernah datang, ya..."

"Iya… rasanya aneh kalau orang riang sepertinya tidak datang…"

"…"

"Aku juga belum pernah melihatnya di luar…"

"Oh, ya? Aku sering melihatnya sedang melamun di jembatan sungai kecil dekat sini," ucap Itona tanpa mengalihkan perhatiannya dari membuat semacam alat elektronika. Beberapa langsung merespon kaget saat mendengar pengakuan dari anak pengusaha smartphone tersebut.

"Serius, Itona?"

Hanya anggukan kecil sebagai jawaban atas pertanyaan Isogai.

Sepulang dari perkumpulan itu, Karma pulang bersama Nagisa. Di perjalanan, sering sekali mereka berbincang tentang cuaca atau keadaan alam. Entah, hanya itulah yang terpikir Nagisa saat melihat langit senja.

Sudah sekitar jam lima, dan mereka baru pulang. Biasanya hanya sampai jam empat, namun karena berapa minggu dekat ini akan diadakannya UAS semester pertama, maka anak-anak memutuskan untuk belajar bersama. Mumpung Karma ikutan, pikir mereka.

"Lho? Karma, kamu mau kemana lagi?"

Tanya Nagisa heran melihat temannya itu mengubah arah, dan berbelok di pertigaan. Karma menoleh sesaat ke arah Nagisa dengan senyum khas-nya, "Mau mampir sebentar."

"Mampir…?"

Nagisa memiringkan kepalanya bingung. Mungkin Karma mau ke toko buku lagi? Tapi arah yang diambilnya setelah berbelok berbeda dengan arah menuju toko buku. Ingin Nagisa mengikutinya, namun waktu memperingatinya agar tidak terlalu pulang larut, karena hari ini ibu-nya sedang berulang tahun. Ia tidak mau membuat sang ibu marah di hari spesialnya. Segera ia kembali melangkah menuju rumah, setelah membuang jauh jauh rasa penasaran terhadap Karma.

Pohon rindang tumbuh subur di pinggir jalan seakan tak ada jarak antara satu pohon dengan pohon lain, bunga-bunga berbagai macam tumbuh dengan baik di sana, bahkan beberapa kelompak jatuh menjadi penghias jalanan yang sepi. Karma menulusuri jalan yang agak asing di matanya ini. ia mengetahui ada jalan indah tersebut, tetapi ia sering menolak melewatinya. Alasannya simple, karena kalau melewati jalanan itu, berarti ia harus memutar untuk pulang ke rumahnya. Meski terbilang indah, ia lebih suka melewati jalan pintas yang biasa ia lewati. Namun, sekarang ia memiliki alasan tersendiri untuk melewati jalanan penuh tanaman berwarna-warni tersebut.

Setelah berjalan beberapa langkah, akhirnya ia menemukan yang ia cari. Ia memberhentikan langkahnya saat melihat eksintensi tak asing baginya tengah melamun di pinggir jembatan kecil. Ya, Nakamura Rio lah yang dijadikan alasan untuk pergi ke sana meski hari sudah makin malam. Dihampirilah teman SMP-nya itu, dan ia menyadarinya.

"Karma? sedang apa kau di sini?"

"Kau sendiri sedang apa di sini?" bukannya menjawab, Karma malah membalikkan pertanyaan tersebut ke Nakamura. Gadis itu kembali menatap air sungai yang mengalir lambat.

"Cuma melamun saja…"

"Ooh…"

"Kalau kau?"

"Nggak, aku Cuma penasaran denganmu yang nggak pernah kelihatan dan malah melamun di sini."

"Penasaran? Nanti Okuda-chan bisa cemburu kalau dengar ini, lho~!" Nakamura dengan nada bercandanya.

"Cemburu? Kau dan aku? Kita kan Cuma sebatas teman."

"Emangnya kamu nggak kenal istilah selingkuh?"

"Kenal, sih kenal. Tapi aku gak ada minat sama kamu. Toh selingkuhan sama kamu juga gak ada gunanya."

"Meski ucapanmu benar, kok rasanya aku pengen nabok kamu ya."

