Title: Rendezvous

Pair: AkaKuro, AoKise, MidoTaka, MuraHimu

Disclaimer: Tadatoshi Fujimaki, i gain no profit from this fiction

Warn: OC, OOC, typos, languages, Hybrid Cat!AU, M-preg, BL.

.

Rendezvous 7: Red String of Fate

.

It may stretch or tangle, but it never break.

.

Bisa tidak jika mereka mendayung hanya berdua saja menuju pulau terdekat tidak berpenghuni, terjebak badai semalaman, lalu berakhir dengan saling bertukar kehangatan tubuh sampai tiba pagi.

Tidak.

Itu tidak mungkin.

Tetsuya tidak sedang berdelusi.

"Oi, Kuroko! Kau yakin tidak mau ikut bersama kami?" berbekal celana selutut, kemeja merah bermotif bunga hibiscus putih, dan sepasang sandal jepit kulit, Taiga mengetuk—atau lebih tepatnya menggedor pintu cottage milik Tetsuya.

Pintu kayu dibuka cepat, Tetsuya sudah siap dengan sebuah gelengan manis. "Tidak, Kagami-kun. Aku akan melakukan sesuatu yang lain."

Mulut Taiga mencebik. "Heeh...? Memangnya kau akan melakukan apa? Menyelam saat suhu air belum terlalu dingin terdengar menyenangkan bukan? Kalau beruntung, malah kita bisa saja bertemu penyu berusia hampir setengah abad di dekat Pulau Ou! Ini pasti akan keren sekali, Kuroko!"

Tetsuya tetap pada pendirian. Tidak terpikir akan bagaimana jadinya nanti jika janji berkeliling pulau bersama Seijuuro mendadak dibatalkan sepihak olehnya. Bisa-bisa kiamat menghadang di depan mata. "Aku tidak bisa menyelam. Berenang saja aku masih butuh pelampung. Yah, walau menyelam memang tidak membutuhkan pelampung, tapi tetap saja..."

Taiga mengusap wajah pasrah, baru teringat akan hal itu. "Haaa, ya sudahlah! Kalau begitu sampai ketemu lagi nanti sore!"

"Apa yang kau lakukan sepagi ini di depan kamar Tetsuya?"

Mata Tetsuya melebar, Taiga saja sampai menjerit kaget begitu suara tadi tertangkap daun telinga. Suaranya bahkan lebih mengerikan daripada pengumuman bahwa diskon akhir pekan untuk bahan kebutuhan sehari-hari di supermarket, hanya tinggal lima menit lagi.

"A-Akashi-san!" Taiga membalik badan, dan mendapati singa lapar sudah ada di hadapan. Ups...

Kedua tangan bersidekap, Seijuuro menginspeksi penampilan 'nyentrik' Taiga mulai dari ujung rambut sampai pada jari-jari kaki, mirip polisi. Duh, ditatap semengerikan ini, bahkan Taiga yang sudah terbiasa menundukkan lensa kamera saja jadi merasa keki.

Tidak tega melihat 'penderitaan' rekan seperjuangan, Tetsuya akhirnya coba mengorbankan diri sebagai tumbal secara cuma-cuma.

"Ohayo, Seijuuro-san..." tubuh mungil mencoba eksis pada celah-celah ambang pintu yang di-blok oleh tubuh besar Taiga.

Tatap Seijuuro mengarah pada sejumput rambut biru dan kelebatan kaus putih bergaris tipis hitam horizontal dari balik sosok Taiga.

"Ohayo." Balasnya cepat, lalu kembali fokus. "Jadi... apa yang sedang kalian rencana—"

"Sarapan pagi, tentu saja. Kita semua butuh itu, benar Kagami-kun? Kami baru akan menuju ruang makan resort."

Perut samping disikut keras oleh makhluk mungil bertenaga kuda, Taiga hanya bisa menganggukkan kepala tanda setuju.

Seijuuro masih menatap sangsi pada keduanya. "Akupun hendak ke sana. Bagaimana kalau kita pergi bersama?"

Taiga lagi-lagi mengangguk, sementara Tetsuya berlari kembali ke dalam kamar.

"Tunggu aku mengambil ponsel dan kamera, tapi tolong... jangan sampai ada pertumpahan darah di antara kalian berdua."

.

"Selamat pagi."

"Ah, selamat pagi!"

Sapaan ringan ataupun kelewat ceria terdengar memenuhi ruang makan bersama milik resort pada pagi ini. Sarapan dalam menu buffet sudah tertata apik dalam wadah-wadah stainless atau keramik di atas meja panjang berbentuk letter U dekat dapur terbuka. Beberapa koki terlihat sibuk memasak menu lain untuk memenuhi kebutuhan tamu-tamu penginapan.

Di antara ramai para tamu, sosok besar Atsushi—yang begitu mencolok—terlihat menumpuk makanan dalam satu piring lebar hingga menggunung tinggi. Di sebelah Atsushi, Tatsuya dengan setia selalu memperingatkan pasangannya agar mengisi piring dengan menu-menu bergizi seimbang. Dan Atsushi akan membalas Tatsuya dengan kalimat 'Baik, mamaaa...' walaupun harus diiringi rajukan malas ala bayi raksasa.

Hanya terlihat kedua kakak Ryota dan iparnya tengah duduk menikmati pancake bersama para anak mereka. Para orangtua dan pasangan pengantin baru semalam, lebih memilih untuk sarapan pagi di kamar saja.

Satsuki dan Riko tampak akrab mengobrol seraya memilah dressing untuk salad sayuran mereka. Mulut keduanya tidak berhenti bicara mengenai hal-hal yang berbau wanita. Mulai dari diet, fashion, pria, sampai gosip ala ibu-ibu rumah tangga.

