Chapter 4 : Kenangan yang Dilupakan

Seperti biasa, alumni kelas E SMP Kunugigaoka selalu datang ke gedung lamanya secara rutin setiap pulang sekolah. Setelah kedatangan Nakamura, murid yang datang semakin bertambah, mungkin ia yang mengajak mereka bergabung.

Nakamura Rio, setelah Karma menasihatinya beberapa hari yang lalu, kepribadiannya yang ceria kini telah kembali. Sedikit demi sedikit ia memperbaiki nilai-nilai akademiknya dengan belajar bersama kelas E yang selalu diadakan tiap pertemuan. Dan hari ini, seperti biasa di barisan belakang terdapat obrolan ringan dari kedua jenius kelas. Nakamura, dan Karma.

Murid-murid lain yang melihat hal itu bukan seperti melihat seperti seorang pasangan kekasih, hanya sebagai kedua teman yang memiliki karakteristik yang sama hingga bisa akrab seperti itu. Dan mereka tahu bahwa yang dibicarakan oleh mereka bukanlah hal-hal yang baik. Pernah sekali Nagisa mencoba menguping, dan ternyata mereka sedang membicarakan rencana menyelamatkan anak yang ditindas. Awalnya ia pikir itu pembicaraan yang positif, namun semakin lama ia menjadi mendengar taktik mereka untuk menyiksa para penindas yang benar-benar membuatnya ngilu hanya dengan mendengarkan. Tentu para murid yang tidak menyukai topik itu langsung menjaga jarak agar tidak bisa mendengar pembicaraan mereka. Bahkan Terasaka dan kelompoknya tidak mau mendekat. Namun, ada satu orang yang selalu nekad bersama dengan Nakamura. Orang itu adalah Yada Touka.

Entah, sepertinya ia selalu bosan sejak Kurahashi sibuk dengan OSIS sekolahnya. SMA mereka memang berbeda, namun Yada yang akrab dengan Kurahashi selalu mengajaknya bermain saat pertemuan kelas seperti ini. Dan akibat dari Kurahashi yang sibuk, maka ia berpindh ke teman akrabnya yang lain, Nakamura. Meski sering ia menutup telinganya karena pembicaraan yang benar-benar membuatnya takut, ia tetap mendengarkan dengan baik. Karena ia tahu, bahwa yang dibicarakan oleh keduanya itu berdasarkan hal baik, namun selalu berakhir negatif. Ia juga heran kenapa bisa begitu.

Hari ini mereka bertiga tampak fokus dengan pintu masuk. Beberapa teman yang penasaran pun turut mengikuti arah pandang mereka, namun mereka semakin terheran dengan sikap mereka itu. Menunggu seseorang, mungkin? Pikir mereka.

Tak lama kemudian Isogai memasuki kelas, dan Karma langsung mengepalkan tangan dengan berkata, "Yes!" wajahnya terlihat senang saat itu. Bertolak belakang dengan Nakamura yang membenturkan kepalanya ke meja, "Nooo—!"

"Nakamura, Isogai datang, tuh! Aku yang menang taruhan kali ini. Jangan lupa traktirannya, ya~" Karma menyeringai khasnya saat melihat ke arah Nakamura yang membenamkan kepalanya dalam lipatan tangan. Yada yang berada di samping hanya bisa tertawa garing melihat keduanya menunjukkan reaksi yang berbeda. "Kalian mirip, ya," gumam Yada yang ternyata dapat didengar oleh yang dimaksud.

Keduanya bertatapan sebentar sebelum menatap Yada dengan mengibaskan tangan masing-masing, "Nggak, nggak mirip. Ogah kali mirip sama dia."

"… Ngomongnya pun barengan."

"Timing dianya aja yang suka sembarangan," lagi-lagi dengan kompak mereka berkata.

Yada memilih untuk bungkam kali ini. Ia hanya tersenyum saja melihat keduanya berbicara sangat kompak. Beberapa saat kemudian, karena Nakamura merasa kasihan pada Yada yang tidak masuk ke pembicaraan mereka, ia membuka topik lain yang sekiranya bisa dijawab oleh Yada.

"Touka, gimana sekolahnya?"

"Eh? Sekolah?" Yada mengulang topik pembicaraan yang kemudian dijawab dengan anggukan kepala oleh Nakamura. Si kuncir kuda itu menopang dagu, kemudian melihat ke atas seraya mencari jawaban. "Hmm… kupikir biasa saja…"

"Benarkah? Tak ada yang spesial gitu? Misalnya orang yang mulai kau taksir di SMA~" Karma menyeringai ke arah Kimura.

Langsung saja Yada menggelengkan kepala sembari mengibaskan tangannya berkali-kali. Rona merah pun terlihat di wajahnya. "Ng-nggak, kok! Aku nggak lagi suka sama siapa-siapa! Sungguh! Dan lagi, kenapa kalian tiba-tiba membicarakan soal itu?"

"Si Nakamura sepertinya cemas dengan keadaanmu yang tumben-tumbenan membaur dengan yang lain," ucap Karma.

"Apa-apaan kau ini? Esper kah?" Nakamura melirik curiga. "Yaah… kau juga sepertinya selalu mengikutiku untuk membicarakan sesuatu. Kupikir itu tentang kegiatan sekolahmu."

Mendengar ini, Yada menundukkan kepalanya. Raut wajahnya pun turut berubah menjadi sedih. "Rinka…" ia menyebutkan satu nama dengan nada lirih. Kedua temannya itu mendelik, "Rinka? Maksudmu Hayami-san?" tanya Karma memastikan.

Yada mengangguk pelan. "Rinka seperti orang lain…"

"Apa maksudmu…?"

"Dia… lupa tentang kelas ini."

Karma mengerutkan alisnya tidak percaya, "Lupa? Kau tidak salah?"

