Title: Rendezvous

Pair: AkashiKuroko, others.

Note: Ini Hybrid Cat!AU, jadi chara-chara KnB bisa berubah jadi kucing hybrid. (tapi sepertinya akan jarang terjadi.) Hahaha... -_-;

Warn: Typos, OC, OOC, bad language, penambahan fakta demi cerita, dan kemungkinan M-preg (mungkin...). Bokushi-oreshi!Akashi (campur-campur), Hard to get!Kuroko.

Disclaimer: Fujimaki Tadatoshi, other brands or places, i gain no profit from this fiction.

Happy reading...

Chapter 1: Invitation

.

.

Aomine Daiki adalah makhluk yang (kalau bisa) paling tidak ingin Seijuuro temui saat ini. Namun kesialan memang sepertinya belum bosan terus mengekori Seijuuro sepanjang hari. Baru saja ia duduk nyaman menghadap counterbar Ishi no Hana seraya menikmati mocktail delima dingin dalam gelas margarita-nya, mendadak sosok Daiki muncul dan langsung ambil duduk di sebelah Seijuuro.

"Oh, kau ke sini juga..." Daiki terkekeh dengan suara serak. Alis matanya terangkat sebelah, seakan heran dengan kehadiran Seijuuro pada waktu selarut ini. "Oi, malam Ishigaki-san! Gin dengan potongan lime, beri sedikit cacahan mint, oke?"

Dari balik meja counter, Ishigaki Shinobu selaku representatif bartender Ishi no Hana, memberi anggukan oke, dan mulai meracik pesanan Daiki.

"Sibuk berkirim teks mesum dengan kekasihmu, eh?" Daiki melirik ke arah Seijuuro yang terlihat serius mencumbu ponsel pintarnya. Tangan Daiki dengan seenak hati meraih sebutir besar stroberi dari mangkuk di hadapan Seijuuro, lalu melahapnya dalam sekali suap.

"Ayahku."

Daiki bersiul pelan. "Mulai menganut faham incest rupanya..."

"Shut up, Daiki. Aku serius."

"Kay." bibir Daiki mencebik begitu ancaman membahayakan jiwa-raga keluar dari mulut Seijuuro. Ia tidak mau berakhir dengan kepala bocor akibat lemparan gelas, Daiki masih sayang nyawa, terima kasih.

Setelah mengantar Eiji sampai di kompleks apartemennya dengan selamat sentosa, Seijuuro tidak langsung meluncur pulang, ia memilih untuk menghabiskan sisa malamnya di Ishi no Hana. Seijuuro menolak halus tawaran Nyonya Kawamura yang memintanya untuk mampir sebentar—dengan dalih bahwa waktu sudah terlalu larut untuk bertamu. Lagipula mereka-mungkin-tidak akan bertemu lagi dan Seijuuro memang tidak tertarik untuk mengencani Eiji.

Entahlah, Seijuuro hanya tidak tertarik pada pemuda malu-malu tapi mau macam Eiji. Seijuuro lebih suka tantangan, ia ingin sesuatu yang tidak mudah didapat hanya dengan sekedipan mata.

Omong-omong Seijuuro tidak akan kembali ke Mansion Akashi untuk sekarang. Mood-nya sedang tidak baik, apalagi jika ia harus menghadapi Masaomi setelah ini. Ia sudah mengirim pesan singkat pada Masaomi mengenai 'kencan buta' yang lagi-lagi gagal barusan dan mengatakan kalau ia akan kembali ke apartemen pribadinya saja. Tidak peduli pada murka atau ocehan Masaomi keesokan hari, Seijuuro dengan lancang mematikan daya ponsel dalam saku celana panjangnya tanpa ragu.

"Mood-mu sepertinya kurang bagus."

Seijuuro gantian melirik Daiki yang tengah asyik menyesap potongan lime dari gelas gin di atas meja counter. Wajah pemuda berkulit gelap itu mengerut tidak elit sewaktu rasa asam membanjiri bintil-bintil pengecap lidahnya. Benar-benar buruk rupa.

"Tepat sekali." Seijuuro mengangkat gelas margarita-nya ke arah Daiki. Dan mereka bersulang diiringi denting ringan tumbukkan kaca. "You just getting laid, huh?" ia berujar malas saat mengendus ada aroma lain muncul dari balik kemeja hitam berlengan panjang kusut milik Daiki. "Busuk sekali baunya."

"Oi! Oi! Akashi! Watch yer freakin mouth, dude!" Daiki berseru dan hampir menarik perhatian beberapa pengunjung di sana. Mendesah pelan, Daiki mengusap tengkuknya yang menghangat akibat efek gin. "Yeah, sort of..." desisnya tanpa suara. "Tapi dia mengusirku, dan aku terdampar di sini bersamamu... Haa, sungguh takdir."

