Trap

Naruto dkk, Masashi Kishimoto

Warning : Typo(S),OOC dan sebagainya

Pair : Sasuhina

Rate : T

Chapter 6

Pagi ini kulalui hari seperti beberapa bulan terakhir tanpa Sasuke di sisiku, aku sudah berada di rumah sakit untuk menginap. Karena menurut pernyataan Garaa sebagai dokter sekaligus teman baikku, aku harus menginap karena detik kelahiran anak ku akan segera datang. Aku sudah di kamar pasien, beberapa perawat membantuku mengenakan pakaian pasien dan membaringkan diriku di atas tempat tidur. Aku menyamankan diri sedemikan rupa, bersandar di bantal dan mengambil beberapa buah yang disediakan di atas nakas sebelah kiriku.

Krekk

Suara pintu membuat lavenderku membola , kulihat di ujung sana seorang wanita yang tak asing bagiku. Dia berdiri tegak dengan tertorehnya sebuah senyum sarkastik yang di arahkannya padaku.

Deg

Deg

Jantungku terpompa semakin kuat begitupun suaranya, kala wanita yang kuketahui bernama Karin itu sudah ada di samping tempat tidurku. Apa yang dia inginkan? Kami-sama kuatkan aku, dia hendak menyentuh bagian perutku tapi aku menepis tangan miliknya.

"Kau harus segera melahirkan dan memberi anak itu padaku"

Tidak aku tidak akan memberikan anakku, darah dagingku kepada siapapun aku hendak menjawabnya dengan kalimat itu. Tapi lidah ini terasa sangat keluh, tenggorokan ini juga terasa sangat kering dan mata ini terasa sangat berat. Aku mulai memandangnya samar-samar saat beberapa orang berpakaian serba putih mendekatiku.

...

Aku mencoba membuka kelopak mata ini sekuat tenaga, saat kudengar suara tangis bayi yang baru lahir. Sayu mata ini memandang sekeliling, kulihat wajah semua orang nampak sangat bahagia dengan senyum dan kalimat yang lolos dari bibir mereka. Tunggu dulu, aku melihat bayi itu maksudku bayiku berada di timangan Karin.

Dengan seluruh tenaga aku mencoba untuk berdiri dan segera meraih anakku yang terdengar mulai menangis. Kepala ini sungguh terasa berat, aku menghentikan pergerakan ku saat merasakan sakit yang teramat sangat pada bagian perutku. Seorang perawat membantuku kembali berbaring dan menjelaskan aku baru saja menjalani operasi.

"Kembalikan anakku Karin, kumohon.."

Aku menatapnya sambil meminta belas kasih, dengan cepat air membasahi seluruh wajahku. Aku terisak tapi tidak ada satu pun yang berani mengambil anakku dari Karin, tidak lama seorang laki-laki yang tak lain Sasuke masuk ke ruangan. Sasuke segera berjalan mendekatiku dan mengelus helai indigo milikku.

"Uchiha-san tolong kembalikan anakku.." pintaku lirih.

"Sejak kapan ini anakmu? Dia adalah seorang Uchiha"

Sasuke mengatakan itu sambil berjalan mendekati Karin dan mengelus pelan anak itu, aku tidak dapat berkutik sedikit pun mendengar penjelasan Sasuke. Kali ini aku berusaha untuk kembali berdiri dan mengambil anakku, aku tidak peduli dengan luka jahitan bekas operasi tadi. Saat aku berhasil mendudukan diriku di atas tempat tidur Sasuke dan Karin segera pergi dari ruangan ini. Sebelum benar-benar pergi Karin tersenyum sinis padaku,

"Anakku!"

Brakk

Aku segera terbangun saat suara pintu kamarku terdengar cukup keras, kulihat di sana berdiri Hanabi yang membawa banyak sarapan.

"Gomen Hinata-nee"

Aku tersenyum seadanya pada Hanabi, setelah itu aku menghapus derai keringat yang membasahi wajahku. Terima kasih semua hanya sebatas bunga tidur, aku mengusap pelan anakku yang masih dalam kandungan ini. Aku memalingkan pandangan saat melihat Hanabi yang menjatuhkan sendok karena terlihat sangat antusias menyiapkan sarapan untukku.

