Title: Rendezvous

Pair: AkashiKuroko, others.

Note: Ini Hybrid Cat!AU (tapi sepertinya akan jarang terjadi.) Hahaha... -_-;

Warn: Typos, OC, OOC, bad language, penambahan fakta demi cerita, dan kemungkinan M-preg (mungkin...). Bokushi-oreshi!Akashi (campur-campur), Hard to get!Kuroko (tapi sepertinya perlahan akan luluh oleh pesona Akashi *uhuk*

Disclaimer: Fujimaki Tadatoshi, other brands or places, i gain no profit from this fiction.

Happy reading...

Chapter 3: Conquest

.

.

Seijuuro harus kembali ke Tokyo dalam lima jam lagi. Tiket Nozomi1 sudah ada di tangan, tinggal meminta supir untuk mengantarnya menuju stasiun. Ia tidak mengepak barang, cukup membawa sebuah tas kerja berisi beberapa berkas dan sekaleng umekobucha2 untuk ayahnya sebagai oleh-oleh. Bagian gedung yang direnovasi diperkirakan akan memakan waktu dua bulan, dan Seijuuro meminta manajer ryokan3 untuk lanjut mengawasi pembangunan selama ia kembali ke Tokyo.

Seijuuro bangun dari tidur terlalu pagi, bahkan sebelum matahari muncul di ujung timur. Salahkan saja satu sosok asing yang tiba-tiba menyelinap dalam mimpi. Ah, kenapa baru kali ini Seijuuro benar-benar merasa terganggu dengan kemunculan seseorang. Bukan terganggu dalam artian buruk, hanya saja... Seijuuro belum pernah seperti ini sebelumnya. Ia belum pernah terlalu berlebihan memikirkan orang lain—apalagi yang baru saja ia kenal—sampai-sampai terbawa ke dalam bunga tidur.

Dan mimpi bertema dewasanya tadi malam, bukan lagi tubuh-tubuh anonim tanpa wajah. Ia kini memproyeksikan satu sosok familiar dengan nama Kuroko Tetsuya. Betapa kulit seputih salju itu terekspos sempurna ditambah desahan setara bintang porno ternama.

Yang benar saja...?

Apa ini cinta... ataukah karma?

(Karma, karena ia terus saja menyepelekan nasehat orangtua, dan selalu menjadi tersangka pemutus hubungan sepihak dengan partner-partnernya tanpa terlebih dulu bicara empat mata.)

Apa ia minta tolong saja pada Ryota untuk mendekatkan mereka? Secara Tetsuya adalah rekan Ryota di agensinya. Bilang saja kalau Seijuuro tiba-tiba tertarik untuk lebih dekat dengan Tetsuya.

Kalau bisa langsung acara lamaran saja.

Tidak, Seijuuro. Kau terdengar seperti maniak dan caramu sangatlah murahan. Yang ada Tetsuya akan ambil langkah seribu begitu didekati dengan metode semacam itu.

Ck. Kenapa semua jadi terasa sulit begini? Seijuuro merasa mati kutu menghadapi target afeksinya kali ini. Ia tidak dapat menebak apakah Tetsuya adalah tipe kucing yang akan senang, atau langsung kabur bila Seijuuro dekati.

Mungkin saja Tetsuya tipe pertama, atau bisa jadi tipe nomor dua.

Ini tidak mudah, karena Seijuuro yang sudah jatuh hati. Ia telah terbiasa menjadi magnet bagi orang lain, bukan sebaliknya.

Seijuuro mendesah pelan seraya melipat kedua tangan di depan dada. Ia menatap sinar matahari pagi menembus sela-sela pepohonan taman belakang. Lewat jendela kamar pribadinya di lantai dua gedung utara ryokan, mata Seijuuro secara tidak sengaja mendapati pemandangan pagi yang tidak biasa di sana: Tetsuya dalam balutan yukata.

.

.

Rombongan Ryota dari Tokyo sampai tujuan dengan tiga minivan pada Kamis sore—lumayan membuat punggung dan pinggang pegal akibat duduk selama empat setengah jam dalam mobil. Kereta peluru terpaksa mereka coret dari daftar transportasi, sebab agak repot juga jika mesti membawa-bawa peralatan broadcast dalam kereta.