"Iya… waktu aku mengunjungi kelasnya untuk mengajaknya mengikuti perkumpulan ini, ia melihatku seperti orang lain. Saat aku memanggilnya, ia bilang, 'Kau Yada Touka-san dari kelas sebelah, kan? Ada perlu apa denganku?' aku pun menyadari dia telah lupa tentang kelas E, pembunuhan, dan Koro-sensei…" Yada melipatkan kaki di depan dada, dan memeluknya. "Aku… aku ingin dia ingat kembali. Aku tidak mau dia sampai melupakan saat-saat kita bersama. Tapi… mungkin saja ia sudah menyukai saat-saatnya di SMA. Kalau aku mengingatkannya, kemungkinan besar kehidupannya di SMA tak selancar sekarang. aku…. jadi tidak mengerti harus bagaimana lagi…"

PLAK!

Nakamura menampar kedua pipi Yada, menghimpitnya sembentar. Membuat kepala Yada penuh tanda tanya melihat Nakamura yang menatapnya lurus tanpa ragu. "Touka! Kamu temannya, kan! Dengar, ya. Selama yang kutahu, Rinka tak pernah menyesali menjalani assassinasi di kelas ini, sekali pun tidak pernah. Aku yakin ia pasti menunggu seseorang yang mengingatkannya kembali. Jadi, sebagai teman yang satu sekolah dengannya, bukankah sudah menjadi tanggung jawabmu untuk mengingatkannya lagi?"

Yada terdiam. Ia mengalihkan pandangannya. Terlihat sorot matanya yang menyiratkan kesedihan seolah enggan menjawab perkataan tajam dari Nakamura. Namun mulutnya berkata lain, meski ia memutuskan untuk menghiraukan ucapannya, ia tetap menyuarakan jawaban yang singkat dengan senyum ragu yang terukir di wajah, "…Iya…"

Mendapati balasan dari sang teman, Karma dan Nakamura berhenti menanyakan hal yang sepertinya 'sensitif' bagi Yada.

Kemudian mentari yang terlihat tak peduli telah berada di ufuk barat, membenamkan dirinya dan langit pun berganti menjadi biru gelap. Malam telah menyapa, memberitahukan para anak-anak untuk kembali ke kediaman masing-masing. Para murid yang berada di kelas E tahu akan hal itu, dan segera pulang ke rumah.

Diambillah ponsel dari dalam tas, sekadar memastikan jam.

Jam setengah tujuh.

Sepertinya Yada selaku pemilik ponsel terlihat gelisah melihatnya, terlihat jelas di raut wajahnya yang berubah. Segera ia mempercepat langkah ke kompleks perumahannya, namun di tengah jalan ia melihat siluet yang tak asing hingga ia memberhentikan langkahnya.

Perempuan bersurai senja yang diikat dua rendah, berpakaian seragam yang sama, dan memiliki manik hijau yang indah. Perempuan itu telihat berdiri terdiam melihat bulan yang masih berbentuk sabit oleh ledakan tahun lalu. Yada yang mengikuti arah pandangnya turut terheran, kenapa ia serius sekali melihat bulan? Pikirnya.

Tetapi, ia yang tak mau membuang waktu langsung menghampiri perempuan yang dikenalinya itu, dan melontarkan sapaan singkat, "Rin- Hayami-san?"

Perempuan bernama Hayami itu menoleh ke sumber suara, mendapati Yada yang menghampirinya pelan. Ia segera membenarkan posisinya agar dapat berbicara berhadapan dengan perempuan kuncir kuda tersebut.

"Yada-san? Ada perlu apa?"

Yang disebutkan namanya menggeleng sembari mengibaskan salah satu tangannya, "Nggak, aku nggak ada urusan khusus denganmu. Aku hanya heran kenapa kamu selalu melihat ke arah bulan… hahaha…."

"… Oooh… bulan itu…" Hayami yang berkata kembali menutup mulutnya di akhir, terlihat ia yang enggan melanjutkan ucapannya dan segera berbalik pamit, "Tidak, aku hanya melihat bulan saja. Kalau begitu, sampai jumpa, ya…" ia melambaikan tangannya sesaat sebelum melangkah menuju arah yang ditujunya.

"Eh? Uh… oh… iya, sampai jumpa…" setelah membalas dengan lambaian tangan, ia masih terdiam di tempat. Melihat sosok sang teman berjalan menjauh. Setelah menjatuhkan tangannya ke samping tubuh, ia bergumam kecil, "Hanya… melihat bulan… ya…?"

Di keesokan harinya, seperti biasa Yada pergi berangkat ke sekolahnya. Ia berjalan menelusuri koridor yang cukup panjang untuk sampai di depan pintu kelasnya. Suara langkah kaki para murid terdengar samar, terhalang oleh obrolan ringan di pagi hari. Namun di tengah keramaian tersebut, ia dapat menangkap suara yang familiar di depan kelas '1-C'. Berhenti sejenak sekadar melihat sejenak dalam kelas, menemukan sosok yang dipikirkannya.

"Rinka-chan~! Pagi~!" salah satu perempuan bersurai pendek melompat ke arah Hayami.

"Kinoshita!? Huwaa-!" yang namanya dipanggil tersentak kaget mendapati temannya memeluknya tiba-tiba. Dengan wajah cemberut, ia menyuarakan protesnya, "Huh! Sudah kubilang, jangan memelukku tiba-tiba!"

"Sudahlah, Hayami-san… Kinoshita-san memang seperti itu, kan…" seorang lelaki menghampiri dengan tampang pasrah.

"Kakeru~! Pagi~!"

"Pagi…"

Yada terdiam melihat Hayami yang akrab dengan teman-teman barunya. Agak terkejut juga saat melihat temannya yang pendiam dan tidak terlalu banyak bicara itu bisa berbaur dengan akrab seperti itu. Dan lagi, seperti yang ia lihat, kedua orang itu terlihat cukup populer, baik untuk teman perempuan atau laki-laki.

