Title: Rendezvous
Pair: AkaKuro, AoKise, MidoTaka, MuraHimu
Disclaimer: Tadatoshi Fujimaki, i gain no profit from this fiction
Warn: OC, OOC, typos, languages, Hybrid Cat!AU, M-preg, BL.
.
Rendezvous 11: Last Heaven
.
.
Salju pertama turun pada minggu terakhir di bulan Desember. Dua hari menjelang Natal, dan Seijuuro berniat akan ikut pulang ke Nagano untuk menemui Keiko.
"Kurasa lebih cepat, akan lebih baik." Mereka duduk di ruang tengah mansion Akashi, menikmati waktu siang dengan secangkir teh hijau dan kue-kue manis dari tepung beras. Setelah berkata begitu, Seijuuro mengabaikan wajah merona Tetsuya, atau alis Masaomi yang naik sebelah.
"Walaupun aku setuju, tapi Tetsuya-kun masih punya kontrak dengan agensinya, ingat?" cairan pekat disesap nikmat, Masaomi menangkap kesungguhan terlukis di kedua mata anaknya. Benar kata pepatah, kalau sudah cinta, inginnya langsung diresmikan saja.
"Kami sudah membahasnya kemarin. Oleh karena itu, aku akan menemui Nyonya Kuroko untuk berkonsultasi lebih lanjut."
Masaomi lagi-lagi mengangguk setuju. "Ya, kau harus mengenalkan dirimu dulu, menjalin hubungan yang baik dengan keluarga calonmu, sebelum membawa anaknya pergi..." ia lalu menatap Tetsuya seraya mengulas senyum maklum. "Maafkan anakku, Tetsuya-kun. Kau jadi terlibat sejauh ini dengannya..."
Tetsuya balas tersenyum canggung, ketika mendengar gerutuan Seijuuro akan komentar pedas Masaomi.
"Ibuku tentu saja akan senang." Jemari mungil separuh tersembunyi di balik kaus lengan panjang hitam seraya mengusap sekeliling cangkir porselain dalam pegangan tangan. "Beliau selalu menyambut hangat orang-orang baik yang dekat denganku..."
Lewat makan malam perayaan pertambahan usianya, Seijuuro mengenalkan Tetsuya secara resmi pada Masaomi—yang mendadak jadi menyayangi Tetsuya setelah beliau mengenal kepribadian pemuda itu lebih jauh.
Mereka berbincang mengenai apa saja, yang meski singkat, ternyata mampu membuat ikatan di antara mereka—bagaikan ayah dan anak, ehem calon menantu, maksudnya. Seijuuro sendiri sampai heran akan sikap Masaomi yang bisa dibilang 'berbeda' dibanding kepada partner-partnernya dulu. Err, tapi memang baru kali ini Seijuuro membawa pulang langsung calon pilihannya dan dengan berani mengatakan bahwa ia akan segera menikahi Tetsuya.
"Kalau begitu, setelah ini sebaiknya diadakan pertemuan keluarga agar kita bisa membicarakan semua." Masaomi memberi usul. "Karena menikah bukanlah hal sepele. Karena menikah berarti menyatukan dua keluarga..."
Seijuuro menyipitkan mata. "Tapi dulu ayah berniat menjodohkanku." Nada menyindir begitu kental dalam kalimatnya. "Kalau ternyata aku tidak cocok dengan pasanganku yang ayah pilihkan, bukankah itu nantinya malah akan menjadi bencana?"
Masaomi mendengus kecil. "Itu adalah cara terakhirku untuk menghentikan tingkah membangkangmu dulu..." ia tidak menghiraukan protes Seijuuro dan kembali menatap Tetsuya. "Sejak ibu Seijuuro meninggal, komunikasi di antara kami memang memburuk." Matanya seperti mengenang sesuatu, seakan ada rasa sesal sekaligus rindu. "Beruntung, dia memiliki sahabat-sahabat yang masih peduli, dan pada akhirnya bertemu denganmu..."
Tetsuya tersenyum tipis sewaktu pandangannya dan Seijuuro bertemu dalam sebuah percakapan rahasia tanpa kata.
.
Jatah libur dua hari dari agensi dimanfaatkan Tetsuya untuk pulang ke kampung halaman. Dan tepat sehari setelah Natal nanti, ia harus kembali lagi ke Tokyo.
