Title: Rendezvous
Pair: AkashiKuroko, others.
Note: Ini Hybrid Cat!AU, jadi chara-chara KnB bisa berubah jadi kucing hybrid. (tapi sepertinya akan jarang terjadi) Hahaha... -_-; di dunia hybrid-cat milik saya, mereka berubah jadi separuh kucing kalau lagi 'anu-anu' aja ya... hahaha... Kiyoshi yang ini Miyaji Kiyoshi, bukan Kiyoshi Teppei. Dan sistem agensinya memakai sistem agensi Amerika, yang memperbolehkan memiliki pasangan selama masa kontrak, asalkan tidak terlibat skandal atau kasus luar biasa—kepopuleran bergantung pada usaha dan kreatifitas masing-masing dalam berkarya di industri hiburan.
Warn: Typos, OC, OOC, bad language, ada kekurangan atau kelebihan fakta, dan kemungkinan M-preg (mungkin...). Bokushi-oreshi!Akashi (campur-campur), Hard to get!Kuroko—tapi sepertinya perlahan akan luluh oleh pesona Akashi *uhuk*
Disclaimer: Fujimaki Tadatoshi, other brands or places, i gain no profit from this fiction.
Rendezvous (dari gugel, cmiiw): Pertemuan.
Happy reading...
.
.
Rendezvous 4: Of Marriage Propose and Red Roses.
.
Hampir pukul sepuluh, dan para peserta pesta kini sudah tumbang bertebaran pada spot-spot nyaman di ruang tengah—kecuali Atsushi, dia masih saja sibuk melahap sisa-sisa barbekyu yang katanya sayang jika dibuang. Ryota dan Daiki duduk berpangku pada single love-seat tak jauh dari sofa panjang tempat trio Seijuuro, Yukio, dan Tatsuya berada. Udara dingin membuat mereka terpaksa berpindah tempat ke dalam ruangan yang lebih hangat.
"Bersulang untuk rumah baru kalian..." Yukio mengangkat tinggi-tinggi kaleng birnya untuk kesekian kali tanpa bisa dicegah. Sepertinya sutradara muda itu sudah setengah mabuk. Bolak-balik cegukan, kadang tertawa-tawa sendiri tanpa sebab pasti. Lumayan membuat ngeri.
"Senpai..., kita sudah melakukan hal itu sejak dua jam lalu..." Ryota terkekeh namun ia mengikuti juga gerakan seniornya tersebut dengan bersemangat. Pesta penyambutan apartemen mereka ternyata di luar perkiraan. Banyak teman tidak dapat hadir karena jadwal dan kesibukan masing-masing. Ryota maupun Daiki sudah sangat maklum akan hal ini. Tapi karena akan sulit mencari hari lain, pesta sederhanapun akhirnya tetap dilaksanakan.
Tetsuya mengangkat gelas plastik berisi separuh limun hangat dalam genggaman tangan. Di sofa sebelahnya, Miyaji Kiyoshi—Sang Senior berambul hazel sesama penghuni agensi, melakukan hal serupa. Dan mereka kembali bersulang dengan suara lantang.
"Hanya tinggal menunggu kalian membuat ikatan saja." Kiyoshi mengerling ke arah tuan rumah pesta. Beberapa di antara mereka membuat suara-suara tanda setuju dan dehaman menggoda.
"Yaah, jika dilihat-lihat, kalian ini memang pasangan yang sudah sangat mantap. Restu orangtua ada di tangan, hidup bersamapun dijalankan. Tinggal 'BAM!' buat ikatan dan sempurna." Yukio mengangguk-anggukkan kepala bagai boneka berleher pegas. "Namun, kalian harus mempertimbangkan semua, karena ini bisa saja mempengaruhi karir Ryota." cara bicaranya mendadak masuk mode serius. "Dalam dunia keartisan, peristiwa apapun dapat terjadi... itu hal wajar." kaleng bir diguncang ringan, mulut Yukio mendecak. "Tapi siapa tahu juga, kalau Tuhan berkata lain, mungkin karirmu malah meroket setelah menikahi Si Buluk ini..." kalimatnya mendapat protes dari Daiki—yang tiba-tiba saja berhasrat ingin melempar kepala Yukio dengan alat pemanggang.
Seijuuro menambahi. "Karir memang akan surut seiring waktu, tapi jika kesempatan berkomitmen dengan orang paling tepat hanya datang sekali dalam sejuta, kenapa tidak?" mata Seijuuro mencari tatap teduh Tetsuya di antara terang cahaya lampu. "Tapi semua kembali pada diri masing-masing, pikirkan secara matang keputusan paling terbaik untuk kalian ke depannya." kilau biru sekilas balas menantang Seijuuro, lalu segera mengalihkan pandang dalam sekejap.
Kening Daiki mengerut. Cih, dasar Yukio dan Seijuuro sok bijaksana. Bicara begitu, tapi masih saja bernasib single.
Maaf Daiki... single bukan nasib, tapi prinsip.
Rengkuhan tangan Daiki di perut Ryota mengerat. "Heh, tanpa diberitahupun, kami sudah mengerti..." hidungnya dengan rakus menghirup aroma chamomile dan apel dari helai-helai pirang di hadapan. "Kalau saat itu tiba, tentu saja tidak akan ku sia-siakan..." Ia membiarkan Ryota bersandar nyaman di dada. "Dan jika karir Ryota memang akan surut suatu hari nanti..., aku bersumpah, aku masih sanggup membuat hidupnya bahagia."
