BooJaejoongie is Mine Present
When Your Voice Takes Over
.
.
Mian.. Jia ga bias cuap banyak karena Jia sedang tdk enak badan.. tapi Jia tetep usahain untuk post epep ini…
Yg jelas jia seneeeeengg bangeeet atas respon chingu semua… dan Jia hrep tetap seperti itu ne,,,
Udah aaah..jia ga sgup ngetik lagi..huks.. mian… ToT…
.
.
No Bash!
.
.
No Flame!
.
.
Don't waste your time if u don't like YAOI or YUNJAE or ME...
.
.
Soo... just clik back...okay ^_^
.
.
Disclaimer : Mereka milik Tuhan, keluarga mereka, fans, management masing-masing. Jia hanya pinjam nama mereka dan juga sedikit eksistensi mereka di dunia FF.
Rated: T-M – Tergantung Mood
Genre: Molla.. silahkan ditentukan sendiri..
Cast: Jung Yunho, Kim Jaejoong n others ( look it by your self )
Warning: Yaoi, Alur lambat (?) maybe, Absurd, Typo, OOC, EYD ngawur, etc
.
.
SUMMARY: Ketika Kim Jaejoong mendapatkan tawaran untuk merawat seorang namja yang menjadi pasien pertamanya di rumah sakit.. Akankah Jaejoong bisa mengemban tugas tersebut? Dan bagaimanakah hari-hari Kim Jaejoong setelahnya?
.
.
PREVIOUSLY
,
,
"enghh…" Yunho mengeliat tak nyaman. Pergerakannya membuat satu tangannya yang sedang di impus sedikit terhimpit tubuhnya sendiri.
Melihat itu dengan cekatan Jaejoong membenarkan tangannya agar tak terhimpit lagi, tapi naas, entah ia sedang beruntung atau ketimpa musibah. Yunho menarik tangannya dan mendekapnya erat, sangat erat membuat Jaejoong tak bisa bergerak dan hanya terdiam dengan doe eyes yang semakin membulat.
"gajimma…eomma gajimma…" igau Yunho dalam tidurnya.
Mendengar itu hati Jaejoong merasa iba, hingga matanya tak sengaja melihat buliran air bening jatuh dari mata yang masih terpejam itu. Benar-benar membuat Jaejoong merasa sesak, sesak bukan karena dekapan Yunho yang sangat erat, tapi sesak karena air mata itu tak henti-hentinya mengalir.
Dengan sangat perlahan Jaejoong menggerakkan satu tangannya, menghapus aliran sungai kecil yang terus mengalir. Entah karena alasan apa, mata Jaejoong tiba-tiba ikut mengalirkan buliran air bening itu juga.
Tiba-tiba,
Cklek,
"permisi"
.
.
-Chapter 2-
.
.
Cklek,
"Permisi"
Sontak Jaejoong langsung mendorong tubuh Yunho hingga pelukan itu terlepas dengan paksa, Jaejoong menghapus cepat air matanya kemudian barulah ia menghadap ke arah pintu.
"nee"
"Permisi, saya ingin mengambil nampan sisa makanan" ucap seseorang yang ternyata adalah seorang office boy yang bertugas mengantar jemput makanan.
"ah, nee" Jaejoong meraih nampan itu di atas nakas dan memberikannya pada orang itu, dalam hati Jaejoong menggerutu, 'dasar OB tak tahu sopan santun ! main buka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu !'
Setelah OB itu pergi, Jaejoong menutup pintu dan menguncinya. Kenapa dia menguncinya ? apa Jaejoong berharap hal itu akan terjadi lagi dan ia ingin tak ada yang mengganggunya ? entah lah. Itu hanya Jaejoong dan Tuhannyalah yang tahu.
.
*YunJae*
.
Drrrtttt….drrtttt….
Sepertinya namja tampan yang sedang tertidur pulas terusik dengan suara getaran yang berasal dari ponsel.
Dengan malas Yunho merogoh saku celananya dan menempelkan benda persegi empat itu pada telinganya tanpa membuka matanya, "yeoboseo ? yeoboseo….YAK YEOBOSEO ?"
Yunho kesal tak ada jawaban dari seberang sana, merasa aneh akhirnya dengan sangat dan amat terpaksa ia membuka matanya dan melihat layar ponsel. Tak ada apapun yang terjadi.
