Title: Rendezvous

Pair: AkashiKuroko, others.

Note: Ini Hybrid Cat!AU, jadi chara-chara KnB bisa berubah jadi kucing hybrid. (tapi sepertinya akan jarang terjadi.) Hahaha... -_-;

Warn: Typos, OC, OOC, bad language, penambahan fakta demi cerita, dan kemungkinan M-preg (mungkin...). Bokushi-oreshi!Akashi (campur-campur), Hard to get!Kuroko.

Disclaimer: Fujimaki Tadatoshi, other brands or places, i gain no profit from this fiction.

Happy reading...

Chapter 2: Taming the Storm.

Tangan kanan Seijuuro menangkap udara. Kedua matanya perlahan terbuka hanya untuk mendapati langit-langit tinggi kamarnya sendiri. Seijuuro segera bangkit dan mengusap wajah. Mimpi barusan terasa begitu nyata. Ada hangat tubuh lain di atasnya, dan tentu saja mereka melakukan hal-hal nakal bersama.

Ah, frustasi seksual ini semakin menjadi-jadi. Setengah tahun tanpa partner, membuatnya hampir lupa seperti apa itu kenikmatan dunia. Terpaksa ia harus mandi air dingin, karena Seijuuro tidak suka menggunakan tangan kanannya untuk menuntaskan hasrat yang berkumpul di antara dua kaki.

Seijuuro menatap jam digital di atas meja, pukul tujuh pagi dan ia masih bergulung malas dalam selimut... benar-benar bukan tipikal Seijuuro sekali. Entahlah, hari ini ia merasa kehilangan energi dan tidak ingin melakukan hal apapun selain bersantai. Mungkin, efek peristiwa kemarin masih membuat macet sebagian jiwa dan raga. Yah, karena walaupun ini adalah hari Minggu, posisi Seijuuro sebagai wakil pemimpin dalam bisnis ryokan keluarga membuatnya harus siap siaga setiap saat. Setumpuk berkas dalam laptop sudah menjerit minta diselesaikan. Beberapa halaman mengenai laporan keuangan baru dikirim oleh bendaharanya semalam, dan lusa ia harus ke Kyoto untuk mengecek perenovasian salah satu bangunan ryokan di daerah Gion. Seijuuro harus siap jika suatu saat nanti Masaomi mendadak turun dari singgasana dan memberikan titah untuk menggantikan posisi utama dalam bisnis keluarga.

Ia baru menyadari kalau ponselnya belum hidup lagi sejak semalam. Sedikit terhuyung, Seijuuro meraih celana panjang hitam bekas kemarin yang tersampir rapi di ujung ranjang. Ugh, morning wood-nya benar-benar merusak konsentrasi!

Saat layar terang menerpa mata, nyatanya tidak ada satupun pesan Masaomi di sana. Kedua alis Seijuuro bertaut. Apa Masaomi sekarang sudah mencoret nama Seijuuro dari daftar anggota keluarga? Ia lumayan terkejut saat Sang Ayah tidak meninggalkan satupun ancaman atau petuah dalam mailbox ponselnya.

Apa Masaomi mulai menyerah dengan segala kelakuan Seijuuro?

/ Setidaknya stop sejenak ego-mu dan coba buat dia bahagia.../

Kalimat sok bijak dari Daiki semalam, berputar lagi dalam memori. Apa Seijuuro sekarang memang harus berhenti main-main dan menyanggupi permintaan Masaomi untuk berkomitmen?

Apakah ia siap?

Dilemparnya ponsel malang itu ke sudut ranjang. Besok saja ia selesaikan semua, Seijuuro akan langsung menghadapi ayahnya tanpa gentar. Untuk sekarang, biarkan dulu ia mengurusi masalah pribadi yang sungguh mengganggu para laki-laki di pagi hari.

Secangkir susu vanila hangat baru selesai dibuat dan Seijuuro berniat meletakkan porselen Italia itu di sebelah laptop yang menyala, saat tiba-tiba saja bel pintu depan berbunyi. Dengan langkah santai ia berjalan menuju interkom, sementara otaknya menduga-duga siapakah gerangan yang menyambangi apartemennya di Minggu pagi.

Ayahnya? Mungkin saja. Toh, Seijuuro sudah biasa menerima murka Masaomi jika ia berulah di kemarin hari.

"Selamat pagi, Akashi..."

Kedua alis Seijuuro terangkat begitu melihat siapa orang yang berdiri di balik pintu apartemennya.