Aku hanya menatap mata serupa dengan ku itu sambil tertawa kecil, Hanabi menyuapi diriku beberapa buah dan sayuran. Aku sangat bersyukur mempunyai seorang adik yang sangat menyayangiku, meski umurnya belum terlalu dewasa Hanabi terlihat sudah mahir dalam seluruh pekerjaan rumah dan lain sebagainya.

Tak lama setelah aku menyelasaikan sarapan, terdengar suara klakson lamborghini milik Sasuke. Refleks aku berdiri dan berjalan menuju jendela, kubuka perlahan tiraiku dan benar saja aku melihat Sasuke di bawah sana. Lavender dan Onyx kami bertemu yang membuatku sedikit panik, Sasuke menaikan sebelah alisnya dan menatap intens lavenderku. Aku menelan ludah melihat Sasuke yang tahu keberadaanku, aku segera menutup tirai jendelaku.

Hinata POV end

...

Hanabi mengabaikan kedatangan Sasuke, sedikit berbeda dengan Hinata yang tidak terlalu mengabaikan Sasuke. Hinata hanya melihat gerak-gerik Sasuke dari sebuah lubang kecil khusus yang ada di pintu depan. Wajah Hinata terlihat biasa saja saat Sasuke terus mengetuk pintu dan memanggil namanya berulang.

"Hinata buka pintu dan akan kupenuhi kemauanmu"

Hinata terlihat sedikit bingung, benarkah Sasuke akan memenuhi apapun?. Tiba-tiba Hinata berubah fikiran dan membukakan pintu untuk Sasuke perlahan, Sasuke terlihat sudah menduganya dan segera mendekap erat Hinata. Hinata hanya diam, tidak membalas atau melepas dekapan Sasuke yang semakin erat padanya. Sasuke yang merasa cukup melepas rindunya segera mundur dan beralih menatap lavender Hinata dalam.

"Kemauanku berhenti untuk mendekati diriku, Uchiha-san"

Sasuke mengernyitkan dahi mendengar sapaan asing yang lolos dari bibir Hinata,

"Bisa kupenuhi Nona Uchiha"

Mimik wajah Hinata tetap biasa saja saat Sasuke membalas kalimatnya dengan sedikit nada godaan di dalamnya. Setelah itu Hinata segera berbalik dan meninggalkan Sasuke yang masih mematung bak patung pahatan yang sempurna. Sasuke mendengus pelan dan terlihat sedikit menunduk sebelum sebuah koper di bawakan oleh Hanabi melewati dirinya yang berjarak beberapa meter dari pintu.

"Aku pulang untuk ibu dan Konan-nee" Jujur Hinata pada Sasuke.

Sasuke mencoba mempertahankan dinding kesabarannya mendengar perkataan santai Hinata yang terdengar sangat menyakitkan itu. Sasuke berjalan melalui Hinata yang hendak naik ke lamborghini miliknya, untuk pertama dalam sejarah Sasuke membukakan pintu mobil untuk seorang wanita. Percaya tidak percaya Mikoto pun belum pernah di perlakukan seperti itu, bingung dengan sikap dingin kakaknya yang bagaikan ratu es.

...

Suasana Mansion Uchiha tidak mengalami sedikit pun perubahan semenjak terakhir kali Hinata menginjakan kakinya. Hinata masih melihat dengan jelas ibu, ayah mertua dan kedua kakak iparnya itu tengah menunggunya dengan raut wajah khawatir. Sudah bisa di tebak, dua wanita Uchiha segera menghampiri Hinata.

"Menantuku.., kau darimana saja? Ibu sangat mengkhawatir-"

"Kakak juga" Sela Konan.

Ada satu hal yang nampak berubah di Mansion ini, hal itu adalah bunganya ya.. Hinata adalah bunga sumber cahaya bagi Mansion dan seluruh keluarga Uchiha. Hinata yang niat awalnya kembali untuk sementara, segera dikuburnya dalam setelah mendapat kembali apa yang hilang di hidupnya belakangan ini. Hinata tersenyum tulus pada ibu dan kakak iparnya yang tengah menggandeng kedua tangan Hinata. Meski goresan luka hatinya masih terasa, Hinata sedikit melupakannya kala melihat senyuman kedua wanita yang menjadi alasannya sekarang untuk bertahan.

