Title: Rendezvous
Pair: AkaKuro, AoKise, MidoTaka, MuraHimu, slight!AkaMomo
Disclaimer: Tadatoshi Fujimaki, i gain no profit from this fiction
Warn: OC, OOC, typos, languages, Hybrid Cat!AU, M-preg, BL, AoKise hot scene—read at your own risk.
Note: Semua tempat dalam fik ini murni hanya karangan dengan ditambahi sedikit fakta.
.
Rendezvous 5: Seed of Jealousy (Part 2)
.
.
"Kise-kun, kenapa kau melakukan ini?"
Bulir-bulir keringat dingin menuruni tengkuk Ryota saat mata biru Tetsuya menatapnya tanpa berkedip. Ditambah todongan pertanyaan paling mematikan abad ini pula... Ryota ingin gali tanah saja, lalu mengubur diri di sana.
"A-apa maksudmu, Kuroko-cchi?" sebisa mungkin Ryota membuat suaranya terdengar netral di telinga tanpa tremor atau getaran lain yang dapat membuat makhluk mungil di hadapannya ini jadi curiga.
Tetsuya mendengus, ia merogoh saku mantel abu-abu dan menunjukkan layar ponselnya di depan dua mata Ryota. Beberapa penghuni agensi yang kebetulan sama-sama ada di ruang santai, menatap ingin tahu ke arah mereka.
/Mimpi indah, Tetsuya./
/Selamat pagi. Semoga harimu lancar dan menyenangkan.
"He-eh?" Mata Ryota mendadak juling sesaat begitu tersiram oleh cahaya terang dari layar ponsel pintar Tetsuya. Uh oh, Ryota sepertinya mengerti ke mana arah pembicaraan mereka akan bermuara. Pura-pura lupa saja ah, sampai terbongkar semua.
Dahi Tetsuya mengerut, bibir maju beberapa senti. "Kise-kun memberikan nomor ponselku pada Seijuuro-san, benar?"
Ryota mendadak ingin pingsan, padahal beberapa jam lagi ia harus bersiap untuk pemotretan.
"I-itu, anu..." mulutnya komat-kamit, membuka sebentar, kemudian menutup cepat selang beberapa detik. "Kalau itu..."
Oke, kalau boleh jujur, Ryota memang tersangka yang telah memberikan nomor ponsel Tetsuya pada Sang Jelmaan Raja Neraka. Tapi itu juga terpaksa! Bukan, bukan jenis terpaksa seperti di bawah todongan senjata atau hal-hal membahayakan nyawa. Tapi... hampir mirip semacam itulah... Ryota terpaksa mem-barter nomor ponsel si pemuda berambut biru muda demi mempermudah segala urusan menuju pelaminannya. Kalau kemarin ia tidak memberikan apa yang dimau oleh Seijuuro, maka penentuan lokasi juga jadwal penerbangan menuju Pulau Kume bakal jadi memakan waktu lebih lama dari perkiraan.
Sekali lagi, ia melakukannya karena terpaksa! Dasar Akashi-cchi, manusia dengan sejuta trik!
Air mata imajiner menuruni pipi, Ryota pasang tampang tersakiti. "Aku melakukannya karena berada di bawah tekanan, Kuroko-cchi!" suara Ryota bagai cicit tikus terjerat tali, hampir mati. "Kau tahu sendiri bagaimana sifat Akashi-cchi! Iya, 'kan?" diam-diam ia bersyukur dalam hati, sewaktu melihat wajah Tetsuya melunak tanda simpati.
Hela napas dilepas ke udara, Tetsuya hanya bisa pasrah. "Apa boleh buat..." keluhnya putus asa. "Tapi lain kali Kise-kun harus bilang dulu, karena ini menyangkut urusan pribadiku."
Ryota mengangguk kelewat bersemangat. "Maafkan aku, Kuroko-cchi... Sungguh..."
Tetsuya terdiam menatap sebaris kalimat yang tertera di layar ponsel. Mau dibalas apa, dia juga jadi bingung sendiri. Jelas sekali kalau Seijuuro kini mulai bersikap frontal terhadap Tetsuya. Kemarin dulu buket bunga juga paket hadiah—bahkan terkadang kiriman dari Akashi Seijuuro sering sekali sampai di apartemen mungilnya pada setiap akhir pekan. Entah itu hal kecil macam take away dinner atau buah tangan dari berbagai kota yang pria muda itu singgahi sewaktu melakukan bussiness trip.
Hampir tiga bulan, dan Tetsuya merasa ia belum cukup mengenal Seijuuro—itu jika mereka menginginkan hubungan yang lebih dari sekedar teman berbincang. Mereka masih asing, walau keduanya pernah merasa bahwa mereka seakan telah mengenal satu sama lain dalam waktu yang cukup lama.
Tetsuya sadar benar jika sikap Seijuuro selama ini menunjukkan ketertarikan padanya. Pria muda dengan aura mengintimidasi itu tengah gencar melakukan pendekatan terhadap dirinya. Oke, ia sangat sadar akan hal itu. Orang-orang mungkin mengira bahwa Tetsuya terlalu polos atau kurang peka terhadap keadaan sekitar, namun ia tidak terlalu bodoh juga ketika dihadapkan dengan seorang Akashi Seijuuro.
Ia bisa membaca situasi yang ada. Bahwa Seijuuro jelas-jelas sedang menjadikannya target afeksi akhir-akhir ini.
Apakah Seijuuro selalu begini jika ia berhadapan dengan targetnya? Apa ia selalu bersikap licin dan hati-hati demi mendapatkan apa yang ia mau? Apa Tetsuya diperlakukan sama seperti mereka?
(Memangnya siapa dia, hingga mendadak ingin diperlakukan berbeda dan istimewa dibanding partner-partner Seijuuro sebelumnya?)
Duh, kenapa Tetsuya malah kepikiran sih? Mau bagaimana dan seperti apa Seijuuro bertingkah, itu sama sekali bukan urusannya.
Tapi apa yang bisa Tetsuya perbuat, jika hatinya sedikit demi sedikit—ia malu mengakui ini—mulai terbuka untuk Seijuuro...