Ingin Yada menghampiri dan ikut dalam obrolan tersebut, namun ia punya alasan untuk tidak melakukannya. Yang pertama, tidak mungkin seseorang yang tak dikenal akan diterima begitu saja. Kedua, ia juga sama sekali tidak mengenal kedua orang tersebut, jadi ia pikir pasti akan berakhir canggung. Dan yang terakhir… ia bukan lagi teman akrab Hayami.

Jangankan oleh orang yang bernama Kakeru atau Kinoshita itu, Hayami saja menganggapnya sebagai seorang teman yang baru kenal dari kelas yang berbeda. Dan pastilah jika ia ikut bercakap dengan mereka hanya akan menimbulkan rasa tidak nyaman oleh seluruh pihak.

Yada yang mengerti tentang ia memutuskan untuk menarik kembali niatannya mendekat dan kembali berjalan menuju kelasnya. Namun, tak disengaja ia menabrak murid lain yang ingin masuk ke kelas C tersebut. Setelah meminta maaf dan membantu mengambil barang yang terjatuh, ia segera melajukan kakinya ke kelas D, kelasnya. Dan ternyata kejadian tersebut dilihat oleh Hayami yang berada di dalam kelas.

"Haaah…"

Yada menghela napas panjang di sela memakan roti yang ia pegang. Ia mendongak ke atas, didapatilah langit biru cerah membentang luas di atas sana. Membuatnya melamun sebentar sebelum seekor burung melintas membuatnya kembali tersadar dan melahap rotinya lagi.

"Yada-san?"

Panggilan dari suara yang dikenal membuatnya berhenti menyantap makanannya. Ia menoleh ke arah sumber suara, Hayami Rinka sedang berjalan menghampirinya. Ia mengedipkan mata berkali-kali saat melihat sosoknya yang datang mendekat, ia masih belum mempercayai 'mantan' teman dekatnya kini menyapanya. "Hayami-san? Ada apa?" ia bertanya.

"Ah… umm… aku hanya ingin bertanya…"

Yada memiringkan kepalanya, "Bertanya apa?"

"Tadi aku melihatmu di depan kelasku. Apa kau ada perlu denganku…?"

"Eh?"

"Aah-! Tapi kalau memang nggak ada, tak apa, kok! Aku juga nggak begitu penasaran! Hei, jangan kira aku geer gara-gara kamu kebetulan ada di depan kelas! Jangan salah paham!"

Hayami mengibaskan tangannya berkali-kali saat mengatakan ini. Wajahnya juga terlihat memerah malu, karena ucapannya sendiri mungkin?

"Pfft- hahaha…" terdengar suara tawa dari lawan bicara, raut wajah Hayami berubah. Mode tsundere-nya aktif karenanya, "A-apa, sih!? Jangan ketawa!"

Yada hanya menghiraukan saat mendengar protes dari hayami. Ia tak menghentikan tawa yang keluar dari mulutnya, namun suaranya kini dikecilkan. Setelah mengambil napas sejenak, ia kembali berucap dengan nada tenang.

"Sebenarnya aku nggak ada perlu apa-apa, sih… aku hanya senang melihatmu akrab dengan teman sekelasmu."

"…? Kenapa?"

"Kalau dibilang kenapa juga… aku bingung harus menjawab apa… yah, kita kan dulu sekelas, jadi wajar, dong kalau aku penasaran dengan temanku," Yada berkata demikian dengan tersenyum. Sedangkan Hayami, ia terlihat terkejut dengan perkataannya, namun ia mencoba menyembunyikan emosinya itu. "Oooh… begitu, ya…"

Mereka berdua terdiam sejenak sebelum Yada kembali membuka topik baru.

"Hei, apa aku boleh memanggilmu 'Rinka'?"

"Eh?"

"Soalnya kan kita teman, jadi setidaknya aku ingin memanggilmu dengan nama depan. Bolehkah?"

Hayami menunjukkan rona merah samar di wajahnya, terlihat ia senang. Ia menarik ujung bibirnya, membentuk senyuman yang manis, "Boleh," jawabnya membuat senyum Yada makin mengembang. "Terima kasih!"

Tak lama setelahnya, terdengarlah suara bel bertanda waktu istirahat telah usai sehingga membuat Yada dengan cepat menghabiskan sisa rotinya. Meski disela-sela melahapnya ia sempat tersedak karena makan terburu-buru, akhirnya rotinya telah habis dan ia memasukkan plastiknya ke tempat sampah. Ia pun segera memasuki ruang kelasnya, begitu pula dengan Hayami.

Dua hari setelahnya, hari kamis. Setelah melalui jam pelajaran yang melelahkan, bel tanda pulang pun berbunyi dan para murid berbondong-bondong meninggalkan sekolah. Hayami yang masih sibuk membereskan buku-bukunya ke dalam tas dihampiri oleh kedua temannya. Kakeru dan Kinoshita.

"Hayami, maaf, ya… Hari ini aku ada ekskul, jadi…" Kakeru dengan wajah kecewanya berkata di depan Hayami. Yang dihampiri hanya tersenyum dan menjawab, "Tak apa, kok. Kakeru, sebentar lagi kamu mau ada kompetisi orkestra, kan? Sebaiknya kau lebih memprioritaskan itu dari pada mengantarku pulang. Toh, aku bisa pulang sendiri."

"Duuh… Rinka-chan gimana, sih… jelas-jelas Kakeru, kan pengen pulang bareng—" Kinoshita dengan tampang jahil berdiri di samping, yang kemudian mulutnya segera ditutup oleh yang bersangkutan. Hayami yang melihat hanya bisa memperlihatkan ekspresi bingung.

"Kalau begitu, sampai jumpa, ya, Rinka-chan~"

"Lho? Kinoshita juga sedang ada acara?" tanyanya melihat si surai coklat itu melambaikan tangan.

"Iya. Aku ada janji sama pacarku. Hehehe…"

"Pacar lagi, ya..."

"Iya. Dadah, ya~"

"Sampai jumpa besok, Hayami."

"Iya, sampai jumpa," Hayami turut melambaikan tangan pada kedua temannya itu.