Di samping mereka, Junpei dan Teppei sama-sama mengisi piring dengan beberapa potong sosis dan potato wedges hangat. Tak jauh dari situ, Kosuke memenuhi piringnya dengan berbagai macam sajian penuh karbohidrat dan lemak. Ia berniat akan mengisi tenaga sebelum bersenang-senang di padang golf seharian nanti.

Di sudut ruangan, Yoshitaka dan Yukio duduk bersama pada satu meja dengan suasana hampa. Yang satu sibuk dengan ponsel di tangan, yang lain menyuap roti isi tanpa daya kehidupan.

Dan di sinilah Midorima Shintaro... Ia berdiri di ujung meja di mana letak berbagai macam dessert dan jus tersedia. Dengan sabar, Shintaro menunggui pesanan jus mix wortel dan jeruk mandarinnya. Menurut ramalan Oha Asa—via akun media sosial—yang terpercaya, benda-benda berwarna oranye adalah lucky item Cancer untuk hari ini. Lihat saja kaus oranye dengan logo matahari tersenyum milik Kazunari yang ia rampok—pinjam paksa barusan... Shintaro butuh persiapan sebelum mereka pergi berenang, agar terhindar dari berbagai macam kesialan. "Maaf, bolehkan saya minta wortel utuhnya sekalian?" ini diucapkan dengan nada tsundere penuh penekanan. Dan dari salah satu meja makan di kejauhan, Kazunari malah terkikik geli melihat ulah Shintaro seolah-olah ia tidak punya beban.

Di sisi lain...

Menggunakan penjepit alumunium, Seijuuro meletakkan sepotong makarel panggang pada piring yang dibawa Tetsuya.

"Tapi piringku hampir penuh, Seijuuro-san. Kau baru saja memberiku beberapa potong ebi furai."

"Tetsuya harus makan banyak karena kita akan ada di luar seharian." Ia berbisik pelan, agar Taiga yang sibuk menumpuk ayam goreng mentega di piringnya tidak mendengar percakapan rahasia mereka.

"Aku tidak selemah itu."

"Benarkah?"

Tetsuya menghela napas pasrah begitu dua buah onigiri isi tuna mendarat mulus pada sisi lain dari piringnya.

"Demi Tuhan, Seijuuro-san... Bisakah aku memilih menu sarapan pagi untuk diriku sendiri?"

.

Dengan mini van putih, rombongan peserta menyelam gembira berangkat bersama guide mereka menuju dermaga, kemudian dilanjutkan menaiki boat menuju lokasi penyelaman. Kelompok lain yang sepakat untuk berenang-renang saja seraya berjemur santai di pasir putih pantai sudah siap dengan alat tempur mereka: kacamata hitam trendi dan krim penangkal radiasi sinar matahari. Sementara itu, para wanita sepakat untuk mengunjungi spa resort—mereka mengambil paket spesial, lumayan 'kan mumpung gratis... Berbekal gaun terusan santai warna-warni dan kembang sepatu di telinga, mereka melenggang santai menuju di mana lokasi spa berada. Dan sisanya, ikut naik mobil listrik terbuka menuju padang golf untuk mengadu kemampuan bersama para orangtua.

Ah. Sungguh bahagia rasanya.

"Lho, kalian tidak pergi juga bersama yang lain-ssu?" Ryota menyapa Tetsuya dan Seijuuro yang kebetulan sekali berpapasan dengannya di koridor utama, setelah mereka keluar dari ruang makan. Di belakang Ryota, Daiki berjalan malas dengan mata setengah terpejam dan mulut menguap lebar. Keduanya sudah mandi, sudah segar, sudah hilang dari segala jejak-jejak 'malam pertama' kemarin.

"Sebentar lagi." jawab Seijuuro, bahkan sebelum Tetsuya sempat buka suara.

Mulut Ryota bereaksi lebih cepat ketimbang otaknya. "Ah, kalian akan pergi bersama... I see..." senyum sok misterius mengembang di wajah, kedua alis naik turun sebagai gestur menggoda.

Daiki, yang tidak paham akan situasi, kemudian mencetus seenak hati. "Memangnya kalian mau ke mana? Ikut kami saja ke pantai menyusul gerombolan Shintaro dan Kazunari. Aku penasaran dengan benda ajaib apa yang dibawa oleh Si Mata Empat ke sana, jangan-jangan dia berjemur menggunakan piama, atau pakai tutu merah muda..." Daiki terkekeh membayangkan Shintaro dalam posisi seperti bayangannya. Walaupun berteman, saling cela dan hina sudah jadi kebiasaan mereka dari bangku sekolah sejak lama.

"Sayangnya kami tidak bisa." Seijuuro berhenti melangkah saat mereka sudah sampai di lobby. Beberapa staff terlihat sibuk melayani para tamu, baik yang baru check in atau butuh sesuatu. "Aku dan Tetsuya akan pergi berdua." Ia menekankan kata terakhir agar mudah dimengerti oleh mereka.

Daiki meraih pinggang Ryota. "Kami boleh ikut tidak?"

Ah, kau baru saja membuat satu kesalahan besar Daiki..., dan Ryota terlambat memperingatkan.

Sepasang mata Seijuuro berkilat, gumpalan aura hitam mendadak bergulung muncul secara tiba-tiba. Ujarnya, "Apa malam kalian terasa begitu nikmat, sampai-sampai otakmu macet dan tidak sanggup untuk mencerna kalimatku barusan, hmm, Daiki?" pandangan Seijuuro lalu jatuh pada tanda ikatan yang mulai membentuk wujud serupa tomoe kembar(1), yang mengintip dari kerah rendah kaus keduanya.

Pose boleh saja setenang air tak beriak, namun mode Akashi Seijuuro yang macam begini sungguh membuat jiwa raga Daiki dan Ryota ingin berteriak.

Ryota menatap kesal pada Daiki, pinggang dicubit hingga pria berambut biru gelap itu mengaduh kesakitan. "Ahahaha, Dai-chan hanya bercanda-ssu... Kami akan tetap menyusul Midorima-cchi dan kawan-kawan..." ia menggamit lengan Daiki seraya mengenakan sunglass yang tadi terpasang di kepala. "Sampai jumpa, dan selamat bersenang-senang kalian berdua!"

