Trap
Naruto dkk, Masashi Kishimoto
Warning : Typo(S),OOC dan sebagainya
Pair : Sasuhina
Rate : T
Hinata menutup pintu kamarnya santai, tetapi setelah memasuki kamarnya Hinata segera melompat ke tempat tidurnya dan mengacak helai indigonya yang dibiarkan terurai itu. Hinata menyembunyikan wajah cantiknya di balik kedua kaki yang kini di tekuknya. Seperti biasa, dia tidak pernah terbuka untuk cerita dengan siapapun. Hinata hanya menceritakannya pada setiap bulir air mata yang mengalir deras dari lavendernya.
"Hikss.., kenapa semua ini terjadi"
Hinata POV
Aku merasa sangat tidak berguna saat ini, karena untuk mempertahankan sebuah kehormatan saja aku tidak bisa. Apalgi sekarang di tambah dengan hasil test pack yang bergaris dua itu, oh Kami-sama tolong aku. Aku sangat takut akan segera di tendang dari sini, karena ayahku adalah orang yang cukup terpandang. Semua ini bukanlah keinginanku, semua orang pasti berfikir aku ini adalah gadis murahan dan sebagainya.
Aku pasti dijebak, saat aku pergi mencari sedikit hiburan di klub malam sebuah hotel. Aku hanya merasa sedang stres saat itu, tugas dari guru yang tidak berujung di tambah aku sendirian di rumah. Aku tidak ingat apa-apa setelah aku diajak berkenalan oleh beberapa wanita, dan saat aku terbangun dari tidurku aku berada di sebuah kamar Hotel tanpa busana. Lebih parahnya lagi, aku bersama seorang laki-laki yang juga tidak mengenakan sehelai benang pun.
Tok Tok Tok
Suara ketukan pintu sukses membuatku tersadar dari lamunan, aku segera berdiri dan membukakan pintu itu. Aku melihat seorang wanita paruh baya berdiri di sana, yang tak lain adalah ibuku. Aku yang memang sangat rindu dan nyaman berada dekat ibuku segera memeluk erat dirinya.
"Kenapa sayang?" Ujar ibuku yang mungkin merasa heran.
Aku hanya menggelengkan kepalaku pelan sembari terus mendekapnya erat, oh Kami-sama bagaimana bisa aku menyakitinya. Ibuku melepas pelukanku secara perlahan dan mulai angkat bicara mengapa dia datang ke kamarku.
"Seorang laki-laki, siapa dia?" Tanyaku heran.
"Ibu tidak tahu, tapi dia mencarimu"
Ibuku hanya membalas kalimatku seperti itu, yang membuatku semakin penasaran dan ingin segera turun menemuinya. Aku mengiyakan ibuku dan segera turun tangga untuk menemui orang itu, sedangkan ibuku membuatkan minuman untuknya.
Aku terkejut bukan main saat melihat langsung siapa yang datang menemuiku. Dia laki-laki waktu itu, dia datang dengan setelan jas. Hal yang membuatku semakin terkejut adalah onyx miliknya menatap dalam lavenderku, apa yang dia lakukan disini?.
"Ini rumahmu, kenapa kau berdiri saja" Ujarnya santai.
Aku tidak menjawab pertanyaan sama sekali, aku segera duduk di kursi yang berhadapan dengannya secara langsung. Aku baru saja menyelesaikan Ujian Kelulusan Sekolah menengah atas , dia ingin membuka rahasia besarku dan membuatku di usir?.
Ibuku datang dan membawa dua gelas berisi teh hijau yang segera di letakkan ibu di atas meja ruang tamu berwarna putih ini. Ibuku juga mempersilahkan dia minum, sebelum ibu pergi meninggalkan kami berdua dalam keheningan.
"Aku ke sini untuk tanggung jawabku"
Jelasnya dengan sangat santai, sedangkan aku sudah gemetar dan berkeringat dingin. Apa maksudnya tanggung jawab?, tentu saja dia harus karena dia telah mencuri kehormaatanku. Aku mengambil salah satu gelas yang sama sekali belum kami sentuh, setelah ku ambil gelas itu aku segera menyiramkannya tepat di wajahnya.