Seijuuro tersenyum remeh. "Bertemu denganmu di sini bukanlah takdir melainkan kesialan lain bagiku Daiki, asal kau tahu, hariku sudah sangat buruk." ia mendengar protes tidak suka milik Daiki, namun diabaikan. " Dan setidaknya samarkan dulu bekas-bekas bercinta kalian. Apa itu cakaran panjang di sekitar lehermu? Ryota sekarang senang main kasar rupanya..."

Daiki menarik kerah kemeja hitamnya menjauh dari batas leher dan bahu, ada empat gurat panjang kemerahan menembus kulit di sana, masih segar layaknya tomat ranum siap petik. "Seperti kau tidak saja, hey, Akashi..." balas Daiki mencibir. "Ini hanya sebagian kecil, kau mau lihat punggungku?"

Dan langsung dibalas cepat oleh Seijuuro dengan 'No, thanks. I'm not interested.'

Pemuda yang lebih jangkung tertawa. "Seems like someone not getting enough laid, huh?" katanya dengan nada mencemooh dibuat-buat. "Ada apa Akashi-sama? Ke mana kucing-kucing kecil manis yang biasanya selalu menempel padamu?"

Seijuuro mendengus pelan. Sudah hampir setengah tahun ia tanpa partner. Kalaupun ada 'kucing-kucing manis' seperti ucapan Daiki, itupun tidak sampai tahap yang lebih intim.

Hanya gelengan singkat yang Daiki dapat, Seijuuro nyatanya lebih tertarik untuk memperhatikan cairan semerah rubi di dalam gelas. Daiki ikut terdiam saat Seijuuro lama tidak membalas kalimatnya tadi. Alunan musik ambient samar memenuhi Lounge, dan cahaya sephia temaram dari lampu-lampu gantung di atas mereka membuat tubuh Daiki menjadi lebih santai. Ini bagus untuk tubuhnya yang rontok luar-dalam. Sesi bercinta dengan Ryota bagi Daiki sama saja bagai menonton film horror: lelah menguras energi. (Menguras energi karena Daiki akan mengeluarkan jeritan 'manly' jika wajah seram arwah penasaran muncul secara mendadak di layar televsi. Dan setelahnya ia akan kelelahan akibat sibuk menjerit-jerit heboh sendiri.) Bukan ia tidak punya stamina, hanya saja setelah pacaran dengan Ryota, kehidupan seks-nya jadi sedikit berbeda.

"Kudengar dari Ryota, eum, Ryota sebenarnya dapat info ini dari Si Mata Empat... kau sedang maraton omiai atas prakarsa ayahmu... benar?" Daiki bertanya sembari mengunyah kacang madu dalam genggaman. "Man, itu sungguh kuno sekali... kita hidup di zaman wi-fi, dan ayahmu masih saja berpikir ala penyembah menhir..."

Seijuuro tidak mempedulikan kalimat berbumbu hinaan Daiki untuk Masaomi. Ia lalu menatap Daiki sedikit terkejut. "Oh. Mulut Shintaro besar juga rupanya."

"Yup, sepertinya cukup besar." Daiki malah mengiyakan. "Makanya Si Takao itu betah pacaran dengan manusia frigid macam Midorima. Mungkin ia punya fetish terhadap mulut besar yang muat untuk..."

"Bukan secara harfiah, Daiki. Aku mengatakannya dalam arti konotatif."

"Oh." kunyahan kacang madu berhenti. "Maksudmu Midorima suka bergosip, begitu?"

Seijuuro tertawa pelan. "Kau tetap tidak berubah Daiki... masih saja bodoh."

"Kuanggap itu sebuah pujian, Yang Mulia Akashi..." ujarnya penuh sarkasme, namun sedetik kemudian Daiki ikut tertawa.

Seijuuro, Daiki, bersama Ryota, dan Shintaro, juga teman raksasa mereka: Atsushi, adalah teman lama sewaktu mereka duduk di bangku sekolah pertama. Mereka satu klub basket, namun tidak cukup dekat. Tapi siapa sangka lingkaran pertemanan absurd tanpa adanya simbiosis mutualisme itu ternyata bertahan hingga sekarang. Seijuuro sendiri merasa heran, hal apakah yang membuatnya betah bersahabat dengan manusia-manusia yang jelas sekali berbeda kepribadian bagai bumi dan langit dengannya itu, hingga hampir limabelas tahun berselang.

Seijuuro Sang Emperor, Daiki yang selalu ingin menang sendiri, Si Easy going Ryota, penderita tsundere akut Shintaro, dan Atsushi Si 'Aku tidak peduli pada apapun kecuali makanan'.

