Title: Rendezvous
Pair: AkaKuro, AoKise, MidoTaka, MuraHimu, slight!AkaMomo
Disclaimer: Tadatoshi Fujimaki, i gain no profit from this fiction
Warn: OC, OOC, typos, languages, Hybrid Cat!AU, M-preg, BL, overdose-fluff.
.
Rendezvous 5: Seed of Jealousy (Part 1).
Jealousy is a disease, love is a healthy condition. The greater the love, the greater the jealousy—in fact, they are almost incompatible; one emotion hardly leaves room for the other.
-Robert A. Heinlein-
.
.
Masaomi menatap heran pada Seijuuro. Putra tunggalnya itu terlihat bukan seperti dirinya. Entahlah, yang pasti Seijuuro terlihat begitu berbeda setelah—tepat sebulan lalu—Masaomi menghentikan segala kegiatan omiai dan kencan buta untuknya. Apa ini berhubungan dengan 'target afeksi' Seijuuro yang baru? Sebab menurut sumber terpercaya, Seijuuro memang tengah rajin melakukan pendekatan dengan salah seorang artis baru dari agensi milik Kitagawa, tempat Ryota berada.
Siapa namanya? Kuroki—Kuroko Tetsuya?
Masaomi belum pernah dengar.
Heh. Ini benar-benar di luar perkiraan. Masaomi tidak menyangka jika kali ini Seijuuro-lah yang mesti rela mengemis cinta. Sebenarnya seistimewa apa Kuroko Tetsuya, sampai-sampai ia sanggup membuat Seijuuro berlaku di luar tingkahnya yang biasa. Masaomi sungguh penasaran dan ingin bertemu secara personal dengannya.
Ia memang berjanji untuk tidak mencampuri urusan asmara Seijuuro lagi, namun itu bukan berarti Masaomi melepaskan tanggung jawabnya sebagai orangtua. Seijuuro masih butuh pengawasan dan diberi arahan. Anak itu terkadang akan bertindak mutlak tanpa sanggup dicegah—hal yang memang sudah lumrah dalam keluarga mereka.
Entah ini adalah keturunan, atau bisa jadi kutukan.
"Kau terlihat berbeda. Apa ada sesuatu yang membuatmu begitu?" jarang sekali Masaomi berbasa-basi, namun demi menggali informasi langsung, ia rela menanggalkan sejenak ego diri.
Alis Seijuuro naik sebelah, lengkung cangkir berhenti tepat sebelum menyentuh bibir sewarna peach. Kepulan uap tipis menerpa wajah dan aroma teh krisan sudah menggelitik indra pembaunya. "Apa yang membuat ayah berpikir begitu?" saat cairan amber terang itu mampir di lidah, Seijuuro segera mengeluarkan desahan apresiasi.
Memang tidak ada yang lebih sempurna dibandingkan secangkir teh hangat untuk mengakhiri lelahnya hari.
Masaomi angkat bahu. "Kau terlihat lebih... bersemangat dibanding kemarin dulu? Apa ada sesuatu?"
Seijuuro tertawa pelan. "Bukankah ayah memiliki sumber informasi jitu?"
"Tidak ada salahnya jika aku bertanya langsung padamu." Sang Akashi senior memutuskan untuk menambah satu sachet gula jagung ke dalam cangkir. Sendok teh diraih, dan ia fokus memandangi pusaran kecil yang tercipta di sana.
Seijuuro melipat tangan di depan dada, tubuhnya dibiarkan bersandar pada punggung kursi, seraya menatap pemandangan Sabtu sore lewat kaca jendela. Pada langit kelabu dan batang-batang subur persimmon(1) di halaman belakang.
"Apa kali ini berbeda?" Masaomi menatap Seijuuro.
Desahan pendek si anak lepas ke udara. "Ya." bibir Seijuuro tertekuk ke bawah, namun sedetik kemudian ia malah mengulas senyum seperti sedang membayangkan sesuatu yang tengah membuatnya bahagia.
Ah. Tentu saja.
Gerak gerik Seijuuro ini begitu serupa dengan apa yang pernah terjadi pada dirinya sendiri di masa lalu. Betapa Masaomi merasakan bagai hidup segan, matipun tak mau. Ia seumpama awak kapal yang tengah terombang-ambing dalam badai ganas bernama cinta pertama.
Seijuuro boleh jadi sudah beberapa kali memiliki pasangan, namun itu bukan berarti ia telah menemukan kepingan tepat untuk mengisi bagian kosong dalam hatinya. Kali ini Masaomi sangat yakin bahwa hari sakral itu telah tiba.
"Kau benar-benar sudah menemukannya, ya?"
Seijuuro masih setiap menatap pemandangan di luar jendela. Bahkan kalimat interogasi Masaomi hampir saja lewat dari pendengaran telinga.
"Dia istimewa." Seijuuro masih tersenyum. Tatapan mata teralih hanya untuk menatap lamat pada sepiring kecil kue berisi pasta kacang merah buatan koki rumah. "Semua orang yang melihatnya mungkin merasakan hal serupa denganku." ia melanjutkan. "Ayahpun pasti sama."