"Pergi kau dari sini" Ujarku memberanikan diri.
Laki-laki yang mendapat perlakuan kasar dariku itu segera berdiri dan mencoba untuk mendekatiku. Aku tidak tinggal diam, aku mengambil gelas lainnya dan sudah kusiapkan untuk menyiramkannya lagi.
Entah karena takut atau yang lainnya, dia segera berjalan cepat meninggalkan rumahku ini. Aku berusaha mengatur nafasku setelah aku menutup pintu depan rumahku, saat aku ingin memasuki kamarku aku menemui ayahku yang terlihat marah.
Kukira dia sedang memarahi Hanabi, tapi hipotesis ku salah saat namaku yang di panggil dan ibuku yang ikut menangis setelah suara itu.
"Hinata! Apa ini?" Ujar ayahku sembari menunjukkan alat tes kehamilan yang ku taruh sembarang tadi.
Aku tidak bisa berkutik sedikitpun, aku merasa mati seketika saat Tuhan menunjukkan kebenaran dengan sangat cepat. Ayahku segera memerintahkan diriku untuk mengemasi barang-barang milikku tanpa mendengarkan sedikit pun penjelasanku.
Saat aku melangkahkan kaki melewati batas rumahku, aku melihat di belakang sana ibuku tak hentinya menangis begitu juga dengan Hanabi. Aku tidak ingin terlarut dalam semua ini, aku mengambil langkah cepat untuk menghilang dari hadapan mereka.
Aku melangkahkan kakiku dengan gontai, kemana aku harus berpulang sekarang? Aku merasa sangat hancur seketika. Aku memandangi sekeliling jalan yang kulalui ini, pepohonan rindang di kanan dan kiriku serta hiruk pikuk beberapa orang yang berlalu lalang di sekitar ku.
Ku tarik koperku dengan kasar, harus kemana aku sekarang? Aku berjalan tanpa arah dan tujuan saat ini. Aku tidak mungkin menyakiti darah dagingku sendiri, meski aku tidak mengharapkan kehadirannya.
Aku mendongakan sedikit kepalaku, kala tetes demi tetes menyentuh kulit tanganku. Cuaca hari ini seakan menggambarkan suasana hatiku saat ini, gerimis.
Tes Tes
Aku merasakan tetesan air hujan yang mulai turun lebih banyak. Aku segera menepi dan berteduh di sebuah halte bus. Aku duduk dan membersihkan sedikit air yang mengenai pakaianku, aku melemparkan lavenderku ke seluruh arah . Aku merasa lelah akan semua ini, aku juga lelah menunggu hujan yang enggan meninggalkanku di hari yang mulai senja ini.
Saat aku mulai merasa mengantuk dan menyembunyikan lavenderku, seseorang menarik pergelangan tanganku dan menyebut namaku. Aku segera memandangi matanya yang sama seperti diriku, dia adalah kakakku Neji.
"Ikut denganku"
Neji memang tidak banyak bicara saat ini, dia hanya menuntunku naik ke dalam mobil hitam pekatnya. Nyaman, ya itulah yang kini kurasa karena berada di dekat kakak yang sudah lama tidak bertemu.
"Kau suka?"
Ujar Neji memecahkan keheningan sembari melempar pandangannya pada diriku. Aku yang mendapat pertanyaan singkat itu, segera menyapu habis interior mobil Neji yang berwarna soft purple. Aku hanya mengangguk pelan dan mengukir senyum di wajahku, setelah itu aku kembali menundukkan kepalaku.
"Kau ingin kuantar ke rumah?"
Aku segera menggelengkan kepalaku pelan dan secara tidak sadar meneteskan bulir air dari lavender ku. Neji yang memang memiliki IQ di atas rata-rata itu langsung melontarkan beberapa pertanyaan padaku.
"Bagaimana bisa diusir?"