"Keluarga kami memiliki bakery kecil merangkap kafe. Ibu sangat pandai membuat kue, dan beliau memutuskan untuk membuat toko kue setelah kepindahan kami dari Aomori." Tetsuya membagi kisah mengenai kehidupannya sebelum hijrah ke Tokyo, pada Seijuuro. "Tidak besar, tapi toko kue kami sudah berdiri sejak aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Ibu membangun semuanya dari bawah..." wajah Tetsuya terlihat bahagia sewaktu ia bercerita dalam taksi yang mengantarkan mereka melintasi jalanan bersalju. "Dan rencananya, dengan uang hasil kerja kerasku di Tokyo, aku ingin sekali membuka cabang bagi toko kecil kami..."
Seijuuro mengangguk setuju. "Itu ide bagus. Aku akan berusaha membantumu mewujudkannya setelah ini." Kalimat tadi dibalas senyum hangat dari Tetsuya. "Sebuah merger usaha, sepertinya terdengar sempurna..." otak Seijuuro sudah merancang berbagai skenario hidup yang bakal dijalaninya bersama Tetsuya di masa depan nanti. Sang Ayah tentu akan sependapat dengan ide-ide brilian dalam kepalanya. "Nah, setelah mendengar kisahmu tadi, tentu Tetsuya pasti pintar dalam urusan dapur... Bakat orangtua, biasa menurun pada anak-anak mereka."
Tetsuya tertawa kecil. "Kalau maksud Seijuuro-san itu berarti hanya merebus air atau menggoreng telur, kurasa aku bisa..."
"Huh?"
"Bercanda."
Seijuuro menatap tidak percaya pada pemuda di sebelahnya, tapi sedetik kemudian ia malah larut dalam tawa geli bersama Tetsuya. Padahal kalimat tadi terdengar biasa saja, tapi entah kenapa jadi malah begitu lucu bagi mereka.
"Ingatkan aku untuk memintamu memasakkan sesuatu untukku setelah ini—"
Kalimat Seijuuro terpotong, saat taksi yang mereka tumpangi ternyata telah mencapai destinasi.
"Kita sampai, Seijuuro-san!" dan ia dapat menangkap binar ceria tergambar pada kedua mata milik Tetsuya, layaknya bocah kecil dalam permainan menemukan kotak harta. Dadanya tiba-tiba sesak, mulut Tetsuya mengucap satu kata dengan suara pelan. "Okaa-san, tadaima..."
.
Jangan pernah menilai buku dari sampulnya. Atau, jangan kira wanita akan selalu bergantung pada pria. Oh, mungkin kalimat terakhir terdengar lebih realistis di telinga.
Kuroko Keiko adalah wanita—single parent, dengan usia menapaki awal separuh abad. Ia seorang ibu, pekerja keras, berhati lembut, dan penyayang sesama.
Semua itu langsung terbaca begitu mereka bersua untuk kali pertama. Seijuuro sampai mengira jika ia tengah menghadapi titisan Bunda Teresa atau Lady Diana. Betapa kesan pertama saat bertemu dengan para anggota keluarga Kuroko, benar-benar di luar ekspektasinya.
Seijuuro kini tahu, darimana Tetsuya mewarisi postur tubuh dan perangai lembut tanpa emosi itu. Darimana ia mewarisi cara bicara santun, juga tatap penuh determinasi yang seakan membuat orang lain tidak ragu pada setiap ucapan mereka.
Semua kini terjawab, saat langkah kaki Seijuuro membawanya melewati pintu kaca bakery dengan papan kayu belogo hydrangea biru.
Keiko menyambut Tetsuya dalam sebuah pelukan hangat. Punggung Sang Anak diusap penuh sayang, dan pernyataan rindu terus saja mengalir keluar lewat bisikan-bisikan pelan.
Hari masih pagi. Toko mereka baru akan buka dalam setengah jam ke depan. Harum roti gandum dan kue-kue manis memenuhi seluruh bagian dalam toko. Dua pegawai wanita berseragam, tersenyum kecil menatap reuni di hadapan—seraya sekali-sekali mencuri pandang ke arah pria tampan yang berdiri di sebelah anak majikan mereka.
"Ibu, kenalkan, ini Akashi Seijuuro-san."