Menghela napas sejenak sebelum ia beranjak dari tempat duduknya dan keluar dengan membawa barang bawaan. Berjalan sepanjang koridor hingga ia terhenti saat seseorang memanggil namanya dari belakang, "Rinka~!" orang itu memeluknya erat setelah dikira cukup dekat.

"Huwaa!? Y-Yada!?" ia tersontak kaget saat tangan dari temannya itu melingkar di lehernya, membuatnya agak tercekik. Ia merasa déjà vu di sini, sungguh. Namun segera Yada melepaskan pelukannya dan mengganti topik, "Hei, hei, Rinka! Pulang bareng, yuk!"

"Eh?"

"Kau mau pulang, kan? Bareng, yuk~!"

"Eh? Aku-"

"Ayo!"

Sebelum ia menyelesaikan ucapannya, Yada segera menarik tangannya berjalan menelusuri jalan pulang. Tangannya yang ditarik memberikan kesan tak nyaman baginya hingga ia menyuarakan protesnya, "Iya, iya! Kita pulang bareng, tapi jangan tarik-tarik!"

"Oh, maaf…"

Yada yang menyadari Hayami yang tangannya sakit segera melepaskannya dan membuat wajah menyesal. Hayami balik menatapnya, "Iya, aku nggak apa-apa, kok. jangan pasang muka seperti itu. Aku yang merasa bersalah, kan…"

"Oh, baiklah…"

Mereka pun kembali meneruskan langkahnya dengan santai. Tidak ada pembicaraan sama sekali, hening. Membuat suasana menjadi canggung. Tidak tahan dengan situasi yang canggung karena dirinya, ia mengangkat topik pembicaraan, "Hei…"

"Ya?" Yada menoleh ke arah Hayami.

"Kenapa kau tidak ragu-ragu menyapaku dan semacamnya…? Padahal kita, kan… baru berteman…"

Yada membulatkan matanya, agak terkejut saat mendengar ini. Raut sedih pun terukir di wajahnya. Membuat Hayami terheran, "Yada…?"

"Oh, ngg… itu karena waktu kelas tiga SMP kita sekelas. Jadi…"

"Ooh… begitukah?"

"Karena dulu kita akrab, jadi aku spontan saja… ehehee…."

"Ooh…" mata Hayami kini terlihat agak sedih, namun ia mencoba menutupinya dengan menghadap ke depan, "A-aku yang dulu seperti apa…?" tanyanya ragu.

"Eh? Etto… kupikir dulu kau itu… pendiam, dan benar-benar seperti orang dewasa. Rasanya sulit mendekatimu…"

"…" Hayami terdiam. Ia mengalihkan pandangannya.

"Tapi… ternyata kau sangat baik hati, dan pengertian!"

"Eh?"

"Kamu selalu membantuku saat sedang susah, kau sering terlihat cuek, tapi ternyata sangat perhatian. Menurutku itu… keren, lho! Aku suka!"

Yada mengatakannya dengan semangat, dan sukses membuat rona merah muncul di wajah Hayami.

"A-apa, sih!? Jangan mengatakan hal yang bisa bikin salah paham, dong! Sudah ah! Aku pergi!"

Ia melangkahkan kakinya berbelok ke arah kiri, membuat si kuncir kuda itu bingung, "Lho? Rinka, bukannya rumahmu lewat situ?" ia menunjuk ke arah yang berlawanan dengan arah yang dituju oleh Hayami.

Hayami menoleh sesaat dan menjawab perkataan Yada, "Oh, hari ini aku mau ke rumah teman dulu. Sampai jumpa," ia melambaikan tangannya ke arah Yada yang turut melambaikan tangan. Melihat sang teman pergi makin menjauh, Yada menurunkan sudut alisnya, membuat raut sedih. "Rinka.. benar-benar sudah lupa, ya…?" ia bergumam kecil sebelum akhirnya ia kembali meneruskan perjalanannya, menuju kelas 3-E SMP Kunugigaoka yang berada di atas gunung.

Ia melangkahkan kakinya pelan. Sesekali menendang kerikil yang berada di tengah jalan, iseng. Hingga lampu merah membuatnya berhenti, menunggu lampu tanda diperbolehkan menyeberang menyala. Ia menghela napas dengan menundukkan kepala.

"Touka, ya? Baru mau ke sana?"

Tanya seseorang dari belakang. Suara yang familiar, membuat Yada menoleh ke sumber suara. Didapatilah Nakamura yang berjalan menghampiri dengan mengunyah permen karet. "Oh, Rio. Mau ke kelas E juga?" tanyanya yang dijawab dengan anggukan kepala oleh lawan bicara.

Nakamura melangkahkan kakinya hingga berdiri bersisian dengan temannya itu.

Beberapa saat, dan tak ada pembicaraan hingga yada memilih untuk angkat bicara, "Rio…" ia mennyebutkan nama orang yang berada di sampingnya, membuat yang bersangkutan menoleh.

"Tanggung jawab yang kau katakan waktu itu… sepertinya tak bisa kulaksanakan…"

"? Tanggung jawab…?" Nakamura mengulang ucapan Yada. Si surai coklat itu mengangguk pelan sebelum kembali membuka mulut.

"Um. Rinka… dia… memang melupakan momen saat-saat kita di kelas E."

Di lain tempat, Hayami yang baru saja membuka pintu masuk disambut oleh pemilik rumah.

"Hayami-san! Selamat datang!" ucap tuan rumah yang merupakan gadis berumur 12 tahun itu menyambut kedatangan Hayami yang memasuki ruang tamu.

"Oh, Yuno. Kau pulang cepat hari ini?" Hayami bertanya sekadar memastikan, karena faktanya ia jarang melihat Yuno berada di rumah jam segitu.

"Iya."

"Kakakmu mana?" ia kembali bertanya saat mendapati eksitensi yang dikenalinya itu tidak ada.