Drrrrttt….drrrtttt….
"SHIT !" makinya saat menyadari bahwa suara itu bukan berasal dari ponsel miliknya.
Drrrtttt….drrrttt….
Yunho mengedarkan pandangannya hingga ekor matanya menangkap seseorang yang juga sedang tertidur pulas di kursi samping jendela kaca dengan kepala yang ia tumpu pada meja yang hampir mirip dengan meja belajar.
Suara itu terus terdengar dan dapat Yunho tebak bahwa suara itu berasal dari ponsel perawatnya. Karena kesal, Yunho bangkit dari pembaringannya dan menghampiri Jaejoong dengan satu tangan yang sibuk memegang infus. Ia mengambil ponsel yang Jaejoong letakkan begitu saja di atas meja.
Drrrrtttt…drrrrttttt….
Pip,
Dengan seenak jidatnya Yunho mematikan panggilan itu, namun ketika Yunho hendak berbalik ponsel itu kembali bergetar membuatnya geram dan ingin cepat-cepat memusnahkan ponsel itu.
Yunho meraihnya dan menekan tombol hijau, "tidak bisakah kau tidak mengganggu ?"
"Nuguseo ? dimana Jaejoong ?" tanya suara dari arah seberang sana.
"dia ada di sebelahku"
"aku ingin bicara padanya…"
"dia sedang tidur"
"MWO ? TIDUR ? DAN DISEBELAHMU ? APA YANG TELAH KALIAN LAKUKAN ?" teriak seseorang dari sana membuat Yunho sedikit menjauhkan ponsel itu dari telinganya.
"sudahlah, aku lelah. Kau bisa menghubunginya nanti…pip…" Yunho kembali mematikan ponsel itu dan menghempaskannya ke sofa sebelah meja.
Yunho menatap Jaejoong, karena masih kesal awalnya ia ingin membangunkan Jaejoong dengan menoyorkan kepalanya, namun tangannya terhenti tepat di pucuk kepala Jaejoong.
Tanpa ada yang memerintahkan tangannya, jari Yunho menggeserkan poni Jaejoong yang menutupi matanya. Yunho menatap wajah Jaejoong yang sedang tertidur pulas, terlihat teduh, bahkan sangat teduh. Yunho seperti enggan mengalihkan pandangannya, ia merasa ingin terus menatapnya dan perlahan semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Jaejoong agar ia dapat melihat wajah teduh itu lebih dekat.
Hingga, tiba-tiba Jaejoong membuka matanya membuat mereka saling menatap beberapa detik karena Yunho yang hanya bisa diam mematung dengan perasaan antara terkejut dan bingung harus berbuat apa.
Setelah tersadar, dengan kasar dan tak berprikepasienan Jaejoong mendorong tubuh Yunho hingga ia terjatuh. Yunho meringis sakit saat dirasa tangannya terasa perih, tak lama dari itu keluarlah cairan berwarna merah mengalir dari tangannya. Jarum infus Yunho terlepas saat botol infus itu ikut terjatuh dari tangan Yunho.
Jaejoong terperangah dan dengan cepat ia berlari mengambil beberapa alat dari meja nakas dan kembali menghampiri Yunho, dengan cepat Jaejoong membersihkan darah itu dan membalut tangan Yunho yang berdarah dengan kain kasa sedangkan Yunho hanya menatap wajah panik Jaejoong.
Setelah selesai Jaejoong menghembuskan nafas leganya, "mianhae" sesal Jaejoong.
"eoh ?"
"sebenarnya apa yang kau lakukan ? kau membuatku terkejut !" bentak Jaejoong kesal.
"a-ku…aku hanya ingin membangunkanmu !" Yunho balas membentak dengan sedikit tergagap.
"membangunkan ?" Jaejoong mengerutkan keningnya, kemudian kembali membulatkan matanya yang memang sudah bulat, "astaga, apa aku tertidur ? jam berapa sekarang ?" Jaejoong melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, "telat setengah jam"
Yunho hanya menatap bingung wajah panik Jaejoong.
"kenapa kau tak membangunkanku sejak tadi !" Jaejoong sedikit membentak membuat sedikit emosi Yunho meningkat.
"Yak ! kenapa kau menyalahkanku ?"