(Kenapa hatinya menunjukkan ketidaksukaan sewaktu ia melihat Seijuuro begitu akrab dengan Momoi Satsuki? Sampai-sampai Tetsuya mengorbankan harga diri dengan bertanya pada Ryota mengenai fakta hubungan mereka—yang otomatis langsung ditampik Sang Model pakai bonus senyuman penuh makna.)
Apa ini berarti..., Tetsuya juga merasakan hal serupa?
Bagaimana ini? Apa yang mesti Tetsuya lakukan?
Ia sibuk sendiri dengan pemikirannya, sampai-sampai tidak mengindahkan rajukan Ryota yang masih saja membuat polusi suara di sekitar mereka.
Kaku, jemari Tetsuya mengetik rangkaian kata-kata sejauh ia bisa.
/Terima kasih, Seijuuro-san. Semoga harimu menyenangkan juga. Ps: jangan gunakan kekerasan untuk mengancam Kise-kun demi kepentinganmu semata, itu masuk tindakan kriminal./
Ponsel digenggam, tanpa berharap mendapat balasan, pikiran Tetsuya dipenuhi berbagai kemungkinan yang akan menimpanya begitu pesan teks terkirim tanpa kendala.
Biar saja, itu urusan nanti.
Semburat merah muda memenuhi kedua pipi, jantungnya tiba-tiba berdebar tidak terkendali.
Tetsuya mendadak jadi malu pada diri sendiri.
.
.
Janji makan malam dibuat dua minggu setelah nomor ponsel bertukar paksa. Itu juga sesudah aksi tolak-menolak dan mengulur waktu dari Tetsuya.
Jual mahal juga dia rupanya...
Kebetulan Seijuuro sedang tidak banyak pekerjaan di akhir pekan—terima kasih atas campur tangan Masaomi, Sang Ayah tercinta. Dan dari Ryota ia mengetahui bahwa jadwal Tetsuya hanya sampai Jumat petang pada hari ini.
Jadilah Seijuuro datang untuk menagih janji.
(Ingatkan Tetsuya untuk mengonfrontasi Ryota, karena Si Pirang bertingkah bagai 'mak comblang' terhadap ia dan Seijuuro. Memangnya mereka sedang ada di acara cari jodoh apa?)
Baru Tetsuya melangkah keluar dari gedung majalah Ellie Girl bersama seorang rekan dan manajernya, ia langsung mengenali Audi hitam milik Seijuuro terpakir tak jauh dari mobil agensi. Tetsuya memang sempat memberitahu Seijuuro pukul berapa jadwalnya beres, dan tak disangka pria muda itu ternyata sudah menunggu di sana.
Pintu kemudi mobil terbuka, sosok berambut merah itu muncul bak pangeran berkuda menjemput tuan putri yang terkurung di menara. Well, seperti yang kalian lihat, Tetsuya bukan putri, oke... Namun boleh dikatakan jika ia memang sudah terkurung sedari pagi dalam kegiatan harian agensi.
Dan Seijuuro bisa jadi merupakan pangeran berzirah besi yang datang untuk menyelamatkannya dari rasa suntuk sepanjang hari.
"Eh, aku seperti mengenal orang itu..." Shoichi menyipitkan mata saat melihat Seijuuro berjalan mendekat ke arah kelompok kecil mereka.
Fukui Kensuke berhenti membuka pintu tengah mini van, sewaktu Shoichi selaku manajer mereka, menatap pada seseorang dalam area parkir yang sama. Pria itu memiliki tinggi standar laki-laki Jepang kebanyakan, berambut sewarna merahnya peony, ditambah aura intimidasi melebihi dosis manusia asli. Baru sekali ini Kensuke bertemu dengan makhluk bumi macam begini.
"Manajer, kau mengenalnya?" Kensuke bertanya pelan pada Shoichi. Kalau memang ingin berbasa-basi, Kensuke benar-benar sudah malas sekali. Ia ingin mandi untuk melepaskan diri dari kungkungan make-up dan daki, lalu bertemu dengan ranjang empuk yang sudah mendapat julukan Sang pujaan hati.
"Selamat malam minna-san..." suaranya terdengar dalam: seduktif, persuasif, juga adiktif. Serupa lelehan coklat yang menggoda dan tidak bisa berhenti kau cicip, meski sudah berusaha untuk bersikap arif.
Sambungan memori Shoichi bersinergi, ia tentu saja ingat pria muda ini. "Oh, Akashi-san? Selamat malam..." sepertinya ia mengerti apa arti kehadiran Seijuuro di sini. Pasti berhubungan dengan salah satu artis di bawah tanggungannya yang kelewat manis bak penyebab lubang di gigi.
"Maafkan aku sebelumnya, tapi bisakah aku 'meminjam' Tetsuya sebentar?" Seijuuro mengalihkan pandangan pada sosok paling mungil yang berdiri di antara Kensuke dan Shoichi. "Kami kebetulan sudah membuat janji."
Tetsuya merutuk dalam hati. Itu 'kan hanya janji sepihak karena ia terus menerus diteror tanpa henti. Kalau tidak dipenuhi, mungkin Seijuuro bakal terus menghantui walaupun Tetsuya sudah mati.
Shoichi mengulas senyum maklum. "Baiklah." Ia memasang jeda. "Kalau begitu tolong jaga Kuroko-kun untuk kami..." ia menatap bergantian pada keduanya. "... dan kembalikan ia seperti keadaan semula." Kalimatnya bernada final, Shoichi tidak menerima argumen dalam bentuk apapun.
Tanpa ragu, Seijuuro membalas. "Tentu."
"Nah, Kuroko-kun... pergilah..." Shoichi menganggukkan kepala.
Kensuke yang sedari tadi hanya diam memperhatikan, angkat bicara. "Eeh? Tidak apa-apa ini...?" Yang benar saja, apa manajer mereka tega meninggalkan Tetsuya sendirian bersama serigala berbulu domba? Baru pertama bertemu saja, Kensuke sudah punya perasaan negatif terhadapnya.
Shoichi menepuk pundak Kensuke. "Tidak apa-apa. Percaya padaku."