"Dia belum pulang," segera Yuno menjawab dengan santai. Hayami pun hanya mengiyakannya dan segera memasuki area dapur. Mengambil peralatan dan bahan-bahan memasak. Dan gadis kecil itu menyadari hal yang berbeda dengan Hayami saat itu. Penasaran, ia bergumam, "Hayami-san sedang senang, ya?" berpikir demikian karena melihat senyum Hayami yang mengembang.

Keesokan harinya, sepulang sekolah.

Hari pun berjalan dengan lancar, dan tak dirasa langit sudah merubah warnanya bertanda hari makin mendekati malam. Membuat warna langit yang tadinya berwarna biru cerah menjadi warna oranye senja yang selaras dengan surai milik Hayami. Dirinya baru saja keluar dari kelas dengan menghela napas.

Dilihat dirinya yang keluar kelas seorang diri, ia kembali mengingat kedua temannya sedang ada urusan sehingga pada akhirnya ia harus pulang sendiri hari itu juga. Kakeru sedang ada latihan klub orkestra, dan Kinoshita ada urusan dengan pacarnya lagi. Membuat dirinya merasa kesepian karena tak ada teman yang bisa diajak mengobrol. Ia berjalan menelusuri koridor, dan berhenti di depan kelas yang bertanda '1-D'

Berdiri di depan pintu yang terbuka, dan mencondongkan dirinya ke dalam, melihat sekelompok anak perempuan yang tengah berbincang-bincang itu menoleh ke arahnya. Setelah menenangkan diri, ia memberanikan diri bertanya, "Err… Yada Touka ada?"

Mereka saling bertatapan sebelum menjawab.

"Touka-chan sudah pulang," jawab salah satunya. Hayami kemudian hanya mengiyakannya dan berterima kasih, lalu berpamitan pulang.

Ia kembali melangkahkan kaki menuruni tangga. Hanya berjalan dengan langkah pelan dan santai tanpa terburu-buru hingga langkahnya terhenti sejenak saat melihat klub survival game yang letaknya tak jauh dari ujung tangga. Ia melihat salah satu anggota yang berhasil menembakkan peluru tepat di tengah-tengah sasaran dan diberikan selamat oleh temannya yang lain.

Membuatnya bernostalgia.

Dan kehadirannya yang terdiam di depan pintu sukses membuat anggota klub tersebut terheran. Mereka menghampirinya dengan senyum ramah, "Hei, apa kau tertarik dengan tembak-menembak? Mau bergabung dengan kami?" tawar salah satunya.

Hayami dengan segera menggelengkan kepalanya pelan, "…Tidak… aku-"

"Sudah, coba saja dulu!"

Belum Hayami menyelesaikan perkataannya, salah satu anggota yang sepertinya adalah ketua dari klub menariknya masuk ke dalam. Memberinya pistol angin berisi peluru BB dan meng-instruksikannya untuk membidik papan target yang berada 5 meter di depannya.

Hayami, tangannya terlihat gemetar, keringat dingin mulai bercucuran, raut wajahnya berubah. Namun, tanpa mempedulikan keadaan mental Hayami, mereka menyemangatinya dan mau tak mau si surai jingga mengangkat pistol yang digenggam. Membidik target dengan wajah ketakutan.

Kumohon! Semoga meleset!

Batinnya takut dengan mata tertutup, dan ia pun menarik pelatuknya.

BANG!

Peluru BB melesat hingga membuat tanda di papan target. Dengan ragu, ia membuka matanya memastikan. Yang kemudian hasilnya membuatnya terdiam dengan pikiran kosong.

"Hebat! Tepat di tengah-tengah!"

Mereka mulai memuji hasil dari tembakan Hayami, dengan nada senang tentu saja. Mereka dengan bahagia mengambil papan target yang tadi dan memperlihatkannya pada Hayami lebih dekat, "Hei, lihat! Kau berhasil- eh…?"

Ekspresi wajah dan senyuman mereka memudar seketika melihat air mata berjatuhan melalui pipinya. Membuat anggota klub survival game menjadi terheran. Mereka mencoba mendekati dan bertanya padanya, namun sebelum mereka melakukan hal itu, Hayami sudah mengambil tasnya dan berlari keluar area sekolah.

Dan ia tidak tahu bahwa ada seseorang yang memperhatikannya.

Setelah beberapa waktu kemudian, ia tak menyadari bahwa ia sudah sampai di rumahnya. Membuka pintu rumah, dan mendapati ucapan selamat datang dari sang kakak yang baru saja pulang dari tempat kuliahnya. Tanpa menjawabnya, ia segera beranjak ke kamar tidur. Menutup pintu, dan bersandar di baliknya. Matanya menatap lurus lantai ubin yang berada di bawah. Mengingat hal absurd yang dilaluinya hari ini.

Menangis di depan anggota klub survival game yang bahkan tak ia kenal.

Ia berjongkok, dan memeluk lututnya. Membenamkan kepala dalam lipatan tangan.

Akibat dari kelakuan sang adik yang terbilang ganjil karena tidak membalas sambutan selamat datangnya, sang kakak yang merasa diabaikan di bawah mencoba memanggil.

"Rinka! Kau dengar, tidak? Yuno menelpon. Kau tidak ke rumahnya hari ini?"

Namun Hayami tak menjawab sama sekali. Membuat kakaknya makin terheran. Ia melangkahkan kaki menuju kamar sang adik, dan mengetuk pintunya sebelum mengulang ucapannya.

"Hei, Rinka. Yuno menelpon, tuh…"

"Hiks….hiks…"

"…?"

Yang didapatinya bukanlah sebuah jawaban, namun rintih tangis dari sang adik. Membuatnya makin heran, namun ia memutuskan untuk tidak mengusiknya dan pergi ke bawah.

Di balik pintu, terdapat Hayami yang air matanya terus berjatuhan tiada henti.

Tiga hari kemudian, hari Senin.

Hayami yang terduduk di kelasnya terus memperhatikan pemandangan di luar sana yang terlihat di jendela yang berjejer di dinding. Langit biru kekuningan yang menandakan waktu tiga sore begitu terlihat di luar sana. Dan hal itulah yang menjadi titik fokus Hayami yang terlihat melamun. Menyangga-kan kepalanya di salah satu tangan yang ditumpukan pada meja.