Begitu sampai, mereka langsung disambut ramah oleh para staff ryokan. Ryota dengan sangat bersemangat, mengenalkan seluruh anggota rombongan pada Seijuuro. Tiga orang merupakan aktor agensi, sedangkan tujuh sisanya adalah kru.

"Ini rekan-rekan agensiku-ssu, Kagami Taiga dan Kuroko Tetsuya!"

Ada Kasamatsu Yukio selaku sutradara sekaligus produser acara, Imayoshi Shoichi: Sang Manajer, Sakurai Ryo: make-up artis dan clothing, Mitobe Rinnosuke, Kobori Koji, dan Tsucida Satoshi bagian peralatan, terakhir ada Koganei Shinji sebagai kameramen.

Mereka berniat untuk shooting program wisata dan kuliner yang bulan depan mulai tayang di stasiun televisi Nh-k World. Tidak banyak, hanya sepuluh episode. Host acara tersebut adalah Taiga yang fasih berbahasa Inggris, sedang Ryota dan Tetsuya merupakan bintang tamu dalam setiap sesi.

Setelah itu, kalimat Ryota bagaikan lebah mendengung di telinga. Maklum saja, seterkenal apapun orang-orang yang bekerja di dunia entertainment ini, Seijuuro tetap tidak hapal dengan wajah-wajah mereka. Ia dapat dikatakan hampir 'tidak pernah' mengikuti berita showbizz, bahkan Seijuuro tidak pernah tahu kalau selama karirnya, Ryota ternyata cukup populer juga di kalangan remaja sampai lanjut usia. (Haa, teman macam apa dia ini...)

Dari penjelasan singkat Ryota, Taiga adalah artis senior milik agensi—sama sepertinya. Ia menjadi vj di salah satu channel yang membawakan program top-chart musik mingguan. (Seijuuro merasa pernah melihat wajah penuh percaya diri itu sewaktu tidak sengaja memindah-mindah channel televisinya.) Taiga juga merupakan pemeran pembantu pria dalam drama Extra Love Game, drama remaja komedi-roman populer yang kebetulan musim tayangnya selesai bulan lalu.

Sedangkan Tetsuya, pemuda itu adalah artis debutan baru alias rookie agensi. Belum lama, baru setengah tahun berkarya, dan kini ia menjadi salah satu panelis sebuah kuis. Tetsuya juga mencoba peruntungan dalam dunia pengisi suara.

"Haa, Akashi-cchi pasti jarang melihat televisi! Kuroko-cchi punya program kuis mingguan dengan Izuki Shun-senpai di Fujita Televisi... Kuis tahan tawa yang itu-ssu!"

Dan Seijuuro hanya dapat mengangguk mengiyakan ucapan Ryota, meski ia tidak tahu harus membalas apa. Beruntung Imayoshi Shoichi buru-buru menengahi percakapan mereka.

Setelah istirahat sebentar dan berendam air panas, mereka duduk bersama dalam ruang makan privat yang memang sengaja digunakan Seijuuro untuk menyambut tamu-tamunya tersebut. Para staff ryokan dengan telaten sibuk hilir mudik membawa nampan-nampan lebar dan meletakkannya di atas meja-meja kayu pendek yang tersusun horizontal dalam dua baris.

"Terima kasih sudah mau menerima kami di sini, Akashi-san..." Kasamatsu Yukio mengulas senyum bisnis terbaiknya. "Ryota sangat beruntung mengenal anda."

"Tidak usah sungkan Kasamatsu-san, silakan dinikmati hidangan sederhana kami..." Seijuuro balas tersenyum seraya meraih sumpit dari atas tatakan.

Segera saja sajian menu lengkap kaiseki4 tersaji di depan mata mereka dalam belasan mangkuk dan piring keramik. Tata letak makanan, warna-warna, juga aromanya benar-benar menggugah selera!

Mereka tidak henti-henti memuji, namun hanya satu yang terlihat berdiam diri.

"Kuroko, kau baik-baik saja?" Taiga menatap Tetsuya. Mulutnya masih sibuk mengunyah sashimi maguro5 penuh khidmat lalu beralih pada barisan tempura di atas piring. Jatah Taiga kini hanya bersisa puding dan buah pencuci mulut.

Shoichi yang duduk di sebelah Tetsuya juga turut memperhatikan. "Tetsuya-kun, wajahmu merah, apa kau sakit?"

"Eeh, Kuroko-cchi sakit-ssu?"