Masaomi berdeham. Ia memang pernah melihat sekilas profil Kuroko Tetsuya karena mengalah pada rasa ingin tahu yang kelewat besar. Awalnya Masaomi mengira jika Kuroko Tetsuya sama saja dengan tipe-tipe terdahulu Seijuuro. Mungil, submisif, dan memancarkan 'innocent aura'.
Namun tanpa ragu Masaomi mengaku, ada yang berbeda saat ia membalas tatap teduh selembut beludru biru itu, meski hanya lewat selembar foto.
"Kalau begitu langsung saja..., kau harus bergerak cepat sebelum orang lain memutuskan untuk mengikatnya." Masaomi berusaha mengompori sambil diam-diam bersorak dalam hati. Setelah semua usaha perjodohan dengan akhir sia-sia, tidak disangka, Seijuuro malah terjun langsung seorang diri ke medan laga. Ke mana saja Kuroko Tetsuya selama ini? "Walaupun masih lajang, bukan berarti tidak ada orang yang tertarik dengannya. Siapa juga yang sanggup menolak jika disuguhkan ikan segar?"
"Langsung saja ya?" Seijuuro mendecak. "Apa ayah sekarang berubah profesi jadi konsultan cinta?" mau tak mau ia tertawa geli melihat antusiasme Masaomi. Sepertinya berita bahagia dari Ryota dan Daiki membuat ayahnya itu semakin memantapkan diri untuk mendukung semua usaha Seijuuro dalam menemukan cinta sejati. "Ayah tentu sangat bahagia setelah mendengar semua ini dariku... benar?"
Masaomi membalas, pura-pura tidak tertarik. "Seperti kau tidak hapal dengan sifat ayah saja."
Teh krisan yang mendingin dalam cangkir keramik masih setia menemani keduanya melewati akhir hari. Di barat sana, matahari telah tidur kembali dan terganti oleh langit petang yang perlahan mulai mengelam dengan pasti.
.
.
"Aku menuliskan resep obat tidur untukmu..."
"Tidak perlu." Seijuuro memotong ucapan Shintaro. "Yang satu itu tidak usah saja."
"Tetap akan kutulis."
"Aku masih dapat tidur dengan baik."
"Hentikan, Akashi. Aku yang dokter di sini." kacamata Shintaro merosot beberapa mili.
"Tapi aku tidak mengalami insomnia. Hanya sedikit sulit memejamkan mata."
Susah tidur dan insomnia itu setali tiga uang, demi Tuhan!
Bagai dua kambing jantan melewati jembatan kayu dari arah berlawanan, keduanya sama-sama menanduk dengan sengit tanpa ada kata mengalah terlintas dalam pikiran. Sagitarius dan Cancer memang memiliki kompatibilitas sempurna dalam urusan rekanan, namun bukan berarti orbit mereka tidak pernah bertabrakan.
Bahkan kebiasaan berdebat yang bermula dari bangku sekolah dulu, terus terbawa hingga sekarang.
Shintaro menatap jam di dinding ruang praktek. Shift-nya akan berakhir dalam sepuluh menit ke depan. Dan kedatangan seorang Akashi Seijuuro sungguh di luar perkiraan. "Tidak biasanya kau datang kemari..." Shintaro mengeluarkan tatapan menghakimi.
Tidak ayah, tidak anak. Sejak dulu selalu saja dia dijadikan tempat untuk mencurahkan isi hati.
(Karena Seijuuro tidak mungkin menjadikan Daiki, Ryota atau bahkan Atsushi sebagai tempat untuk introspeksi diri. Yang ada ia malah makin depresi. Walau dari luar, Shintaro terlihat seakan tidak peduli, namun ia adalah satu-satunya pendengar yang baik dan selalu memberikan langkah-langkah pasti sebagai solusi.)
"Ryota pasti sudah cerita. Bukankah kalian senang sekali bertukar informasi?"
Mendengarnya, hati Shintaro mendadak tersakiti. Ini sama saja seperti dituduh menjadi biang gosip oleh Seijuuro! Dan ia sama sekali tidak rela!
"Cih, aku tidak mengerti maksudmu." stetoskop diletakkan pada tempat penyimpanan, sementara jas putih digantung rapi.
"Mungkin aku terlalu berlebihan, namun ini tidak seperti yang biasa kuhadapi." Seijuuro terus menatap kesibukan Shintaro mengemas tas kerja. Aroma lavender dari pengharum ruangan, berusaha menyaingi terpaan karbol yang berlomba-lomba menusuk hidung Seijuuro.
Selembar mantel hangat dipakai Shintaro untuk menutupi sweater berwarna salmon gelap—barang yang menjadi lucky item cancer untuk hari ini. "Kau tahu? Ini seperti bukan dirimu..." Si pria berkacamata mendelik. "Kalau hatimu berkata bahwa dia adalah satu-satunya, langsung sikat saja! Kelak kau akan sangat menyesal kalau orang lain keburu mengikatnya! Dan jika perkataanku benar-benar berubah jadi nyata, kujamin itu bakal membuatmu serasa hidup bagai di neraka!" kalimat tsundere Shintaro tersambung secepat kereta peluru. Telinga Seijuuro seakan diserang gelombang tsunami dalam bentuk audio.