"Apa mereka tidak menghargaimu?"
"Kau selalu berprestasi, kita harus menemui mereka!"
Neji segera melajukan mobilnya menuju arah rumahku, aku yang bingung akan semua ini mulai angkat bicara.
"Neji-nii, aku hamil"
Ciiiiit
Neji menghentikan mobilnya dengan tiba-tiba, setelah itu ia menangkup wajahku yang telah basah ini. Aku kira dia akan memaki dan ikut membenciku, hal yang di luar dugaanku terjadi. Neji segera mendekap erat diriku dan dia juga menangis dalam dekapanku, jujur saja aku tidak pernah melihatnya menangis sekalipun.
"Maaf, aku tidak bisa menjagamu"
Aku menahan rasa sakit yang amat sangat saat ini, tapi aku sedikit menyembunyikan semua itu untuk Neji. Aku menghapus jejak air mata yang tertinggal di wajahku, aku segera melepaskan dekapan Neji perlahan.
"Neji-nii, Boleh aku ikut pulang denganmu?"
Tanpa menjawab sepatah kata pun dari pertanyaan yang kuucapkan, yang dilakukan Neji hanya menyunggingkan sebuah senyuman dan memutar balik mobilnya. Aku heran, bagaimana bisa ayahku mengusir Neji beberapa tahun silam. Neji sangat berbakti dan tidak pernah membantah perkataan dan perintah ayahku. Kalau aku wajar saja, aku memang di posisi yang salah saat ini.
"Dimana rumah pacarmu?"
Ujar Neji memecahkan kebisuan di mobil ini, jujur aku merasa sangat tersinggung jika Neji menyangka aku ini wanita murahan.
"Tidak punya-"
"Jadi dia meninggalkanmu?!"
"Tidak Neji-nii, orang yang menghamiliku bukanlah siapa-siapa"
"Maksudmu?"
aku cukup banyak cerita dengan Neji saat kami di perjalanan menuju tempat tinggal Neji, ceritaku berakhir saat kami sudah sampai di sebuah apartermen kelas atas. Aku terkejut bukan main, Neji angkat kaki dari rumahku baru beberapa tahun silam, mungkin baru dua tahun. Neji mengajakku turun dari mobil dan kami berjalan menuju lift yang berada di ujung koridor sana.
"Selamat malam dokter" Ujar seorang wanita yang baru keluar dari lift.
Aku tidak perlu susah payah bertanya pada Neji, dia sekarang adalah seorang dokter. Aku segera menatap permata milik Neji, aku mengerti kenapa dia di usir dari rumahku aku mengingat sedikit perkataan ayahku saat dia mengusir Neji.
"Aku menyekolahkanmu untuk memiliki gelar dan meneruskan perusahaanku!"
Jadi Neji lebih memilih menjadi seorang dokter daripada seorang pengusaha, kenapa ya? Padahal kedua mendiang orang tua Neji ingin anaknya di urus dan di bimbing ayahku. Aku yang terus sibuk dengan fikiranku sampai tidak menyadari sudah sampai di depan apartermen milik Neji.
"Apa yang kau fikirkan sedari tadi?" Ujar Neji sambil membuka pintu kamarnya dengan key card.
Aku menggelengkan sediit kepalaku dan segera masuk ke dalam apartermen Neji dengan koperku. Meskipun kami adalah keluarga jauh, aku sangat dekat dan akrab dengan Neji. Sesampainya di dalam, aku terkagum-kagum melihat seluruh interior apartermen yang serba ungu. Mulai dari ruang tamu semuanya berwarna soft purple , aku terpanah akan sebuah bingkai photo yang berada di atas meja ruang tamu.
Aku mendekati dan mengambilnya, aku melihat dengan jelas itu adalah diriku saat duduk di bangku dasar kelas enam dan Neji yang saat itu sedang alkena. Aku minta di foto berdua dengan Neji saat itu, aku sangat menyayangi seperti saudara kandungku sendiri da n selalu mengikuti kemanapun Neji pergi.