Keiko melempar tatap lembut sarat rasa ingin tahu kepada 'seseorang' yang dibawa pulang oleh Tetsuya. Pemuda berambut merah itu tinggi tegap, tampan, serta terlihat bagai dilahirkan dalam lingkup keluarga bangsawan. Dan melihat dari cara Tetsuya bersikap, mungkinkah orang ini yang pernah diceritakan olehnya dulu? Saat ia tengah mengalami 'masalah hati'?
Ah, bisa jadi.
Seijuuro membungkuk sopan, sebelum akhirnya berjabat tangan dengan Keiko.
"Senang bertemu dengan anda, Kuroko-san..."
"Sama-sama, Akashi-kun. Nee, boleh aku memanggilmu begitu?"
Senyum diulas, Seijuuro mengangguk sekilas. "Tentu saja..."
.
"Ibu tetap membuka toko? Bukankah besok Natal?" Tetsuya bertanya ketika ketiganya sudah berkumpul di ruang tengah, duduk mengelilingi meja penghangat dengan secangkir teh yang masih mengepulkan uap ke udara.
Irisan empuk cake keju disodorkan dalam piring-piring mungil oleh tangan cekatan Keiko. "Inginnya begitu. Tapi ibu mendapat pesanan kue dari para pelanggan. Hari ini, Ayaka dan Natsu akan membantu ibu menyelesaikan semua pesanan. Dan mulai besok sampai seminggu ke depan, ibu memberi mereka waktu libur untuk dihabiskan bersama keluarga."
Tetsuya menyesap tehnya. "Kuharap aku bisa menemani ibu lebih lama..." karena waktu dua hari terasa bagai sekelebatan cahaya bagi mereka.
"Tidak apa. Ibu sangat bersyukur, Tetsu-kun dapat kembali ke rumah saat Natal tahun ini."
Kalimat penuh rasa bersalah digumamkan, Keiko mengusap punggung tangan anaknya dan mengatakan bahwa itu bukanlah kesalahan Tetsuya.
"Jadi..." Keiko menatap bolak-balik pada dua pemuda di hadapannya. Ia tidak dapat menebak apa sebenarnya tujuan Seijuuro datang kemari. Keiko memiliki dua kemungkinan. Pertama, Tetsuya bakal mengenalkan Seijuuro sebagai seorang teman, sedang kemungkinan lain... tunggu sebentar, apakah ini terlalu jauh, jika ia mengira Seijuuro adalah kekasih Tetsuya?
Seijuuro dan Tetsuya saling berpandangan sebentar, sebelum akhirnya Si Pemuda berambut merah angkat bicara.
"Saya tahu, kalau ini mungkin terlalu terburu-buru," ia menjeda kalimatnya. "... tapi saya memiliki niat bersih untuk bisa mengikat Tetsuya dalam sebuah pernikahan. Oleh karena itu, tanpa bermaksud jelek, saya mengharapkan izin dari Kuroko-san."
"Eh?"
Jujur, sewaktu mendengar kalimat tadi keluar dari mulut Si Pemuda asing—yang baru ia kenal hari itu juga, hati Keiko sedikit mencelos. Sebuah lamaran sama saja dengan memisahkan ia dengan anak satu-satunya. Walau ia bahagia mendengar ini, tapi perasaan akan segera kehilangan Tetsuya, tentu bakal terus membayangi di belakang.
Lengan disentuh lembut, Tetsuya membawa pikiran Keiko kembali pada kenyataan yang tersaji di hadapan. "Ibu?"
Tersentak, Keiko mendapati mata biru yang begitu serupa dengan milik mendiang suaminya, menatap balik dengan khawatir. "Ah." Ia tersenyum tipis, lalu kembali memfokuskan tatap ke arah Seijuuro. "Maafkan ibu." Suaranya sedikit gemetar saat berucap. "Ibu hanya terkejut mendengar ini..." terkekeh pelan, Keiko menepuk gemas punggung Tetsuya. "Tetsu-kun tidak pernah bercerita apapun pada ibu—pernah, tapi hanya sekali! Berita sebahagia ini, tentu saja membuat ibu merasa senang!"
Tetsuya menghela napas yang sejak tadi tertahan di tenggorokan. "Syukurlah, kalau begitu..." karena ia mengira Keiko merasa kecewa setelah mendengar ini semua.
Kelap-kelip lampu yang terpantul pada ornamen pohon natal di ruang tengah, membawa pikiran Keiko sesaat menembus masa lalu. Pada tangis pertama Tetsuya sewaktu lahir ke dunia, apa kata pertama yang ia ucapkan, saat kaki-kaki kecilnya melangkah penuh semangat ketika belajar berjalan, atau saat malaikat mungil itu mengenakan seragam sekolah untuk pertama kali dengan senyum bangga.