Tetsuya membungkuk sekilas pada dua orang di depannya. "Aku permisi dulu, sampai jumpa Fukui-san, Imayoshi-san..."
"Ya, hati-hati, Kuroko-kun..."
Tetsuya menundukkan kepala—gestur formal, sewaktu matanya dan Seijuuro bertemu.
"Kalau begitu, akupun permisi Imayoshi-san..." Seijuuro undur diri. "Sampai bertemu lagi."
Mobil hitam berjenis sedan itu melaju mulus meninggalkan area parkir, sewaktu Tetsuya dan Seijuuro sudah ada di dalamnya. Kensuke masih memperhatikan kepergian Tetsuya, bahkan saat mereka sudah menghilang pada tikungan dan menembus keramaian jalanan Tokyo di akhir pekan.
"Tidak usah khawatir, Fukui-kun." Imayoshi berseru setelah ia duduk nyaman di sebelah supir agensi.
Kensuke tersadar dari rasa penasaran dan berbagai macam pemikiran. Kalau Imayoshi Shoichi sudah berkata begitu, maka tidak ada pilihan lain bagi Kensuke selain percaya saja pada ucapannya.
"Aku percaya pada Akashi-san." Shoichi sempat adu pandang dengan Kensuke sewaktu ia membalik badan. "Ketulusan jelas terbaca di matanya saat ia menatap Kuroko-kun." Kacamata dinaikkan mendaki batang hidung, Shoichi meminta agar supir mengantarkan mereka dengan selamat sampai pada tujuan.
.
Saat ditanya sedang mengidam ingin makan malam apa, Tetsuya langsung menjawab: pasta. Jawaban yang secepat kilat memang, hingga membuat Seijuuro terkekeh atas antusiasme si rambut biru muda. Sejak siang tadi Tetsuya sudah sangat berniat akan membuat spaghetti dengan siraman saus daging instan—hasil berburu di mini market—begitu sampai di apartemen. Itu niat awalnya, sebelum ia teringat akan rencana makan malam mereka.
Seijuuro mengatakan bahwa ia mempunyai restoran Italia favorit di daerah Akasaka. Bukan restoran berbintang, hanya sebuah restoran kecil namun dengan cita rasa otentik negara asalnya.
Tetsuya hanya mengangguk ringan sebagai tanda sepakat. Perut yang keroncongan terkadang mengalahkan rasionalitas, sehingga ia langsung saja mengiyakan usulan Seijuuro.
Namun keberuntungan sepertinya sedang berpihak pada perut Tetsuya yang menuntut minta diisi. Seijuuro benar-benar menepati janji untuk membuat Tetsuya merasakan cita rasa murni milik negara bekas pimpinan Sang Diktator fasis Benito Mussolini.
Terra adalah sebuah restoran mungil dan tersembunyi di antara jajaran bakery dan kafe di ujung Akasaka Misuji-Dori. Pemiliknya sepasang suami-istri paruh baya. Sang Suami merupakan ex-patriat Italia yang berprofesi sebagai koki dan telah berganti kewarganegaraan setelah menikahi seorang wanita Jepang. Mereka sepakat untuk mendirikan tempat makan yang hommie dan kebetulan hanya mampu menampung 15 orang dalam ruang jamuannya.
Dan setelah pembicaraan singkat lewat telepon sewaktu mereka berkendara, antara Seijuuro dengan—mungkin—Sang Owner, keduanya kini bisa duduk nyaman dalam ruang hangat Terra.
Harum rempah, krim, dan keju eropa yang menggelitik hidung, membuat Tetsuya dengan susah payah menahan letupan liar dari kelenjar liurnya. Ah, padahal menu utama makan malam mereka belum tersaji di meja, tapi Tetsuya sudah tidak sabar ingin mencoba.
Seijuuro sengaja memilih sudut restoran yang agak terisolasi dari keramaian dan kebetulan jarang dilewati pengunjung. Sebuah meja kayu bundar sederhana tertutupi kain linen berwarna zaitun muda, menjadi jarak pemisah antara dirinya dan Tetsuya. Interior klasik dengan dinding terakota berwarna tembaga juga pigura-pigura kayu berornamen rumit yang disusun asimetris, sungguh memikat mata.
Botol anggur sudah dibuka, namun Tetsuya lebih memilih air mineral untuk mengisi gelas berkaki tinggi miliknya. Alasannya sederhana, tubuh Tetsuya paling tidak bisa berempati jika ia mengonsumsi alkohol dalam jumlah tinggi, meskipun sudah coba untuk dibatasi.
Tetsuya hanya tidak mau terlihat 'payah' pada kencan pertama mereka.
(Tunggu, apa tadi ia baru saja mengatakan kencan pertama?!)
Kehadiran pramusaji wanita membuyarkan pemikiran Tetsuya dari hal-hal absurd dalam otaknya. Pramusaji itu menghidangkan menu pembuka selagi pesanan utama dibuat. Ada keranjang mungil berisi garlic bruschetta, piring dengan potongan mini mozarella, dua potong quiche(1) bayam, dan udang rebus yang disajikan bersama saus.
"Katakan Tetsuya, apa kau akan menghadiri pernikahan Ryota?" Seijuuro bertanya sebelum garpu dengan potongan quiche memasuki mulutnya.
Tetsuya yang masih mengagumi rasa manis gurih dari udang rebus di ujung garpu, segera menjawab pertanyaan Seijuuro. "Semoga saja aku bisa."
Desisan samar mentega yang meleleh di atas penggorengan datar terdengar dari dapur terbuka tak jauh dari meja mereka, mengisi sejenak sunyi verbal di antara keduanya.
"Kise-kun adalah senior yang baik. Aku berharap ia selalu bahagia." Tetsuya beralih untuk mencicipi sedikit quiche di atas piring.
"Ya." Seijuuro meraih gelas anggur, lalu memperhatikan bagaimana Tetsuya dengan serius memotong pastry bayam itu menjadi bagian-bagian kecil. "Akupun selalu mengharapkan kebahagiaan bagi orang-orang yang kukenal. Termasuk mereka." Seijuuro menghela napas. "Kurasa hanya aku yang tertinggal di sini."