Berdiri tegap dalam balutan sweater abu-abu, Midorima Shintaro terlihat kikuk saat mengucapkan salam.

"Masuklah."

Seijuuro memberi isyarat dengan anggukan kepala setelah pintu depan terbuka. Ia membiarkan Shintaro mengganti sepasang pantofel hitam miliknya dengan slipper rumah yang tersedia di genkan.

"Permisi-nanodayo..."

Seijuuro memimpin di depan. Tidak ada kalimat keluar, hanya langkah-langkah halus mereka yang terdengar menggesek parket kayu penutup lantai. Seijuuro berhenti saat mencapai meja kopi ruang tengah. Otomatis Shintaro mengikuti gerakannya.

"Jadi..." Seijuuro menatap mata sebening emerald milik Shintaro, kalimatnya menggantung di udara.

Pemuda yang ditatap hanya menghela napas ringan. "Kalau kau bertanya kenapa aku mendatangi apartemenmu—yang kurasa memang belum pernah sama sekali—setelah kau angkat kaki dari mansion, tanyakan sendiri pada Paman Akashi."

Sudut bibir Seijuuro tertarik ke atas. "Oh. Jadi sekarang kau mengabdi pada ayahku? Memangnya informasi apa saja yang sudah kau dapat? Tentang kehidupan pribadiku? Atau apa?" Seijuuro memberondong Shintaro dengan serentetan pertanyaan. "Kalau kau kemari hanya untuk menceramahiku, aku sibuk." ia menunjuk laptop di atas meja kopi.

Shintaro lagi-lagi menghela napas. "Bukan-nodayo. Aku datang atas keinginanku sendiri. Boleh aku menaruh barang belanjaanku dulu? Baru nanti kita bicara..."

Seijuuro menatap kantung plastik berlogo minimarket 24 jam yang berada dalam pegangan tangan Shintaro. Juga gulungan kertas tissue putih dengan mahkota-mahkota bunga kuning lembut menyembul di ujungnya.

"Silakan. Anggap rumah sendiri."

"Terima kasih. Kau sudah sarapan?"

"Belum."

"Di mana dapurnya?"

Sang Tuan Rumah menunjuk koridor panjang yang mengarah ke bagian belakang apartemen. Shintaro memasang wajah tertekuk dan bergegas berlalu dari hadapan Seijuuro. Sebentar saja, bunyi kelontang barang-barang stainless terdengar nyaring memenuhi apartemen. Seijuuro bertaruh kalau Shintaro memaksakan diri untuk memasak.

Diam-diam ia tersenyum. Tidak ada angin, tidak ada hujan, sahabatnya yang mengidap tsundere tingkat tinggi itu tiba-tiba datang berkunjung. Walaupun sepertinya terpaksa, tapi melihat tingkah laku Shintaro barusan, tenyata cukup membuat Seijuuro terhibur juga.

Setengah jam berlalu, dan Seijuuro kini sudah berpindah tempat—ia merasa kesepian di ruang tengah—dan memilih duduk manis di kursi makan, sementara Shintaro mengaduk sesuatu dalam panci alumunium di atas kompor. Jemari Seijuuro sibuk menari pada keyboard laptop, bertekad untuk menyelesaikan laporan secepat mungkin sebelum ia berangkat ke Kyoto. Susu vanila dalam cangkir hanya tinggal bersisa setengah, dan perutnya bersorak karena ia tidak perlu makan roti hasil panggangan toaster atau delivery service di pagi hari.

"Singkirkan sejenak laptop sialmu, dan makan dulu-nodayo."

Di hadapan Seijuuro, Shintaro membawa nampan dengan mangkuk-mangkuk yang masih mengepulkan uap panas ke udara. Harum dashi dan daun bawang iris membuat liur Seijuuro hampir saja menetes.

"Lemari esmu perlu mengalami revolusi." ujar Shintaro dengan nada serius. "Singkirkan kaleng-kaleng bir dan makanan penuh MSG itu dari sana! Spasinya sangat luas untuk ratusan ikat bayam, selada, lobak, atau wortel." kacamatanya berembun akibat uap, namun Shintaro masih bisa melancarkan cercaan pada lemari es Seijuuro.

"Aku tidak bisa memasak, ingat?" jadi buat apa mengisi lemari es dengan bahan mentah jika hanya akan terbuang percuma?

"Bagaimana dengan buah-buahan?"

"Deal." tanpa banyak berpikir, Seijuuro mengangguk setuju.