Yang ditanya hanya menggeleng pelan. "Kurasa... aku tadi terlalu lama berendam, Imayoshi-san, Kise-kun..." jawab Tetsuya dengan suara sedikit terengah.

"Kalau begitu selesaikan dulu makan malam-mu, akan kuantar kau ke kamar setelah ini..." Shoichi berujar. "Kau tidak boleh lengah Kuroko-kun, kalau besok kau sakit, pekerjaan kita bisa tertunda." lanjutnya tegas.

"Maaf jadi merepotkan." ada rasa malu terselip di antara desisan pelan Tetsuya. Ia buru-buru menghabiskan separuh makan malamnya diiringi celotehan Ryota juga Taiga yang tidak berhenti menanyakan ini dan itu.

Apakah Kuroko-cchi butuh sesuatu untuk membuat kondisimu jadi baikan?

Kuroko-cchi ingin minum teh hangat?

Oi, Kuroko... Apa kau mau kuantar ke dokter?

Jelas sekali kalau Ryota dan Taiga begitu 'overprotektif' terhadap rekan mungil mereka.

Melihat Tetsuya dalam mode lemah semacam itu, membuat Seijuuro hampir saja mengabaikan rentetan kalimat Yukio yang duduk di sebelahnya dan mengajak untuk berbincang. Demi Tuhan, kenapa juga Seijuuro mesti mendapat cobaan dalam bentuk kucing kecil bernama Kuroko Tetsuya?

Kalau kucing agresif dan selalu minta perhatian, ia sudah biasa. Tapi yang satu ini sungguh berbeda. Seijuuro jadi ingin ikutan melindungi Tetsuya, dorongan instingnya begitu kuat terasa. Mungkin ini adalah saat tepat bagi Seijuuro untuk memenuhi harapan Sang Ayah yang hampir terlupa. Ah, tiba-tiba saja keinginan berkomitmen terasa membucah dalam dada.

Ini sungguh di luar kendalinya.

.

.

"Selamat pagi, Kuroko-san."

Tetsuya berjengit, sedikit terkejut mendengar ada suara lain menyapa. Ia mengira salah satu rekan agensinya mendadak bergabung di sini, namun ternyata Tetsuya salah.

Berdiri di bawah sebatang ginkgo6, Akashi Seijuuro—yang dikenalkan Ryota sebagai Sang Pemilik penginapan—mengulas senyum tipis ke arahnya. Sama-sama terbalut yukata, ia melemparkan tatapan menyelidik pada Tetsuya.

"Ah, selamat pagi, Akashi-san." ia balas tersenyum, namun sejurus kemudian langsung terdiam. Merasa bingung harus bicara apa dengan orang asing yang baru saja ia kenal di malam sebelumnya. Walau sudah terjun dalam dunia entertainment, Tetsuya tetap saja tidak terbiasa beramah-tamah dengan orang lain. Mungkin sisa-sisa sifat introvert semasa sekolah dulu masih terbawa hingga sekarang dan terkadang sering muncul dengan sendirinya. Padahal ia sudah sering mengikuti les tata krama, tapi tetap saja suka lupa.

"Tidak bersama yang lain? Kuroko-san sepertinya bangun pagi sekali." Seijuuro berjalan mendekat, Tetsuya bergeming. "Maaf jika mengganggu, aku kebetulan melihat Kuroko-san dari jendela kamar, dan memutuskan untuk bergabung sejenak untuk menikmati udara pagi."

Tetsuya hanya menggeleng pelan. Ia menganggap kehadiran Seijuuro sama sekali tidak mengganggu. Tetsuya malah merasa terlindungi, dibanding jika ia sendiri di sini. Entah darimana datangnya pemikiran seperti itu melintasi otaknya. "Aku tidur cepat semalam." ujar Tetsuya kemudian, kembali mengingat peristiwa kemarin malam. "Kalau yang lain... mereka mungkin masih bermalas-malasan di atas futon. Kami baru akan berangkat menuju Kiyomizudera7 pukul sepuluh nanti."

"Ah." Seijuuro mengangguk. "Akupun harus kembali ke Tokyo sebentar lagi." tiba-tiba saja ia merasa harus menginformasikan hal ini, karena tidak rela untuk berpisah dalam hitungan jam dengan Tetsuya. "Apa Kuroko-san sudah merasa lebih baik? Udaranya lumayan dingin hari ini." awal pergantian musim memang sudah di depan mata. Dedaunan mulai mengulas warna serupa senja, dan satu persatu dengan perlahan tanggal meninggalkan ujung-ujung rantingnya.