Alis Tetsuya terangkat. Dan sampai menu utama hadir di atas meja, gantian Seijuuro menceritakan semua. Mengenai lingkaran pertemanan mereka sewaktu sekolah tingkat pertama, sampai pada Sang Ayah yang merupakan keluarga satu-satunya.
Entahlah. Sama seperti Tetsuya dulu, ia kini malah ganti menceritakan kisah hidupnya seakan mereka tengah berbincang mengenai cuaca di luar sana.
"Jadi... hanya tinggal Seijuuro-san saja yang belum berkomitmen di antara mereka, begitu?" Tetsuya menarik kesimpulan. Sepasang mata biru menatap langsung pada mata Seijuuro, seakan mencoba untuk mencari jawaban di sana. "Apa Seijuro-san iri?" garpu diputar mengikuti lekuk mie khas Italia dengan siraman saus krim ayam jamur di atas piring lebar.
Senyum misterius terukir. Spaghetti yang dimasak ala seafood, ditusuk dari piringnya sendiri dengan ujung garpu perak milik Seijuuro. "Apa Tetsuya berpikir kalau aku begitu?"
Tetsuya mengangkat bahu. "Mungkin tidak. Kupikir Seijuuro-san adalah tipe manusia bebas dan selalu mengikuti kata hatimu sendiri. Kau tidak terlalu terbebani dengan hal-hal semacam ini."
Seijuuro hampir tersedak mendengar kalimat Tetsuya. "Hipotesismu nyaris benar. Aku memang tidak terlalu suka jika orang lain mencampuri urusan pribadiku." daging kerang hijau dipisahkan dari cangkang, lalu dikunyah perlahan. Aroma basil dan oregano semerbak memenuhi udara. "Tapi kupikir, aku akan mulai membuka hati atas nasehat orang-orang baik di sekitarku. Bagaimana menurutmu?"
Tetsuya berhenti mengunyah. "Itu... bagus." Respon singkat ia berikan, lalu kembali fokus menggulung helai-helai spaghetti di atas piring.
Seijuuro diam-diam menikmati ekspresi Tetsuya di sela obrolan mereka. Bagaimana mata serupa langit cerah itu membuka lebar dengan begitu adorable sewaktu indra pengecapnya dibanjiri sensasi berjuta rasa dari menu spaghetti andalan Terra.
Baru kali ini Tetsuya melahap pasta dengan taste terbaik seumur hidupnya, sampai-sampai ia tidak sadar ada noda krim menempel pada pipi kiri.
Tetsuya tidak sempat melihat sewaktu Seijuuro mendadak mencondongkan tubuh. Ia juga tidak sempat menahan sentakan kaget setara sengatan listrik sewaktu ibu jari Seijuuro tiba-tiba saja sudah membuat usapan lembut mulai dari pipi hingga sudut bibir Tetsuya.
Mata mereka beradu, keramaian restoran mendadak bisu. Jantung Tetsuya bagai dibawa berpacu melintasi waktu. Tatap Seijuuro masih hangat, sama seperti sewaktu kali pertama mereka bertemu.
"Tetsuya, kurasa aku..."
Tetsuya berjengit mendengar nada bicara Seijuuro. Ia mengalihkan pandang demi menyembunyikan semburat malu yang kini mulai merambati wajah hingga dua telinga.
Seijuuro-pun segera berhenti sewaktu mendapati reaksi 'menolak' dari Tetsuya. Ia menghela napas pendek. "Maaf... Aku hanya membantumu menghilangkan noda. Kau makan seperti anak kecil saja." sifat usil muncul ke permukaan, ibu jari dijilat lidah merah muda. Seringai Seijuuro melebar ketika mendapati wajah Tetsuya semakin ranum bagai udang bertemu percikan bara.
"Te... rima kasih..." terbata ia mengucap balas jasa.
"Tidak masalah."
Dan makan malam yang sempat terlupa diteruskan kembali walau dengan atmosfer yang sedikit berbeda.
.
.
Bandara Naha bisa dikatakan lebih hangat bersahabat dibanding Narita. Mungkin ini akibat perbedaan kawasan iklim, walaupun keduanya masih ada dalam satu negara.
Rombongan rekan agensi Ryota berangkat bersama pada hari-H dari Tokyo menuju Okinawa, menggunakan tiket penerbangan yang sudah diberikan. Rencananya mereka akan sampai Kume pada saat makan siang. Setelah beristirahat cukup, mereka akan menghadiri upacara pernikahan yang akan dilakukan sore harinya di sebuah kapel kecil tak jauh dari tempat mereka menginap. Kini mereka sedang menunggu keberangkatan dari bandara Naha menuju bandara Kumejima dengan pesawat perintis komersil milik Komuter Udara Ryukyu.
Tidak semua hadir, hanya beberapa teman dekat yang memang sengaja diundang ke sana—itupun jika mereka bisa datang. Untuk yang lain, Ryota berjanji akan mengadakan resepsi tambahan di Tokyo setelahnya.
"Ke mana Moriyama-san?" Taiga bertanya begitu sosok senpai 'tebar pesona' itu tidak ada dalam radius pandangan mata. Ia baru kembali dari salah satu kafe bandara untuk membeli empat gelas es kopi. Masing-masing untuk dirinya, Yukio, Tetsuya, dan Yoshitaka.
"Mungkin ke salah satu duty free, beli parfum. Siapa tahu ada pribumi Kume tampan—cetakan Aomine-kun—tiba-tiba terpelet olehnya setelah menyemprotkan parfum di sana-sini..." Tetsuya mengalihkan tatap dari layar ponsel, sebelah earphone terpasang dengan volume rendah di telinga kiri. Suara khas Amuro Namie membawakan lagu lawas Wishing on The Same Star mengalun lembut dari sana. "Tadi sih, Moriyama-san bilang begitu..." lanjut Tetsuya seraya menerima sebuah gelas karton dari tangan Taiga, tak lupa menggumamkan terima kasih pada lelaki itu.