Kiyoshi dan Tatsuya membuat siulan-siulan mengganggu sekaligus menyangsikan kesungguhan Daiki, sementara Ryota hanya tertawa menatap wajah 'merajuk' pacarnya.
"Dai-chan..." Ryota meraih tangan-tangan besar Daiki yang melingkar di perut. "Tapi aku tidak mau dilamar secara cheesy ya..." bibirnya mengerucut. "Tidak usah pakai makan malam romantis atau lagu-lagu kelewat narsis... pokoknya harus cara keren!"
Atsushi yang sudah selesai makan, segera bergabung. "Bagaimana kalau siaran langsung di televisi nasional?" ia berujar malas dan langsung duduk di sebelah Tatsuya. "... atau sambil bungee jump dari Rainbow Bridge(1)?"
Itu sih namanya cari sensasi sekaligus cari mati.
Kalimat Atsushi segera saja disambar Seijuuro. "Ide keduamu sangat bagus, Atsushi." dan mereka serempak sama-sama mengacungkan ibu jari.
"Sahabat macam apa kalian? Mengusulkan ide-ide insane seperti itu... geeze..."
"Aku saja sewaktu meminta Tat-chin untuk menjadi pendamping hidup, tidak pakai cara merepotkan..." Atsushi merebahkan kepalanya pada bahu Tatsuya yang langsung mengusap rambut ungu itu penuh sayang.
"Kalau itu Murasakibara-cchi, aku tidak heran-ssu..."
Tatsuya tertawa pelan. "Atsushi melamarku saat kami tengah makan dango..."
Beberapa orang memasang wajah 'what the?' saat mendengar kalimat Tatsuya.
"Simpel sekali." Kiyoshi terkekeh.
Pemuda berambut hitam itu meneruskan. "Itu adalah kedai kecil di dekat Taman Ueno, tempat kami bertemu pertama kali waktu sekolah dulu... Aku hampir curiga saat dia mengajakku pergi tanpa alasan, 'ingin mengenang masa lalu' katanya..." Tatsuya meniru ucapan Atsushi.
Mulut-mulut audience berganti menggumamkan 'aww' ke arah pasangan lovely complex(2) tersebut.
Murasakibara Atsushi adalah orang pertama yang membuat ikatan dari lingkaran pertemanan aneh lima alumni klub basket Teiko mereka. Beruntung sekali Si Raksasa satu ini mendapatkan Himuro Tatsuya sebagai pelengkap hidup. Pria muda berambut eboni itu adalah manusia dengan tingkat kesabaran setinggi dewa dalam menghadapi tingkah laku Atsushi—entah apa yang membuat Tatsuya begitu setia ada di samping Atsushi, masih merupakan sebuah misteri. Tiga tahun lalu mereka meresmikan hubungan dan kini keluarga kecil itu telah memiliki sepasang bocah kembar: titan-titan mini, karbon kopi serupa Atsushi.
"Hush, sudahlah... Jangan membuat manusia-manusia single di sini iri dengan kisah cinta kalian..." kibasan tangan dari Kiyoshi menyadarkan Tetsuya dari fokusnya terhadap pembicaraan mereka.
Hati Tetsuya tergelitik setelah mendengar kisah-kisah mengenai cinta barusan. Bukan iri, Tetsuya hanya merasa sedikit aneh, entahlah. Ia tidak pernah memikirkan akan seperti apa kehidupannya di masa depan. Seperti apa kelak jika ia memiliki pasangan atau bahkan sampai membentuk keluarga. Tetsuya rasa, ia sudah cukup bahagia saat ini. Dikelilingi oleh orang-orang baik yang peduli dan senantiasa selalu mengasihi. Masih bisa menatap langit esok hari, juga mengerjakan hal-hal yang ia gemari.
Walau kadang hati kecil Tetsuya mengaku, masih ada sesuatu yang cukup mengganggu, dan jawabnya memang belum ketemu.
(Apakah itu mengenai ikatan dan komitmen seperti kata mereka, Tetsuya hanya bisa angkat bahu.)
Volume rendah televisi memenuhi sunyi untuk beberapa lama, sampai akhirnya Yukio meregangkan dua tangan ke udara.
"Ah, kurasa aku harus kembali. Aku lupa belum memberi makan ikan-ikan mas koki dalam akuarium..." Yukio menatap ponsel di tangan. "Kiyoshi, antarkan aku dengan mobilmu, kebetulan tadi aku naik taksi..."
Sudut-sudut bibir Kiyoshi tertarik ke bawah. "Senpai ini memang suka seenaknya saja..."
"Kalau begitu, kami juga permisi." Tatsuya meraih tangan Atsushi. "Kami harus menjemput Chizuru dan Minoru dari rumah Rika-nee san. Kasihan mereka jika terlalu lama... Ayo Atsushi, jangan malas..."
"Bantu aku berdiri, Tat-chin..."
