Trap

Hai semua.. akhirnya up juga chap 3 Arigato beberapa masukan dari Minna-san. Review,Favorite,Saran dan segala macam bentuk apresiasi itu sangat membantu hehe.

Naruto dkk, Masashi Kishimoto

Warning : Typo(S),OOC dan sebagainya

Pair : Sasuhina

Rate : T

Chapter 3

Sasuke POV

Di depan sana aku melihat jelas seorang wanita membawa tongkat bisbol , yang tak lain adalah Sakura . Aku sudah siap dengan tanganku yang akan menghalaunya, jika tiba-tiba dia mengarahkan tongkat itu ke arahku.

Brakk

Hinata terjatuh saat dia tiba-tiba berada di depan diriku dan terkena pukulan keras dari Sakura. Darah segar mewarnai gaun pengantin putih Hinata, aku segera mengangkat tubuh Hinata kala melihat rasa sakit pada wajah polos nya.

Aku memerintahkan supir melajukan mobil secepat nya ke rumah sakit saat aku sudah duduk di kursi belakang bersama Hinata. Aku menangkup dan memukul pelan wajah Hinata untuk selalu menyadarkannya. Hinata terlihat sangat pucat dengan peluh yang membanjiri wajahnya, untuk pertama kalinya aku merasa kehilangan ego tinggiku .

"Cepat bodoh!"

Aku menginterupsi supir itu ketika kulihat pelupuk Hinata sudah mulai tertutup. Aku menepuk pelan wajah Hinata tapi tidak ada sedikitpun respon dari Hinata. Demi apapun aku segera memberi nafas buatan untuk Hinata, aku melakukannya berulang kali yang tidak juga membuahkan hasil.

Kulihat keluar jendela sudah sampai di rumah sakit, seorang perawat membukakan pintu mobil dan perawat lainnnya membantu mengeluarkan Hinata. Seperti keong mereka ini, aku segera mengangkat tubuh Hinata ala bridal style dan berjalan cepat ke ruang UGD. Setelah menidurkan Hinata di atas tempat tidur pasien,aku meninggalkan ruangan itu saat seorang dokter laki-laki bermata panda itu yang meminta diriku.

Aku duduk dengan gelisah di ruang tunggu dan berharap semuanya akan baik saja, aku melihat Sakura dari kejauhan yang berlari ke arah ku. Langkahnya terhenti tepat di hadapan ku, aku melemparkan death glare dan ingin segera mengulitinya sebelum Sakura berlutut padaku. Sakura minta maaf sambil menangis sejadi-jadinya dan menjelaskan kekecewaan dirinya karena pembatalan perjodohan itu.

Aku lekas berdiri saat perawat mempersilahkan aku masuk menemui Hinata, aku meninggalkan Sakura dengan posisinya yang masih berlutut. Aku menghampiri Hinata di sudut ruangan , memandangi dirinya dari dekat dia terlihat seperti bidadari kenapa aku baru menyadari itu?. Tanganku yang ingin mengelus helai indigo nya terhenti saat Hinata tiba-tiba tersadar. Aku menelan ludah susah payah melihat terukirnya sebuah senyuman di wajah Hinata.

"Bayiku baik saja, bisik seorang pria padaku tadi" Ujar Hinata.

Pria? Oh Sabaku No Garaa, dokter yang tak lain adalah pemilik rumah sakit ini sekaligus sahabatku. Aku mengarahkan onyx-ku dalam pada lavender Hinata, Hinata menaikkan sedikit alisnya dengan senyum yang masih terlihat jelas.

"Kenapa kau lakukan itu?!"

"Karena-"

Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, aku mengurung Hinata dengan kedua tangan ku diantara wajahnya. Hinata terlihat kehabisan kata-kata dan raut wajah manisnya seketika berubah menampakan ketakutan.

"Aku tidak suka kau melakukan itu!"

Setelah mengatakan itu aku beranjak dari posisiku dan berjalan menuju sofa yang ada di depan tempat tidur Hinata. Aku mengacak surai ravenku, aku merasa sedikit frustasi dan kesal saat ini.

"Gomen, Sasuke-sama" Ujar Hinata terbata.