...

"Hinata sampai kapan akan diam padaku?" Ujar Sasuke.

Hinata tidak menjawab sepatah kata pun, Hinata duduk di pinggir tempat tidur dan membuang pandangannya. Sasuke tidak tinggal diam dan menghampiri Hinata,

"Aku bisa jelaskan Hime" Tambah Sasuke.

Hinata membaringkan dirinya dibantu Sasuke, Sasuke menatap lavender Hinata mencari satu titik kepercayaan Hinata terhadapnya.

"Sebagian memang rencana tapi tidak ada sedikitpun niat untuk memisahkan kau dan anak kita, aku bertemu denganmu-" Ujar Sasuke terpotong.

Hinata segera mendongakan kepalanya melihat raut wajah Sasuke yang nampak serius, Sasuke terlihat menunggu Hinata untuk angkat bicara. Sasuke segera menggenggam erat tangan Hinata yang membuat si empu membolakan lavender miliknya. Hinata tersenyum kecil menatap Sasuke bukan karena luluh , tetapi dia menghargai ayah dari anaknya itu.

"Awalnya saat aku mengetahui kehamilanmu muncul beberapa fikiran licik, memang benar aku dan Karin akan mengambil anak itu darimu. Tapi semua itu rencana dulu, rencanaku sekarang memang tidak jauh beda dengan dulu-"

Sasuke menggantung kalimatnya yang membuat Hinata penasaran, raut wajah Sasuke juga semakin serius membuat Hinata semakin penasaran sampai Hinata hendak berdiri Sasuke segera menahan Hinata.

"Aku menginginkan bayimu satu paket bersama ibunya" Ujar Sasuke sambil memasang seringai.

Blush

Rona merah menjalar di pipi Hinata , membuat Sasuke menang lagi karena berhasil meluluhkan Hinata. Ayolah untuk pertama kalinya Sasuke berbicara manis secara tulus pada seorang wanita, tidak mungkin bungsu Uchiha itu gagal.

"Aku mencintaimu, jawaban atas pertanyaanmu Hime"

"Em..benarkah Uchiha-san?"

"Ayolah panggil namaku dengan sapaan mesra" Goda Sasuke sambil membelai pipi Hinata yang masih berwarna tomat.

Hinata memalingkan wajahnya berusaha menyembunyikan seluruh yang dirasakan saat ini, sedangkan Sasuke menangkup wajah Hinata dan terus menggodanya. Saat Sasuke hendak melancarkan pelukan dan ciuman pada Hinata sebelum,

"Ah!" Pekik Hinata sembari memegangi perutnya.

"Maafkan ayah sayang.. ayah tidak akan mengganggu dan menyakiti ibumu lagi"

Sasuke mengusap pelan perut Hinata yang tertutup dress terusan berwarna biru laut, wajah Hinata seolah terpanggang karena rona merah yang semakin jelas di wajah putihnya itu. Tidak butuh waktu lama Sasuke berhasil mencairkan perasaan Hinata, memang cukup mudah mencairkan perasaan Hinata karena dia terlalu baik.

...

Malam ini seluruh Uchiha berkumpul di ruang makan dengan ekspresi bermacam-macam, Fugaku,Itachi dan Sasuke berwajah sedatar papan triplex sedangkan wanita Uchiha sebaliknya.

"Hinata kau ingin melahirkan di rumah sakit ternama mana?"

Hinata hampir menelan sendoknya saat Fugaku angkat bicara dan bertanya padanya, Mikoto dan yang lain hanya mengangguk ikut antusias atas saran Fugaku.

"Pilihan kalian adalah yang terbaik, jadi aku akan ikut saja" Balas Hinata sopan.

Semua yang ada di ruangan itu terlihat tenang dan segera menyepakati rumah sakitnya, Hinata mengedipkan matanya perlahan berusaha memastikan kehidupannya ini bukanlah mimpi. Selesai makan malam Hinata dan Sasuke segera beranjak ke kamar, baru saja ingin masuk ke kamar mereka menghentikan langkahnya saat suara Konan yang sedikit memekik dari toilet yang berada tidak jauh dari kamar Sasuke.