"aarrggg…ya sudah cepatlah berdiri" Jaejoong berdiri lebih dahulu kemudian Jaejoong mengulurkan tangannya bermaksud untuk membantu Yunho bediri.
Namun Yunho menepisnya, "tidak perlu, aku bisa bangkit sendiri"
Jaejoong hanya menghembuskan nafas lelahnya, "baiklah jika kau tak ingin dibantu" ucap Jaejoong sambil berjalan terlebih dahulu menuju nakas untuk mengembalikan beberapa alat yang sempat ia ambil tadi.
"Dasar perawat tak berguna !"
Jaejoong menoleh dengan tatapan tajamnya, "apa kau bilang ?"
Yunho tersenyum sinis, "sebaiknya kau mengundurkan diri sebelum kau diundurkan secara tidak sopan, itu akan membuatmu terlihat lebih memalukan"
Jaejoong balas tersenyum sinis, "aku akan mengundurkan diri jika dalam waktu singkat kau bisa menyukaiku"
"Mwo ? apa kau bercanda ?"
"ani, aku hanya mengatakan hal yang sama sepertimu. Sama-sama tidak mungkin"
"cihh…"
"aku bersusah payah untuk mengejar pendidikan, hal yang mustahil hanya karena orang sepertimu, aku menghancurkan dan membuang semua cita-citaku. Mengundurkan diri ? itu hanya akan terjadi ketika aku pensiun"
"untuk apa kau mengejar cita-cita yang tak pantas untukmu ?"
Jaejoong menyembunyikan telapak tangannya di belakang tubuhnya dan mengepalkannya kuat, menahan emosi yang begitu besar, mungkin jika disentuh sedikit saja emosi itu akan meledak bagaikan gempa yang melanda bumi.
Yunho mendekatinya, tapi bukan bermaksud untuk menghampirinya. Yunho kembali berbaring di atas katilnya, mencari remot control, dan mulai mengarahkannya pada layar TV.
Jaejoong menghembuskan nafas panjangnya, membuang semua emosi yang selalu ia pendam jika harus berhadapan dengan pasien yang menyebalkan ini.
Jaejoong kembali berkutat dengan alat-alat pengobatannya.
Tanpa aba-aba terlebih dahulu,
JLEP,,
"AAKKHHH….APPO PABO !" pekik Yunho saat Jaejoong dengan tiba-tiba menusuknya dengan jarum suntik.
"eoh ? mianhae…joungmal nomu appo ?" ejek Jaejoong dengan raut wajah penuh penyesalannya membuat Yunho semakin geram.
"KAU PABO ! KENAPA KAU TAK MENGATAKANNYA TERLEBIH DAHULU ? INI BENAR-BENAR SAKIT PABO !"
"mianhae, tapi tak ada waktu untuk mengatakan hal seperti itu karena nyatanya Tuan sudah telat setengah jam untuk diberi obat melalui intravena"
"AIIISS !" desis Yunho kesal namun akhirnya ia hanya pasrah melihat lengannya yang masih ditusuk paksa oleh jarum suntik dan lagi-lagi ia harus direpotkan oleh selang impus karena setelah diberi obat, Jaejoong kembali memasang infuse yang tadi sempat terlepas itu.
.
*YunJae*
.
TAP,,TAP,,TAP,,TAP,,
TOK,,TOK,,TOK,,
Suara langkah kaki dan ketukan pintu terdengar secara bersamaan, membuat Yunho dan Jaejoong yang sedang melakukan aktifitas masing-masing kini saling menatap dengan tatapan 'siapa itu ?'
Jaejoong mengidikkan bahunya tanda ia tak tahu, Yunho mengisyaratkannya untuk membuka pintu, namun Jaejoong tersenyum meremehkan dan kembali melanjutkan aktifitasnya menandakan bahwa ia tak mau diperintahkan, tak mau ambil pusing Yunho juga kembali menonton acara TVnya,
BRUKKK….
Suara itu membuat Yunho dan Jaejoong kembali saling menatap kemudian secara bersamaan menoleh kearah pintu,
"Hey…apa kau tidak apa-apa ?"
Jaejoong mengernyitkan keningnya, mencoba menebak suara siapa itu.
"APPO….."