Aku berbalik dan menghampiri Hinata lagi, kali ini aku bukan hendak memarahi atau memakinya. Aku hanya menjelaskan beberapa hal tentang keharusannya menjaga bayi itu, karena jika terjadi sesuatu yang buruk terhadapnya mau tak mau aku harus menceraikan Hinata. Hinata mengangguk pelan mengerti akan penjelasanku, onyx-ku segera beralih dari wajahnya saat pintu terbuka dan menampakan seseorang dari sana. Sakura? Apalagi maunya sekarang? Aku segera menghampirinya yang hendak berjalan ke arah sini.

Aku mendorong tubuhnya sampai di belakang pintu, aku mengurungnya dengan kedua tanganku dan ingin segera memukul wajah mulusnya itu. Sebelum-

"Sasuke jangan" Ujar Hinata dengan setengah berteriak.

Sakura yang melihat sela untuk pergi segera melaluiku dan menghampiri Hinata, Sakura memegang erat tangan Hinata dan menangis sejadinya di tangan Hinata. Sakura berulang kali meminta maaf pada Hinata, sedangkan Hinata hanya memandang Sakura iba dan ikut menitikkan air mata.

Aku segera menarik tangan Sakura dari tangan Hinata dan berusaha untuk mengusirnya dengan berbagai macam kata kasar. Sakura terlihat keras kepala dan berusaha menamparku dengan tangannya.

"Sakura aku sudah memaafkanmu, tapi tolong jangan ganggu aku dan bayiku lagi" Ujar Hinata yang membuat aku dan Sakura membeku.

Dengan wajah senang Sakura menghampiri dan berterimakasih pada Hinata, Sakura juga berjanji akan membantu apapun yang bisa di lakukannya untuk Hinata. Hinata menggelengkan kepalanya cepat dan mengatakan Sakura hanya perlu menjaga dirinya untuk Hinata. Yang benar saja aku tidak mengerti pada Hinata, dia memaafkan Sakura dan tidak memberi satu pun syarat yang memudahkan Sakura untuk memanfaatkannya.

"Sudah waktunya Hinata istirahat, sebaiknya kau pulang" Ujarku sinis.

Sakura segera berpamitan dengan Hinata dan berjanji akan menjenguknya besok, hal itu juga di setujui Hinata benar-benar tidak habis fikir. Setelah Sakura keluar dari ruangan ini, aku menutup kasar pintu itu dan mendekati Hinata yang berusaha duduk. Aku tidak membantunya sedikitpun, karena kurasa dia sudah bisa sendiri bukan?

"Kenapa memaafkannya? Tidakkah kau merasa sakit karenanya?!"

"Memaafkan itu harus, memang sakit tapi yang terpenting anak ini baik saja bukan? Kau lupa aku juga memaafkanmu?" Balas Hinata.

Aku terhenyak mendengar kalimat terakhir Hinata, aku segera keluar dari ruangan ini dan meninggalkan Hinata dalam kebingungan. Aku menekan beberapa nomor di layar Iphone ku, saat sambungan ketiga seseorang di seberang sana menjawab panggilanku dengan nada bahagia. Aku menjawab kalimatnya juga dengan rasa bahagia, karena sudah tiga bulan terakhir ini tidak ada kabar sama sekali.

Beberapa menit kemudian dia memutuskan panggilan sepihak yang membuatku kecewa, aku mencoba untuk menghubunginya kembali tapi tidak ada jawaban di seberang sana meski nomor telponnya masih aktif.

Sasuke POV end

.

.

.

.

Hinata POV

Aku merasa cukup terpengaruh akan perkataan Ino dan beberapa temanku yang lain tentang kehidupanku yang terasa datar saja. Tanpa ada masalah dengan guru BK,kehidupan yang selalu lurus saja bahkan tidak ada sedikit pun masalah percintaan. Bagaimana mungkin ada masalah percintaan jika gebetan saja tidak punya?. Lusa adalah hari terakhir mengumpulkan semua tugas yang di berikan semua guru, untung saja semua tugasku sudah ku selesaikan hari ini.

Kring!

Aku mengangkat panggilan dari Zuka alumni Konoha Senior High School, dia adalah seniorku di organisasi cheers . Zuka ternyata menghubungiku karena dia sudah ada di depan pagar rumahku untuk menjemputku. Aku segera beranjak dari meja belajarku dan mengambil tas putih serta mengenakan dress hitam semata kaki.