Kekeh keras Taiga terdengar setelah mendengar penjelasan Tetsuya. "Oh, kukira dia balik lagi ke Tokyo, karena tidak rela Kise-san menikah duluan." Ia lalu mulai menyeruput es kopinya sendiri, setelah meletakkan gelas karton lain di hadapan Yukio dan satu lagi disisakan untuk Yoshitaka. Well... itu mungkin saja terjadi, karena sejak tadi mulut Yoshitaka seakan tidak dapat berhenti membicarakan hal seputar Ryota, Daiki, juga pernikahan—tambahkan komentar-komentar getir di setiap nada bicaranya, sungguh ironi.
"Tidak." Tetsuya menggeleng. "Itu, tas Moriyama-san masih ditinggal."
"Oh."
Taiga memilih duduk pada kursi panjang di sebelah Yukio. Ponsel—selaku alat jitu favorit umat manusia untuk mengusir suntuk selama menunggu, sudah siap sedia di tangan.
"Kita termasuk kloter terakhir, ya? Apa masih akan menunggu orang lagi?" Yukio akhirnya angkat bicara setelah sejak tadi jemarinya sibuk menjamah layar ponsel dengan wajah serius.
Tetsuya berdeham. Ia ingat bahwa penerbangan rombongan dibagi menjadi dua sesi. Kemarin dan hari ini. Tetsuya tidak bisa ikut penerbangan kloter pertama, di mana Ryota, Daiki, juga keluarga besar dan beberapa sahabat dekat mereka berangkat bersama. "Masih satu jam sebelum take-off, kurasa akan ada beberapa orang lagi yang akan bergabung bersama kita..." ia ikut menyesap es kopi dari dalam gelas karton. Minuman keluaran brand ini menurutnya kelewat manis overdosis dengan selapis rasa pahit menyelinap di sela-sela indra pengecap. Mata biru Tetsuya menatap pada kuantitas manusia dalam terminal keberangkatan yang sama dengannya. Lima turis mancanegara dengan ras kaukasia sibuk bercengkrama dalam bahasa ibu mereka. Tiga turis domestik melakukan kegiatan serupa Tetsuya, mendengarkan musik sambil berselancar dalam dunia maya memanfaatkan wifi bandara.
Keramaian yang muncul dari arah pintu terminal, mendadak menarik perhatian semua orang dalam boarding room.
Kepala Tetsuya menoleh cepat sewaktu beberapa orang secara bersamaan memasuki boarding room terminal 3F penerbangan domestik Naha. Hampir ia tersedak saat mendapati sosok Seijuuro ada di antara mereka, lengkap dengan boarding pass di tangan. Senyum samar tidak lepas dari bibir lelaki yang entah kenapa kini sering sekali mengisi hari-hari Tetsuya.
Baru ia berharap ingin ditatap oleh sepasang mata sewarna rubi setelah tiga minggu tidak bertemu, Tetsuya terpaksa harus menahan keinginan itu saat melihat Momoi Satsuki berjalan santai di sebelah Seijuuro.
Oke Tetsuya, mereka hanya jalan beriringan biasa. Bukan jalan menuju altar juga. Kenapa kau mesti bersiaga?
"Ah, itu Akashi-san..." Yukio berdiri untuk menyambut sosok yang ia kenal. Taiga mengikuti gerakan seniornya tersebut.
Selain Seijuuro dan Satsuki, ada setengah lusin orang berjalan lambat di belakang mereka.
Terdapat pasangan Shintaro dan Kazunari selaku sahabat Ryota dan Daiki. Ada juga Wakamatsu Kosuke, Hyuuga Junpei, Aida Riko, dan Kiyoshi Teppei yang merupakan rekan dekat Daiki di firma hukum tempatnya bekerja.
"Ah, selamat pagi menjelang siang, minna-saaan..." Kazunari menunduk sopan, setelah melirik jam besar di dinding ruangan. Pukul sepuluh pagi. Tanggung sekali jika dibilang pagi ataupun siang.
Yukio dan Taiga menjabat tangan Seijuuro, karena mereka pernah saling mengenal sebelumnya.
Setelah mengucapkan salam dan berkenalan singkat, mereka berbincang ringan. Dari Seijuuro, Tetsuya mendapat informasi bahwa Shintaro merupakan salah satu teman dalam lingkaran pertemanan absurdnya bersama Daiki, Ryota, dan Atsushi. Shintaro adalah yang kedua mengikat diri bersama Kazunari, tidak lama setelah Atsushi menikahi Himuro Tatsuya.
(Dan Tetsuya dapat mengerti—walau Seijuuro mengatakan bahwa ia tidak peduli—pada kenyataannya Tetsuya yakin sekali jika jauh dalam hati, Seijuuro juga ingin meraih hal yang sama seperti teman-temannya kini.)
"Pernikahan ternyata mampu mendekatkan orang-orang yang bahkan baru mengenal ya..." Kazunari tertawa lebar begitu selesai dengan basa-basi perkenalan formal. Ia yang mengenali Tetsuya dan Taiga lewat televisi, langsung tanpa malu-malu meminta mereka selfie bersama. Shintaro berulang kali harus menghardik pasangannya agar bersikap sopan dan mawas diri. Untung mereka tidak membawa serta Momiji, jika iya, bisa dipastikan Shintaro bakalan sibuk seorang diri.
Setelah itu, Tetsuya hanya memperhatikan situasi seraya duduk menyendiri.
"Kau terlihat sehat."
Tetsuya mengangguk dan membiarkan Seijuuro duduk di sampingnya.
"Apa Seijuuro-san dan Momoi-san datang bersama dari Tokyo?" hidung Tetsuya dengan leluasa menghirup harum cedarwood dari blazer biru tua milik Seijuuro.
Seijuuro tersenyum simpul. "Kenapa? Apa Tetsuya tidak suka jika aku datang bersama Satsuki?"
"Aku tidak cemburu."
"Siapa yang mengatakan bahwa kau cemburu?"
Skakmat.
Dahi Tetsuya mengerut. Dia baru sadar kalau sudah salah bicara. Buru-buru ia mengoreksi ucapannya. "Maksudku—"
"Tidak. Kami datang masing-masing. Kau tidak perlu khawatir..."