"Eeh?!" walau lumayan gentar menghadapi Seijuuro, Daiki mana tega meninggalkan Tetsuya sendiri! "Kau tega meninggalkan Tetsu berdua saja dengan setan ini, apa?" Tidak menggubris, Ryota malah menyeret Daiki menjauh dari keduanya.

"Ayo." Langkah pasti Seijuuro ditingkahi langkah-langkah ragu milik Tetsuya.

Dahi mengerut, Tetsuya angkat bicara. "Tunggu sebentar, bukankah Seijuuro-san dulu pernah mengatakan frasa ini, the more the merrier? Bahwa semakin banyak orang, maka akan semakin membuat meriah suasana... Kurasa tidak apa-apa jika mereka ikut bersama kita..."

Seijuuro mengarahkan langkah Tetsuya menuju pintu kaca ganda di sebelah kanan lobby. "Memang benar." katanya santai tanpa bimbang. "Tapi untuk beberapa hal, kalimat itu bisa saja tidak berlaku—bagiku."

.

Matahari mulai beranjak meninggalkan posisi sepenggalah. Langit biru cerah dihiasi gumpalan kecil kumulus putih di kejauhan. Angin berembus ringan, membawa aroma garam sampai ke daratan. Ini benar-benar cuaca yang sempurna untuk menikmati hari di luar ruangan.

"Pegangan Tetsuya, nanti kau jatuh."

Kedua pipi Tetsuya disentuh lembut oleh angin pagi Kumejima. Suara dalam milik Seijuuro terdengar begitu dekat di telinga. Jemari mungil mengepal ragu, kemudian dengan cepat membuka. Tangan-tangan Tetsuya menyusup lambat ke arah pinggang orang di depannya, bergesekan pelan dengan otot di balik serat kemeja berwarna toska muda.

Awalnya Seijuuro memang ingin bersepeda berdua saja, namun mengingat lanskap pulau yang kebetulan tidak rata—naik turun dan berbukit, ia jadi mengurungkan niatnya. Seijuuro tidak ingin menghabiskan energi dan membuat lelah Tetsuya. Atas saran salah satu staff, mereka akhirnya menyewa sebuah scooter untuk berkeliling bersama.

Dan di sinilah mereka sekarang, berkendara melewati jalanan utama yang tidak terlalu ramai di pagi hari. Hanya beberapa kendaraan berpapasan dengan mereka, itupun dapat dihitung dengan jari.

"Apa Seijuuro-san hapal dengan area pulau ini?" Tetsuya bertanya di antara desau angin yang menerpa wajah. Dari celah barisan batang-batang pohon besar di sepanjang jalan, ia bisa melihat kelebatan biru air laut dan putih pasir pantai tidak jauh dari mereka. Tubuhnya otomatis merapat pada Seijuuro saat kendaraan mereka berbelok menuju jalanan beraspal yang lebih sempit dibandingkan jalan utama.

"Aku belum pernah ke sini. Tapi setelah mencari tahu, kudengar ada beberapa tempat menarik di Kume. Aku yakin Tetsuya pasti akan suka jika mengunjungi mereka semua."

Pipi menggembung, Tetsuya benar-benar tidak suka akan sifat kelewat percaya diri milik Seijuuro. "Kenapa Seijuuro-san bisa seyakin ini?"

Seijuuro tersenyum sewaktu pegangan tangan Tetsuya semakin mengerat pada pinggangnya. "Karena untuk membuat Tetsuya senang, kurasa aku harus memiliki ekspektasi tinggi."

Pandangan mereka bertemu sebentar lewat kaca spion. Meski terhalang sunglass milik Seijuuro, lagi-lagi tatapan itu masih sanggup membuat desiran aneh melintasi perut Tetsuya.

.

Pemberhentian pertama adalah kolam ikan tropis tidak jauh dari tebing Hiyajo. Sebenarnya itu adalah sekumpulan karang di pantai yang membentuk petak-petak alami mirip kolam dan terisi oleh beragam biota laut berukuran kecil.

Setelah Seijuuro meminta izin untuk memarkir scooter pada halaman depan sebuah kedai kecil tidak jauh dari lokasi, mereka masih harus melewati jalan menurun untuk sampai ke sana.

"Wisatawan lebih tertarik untuk mendatangi wilayah timur pulau, karena di sana merupakan daerah dengan populasi penduduk terbanyak dan pusat keramaian."

"Dan Seijuuro-san malah mengajakku ke sini? Kenapa tidak ke wilayah itu saja—ahh..!?"

Tetsuya nyaris terpeleset jika saja Seijuuro tidak dengan segera meraih sebelah lengannya. Jatuh terguling ke bawah—walau tidak sampai mengalami memar atau fraktura—tetap saja terdengar tidak elit di telinga. Seijuuro mengecek sejenak keadaan Tetsuya seraya menggumamkan 'kau tidak apa-apa?' dan langsung dibalas sebuah anggukan pertanda iya.

"Aku butuh privasi jika ingin mengenal Tetsuya lebih jauh." Ia melanjutkan kalimatnya yang tertunda akibat aksi terpeleset Tetsuya tadi. "Tapi aku bisa membawamu ke tempat-tempat lain di pulau ini suatu hari nanti..." tangan kanan digenggam tiba-tiba, ia membimbing Tetsuya menempuh sisa perjalanan menuju ke bawah. "Ayo, hati-hati."

Tidak ada penolakan dari Tetsuya kali ini.

Karena telapak tangan mereka yang menggenggam satu sama lain, terasa tepat saling melengkapi.

.