Aku berjalan cepat menuruni tangga , setelah sampai di luar aku mengunci pintu rumahku dengan terburu-buru. Aku segera masuk ke dalam mobil jazz merah Zuka, di dalamnya aku juga melihat seorang wanita yang nampak sebaya dengannya. Wanita itu sama seperti Zuka, mempunyai mata kucing yang indah serta rambut hitam tersenyum manis melihat ke arahku dan segera melajukan mobilnya cepat.

"Aku Eunha , buka saja rompi panjangmu itu terlihat sangat lucu"

Aku mengangguk pelan dan membuka perlahan rompi hitamku yang terasa tidak nyaman di pakai. Eunha melemparkan ribuan pujian padaku karena kulit putih terawatku yang terekspos, wajahku bersemu merah dan mengukir senyuman kecil di wajahku.

Mataku membulat sempurna saat mobil Zuka berhenti di parkiran salah satu hotel bintang lima. Aku enggan turun, aku memberanikan diri untuk turun saat Zuka membukakan pintu belakang dan menjamin keselamatanku di dalam nanti. Zuka juga mengatakan kami hanya akan memesan beberapa minuman yang tidak ditemui di tempat lain. Setelah itu kami akan segera pulang, aku menyapu setiap sisi lobby hotel dan menemukan banyak sekali wanita cantik dengan pakaian minim.

"Kita akan minum disini?" Ujarku sedikit ragu.

Zuka tertawa kecil padaku setelah dia menyuruh Eunha memesan beberapa menu untuk kami. Aku dan Zuka hanya duduk di sofa sembari menunggu Eunha dan pesanan datang. Seorang waitress menghampiri dan menaruh minuman di atas meja yang berhadapan langsung dengan kami. Setelah itu Zuka memberiku segelas penuh yang berbau cukup menyengat, aku mencoba meminumnya dan saat aku meneguknya tenggorokanku terasa panas. Penglihatanku sedikit kabur saat aku melihat di depan sana, Eunha sedang berbicara dengan seorang laki-laki dan tersenyum lebar menatapku.

Hinata POV end

Hinata terbangun tiba-tiba dari tempat tidurnya yang membuat Sasuke iku terbangun dari tidurnya. Sasuke yang tengah duduk di sofa segera berdiri dan menghampiri Hinata, Hinata bercucur keringat di wajahnya. Saat tangan Sasuke hendak menyentuh dahi Hinata, Hinata segera menepis tangan Sasuke dan menitikan air matanya. Sasuke terlihat bingung dan segera mendekap erat Hinata, Hinata memukuli dada bidang Sasuke pelan dengan tangis yang semakin menjadi.

"Sasuke, kau membeliku dari Zuka dan kau bisa membuangku saat kau sudah tidak membutuhkanku bukan?" Ujar Hinata sesegukan di pelukan Sasuke.

Sasuke mengernyitkan dahinya dan segera menangkup wajah Hinata, Sasuke menjelaskan dia tidak membeli Hinata begitu saja. Sasuke mempunyai alasan yang cukup kuat untuk hal itu, Hinat mengentikan isakannya dan bertanya apa alasan Sasuke?. Sasuke menjelaskan bahwa Zuka memberitahukan beberapa informasi tentang Hinata, Zuka juga bilang bahwa Hinata menjual diri karena masalah keuangan. Keuangan? Hinata menjelaskan bahwa dia tidak pernah sedikitpun berniat menjual diri, apalagi karena masalah keuangan.

Sasuke menaruh tangannya pada bibir Hinata, Sasuke menjelaskan bahwa dia juga tidak pernah melakukan 'hubungan' dengan seorang gadis sebelumnya. Jadi Sasuke menjelaskan dia merasa bersalah karena telah meniduri seorang gadis dan segera memberi pertanggung jawabannya setelah satu bulan mencari Hinata. Hinata segera tersenyum simpul dan berterima kasih pada Sasuke setelah Sasuke menjelaskan semuanya.

Pintu ruangan itu terbuka lebar saat Garaa dan beberapa perawat hendak memeriksa kondisi Hinata saat ini. Sasuke menjauh saat Garaa menghampiri Hinata setelah memeriksa keadaan Hinata , Garaa segera memberitahukan Hinata bahwa dia sudah boleh pulang.