Pekikan itu, suara kedua. Jaejoong sepertinya mengenalinya. Dengan cepat Jaejoong berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Junsu !" pekik Jaejoong heran saat melihat temannya sedang terduduk dengan tak elit di lantai depan pintu kamarnya, bukan- maksudnya kamar pasiennya, Yunho.
Tidak hanya Junsu, Jaejoong juga melihat namja selain Junsu. namja itu tinggi dan tampan.
Junsu bangkit, "YAK KIM JAEJOONG ! APA YANG KAU LAKUKAN HAH ? APA KAU BERBUAT MESUM DENGAN PASIENMU ?" bentak Junsu terang-terangan membuat Jaejoong membulatkan matanya dan beberapa orang yang sedang melewati koridor itu langsung menatapnya kaget.
"Mwo ? mesum ?" tanya seseorang yang membuat Jaejoong tersadar bahwa ada namja lain dihadapannya selain Junsu.
"YAK ! apa yang kau katakan ? aku tidak mengerti"
"Yoochun-ah ? kau kemari ?" tanya Yunho yang sudah berada dibelakang Jaejoong.
Namja yang dipanggil Yoochun- menoleh, "nee"
"apa yang kau lakukan disitu ? masuklah" ajak Yunho.
Yoochun masuk dengan sedikit mendorong tubuh Jaejoong karena mneghalangi jalan masuknya, "bagaimana keadaanmu ?"
"seperti yang kau lihat" Yunho menunjuk botol infuse yang setia menemaninya saat ini.
Dengan polosnya Jaejoong menunjuk Yoochun "kau siapa ?"
"YAK KIM JAEJOONG !" bentak Junsu setelah beberapa saat fakum karena mendengar percakapan Yunho dan Yoochun yang tidak telalu penting untuknya.
"SHIT ! kau mengagetkanku !" Yunho balas membentak membuat Junsu langsung terdiam.
"Hey, kau membuatnya takut" bela Yoochun.
"apa kau temannya Yunho ?" tanya Jaejoong penasaran karena setau dia Yunho tidak mempunyai teman kecuali Hyungnya sendiri, tapi ini tidak mungkin Hyungnya karena Hyungnya sudah meninggal saat kecelakaan satu bulan yang lalu.
"bukan urusanmu !" ucap Yunho membuat Jaejoong mengerucutkan bibirnya kesal, "lalu kenapa kau ada disini ?" Yunho menunjuk tepan di wajah Junsu, tak sopan.
Jaejoong menoleh kearah Junsu yang sepertinya kaget dan takut, dengan sigap Jaejoong menggenggam pergelangan tangan Junsu, "ini juga bukan urusanmu !" balas Jaejoong lalu menarik Junsu pergi keluar kamar.
Tinggallah hanya Yunho dan Yoochun disitu,
"siapa mereka ?" tanya Yoochun
"yang satu perawat tak berguna, yang satu aku tak mengenalnya, sepertinya sama"
Yoochun tersenyum, "dia manis"
"dia ?" ulang Yunho.
"nee, namja yang menabrakku tadi di depan pintu" ucap Yoochun dan Yunho hanya ber'oh' ria. "wae ?"
"wae ?" tanya Yunho balik.
Yoochun menatap wajah Yunho dengan intens, "kau seperti merasa lega ?"
"lega ? apa maksudmu ?"
"apa namja dengan doe eyes itu milikmu ?"
"Mwo ? apa yang kau bicarakan ?"
Yoochun tersenyum jahil, "tenang saja, aku tak akan menganggunya"
.
*YunJae*
.
"Apa yang kau lakukan dengannya ? apa ini sudah sering terjadi ? apa kau berpacaran dengannya ? bagaimana bisa terjadi hal seperti ini ? bahkan kau tak pernah menceritakan padaku ? kau benar-benar_mbdjshjs"
Jaejoong membekap mulut Junsu yang membuatnya pusing, setelah Junsu sedikit tenang barulah Jaejoong melepaskannya, "sekarang, ceritakan satu persatu karena aku benar-benar tak mengerti apa yang kau maksud"
.
.
.
Setelah beberapa menit kemudian,
"hufh,,,,aku lega jika itu hanya salah paham….ckckckck…tidak bisa dibiarkan. Dia sudah berani mengangkat telfon sembarangan" Junsu menggelengkan kepalanya.