Nampan diletakkan, keduanya lalu makan dalam diam. Nasi pulen yang disatukan dengan makarel goreng dan hangat sup tofu benar-benar serasa surga bagi Seijuuro. Memang sederhana, namun masakan rumah selalu bisa membawa memorinya kembali pada masa-masa silam. Saat di mana Seijuuro kecil dan keluarganya masih menetap di Kyoto.

Saat di mana Akashi Shiori masih menjejak langkah dan menghembuskan napas di bumi.

"Jadi... apa yang membawamu kemari? Kau tidak bertugas? Bagaimana kabar Momiji?"

"Hari ini aku shift siang. Momiji baik-baik saja dan dia ada di rumah orangtua Kazu."

"Apa ini karena ayah?"

Shintaro membetulkan letak kacamatanya yang menuruni batang hidung. "Ya dan tidak." ia berujar seraya meraih gelas tinggi berisi air mineral. "Ya, sebenarnya kemarin, Paman Akashi mengunjungi rumah sakit. Sedikit berbicara tentangmu, dan tidak, beliau tidak menyuruhku kemari. Ini atas inisiatifku sendiri."

Gerakan menyendok kuah sup terhenti. Lidah Seijuuro mendadak kelu mendengar informasi dari Shintaro. Ayahnya... ke rumah sakit?

"Tenanglah. Beliau hanya cek tekanan darah. Sedikit migrain dan masalah lambung. Tidak ada penyakit berat menggerogoti." Shintaro mengedikkan bahu. "Tapi siapa tahu, kalau di kemudian hari Paman Akashi mengalaminya juga. Apalagi dengan sikapmu terhadap beliau selama ini..."

Huh, tentu Shintaro sangat yakin kalau Seijuuro akan menjadi salah satu penyebab kematian Akashi Masaomi suatu hari nanti.

"Sikapku?" Seijuuro bertanya tidak suka, walau ia mengerti benar apa maksud Shintaro.

"Ayolah, Akashi... kau tahu sendiri usianya sudah memasuki batas lanjut. Stress dan segala macam pikiran yang bertumpuk dapat membuat Paman Akashi ambruk suatu waktu. Apa kau menginginkan semua itu terjadi?"

"Tidak." balasnya cepat. Kedua manik rubi Seijuuro menatap lima tangkai anyelir kuning dalam vas berisi air yang tadi baru diletakkan Shintaro di sana.

"Anyelir kuning adalah lucky item untuk Sagitarius hari ini-nodayo."

Shintaro dan obsesinya terhadap ramalan bintang.

"Jadi menurutmu, aku harus menyetujui perjodohan yang diprakarsai oleh ayah begitu? Meski tanpa melibatkan perasaanku?"

Shintaro meletakkan sumpitnya di atas mangkuk. "Kau bisa mulai dengan mengenal partner-mu dulu, setelah itu mungkin..."

"Mudah bicara bagimu. Kau dan Takao terikat karena keinginan sendiri, kalian sudah memiliki Momiji." Seijuuro mengatakan itu dengan suara hambar. "Atsushi dan Himuro, bahkan Daiki juga Ryota. Kalian sungguh beruntung... terikat karena perasaan masing-masing..."

Shintaro mendadak merasa kasihan pada Seijuuro. Sosok dengan harga diri setinggi langit itu entah kenapa, begitu kecil dan rapuh di matanya saat ini. Begitu kesepian, terasing dalam sangkar besi jauh di sudut hati.

"Cobalah berkomunikasi dengan Paman Akashi. Tanggalkan idealisme kalian, dan bicaralah dengan kepala dingin. Suarakan apa yang selama ini kau pendam. Ayahmu hanya ingin yang terbaik, walau caranya mungkin terlihat salah di matamu."

Karena Shintaro tahu, kalau mereka hanya mengalami miskomunikasi. Semua terhitung sejak kematian Shiori, sepuluh tahun yang lalu. Shintaro adalah saksi mata perubahan sikap Seijuuro terhadap lingkungan sekitar, juga terhadap Masaomi. Kehilangan sosok ibu dalam keluarga, bagai memunculkan sisi Seijuuro yang lain, juga menciptakan jurang tak kasat mata di antara keduanya.

"Heh. Lucu sekali." Seijuuro terkekeh tanpa suara.

"Pardon me?"

Si Pemuda berambut merah menatap Shintaro dengan senyum tipis. "Kalian seperti memiliki telepati. Kau... juga Daiki."