Ryota beranjak dari posisi nyamannya dalam pelukan Daiki. "Ah, sayang sekali-ssu... Tapi terima kasih banyak ya, kalian sudah mau datang..." ia menjabat satu persatu tangan para tamu, dan memekik sebal saat melihat Daiki yang masih duduk berselonjor tanpa niatan untuk mengantar para tamunya menuju pintu depan.
Tetsuya berinisiatif sedikit membantu membereskan kekacauan pesta dengan menyusun gelas-gelas plastik bekas menjadi tumpukan memanjang. Ia lalu memasukkan tumpukan itu dalam plastik besar wadah sementara kaleng-kaleng bir kosong dan sisa-sisa makanan. Tetsuya benar-benar akan membantu Ryota membereskan semuanya, sampai suara melengking pemuda pirang itu menyentuh gendang telinga.
'Tinggalkan saja Kuroko-cchi! Ada Dai-chan yang akan menyelesaikan semua!"
"Ya, ya... serahkan saja padaku, Tetsu." kalimat tadi diucapkan dengan mantap, namun wajah Daiki mengatakan sebaliknya.
"Kau akan pulang bersama Miyaji dan Kasamatsu-senpai, Kuroko-cchi?" Ryota baru ingat kalau tadi Tetsuya sampai ke sini menggunakan taksi.
Tetsuya menggeleng. "Tidak. Lagipula arah tujuan kami berbeda, aku akan menyewa taksi saja."
"Tidak apa-apa Kuroko-kun, aku bisa mengantarmu dulu, baru mengantarkan Kasamatsu-senpai pulang." Kiyoshi merogoh saku blazer abu-abunya dan mengambil kunci mobil dari sana.
"Tidak perlu, Miyaji-san..."
Seijuuro berhenti mengenakan trench coat hitam yang baru saja diraih dari gantungan. "Kuroko-san bisa pulang bersamaku."
Mata Ryota berbinar cerah. "Ah benar juga-ssu! Arah apartemen Akashi-cchi 'kan sama dengan Kuroko-cchi, kenapa aku baru ingat sekarang, sih?! Akan lebih baik kalau kalian pulang bersama!" ia kemudian mengedipkan sebelah mata, bermaksud mengirimkan sinyal pada Seijuuro.
(Sebagai sahabat, Ryota rela menjadi budak sementara, demi mewujudkan tujuan akhir milik Seijuuro: membuat Tetsuya mengganti nama depannya menjadi Akashi dan masuk dalam silsilah keluarga. Walaupun sedikit tidak rela—karena Ryota sayang sekali sama Tetsuya—ia tidak kuasa melawan jelmaan raja neraka.)
"Eeh, aku..."
Mendadak tubuh Tetsuya membeku di tempat, entah kenapa. Otak Tetsuya otomatis bekerja membuat skenario-skenario 'ajaib' yang kemungkinan akan terjadi bila ia menerima ajakan Seijuuro untuk mengantarnya pulang. Mau menolakpun rasa-rasanya sangat sulit, lidah Tetsuya tiba-tiba kaku tanpa sebab. Dari Ryota—pemuda pirang itu jadi sering bercerita tentang Akashi Seijuuro padanya— Tetsuya mendapatkan sebuah informasi, kalau terkadang Seijuuro adalah orang yang sulit menerima penolakan.
Absolute Syndrome, kata Ryota.
Jika sudah diputuskan, maka itu adalah perintah mutlak tak terbantah.
Duh, bagaimana ini? Ajakan Kiyoshi baru saja dijatuhkan. Apa iya Tetsuya harus menjilat ludah sendiri dengan memohon pada Kiyoshi agar mengajaknya pulang bersama sekali lagi?
Sayang, hal itu tidak terjadi untuk kedua kali.
.
"Main-mainlah ke rumah kami, Aka-chin..." Atsushi berkata setelah ia duduk di balik kemudi. "Semenjak ulangtahun pertama si kembar, kau belum lagi bertemu mereka." di sebelahnya, Tatsuya begitu telaten membenarkan safety belt milik Atsushi yang belum terpasang rapi.
"Ya, Seijuuro-san, kediamanmu dan kami masih ada dalam satu kota. Kalau sempat mampirlah ke sana." Tatsuya melambaikan tangan pada Tetsuya dan Seijuuro yang menjadi sepasang manusia terakhir di area parkir. Mobil Kiyoshi baru saja pergi membawa serta Yukio—Tetsuya batal menumpang pada seniornya itu karena merasa tidak enak jika menolak tawaran Seijuuro.
"Pasti. Sampaikan salamku untuk mereka."
Setelah mengucapkan salam selamat malam, SUV hitam milik Atsushi meluncur keluar dari pelataran parkir apartemen dan menembus jalanan di depan. Tinggal dua makhluk adam berdiri santai dalam hening. Hidung Tetsuya tersembunyi di balik syal wol putih tebal yang melilit leher. Beberapa kali ia berusaha curi-curi pandang pada Seijuuro, namun dibatalkan.
Seijuuro yang menyadari hal itu hanya tertawa dalam hati. "Nah, Kuroko-san..." ia tersenyum hangat lalu membukakan pintu depan. "Silakan..."
"Terima kasih, Akashi-san..." sebenarnya Tetsuya ingin menjerit kalau ia tidak usah diperlakukan bagai wanita. Demi Tuhan, ia bisa membuka pintu mobil sendiri tanpa dibantu, sungguh!