"Ada yang sakit Konan-nee?" Ujar Hinata segera menghampiri Konan di depan pintu toilet.

"Ti..dak hanya saja aku hamil, bagaimana dengan pemotretanku besok?"

Sasuke dan Itachi yang baru saja menghampiri istri mereka terlihat cukup terkejut, Itachi segera mendekap erat Konan yang mulai menangis. Hinata terlihat tidak mengerti melihat sikap Konan seperti itu. Setelah Itachi melepas dekapannya Hinata mendekati Konan dan menggenggam erat tangannya.

"Konan-nee.. kau harus bersyukur sudah menjadi wanita sempurna, bukankah kau sangat menginginkan Uchiha kecil?"

"Bagaimana dengan karirku?"Balas Konan sesegukan.

"Apa pantas mengorbankan darah dagingmu untuk sebuah karir yang semu?" Ujar Hinata sembari tersenyum.

Konan segera meminta maaf pada Itachi karena selalu menunda kehamilannya, dia juga tidak lupa meminta maaf pada janinnya karena tidak merasa bahagia awalnya. Hinata memandang punggung Itachi dan Konan yang menjauh, tiba-tiba Sasuke menggenggam tangannya dan mengajaknya untuk beristirahat.

Sesampainya di kamar Hinata segera membaringkan tubuh lelahnya, diikuti Sasuke yang tidur di sebelahnya. Sasuke mengusap pelan helai indigo Hinata, Hinata sudah ingin masuk ke alam bawah sadarnya sebelum-

"Hinata.., maukah kau berjanji tidak akan meninggalkanku?"

"Bisa saja, jika kau juga berjanji tidak akan menghancurkan kepercayaanku"Balas Hinata tanpa membuka kelopak matanya.

"Pasti, malam Hime.."

.

Pagi yang cerah dengan kicauan burung di balkon, aroma sarapan yang menguar dalam ruangan ini. Hinata bangun pagi untuk membuatkan Sasuke sarapan , tanpa memperlihatkan Onyx sekelam malam miliknya Sasuke menarik pergelangan tangan Hinata. Tanpa sadar Hinata membuka sedikit bibirnya dan mencoba melepaskan tautan tangan Sasuke.

Saat Hinata berhasil melepaskan tangan itu, Sasuke bangun tiba-tiba yang membuat Hinata sangat terkejut. Hinata berusaha tetap tenang dan mengatur nafasnya,

Sasuke menepuk pinggiran tempat tidurnya, Hinata menuruti permintaan yang lebih seperti perintah itu. Hinata juga mengambil sarapan yang baru saja di taruhnya di atas nakas, Hinata duduk dan memberi itu pada Sasuke beserta jus tomatnya.

"Kita makan bersama" Ujar Sasuke segera mengambil satu sendok nasi goreng dan memberinya pada Hinata.

"Eum.."Hinata mengangguk dan menerima perlakuan Sasuke.

Sasuke meminta Hinata menemaninya ke kantor, sedangkan Hinata menggeleng pelan yang membuat Sasuke segera mencubit pipi Hinata.

"Ayolah Nona Uchiha..."

.

Oke tidak selalu pesona sang Uchiha dapat meluluhkan wanita, karena wanita itu adalah seorang Hyuuga Hinata. Sasuke datang sendiri ke kantornya dengan wajah yang lebih datar dari biasanya, saat Sasuke melangkahkan kakinya keluar dari lift dia menemukan sosok wanita berdiri di depan ruangannya. Sasuke segera menghampiri dan melempar death glare pada wanita itu.

"Sasuke aku ingin kau jelaskan semuanya"

Sasuke segera mendorong tubuh Karin dan mengurungnya dengan kedua tangan, Sasuke menghentikan pergerakan tubuh maupun suara Karin.

"Sudah jelas, aku tidak lagi mencintaimu" Ujar Sasuke sinis.

Ting

Suara lift yang baru sampai, Sasuke segera mengalihkan pandangannya pada ujung sana. Terlihat Hinata yang sudah berkaca-kaca dan menutup kembali pintu lift itu,

TBC

Arigato atas Reviewnya , balasannya di chap selanjutnya yang akan di up akhir bulan