"Hanya satu minggu" Ujar Sasuke tak percaya.

Sasuke mengucapkan itu karena dia ingin lebih lama cuti dari semua urusan yang menyangkut Uchiha Corp. Garaa menepuk tangan Sasuke sembari menyelipkan kertas yang berisi resep Hinata di tangan Sasuke. Sebelum benar-benar pergi Garaa membisikan sesuatu pada Sasuke.

"Dia baik, jika kau lalai menjaganya dia akan pergi meniggalkanmu"

Sasuke memasang wajah datarnya menimbali perkataan Garaa, Sasuke merasa sedikit bingung dengan sahabatnya yang memiliki sixth sense itu. Sasuke tidak terlalu percaya dengan perkataan Garaa, meskipun hampir seratus persen perkiraannya tidak pernah meleset.

.

Sasuke mengeratkan pelukannya pada bahu Hinata, Sasuke melihat dengan jelas ibu, ayah Itachi serta kakak iparnya menunggu kedatangan mereka di depan pintu masuk utama. Hinata hendak melepaskan tangan Sasuke yang membuatnya merasa sesak, tapi Sasuke malah mengeratkan dekapannya dan membuat Hinata seperti tahanannya saja. Konan yang awalnya terlihat biasa saja segera menghampiri Sasuke dan Hinata. Konan tersenyum manis pada Hinata dan mengelus perut Hinata saat dia berada di hadapan Hinata.

"Uh..aku tidak sabar menunggu kehadiran Uchiha baru" Ujar Konan nampak bahagia.

Wajah Hinata bersemu merah saat Mikoto juga ikut menghampiri dan memberinya sebuah cincin berlian. Mikoto segera menautkan cincin berlian itu pada jari manis tangan kiri Hinata, Hinata melihat kedua jari manisnya sudah adil sekarang. Mikoto menjelaskan cincin itu adalah cincin keluarga Uchiha yang di buat khusus untuk wanita Uchiha. Hinata mengarahkan lavendernya pada jari manis Mikoto dan Konan, cincin yang di pakai Hinata sama persis seperti milik Mikoto dan Konan.

Sasuke berdehem dan menyadarkan bahwa mereka masih berada di luar dengan suhu yang cukup rendah. Mikoto dan Konan segera melepaskan tangan Sasuke dan membawa Hinata masuk ke Mansion Uchiha. Sedangkan Fugaku dan Itachi hanya melirik ke arah Sasuke dan meninggalkan Sasuke sendirian di luar.

"Berhasil" Ujar Sasuke bermonolog.

.

Hinata POV

Aku melihat beberapa pesan masuk di blackberry ku, aku melihat banyak sekali pesan selama delapan hari terakhir ini. Semua pesan itu berasal dari satu orang Neji, aku membaca satu persatu pesan itu dengan cepat karena takut Sasuke akan segera keluar dari kamar mandi. Semua pesan itu berisi tentang Neji yang menyuruhku pulang, tapi pada pesan terakhir Neji hanya mengirimiku pesan yang membuatku cukup terhenyak.

"Pergilah, jangan pernah kembali"

Aku segera menaruh ponselku dan menghapus kasar air yang akan segera jatuh dari pelupuk lavenderku. Aku menutup mataku dengan kedua tanganku saat Sasuke keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada.

"Bukankah sebelumnya kau sudah melihat semuanya?" Ujar Sasuke terkekeh.

Aku menurunkan kedua tanganku dan segera berbalik menidurkan diri di atas tempat tidur. Aku juga menarik selimut tosca cepat, menutupi tubuhku yang mengenakan piyama berwarna merah terang. Aku terkejut saat Sasuke tiba-tiba menyentuh pipiku dan wajahnya yang sangat dekat denganku saat ini.

"Ah!" Teriakku yang membuat Sasuke segera membungkam mulutku.

"Diam, ruangan ini tidak kedap suara" Ujar Sasuke.

Apa peduliku? Aku hanya takut jika Sasuke akan macam-macam padaku, aku segera mendorong pelan tubuh Sasuke dan segera menutupi wajahku dengan selimut. Aku yakin malam ini pasti tidurku tidak akan nyenyak, aku mencoba menyembunyikan lavenderku sebisa mungkin.