Dan Tetsuya mesti menahan hasrat untuk tidak melayangkan tinjunya demi menghapus senyum menyebalkan itu dari wajah Seijuuro.
.
.
Kapel St. Andrews terletak di tebing Hiyajo yang menjorok ke arah laut lepas bagian barat Pulau Kume. Posisinya idak begitu jauh dari resort tempat menginap. Kapel mungil tersebut dibangun oleh orang-orang Amerika sewaktu mereka menjadikan Okinawa sebagai basis pertahanan militer pada Perang Dunia II. Hanya perlu menempuh jarak 300 meter dengan berjalan kaki melewati jalan setapak berbatu koral halus dengan alur menanjak untuk sampai ke sana. Terdengar melelahkan memang, namun ternyata sama sekali tidak butuh banyak energi jika hal ini dilakukan bersama-sama seraya bercengkrama. Mendadak mereka sudah ada di atas tanpa terasa, dengan pemandangan paling spektakuler yang pernah mereka saksikan sepanjang masa.
Kapel kecil dengan interior sederhana itu terasa begitu sureal begitu senja tiba. Semua terjadi saat semburat jingga matahari bercampur lembayung merah muda dan ungu lembut yang menyirami dinding-dinding batu batanya dari arah barat. Menciptakan pemandangan tidak biasa layaknya latar indah dalam buku dongeng pengantar tidur.
Dentang lonceng tembaga pada menara kapel menggema riuh ke seluruh pelosok barat pulau, diiringi debur ombak yang berlomba memecah karang di bawah tebing. Rangkaian lily putih membentuk lengkungan di atas pintu kayu yang terbuka, tempat di mana Ryota dan Daiki kini berdiri dengan senyum bagai orang paling berbahagia di muka bumi, setelah mereka mengucap sumpah sehidup semati.
Tuksedo putih bersih membalut elegan tubuh mereka, lengkap dengan mawar pada masing-masing saku jas. Kedua orangtua berdiri bersisian, para ayah dengan setelan jas hitam sedang para ibu mengenakan kurotomesode(2). Kedua kakak perempuan Ryota sibuk membidik momen dengan kamera, sementara para suami malah terlihat repot mengawasi anak-anak berusia lima tahunan yang entah kenapa menjadi sangat hiperaktif saat berada di keramaian pesta.
Daiki menyudahi ciuman mereka dengan gigitan lembut pada bibir bawah Ryota. Audiens bersorak heboh ditambahi siulan-siulan menggoda, sementara blitz kamera tidak berhenti menembak dari berbagai arah. Tetsuya juga diam-diam mengambil gambar dengan dslr kesayangan yang terkalung manis di leher. Tempat ini sungguh luar biasa, Tetsuya dibuat kagum sampai tidak sanggup berkata-kata.
"Kau suka dengan latarnya, Tetsuya?" bisikan pelan bersama embusan napas ringan, tepat mengenai daun telinga. Tengkuk Tetsuya meremang seketika. Ia menoleh sambil menyentuh telinganya yang kelewat sensitif dan mendapati wajah tampan Seijuuro di sana. Setelan jas hitam resmi membuat pria bermarga Akashi itu layak mendapat predikat calon suami ideal yang harus dikenalkan pada para orangtua. Ia jadi berkali-kali lipat lebih tampan dan berwibawa tanpa cela.
Huh, ayolah... kendalikan dirimu, Tetsuya...
Pemuda yang ditanya, mengangguk dengan wajah merona setelah telinga sensitif mendapat tindakan asusila. "Ya." Katanya pelan. Ia lalu menatap pasangan Daiki dan Ryota di depan pintu kapel. Senyuman tidak pernah lepas dari bibir mereka. Tetsuya jadi ikut merasa berbahagia.
Seijuuro menyeringai, tidak sedikitpun ia melepaskan tatapan dari wajah manis yang terus saja mendatangi bunga tidurnya belakangan ini. "Apa kau sedang membayangkan ada dalam posisi mereka?" ia bertanya lagi, tanpa rasa canggung menyelimuti.
Jantung Tetsuya serasa melompat begitu pertanyaan Seijuuro terlontar. "A-aku tidak..." walau tetap berekspresi sedatar papan kayu, bibir merah muda milik Tetsuya langsung mengerucut lucu—dan itu membutuhkan berlapis-lapis ketahanan diri bagi seorang Akashi Seijuuro untuk tidak menundukkan wajah dan mencuri satu kecupan dari situ. "Aku tidak sedang membayangkan apapun—"
Sebuah tepuk tangan singkat, mengalihkan perhatian mereka berdua.
Tangan kanan digandeng Daiki dengan mesra, Ryota tertawa ceria seraya mengangkat tinggi-tinggi buket bunga dalam pegangan tangan lainnya. "Lempar buket bunga!" ia berseru, lalu menunjukkan karangan mawar, lily, dan baby's breath yang dililit apik oleh pita berwarna senada jas mereka.
Kise Haruna dan Kise Yuuka menjerit tertahan—dan reaksi mereka langsung mendapat tatap datar dari para suami. Apa keduanya tidak sadar kalau mereka sudah tidak pantas ikut acara lempar buket bunga? Apalagi anakpun sudah punya... Hhhh... Memangnya mereka mau menikah lagi, apa?
Satsuki dan Riko selaku wanita dengan status lajang, terlihat tidak mau kalah dari kedua kakak perempuan Ryota. Para hadirin yang tersisa hanya sanggup geleng-geleng kepala melihat tingkah laku para wanita muda.
"Siap, ya?" buket diayun Ryota, rangkaian bunga itu kemudian melambung lambat ke udara dalam gerakan parabola.