"Hayami?"

Terdengar suara yang menyebutkan namanya, namun ia tidak mengalihkan pandangannya sama sekali. Membuat sang sumber suara kembali menyapa.

"Hayami?"

"…"

"Hayami? Hei, kau dengar?"

Orang itu mengibaskan tangannya di depan kepala Hayami, mengalihkan pandangannya. Mencoba mendapat perhatian dari gadis tersebut. Menyadari hal ini, Hayami segera menyadarkan diri dan menoleh ke samping. Oh, Kakeru.

"Kakeru? Ada apa?" tanyanya.

"Harusnya aku yang bertanya. Kau sedang apa? Belum pulang?"

"Eh?"

"Bel sudah berbunyi beberapa saat lalu, lho. Kau tak dengar?"

"Eh? Sungguh?"

"Iya."

Hayami segera merapikan barang-barangnya ke dalam tas. Ia sama sekali tidak sadar bahwa dirinya telah melamun begitu konsentrasi hingga ia tidak menyadari bel tanda pulang sudah berbunyi. Setelah menutup resleting tas, ia segera beranjak dari tempat duduknya.

"Oooh… makasih sudah diperingatkan, Kakeru. Kau ada ekskul lagi, kan? Sampai jumpa, ya."

"Eh? Ah… iya, sampai jumpa…."

Hayami melambai singkat sebelum pergi keluar kelas. Meninggalkan Kakeru yang masih terdiam di situ dengan tampang bingung. "…?"

Gadis surai senja itu terus berjalan menelusuri koridor hingga ia berhenti saat mendengar namanya diserukan oleh seseorang dari belakang.

"Ah! Rinka!"

Menoleh, mendapati si surai coklat kuncir kuda mendekatinya. Ia tahu nama dari gadis itu, Yada. Yada menghampiri Hayami dengan tas yang dibawanya. Sekiranya sudah cukup dekat, ia menghentikan langkahnya untuk berbincang.

"Rinka. Aku dengar, katanya hari jum'at kemarin kau mencariku, ya? Ada perlu apa?" tanyanya dengan nada ceria. Berlawanan dengan Hayami yang menjawab dengan tampang muram.

"Jum'at kemarin… aku hanya…."

"Hm? Hm?"

"Entahlah… aku rasa waktu itu aku ingin membicarakn sesuatu.. mungkin?"

"Oh, ya? Kalau kau mau membicarakan sesuatu, katakan saja padaku! Jangan sungkan, ok? Oh, bagaimana kalau kita ngomongnya sambil jalan pu-" Yada menarik tangan Hayami, namun temannya itu langsung menolak tangan Yada. Membuat ucapannya terputus begitu saja oleh perlakuan Hayami. "Rin…ka…?"

"O-ooh… maaf. Aku ada urusan… dah," Hayami segera berjalan meninggalkan tempat berdirinya, meninggalkan Yada yang masih terdiam heran. "Rinka….?"

Setelah kejadian itu, Yada yang dengan penuh kebingungan melanjutkan langkahnya. Berjalan keluar sekolah tanpa ditemani siapa pun. Membuat keadaannya begitu sepi tanpa suara. Ia terus melangkah hingga akhirnya ia sampai di tempat yang ia tuju. Bangunan sekolah lama, tempat kelas 3-E SMP Kunugigaoka mengemban ilmunya setahun yang lalu. Ia memasuki bangunan tersebut, dan setelah berada di dalam ruang kelas, ia hanya mendapati seorang Nakamura Rio yang sedang bermain-main dengan bukunya.

"Rio, yang lainnya kemana?" tanya Yada berjalan menghampiri. Nakamura yang dihampirinya tersenyum—nyengir lebar, sepertinya ia terlihat senang saat Yada menanyakan hal ini. dengan nada bicara yang kelewat ceria, ia menjawab pertanyaan tersebut, dengan tangan yang membentuk V.

"Heheheh~! Aku baru saja menang taruhan dengan teman-teman, jadi mereka sedang belanja~"

"Eh? Menang? Dengan semuanya?" Yada terkejut mendengarnya, dan nakamura hanya mengiyakan dengan penuh bangga, "Yap! Dan akhirnya aku bisa mengalahkan Karma! Hahahahaaa!"

Mendengar suara tawa jahat di akhir, Yada menjadi agak risih, "Eum… baguslah kau senang. Tapi memangnya kalian taruhan apa?"

"Taruhan, apakah Karasuma-sensei dan Bitch-sensei akan pergi kencan~ ahahaha~ semuanya menjawab 'tidak akan pernah', padahal aku kemarin mengunjungi mereka dan memberikan tiket pelatihan PBB gratis dari sekolah terkenal~ Yaaaay~!"

"Paling-paling kau tidak memberi tahukannya pada yang lainnya, kan…"

"Yap!"

"Dasar… oh, terus sebagai hukumannya?" Yada turut penasaran karena temannya itu tidak mengatakan hal tersebut. Nakamura terdiam, bersiul untuk mengalihkan pembicaraan. "Rio…"

"Aaah… sebenarnya aku minta agar mereka pergi belanja untuk keperluan pesta…"

"Pesta…?"

"Ah… um… karena kamu terlihat tidak sehat akhir-akhir ini…"

Yada tersontak kaget mendengarnya. Antara senang, dan heran, entah semuanya bercampur menjadi satu. Ia pun kembali membuka suara, menjawab perkataan Nakamura dengan sedikit terbata, "Eh? Eh? A-aku nggak apa-apa, kok! S-sungguh!"

Nakamura menatapnya curiga. Yada pun melanjutkan ucapannya, mencoba menyakinkan.

"Hei, aku baik-baik saja, kok! Aku nggak sakit, kok! Lihat, aku masih punya banyak ener-"

"Bukan soal kesehatanmu, Touka…"

"Eh…?"