"kau tak perlu heran, bahkan membunuhku pun ia mampu, apa lagi hanya sekedar mengangkat telfon"
"pantas saja tidak ada perawat yang betah dengannya, dia begitu menakutkan" ucap Junsu sambil bergidik ngeri saat mengingat tadi ia sempat dibentak oleh Yunho.
"tapi aku harus betah dan berjuang sampai akhir, aku tak ingin liburan musim panas kali ini sia-sia"
"nee, Hwaiting"
"oya, tadi kau menelfonku ada perlu apa ?"
Junsu menepuk jidadnya, "ASTAGA, Siwon Hyung menyuruh kita berkumpul di lobi. Sepertinya ada rapat"
"Mwo ? matilah aku…"
.
*YunJae*
.
"dari mana saja kau ?" tegur Yunho saat Jaejoong memasuki kamar.
"ada rapat" jawab Jaejoong malas.
"Mwo ? rapat ? tikus-tikus seperti kalian juga menghadiri rapat ? apa berguna ? kurasa kau hanya tertidur saat kepala rumah sakit berceramah, lihatlah wajahmu yang kuyu"
Jaejoong malas menanggapi ocehan Yunho, ia hanya celingak-celinguk "apa Yoochun sudah pergi ?"
"wae ? kenapa kau tiba-tiba mencarinya ?" tanya Yunho tajam, terkesan seperti tidak suka.
"sebenarnya siapa dia ? kenapa aku baru melihatnya ?"
"apa kau menyukainya ?"
"nee ?"
"katakan saja jika kau menyukainya…"
"ani…"
"ciihh, bohong !"
"sudahlah, jika kau tak ingin menjawab. Aku ingin mandi" ucap Jaejoong sambil berjalan melewati katil Yunho menuju kamar mandi.
"dasar ! selalu memanfaatkan sesuatu"
Jaejoong menghentikan langkahnya, "mwo ?"
"kau selalu mandi sebelum pulang, apa di rumahmu tidak ada air ?"
"wae ? aku mandi menggunakan air rumah sakit, bukan airmu. Jadi aku tak merugikanmu"
"hey..ingat ! aku yang membayar biaya kamar ini. Jadi seluruh fasilitas yang ada disini adalah milikku sekarang !" ucap Yunho dengan mata yang menatap tajam.
Namun,
Jaejoong malah menjulingkan matanya dan menjulurkan lidahnya mengejek Yunho,
BUG,,
Yunho melempar Jaejoong dengan bantalnya, tapi sial. Jaejoong sudah terlebih dahulu menutup pintu kamar mandi membuat bantal itu hanya membentur daun pintu.
.
*YunJae*
.
Jaejoong membuka pintu kamar mandi secara perlahan, takut jika mendapat serangan secara tiba-tiba. Namun keadaan sangat sepi membuat Jaejoong dengan lega keluar tanpa perlu was-was.
Yunho sudah tertidur pulas, Jaejoong menghampiri Yunho di katilnya. Sedikit merasa iba karena ia harus meninggalkan Yunho sendirian disini. Tanpa sadar Jaejoong tersenyum melihat raut wajah Yunho saat tertidur, benar-benar seperti anak kecil yang masih terlalu polos. Dengan perlahan Jaejoong menyelimuti tubuh Yunho, berusaha untuk tidak mengusik tidurnya.
Beberapa menit kemudian Jaejoong sudah siap untuk meninggalkan rumah sakit dan pulang ke rumah, setalah Jaejoong membereskan semua dan mematikan lampu agar Yunho tak merasa silau. Jaejoong menggendong tas ranselnya dan berjalan menuju pintu,
"wae ? Hyung ? eomma ? appa ? wae ?"
DEG,
'Suara siapa itu ? kenapa tersengar samar ? jangan-jangan….' Jaejoong mulai berdigik ngeri, ia membalikkan badannya. Tak ada siapa pun.
"hikz…wae appa tak mengajakku ?"
'kenapa aku seperti mengenal suara itu ?' Jaejoong mulai berani dan mencari asal suara.
"hyung….aku merindukanmu…aku ingin ikut dengan mu"
'Yunho, benar ini suara Yunho' batin Jaejoong saat ia sudah berada tepat di samping katil Yunho.