Teriakan histeris terdengar, para wanita muda beraksi bagai suku bar-bar kelaparan berebut jatah makanan. Kedua kakak Ryota gagal, sewaktu mereka malah tidak sengaja malah bertabrakan dalam gerakan slow motion dan berakhir dengan kening beradu. Riko berhasil menjangkau buket bunga setelah setengah mati melompat dengan sepasang wedges berhak lima senti terpasang di kaki. Namun ia tidak sadar saat ada tangan lain tiba-tiba menepuk buket bunga yang hampir ia dapatkan. Menggeram bak predator yang daerah teritorinya dimasuki paksa oleh pihak lain, Riko tanpa sadar menyumpah saat melihat Satsuki sudah ada di belakangnya dengan senyum tanpa dosa.
"Ups maaf, aku tidak sengaja, Aida-san!"
"Mo-mo-i-saaan...!"
Rekan-rekan kerja Riko hanya sanggup mengusap wajah menyaksikan kelakuan wanita itu—termasuk Daiki. Ia tidak menyangka jika tingkah seniornya ternyata lebih 'gawat' saat berada di luar ketimbang sewaktu ada di kantor. Julukan 'Iron Fist Lady' saat berada di ruang sidang, benar-benar terbukti sekarang.
Saat para wanita heboh sendiri oleh ulah mereka, buket bunga yang melayang tak tentu arah dan sempat terlupa, mendadak jatuh mulus dalam dekapan tangan seorang pemuda berambut biru muda.
Kazunari yang cepat tanggap, segera membuat siulan nyaring. "Yak! Sudah selesai! Kuroko-san mendapatkan buket bunganya!"
"Heee?"
Seruan kecewa membahana. Tetsuya yang masih dibuat sedikit bingung oleh situasi, hanya bisa menunduk seraya mengucapkan kata maaf kepada para kaum hawa. Buket bunga serba putih digenggam, ia berniat memberikannya untuk Satsuki atau Riko, namun ditolak oleh yang bersangkutan.
"Kuroko-kun berhak mendapatkannya. Itu sudah menjadi milikmu" Kata Riko bijaksana, walau terselip sedikit nada menyesal di sana.
Satsuki terkekeh mendengar kalimat Riko, namun tiba-tiba ia menunjuk ke arah Tetsuya. "Apa ini berarti Kuroko-kun akan menyusul Ki-chan dan Dai-chan untuk segera menikah?!"
Mata biru Tetsuya mengerjap, masih menggenggam buket bunga dalam balutan setelan jas hitam formal serupa tamu pria lainnya. Ia baru menyadari jika hanya ada mereka berdua yang berdiri di sisi tenggara pintu kapel, ketika menyambut Daiki dan Ryota keluar dari dalam bangunan. Bersebelahan, hampir tanpa jarak—karena Seijuuro memilih untuk melangkah mendekat pada Tetsuya.
Perlahan, mata biru milik Tetsuya mencuri tatap pada Seijuuro. Tiupan ringan angin selatan mengurai helai-helai rambut, sewaktu Tetsuya sadar jika perhatian semua orang mengarah pada mereka.
"Aka-chin dan Kuro-chin mirip sepasang pengantin, ya?" gurauan Atsushi mendapat tepukan pelan dari Tatsuya.
Shintaro berdeham seraya menaikkan frame kacamata yang menuruni batang hidungnya. "Ehem, kenapa... mereka terlihat begitu serasi-nodayo...?"
Mendengar ucapan pria berkacamata itu, Kazunari langsung menempelkan pipi pada lengan Shintaro. "Benar sekali, Shin-chan... mereka terlihat saling..." otaknya berputar untuk mencari padanan kata yang tepat. "...melengkapi."
.
.
Pesta dilanjutkan malam harinya dengan mengambil tempat pada lounge di dekat kolam renang besar berbentuk persegi panjang. Setelah kenyang mengisi perut dengan berbagai hidangan lezat, para orangtua undur diri dari kerumunan jiwa-jiwa muda untuk beristirahat—besok mereka berencana akan menghabiskan waktu seharian di padang golf milik resort. Kedua kakak Ryota dan iparnya pun terpaksa permisi karena mesti mengurusi para buah hati yang mendadak rewel setelah pesta tadi sore.
Malam semakin larut dan tebaran bintang semakin berpendar terang pada langit hitam di atas mereka. Satu persatu peserta pesta mulai mengundurkan diri untuk beristirahat, termasuk Daiki dan Ryota—oke pasangan pengantin memang perlu waktu untuk berdua saja.
Denging serangga ditambah debur ombak di kejauhan menjadi latar terbaik di sela manis koktail dalam gelas yang terhidang. Rasa lelah berkuasa, suasana ceria pesta terpaksa harus berakhir juga.
"Bagaimana kalau besok kita berkeliling pulau?" Seijuuro berbisik pada Tetsuya sewaktu mereka berjalan beriringan menuju cottage masing-masing. Suara tawa Junpei dan Taiga terdengar kencang di antara perbincangan kelompok kecil setengah mabuk yang berjalan di depan mereka.
Tetsuya tampak berpikir. Semua orang besok merencanakan akan menghabiskan sisa waktu di sini dengan bersenang-senang. Beberapa orang merencanakan akan menyelam, beberapa lagi akan menghabiskan hari di padang golf. Ada yang mencoba naik kayak(3) hingga ke pulau terdekat, ada juga yang memilih spa seharian, atau bahkan hanya bersantai di atas pasir putih pantai dengan perlindungan sunglass dan sunblock.
Berkeliling pulau sepertinya terdengar seru.
Pelan, nyaris tidak terlihat, Tetsuya mengangguk setuju.
Seijuuro tersenyum puas setelah mendapat apa yang ia mau. "Anggap saja ini ajakan kencan kedua dariku..."
.
.
Padahal mereka sudah sering melakukan ini. Namun entah kenapa untuk sekarang, Ryota merasa gugup setengah mati.
Jemari ramping menyeka helai-helai rambut pirang ke belakang telinga. Cermin besar di hadapan, menampilkan sosok model sempurna Kise Ryota. Lagi-lagi ia mematut diri, memperhatikan detil tubuh hingga nyaris berulang kali.
"Tenang, Ryota. Jangan bertingkah bagai virgin suci..., dia hanya Dai-chan, demi Tuhan! Bukan bos yakuza atau dewa neraka!" Ryota berbisik histeris dengan wajah merah padam. Baru kali ini ia mengalami mental breakdown saat menghadapi Daiki. Ini memang bukan lagi yang pertama bagi mereka, tapi karena mereka sudah resmi mengikat diri, embel-embel malam pertama-pun kembali menghantui.