Car heater dinyalakan dan Tetsuya merasakan wajahnya diterpa udara hangat. Ia melonggarkan syal dan membuka beberapa kancing atas duffle coat miliknya. Seijuuropun melakukan hal sama.
"Mind if i turn on the stereo?"
Tetsuya menggeleng singkat.
Dan denting lembut Maybe milik Yiruuma menemani perjalanan singkat mereka lewat stereo mobil yang dipasang Seijuuro.
Suasana seperti ini semakin membuat Seijuuro memiliki kesempatan untuk mengenal lebih dalam mengenai Tetsuya. Beruntung kalau kucing mungil di sebelahnya mau diajak bicara terbuka. Namun pengalaman bercakap-cakap dengan Tetsuya sewaktu di Kyoto lalu, menaikkan level percaya diri Seijuuro mendekati batas maksimal.
Lebih baik dicoba daripada tidak.
"Aku tidak menyangka kalau Kuroko-san tinggal di kawasan Shirokane. Itu lumayan dekat dengan apartemenku." Seijuuro mulai menyalakan mesin mobil dan segera melajukannya keluar area parkir.
Tetsuya tampak canggung sejenak, namun ia segera membalas kalimat Seijuuro. "Aku dan keluarga, sebenarnya rumah kami ada di Nagano." Ia menjawab pelan lalu menatap kelap-kelip lampu ornamen yang terpasang pada batang dan dahan pepohonan di sepanjang jalan Omotesando Hills.
"Lalu... di Shirokane..."
Tetsuya buru-buru menyela ucapan Seijuuro. "Baru setahun lalu aku pindah ke sana." Mulutnya tiba-tiba saja lancar merangkai kalimat demi kalimat tanpa peduli jika Seijuuro adalah 'orang baru' dalam hidupnya. "Setelah menimbang kalau jarak agensi cukup jauh, dan karena masa debutku baru saja mulai..." Tetsuya mengulas senyum. "... ibu dan pihak agensi menyarankan agar aku menyewa tempat tinggal yang berjarak dekat dengan gedung agensi untuk sementara."
"Ah, begitu." Seijuuro menganggukkan kepala tanda mengerti. "Maafkan aku sebelumnya, karena aku tidak pernah mengikuti berita mengenai dunia entertainment. Jadi bila sikapku ternilai tidak sopan, sebab tidak hapal dengan wajah Kuroko-san, harap dimaafkan..."
Tetsuya tertawa kecil. "Tidak masalah. Lagipula aku masih 'nobody' dalam industri besar ini..." ia melirik sebentar pada side figure Seijuuro seraya diam-diam menganggumi hidung sempurna dan rahang tegas milik pria muda itu. Ia merasa Seijuuro lebih pantas menjadi 'bintang' dibanding dirinya. "Menjadi artis debutan agensi, hal semacam ini tidak pernah terlintas dalam benakku sama sekali. Ibulah yang diam-diam mengirimkan profil dan fotoku pada sebuah audisi majalah dengan dalih agar itu membuatku tampil lebih percaya diri di hadapan publik. Tapi ternyata, semua berlanjut sampai seperti ini..." Tetsuya membiarkan sandaran kursi menopang bobot tubuhnya.
Atmosfer aneh yang melingkupi mereka, membuat Kuroko mulai bercerita semua.
Hidup tanpa sosok ayah sejak kecil, membuat Kuroko Tetsuya tumbuh menjadi pribadi yang tertutup dan pemalu. Oleh karena itu, setelah Tetsuya lulus kuliah, Sang Ibu tidak memaksa Tetsuya untuk langsung mencari kerja. Kuroko Keiko merasa inilah saatnya ia mengubah mental 'kacang' Tetsuya. Secara online, Keiko diam-diam mendaftarkan putra tunggalnya itu dalam sebuah audisi pencarian wajah 'fresh' untuk menjadi model peraga sebuah brand pakaian yang baru saja diluncurkan.
Awalnya ia menolak. Namun setelah mendengar penjelasan Keiko akan maksud di balik ini semua, Tetsuya memutuskan untuk mencoba. Gagal tidak apa-apa, yang penting sudah berusaha. Keiko berharap jika ini akan menjadi pengalaman bersosialisasi Tetsuya, sebelum ia terjun dalam belantara dunia kerja.
Setelah lelah bolak-balik Tokyo-Nagano selama hampir dua minggu, jawaban atas semua usaha Tetsuya keluar juga. Bagai berada di bawah naungan dewi fortuna, tidak disangka nama Tetsuya ternyata masuk jajaran top three pada final audisi. Walau usianya sudah menginjak akhir 20, sedikit pemalu dan jarang berinteraksi, namun berkat 'angelic face' dan 'innocent aura' milik Tetsuya, maka tim juri menempatkannya pada posisi ketiga. Tetsuya diberi hadiah, uang saku, dan kontrak setengah tahun menjadi model peraga. Hampir di setiap akhir pekan ia masuk studio untuk dipotret, dan wajah Tetsuya akan muncul pada majalah-majalah di ibukota.
Sampai suatu ketika, tawaran dari sebuah agensi ternama sampai di tangan Tetsuya.