Bahkan satu sekolahpun tahu, kalau kelompok mereka sangatlah mustahil dan tidak lebih nyata daripada kisah-kisah penampakan bigfoot.

"Ayahku ingin segera mendapat penerus. Dan kau tahu sendiri, aku tidak suka diatur."

"Yeah, kalian ayah dan anak ini, sejak dulu bagaikan lubang hidung saja, dekat—tapi tidak bisa bersatu. Wait, perumpaan macam apa itu barusan?" dahi pemuda berambut biru gelap itu mengerut. "Whatever, tapi mungkin ayahmu ada benarnya. Kau anak tunggal, Akashi. Setidaknya stop sejenak ego-mu dan coba buat dia bahagia." Daiki memutar gelas gin-nya yang hanya tersisa seperempat, mata biru itu memperhatikan pusaran lime dan mint dengan seksama. "Kalau kau mau berkata bahwa aku anak tunggal juga, setidaknya orangtuaku bukan tipe semacam ayahmu. Mereka tidak pernah memaksaku untuk segera berkomitmen dan memiliki keluarga."

"Terpujilah keluarga Aomine." butir terakhir stroberi masuk ke dalam mulut Seijuuro.

"Oi, aku serius." Daiki lalu menghabiskan sisa gin dalam gelasnya. "Meski begitu, aku tidak dapat menebak hati mereka. Apakah mereka berharap kalau hubunganku dan Ryota akan sampai pada tahap yang lebih tinggi lagi."

"Kau benar-benar serius dengan Ryota."

Daiki menghela napas dalam-dalam. "Inginnya begitu."

Kedua jarum jam tangan Seijuuro sudah menunjuk angka duabelas, tepat tengah malam, dan hari sudah berganti. Pengunjung Ishi no Hana semakin berkurang, karena jam operasional mereka hanya sampai pukul dua dini hari.

"Oke. Terima kasih atas saran bijakmu barusan. Akan kucoba pikirkan."

Daiki mengangguk. "Kau sudah mau pulang?"

"Hm. Aku rindu ranjang empukku."

"Ha..., sudah sana cari partner baru, lama-lama aku jadi kasihan padamu..."

"Aku tidak butuh belas kasihmu, berikan saja pada orang lain yang lebih butuh." Seijuuro merogoh saku blazer-nya dan mengeluarkan dompet untuk membayar bill.

"Oh, ya. Omong-omong apa Ryota sudah mengundangmu?" Daiki tadinya hendak melakukan hal serupa, namun Seijuuro melarang dan segera membayar gabungan bill mereka.

"Undangan apa? Ryota jarang menghubungiku."

"Pesta menyambut apartemen baru. Ryota dan aku membelinya bersama. Aku belum cerita, ya?" Daiki menggaruk pelipis. "Jingumae Residence, Omotesando. Kami memilih gedung yang tidak jauh dari kantorku dan agensi Ryota. Belum diapa-apakan sih, mulai besok kami baru akan memindahkan barang." trench coat hitam disambar dari punggung kursi, Daiki lalu memakainya dengan cekatan. "Karena mulai besok kami akan sangat sibuk, Ryota sampai mengusirku pulang agar ia bisa tidur cepat."

Seijuuro mengulas senyum mengejek. "Selamat Daiki, jatahmu berkurang."

"Itu pasti. Sudah, jangan dibahas." ia berujar lesu. "Akhir pekan dua minggu lagi, nanti kukirim detil dan alamatnya. Atau kau mau sekalian membantu kami pindah?"

"Aku berharap bisa."

"Tidak usah sajalah, lagipula kami sudah menyewa jasa pindah rumah."

Keduanya berjalan lambat menuju lahan parkir. Udara dingin membuat mereka semakin merapatkan pakaian yang membalut tubuh.

"Aku baru memberitahu Murasakibara, katanya dia akan datang bersama Himuro asalkan ada makanan. Dasar bocah besar..." Daiki mengaktifkan kunci pengaman Lexus-nya tercinta. "Kalau Midorima..., biar Ryota saja yang menyampaikan..."

Seijuuro melangkah menjauhi Daiki, Audi hitamnya terletak agak ke sebelah kiri area parkir Ishi no Hana.

"Datanglah Akashi. Ryota mengundang teman-temannya juga, mungkin saja salah satu dari mereka ada yang menarik perhatianmu."

"Akan kuusahakan." pintu kemudi sudah dibuka. "Selamat malam, Daiki."

TBC

A/N: Hallo, salam kenal, spica di sini... Hahaha... ini fanfiksi pertama di ffn, dan fandomnya Kurobasu dengan main pairing AkaKuro (my baby belum muncul, masih disimpan baik-baik *peluk Tetsuya*). Maaf sangat singkat dan sepertinya tidak akan memiliki banyak chapter. Review akan sangat berarti, terima kasih dan ciao!