Ia mendadak de javu.
"Langsung saja?" Seijuuro bergumam. "Inginku pun begitu."
Shintaro mendengus. "Sooner, the better. Paman Akashi pasti bagai ada di langit ke tujuh sewaktu mendengar ini langsung dari mulutmu."
"Ya. Dia sangat antusias begitu mengetahui ini."
Shintaro tidak sanggup membayangkan bagaimana rupa seorang Akashi Masaomi begitu tahu bahwa Seijuuro—ya, Si keras kepala Seijuuro—yang selama ini selalu menjatuhkan tawaran Masaomi dalam setiap omiai, mendadak lekas-lekas ingin mengakhiri status lajang diri.
Ini sebuah progres luar biasa.
Sungguh.
Benar-benar luar biasa.
Hubungan ayah dan anak yang semula bak rentan lapis es tipis di bawah injakan sepatu, kini telah bermetamorfosa menjadi sekokoh baja kualitas nomor satu.
Shintaro bahkan sampai harus menampar diri sendiri akibat tidak mempercayai seluruh panca indranya atas keajaiban alam ini.
(Tapi ia lega. Karena pada akhirnya jiwa mereka mau berdamai juga.)
"Kalau metode yang biasa kau terapkan pada calon-calon 'mangsamu' tidak bekerja, gunakan trik lain."
"Sedang dalam proses." sambar Seijuuro. "Bukannya kelewat percaya diri, tapi aku yakin kami memang ditakdirkan untuk bersama, sehidup-semati." seringai tampan mengembang di wajah Seijuuro, dan Shintaro hampir saja menyemburkan kalimat: 'bukankah sifat percaya diri yang kelewat tinggi memang mengalir dalam pembuluh nadi setiap keturunan Keluarga Akashi?'—namun itu hanya sampai di ujung lidah saja, Shintaro masih sayang nyawa.
"Cih, kalau begitu, selamat berjuang." bola mata hijau itu menatap lurus pada Seijuuro. "Kuberikan doaku untuk menyertai..." kalimat sarkas Shintaro mendadak terputus karena sebuah seruan bersemangat keburu menggema bagai sambaran petir di telinga.
"Oi, Shin-chan!" pintu ruang praktek menjeblak terbuka dan seorang pria muda berdiri di ambang pintu dengan wajah ceria. "Lho, Akashi-san?" bola mata kelabu dengan kerling jenaka, menatap penuh tanya pada sosok Seijuuro yang sama sekali tidak ia duga. "Kau ada di sini juga?" Takao Kazunari melangkah masuk dan menyapa pasien terakhir Shintaro tersebut. "Ah, rasanya sudah lama sekali aku tidak bertemu denganmu. Terakhir itu... kalau tidak salah..., sewaktu perayaan pesta ulang tahun si kembar Murasakibara! Benar 'kan?"
Seijuuro menunduk sekilas untuk membalas sapaan ramah Kazunari. "Selamat malam, Takao." tangannya otomatis menjangkau satu sosok mungil dalam gendongan punggung Kazunari.
"Hahaha... Selamat malam, senang berjumpa lagi denganmu, Akashi-san!" ia lalu bertanya penuh nada simpati. "Apa kau sedang sakit?" alis-alisnya saling bertaut, siap untuk mendengar berita kurang bahagia.
"Tidak. Aku hanya mampir sebentar untuk minta resep vitamin pada Shintaro."
Kazunari buru-buru menghembuskan napas lega. "Yokatta!" tawa renyah kembali mengambang di udara, sementara si pria berkacamata malah mendesah putus asa karena ia merasa hanya jadi pendengar setia bagi mereka.
Kazunari masih tetap tertawa namun atensinya beralih pada tampang masam Shintaro. "Nee, Shin-chan... kau sudah selesai?"
Kalau sudah ditatap dengan wajah begitu, hati Shintaro mau tak mau terpaksa luluh juga. "Ya." kecupan ringan penuh sayang ia daratkan pada puncak kepala eboni beraroma stroberi, lalu pada dahi seorang bayi dalam baby carrier(2) di punggung Kazunari.
"Momi-chan tadi sedikit rewel sewaktu kujemput dari rumah ibu. Ah, mungkin ia kelelahan setelah diajak bermain seharian... kata ibu, dia aktif sekali hari ini..." Kazunari membiarkan Shintaro mengusap pipi tembam anak laki-laki yang tengah terlelap di gendongan punggungnya. "Sewaktu dalam mobil aku sibuk bernyanyi Kumamon song, eeh... tanpa kusadari, Momi-chan sudah tertidur pulas!" ia terkekeh mengingat perjalanan menuju rumah sakit yang sempat menguras energi akibat rajukan Momiji.