Kaki-kaki telanjang perlahan melompati bebatuan di sepanjang pantai dengan akurasi jeli. Kamera di tangan fokus membidik ikan-ikan kecil berwarna bagai pelangi dalam kolam air sejernih safir murni. Sesekali, ia akan mendapati beberapa kepiting seukuran ibu jari muncul takut-takut dari balik tumpukan koral dan batu-batu alami.

Tetsuya tersenyum geli memperhatikan aksi jalan miring terburu-buru mereka, dan Seijuuro dengan setia terus mengawasi gerak-gerik pemuda mungil di sebelahnya. Ia akan menanggapi setiap kalimat Tetsuya yang terlontar ke udara.

Dan saat Seijuuro memalingkan atensi, Tetsuya akan langsung mengambil potretnya secara rahasia tanpa aba-aba.

Berlatar langit biru dan riak air laut di bawah kedua telapak kaki, Seijuuro layaknya sosok pengisi kolom celebrity on luxury vacation dalam majalah-majalah High-End ternama. Ia terlihat regal, sedikitpun tanpa cela.

Melihat hasil bidikannya, Tetsuya sendiri sampai dibuat terpana.

Dingin menyapa sewaktu ombak kecil bergulung menghampiri lalu mengenai jemari hingga mata kaki. Tetsuya membiarkan tatapannya terlempar jauh ke ujung cakrawala, tempat di mana bumi dan langit biru seakan menyatu tanpa batas pasti. Suara burung-burung penghuni tebing yang terbang rendah di sekitar mereka terdengar samar memenuhi area, mengisi sunyi.

Tetsuya berjongkok untuk meraih kulit kerang seukuran kepalan tangan dari rengkuhan pasir dalam kubangan air bergaram. Gerigi halus pada alur yang menghiasi permukaannya membawa Tetsuya terdampar pada kilas balik memori bertahun-tahun silam.

Tetsuya kecil senang sekali menghabiskan waktu di pesisir pantai Aomori seraya berburu kulit kerang dan mengumpulkan mereka dalam sebuah stoples bening. Ia betah menghabiskan hari menatapi puluhan camar yang sibuk mencari makan di pinggiran dermaga tidak jauh dari rumahnya dulu.

Semua itu terjadi sebelum Sang Ayah pergi bekerja dan mendadak pulang dalam keadaan aneh. Beliau seperti tengah tertidur damai tanpa keinginan untuk bangun kembali.

(Mereka sebisa mungkin memberikan pengertian kepada bocah berusia tujuh tahun perihal tubuh Sang Ayah yang membujur kaku dalam peti mati. Bahwa ayahnya setelah ini akan tinggal lama di rumah abadi milik Tuhan, tanpa bisa kembali ke sisi mereka lagi.)

Itu sebelum ibu meminta izin untuk pindah dari kediaman kakek-nenek keluarga ayahnya, dan memutuskan untuk menetap permanen di Nagano untuk mencari kerja. Ibu mengajak Tetsuya pergi dari sana, dengan alasan bahwa terlalu banyak kenangan tentang ayah yang tidak dapat terlupa. Ia ingin memulai lagi dari awal berdua saja dengan Tetsuya, walau kenangan itu tetap terbawa di manapun mereka berada.

Perubahan ekspresi di wajah Tetsuya, mengingatkan Seijuuro pada dirinya sendiri. Itu adalah ekspresi yang sama ketika ia teringat dan merindukan sesuatu.

Rindu akan masa kecilnya di Kyoto.

Pada rumah bergaya tradisonal mereka dan lembar-lembar momiji merah saat musim gugur tiba...

Juga rindu akan sosok lembut Akashi Shiori, ibunya.

Apakah ada peristiwa besar yang sampai membuat Tetsuya menampilkan tatap sendu seperti ini?

Seijuuro ingin bertanya, namun tidak ingin sampai membuka luka lama. Sudahlah, kapan-kapan saja ia menyelami semua kisah tentang Kuroko Tetsuya. Untuk sekarang, Seijuuro hanya akan membuat pemuda itu merasa bahagia.

"Apa Tetsuya ingin mengunjungi tempat lain?"

Pertanyaan Seijuuro membuat otak Tetsuya berhenti memutar memori. Terkejut, ia menyahut cepat.

"Ya. Tentu..."

Kulit kerang terjatuh dari tangan, lagi-lagi ia menyambut uluran hangat milik Seijuuro tanpa ada ragu dalam hati.

.

Setelah mengunjungi lokasi formasi bebatuan besar Tachijami dan sisa-sisa Kastil Uegusuku, mereka kini berkendara untuk memasuki bagian dalam pulau. Barisan kebun tebu yang merupakan komoditas utama pulau selain udang kuruma, menyambut mereka bagaikan tarian kompak dedaunan hijau tersapu angin.

"Kita makan siang dulu."

Ini sudah lewat dari jam makan siang, jadi mereka memutuskan untuk berhenti di suatu tempat. Kedai makan mungil di dekat perkebunan tebu tidak jauh dari jalan utama menjadi pilihan Seijuuro sebagai tujuan melepas lapar dan lelah. Pemilik kedai tersebut adalah seorang wanita berusia senja. Ia dibantu oleh dua pekerja yang merupakan anak dan cucunya sendiri.

Ada beberapa pengunjung di sana. Mereka duduk nyaman pada bangku-bangku kayu panjang seraya menikmati makan siang. Tetsuya mengajak Seijuuro untuk ambil duduk di bagian luar kedai yang dilindungi kanopi. Udara panas jadi tidak terasa karena ditimpa sepoi angin dari kipas listrik berputar lambat tak jauh dari keduanya. Samar, terdengar lantunan Shima Uta(2) dari salah satu ruangan dalam rumah yang merangkap kedai makan itu.

Kamera dengan cepat mengabadikan kebun bunga mini di seberang pagar kedai. Rumpun bebungaan kuning dan merah muda itu membuat tangan Tetsuya gatal menekan tombol shutter dengan segera.