"Err… bagaimana, ya… kalau dibilang, sih… kau itu nggak semangat, kurang motivasi, atau semacamnya. Jadi, aku mau… menghiburmu, semacam itulah~"

Yada membulatkan matanya, baru kali ini Nakamura begitu mengkhawatirkannya hingga berencana mengadakan pesta. Ia sangat senang akan hal itu. Namun, ia sama sekali tak bisa berekspresi bahagia sekarang. Justru ucapan Nakamura menyadarkannya kembali tentang hal yang membuatnya menjadi kurang semangat. Keadan Hayami Rinka. Itulah yang ia pikirkan hingga saat ini. nakamura yang mengetahui asal muasal Yada yang kehilangan semangatnya itu langsung mencoba menariknya kembali agar tidak larut dalam kesedihannya.

"Touka, kau mengkhawatirkan Rinka, kan?"

Yada hanya mengangguk.

"… aku juga."

"…"

"Hei, Touka… kau tahu? Baru-baru ini aku datang ke sekolahmu," Yada menoleh ke arahnya dengan wajah heran. "Oh, waktu itu aku hanya mengantarkan temanku yang merupakan ketua OSIS ke sekolahmu."

"Untuk apa…?"

"Entahlah?"

"Oooh…"

Kembali terdiam. Yada menundukkan kepalanya, melarutkan dirinya ke dalam pemikirannya kembali. Nakamura yang mendapati ini kembali melanjutkan.

"Dan saat aku mau pulang, aku terpisah dengannya. Aku tersesat. Dan kau tahu, apa yang aku dapatkan setelahnya?"

"?"

"Rinka menangis. Waktu itu aku hendak menghampirinya, namun sebelum aku memanggil namanya, ia sudah berlari dengan berlinang air mata. Penasaran, aku melihat ke arah yang berlawanan dengan arah ia berlari, karena kupikir ia lari karena sesuatu. Dan aku melihat klub survival game tengah menatap Rinka dengan wajah khawatir. Semua anggotanya terlihat juga begitu, mereka berdiskusi dengan rasa bersalah. Aku tak tahu rinciannya, sih… tapi aku berpikir kalau Rinka waktu itu menangis karena mengingat hal yang lalu saat menarik pelatuk pistol angin."

"Eh? Tapi, Rinka kan lupa-"

"Touka, kupikir itu hanyalah suatu kebohongan. Aku yakin sekali, karena tampangnya waktu itu… wajah sedih karena bernostalgia."

"Itu…"

"Hei, aku kan sudah bilang kalau aku jua khawatir dengan Rinka. Tapi kalau dipikir, kekhawatiranku hanya sekadar teman biasa, ya... yah, mau bagaimana lagi. Kekhawatiranku terhadap Rinka memang hanya sebatas itu, tak bisa melebihimu yang bersahabat dengannya," Nakamura tersenyum sembari menunjuk Yada. Gadis berkuncir kuda itu memiringkan kepalanya, "Sahabat…?"

Nakamura menurunkan tangannya.

"Iya. Lagian kamu dekat banget sama dia. Yang seperti itu namanya sahabat, kan?"

Untuk yang kedua kalinya, Yada membulatkan matanya. Kedua maniknya berkaca-kaca, air matanya pun turut mulai keluar, namun kedua tangannya langsung mengusapnya dan mengubah raut wajahnya. Ekspresi yang sama sekali tidak bersemangat kini berubah menjadi sangat antusias dengan senyum yang terukir di wajah tersebut, "Ya! Kalau begitu, aku berangkat dulu!" ia berkata dengan tegap. Kemudian dihadiahi tepukan di punggung. "Bagus! Semangat, ya!"

Setelah mengangguk sekali, yada segera berlari keluar kelas 3-E, menuruni gunung dengan tergesa-gesa yang mengakibatkan kakinya sering kali tersandung dan berakhir terjatuh ke tanah. Membuat beberapa bagian tubuhnya seperti lutut menjadi penuh luka-luka. Namun tanpa mempedulikan hal tersebut, ia terus berlari hingga ia menemukan apa yang ia cari.

Menelusuri jalanan menuju rumah Hayami, namun ia sama sekali tidak mendapatkan temannya itu. Ia juga sudah men-cek taman yang sering ia datangi bersama Hayami, Nakamura, dan Kurahashi, kemudian ke jalanan yang indah dekat arah jalan pulang Karma, namun di semua tempat, ia sama sekali tidak menemukan Hayami.

Waktu pun terus berlalu, dan matahari mulai beranjak menuju ufuk barat, menandakan bahwa hari makin larut. Lampu-lampu jalanan pun mulai dinyalakan secara berurutan, membuat dirinya makin cemas akan sahabatnya. Ia terus berlari mencari, namun hasilnya masih sama. Ia juga sudah menelpon ibu Hayami, namun tak dijawabnya karena masih jam kerja.

Ia berhenti sejenak untuk menyelaraskan napasnya, menarik dan membuang oksigen dan karbon dioksida bekali-kali hingga ia berhasil menstabilkan emosinya. Ia kembali berpikir tempat yang mungkin dituju oleh Hayami, dan ia teringat akan satu tempat.

Sekolah.

Ia ingat tadi Hayami berlari menuju arah yang berlawanan dengan gerbang sekolah. Setelah mengambil napas sekali lagi, ia kemudian melanjutkan langkah menuju sekolahnya tersebut. Menelusuri berbagai ruangan. Mulai dari ruang kelasnya, ruang musik, perpustakaan dan berakhir di atap sekolah. Ia mendapati Hayami tengah memandangi pemandangan kota yang berkilauan. Yada pun menghampirinya dengan langkah pelan.

"Rinka? Nggak pulang?"

Hayami berbalik menoleh saat Yada menanyakan hal ini. pertanyaan Yada tak dijawabnya. Hanya terdiam dengan wajah dingin. Dengan agak enggan, gadis surai coklat itu kembali meneruskan ucapannya.