Semua seperti baru terjadi kemarin, dan hari ini, mendadak ada seseorang yang akan mengikat Tetsuya dalam sebuah pernikahan.
Ah, betapa hidup memang bagai sekedipan mata.
Keiko sadar jika Tetsuya bukan anak kecil yang butuh perlindungan lagi. Dia tumbuh menjadi laki-laki dewasa, dan suatu saat bakal menjalani kehidupan lain dengan membentuk keluarga baru. Ia sendiri yang telah mendorong Tetsuya untuk mengubah prilaku dan mentalnya agar mampu menghadapi kerasnya dunia. Keiko meyakinkan Tetsuya untuk menerima dan menjalani pekerjaan barunya, sampai-sampai harus merantau ke luar kota—walau berat ia rasa.
(Tapi sebagai seorang ibu, mendengar anaknya akan terikat dalam sebuah komitmen—yang berarti sama saja mengambil Tetsuya dari sisinya—entah kenapa membuat Keiko sedikit tidak rela. Ah, betapa kalimat tadi terdengar sangat egois di telinga.)
Ia sangat menghargai usaha Seijuuro dalam memperjuangkan hubungan mereka, hingga dengan berani meminta izin langsung pada Keiko. Sama seperti Ogiwara dulu, instingnya mengatakan jika Seijuuro adalah pemuda baik yang dapat melindungi Tetsuya. Meski penampilan luarnya tampak tak terjangkau, namun siapa sangka Seijuuro ternyata mampu mengambil hati Tetsuya. Karena Keiko tahu, Sang Anak tidak bisa betul-betul dekat dengan orang lain, kecuali jika mereka telah menyentuh hatinya secara tulus.
Dan ia pikir, jika dengan begini Tetsuya akan bahagia, bukankah itu adalah hal yang sungguh luar biasa?
(Karena kebahagiaan Tetsuya, adalah hal yang paling Keiko harapkan sebelum ia meninggalkan dunia.)
Tetsuya semakin khawatir, ketika Keiko kembali diam tidak bersuara. Ia salah sangka jika Sang Ibu tidak menyetujui semua ide tentang pernikahan ini. Tetsuya akhirnya membuka mulut, meski kalimatnya mungkin akan melukai Seijuuro.
"Tapi kalau ibu tidak memberi izin, aku tidak akan menerima permintaan Seijuuro-san."
Wajah Seijuuro seakan berkata 'apa-apaan, Tetsuya?' begitu juga dengan Keiko.
"Tetsu-kun, bicara apa?" Keiko tertawa kecil begitu melihat wajah absurd Seijuuro—yang sedikit panik mendengar ucapan Tetsuya. Ia mengibaskan tangan enteng. "Bukan masalah itu. Ibu sudah bilang kalau ibu sangat senang mendengar berita bahagia ini..." ia menghela napas dan mulai bicara lagi. "... hanya tidak mengira, jika Tetsu-kun sudah menemukan pasangan hidup, dan tidak lama lagi akan membentuk sebuah keluarga." Mata Keiko menerawang. "Rasanya seperti baru kemarin, ibu melihat senyummu ketika Tuhan pertama kali mempertemukan kita, atau mendengar Tetsu-kun menangis sewaktu demam tinggi menyerangmu di kelas tiga sekolah dasar dulu."
Hening mengisi ruang. Keramaian toko kue di lantai bawah terbawa samar lewat udara, diiringi jingle natal yang dipasang Natsu untuk meramaikan suasana.
"Ibu jadi bernostalgia." Setitik air tampak di ujung mata. Tidak sampai jatuh bergulir, namun baik Seijuuro ataupun Tetsuya mengerti akan keadaan Keiko saat ini. Ia lalu menatap lurus pada pemuda bermarga Akashi di hadapannya. "Jika niat Akashi-kun mulia, maka tidak ada yang bisa kulakukan selain menyetujuinya." Ia merasakan genggaman hangat melingkupi jemari yang mulai berkerut termakan usia. "Tapi tolong, jaga dan bahagiakan dia," genggaman Tetsuya dibalas erat oleh Keiko. "... karena hanya Tetsu-kun, satu-satunya hartaku yang berharga..."