"Nabok? Coba saja kalau berani~" Karma menyeringai jahil khasnya, membuat Nakamura tambah kesal. Namun sebisa mungkin ia menahan niatannya dan kembali membalas perkataan temannya itu.

"Ahahaha~ kau seperti kita kelas 3, ya… begitu mirip…"

Mendapati nada suara Nakamura yang terdengar sedih di akhir, Karma melirik ke arah gadis di sampingnya. Meski tersenyum, jelas tersirat kesedihan yang mendalam dalam matanya. Karma pun memutuskan untuk membuang candaannya untuk sementara, membiarkan emosi temannya kembali stabil.

"Koro-sensei, ya…?" Nakamura mendelik saat Karma berkata ini. Mengetahui reaksinya, Karma kembali melanjutkan, "Dari mataku, aku melihat dirimu sedang bersedih karena kematian Koro-sensei. Benar begitu?"

Si surai kuning itu mengalihkan perhatiannya dari aliran sungai ke arah Karma. Menatap sang teman dengan wajah yang masih belum berubah. Kesedihan masih setia menghiasi wajahnya yang tersenyum paksa. Dengan suara lirih, ia membuka mulutnya,"Kau memang tahu segalanya, ya, Karma…"

"…"

Karma tidak menjawab. Ia memilih untuk bungkam saat Nakamura berkata.

"Hei… menurutmu aku ini seperti apa?"

Nakamura kembali berucap. Si surai merah pun melirik wajahnya kembali, memastikan ekspresi yang dipakai olehnya. Setelahnya ia mendongak ke atas, memandangi langit senja yang semakin menggelap karena matahari yang mulai terbenam.

"Entahlah?" hanya itu yang keluar dari mulut Karma. Nakamura kembali menatap aliran sungai. Ia membenamkan kepalanya ke dalam lipatan tangannya. Setelah menenangkan emosinya, ia kembali menjawab pertanyaannya sendiri.

"Menurutku aku seperti rubik tanpa warna…"

Karma menoleh, "Rubik tanpa warna?"

"Ya… kau tidak tahu? Itu rubik yang seluruh sisinya berwarna putih."

"Meski selesai, tapi tidak selesai… ya?"

"Ya… dan bagaimana, ya… rubik seperti itu membosankan…"

"…" Karma kembali bungkam, membiarkan Nakamura melanjutkan perkataannya.

"Setiap sisinya berwarna putih, jadi setiap diputar berapa kalipun, yang dihasilkan selalu sama. Terlalu membosankan, makanya… Rubik seperti itu sebaiknya tidak ada."

Karma memicingkan matanya di sini, sedangkan Nakamura hanya tetap memandangi aliran sungai yang damai. Hening kembali. Tak ada satu pun di antara mereka yang mengangkat topik pembicaraan baru. Hanya terdiam di tempat, menunggu matahari terbenam dengan sempurna. Dan demikian mereka menutupi hari.

Di kemudian hari, sekitar pukul setengah lima, Karma kembali melewati jalan yang indah tersebut hingga ia harus memutar untuk pulang nanti. Masih dengan tujuan yang sama, ia menemui mantan teman sekelasnya yang selalu melamun di jembatan sungai kecil. Terhenti sesaat setelah tebakannya mengenai gadis itu benar, Nakamura masih saja berada di sana tanpa melakukan hal lain selain termenung.

"Sedang apa?" Karma kembali bertanya sekadar untuk membuka pembicaraan. Seperti yang ia duga, sang gadis hanya menoleh sesaat sembari menjawab dengan datar, "Melamun."

"Oooh…"

Hanya itulah tanggapan dari Karma. ia bersender di samping Nakamura. Mereka memandangi pemandangan cantik di depan mata dalam diam. Lagi-lagi tak ada pembicaraan. Sungguh, keadaan itu benar-benar membuat Nakamura jengkel, namun ia juga tak ingin ada perbincangan saat ini. Ya, setidaknya saat mereka saling bersisian.

Setelah menunggu sekitar lima belas menit, Nakamura dengan suara lirihnya membuka pembicaraan.