Saat aku mulai terlelap aku merasakan suara baritone Sasuke mengelus dan membisikan sesuatu pada perutku. Oh Kami-sama, kenapa jantungku berdegup semakin kencang? Tidak mungkin aku jatuh cinta, semua ini hanya sementara. Sasuke terus mengelus lembut perutku yang memang terlihat mulai berisi ini, aku berusaha mati-matian untuk tidak segera terbangun dan merusak kebahagiaan Sasuke. Aku melihat sedikit wajah bahagia Sasuke, aku melihat Sasuke juga menampilkan sebuah senyuman yang sangat jarang terlihat di wajah tampannya itu. Tampan? Apa-apaan aku ini, tapi memang dia cukup di atas standard dengan wajahnya sekarang. Aku menutup pelupuk lavenderku perlahan, karena mataku terasa sudah berat.

Selang beberapa menit setelah itu, Sasuke beranjak dari tempat tidur dan mengambil Iphone-nya yang berdering. Sasuke menjawab panggilan itu dengan nada bahagia, Sasuke menanyakan beberapa pertanyaan pada seseorang di seberang sana.

"Aku selalu menunggumu"

Hal itulah yang terakhir kudengar sebelum aku benar-benar terlelap dalam kantuk yang sangat ini.

.

Pagi yang cukup dingin, aku membuka pelupuk lavenderku dan melihat pintu balkon terbuka lebar. Aku mendudukan diriku di atas tempat tidur dan mengambil remot air conditioner yang ada di sebelahku dan segera mematikannya. Aku juga menurunkan kakiku dan melangkahkannya perlahan ke arah pintu itu. Aku menutup dan mengunci pintu itu dari dalam, aku berbalik dan mengambil segelas air dari dispenser yang berada tak jauh dari sini. Aku juga membuka lemari yang ada di bawah dispenser itu, melihat di dalamnya dan mengambil wadah yang berisi kopi dan gula di sana.

Aku mengambil gelas yang bertuliskan nama Sasuke disana, aku membuatkannya secangkir kopi di pagi hari . Setelah itu , aku meletakannya di atas meja yang berada di sebelah tempat tidur Sasuke. Aku memandanginya sejenak, wajahnya nampak sangat tenang saat dia tertidur. Secara tidak sadar aku memandanginya sambil memangku wajahku dan senyum sendiri.

"Kenapa senyum sendiri?"

Lamunanku terpecahkan saat suara baritone Sasuke mengintrupsiku, aku semakin memperjelas senyuman di wajahku. Aku mengalihkan pembicaraan dengan mengambil kopi tadi dan memberinya pada Sasuke. Sasuke mengernyitkan dahinya dan memberitahuku biasanya di pagi hari dia akan meminum jus tomat di kulkas yang bersebelahan dengan dispenser. Aku membulatkan lavenderku dan berjalan menghampiri kulkas, saat aku membukanya aku tidak menemukan jus tomat. Dalam kulkas ini hanya ada berbagai macam buah-buahan, aku menggelengkan kepalaku pelan memberi isyarat pada Sasuke.

"Sudah aku minum ini saja, biasanya aku akan meminum ini saat aku lembur saja" Ujar Sasuke sambil mengarahkan segelas kopi itu padaku.

Aku berjalan ke arah lemari saat melihat dan membolak-balik pakaianku, lavenderku membulat seketika saat tidak melihat barang yang kucari dalam lemari. Sasuke membalikkan tubuhnya dan bertanya padaku, aku mencari dimana baju handuk yang aku bawa dari apartermen Neji. Sasuke mengatakan dia meninggalkannya dengan sengaja di rumah sakit. Aku terkejut bukan main, bagaimana bisa aku mandi tanpa menggunakan itu?.

"Pakai milikku di belakang pintu kamar mandi" Ujar Sasuke acuh tak acuh.

Aku mengangguk mengerti dan segera masuk ke kamar mandi, aku melihat interior kamar mandi ini sangat menakjubkan. Sebuah bath tub biru yang sangat besar, juga perlengkapan kamar mandi lainnya yang sangat lengkap. Kamar mandi ini beraroma khas pria yang sangat menenangkan. Aku menghidupkan keran air untuk memenuhkan bath tub dan mengambil botol shampoo dan sabun yang warnanya sedikit berbeda dari yang lain, merah muda. Aku mengambil kedua botol yang masih terisi penuh dan mencium aroma manis yang membuatku segera menyukainya.