"Ya, sekarang sudah merasa jauh lebih baik. Terima kasih."

Tatapan Seijuuro beralih pada kamera di tangan Tetsuya. Seakan mengerti, pemuda bermata biru itu mengangkat dslr berwarna hitam dalam pegangan.

"Taman belakang ini begitu cantik. Jadi kuputuskan untuk membidik beberapa objek."

Seijuuro menatap sekeliling, pada lanskap taman belakang ryokan keluarga yang ditumbuhi pohon-pohon dalam barisan apik. Warna hijau mulai digantikan kuning lembut, oranye terang, sampai merah bata. Maple tua tempat mereka bernaung sekarangpun, helai-helai daunnya mulai berguguran, membuat tanah di sekitar mereka berubah bagaikan langit di kala senja.

"Kuroko-san harus datang saat musim semi atau musim panas tiba. Kyoto memang indah di musim gugur, namun taman belakang kami jauh lebih menarik di musim-musim lain..."

Begitu musim dingin berganti, umpun-rumpun bunga di taman belakang ryokan ini akan langsung bermunculan bagai cendawan di saat hujan. Rimbunan sakura serupa gula-gula kapas dan wisteria8 yang menjuntai layaknya ribuan tirai berwarna ungu akan memenuhi taman ini sewaktu musim semi datang. Sedangkan di musim panas, lautan cosmos merah muda sudah pasti tumbuh di bagian barat taman dibarengi semak-semak hydrangea biru, dan sulur-sulur morning glory yang berlomba merambati tembok.

"Kalau diberi kesempatan, tentu saja aku mau." Tetsuya tersenyum dan ia kembali fokus membidik dengan kamera di tangannya. Objek Tetsuya kali ini adalah sebuah lentera batu yang berada di pinggir kolam koi. "Sekarang saja pemandangannya sudah terasa sureal, apalagi kalau aku datang lagi di musim lain..." kamera beralih pada rumpun spider lily merah tak jauh dari lentera batu. "Mungkin mirip surga ya?" kepala Tetsuya meneleng ke arah Seijuuro.

Mata mereka lagi-lagi bertemu dalam satu fase yang tidak biasa. Hembusan angin pagi awal musim gugur mengurai helai-helai rambut keduanya. Tidak ada rasa dingin menyapa, hati Seijuuro malah menghangat di bawah tatap redup milik Tetsuya.

"Ya." suara Seijuuro melantun bersama desau angin. "Persis seperti surga." kakinya melangkah, kali ini membabat habis jarak di antara mereka. Tetsuya masih menatap tanpa berkedip. Entah dia sudah siaga akan tingkah orang asing yang baru saja ia kenal di hadapannya, atau malah pura-pura tak tahu apa-apa.

Tangan kanan Seijuuro terulur, hendak menyentuh pipi selembut sutra, namun mendadak terhenti di udara.

"Ano, Akashi-san..."

Napas hangat Seijuuro menerpa, dan Tetsuya berkedip sekali.

"Ah, maafkan aku." Seijuuro berbisik. "Tapi ada daun di kepalamu, Kuroko-san..."

Sesuatu diraih dari atas ubun-ubun, selembar maple berwarna merah bata ada di sana. Seijuuro tertawa pelan mendapati wajah canggung milik Tetsuya.

"Oh. Kukira..."

"Kuroko-san mengira apa?"

Bibir seranum arbei mengerucut lucu, dan Seijuuro menahan diri agar tidak melanjutkan sesi 'menggoda Kuroko Tetsuya' yang lainnya. "Bukan apa-apa, Akashi-san. Terima kasih." Tetsuya merebut lembaran maple merah dari tangan Seijuuro. Ia menatap daun malang tersebut seakan-akan laser akan keluar dari kedua mata dan membuat lubang besar menganga tepat di tengahnya.

"Sama-sama." ujung-ujung bibir Seijuuro terangkat naik. Ia berniat akan kembali berbasa-basi dengan Tetsuya sebelum memulai sarapan pagi, namun teriakan seseorang mendadak mengotori suasana tenang yang melingkupi.