Aku tersadar dari lamunanku saat Neji menghidupkan tv dari ruangan di dalam, aku meletakkan bingkai itu ke tempat semula dan kembali melihat-lihat apartermen Neji. Saat melewati sebuah ruangan yang nampak seperti ruang santai, aku segera menemui Neji yang berada di kamar.
"Hanya kamar kakak yang berwarna putih" Ujarku santai dan segera duduk di sofa bersama Neji.
Neji yang sedang duduk di sebelahku, ingin beranjak dari sofa dan mengatakan ingin mengambil minum untukku. Aku yang merasa cukup merepotkan segera ikut berdiri dan mengekori Neji yang berjalan ke arah dapur.
"Neji-nii, kau punya kamar lagi?"
Neji membalas kalimatku dengan terkekeh dan nada yang meremehkan.
"Kamar lagi? Kau kan penakut"
Aku segera mengambil gelas yang tengah di pegang Neji dan mengambil air dari dispenser. Aku juga mengerucutkan sedikit bibirku untuk menunjukkan kekesalanku padanya. Neji mendekati dan mencubit pipi kiriku pelan dan berbisik di telinga kiriku.
"Aku bercanda, mari kita ke kamarmu"
Aku merasa sangat disambut dan di hargai disini, tapi tunggu dulu kamarku?. Aku merasa sedikit heran saat Neji mengambil sebuah kunci dari tempat P3K yang berada di sebelah pintu sebuah kamar. Neji membuka kamar yang terkunci itu, aku hanya menunggu di balik tubuh Neji yang sangat tinggi di banding diriku.
"Masuklah" Ujar Neji setelah dia memasuki kamar itu terlebih dahulu.
Aku diam terpaku di posisiku, aku melihat interior kamar yang sangat indah, di sudut kanan sana ada sebuah meja rias berwarna ungu yang sangat cantik. Tidak cukup sampai di situ, cermin, lemari, spring bed, air conditioner, walpaper bahkan seluruh interior toilet yang berada di sudut kiri berwarna soft purple.
"Awalnya, aku ingin mengajakmu untuk menginap disini beberapa hari. Tapi, aku lupa hubunganku dengan ayahmu sangatlah buruk saat ini. Jadi aku hanya mengisi dan menghiasi kamar ini, berharap kau akan datang walau sekedar berkunjung." Ujar Neji lesu sembari duduk di tepi ranjang.
"Maafkan, ayahku-"
"Lupakan, kau tidurlah biar kuambil kopermu"
Aduh.., aku lupa dengan koperku yang kutaruh di ruang tamu tadi. Setelah menaruh koperku, Neji meninggalkan diriku sendiri di kamar ini. Aku yang merasa sudah sangat penat akan hari ini memilih untuk berendam di bath tub sebentar.
Setelah selesai membersihkan diri dan mengenakan piyamaku, aku naik perlahan ke atas tempat tidur dan menarik selimut tebal. Aku berharap dapat melupakan semua yang terjadi hari ini, baru saja aku ingin tidur aku melihat sebuah kilat yang cukup besar di jendela dekat kamar mandi.
"Ah!"
Aku tidak sengaja berteriak dengan cukup keras yang membuat Neji segera menghampiriku di dalam kamar. Neji segera mendekatiku yang bersembunyi di balik selimut, Neji menggoyangkan sedikit tubuhku yang masih gemetar.
"Hinata, ayo pindah "
Neji segera mengangkat tubuhku ala bridal style ke arah kamarnya, aku menurunkan sedikit selimut yang ikut terbawa oleh Neji. Aku merasa sangat takut pada kilat dan semacamnya, seasampainya di kamar Neji aku segera di baringkan. Aku menarik pergelangan tangan Neji dan memohon padanya untuk tidak meninggalkanku.
"Tidak akan" Ujarnya lembut.
Aku mulai menyembunyikan lavenderku di balik pelupuk mata ini dan segera pergi ke alam bawah sadarku.
Hinata POV end
.
TBC
Review, Follow, Favorite ya...
Arigato