Diam-diam ia memotret Seijuuro yang sama-sama tengah memandangi hamparan bunga.

"Tetsuya sama sekali tidak berbakat menjadi paparazzi..." sunglass dilepas, Seijuuro menatap langsung pada dua mata Tetsuya.

Ketahuan sudah mengambil potret tanpa izin, Tetsuya hanya memasang senyum polos ke arah Seijuuro sembari menggumam 'aku memang tidak bercita-cita menjadi wartawan gosip.' Ia kembali memotret sosok Seijuuro saat pria bermarga Akashi itu mengulas senyum mendengar kalimat Tetsuya.

"Kalau bisa jangan pandangi terus fotoku, nanti Tetsuya kangen ingin bertemu..."

Kekeh ringan disambut kerucutan bibir—lagi. Entah kenapa Seijuuro senang sekali melihat daging kenyal-merah muda serupa belahan persik itu mengerut seolah minta segera dikecup.

"Tenang saja. Foto Seijuuro-san akan kujadikan jimat penangkal setan."

(Heh? Apa tidak salah? Mana ada setan yang takut dengan sesama jenisnya?)

Kalau saja teman-teman Seijuuro hadir saat ini, ia yakin bakal dijadikan bulan-bulanan oleh mereka setelah mendengar kalimat Tetsuya barusan. Itu juga jika mereka berani secara terang-terangan menyindir Seijuuro, kebanyakan tidak berani tentunya karena mereka masih sayang nyawa...

Satu teko besar sari tebu dingin diantarkan sebagai pembuka. Mereka meneguk setengah gelas demi membasahi kering kerongkongan. Seijuuro memilih untuk mengecek ponsel, ketika Tetsuya malah sibuk melihat-lihat hasil jepretan dalam kamera.

Tiga pesan singkat dari Daiki, lima dari Ryota, dan sebuah e-mail dari Masaomi. Dahi Seijuuro berkedut sewaktu membaca barisan kata demi kata di sana. Semua bernada hampir serupa. Bahwa Seijuuro tidak boleh bersikap kelewatan, banyak-banyak menyebut nama Tuhan, dan jangan lupa pakai pengaman, karena hubungannya dan Tetsuya belum diresmikan.

Dikira ia seorang penjahat kelamin apa?

"Ada apa Seijuuro-san?"

Menyadari aura mencekam mendadak datang, Tetsuya mendongak sejenak dari kamera untuk melihat keadaan.

Seijuuro menggeleng dibarengi senyuman lelah. "Bukan apa-apa. Hanya hal biasa."

Mungkin perut yang kosong memang berperan penting dalam perubahan mood seseorang. Maka saat mangkuk-mangkuk somen dingin dengan kuah tsuyu dan sepiring besar sashimi udang terhidang di atas meja kayu sederhana, senyum bahagia Seijuuro sanggup membuat Tetsuya melupakan sejenak hasil bidikan dalam kamera.

.

Sebuah mitos Kume pernah mengatakan, bahwa jika kalian mengunjungi kuil kecil yang berada tepat di bawah 'pohon lima cabang' bersama pasangan, maka hubungan kalian dipastikan akan awet bahkan setelah maut memisahkan.

Setidaknya cerita itu telah beredar secara turun temurun di antara para pribumi Kume akan pohon ikonik kebanggaan pulau mereka. Sebagian kecil dari mereka mempercayai hal ini sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur, dan sebagian besar lagi tentu saja menganggap itu semua cuma dongeng belaka.

Goe no Matsu(3) memang hanya jenis pohon pinus biasa. Apa yang membuat pohon ini istimewa adalah usia dan ukurannya yang memang luar biasa. Berdiri setinggi 6 meter, dengan diameter batang lebih dari 3 meter, lima cabang 'super' besar si pohon mampu menaungi hingga sepanjang 20 meter area konservasi. Jadi maklum saja jika banyak kisah-kisah menarik sekaligus mistis tentang pohon dengan usia lebih dari dua abad ini.

Apel merah segar diletakkan Tetsuya di sudut kuil, berderet dengan puluhan buah-buahan atau bunga-bunga milik pengunjung lain. Kebanyakan kisut mengering, hanya sedikit yang masih segar berwarna.

"Kalian juga percaya cerita itu, eh?"

Padahal sejak tadi hanya ada mereka berdua di sini, namun sekarang seorang nenek 'asing' sudah berdiri nyaman di sebelah Tetsuya dan Seijuuro. Walau tubuh bungkuk Si Nenek rapuh termakan usia, ia tidak tampak kesulitan berjalan ataupun membutuhkan tongkat bantuan. Senyum ramah terulas sementara matanya masih tenang mengawasi sepasang pemuda kota yang berdiri bersisian di depan kuil mungil Goe no Matsu.

"Ah, maafkan saya. Tapi cerita apa yang anda maksud?"

Senyum Si Nenek semakin mengembang, kerut-kerut dalam menghiasi sekitar pelipis dan hidungnya. "Ini adalah kisah tentang 'pasangan untuk selamanya'..."

"Eh?" Tetsuya menelengkan kepala, memandang pada keteduhan hijau di sekitar mereka. Dengung sayap tonggeret terdengar nyaring mengisi sunyi area.

Seijuuro menanggapi. "Tentu saja. Tempat semenarik ini pasti menyimpan kisah-kisah gaib dan ajaib untuk dibagikan kepada para pengunjung."

Tetsuya mengulurkan kedua tangan untuk membantu nenek itu melangkah melewati akar-akar besar menjalar di atas tanah.

"Jika pasangan yang saling jatuh cinta mengunjungi kuil di bawah cabang Goe no Matsu..." Si Nenek berhenti sebentar, pandangannya menerawang, lalu tertumpu pada sosok Tetsuya juga Seijuuro. "... percayalah bahwa takdir akan membuat benang merah di ujung jemari mereka terikat kuat bahkan sampai kematian memisahkan..."