"Ah, agensi milik Kitagawa Tomomi memang sering mencari wajah-wajah baru... Mereka gemar mencari lewat audisi majalah atau audisi jalanan." ucap Seijuuro tiba-tiba teringat akan kisah Ryota semasa sekolah dulu. "Ryotapun masuk agensi beliau karena berhasil menjadi juara pertama dalam sebuah street audition untuk mencari model amatir saat kami duduk di bangku tingkat dua sekolah menengah atas. Ryota langsung dikontrak eksklusif selama tiga tahun oleh agensi Kitagawa-san, dan jasanya terus dipakai oleh mereka hingga sekarang." Seijuuro membawa mobilnya berbelok pada sebuah perempatan padat kendaraan. "Walau alasan Ryota hampir sama seperti Kuroko-san, bahwa dia tidak terlalu tertarik pada industri semacam ini, tapi Ryota tetap menjalankannya. Apalagi jika keluarga mendukung. Kurasa itu tidak apa-apa..."
Tetsuya mengangguk mengiyakan. "Ya, ibu hanya ingin aku bersosialisasi dengan orang lain. Bahkan sampai sekarangpun, terkadang aku masih canggung kalau harus membuka percakapan terlebih dulu dengan orang-orang baru."
Setelah masuk agensi, Tetsuya masih menjalani sebagian kegiatan lamanya dalam dunia model peraga. Sebagai newbie, Tetsuya belum banyak diberi pekerjaan. Sesekali ia muncul dalam siaran tv kabel sebagai bintang tamu acara memasak. Atau peran-peran kecil yang tidak akan dikenali.
Seijuuro bisa mengerti kenapa agensi memilih Tetsuya menjadi panelis dalam sebuah kuis dengan tagline 'tahan tawa' di Fujita televisi dengan Izuki Shun sebagai tuan rumah acara. Ia memang cocok berada di sana. Selucu apapun para komedian melawak, Tetsuya hanya memasang wajah datar—manis tanpa ekspresi dan terkadang ia malah keluar sebagai pemenang mengalahkan kontestan penantang. Lewat inilah, keberadaan Tetsuya mulai dikenal oleh para pemirsa televisi.
Jangan tanyakan mengapa Seijuuro bisa tahu mengenai semua itu. Oke, ia memang sedikit mulai mencari-cari informasi mengenai Tetsuya. Cara paling mudah tentu saja dengan menelusuri dunia maya dan sedikit menyempatkan diri menatap layar kaca.
"Tapi, Kuroko-san tidak canggung bercakap-cakap denganku sekarang..."
"Ah, kalau itu..." rona merah muda segar pelan-pelan merambati kedua pipi Tetsuya. "... mungkin karena Seijuuro-san adalah kenalan Kise-kun, jadi aku..."
Ha. Taruhan, Si Pirang berisik itu pasti sudah bercerita macam-macam mengenai Seijuuro.
"Ya, aku mengerti." tawa Seijuuro seakan-akan mengejek tingkah laku Tetsuya, membuat si pemuda bermata biru merengut bagai anak manja. "Tapi sungguh, baru kali ini aku merasa nyaman berbicara dengan orang yang belum terlalu kukenal..." ujar Seijuuro tulus. "Kuroko-san membuatku merasa berbincang bagaikan kita sudah saling lama mengenal." ia mengalihkan pandang sekilas dari jalan raya hanya untuk menatap wajah Tetsuya.
Meski Tetsuya menghindari tatap lembut Seijuuro, mereka tahu kalau apa yang dirasakan hati mereka adalah sama.
Bahwa mereka bagai sepasang entitas yang telah saling mengenal dalam waktu yang sangat lama.
"Aku berharap jalanmu ke depan semakin mudah, semoga harapan ibu Kuroko-san terwujud tanpa cela." lanjut Seijuuro kemudian.
Tetsuya mendesah pelan. "Semoga. Walau aku belum tahu apakah setelah kontrak tiga tahunku berakhir, aku masih ingin terjun dalam industri ini atau tidak..."
Hampir saja lidah Seijuuro terpeleset dan melontarkan kalimat 'kalau begitu, bentuk saja keluarga bahagia bersamaku'—namun langsung ia urungkan dalam sekejap.
"Ikuti hatimu saja Kuroko-san, dan jika butuh bantuan, Kuroko-san bisa bertanya pada Ryota. Walau banyak bicara dan sangat berisik, Ryota sebenarnya adalah pribadi yang baik."
Tetsuya mengangguk setuju. "Tentu saja."
.
.
"Dai-chan! Kubilang jangan dikeluarkan di dalam!" Ryota mengerang sebal dan bergegas melancarkan protes dengan memukul pelan lengan Daiki. Kedua tangan Ryota hampir menyerah akibat menahan beban tubuh sendiri sekaligus beban Daiki yang menempel lekat pada punggungnya akibat ekskresi keringat berlebih. "Kau ini berat, tahu!" ekor red tabby Ryota bergerak untuk menampar pipi Daiki, namun sedetik kemudian ia malah tertawa geli saat pengacara bertubuh kekar itu memeluk erat dan membiarkan mereka berdua ambuk menyamping di atas ranjang.