"eomma…hikz..eomma…jebbal"
'matanya masih terpejam, kenapa ? kenapa ia selalu seperti ini setiap ia memejamkan matanya ?'
Jaejoong menyipitkan matanya saat ekor matanya melihat buliran Kristal mengalir di pipi namja tampan itu karena terkena cahaya dari luar yang melewati ventilasi kamar itu,
Sakit,
Kenapa dada Jaejoong terasa sakit ?
Apa karena perasaan IBA ?
Apa hanya karena IBA ?
Jaejoong menghapus lembut buliran Kristal itu dan sedikit mengelus pipi Yunho, berbeda. Benar-benar terasa sangat berbeda. Apakah ini benar Yunho yang selalu membentaknya ? Yunho yang selalu membuatnya repot, membuatnya kesal, membuatnya marah dan emosi, apakah ini pasien pribadinya yang terkenal kejam dan cerewet ? kenapa saat seperti ini hanya ada Yunho yang terlihat lemah ? Yunho yang selalu membuatnya merasa iba ?
Yunho seperti gelisah dalam tidurnya, terasa oleh tangan Jaejoong jika Yunho berkeringat. Seperti keringat dingin karena badan Yunho sedikit terasa panas hari suhu normal.
"Gajimma...gajimma…jebal…"
Perih,
Bagai luka tersiram garam,
Melihat Yunho yang terus mengigau membuat Jaejoong tak tega untuk meninggalkannya,
Jaejoong mendudukkan dirinya di sebelah katil, dengan satu tangan menggenggan erat tangan Yunho dan satunya lagi ia gunakan untuk mengusap-usap lembut surai hitam Yunho.
Jaejoong terus manatap wajah Yunho yang semakin terlihat sendu,
Hingga bibir Jaejoong mulai bergerak untuk menyanyikan sebuah lagu merdu,
Whatever you do don't go there again
Charari naega neol daesinhae danyeoolge
I'll take your place and go for you
Whatever can you mean ireon mareun mara
Whatever can you mean, don't say that
'algesseo'ran dabeul wonhae
I want you to answer "okay"
Jochiman heaven gajima heaven
It's good, heaven, but don't go, heaven
Neoui gieogen eobtjanha
It's not there in your memory
Sasil na museowo
Actually, I'm scared
Nareul barabwado alji motaneun ge
That you don't know me even when you're looking at me
"Heaven" – Kim Jaejoong feat Gummy
,
Tenang,
Wajah itu kini terlihat tenang,
Seperti tebuai dalam lagu yang Jaejoong nyanyikan,
Jaejoong tersenyum tipis kemudian kembali melanjutkan lagunya dengan sedikit semangat saat melihat kemajuan dari wajah Yunho.
.
*YunJae*
.
Hembusan angin pagi yang mulai mengelus lembut kulit putih namja cantik yang masih terpejam, ia bagai enggan membuka mata walau mentari pagi telah mnegusiknya melalui celah-celah jendela.
Ia hanya berguling untuk menghindari silaunya mentari pagi, namun kicauan burung bagai alarm yang tak dapat ia hentikan, membuatnya benar-benar muak dan sepertinya ini saatnya untuk bangun dan melalukan aktifitas seperti biasa.
Dengan malas Jaejoong perlahan membuka matanya, terlihat masih samar, kemudian ia mengerjap-ngerjapkan matanya, tetap masih samar.
Ia mulai bangkit sambil menguap kecil dengan tangan yang mengucek-ngucek pelan mata indah dan besarnya, terlihat manis.
Jaejoong mulai merenggangkan otot-ototnya, memutar pinggangnya ke kiri dan ke kanan, dan lagi-lagi Jaejoong menguap,
Ia menggaruk kepalanya, mungkin separuh nyawanya belum kembali,
Hingga, tiba-tiba…
Matanya yang bulat semakin membulat sempurna,
"kenapa aku bisa ada disini ?" tanyanya entah pada siapa saat menyadari dirinya tengah berada di atas sebuah katil yang biasa ditempati oleh Yunho.
"akhirnya kau bangun juga"
.
.
-To Be Continue-
.
.
Ditunggu Ripiunya ne readers yang baik hati... agar Jia bisa lebih cepet update... cup cup... ^_^
Jadi mari kita saling menghargai...^_^
Deep Bow... ^_^
.
.
Xx Hug & KisS xX