"Tumben sekali." Shintaro menatap bayi berambut hitam dalam gendongan. Wajah Shintaro begitu rileks saat ujung-ujung jemari miliknya menyentuh eksistensi jelmaan kerubim dalam buaian mimpi. Betapa senyum tulus terus mengembang tanpa henti sewaktu ia asyik menjawili pipi selembut kue mochi. "Tapi terima kasih banyak atas kerja kerasmu untuk menenangkan Momiji, Kazunari."
Tangan kanan digandeng erat, Kazunari lagi-lagi tertawa riang.
"Sini, biar aku yang ganti menggendongnya."
"Oke!"
Ah. Seijuuro sekarang mengerti.
Mengapa Sang Ayah sebegitu ingin agar ia lekas-lekas membentuk sebuah keluarga. Walau sumber kebahagiaan setiap manusia berbeda, memiliki pelengkap hidup seperti pasangan sejati dan buah hati, tentu menjadi salah satu alasannya.
"Kalau begitu, aku permisi." Seijuuro meraih jas hitam dari sandaran kursi. "Terima kasih atas waktumu, Shintaro."
Shintaro menatap Seijuuro sewaktu Kazunari membantunya memasang posisi baby carrier di depan dada. Momiji menggumam lemah masih dengan mata terpejam dan Shintaro segera mengguncangnya lembut agar ia tidak tebangun secara tiba-tiba. "Kami akan makan di luar." ia berhenti untuk melihat respon Seijuuro. "Kau mau ikut bersama kami, Akashi? Kazu sedang ingin mencoba restoran udon baru, hanya berjarak beberapa blok dari sini."
Kazunari segera menyambung ucapan Shintaro. "Ikut saja, Akashi-san! Biar Shin-chan yang bayar! Hahaha..."
Seijuuro memandang keduanya. Kebetulan sekali ini hampir masuk jam makan malam, jadi tidak salah juga jika ia menerima ajakan Shintaro barusan. "Kuharap di sana tersedia topping tempura tofu. Tunggu aku menebus resep ini, lalu kita berangkat."
"Baiklah! Ayo, Shin-chan!"
"Ya, sabar sebentar..."
"Kau yang traktir ya, Shintaro."
"Ah, sial."
.
.
Aoyama Flower Tea House awalnya adalah sebuah toko bunga—dengan nama Aoyama Florist, yang terletak tidak jauh dari stasiun Omotesando. Baru tiga tahun belakangan, sang owner menambah nilai guna toko bunga tersebut menjadi kafe, walau fungsi lamanya menjual bunga tetap dijalankan. Dengan interior unik menyerupai bagian dalam greenhouse, kafe cantik ini menjadi pilihan Ryota sebagai tempat pertemuannya dengan dua orang kawan lama.
"Kise-kun." Tetsuya berujar setelah buku menu diserahkan kembali pada pelayan. "Aku tidak mengerti kenapa Kise-kun membawaku serta." mata biru jernihnya menatap pada sulur-sulur hijau terawat yang merambati rangka jendela besi di sebelah sofa. Beberapa pucuk merah muda menyembul malu-malu dari balik kelopak yang membungkus keberadaan mereka sebelum mekar menjumpai dunia.
Di luar kafe, hujan rintik mulai turun lagi dengan membawa hawa setara pendingin ruangan. Prakiraan cuaca memberitakan bahwa hujan akan turun sepanjang hari. Gulungan awan hitam penuh beban masih setia menggantung di langit Tokyo, dan hujan seakan tidak ingin berhenti membuat bumi di bawahnya menjadi kubangan air di sana-sini.
Suasana di dalam kafe entah kenapa lumayan sepi, padahal ini akhir pekan. Ah, mungkin karena hujanlah, orang-orang jadi malas mampir ke sini.
"E-eh, apa maksudmu, Kuroko-cchi?" tergeragap, Ryota balik bertanya pura-pura tak mengerti seraya membetulkan topi yang menutupi helai-helai rambut pirang. Ia yang memang pada dasarnya tidak pandai berbohong, sempat kaget juga mendapat pertanyaan semacam itu dari Tetsuya. Insting kucing mungil di hadapannya ini benar-benar setajam silet-ssu! Duh, mau berniat mulia, kenapa ia malah jadi menambah dosa? Lagipula, kenapa mereka berdua lama sekali, sih... Otak Ryota segera berputar otomatis untuk membuat sebuah alasan masuk akal, namun tidak terdengar bagai seorang pembual.
"Aku sangat awam dalam hal seperti ini, Kise-kun." rambut biru muda diseka ke belakang telinga. "Seharusnya kau membawa Moriyama-san atau Miyaji-san saja. Mereka mungkin lebih mengerti hal-hal mengenai persiapan pernikahan. Mereka fashionista, dan lebih stylish ketimbang diriku. Ide-ide mereka pasti brilian..."
Kacamata sebagai alat tambahan untuk menyamarkan identitas diri, dinaikkan hingga ke pangkal hidung. Bibir Ryota mengerucut lucu begitu nama dua rekannya disebut-sebut dalam kalimat Tetsuya. "Kalau membawa mereka, nanti malah bukan aku yang punya pesta, tapi mereka-ssu! Yang ada semuanya akan sesuai selera mereka!" Ryota memuji diri sendiri saat alasan logis selesai dilontarkan. "Kebetulan, aku tahu kalau jadwal Kuroko-cchi sedang kosong hari ini, jadi... sekalian saja... kau bisa membantu dengan memberiku ide-ide segar, ya 'kan...? Hahaha..."