"Oi! Kuroko-cchi!" dari ujung jalan setapak berkerikil kecil, Kise Ryota tergopoh-gopoh berlari menghampiri. "Kukira Kuroko-cchi kemana..." bahu mungil direngkuh dari depan tanpa permisi, membuat mata Seijuuro berkedut menahan emosi. "Saat bangun tadi, aku tidak menemukanmu-ssu! Ternyata malah ada di sini bersama Akashi-cchi!" tingkah Ryota sudah mirip induk ayam baru bertemu anaknya yang hilang. Air mata imajiner diseka, dan Si Rambut pirang masih setia meletakkan kedua tangannya di bahu Tetsuya.

"Aku hanya sedang memotret, Kise-kun. Lihat..., di sini indah sekali, kan?"

Ryota mendesah lelah. "Iya memang indah, tapi lain kali bilang dulu-ssu, semalam Kuroko-cchi 'kan kurang sehat, aku jadi khawatir! Kita akan syuting sampai sore, jadi lebih baik istirahat saja dulu! Bisa-bisa Kasamatsu-senpai dan Imayoshi-senpai menceramahimu panjang lebar..."

Tetsuya menggumam 'tidak apa-apa' dan malah mengarahkan lensa kamera untuk memotret sosok Ryota—yang langsung pasang pose super ala profesi utamanya sebagai model panggung runaway.

"Ryota benar. Lebih baik kita kembali. Sarapan mungkin sudah disiapkan. Kuroko-san harus penuh stamina dan tidak boleh terlihat lemah saat pengambilan gambar nanti." Seijuuro bersidekap, sehingga kedua tangannya menghilang di balik lengan yukata hitam yang dikenakan.

"Tidak akan, Akashi-san. Aku sudah sehat betul."

"Tapi wajah Kuroko-san tadi..."

"Tidak."

Ryota menatap bolak-balik pada dua orang di depannya. "Aree..., kalian sudah terlihat lumayan dekat..." senyum usil bertengger di wajah.

Tetsuya lekas-lekas berjalan menjauh. "Aku mendadak lapar." ia langsung berujar datar. "Aku duluan ya, Kise-kun, Akashi-san. Permisi..." gemerisik yukata biru gelap miliknya segera meninggalkan Seijuuro dan Ryota dalam hening yang tiba-tiba mendera.

"Eeh?! Kuroko-cchi kenapa duluan-ssu?!"

Seijuuro terkekeh melihat tingkah Tetsuya. Benar-benar kucing mungil yang menarik. Gerak-geriknya membuat tangan Seijuuro gatal ingin segera memiliki. Tidak pernah terlintas dalam benak Seijuuro, keinginannya untuk memiliki keturunan tenyata sebegini kuat setelah ia bertemu Kuroko Tetsuya. Ah, kalau sampai Masaomi mendengar kalimatnya tadi, pak tua itu mungkin sudah jungkir balik saking senangnya dia.

"Akashi-cchi... Jangan bilang kalau..." mata Ryota memicing curiga. Ia hapal benar dengan pola berburu Seijuuro. Jika target sudah didapat, Seijuuro tidak akan dengan mudah melepaskannya begitu saja.

"Kali ini aku serius Ryota. Sungguh." senyum absolut terkembang. "Aku bersumpah akan menjadikan Tetsuya sebagai ibu untuk anak-anakku kelak." mata merah Seijuuro berkilat penuh keyakinan diri. "Dan kalau kau tidak mau membantu, akan kupakai caraku sendiri..." ia kemudian berlalu dari hadapan Ryota. Langkah-langkahnya terdengar halus menggerus kerikil-kerikil kecil yang berada di bawah sandal kayunya.

"Hee?"

Wajah Ryota memucat. Mulut terbuka lebar. Pandangannya kosong. Demi apa, Seijuuro berkata demikian? Apa penyakit kurang pendengaran Daiki mulai menulari Ryota? Seijuuro mau serius dengan Tetsuya? Ya ampun, mereka baru bertemu sekali, dan Seijuuro mendadak ingin cepat-cepat memiliki bayi? Yang benar saja, hah?! Apa Seijuuro sudah salah minum obat?! Atau dia kerasukan arwah penunggu kolam?

Kalau ini film drama, Ryota mungkin sudah berguling bolak-balik di atas tanah setelah mendengar kabar yang terlalu spektakuler bagi kedua telinganya barusan.