Seijuuro tersenyum maklum untuk berbasa-basi, well... ia memang satu dari sebagian besar manusia yang sudah tidak lagi mempercayai dongeng atau cerita pengantar tidur semacam ini. Tapi kalau ia dan Tetsuya ke sini lalu ditakdirkan untuk bersama... mana sanggup Seijuuro menolak itu semua.

"Aku dan almarhum suamiku, dulu kami disatukan di sini. Terus bersama, membentuk keluarga, sampai maut menjemputnya dari sisiku..."

Seijuuro menunduk sekilas untuk menunjukkan simpati, sementara Tetsuya mengelus lembut punggung tangan wanita tua tersebut.

"Walau kalian tidak percaya akan cerita ajaib pohon ini..." mata abu-abu menyapu pandangan penuh nostalgi pada cabang-cabang besar di dekat mereka, senyum bijak merekah tanpa kendala. "... tapi aku yakin kalau kalian memang ditakdirkan untuk bersama..."

Jantung mereka berdetak seirama. Kalimat ringan namun mengena itu membuat kikuk Tetsuya. Apa ia harus percaya pada sebuah cerita tanpa bukti nyata dan hanya berdasarkan ujaran bernada maya?

Apa Seijuuro akan mempercayai kisah ini juga?

"Oi! Nenek ada di sini rupanya?!"

Seorang anak laki-laki tiba-tiba berlari tergopoh menuju mereka bertiga.

"Haruki-kun..."

"Kukira nenek ke mana... Ayah dan ibu bingung sekali ketika nenek tiba-tiba menghilang dari pengawasan! Jangan pergi sendirian lagi, kami 'kan jadi khawatir!"

Si Nenek hanya tertawa saat mendapati cucunya mulai merajuk. "Maaf, maaf..."

Anak itu kemudian membungkuk sekilas untuk berterima kasih pada Seijuuro dan Tetsuya. "Terima kasih karena telah menjaga nenek saya, Tuan! Tapi kami mesti buru-buru, karena jemputan kami untuk menuju hotel sudah datang!" ia membimbing neneknya kembali ke arah tempat di mana keluarga mereka kini menunggu.

Tetsuya dan Seijuuro menatap kepergian kedua orang asing itu dalam diam.

Sementara gemerisik dedaunan menjadi saksi akan sehelai benang merah yang semakin erat mengikat di kedua ujung jemari.

.

Malam hampir menyapa ketika mereka kembali. Semburat merah dan oranye memenuhi langit dalam sebuah lukisan penuh harmoni. Begitu sampai, Tetsuya dan Seijuuro disambut beberapa hal tidak terduga yang lumayan mengejutkan hati.

Dari Kosuke yang dislokasi sendi akibat pukulan golf salah presisi, Taiga yang hampir disembur tinta cumi-cumi, sampai kejadian paling spektakuler abad ini...

Karena terlalu lama menjemur diri, Shintaro muncul bagai kembaran Aomine Daiki, sang enemy abadi. Kulitnya jadi menghitam akibat kurang banyak mengoleskan krim anti radiasi matahari setelah berjemur seharian tadi.

Tetsuya berdeham pelan untuk menyembunyikan tawa, sementara Seijuuro terang-terangan berkomentar setajam pecahan kaca.

"Kukira Daiki memiliki saudara kembar. Shintaro... kalian begitu mirip..."

"Tutup mulutmu, Akashi!"

"Oi, Jangan samakan aku dengan Si Mata Empat, tidak sudi!"

"Memangnya aku sudi, hei, Aomine berdaki!"

"Apa katamu—"

"Daiki, hentikan."

"I-iya, maafkan aku, bu..."

Takao tampak memasang wajah serius di sebelah Shintaro. "Apa saat pulang ke Tokyo nanti warna kulitmu sudah kembali ke semula ya, Shin-chan? Aku takut Momiji tidak akan mengenalimu sebagai ayahnya..." sedetik kemudian gelak tawapun menyembur tanpa sanggup dicegah.

"Kau juga jangan ikut-ikutan Kazunari!"

Meninggalkan kehebohan orang-orang di ruang makan, Tetsuya pamit undur diri. Tak disangka, Seijuuro ternyata mengikuti. Mereka berjalan dalam diam, masing-masing tidak ingin memecah sunyi yang melingkupi.

"Kurasa aku masih berhutang di sini..." Tetsuya bersuara setelah pintu kayu tampak menjulang di depannya. Ia berbalik untuk menatap Seijuuro.

Langit mengelam. Terang matahari kini digantikan oleh nyala lampu-lampu artifisial. Tetsuya menahan napas begitu cahaya di atas kepala mereka, mengenai tubuh orang di hadapannya.

Sosok Akashi Seijuuro terlalu mendekati kata sempurna.

"Hutang?" Seijuuro membeo.

Tetsuya mengangguk, lalu memalingkan tatapan. "Hutang karena telah mengajakku berkeliling pulau. Hari ini sangat menyenangkan." ia merutuki diri karena mendadak bagai anak remaja yang baru mengalami kali pertama jatuh hati.

Tidak, jangan kira Tetsuya tidak pernah jatuh hati...

Seijuuro membiarkan angin petang memainkan helai-helai merah rambutnya. Senyum hangat terukir dan benar-benar membias di kedua mata. "Aku senang, jika Tetsuya senang."

Bibir bawah digigit ragu, Tetsuya berujar setengah malu-malu. "Ka—karena itu, aku ingin mengucapkan terima ka—"

Gerakannya semulus panther mendekati mangsa. Napas hangat tiba-tiba mendera kesensitifan telinga. Aroma maskulin begitu pekat tercium dari serat-serat kemeja, dan itu sanggup membuat lemas kedua lutut Tetsuya.

"Apa aku bisa meminta yang lain sebagai bentuk 'terima kasih' darimu, hmm..., Tetsuya?"