"Hei, menurutmu aku ini seperti apa?" Karma hanya terdiam. Hal ini sudah diduga oleh sang penanya sendiri, kemudian ia melanjutkan perkataannya. "Menurutku aku tuh seperti ruang hampa. Kosong. Tak ada benda maupun orang di sana."

"…"

"Hanya ruang hampa yang tidak berisikan apa-apa…" berhenti sejenak, memberikan jeda untuk Karma menangkap maksud dari perkataannya sebelum ia melanjutkan kembali,"Membosankan."

Karma mendapatkan ucapan yang serupa dari Nakamura. Entah sudah berapa kali ia menghampirinya dan mendengar perumpamaan dengan arti yang sama. Setiap kali, dan setiap hari ekspresi dari gadis itu juga selalu sama. Terlihat kesedihan yang tersirat dalam pancaran matanya. Membuat Karma jadi enggan untuk memarahi Nakamura. Ia bimbang.

"Nagisa, kalau kau punya teman yang menganggap dirinya bosan, apa yang akan kau lakukan?"

Karma bertanya pada Nagisa yang berjalan bersisian dengannya. Hari ini pun pertemuan kelas E kembali diikuti oleh beberapa orang untuk mengadakan sesi belajar bersama. Kegiatan tersebut turut diikuti oleh Karma yang berperan sebagai pusat konsultasi.

Namun, karena tidak terlalu memperhitungkan dengan waktu, saat perkumpulan itu selesai mereka menyadari bahwa jarum jam sudah mencapai pukul tujuh malam. Beberapa anak juga sudah dihubungi oleh orang tuanya berkali-kali. Mungkin karena ponsel mereka di-silent, maka mereka baru menyadarinya saat pulang tadi.

Dan tentu pula dengan Nagisa. Ayah dan ibunya juga cukup khawatir dengan keadaan anaknya yang pulang larut. Terutama ibunya, ia makin hiperprotective sejak Koro-sensei tiada.

Sedangkan Karma, ia tak begitu dikhawatirkan karena biasanya dialah yang membuat onar. Dan justru orang tua-nya lebih khawatir dengan kepribadiannya yang kembali menjadi siswa yang memberontak –meski tidak seburuk SMP dulu. Ia juga tidak pergi menemui Nakamura hari ini, alasannya simple. Sudah terlalu larut untuk menemuinya. Ia tak ingin dianggap penculik hanya gara-gara menemui teman perempuannya di malam hari. Meski ia cukup cemas dengan gadis satu itu, ia bahkan bertanya demikian pada Nagisa tentang pendapatnya atas perilaku Nakamura.

Nagisa masih belum menjawab pertanyaan Karma, ia masih berpikir tentang itu. Hingga beberapa menit kemudian Nagisa membuka mulutnya dan menjawab dengan yakin, "Kalau temanku ada yang bosan, maka aku akan mengajaknya bermain, mungkin?"

"Main, ya…?" Karma mengulang jawaban Nagisa.

"Iya. Bukankah Karma yang biasanya selalu begitu?"

"Aku?"

"Kalau temanmu sedang badmood, kau pasti mengajaknya bermain. Meski terkadang kau selalu mendahulukan ejekan pedas, tapi bukankah itu yang menjadi penyemangatnya? Duuh, padahal jawabannya adalah dirimu sendiri, tapi kau malah bertanya padaku?"

Karma kehabisan kata-kata. Ia baru sadar, kalau ia memang selalu bersikap seperti itu pada semua temannya. Tapi, kenapa ia bisa lupa?

"Heeh, makasih sudah mengingatkanku, Nagisa."

"Um. Semoga temanmu itu bisa cepat bersemangat lagi, ya."

"Kuusahakan."

Pada keesokan harinya, Karma kembali menemui Nakamura di jembatan yang sama setelah sepulang dari perkumpulan. Kali ini ia membawa minuman kaleng di kedua tangannya.