"Akashi-cchi! Tunggu-ssu!" terseok, ia segera berlari menyusul langkah Seijuuro. "Apa maksudnya yang barusan itu-ssu!"

Karena Seijuuro sudah terlanjur bersumpah.

Dan ia benar-benar akan melaksanakannya.

.

.

Hari berlalu begitu cepat, tanpa terasa pesta penyambutan apartemen baru Daiki dan Ryota sudah di depan mata.

"Biar aku saja yang buka, Kise-kun..."

Tetsuya yang datang terlalu awal dengan niat untuk membantu, segera berjalan menuju pintu begitu mendengar bel berbunyi.

"Ah, Itu mungkin Murasakibara-cchi atau Kasamatsu-senpai... Eeh, Dai-chan! Berhentilah makan, dan bantu aku mengeluarkan nampan-nampan ini ke teras balkon!"

"Ah... mendokusai9... badanku masih pegal setelah tadi siang mengatur ulang furniture kamar..." Daiki mengeluh dengan mulut penuh pie apel. "Lagipula kenapa pestanya harus di luar? Kalau hujan kan malah jadi repot..."

Ryota menendang pelan tulang kering pacarnya, kedua tangan menyorongkan nampan lebar berisi sosis, jagung, dan irisan bermacam-macam bagian daging sapi. "Namanya juga pesta barbekyu, harus dilakukan di luar ruangan. Lagipula kalau hujan, tinggal berlindung di bawah kanopi, apa susahnya... Nah, sekarang... ayo, bawa!" tubuh dicondongkan, dan Ryota mendaratkan satu kecupan ringan di pelipis Daiki.

"Geeze, dasar Ryota sialan, jangan pakai cara-cara kotor untuk merayuku..."

Satu kecupan basah kemudian mendarat cukup lama di bibir yang masih saja mengeluh.

"Oke. Kau menang. Sial..."

"Begitu dong-ssu..." Ryota terbahak melihat Daiki berjalan lambat menuju balkon di mana pesta akan diadakan, dengan dua nampan besar di tangan.

Sepertinya hanya sedikit orang yang akan datang. Seijuuro kemungkinan besar masih ada di Kyoto. Shintaro dan Kazunari benar-benar tidak bisa hadir, namun Ryota menerima parcel berisi buah dan perlengkapan dapur dari mereka di hari sebelumnya. Pesta ini memang diperuntukkan bagi teman-teman mereka saja. Keluarga Kise dan Aomine sudah mendatangi apartemen baru mereka sejak awal kepindahan. Kedua kakak perempuan Ryota bahkan mau repot-repot datang dari luar kota hanya untuk membantu—merecoki—mendekorasi apartemen mereka.

"Siapa yang datang-ssu?"

"Konbanwa, Kuroko-san, Ryota."

"Akashi-san...? Konbanwa..."

"Lho, Akashi-cchi? Kau bilang tidak bisa datang-ssu!"

Seijuuro memang berkata bahwa mungkin saja ia tidak bisa datang. Tapi bukan berarti ia tidak akan datang, apalagi setelah mendengar mulut ember Ryota mengucapkan nama Tetsuya dalam daftar tamu pesta yang ada.

"Merasa beruntunglah karena aku sempat hadir untuk memberkati rumah barumu, Ryota..."

Baik Tetsuya maupun Ryota merasakan dahi mereka berkedut malas sewaktu ucapan kelewat takabur itu terlontar dari mulut bak bangsawan milik Seijuuro.

"Bercanda. Nah, Ryota... selamat atas kepindahan kalian..." Seijuuro menyerahkan tas karton besar dengan emboss brand ternama di permukaan luarnya pada Ryota. Dua botol sampanye dan sekotak alat kontrasepsi berlogo LV dengan ikatan pita satin merah mendekam manis di dalam sana.

Bulir-bulir keringat langsung menuruni pelipis Ryota. Akashi dan hadiah anti mainstream-nya... "He-eh, terima kasih Akashi-chi..."

Tetsuya buru-buru menyibukkan diri dengan membantu Daiki mengangkut makanan pesta ke teras balkon. Seijuuro mengekor di belakang, trench coat hitam beserta syal rajut warna burgundy segera disampirkan pada gantungan dekat pintu masuk.

"Oi, Tuan Muda Akashi rupanya..." Daiki melambaikan tangan santai, begitu melihat sosok Seijuuro memasuki ruang tengah. "Kukira kau tidak datang. Memangnya proyekmu sudah selesai?"