Tetsuya menatap datar pada Ryota, diiringi hela napas pendek.
Sebetulnya ia mengendus kalau ada sesuatu yang tidak beres di sini. Ryota terlihat seperti tengah merencanakan sesuatu.
Ryota mengatakan kalau ia berniat menemui seseorang yang memiliki peran besar dalam pelaksanaan pesta, juga bertemu seorang teman lama. Katanya sudah hampir setahun mereka tidak berjumpa, padahal dulu mereka cukup dekat semasa remaja.
Humph! Padahal Tetsuya sudah berencana akan berleha-leha tanpa melakukan hal apapun saat jadwalnya kosong dari aktivitas harian agensi. Namun panggilan masuk dari Ryota tadi pagi langsung meluruhkan semua rencana Tetsuya pada hari ini. Ajakan makan siang di hari berhujan dari Si Pirang, tidak tega ia tolak. Kalaupun bisa menolak, keesokan harinya bakal dipastikan ia akan menerima serangan 'merajuk' ala Kise Ryota.
Tak lama, pelayan kafe datang dengan nampan lebar berisi pesanan. Satu teko berisi blooming tea(3) hangat beserta sepasang cangkir bening, juga dua piring kecil dengan irisan bluberry cheesecake dan kue sifon stroberi di atasnya.
Baru Tetsuya akan meraih garpu dari sebelah piring, pintu depan kafe terbuka. Denting pelan bel menjadi penanda. Beberapa kepala pengunjung menoleh secara bersama, sementara yang lainnya memilih untuk tetap menekuri kegiatan semula.
Dua siluet manusia terlihat beriringan memasuki ruangan hangat kafe di Sabtu berhujan.
Seorang wanita cantik—dan terlihat sangat muda—memasuki kafe setelah terdengar seruan selamat datang dari salah satu pelayan. Ia tersenyum ramah. Rambut merah muda itu dibiarkan tergerai pada satu sisi bahu, sementara trench coat berwarna beige membalut tubuhnya yang sintal sempurna. Sebuah tas tangan trendy keluaran season terbaru turut melengkapi gaya berbusana Sang wanita muda.
Berdiri tidak jauh di belakangnya, seorang pria—berambut merah—dan bermantel sama, tengah berkutat memasukkan payung pada tempat penyimpanan.
Ya, Tuhan.
Perut Tetsuya mendadak mulas sewaktu menyadari siapakah orang yang sedari tadi ditunggu oleh Ryota.
Ternyata dia.
"Akashi-cchi! Momo-cchi!" Ryota melambai dari tempat mereka berada.
"Ei, Ki-chan!" si wanita berseru tertahan, ia bergegas melangkah mendekati meja mereka yang terletak di sudut kafe.
Pelukan hangat bertukar, dan Ryota juga si wanita muda tertawa riang setelahnya.
"Kita jarang sekali bertemu-ssu! Aku rindu!"
"Tentu saja kita jarang bertemu, kau 'kan sama sekali sudah tidak punya waktu!" bibir penuh bersapu lipstick sewarna koral mengerucut. Harum lembut vanila langsung menyebar ringan di udara sekitar saat ia datang.
"Momo-cchi juga! Terakhir kudengar dari Dai-chan, kau sedang ada di Fukuoka-ssu..."
"Hu-um, aku sedang ada job di sana, tapi aku sudah kembali ke Tokyo sejak minggu lalu, setelah beritamu dan Dai-chan tersebar luas, tahu! Kebetulan sekali Sei-kun mengirim pesan kalau ia akan menemuimu hari ini, dia jadi sekalian menjemputku dari apartemen..."
(What? Menjemput langsung dari apartemen?)
Ryota dan wanita muda yang disebut-sebut dengan nama 'Momo-cchi' tadi masih terus berbincang, sampai akhirnya Seijuuro turut bergabung dalam kelompok kecil—riuh—mereka. Tadinya Tetsuya hendak buang muka, namun keburu ditatap intens oleh sepasang mata sewarna batu delima.
"Selamat siang, Ryota, Tetsuya..."
Hari ini-pun, seorang Akashi Seijuuro tetap saja terlihat tampan tanpa cela.
Apa tadi Seijuuro berkata kalau dia datang bersama si wanita muda?
Sebenarnya apa hubungan mereka berdua?
Eh, bertiga kalau dihitung dengan keberadaan Kise Ryota.
Tunggu, kenapa Tetsuya malah jadi bertanya-tanya?
"Pesanan kami baru saja datang, kalian juga pesanlah sesuatu..." Ryota mempersilakan duduk keduanya. "Kuroko-cchi, perkenalkan... ini Momoi Satsuki, sahabat lama sewaktu kami sekolah menengah pertama dulu..." Ryota berujar. "Momo-cchi, ini Kuroko Tetsuya, rekanku di agensi..."