Setelah beberapa menit berendam, aku membersihkan semua busa yang ada di tubuhku di bawah shower. Aku mengambil handuk tosca di sisi sana dan melingkarinya di setiap lekuk tubuhku. Aku terkesiap melihat handuk yang hanya menutupi tubuhku satu jengkal di atas lutut. Pendek sekali gumamku dalam hati,tapi tidak mungkin aku keluar tidak menggunakan handuk. Aku membuka perlahan pintu kamar mandi, dengan lavenderku melihat Sasuke di pinggir tempat tidur dari sela kecil ini. Aku berusaha untuk tidak menimbulkan sedikitpun suara yang akan membuat Sasuke segera melirikku.

Kriiit

Oh tidak, pintu kamar mandi bersuara saat aku sudah di atas lap kaki berwarna gelap ini. Sasuke segera membalikkan tubuhnya dan memandang diriku dari atas sampai bawah dengan intens. Aku segera menutupi tubuh bagian bawahku yang terekspos di depan onyx-nya, di saat yang sama ikatan pada handuk bagian atas sedikit melonggar dan membuatku segera memasuki kamar mandi lagi.

"Keluarlah, tak perlu sungkan" Ujar Sasuke terkekeh.

Aku mengintip dari sela pintu dan berujar pada Sasuke untuk berbalik dan mentup matanya. Aku tidak bisa memperlihatkan semua ini, saat aku melihat Sasuke sudah berbalik. Aku berjalan secepatnya ke arah lemari yang berada di sudut kiri ruangan ini. Aku menggeser cepat pintu lemari dan mengambil baju terusan berwarna putih, aku terkesiap saat membalikkan tubuhku 180 derajat. Sasuke melempar seringainya pada diriku dan melihat bagian atas tubuhku yang mungkin terlihat jelas baginya. Aku segera menutupinya dengan pakaian yang kuambil tadi, Sasuke menyebalkan. Aku tahu jika dia tinggi dan bisa melihat semuanya, tapi dia benar-benar membuatku bingung sekarang. Memangnya dia fikir aku ini wanita macam apa?, pernikahan ini kan hanya sementara jadi dia tidak ada hak atas diriku sepenuhnya.

"Kau ingin terus disini?, menghalangiku mengambil pakaian?" Ujar Sasuke datar.

Oh Kami-sama, kenapa aku berfikiran hal aneh, padahal Sasuke hanya ingin mengambil pakaiannya. Aku tahu, kini dia pasti terlambat untuk rapat yang dibicarakan di ruang makan semalam. Aku segera menyingkir dan masuk ke kamar mandi lagi untuk berganti pakaian, aku mengenakan pakaianku secepat mungkin. Belum sampai satu menit, aku sudah keluar dari kamar mandi, aku melihat Sasuke kini berdiri di balkon sebelah sana sambil berbicara dengan Iphone-nya.

Aku sedikit bingung, kenapa perasaan Sasuke sangat sukar ditebak?. Tadi dia bermuka papan triplex sekarang wajahnya menorehkan sebuah senyuman. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali, aku merapikan tempat tidur yang cukup kusut. Saat aku menaruh bantal, Sasuke menarik pergelangan tanganku dan memerintahkanku untuk membereskan pakaian kami.

.

Setelah lama perjalanan dengan mobil, aku dan Sasuke sampai di depan sebuah villa yang terletak di Hokaido. Seorang wanita tua menyambut kedatangan kami dengan ramah dan hendak membawakan koper yang tengah ku bawa. Aku tidak memberikan koperku padanya, karena aku tahu masih ada koper Sasuke di dalam mobil yang harus di bawanya. Wanita itu tersenyum padaku dan segera mengambil koper Sasuke. Sasuke memanggilku dia kini sudah berada di depan pintu villa, aku segera berjalan menaiki tangga rata ini. Sasuke sedari tadi hanya memandangi saja, sesampainya di depan pintu Sasuke mengambil koper dari wanita itu dan memerintahkannya untuk segera pergi.