Walau Seijuuro belum sampai menyentuhnya, tapi ia kembali mengalami efek domino dari invasi mendadak barusan. Perut Tetsuya mulas, lidahnya kelu, dan tengkuknya menghangat di bawah tatap redup penuh hasrat.

"Apa yang Seijuuro-san inginkan?"

Mereka tahu benar apa yang akan selanjutnya terjadi jika Tetsuya tidak memberikan larangan, atau jika Seijuuro tidak menghentikan perbuatannya. Ya, Seijuuro hanya tinggal menunggu gestur ringan tanda penolakan saja dari Tetsuya.

Dan ia bersumpah, ia pasti langsung berhenti.

"Tetsuya akan menyanggupi apa yang kuminta?"

Tidak fokus karena tubuh terhimpit di antara pintu kayu dan sosok tampan di hadapan, Tetsuya hanya mampu mengangguk impulsif.

"Oke."

Pipi kanan mendadak ditangkup lembut, Tetsuya hanya diberi satu detik kesempatan menarik napas sebelum ia kehilangan nyaris semua.

Ia tidak terkejut, tapi tidak menduga juga jika Seijuuro benar-benar nekat akan menciumnya.

Berawal dari sebuah kecupan ringan di sudut bibir, rasa hangat tidak biasa langsung menjalari kedua pipi. Mata Tetsuya buru-buru terpejam begitu ditatap intens oleh kedua bola mata sewarna rubi. Hidung mereka bersentuhan, dan bibir Seijuuro semakin menekan dengan berani.

Ia hanya akan dengan lembut menyatukan kedua bibir mereka. Menggerakkannya perlahan, tanpa lidah ataupun pertukaran saliva. Seijuuro merasa ia sudah menunggu cukup lama, dan ketika tidak ada tanda-tanda penolakan dari Tetsuya, ia langsung saja menyambar kesempatannya sebelum terbuang sia-sia.

Seijuuro tersenyum dalam hati saat menatap wajah merona Tetsuya. Bunyi napas eratiknya dengan jelas menerpa. Betapa ia dapat menghitung lentik bulu mata yang menyentuh wajah, atau mendengar detak jantung bergemuruh bagai derap kaki ratusan ekor kuda.

Jujur, ini adalah yang pertama kali, jadi Tetsuya tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Apa ia mesti mendorong Seijuuro layaknya drama-drama romantis di televisi? Tapi Tetsuya begitu menyukai ini, ia tidak dapat menolak perasaan aneh yang beramai-ramai datang menghampiri.

Tetsuya mencengkram kedua lengan Seijuuro, saat bibirnya mulai terasa basah, begitupun saat tangan besar itu beralih menuju pinggangnya. Dada Tetsuya sesak, takut kalau sewaktu-waktu ia tiba-tiba saja meledak.

/Kau juga menyadarinya, bukan? Aku jatuh hati padamu, Kuroko Tetsuya.../

Kenyal daging lembut menjauh, meninggalkan kecupan terbuka pada bibir bawah, lalu beralih menuju dahi Tetsuya. Tidak sekarang. Batin Seijuuro berperang, dan ia memutuskan bahwa ini bukan waktu yang tepat bagi mereka untuk berakhir tanpa busana di atas ranjang.

"Sudah kuambil imbalanku." Seijuuro kembali berbisik di telinga. "Selamat malam, Tetsuya."

Dan dengan bisik kalimat barusan, hangat tubuh Seijuuro menjauh perlahan. Mata sayu Tetsuya menangkap tatap bergairah yang mungkin sama-sama tercermin di kedua matanya. Tubuh Tetsuya gemetar, tangan-tangan kecil begitu ingin menjangkau sosok Seijuuro.

Ia ingin lebih dari ini.

"Seijuuro-san..."

Terlambat, Seijuuro keburu berbalik dan meninggalkan Tetsuya tanpa kata-kata lagi.

Sadar bahwa ia telah ditinggalkan, dengan wajah memerah, Tetsuya buru-buru memasuki kamar dan membiarkan tubuhnya bersandar lemas di balik pintu sebagai pertahanan. Bibir membengkak dihiraukan, otak Tetsuya penuh oleh berbagai macam pemikiran.

Entah bagaimana ia harus menghadapi seorang Akashi Seijuuro pada esok hari, tanpa disertai emosi berlebihan menguasai diri.

.

Rombongan Ryota dan Daiki sudah berkumpul di ruang makan resort untuk sarapan pagi. Dalam tiga jam mereka mesti berangkat menuju bandara Kumejima demi kepulangan mereka ke Tokyo hari ini. Sebagian lagi meminta sarapan diantar ke kamar, karena mereka sedang sibuk mengepak barang bawaan.

Tetsuya melangkah mantap.

Ia telah melatih sikap dan ekspresinya di depan cermin semalaman, bahkan tadi pagi juga. Ia sudah siap jika bertemu dengan sosok Seijuuro. Jika pagi ini pria bermarga Akashi itu bersikap biasa saja atas kejadian kemarin, Tetsuya juga bisa melakukannya.

"Kuroko-cchi!" Ryota berseru keras-keras memanggil Tetsuya begitu ia selesai mengisi piring dengan menu sarapan pilihan. Tetsuya menoleh lambat dan mendapati Si Rambut pirang tengah duduk bersama Daiki di satu meja. Aura pengantin baru masih terasa sewaktu Tetsuya mendekati meja mereka.

"Kau sudah mengepak, Tetsu?" Daiki menyuap sup dari mangkuk, saat Tetsuya duduk di hadapan.

"Ya."

Ryota tersenyum manis. "Ini." Ia tiba-tiba menyodorkan sebuah tas karton pada Tetsuya. "Bingkisan kecil karena telah membantu kami sampai di sini-ssu."

"Terimalah Tetsu. Isinya tidak seberapa."