"Sorry, aku sedang tidak mood pakai pengaman..." Daiki berbisik dengan suara serak. "Tenanglah, aku tadi langsung sadar dan segera mengeluarkan sebagian besar di sini..." ia meremas gemas bulatan kenyal lengket berlapis celana dalam satin bertali seksi milik Ryota. Entah otaknya memang sudah mesum sejak lahir atau bagaimana, Daiki kini memiliki fetish akan Ryota yang mengenakan dalaman mini selagi mereka menyatukan diri.
"Ish, jangan begitu... kita 'kan masih belum siap punya bayi-ssu..."
"Kata siapa?"
"Dai-chan, jangan mulai lagi..." Ryota membiarkan jemari Daiki memainkan anak-anak rambut di sekitar tengkuk dan telinganya yang basah. "Kita sudah membahas ini berkali-kali..." ujar Ryota lagi hampir tanpa suara. "Walau agensi sudah memberi lampu hijau, tapi tetap saja... aku... merasa belum siap..."
Hidung Daiki sampai di bahu seputih salju. "Maka dari itu... ayo kita mengikat diri..." dan ia harus puas mendapat sabetan ekor Ryota untuk kedua kali dalam waktu berdekatan malam ini. "Katanya kau tidak ingin dilamar dengan cara cheesy... melamar setelah bercinta kedengaran tidak buruk juga..." walau tak dapat melihat wajah Ryota, Daiki tahu kalau bibir ranum itu mengerucut tak suka.
"Ini juga termasuk cara norak, tahu!"
Daiki memutar malas kedua bola mata begitu mendengar kembali kalimat protes Ryota. "Padahal aku sudah menyiapkan ini untukmu sejak dulu..."
"Eh? Apa itu?"
Ryota berbalik saat hangat tubuh Daiki perlahan menghilang. Dilihatnya Daiki duduk memunggungi dan mencari sesuatu dalam lemari kayu di samping ranjang. Bilah otot kuat di balik lapisan kulit gelap efek rajin mengencani gym dan berlatih bela diri itu membuat perut bawah Ryota kembali tergelitik—tanda awal ia masuk mode terangsang. Ryota mendesah puas ketika mendapati gurat-gurat merah memanjang akibat cakarannya berbaur dengan pola-pola spotted berwarna cinnamon pada punggung lebar Daiki—punggung yang selalu ia kagumi secara rahasia semasa sekolah dulu.
"Kau mencari apa, Dai-chan?" penasaran, Ryota bangkit dari posisi berbaring lalu membiarkan dagunya bertumpu pada bahu Daiki. Jemari nakal Ryota menyusup di antara lengan Daiki, lalu mengusap perutnya lambat-lambat. Ekor Ryota melilit ekor hitam Daiki dengan manja. "Aku tiba-tiba ingin ronde kedua..."
Daiki mendadak berbalik untuk menggenggam tangan kiri Ryota, sebelum pasangannya protes ia mengisyaratkan agar Ryota diam sejenak. Hembusan napas panjang menjadi jeda sebelum ia melanjutkan. "I'm selfish, impatient, and a little insecure. I make mistakes, i am out of control and at times hard to handle. But if you can't handle me at my worst, then you sure as hell don't deserve me at my best.(3)" tanpa kesalahan, Daiki melontarkan kalimat itu ke udara. "Kise Ryota,"
Kedua mata Ryota membulat tak percaya sewaktu lingkaran platina berhias batu mulia dipasangkan pada jari manis tangan sebelah kiri.
Ini benar-benar di luar ekspektasi.
"... i ask you to pass through life at my side—to be my second self, and my best earthly companion,(4)"
"Da—Dai-chan... aku..." jantung Ryota serasa ditinju dengan sangat keras sewaktu mendapati kesungguhan dalam mata biru gelap Daiki. Berjuta emosi ada di sana, mereka bagai putaran badai yang siap menghantam kapan saja. Tengkuk Ryota meremang, dan ia merasakan sudut-sudut matanya memanas.
"Aku tidak memintamu menjawab sekarang," Daiki menggenggam kedua tangan Ryota. "... maafkan aku, tapi maukah kau, Kise Ryo... Humph!"
Detik selanjutnya, rasa sakit mulai menjalari bibir Daiki bercampur asin darah dan hangat air mata. Ryota melumat habis kalimatnya seraya meraih kepala Daiki dalam satu rengkuhan putus asa. Tidak peduli pada geligi yang bertabrakan atau pada ketertelanjangan tubuh mereka.
"Baka Dai-chan!" ia menjerit kesal dengan lelehan ingus dan air mata, walau nada bahagia jelas tercetak di sana. "Kalau sudah begini... mana mungkin aku sanggup menolakmu... baka..."
Senyum tulus Daiki mengembang. Beban di pundak terangkat sudah. "Memang itu maksudku, dasar Si Cengeng Ryota..." ia menepuk kepala Ryota lalu memeluknya lagi lebih erat. "Aku mencintaimu."
Ryota terkekeh di sela-sela isakan dan tawa bahagia. "Akupun sama-ssu."
.
.
"Terima kasih sudah bersedia mengantarku, Akashi-san." Tetsuya berucap setelah ia berjalan memutar, lalu berdiri di samping pintu kemudi.
Ah, betapa singkat sekali perjalanan ini. Seijuuro lagi-lagi merasa tidak rela harus lekas berpisah dengan Tetsuya.