"Belum. Hanya tinggal tahap finishing, tinggal sedikit yang mesti diperbaiki." selembar kemeja hitam dengan lengan terlipat rapi membungkus tubuh proporsional Seijuuro, rambut merahnya tumben sekali ditata ke belakang, sampai-sampai Tetsuya tadi salah mengira ia adalah idol dari agensi sebelah. "Aku hanya ingin meramaikan pesta. The more, the merrier..." Seijuuro mengawasi gerakan Tetsuya yang tengah susah payah berusaha memindahkan limun buah bercampur kayu manis hangat dalam dispenser. Ia meraih sisi lain dispenser, dan menginstruksi agar Tetsuya minggir saja, biarkan dia yang membawa.

"Right... Ada atau tidak ada kau, tidak masalah juga, sih..." mulut Daiki mencebik. Ryota menyikut rusuk Daiki, takut kalau-kalau pacarnya itu jadi korban keganasan Tuan Muda Akashi setelah berkomentar tanpa dipikir dulu.

Selang beberapa menit, bel pintu depan berbunyi lagi. Ryota bersorak girang untuk mencairkan suasana. "Itu pasti Murasakibara-cchi dan Himuro-cchi, ssu! Atau Kasamatsu-senpai? Eh, jangan-jangan itu Kiyoshi-senpai!" suaranya bergema hingga mencapai balkon tempat tiga makhluk berbeda tipe berada.

Daiki memutar bola mata seraya menggerutu. Pesta memang seru. Tapi selaku tuan rumah, ujung-ujungnya mereka juga yang mesti repot membereskan residu.

"Ano Akashi-san... memangnya di wajahku ada sesuatu?" Tetsuya berujar sembari mengusap kedua tangan di sekitar tulang pipi. Sejak baru datang tadi, Seijuuro terus saja menatapnya bagaikan tuna dalam kaleng.

Huh, Tetsuya bukan tuna, tapi ia kucing dewasa yang suka tuna.

Seijuuro menggeleng pelan. Ia tersenyum, tangannya dengan berani meraih helai-helai rambut biru muda, lalu menyelipkannya di belakang telinga kanan Tetsuya.

"Tidak bertemu sepekan, rambut Kuroko-san sudah memanjang, ya?"

"Eh?"

Kaleng-kaleng bir yang baru diangkut Daiki mendadak jatuh lalu berkelontangan membentur lantai teras balkon. Mata biru gelapnya membelalak dengan mulut membuka. Oke. Ryota memang cerita kalau Seijuuro sedang gencar melancarkan aksi untuk mendekati Kuroko Tetsuya, tapi Daiki tidak pernah menyangka kalau Seijuuro akan bertingkah bagaikan kasanova! Ke mana akal sehatnya? Apa cinta memang benar-benar sudah membuat Seijuuro buta dan sakit jiwa?!

Yang benar saja!?

.

.

TBC

1. Nozomi: kereta peluru jurusan Tokyo-Kyoto

2. Umekobucha: teh khas Kyoto

3. Ryokan: penginapan tradisional Jepang (punya Akashi jenis onsen ryokan kategori A++, salah satu yang berbintang di Kyoto, hahaha) Di Tokyo juga Akashi punya dua... ^_^ hehehe...

4. Kaiseki: menu kuliner dengan presentasi/ seni tinggi

5. Maguro: tuna

6. Ginkgo: pohon berdaun seperti kipas

7. Kiyomizudera: Kuil tujuan wisata terkenal di Kyoto

8. Wisteria: bunga fuji, warnanya ungu

9. Mendokusai: merepotkan...

A/N: Jeng-jong! Akashi kenapa malah jadi raja modus begini? *bersimpuh di tanah* Sepertinya ini melenceng dari sifat awal Akashi, but nevermind... *baru nonton episode 75.5, Akashi-nya, Akakuro-nya, GOM-nya... saya menyusut airmata* Hahaha... Maafkan saya karena telat update dan terima kasih atas review-review reader sekalian. Oh, iya... atas saran salah satu reviewer, saya coba menambahkan footnote. Maaf kalau artinya kurang tepat ya... salam Akakuro dan Ciao! (tunggu chapter depan, mungkin adegan rated M baru akan keluar—mungkin, nyahahahaw...)