Wajah Shintaro mendadak berkerut-kerut bagai menahan sembelit sewaktu mendengar namanya disejajarkan dengan nama Aomine Daiki dalam satu klausa.

"Jangan bandingkan aku dengan Si Mesum itu-nodayo!"

"Tidak." air dalam gelas diteguk sedikit. "Hanya saja, semalampun Daiki mengatakan hal yang hampir serupa denganmu. Kalian ini benar-benar suka sekali mencampuri urusan orang lain ya?"

(Karena sahabat yang baik memang semestinya begitu.)

"Kau bertemu dengan Aomine?"

"Ya, setelah menghadiri kencan buta dengan anak salah satu kolega ayah, kami bertemu di bar. Ia mengundangku untuk menghadiri pesta penyambutan apartemen baru mereka, dua minggu lagi."

Shintaro bersandar pada punggung kursi, matanya menatap taman indoor mini lewat jendela kaca geser yang melingkupi bagian belakang ruang makan Seijuuro.

"Ah. Kise sudah cerita padaku. Dia sangat—antusias? Entahlah, tapi aku mungkin tidak bisa datang. Kazu berangkat ke Hakodate minggu depan, dan aku tidak mungkin meninggalkan jadwalku..."

Seijuuro beranjak untuk membawa peralatan makannya dan Shintaro menuju bak cuci piring. "Aku juga." ujarnya di antara deras aliran air dari keran. "Setelah menemui ayah besok, aku akan ke Kyoto." harum sabun lemon memenuhi udara. "Bagian selatan salah satu bangunan ryokan yang ada di Gion direnovasi, dan aku akan mengecek pembangunannya."

Shintaro mengangguk paham. "Selamat jalan kalau begitu, dan hati-hati."

.

.

Masaomi tidak sanggup menyembunyikan rasa terkejut sewaktu Seijuuro menemuinya di ruang kerja kantor pada Senin pagi. Tidak ada berkas yang harus diperiksa atau ditandatangani, ia hanya ingin bicara empat mata—singkat dan tidak butuh banyak waktu—katanya.

"Aku akan mencoba." Seijuuro menatap langsung kedua mata yang begitu serupa dengan miliknya itu. "Masih bisakah kita memperbaiki ini?"

Karena hanya tinggal ada mereka berdua di dalam keluarga. Bukankah seharusnya mereka saling menguatkan? Berhenti memunggungi satu sama lain, dan bahu membahu menghadapi badai yang mengancam di garis depan.

Akashi Masaomi memejamkan mata. Kerutan di dahi dan di sekitar mata tua itu semakin dalam sejak terakhir kali Seijuuro perhatikan. Kedua siku bertumpu di meja, pemimpin Keluarga Akashi itu menangkup jari jemarinya di depan wajah.

"Ya."

Bunyi tak-tak pendulum Newton di atas meja Masaomi menjadi satu-satunya sumber suara.

Seijuuro mengangguk. "Kalau begitu aku permisi..."

Saat langkahnya mencapai pintu, ia mendengar suara berat Masaomi mengetuk kedua gendang telinga.

"Maafkan ayah, Seijuuro."

Ia tidak berbalik. Namun Seijuuro membalas dengan senyum samar di wajah. "Tidak ada yang perlu dimaafkan."

Karena sejak awal, mereka berdua memang tidak melakukan kesalahan apa-apa.

.

Pesan Ryota sampai di ponsel Seijuuro setelah ia berada di Kyoto keesokan hari. Isinya kurang lebih sama dengan Daiki, hanya saja pesan teksnya jauh lebih ceria karena ditambahi emoji-emoji lucu.

/Eh, Akashi-cchi sekarang ada di Kyoto-ssu?!/

Balasan Ryota lebih cepat dari shinkasen manapun di Jepang.

/Salah satu ryokan yang ada di Gion sedang direnovasi. Aku harus bolak-balik Kyoto-Tokyo sampai selesai, jadi mengenai pesta itu... aku tidak bisa janji./

"Akashi-sama, teh anda..."

Seorang wanita pekerja ryokan muncul dari balik shoji yang tergeser, di tangannya terdapat baki kecil berisi cha dan beberapa butir wagashi.

"Terima kasih, Kubota-san."