"Ah, yoroshiku onegaishimasu..." Satsuki menjabat hangat tangan Tetsuya dengan mata berbinar ceria. "Ternyata image Kuroko-san sangat sesuai dengan bayanganku ya..." senyum misterius terulas tanpa dapat dicegah.
Mantel dilepas, Satsuki memilih duduk pada kursi besi di hadapan Tetsuya, sementara Seijuuro duduk nyaman di sebelah wanita itu.
"Eh?"
Entah apa maksud di balik kalimat Satsuki barusan. 'Sesuai bayangannya?' bukankah mereka baru mengenal satu sama lain pada hari ini?
Mulut Ryota langsung membuka ketika melihat tatap bingung Tetsuya, kebetulan juga seorang pelayan sudah datang menghampiri, lengkap dengan buku menu di tangan kiri. "Err, ini buku menunya, Momo-cchi..." ia coba mengalihkan perhatian dari atmosfer canggung yang melingkupi.
"Sei-kun, kau ingin pesan apa?" Satsuki membiarkan lengannya dan Seijuuro bersentuhan, sementara wajahnya sengaja didekatkan. Dan laki-laki itu sama sekali tidak merasa terganggu oleh gestur manja Satsuki yang kekanakan. "Bagaimana kalau ginger-tea hangat? Kebetulan di luar udaranya lumayan dingin..."
Seijuuro mengangguk. "Boleh saja, Satsuki."
"Kalau begitu, kami pesan ginger-tea dan dua smoked beef sandwich. Sei-kun kebetulan sekali tidak terlalu suka makanan manis."
Dan Tetsuya hanya mampu diam saja saat ia ditatap penuh arti—lagi-lagi—oleh Satsuki.
.
"Mereka bilang oke, beberapa cottage(4) bisa dipesan dan siap saat hari yang ditentukan. Kebetulan sekali cottage mereka terletak tidak jauh dari kapel kecil(5) di dekat tebing—kalau itu kapel yang kalian maksud. Hanya mendaki jalan setapak beberapa ratus meter dari sana, dan tempat itu bisa jadi lokasi terbaik untuk acara pengikatan." Seijuuro menatap layar ponsel pintarnya untuk mengecek lagi kabar dari pihak cottage mengenai lokasi yang dipilih oleh Daiki dan Ryota. "Hanya tinggal menunggu kepastian jadwal penerbangan menuju pulau. Mereka belum menghubungiku lagi, mungkin nanti sore akan kukabarkan kalau sudah deal. Atau paling lambat besok..." tangan Seijuuro meraih cangkir teh dari atas tatakan, dan menyesap teh di dalamnya dengan nikmat.
"Waah, cepat sekali-ssu! Ahahaha, maaf ya, jadi sangat merepotkanmu, Akashi-cchi! Sejak awal kami memang mengincar kapelnya." Ryota terkekeh pelan. "Tapi untuk yang satu itu aku memang butuh bantuanmu secara langsung. Aku tahu kau punya koneksi luas dengan para pengusaha bisnis semacam ini..."
Pulau Kume dijadikan lokasi untuk mengucap sumpah sehidup semati. Daiki kecil pernah ke sana saat ia masih tinggal di Okinawa, dan menemukan gereja mungil di ujung tebing. Seraya berandai-andai bahwa suatu hari nanti ia akan membawa calon pasangan hidupnya mengikat janji di tempat indah ini.
"Tidak masalah, Ryota. Santai saja."
Satsuki meminum ginger-tea dalam cangkirnya dengan gerakan anggun. "Ya, tanpa Sei-kun, penentuan lokasi yang Ki-chan inginkan bisa jadi akan sangat memakan waktu. Kalian ini, persiapan dalam dua bulan itu sangat singkat sekali, lho!"
Ryota terkekeh canggung. "Maaf, maaf... malah awalnya kami akan melangsungkan acara tersebut dalam jangka waktu sebulan ke depan... hahaha..." ia terlihat sibuk mengecek ponsel dalam genggaman tangan, walau tetap membalas ucapan Satsuki. "Tadinya kami ingin pesta sederhana di Tokyo saja, tapi orangtua Dai-chan ingin agar semua dilakukan di tanah kelahirannya di Okinawa. Keluarga kami sendiri yang memutuskan untuk turun tangan langsung menjadi wedding planner pesta." jemari kurus panjang dengan cekatan membalas e-mail baru yang tertera di layar. "Lagipula hanya kerabat atau kolega dekat saja yang akan kami bawa ke sana. Jumlahnya mungkin di bawah angka 30..."
"Kalian ini benar-benar nekat. Kenapa tidak menyewa wedding planner betulan saja?" saran Satsuki dengan nada heran.
"Justru karena kami ingin pesta yang private dan simpel. Tanpa sorot media, bahkan tanggalnya pun seolah masih rahasia, tidak kami sebar luaskan..." Ryota menghela napas. "Kebetulan juga, keluarga kami sangat antusias untuk mengerjakan semua persiapan pesta di sana. Apalagi kedua kakakku. Jangan ditanya bagaimana bersemangatnya mereka mengenai hal ini..."