Menelusuri jalanan yang indah tersebut hingga akhirnya ia menemukan sosok yang ia cari. Ia kemudian mendekati Nakamura yang sedang melamun seperti biasanya, dan memberikannya sekaleng minuman. Di awal Nakamura agak terkaget karena Karma memberikannya langsung di depan wajahnya secara tiba-tiba, seakan mengganggu pandangan Nakamura yang terpusat entah dimana.

Setelah menerima minuman yang diberikan Karma, dan mengucapkan terima kasihnya, ia membuka kaleng tersebut dan meminumnya. Diikuti oleh Karma yang turut meneguk minumannya.

Cukup lama mereka terdiam di sana hingga Nakamura membuka topik yang biasanya ia katakan.

"Karma. menurutmu apa aku ketinggalan, ya…?" lagi, Karma hanya terdiam mendengarkan dengan seksama. "Nilai akademikku kembali menurun, tapi aku juga tak bisa mempertahankan karakterku yang dulu. Apa ini akibat dari berjalannya waktu? Kalau memang benar… aku ingin agar waktu terhenti. Aku ingin tertawa seperti dulu. Ingin kembali… tapi bagaimana caranya? Aku sudah lupa… caraku tertawa…"

"Nakamura, apa itu memang isi hatimu?"

Tiba-tiba Karma memotong ucapan Nakamura, membuat sang lawan bicara menoleh ke arahnya. Ia yang biasanya selalu diam mendengarkan, kini memotong ucapannya. "Karma…?"

"Aku tahu, lho… kau itu Cuma takut pada masa depan dimana kita tak bisa bertemu dengan Koro-sensei lagi," Nakamura tertegun di sini.

"Tapi masa depan itu sudah dimulai, lho. Apa kau tetap bersikeras menolaknya? Meski kau hidup di masa depan itu?"

"…"

"Hahaha. Kau benar-benar berbeda dengan dirimu yang dulu. Padahal dulu kau selalu antusias melihat ke depan."

"…"

"Payah. Aku kecewa denganmu."

Diakhiri dengan teguran penuh penekanan singkat Karma, mereka pun menyudahi pembicaraan. Nakamura sudah tak bisa menyangkalnya. Jangankan itu, ia bahkan tak sanggup berkata-kata lagi. Karena ia tahu apa yang dikatakan oleh Karma memang hal yang sebenarnya terjadi pada dirinya, maka ia hanya bisa termenung memandangi aliran sungai kembali. Bosan dengan reaksi Nakamura, Karma segera pergi menjauh dari jembatan itu. Dan mereka pun kembali ke rumah masing-masing saat hari makin larut.

"Aku pulang…"

Ucap Nakamura sesampainya di rumahnya. Setelah melepas sepatu, ia segera memasuki rumah. Ia merasakan adanya kejanggalan dimana ibunya tidak menyambutnya hari ini. Mencari-cari sosok sang ibu, ia mememutari satu rumah itu. Dan didapatilah ibunya tengah menangis melihat hasil tes-nya di UTS lalu. Melihat ini, raut wajah Nakamura berubah, ia bersembunyi di balik dinding ruangan dan terduduk. Memeluk kedua kakinya seakan sedang ketakutan.

Padahal aku sudah bilang untuk tidak akan membuat orang tuaku kecewa. Tapi, kenapa aku melakukannya lagi…?"

Batin Nakamura mulai menitikkan air matanya.

Di hari selanjutnya Nakamura absen hingga 4 hari.

"Hei, Itona…" ujar Okajima memanggil temannya yang sedang fokus dengan alat elektronika di meja. Sesaat setelah mendengar namanya dipanggil, Itona menghentikan kegiatannya untuk sementara dan menoleh ke Okajima. Matanya menyiratkan kalimat bertanya 'Ada apa?'

"Apa kau melihat Nakamura lagi?" tanya Okajima.

"… nggak tuh," jawabnya singkat dan kembali mengurusi benda di depannya. Mendengar ini, Okajima hanya bisa menghela napas, membuat Mimura menghampirinya karena penasaran. "Emangnya kenapa, Okajima? Tumben nanyain Nakamura."