Kalimat barusan membuat kedua mata Tetsuya memanas. Ia menunduk dalam, hatinya serasa diremas saat mendengar ucapan itu.
Seijuuro yang sempat diam sejenak, lalu mengangguk mantap. "Tentu saja, Kuroko-san. Aku akan memegang janjiku." Kepala ditundukkan, Seijuuro berujar tulus. "Terima kasih."
Keiko membalas perbuatan santun Seijuuro dengan senyum hangat. Wajahnya kembali ceria seraya memandang pada mereka berdua. "Tapi bagaimana dengan kontrak agensi? Bukankah masih ada satu setengah tahun lagi, sampai Tetsu-kun menandatangani kontrak yang baru?"
"Benar." Seijuuro meraih cangkir teh dari atas meja. "Untuk itu, saya kemari untuk membicarakan hal tersebut." Gerak-gerik elegan membuat kepala Keiko dipenuhi tanya akan siapa sebenarnya sosok Akashi Seijuuro ini. "Inginnya disegerakan." Matanya menatap Tetsuya penuh makna. "Namun jika tidak dapat dipaksakan, maka saya bersedia menunggu sampai waktu renggang itu tiba."
Ya, karena saat menandatangani kontrak baru, mereka dapat berkonsultasi mengenai kelangsungan karir dan pernikahan dengan pihak agensi. Tetsuya masih tergolong anggota baru, jadi belum memiliki privilege seperti para anggota senior. Jika kesepakatan lancar, Tetsuya akan tetap menjalani kegiatannya seperti semula. Namun jika agensi tidak menyetujui hal tersebut, maka kemungkinan besar, Tetsuya tidak akan melanjutkan pekerjaannya di dunia entertainment.
Lagipula Seijuuro sudah merencanakan akan mengangkat Tetsuya sebagai pemimpin dalam usaha baru yang tengah ia persiapkan ke depan. Ia sudah memperhitungkan semua, hanya tinggal membicarakannya lagi dengan orang-orang yang bersangkutan.
Keiko mengangguk mengerti. "Pekerjaan dalam dunia showbiz memang memiliki banyak kendala. Ibu juga sempat khawatir, tapi ibu tetap melakukannya karena ingin Tetsu-kun mengubah sikap introvert dan tertutup milikmu. Tapi kalau ini memang yang terbaik, ibu akan mendukung langkah baik kalian..."
.
"Tetsuya?" di antara remang cahaya ruang tengah, Seijuuro mendapati Tetsuya kini berjongkok di hadapan pohon terang penuh ornamen natal. Kedua mata sewarna rubinya menatap jarum-jarum jam dinding yang hampir menunjuk tengah malam.
"Seijuuro-san? Kau belum tidur?"
"Aku mendadak ingin ke toilet..." langkah kaki dibawa keluar kamar tamu, Seijuuro berdiri di samping Tetsuya. "Kau sendiri, apa yang sedang kau lakukan? Ini hampir tengah malam."
Kekeh kecil terdengar sebagai jawaban, Tetsuya lalu bangkit dari posisi semula. "Menaruh hadiah kita untuk ibu, kuharap ia senang." sebuah bingkisan dan kotak mungil terbungkus kertas kado, duduk manis di bawah naungan iluminasi dari lampu-lampu penghias pohon imitasi. Tetsuya tersenyum mengingat wajah terkejut Keiko, sewaktu mengetahui siapa dan apa profesi yang dijalani oleh Seijuuro.
"Kuroko-san sudah pasti senang. Ibumu orang yang baik, beliau tentu saja akan menerima ini." Bahu kecil diraih, jemari Seijuuro lalu membuat usapan lembut di sana. Namun tidak lama, karena tiba-tiba saja Tetsuya sudah melingkarkan tangannya untuk memeluk Seijuuro—yang lumayan terkejut oleh aksi barusan.
"Apa ini tidak apa-apa, Seijuuro-san?" bisikan lirih terdengar nyaring memantul pada dinding-dinding ruang tengah.
"Apa Tetsuya masih ragu?"
Gelitik halus rambut ia rasa, ketika Tetsuya menggeleng pelan di sisi lehernya.
"Tapi..., apa Seijuuro-san mau menunggu sampai kontrakku dengan agensi berakhir? Dan itu masih sekitar... setahun dan dua bulan lagi?"