Aku mengikuti langkah kaki Sasuke menyusuri villa ini, villa ini hanya satu tingkat tapi sangat luas. Pertama kami melalui ruang tamu bertema alam dengan perpaduan warna hijau dan cokelat. Ruang tamu ini memiliki empat kursi mahoni berwarna cokelat dan sebuah meja besar di tengahnya. Setelah itu, aku melangkahkan kakiku menyusuri sebuah ruangan yang nampak hangat dengan sebuah sofa besar, televisi yang melekat di dinding serta beberapa tanaman di pot yang berada di kanan kiri home theater.

Aku tidak segera berhenti menyusuri ruangan saat Sasuke sudah duduk di sofa, aku membuka pintu pembatas ruangan dan melangkahkan kakiku ke ruangan selanjutnya . Saat aku membuka pintu dengan pasti, aku melihat interior ruangan yang sangat membuatku terkesima dan segera mengambil persiapan untuk memasak malam ini. Dapur yang sangat luas dengan mini bar dan ruang makan membuatku tak sabar untuk segera memasak.

"Kamar kita disana" Ujar Sasuke sambil mengarahkan onyx-nya pada kamar yang berada di sisi kiri dapur ini.

Aku mengangguk pelan dan meminta izin pada Sasuke untuk memasak malam ini. Sasuke hanya membalas kalimatku dengan kata "hn", aku tidak terlalu peduli dan segera membuka kulkas yang sangat besar itu. Aku melihat sebuah buku tentang kulkas itu, Meneghini La Cambusa nama yang lucu untuk sebuah kulkas.

Kuambil beberapa bahan masakan dari pintu kulkas yang sebelah kiri, aku mulai berkutat dengan perlatan dapurnya sekarang.

Hinata POV end

Hinata memasak banyak sekali hidangan untuk hari ini, karena Hinata bingung ingin memasak apa saja. Jadi Hinata memasak 1/5 dari isi kulkas yang berhasil memenuhi meja mahoni besar itu. Sasuke mengejutkan dan menjahili Hinata dengan menyubit pipinya, Hinata setengah berteriak dan memukul pelan Sasuke.

"Kau terlalu lucu saat kau serius" Ujar Sasuke segera duduk di kursi meja makan.

Hinata mengambilkan Sasuke mangkuk dan perlengkapannya, setelah itu Hinata ikut duduk berhadapan dengan Sasuke. Malam ini, Sasuke dan Hinata menghabiskan makan malamnya cukup lama karena Hinata mengharuskan Sasuke menghabiskan semuanya. Hinata tertawa geli saat wajah Sasuke terlihat merah karena kebanyakan makan. Sedangkan Sasuke segera berdiri dan menghampiri Hinata, Sasuke sudah siap dengan tangannya yang ingin mencubit pipi Hinata sampai-

Kring!

Sasuke segera pergi ke kamar tidur saat melihat layar Iphone-nya, Hinata merasa sedikit penasaran siapa sebenarnya yang di hubungi Sasuke belakangan ini?.

TBC

CheftyClouds: Hinata terlalu baik , hehehe

Ryeovy621: Mungkin ada karena sikap malaikatnya...

Sasuhina69: Kita liat kedepanya aja ya...hehe...

Hime345: Udah semangat nih..wkwk

Ana alay: Iya sian banget kalo gabisa liat nyokapbokap yang keren wkwwk

JojoAyuni: Udah Update...

Hnisa Sahina: Janganlah...hehe

Maura raira: Semangat45 nih..

Ana: Maklum,kejar setoran...wkwk

Aindri961: Ini,kejartayang jadi cepet2..wkwk,pernikahannya itu udah direncanain sma Sasu,hehe

Momon: udah lanjut...

Hyacinth uchiha:semoga..,udahnext dan semangat..

Zuzu-chan:Cukup kak adegan gitu"anwkwkw

Hyuga ashikawa:Astor?gpp deh yang penting kamu senang,hehe..udah lanjut

Narulita706: Mudah"an chap ini bisa jelasin ya, gpp kok kepo itu normal hehe

NurmalaPrieska:Kilat nih...

Srilestari:Kejarsetoran,hehe#plakkk

Love:Jangan baper hikssss...

Uchiha Satahi: Kilat..

Arigato Minna-san atas Review dan Favoritenya