"Seijuuro. Panggil saja aku begitu." Seijuuro berseru. "Panggilan Akashi-san sepertinya terlalu 'tua' untukku."
Tetsuya hampir mengeluarkan dengusan tak percaya. "Kalau begitu tanggalkan juga panggilan Kuroko-san untukku... kurasa itupun terlalu 'tua'..."
Tawa ringan terdengar lolos dari mulut Seijuuro. "Setuju." ia menyapu pandangan pada figur mungil Tetsuya yang berdiri dalam diam di sebelah mobilnya. "Baiklah, selamat beristirahat dan sampai jumpa lagi, Tet-su-ya." sudut-sudut bibir Seijuuro melengkung ke atas membentuk sebuah senyum penuh makna. "Selamat malam..." sedan hitamnya kembali melaju meninggalkan halaman depan blok apartemen Tetsuya.
"Malam, Seijuuro-san." Tetsuya menunduk dan membiarkan rona-rona merah muda tenggelam dalam rajutan wol hangat yang melingkari lehernya.
.
.
Berita mengenai rencana pernikahan Ryota sampai di agensi dalam tiga hari kemudian. Sebelum media dan masyarakat mengendus ini semua, Ryota dipanggil menghadap petinggi agensi dalam sebuah meeting tertutup yang cukup rahasia. Sebelum konferensi pers digelar, mereka akan melihat dulu reaksi para netizen dan dampak dari pemberitaan mengenai hal ini. Jika tidak ada masalah dan karir Ryota tidak mengalami kemunduran signifikan, maka mereka akan mengijinkan.
Kitagawa Tomomi percaya bahwa politik balas budi adalah cara paling efektif dalam dunia showbizz. Setelah artis banyak memberi andil pada agensi, sekaranglah saatnya mereka mendapatkan balasan memadai. Mereka memang produk, tapi mereka juga adalah makhluk hidup, bukan boneka.
Kasus semacam Kise Ryota, bukan sekali dua kali mereka tangani. Beberapa artis debutan agensi ada yang memutuskan menikah di saat karir mereka sedang terang-terangnya bersinar. Namun, itu semua kembali pada pribadi masing-masing, redup atau tidaknya karir, bergantung pada usaha Sang artis sendiri. Itu sudah menjadi pilihan dan tanggung jawab diri.
Serakah memang sudah menjadi hal lumrah, tapi ia yakin rahasia sukses agensinya hingga hampir 30 tahun berdiri adalah rasa terima kasih dan saling percaya antar artis dan agensi. Maka, setelah ia mundur dari jabatan tertinggi, Tomomi tetap menanamkan visi dan misi miliknya kepada para generasi baru pengganti.
.
"Sejauh ini, reaksi netizen cukup positif. Mereka meninggalkan pesan mendukung dalam website pribadiku-ssu." Ryota menggerakkan telunjuknya dengan sangat cepat untuk menggeser halaman demi halaman pada layar i-paad di atas pangkuan. "Walaupun beberapa dari mereka malah mempertanyakan dan membuat gosip yang tidak-tidak. Atau malah beralih mengagumi tubuh macho Daiki, haahh..."
"Sudah kuduga memang kau yang akan membuat ikatan terlebih dulu di antara kita..." Moriyama Yoshitaka menyeruput latte hangat dari gelas kartonnya. Sore itu beberapa artis duduk bersama dalam ruang santai agensi setelah kembali dari rekaman studio televisi."Di antara aku, kau, dan Kiyoshi, ternyata kaulah yang duluan menyerah pada cinta..."
Trio 'Ikemen Rookie' adalah julukan bagi Ryota, Yoshitaka, dan Kiyoshi yang masuk agensi pada waktu bersamaan. Wajah ketiganya sama-sama menawan, dan nama mereka langsung meroket dalam rentang waktu cukup singkat setelah masa debut. Bahkan sampai kini mereka masih memiliki hubungan pertemanan yang cukup erat.
Dahi Ryota mengerut. "Kalian saja yang masih tersesat dan tidak tahu jalan pulang-ssu! Kau terlihat sering masuk infotaiment karena jalan bersama artis agensi lain. Tapi malah berakhir seorang diri..."
Bibir Yoshitaka gantian mengerucut. "Cih, itu karena aku belum menemukan orang yang tepat, tahu!" dengan kesal ia menegak habis latte yang bersisa dalam gelasnya hingga tandas. "Lihat saja nanti..." kobar api semangat terlihat menyala-nyala di kedua mata.
Ryota mendecak tak kalah sebal. "Bilang saja kalau belum laku. Dasar Moriyama-cchi..." bisiknya tanpa suara agar tidak terdengar Yoshitaka. Ia meraih gelas karton lain berisi latte di atas meja dan hampir tersedak sewaktu melihat sosok mungil berambut biru lembut melintasi koridor ruang santai tak jauh darinya. "Oi, Kuroko-cchi!"
Merasa terpanggil, Tetsuya berhenti dan memasuki ruang santai agensi. Ia menunduk seraya mengucapkan salam pada semua orang di sana. Tangan-tangan dengan jemari kecil yang tersembunyi di balik sweater coklat pastel itu mencoba membetulkan letak tali postman bag-nya yang bergerak menuruni bahu.