"Oh, Mimura… sudah empat hari dia nggak masuk. Awalnya kupikir dia sakit setelah nggak masuk sehari, terus kan libur sabtu-minggu. Kukira dia masuk hari seninnya, tapi nyatanya dia nggak masuk hingga hari ini, rabu," jelas Okajima.

"Ooh… kamu satu kelas sama dia, ya. Pasti ditanyain terus."

"Begitulah..."

"Kalau soal Nakamura, hari kamis minggu lalu aku melihatnya sedang bersama Karma," Itona kembali berucap memotong pembicaraan Okajima dan Mimura. Membuat semuanya mengerutkan alis bingung. Kemudian mereka langsung menoleh ke arah lelaki bersurai merah tersebut dengan wajah heran, "Benarkah, Karma?"

"…"

Karma mengerutkan alisnya, hanya mengagguk kecil sembari mengalihkan pandangannya. Jelas terlihat raut wajahnya yang kecewa, sehingga teman-temannya menjadi enggan untuk menanyakan lebih lanjut. Namun tidak untuk Nagisa. Ia memang tidak menanyakan apa-apa, namun ia teringat dengan pertanyaan Karma di tempo hari membuatnya curiga. Ditambah Karma yang selalu mengambil jalan yang berbeda setiap pulang. Apakah itu ada hubungannya dengan Nakamura-san, ya…? Pikirnya.

Setelah perkumpulan ini selesai, Karma langsung pulang ke rumahnya, tidak menemui Nakamura di jembatan sungai kecil itu lagi. Begitu pula dengan lima hari kemarin. Ia pikir dengan meninggalkan Nakamura termenung akan membuatnya tersadar oleh waktu, namun ia salah. Justru caranya malah membuat teman yang ingin ditolongnya menjadi tidak masuk sekolah. Frustasi? Bisa dibilang begitu.

Karma memasuki kamarnya. Menyalakan lampu, menghidupkan AC, dan menaruh tasnya di sembarang tempat. Entah kenapa kejadian Nakamura kali ini membuatnya benar-benar terpukul. Tapi anehnya ia tidak menyesal atas perkataannya waktu itu. Ia membaringkan dirinya di atas kasur, tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Masa bodoh dengan bajunya menjadi lecek, ia ingin merenung sejenak.

"Haaah…."

Karma menghela napas. setelahnya ia memiringkan posisinya dan mendapati suatu benda berada di depan mata. Karma pun membangunkan dirinya menjadi berposisi duduk, ia lalu mengambil benda tersebut. Dilihatlah itu secara seksama.

Bingkai foto.

Dimana di dalamnya terdapat hasil potret bersama kelas 3-E dengan Koro-sensei. Membuatnya kembali bernostalgia dengan masa yang telah lalu. Tersenyum kecil saat ia teringat kejadian-kejadian konyol yang dulu dilakukan mereka karena sang guru yang suka mencari masalah. Banyak yang terjadi, saat ia masuk ke kelas E, saat mereka melewati UTS dan UAS, saat mereka pergi wisata ke pulau selatan, dan saat ia ikut kena hukuman karena teman-temannya melakukan free running di luar kelas.

Dan saat mengenang ini, matanya membulat, seolah ia telah menyadari sesuatu. Pesan yang Koro-sensei sampaikan pada saat itu.

Pakailah kekuatan kalian untuk menolong orang lain

Nakamura berjalan dengan tatapan kosong. Ia tak memiliki tujuan sekarang, hanya berjalan asal tidak jelas. Sesekali ia melirik sekitar yang terlihat berbagai orang yang bahagia, entah karena uang, atau yang lainnya. Entah kenapa ia merasa iri dengan orang yang memiliki raut wajah senang.

Setelah kejadian di kamis minggu lalu, dimana Karma menegurnya dengan ucapan yang terbilang kasar membuatnya kembali tertunduk ketakutan. Ucapan Karma memang benar, ia memang payah. Apalagi ia gagal menjaga senyuman keluarganya, padahal itulah yang paling ia harapkan. Ia terjatuh karena kesalahan sendiri. Dan kesalahan itu pun membuat orangg sekitarnya kecewa padanya. Membuatnya tambah gelisah akan keberadaannya sendiri.