/Sampai kapan Akashi-cchi ada di Kyoto? Aku juga akan ke sana hari Kamis-ssu... Ada shooting dan pemotretan di beberapa lokasi wisata di sana.../

Seijuuro menyesap teh hijau dalam cangkir tanah liatnya dengan nikmat. Suasana sore di kawasan Gion yang bebas polusi suara memang menjadi dambaan bagi manusia-manusia penghuni rimba pencakar langit macam Seijuuro.

/Kalau begitu mampirlah kemari. Aku ada sampai Jumat siang. Kau bisa menginap di tempatku./

Lama Ryota tidak membalas pesannya.

/Aku datang bersama rekan-rekan agensi dan kru, kira-kira sepuluh orang... Ah, biar kupromosikan ryokan-mu! Aku boleh gratis ya-ssu, tapi mereka tentu tidak boleh... hehehe.../

Seijuuro hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala menghadapi tingkah Ryota.

/Akan kukosongkan beberapa kamar untuk kalian.../

/Oke. Arigatou-ssu!/

.

.

Tidak ada kenangan cinta pertama dalam rak-rak penyimpanan memori milik Akashi Seijuuro. Semua hubungan dengan partner-partnernya ia jalani dengan timbal balik, suka sama suka, saling memberi keuntungan.

Yang penting ranjangnya tetap hangat, dan ia tidak lagi sarapan atau makan malam seorang diri.

Apakah ada cinta di sana? Mungkin ada. Namun entitasnya samar, nyalanya redup, tidak sampai berkobar-kobar liar bagai api dalam tungku pembakaran.

Apa yang orang-orang katakan sebagai cinta pertama, rasa-rasanya hanyalah omong kosong belaka.

Momen di mana darah terasa berdeguk-deguk memekakkan telinga, tengkuk yang meremang hangat, desiran aneh melintasi perut, atau jantung yang mendadak jadi berdebar tidak terkendali—seakan benda sekepalan tangan itu hendak mencoba melompat keluar dari rongga dada, lalu menggelinding dengan tidak elit ke lantai.

Momen di mana kau menemukan kepingan untuk melengkapi puzzle hidupmu.

Itu kata mereka.

.

Seijuuro tentu tidak percaya.

Tidak, sebelum ia bertemu...

.

.

"Kuroko Tetsuya. Yoroshiku onegaishimasu..."

Dan Seijuuro mengalami semua gejala itu saat tatapan mereka bertemu dalam gerakan yang melambat. Mata Seijuuro mencoba fokus ketika ia bertumbukan dengan manik biru sejernih air tenang Danau Biwa di musim panas.

Kilaunya begitu terang. Penuh gairah dan juga determinasi. Lembut, namun tidak mudah didestruksi.

Japanese Bobtail mungil bermata biru dengan sejuta misteri yang ingin ia selami.

Seijuuro memasang senyum tipis. "Akashi Seijuuro."

Pemuda dengan perawakan tubuh mungil itu hanya menatap tidak mengerti—atau tidak peduli. Mungkin saja dia sedang bertanya-tanya dalam hati, apakah sikap Seijuuro ini masuk kategori yang patut dicurigai.

Setelah itu hanya terdengar suara berisik Ryota, dan wajah-wajah blur yang mengivasi penglihatan Seijuuro untuk mengenalkan diri.

Pemuda bermarga Kuroko itu tidak pernah tahu, bahwa awal pertemuan mereka tenyata memberikan efek yang sangat luar biasa. Ia telah menciptakan percikan bara di hati beku milik Seijuuro yang tidak percaya pada hal-hal berbau dongeng macam cinta pertama.

Karena... tubuh dan pikiran Seijuuro memang tidak pernah seperti ini sebelumnya. Tidak pernah ada leher yang meremang, atau kepak halus ratusan sayap kupu-kupu melintasi perutnya saat ia menatap orang lain. Tidak ada hal semacam itu saat ia bertukar pandang dengan putra-putri elegan dari para kolega ayahnya.

Tidak, sebelum ia bertemu Kuroko Tetsuya.

.

.

TBC

A/N: Hihihi, malah jadi sok romantis, lalala... my baby udah keluar, tapi cuma sebentar aja... Saya pakai sifat oreshi!Akashi, tapi kalau manggil nama member kisedai pakai bokushi (makanya Akashi versi gado-gado.) Maaf kalau sangat singkat dan alurnya dirasa terlalu cepet banget, soalnya tidak akan banyak chapter (kurang ide *ditiban Mukkun*) Terimakasih atas review-nya, mudah-mudahan Akakuro-nya akan banyak di chapter depan! Ciao!