"Selamat sore, Kise-kun, Moriyama-san..."
"Eh, Kuroko-kun... kau baru kembali?" Yoshitaka tersenyum ramah. Sudah lama ia mengincar Tetsuya, namun selalu dihalang-halangi oleh Ryota. "Duduklah, ini ada latte hangat..." ia menepuk-nepuk spasi kosong di sebelahnya.
"Ya. Aku baru kembali dari kantor majalah Ellie." baru ia hendak duduk, lengannya keburu ditarik oleh Ryota.
"Duduk di sini saja Kuroko-cchi, jangan dekat-dekat kucing garong..."
"Heh, apa maksudmu Kise...!"
Tetsuya akhirnya lebih memilih duduk pada single sofa di antara mereka.
"Sekali lagi, selamat atas berita bahagiamu, Kise-kun..." Tetsuya mengulas senyum dan itu hampir membuat Yoshitaka berseru gemas. Tetsuya membiarkan rasa hangat latte menjalar lewat gelas karton menuju jari jemarinya.
"Hehehe, terima kasih, Kuroko-cchi. Dai-chan memang sedikit aneh-ssu, padahal baru saja kita membicarakan hal itu selagi pesta, tidak disangka saat malam ia langsung mengutarakannya."
Tetsuya memutuskan untuk bersantai sejenak sebelum ia mengurusi beberapa hal lalu pulang ke apartemennya. Tubuh Tetsuya lumayan lelah, dan akhir-akhir ini ia kadang terserang insomnia. Apa ini semua ada hubungannya dengan pria muda bermata sewarna delima?
Huh, entahlah...
Baru saja ia menyesap manis campuran susu-kopi hangat dalam gelas, seseorang lagi-lagi memanggil nama Tetsuya.
Imayoshi Shoichi muncul dari balik pintu ganda yang terbuka. Manajer berkacamata itu terlihat membawa sesuatu dalam pelukan kedua tangannya.
"Whoa, apa itu, Imayoshi-senpai?" Yoshitaka mengerjapkan mata menatap benda-benda dalam pelukan Shoichi.
"Untuk Kuroko Tetsuya." senyum menggoda mengiringi ucapannya. "Dan omong-omong, selamat atas kabar gembiranya, Kise-kun."
Ryota mengangguk, namun ia lebih penasaran akan kelanjutan ucapan Shoichi.
"Ini tadi ada di meja resepsionis, namun karena Kuroko-kun berlalu begitu cepat bagaikan angin—whuush—nona Kimura sampai tidak sempat memanggilmu yang keburu masuk lift."
Bisik-bisik bagai degung lebah langsung terdengar samar keluar dari mulut orang-orang di sekitar.
Sebuket besar mawar merah dan sebuah kotak hadiah berpindah tangan menuju dekapan Tetsuya.
"Coba dibuka sekarang-ssu..."
"Jangan-jangan isinya bom..."
Tiga pasang mata menatap lelah pada Yoshitaka.
"Antisipasi 'kan tidak ada salahnya..."
Kotak hadiah dibuka, dan mereka mendapati selembar coat berwarna mocca terlipat rapi di dalamnya.
"Hei, ini 'kan produk terbaru keluaran musim gugur dari Burberrie..." Yoshitaka menyela dengan nada bersemangat. "Mungkin saja ini dari fans-mu..."
Ryota menunjuk kartu ucapan yang terselip di antara mahkota-mahkota merah menyala. "Itu, ada kartunya-ssu..."
/Untuk Tetsuya: tetaplah hangat selama musim ini. S/
"Siapa S?" Yoshitaka mengernyitkan dahi.
Ryota malah membelalakkan mata tak percaya. Ia semakin yakin sewaktu melihat semburat merah muda memulas tulang pipi Tetsuya.
"Jangan katakan kalau ini... Kuroko-cchi! Ini benar-benar akan terjadi sebentar lagi-ssu! Ini benar-benar sebuah keajaiban!"
"Hentikan. Kise-kun. Kumohon." bisik Tetsuya malu.
"Terjadi apanya? Oi, Kise brengsek, katakan apa maksudmu tadi?"
Shoichi tersenyum maklum lalu bergegas melangkah pergi meninggalkan mereka bertiga dan gumaman ingin tahu dari semua orang di ruang santai. Masih ada banyak hal yang harus diurusnya, dan yang pasti itu bukan masalah cinta.
.
.
TBC~
1. Rainbow Bridge: Jembatan gantung yang melintasi utara Teluk Tokyo.
2. Lovely Complex: Pasangan beda jauh tinggi badan.
3. Diambil dari gugel tentang Marriage proposal quote, hahaha...
4. Marriage Proposal quote diambil dari Jane Eyre by Charlotte Bronte dari gugel juga...
A/N: Maaf kelamaan update, udah beres liburan soalnya. (Hiks) Adegan rated M-nya batal dulu, ini dikasih secuil AoKise, muhahaha... Alurnya makin lama makin cepet, maafkan saya... Mengenai footnote, padahal sudah saya superscript penandaan nomornya, tapi untuk yang sekarang saya beri tanda kurung aja ya... Terima kasih atas review-reviewnya, dan semoga dalam beberapa chapter lagi, fic ini bakal beres. Sampai jumpa di chapter selanjutnya en Ciao!