Lebih dari siapa pun… aku…

Berharap tidak ada di dunia ini.

Dengan pemikiran seperti itu, ia terus berjalan tanpa arah. Mengacuhkan keindahan dunia di sekitarnya, ia tak peduli. Ia hanya berharap tidak akan ditemukan oleh orang yang ia kenal. Dan akibat dari pikirannya yang kosong, ia menerobos lampu merah yang jelas telihat di depannya. Ia berjalan tanpa kepedulian yang tertanam dalam dirinya, hanya terus berjalan.

TIIN TIIN!

Suara itu membuat matanya terbelalak mendapati sebuah truk melaju kencang ke arahnya.

Dan tiba-tiba tangannya ditarik mundur hingga terjatuh di trotoar. Ia mengandah, melihat seorang yang familiar berada di depannya dengan tampang marah. Ya, Karma di sana, menatap Nakamura dengan amarahnya, "Apa-apaan kau!? Kau mau mati!?" bentaknya.

Yang tengah terduduk lemas merasa tersinggung dengan ucapan Karma. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain, "Memangnya kenapa…? Aku justru yang harus bertanya, kenapa kau malah menolongku?"

Amarah Karma memuncak. Ia mengepalkan tangannya, dan bersiap memukul Nakamura.

"Hooo… jadi kau tidak keberatan untuk mati? Kalau begitu kau tak bisa protes kalau aku menonjokmu!"

"Hentikan, Karma!" Nagisa berusaha menahan serangan tangan Karma yang siap memukul Nakamura yang berada di depannya. Namun tenaganya tidak terlalu kuat untuk menahan serangan Karma seorang diri sehingga temannya itu dapat melepaskan rangkulan tangan Nagisa yang menahannya. "Kenapa kau ada di sini, Nagisa!?"

"Aku mengikuti karena kucuriga kau akan menemui Nakamura-san. Dan ternyata memang benar."

"Terus kenapa kau menghentikanku!?"

"Karma! ini salah! Tidak seharusnya kau marah pada Nakamura-san!"

"Tak apa, Nagisa. Karma memang benar," ucap Nakamura menghentikan perdebatan di antara kedua temannya. Membuat kedua nama yang disebut menoleh ke arahnya dengan emosi masing-masing.

"Aku… memang berharap untuk mati…"

"Nakamura-san, itu-"

"Aku sudah mengecewakan semua orang! Aku sudah menghancurkan harapan semuanya! Aku juga… sudah menghancurkan senyuman keluargaku…! Gara-gara aku… aku…."

"Nakamura-san…"

"Aku… aku… Sudah cukup! Aku sudah muak!"

"NAKAMURA!"

Nagisa dan Nakamura tersentak saat Karma berteriak menyerukan nama gadis tersebut. Ia mendekati Nakamura yang mendekam. Kemudian menarik tangannya paksa untuk berdiri. Tanpa mempedulikan rintih sakit dari Nakamura, Karma memarahinya. Meneriaki tanpa menutupi amarah yang diterimanya karena keluh kesah sang gadis.

"Sedari tadi- tidak, sejak kemarin aku telah berusaha sabar mendengar ocehanmu! Kau kira aku juga tidak muak dengan perkataan-perkataan tak penting darimu itu!?"

"Apa maksudmu-"

"Aku tahu semua yang kau ucapkan itu hanyalah sangkalan dari apa yang kau inginkan!"

"…!"

"Dengar, ya! Yang sedih karena Koro-sensei meninggal itu bukan Cuma kamu!"

"Aku tahu-"

"Kalau kau tahu, kenapa kau malah mengeluarkan seluruh penyesalanmu!? Bikin muak saja!"

"Karma-kun, Nakamura-san lagi frustasi. Jangan kasar-"

"Aku sudah tahu, Nagisa! Kau diam saja!"

Nagisa hanya bisa terdiam dan tertegun mendengar bentakan Karma.

"Nakamura, Jangan cengeng, deh!"