"Aku bisa membayangkannya..." Satsuki tertawa mengingat bahwa dua kakak perempuan Ryota memiliki kepribadian bagai pinang dibelah dua dengan pemuda pirang itu. Ah, betapa asyiknya memiliki saudara...
"..."
Mendengar ketiga 'teman semasa sekolah' di depannya ini tengah bercakap-cakap dengan serius, membuat Tetsuya merasa bagai nyamuk pengganggu. Mata Tetsuya sejak tadi bolak-balik bagai bola ping-pong yang dioper tanpa ragu. Ia sungguh jadi ingin pulang saja tanpa permisi dulu.
'Kan...? Buat apa coba Ryota mengundang serta Tetsuya, jika ia hanya menjadi pendengar setia tanpa satu katapun keluar dari mulutnya, umh..., kecuali jika ditanya.
Untuk mengalihkan perhatian, Tetsuya kembali menyesap teh dalam cangkir di pegangan tangan. Melihat keintiman mereka, entah kenapa membuat hati Tetsuya mendadak digerogoti satu perasaan aneh tanpa bisa ia cegah.
Mungkin ia hanya tidak memahami situasi yang terjadi.
Atau bisa jadi, Tetsuya iri.
Huh. Tidak. Buat apa Tetsuya iri.
Rugi sekali.
"Naa, Kuroko-cchi, kau lebih suka mawar, lily, atau peony?" Ryota tiba-tiba bertanya dan langsung mendekatkan layar ponselnya ke arah Tetsuya.
Terkejut, Tetsuya menjawab. "Umm..." ia menatap gambar-gambar dalam ponsel Ryota dengan wajah sedikit bingung. Di hadapannya, Satsuki tampak menggeram gemas—ingin mencubiti kedua pipi begitu melihat aksi tanpa dosa Tetsuya. "... bagaimana kalau lily? Warna putih? Untuk momen sakral, kurasa itu bagus."
"Lily putih-ssu? Oke, check! Dai-chan juga pasti akan suka! Bagaimana Momo-cchi, bagus tidak?"
Satsuki tersenyum sendiri menatap antusiasme Ryota. "Bagus, aku juga suka...!"
Seijuuro berdeham menginterupsi sewaktu mereka malah sibuk berdiskusi. "Hei, kukira..., Tetsuya menyukai mawar... ternyata lily ya?"
"Huh?"
Tiga kepala menoleh bersamaan.
Mawar?
Uh, oh. Apa Seijuuro tengah menyinggung soal paket yang minggu lalu Tetsuya terima?
Tentang buket mawar dan kotak hadiah?
Pemuda manis itu sedikit salah tingkah. "Ah, itu... Aku... suka bunga apa saja, asal jangan bunga bangkai. Mawar juga oke." Tetsuya menjatuhkan tatapan mata pada kain berwarna pastel penutup meja. Jalinan serat di sana mendadak menarik perhatiannya. Atau bisa jadi hanya untuk menyembunyikan wajah yang dipenuhi semburat merah muda.
"..."
"... Ah, ahahaha..."
Tawa ringan Satsuki langsung terdengar begitu mendengar kalimat barusan, Ryota juga.
Tetsuya heran. Padahal ucapannya sama sekali tidak lucu.
"Hahaha, tidak akan ada yang tega memberi Kuroko-cchi bunga bangkai-ssu..." Ryota masih terkekeh geli. Ia ingin sekali menepuk-nepuk kepala Tetsuya yang kini memasang ekspresi bagai anak anjing terbuang di pinggir jalan. Tapi diurungkan. Lihat saja wajah penguasa neraka di depan Ryota. Sudah siap lempar tombak mata tiga saja dia.
Seijuuro ikut tersenyum melihat reaksi Tetsuya. Kalau begini, ia sudah tidak sanggup bertahan lagi. Misi tengah berjalan, dan ia adalah master dari permainan dengan titel 'mendapatkan hati Kuroko Tetsuya Si Target idaman.'
Sounds cheesy, huh?
"Kalau begitu, nanti tolong hubungi aku lagi, kalau sudah deal, ya? Jika jadwal kami sudah agak senggang, aku dan Dai-chan akan mulai mengurusi segala detil persiapan pesta. Untuk sekarang, maafkan aku karena membuat Akashi-cchi harus repot-repot menemuiku-ssu... Momo-cchi juga, terima kasih ya, sudah mau ke sini... walau singkat sekali." Ryota menghabiskan irisan cake terakhir di atas piring.
"Tidak masalah Ki-chan. Aku senang bisa bertemu lagi denganmu..."
"Setengah jam lagi akupun harus sudah ada di agensi. Aku berniat menyelesaikan kontrak-kontrakku lebih awal, agar dua bulan ke depan jadwalku agak lengang..." harum spray rambut dan foundation masih tercium samar dari tubuh Ryota. Ia sebenarnya baru kembali dari studio foto majalah Kosmopolite setelah sepagian tadi berkutat dalam pemotretan bakal edisi bulan depan. Tapi demi reuni sekilas dengan Satsuki, dan sebuah niat 'tidak suci' dari siapapun itu kau pasti tahu... Ryota terpaksa tega melibatkan Tetsuya segala. Tuhan! Ia sungguh jadi merasa berdosa!