Setelah memantapkan hati dan memakai parfum sekali lagi, Ryota akhirnya memberanikan diri keluar dari kamar mandi.
Di atas ranjang besar, Daiki duduk seraya memperhatikan ponsel dalam genggaman. "Kukira kau pingsan di toilet. Lama sekali..." Ia menatap Ryota setelah meletakkan gadget keluaran baru itu di atas meja. Poni Daiki basah, handuk putih melilit pinggangnya dan menyisakan happy trail yang kau pasti tahu akan mengarah ke mana.
Ryota mengeratkan kimono tidur sutra setipis kelambu, tengkuknya meremang hangat sewaktu ditatap bagai mangsa oleh sepasang mata biru gelap milik Daiki.
"Kemari."
"Uhh..."
Rajukan kecil dibuat, Ryota mau tak mau berjalan ragu menghampiri Daiki. Perutnya berdesir menahan antisipasi. Dan dalam satu tarikan lembut, ia sudah terbaring pada ranjang dengan tangan-tangan kokoh Daiki yang mengurung eksistensi.
Daiki menggenggam tangan kiri Ryota, mengecup tempat di mana cincin platina melingkari jari manisnya, lalu beralih pada pembuluh nadi yang berdenyut liar seakan hendak pecah dalam satu ledakan gila. Tangan Daiki yang lain menyusup menuju pinggul Ryota, mendorongnya mendekat, membuat tubuh mereka merapat tanpa jarak.
"Aku mencintaimu, Aomine Ryota. Jadi... jangan pernah ragu." Suara serak Daiki begitu seduktif dan panas, bak nyala api bagi sekumpulan ngengat. Ingin rasanya menghindar, namun kau tetap akan tergoda untuk mendekat.
Mulut Ryota membuka, diinvasi oleh lidah lain sewaktu ia sibuk mendesah di bawah sentuhan tangan-tangan bergurat kasar milik Daiki. Tali kimono tidur disentak, Ryota tidak terkejut sewaktu bibir Daiki beralih pada sebelah tonjolan merah muda pada dadanya yang telah mengeras seakan meminta perhatian.
Ryota kembali merajuk dengan suara pelan, tangannya mencengkram tengkuk Daiki, merasakan anak-anak rambut biru gelap itu mulai dibasahi keringat.
"Heh, kau bertingkah bagai perawan saja..." napas Daiki meninggalkan jejak panas saat geligi dengan gemas menggigiti daun telinga. "... akan kubuat ini bagai yang pertama lagi bagimu, oke...?" handuk putih dilucuti, organ besar di antara ke dua kaki, tegak menantang gravitasi.
Ryota terisak pelan, mendadak bagai gadis yang takut disetubuhi pada malam pertama. Pikirannya berkabut saat ia sibuk dimanja, berulang-ulang menjerit tertahan memohon agar Daiki berhenti melakukan aksinya.
Pemuda kekar itu bangkit lalu menyeka sudut-sudut bibir dengan ibu jarinya. "Kau ingin berhenti?" botol pelumas jelly beraroma mint diraih dari atas meja di samping ranjang. Ia menatap puas pada hasil kerja barusan. "Kau yakin, Ryota?" isi botol dituang pada jemari dengan sesuka hati.
Ruam-ruam merah mulai menampakkan diri, sebagian lagi nyaris kebiruan. Perut masih menegang, kedua paha sampai jari-jari kaki Ryota gemetar hebat setelah ia mendapatkan satu ejakulasi. Dingin dari pelumas ia rasakan sewaktu otot-otot analnya mencoba menolak keberadaan jemari Daiki.
Habis sudah. Ia kini basah di mana-mana.
"Dai-chaan..."
Ryota tahu bahwa ia tidak bisa mundur lagi sewaktu ekspresi serius terpasang pada wajah Daiki penuh konsentrasi. Pola-pola bulat abstrak sewarna kayu manis mulai memenuhi bahu dan punggung atletisnya, sementara ekor panjang Daiki bergerak elastis melilit milik Ryota. Dua taring seputih tulang ditancapkan dalam-dalam pada ceruk antara leher dan bahu, lumayan lama hingga membuat Ryota mengeluh kesakitan. Itu akan membuat tanda ikatan di sana, dan Ryota mesti melakukan hal sama untuk Daiki.
"Kau siap?"
Anggukkan lemah diberikan, seprai diremat kuat-kuat sewaktu sesuatu yang tumpul dan lengket menerobos masuk pertahanan terakhir Ryota.
"Ngghh..."
"Heh, jangan khawatir..." Daiki terkekeh seraya mengusap air mata orang yang terisak di bawahnya. "... aku akan membuatmu mengandung anak-anakku, Ryota." bisikan lembut Daiki menjadi penanda bahwa malam mereka masihlah sangat muda.
.
.
1. Quiche: pastry sejenis pie yang diisi ayam, daging atau sayur seperti bayam.
2. Kurotomesode: Kimono hitam formal untuk menghadiri acara pernikahan atau acara-acara resmi lain, biasanya untuk wanita yang sudah menikah.
3. Kayak: perahu mirip kano, tapi cuma cukup buat satu orang.
A/N: Yoo, minna... maaf update-nya sangat telat, semoga masih ada yang berminat baca fanfik ini... Ahahaha, tadinya gak pengen chapter banyak, kok ya malah jadi nambah-nambah gini T-T, Akakuro-nya bener-bener slow progress, maafkeun saya... Ah, saya malah bikin Aokise hot scene, kalo belum cukup umur jangan dibaca yaa...—Akakuro hot scene menyusul, belum tega Tetsuya diapa-apain sama Seijuuro... Tapi, chapter depan mereka mau kencan setengah hari di Pulau, ditunggu ya! Ohohoho... Terima kasih atas review, kritik, dan sarannya, saya akan berusaha kembali di chapter berikut! See you and Ciao! *berguling...