Tetsuya mengerjap. "Tapi aku tidak melakukan apapun." ia berujar pelan, namun menerima tas karton itu setelah terus menerus dipaksa Ryota. "Kurasa Seijuuro-san lebih berhak menerima hal semacam ini, Kise-kun. Ia banyak ikut andil dalam pernikahan kalian."

Ngomong-ngomong tentang sosok berambut merah. Tetsuya tidak melihat sedikitpun batang hidungnya sejak tadi.

"Ah, Akashi-cchi sudah menerima bingkisan kecil kami, aku kebetulan bertemu dengannya saat jogging pagi-ssu. Itu sebelum ia berangkat dengan penerbangan paling awal hari ini menuju Naha."

Tetsuya berhenti menusuk potongan ayam dalam tumisan di atas piring. Apa? Seijuuro sudah berangkat lebih dulu dengan penerbangan paling pagi?

"Biasalah, Paman Akashi membutuhkan dia segera. Lelaki tua itu menyuruh Akashi untuk berhenti berpesta dan bergegas mengerjakan tumpukan tugasnya." Daiki mengatakan kalimat barusan dengan wajah tidak suka. "Walau sifat mereka serupa, Akashi terkadang sampai kewalahan mengimbangi keinginan ayahnya..."

"Dai-chan... Kurasa tidak baik jika kita membicarakan mereka seperti ini..."

Dicegah Ryota untuk bercerita, Daiki hanya bisa menghela napas kecewa. "Yaah, maafkan aku. Tapi aku merasa kasihan pada Akashi. Apa Paman tidak menyadari, jika sikap membangkang Seijuuro selama ini adalah akibat dari ulahnya sendiri."

Ryota menepuk lengan Daiki. "Hei..., tapi Midorima-cchi bilang mereka sudah mulai berbaikan... Paman Akashi sekarang lebih pengertian terhadapnya-ssu..."

Sisa sup dalam mangkuk dihabiskan, Daiki diam-diam merasa senang mendengar kemajuan dari sahabatnya tersebut. "Heh, syukurlah kalau begitu... Ini berarti ia mesti berhenti main-main lagi dalam urusan cinta. Prioritas utama Paman Akashi adalah mendapat keturunan secepat mungkin, dan hal inilah yang sejak dulu dimanfaatkan olehnya untuk melanggar semua perintah Paman. Ia senang sekali berganti pasangan, tanpa serius mendalami satupun hubungan..."

Dahi Tetsuya mengerut. Entah bagaimana, kalimat Daiki tadi membuat selera makannya mendadak hilang.

Tetsuya yakin betul jika pria muda, tampan, dan semapan Seijuuro memiliki segudang petualangan cinta. Ia malah akan sangat heran jika tidak menemukan gores-gores pengalaman bercinta dalam jejak rekam hidup Seijuuro.

Tetsuya hanya tidak menyangka, bahwa ide membangkang perintah Sang Ayah malah dimanfaatkan Seijuuro untuk bermain-main dengan komitmen seperti ini.

(Hati kecil Tetsuya langsung membuat satu pertanyaan repetitif: 'Apa Seijuuro juga akan melakukan hal serupa padanya? Bermain cinta, lalu meninggalkan Tetsuya jika rasa bosan mulai melanda?' Apa ia akan bernasib serupa partner-partner Seijuuro sebelumnya?)

Pantas saja jika ia termakan karma. Bagaimana Tetsuya menyaksikan perasaan iri sekaligus bersalah terlukis di wajah, sewaktu Seijuuro menceritakan kehidupan berkomitmen para sahabat dekatnya.

Menyadari kebisuan Tetsuya, Ryota langsung menengahi kalimat Daiki. "Kau tidak perlu khawatir Kuroko-cchi!" lengkungan senyum dibuat untuk menenangkan hati. "Akashi-cchi yang sekarang, tidak sama seperti Akashi-cchi yang dulu-ssu..." punggung tangan Tetsuya ditepuk berulang kali, ia melanjutkan perkataannya dengan sepenuh hati. "... ia sudah berubah, kumohon..., percayalah pada Akashi-cchi!"

Getar halus ponsel mengalihkan atensi. Nama Akashi Seijuuro jelas-jelas tertera di sana, meminta maaf karena tidak sempat memberitahukan kepulangannya secara langsung pada Tetsuya.

/Tidak apa. Hati-hati dalam perjalanan, Seijuuro-san./

Balasan Seijuuro berupa kalimat serupa, doa supaya Tetsuya selamat sentosa dalam perjalanan pulang, tanpa bertemu suatu kendala. Tidak sedikitpun peristiwa kemarin dibahas dalam kalimat miliknya.

Percaya? Apakah ia bisa?

Sarapan yang telah mendingin di atas meja, dengan setia menemani Tetsuya membenahi hati dan pikirannya.

.

Benang merah tak kasatmata terpilin dalam sebuah kekusutan yang kompleks, sewaktu ia terulur atau tertarik secara tiba-tiba.

Tapi meski begitu, ia tidak akan mudah putus begitu saja.

TBC~

.

1. Tomoe kembar: atau futatsu tomoe, simbol yin-yang di Jepang yang berarti heaven and earth. (Saya mengambil simbol ini buat tanda ikatan sebab mereka pas sepasang. Hehehe...)

2. Shima Uta: Lagu pulau. Lagu yang menggambarkan keindahan Okinawa.

3. Goe no Matsu: Pohon pinus tertua, terbesar, sekaligus kebanggan Pulau Kume.

A/N: Yosh! Akhirnya chapter ini kelar... walau rada membosankan—karena nggak ada lemonan ^_^... Ah, saya tidak mau lama-lama bikin konflik antara Tetsuya en Seijuro. Cuma bikin hati Tetsu bimbang sebentar palingan, atau bikin Tetsu cari gebetan lain, eh... *digunting. Hahaha... Terima kasih telah membaca, me-review, atau memberi saran untuk fic ini. Semoga ke depannya bisa lebih baik lagi. Saya akan berusaha! Ciao!