"Oke. Sepertinya aku harus kembali. Imayoshi-senpai sebentar lagi sampai untuk menjemputku. Ia sudah di sekitaran blok dekat sini."
Tetsuya buru-buru menyambung ucapan Ryota. "Kalau begitu, aku juga akan pulang." setelah sejak tadi kembali diam saja, Tetsuya angkat bicara.
"Kenapa buru-buru sekali, Tetsuya?" Seijuuro menyela.
"Tidak apa. Ada sesuatu yang harus kulakukan." Ia diam sebentar. "Ya, itu saja alasannya kalau Seijuuro-san ingin bertanya lebih lanjut lagi." Tetsuya menyambar jaket hoodie abu-abu dari punggung kursi besi.
Alis Seijuuro terangkat sebelah—meski tak kentara—saat kalimat bernada final menjawab pertanyaannya.
"Eeh, Kuroko-cchi mau pulang-ssu? Bersama Akashi-cchi lagi tak apa?"
"Kali ini aku akan naik taxi saja." ia menutupi rambut biru mudanya dengan tudung hoodie.
Seijuuro menatapnya skeptis. "Tidak mau pulang bersamaku? Yakin, Tetsuya tidak apa-apa?"
Ditatap seperti itu, membuat bibir Tetsuya mengerucut. "Ya."
Seijuuro angkat bahu. "Oke. Kalau begitu, hati-hati."
(Eeh? Tidak ada pemaksaan lebih lanjut? Bukankah katanya perintah Akashi Seijuuro itu absolut tak terbantahkan? Kenapa kali ini...)
(Tidak. Tetsuya sama sekali tidak kecewa. Sungguh.)
"Ayo Satsuki..." ia meraih punggung kursi, memundurkannya, agar wanita berambut sewarna bunga cherry itu bisa keluar dengan leluasa. Dan bak seorang gentleman, Seijuuro bahkan membantu Satsuki memakaikan mantelnya.
"Oh, terima kasih, Sei-kun. Tapi aku belum mau pulang dulu. Bisa antarkan aku ke salah satu butik pakaian? Sebentar saja, tidak lama... aku tahu jadwal Sei-kun sesibuk apa..."
"Dan kau masih memintaku untuk mengantarmu ke sana? Satsuki, kau ini aneh sekali."
"Sebentar saja, ya...?"
Ryota menatap melodrama jadi-jadian di hadapannya ini dengan senyum miris. Akting Seijuuro benar-benar niat sekali dalam menjalankan misi. Patut diberi penghargaan bergengsi sebagai apresiasi. Lihat Tetsuya, meski minim ekspresi, tapi Ryota tahu kalau ia tengah berjuang menetralkan perasaan di hati.
Eh? Apa ini berarti, Tetsuya sudah mulai membuka hati untuk seorang Akashi?
Setelah Ryota membayar bill, kelompok kecil itu berjalan menuju pintu depan kafe. Gerimis masih turun, namun tidak sederas tadi. Payung-payung terkembang di sepanjang trotoar bagai jamur warna-warni dari negeri mimpi. Tetsuya akan menyetop taksi di bawah bagian kafe yang berkanopi. Ia mengeratkan tali tudung hoodie dan menetapkan hati.
"Seijuuro-san." ujarnya pelan, seraya membalikkan badan. "Terima kasih atas kiriman minggu lalu. Aku sangat menghargainya..." sangat pelan, hingga hampir terlewat dari kedua telinga Seijuuro.
Ujung-ujung bibir melengkung ke atas, Seijuuro berucap. "Terima kasih juga kalau Tetsuya menyukainya." meninggalkan tatap bingung Satsuki dan dehaman ringan Ryota.
"Kalau begitu. Terima kasih, dan sampai jumpa lagi semuanya..." jemari yang tersembunyi di balik lengan hoodie melambai lambat.
Ryota membalas lambaian Tetsuya, Satsuki tersenyum manis, dan Seijuuro masih memandanginya dengan penuh arti.
"Sampai jumpa lagi, Kuroko Tetsuya."
.
.
TBC...
1. Persimmon: buah kesemek-lah ya... biar keren... ^_^
2. Baby carrier: gendongan bayi yang mirip kangguru gitu
3. Blooming tea: teh yang kalo diseduh, bunganya mekar cantik dari bungkusan...
4. Cottage: semacam penginapan, tapi yang ini satu-satu kayak villa gitu
5. Kapel: gereja kecil
A/N: Aheuu, chapter depan kawinannya AoKise di Okinawa! (dan kayaknya ada rate-M mereka lagi nih, sebenarnya yang couple utama itu AkaKuro atau AoKise sih? -_- hahaha... *digunting) Terima kasih atas review-review kalian semua... maaf kalo chapter ini rada absurd en bosenin... Saya akan berusaha di chapter selanjutnya! See you en Ciao! *berguling