"?"

"Apanya yang rubik!? Ruang hampa!? Ketinggalan!? Tak ada kata itu dalam kamusku!

Kalau kau bosan, maka keluarlah! Jika kau pikir ketinggalan, maka kejarlah! Ataupun kau berpikir seperti rubik tanpa warna, maka warnailah! Kalau kosong, maka isilah! Hidupmu tidak se-membosankan itu, kan!?" Bentak Karma membuat Nakamura terbelalak kaget.

"Keluarlah! Hadapilah! Ubahlah! Jangan terperangkap masa lalu, Nakamura!"

Nakamura masih terdiam mendengarkan.

"Jangan lari! Jangan tertunduk hanya gara-gara takut!"

"…"

"Aku…! Kami…! Kita…! Bukankah kita diajarkan untuk menghadapi itu semua!?"

Nagisa segera menghampiri kedua temannya itu, berusaha untuk menenangkan emosi Karma yang semakin menjadi. Sedangkan Nakamura, ia masih terpaku saat mendengar ucapan Karma. Matanya kembali berkaca-kaca. Dan perlahan air matanya kembali turun semakin deras.

Ia mengusap air matanya berkali-kali, namun gagal karena air tersebut tak berhenti mengalir dari sudut matanya. "Tapi… tapi aku harus bagaimana…? Takut… Aku tak bisa mengayunkan belatinya… aku juga tak bisa menarik pelatuknya… aku… aku benar-benar takut…!"

Hening. Karma dan Nagisa sama sekali tak berkata-kata. Membiarkan suara tangisan Nakamura memenuhi satu ruangan tersebut. Membiarkan air mata yang jatuh bergema. Karma yang sudah tenang sama sekali tidak menjawab pertanyaan Nakamura lagi, ia hanya menontonnya. Dan Nagisa pun mendekatinya dengan tenang.

"… 'Niat pembunuh itu tak bisa dipaksa menyala terus menerus.' Bukankah kau yang bilang begitu, Nakamura-san?" jeda sebentar. "Kau tak perlu memaksakan diri untuk mengayunkan belati ataupun menarik pelatuk. Setidaknya, pegang saja dulu, ok?"

Mata Nakamura kini membulat saat Nagisa memberikannya belati khusus anti-sensei di tangannya. Air matanya kini tak bisa dihentikan lagi, ia menangis sekeras-kerasnya dengan belati yang ia pegang dengan sangat erat. "KORO-SENSEI! HUUUUWAAAAAAA-!"

"Nakamura-san, kamu mau jadi Diplomat? Sensei tidak menyangka kamu bisa memikirkan hal sehebat ini!"

"Jahat banget! Begini-begini aku tuh jenius, lho~! Tapi… aku lebih suka dianggap normal. Aku mau jadi normal. Aku mau meributkan nilai jelek dengan teman-teman, dan aku pun memutuskan untuk berbuat bodoh. Tapi setelahnya, aku sadar kalau sebenarnya itu salah. Tapi aku nggak kecewa. Karena dengan berakhir di kelas E ini, aku bisa menjadi keduanya. Terima kasih, koro-sensei."

"Nurufufufu~ sama-sama."

Koro-sensei…

Andai kau ada di sini…

Di samping kami…

Aku ingin mengungkapkan terima kasihku…

Setidaknya sekali lagi…

.

.

.

Saat Karma melewati jalan yang penuh bunga dan tanaman berwarna-warni itu lagi, ia menemukan sosok yang ia cari. Seorang perempuan bersurai pirang yang memiliki ciri-ciri persis seperti orang luar sedang tersenyum lebar ke arahnya.

"Karma! taruhan, yuk! Yang kalah traktir!"

Karma menyeringai jahil khasnya sebelum menjawab tawaran dari temannya itu.

"Heeeh~ Boleh. Siap-siap kalah, ya."

.

.

.

TBC

#SPOILER

"Apa maksudmu…?"

"Rinka seperti orang lain…"

"Aku ada urusan…"

"Kupikir itu…"

Chapter selanjutnya : Kenangan yang Dilupakan