"Koro-sensei," mata Hayami terbelalak kaget.

"Rinka, kamu… apakah kamu benar-benar lupa tentangnya?"

"…"

"Aku baru sadar… waktu kita bertemu saat jalan pulang itu… kau melihat bulan. Tapi, bukan hanya itu saja. Kau melihat bulan sambil mengenang saat-saat kelas E dulu, kan?"

"Aku…"

"Kau pura-pura lupa, karena takut kau akan terus mengingatnya, dan terus merasa kesedihan, kan?"

"…"

"Tapi… kau tak bisa melupakannya karena sebenarnya kau hanya takut kalau kalau ketakutanmu itu akan menjadi beban orang lain. Sama seperti saat kita di pulau itu."

"Aku… ada urusan…"

Hayami mulai mengambil langkah untuk pergi. Ia sungguh tak tahan bila mengungkit tentang masa lalunya, terutama Koro-sensei. Ia ingin segera pergi dari situ agar Yada tidak kembali membicarakan hal sensitif baginya tersebut.

"Rinka!"

Namun harapannya runyam setelah si kuncir kuda itu menarik tangannya. Menahan agar dirinya tak pergi. Sesaat Hayami menoleh ke belakang, dan mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Yada, "L-lepaskan!"

"Rinka! Aku… aku suka Rinka!"

"Eh…?" Hayami berhenti saat Yada mengatakan ini.

"Aku suka matamu yang hijau zamrud itu! Kau selalu menatap lawan bicara tanpa ragu! Kau selalu memandang kami semua sama! Kau selalu menganggap kami teman yang sederajat!"

"Yada-"

"Aku… aku suka Rinka yang tidak pernah ragu! Aku suka kamu yang selalu antusias dalam membidik target!"

"…"

"Apa lagi saat di pulau itu…! Atau saat di festival itu! Kau mendapat banyak sekali hadiah…. Aku senang saat kau memberikannya sebagian pada kami…."

"T-tolong lepaskan…!"

Dalam hati, Hayami menjerit. Ia benar-benar tak ingin mengingat hal yang telah ia lakukan di kelas E, bahkan ia tidak ingin mengenang semua hal yang bersangkutan dengan kelas pembunuhan tersebut. Namun, kini Yada mengungkapkan semuanya tanpa menggubris penolakannya. Membuat air mata terlihat di sudut matanya.

"Aku… aku suka padamu yang selalu bisa diandalkan! Sejak dulu, kamu sama sekali nggak pernah menolak ajakanku untuk main, ataupun belajar! Kau selalu mengurung niatmu untuk menyampaikan bebanmu. Aku pikir kamu sangat keren, lho!"

"…"

"Tapi itu salah!"

"Eh-"

Yada menggenggam erat tangan Hayami. Ia menaikkan tangannya ke depan wajahnya yang tengah dibanjiri oleh air mata yang tiada henti.

"Beban yang kau tanggung tak perlu ditahan seorang diri! Kau bisa membaginya padaku! Tapi, kalau kau tetap tak mau, setidaknya kau bisa curhat padaku! Dan pada saat itu, kita bisa menjadi lebih dekat."

"Aku nggak mau-"

"Aku anggak apa-apa, kok kalau kau membagi bebanmu! Aku sama sekali tidak keberatan! Koro-sensei juga pasti… pasti bilang padamu, kan? Agar tidak menanggung beban seorang diri!"

Hayami terbelalak. Matanya berkaca-kaca, menandakan air matanya sebentar lagi akan mengalir dengan deras. Karena ucapan Yada, ia kembali teringat dengan pesan Koro-sensei sewaktu ia masih hidup.

"Hayami-san, bila kau punya beban, tidakkah kau mau membaginya pada teman-temanmu?"

"Tapi, Koro-sensei… itu berarti teman-teman akan menanggung beban yang sama, kan? Aku tidak-"

"Tak apa. Temanmu pasti bisa mengerti. Karena kalian adalah 'teman', kan?"

Kini isak tangis Hayami mulai terdengar. Air matanyapun juga mulai berjatuhan. Segera ia menutupinya dengan tangannya yang satu lagi. Namun, tangisannya tak bisa disembunyikan begitu saja, apalagi Yada. Gadis tersebut tersenyum melihat tangis jujur dari temannya. Ia kemudian kembali berkata, namun kali ini dengan nada yang lebih tenang.

"Hei, kami sudah menanggung kesedihan yang sama besarnya dengan yang kau terima. Jadi, kamu nggak perlu berusaha melupakannya, ya?"

Mendengar ini, air mata Hayami mengalir lebih deras. Ia mencoba menghapus air matanya tersebut dengan menggunakan salah satu tangannya yang bebas, namun usahanya gagal. Air matanya tak kunjung berhenti tiap ia menyekanya, justru membuatnya makin keluar lebih banyak.

"Hiks… hiks… huu… AAAAAA!"

"Rinka… huu… Huuuuwaaa!"

Keduanya pun saling menangis bersamaan. Dengan tangan yang digenggam erat, air mata terus berjatuhan. Dan beberapanya jatuh ke atas tangan tersebut. Kemudian mengalir ke bawah, dan terjatuh ke lantai. Membasahi permukaan ubin yang dingin*tes*

Apa yang telah kulakukan selama ini salah?

Apa aku sudah… keluar jalur…?

Aku… sudah keliru…?

.

.

.

Sesampainya di rumah, Hayami segera menempelkan kertas target di salah satu sisi dinding kamarnya. Setelah mundur beberapa langkah, ia mengangkat pistol anti-sensei miliknya. Membidik lingkaran terkecil yang terletak di bagian paling tengah kertas, kemudian menarik pelatuknya dengan yakin.

BANG!

.

.

.

TBC

#SPOILER

"Kalau soal akurasi, 'dia' lebih baik dari pada aku."

"Mungkin dia sama sepertiku…"

"Hayami, kau…"

"Setidaknya cobalah sekali lagi…"

Chapter selanjutnya : Kenangan yang Hampa