Tangan-tangan besar Seijuuro meraih pinggang Tetsuya, lalu mendekapnya erat. Sebuah kecupan ringan mendarat di puncak kepala seharum bunga.
"Sampai Tetsuya sendiri yang mengatakan tidak, maka akupun tidak akan menyerah."
Ia merasakan cengkraman Tetsuya di punggungnya mengerat. "Seijuuro-san gombal juga ternyata..."
Sehabis mendengar kalimat itu, mereka sama-sama tertawa kecil. "Kalau ada mistletoe, dan kita berdiri di bawahnya, sudah kucium Tetsuya sejak tadi."
"Cium saja."
Tetsuya mendongak, lalu mempertemukan mata mereka. Bibir bawahnya digigit, ia mendadak gugup setelah berujar tanpa berpikir panjang terlebih dulu. Mereka sering melakukan ini saat berada di ruang privat, tapi di rumahnya sendiri—saat Sang Ibu tengah terlelap di kamar lain, membuat Tetsuya jadi merasa malu. Ia memejamkan mata saat merasakan tekanan dari bibir Seijuuro, yang memaksa untuk menginvasi lebih jauh.
Napas mereka bersahutan saling menerpa wajah, saat ciuman disudahi. Tetsuya menyandarkan dahinya pada dada Seijuuro.
"Aku jadi tidak bisa menahan diri, jika dekat-dekat Seijuuro-san..."
"Hei, bukankah itu bagus?"
"Huh? Ini sama sekali tidak bagus!" Tetsuya menepuk pinggang orang yang masih mendekapnya. "Lagipula, bukankah Seijuuro-san ingin pergi ke toilet? Kenapa malah berhenti di sini?"
"Ah, kau benar... Aku sampai lupa." Seijuuro terkekeh kecil, tangannya lalu berpindah untuk mengacak helai-helai biru muda. Ia baru sadar jika hari telah berganti, ketika jam besar berbunyi. "By the way, Merry Christmas, sunshine..."
Tetsuya tersenyum manis, hingga matanya menutup dan membentuk lengkungan bulan sabit di wajah.
"Merry Christmas to you too, Seijuuro-san."
.
.
Mereka setia menanti dalam musim yang berganti.
Menikmati hangat angin musim semi di bawah naungan merah muda sakura.
Membiarkan nyanyian serangga memenuhi telinga layaknya orkestra kecil di musim panas.
Bergandengan tangan erat, saat Kyoto dihujani lembar demi lembar momiji merah tua.
Sampai melewati lagi salju pertama yang turun di musim dingin untuk kali kedua.
Hari-hari terlalu cepat berlalu dalam rangkaian rotasi waktu.
Dan saat Si pemuda berambut biru bertambah usia, Seijuuro meminta Tetsuya agar mau menjadi bagian hidupnya lewat sebuah ikatan sakral bernama pernikahan.
.
.
Satu tahun dan tiga bulan kemudian...
Suasana Yuzuya tidak seperti hari-hari biasa. Ryokan bintang lima itu tidak beroperasi sehari, lantaran Sang Pemilik penginapan tengah mengadakan hajat besar. Sejak dua hari yang lalu, persiapan menyambut pesta sudah mulai terlihat di sana. Para staff sibuk mendekorasi ruang pertemuan menggunakan bebungaan dan ornamen bernuansa tradisional. Mereka menutupi meja-meja dengan kain linen berwarna gading kualitas nomor satu, menaruh pot-pot ikebana(1) cantik berseni tinggi di atasnya, hingga melapisi dinding dengan wallpaper berwarna merah kayu.
Kuroko Tetsuya kini sudah resmi mengganti nama keluarganya menjadi Akashi.
Dan setelah upacara pengikatan—prosesi mengucap sumpah di hadapan pendeta—usai, para tamu bergegas menuju ruang pertemuan yang dijadikan sebagai tempat resepsi tertutup bagi rekan atau sahabat dekat. Sementara, pasangan pengantin digiring menuju ruangan lain untuk melakukan o-ironaoshi(2)—atau mengganti kimono.
Begitu langkah mereka mencapai ruang pertemuan Yuzuya, tepuk tangan riuh dan sorak gembira langsung menyambut. Keduanya mengulas senyum bahagia saat tersiram blitz kamera. Kimono formal berwarna merah dan hitam berbahan sutra, membalut tubuh mereka dalam sebuah harmoni. Sulaman bunga peony putih dan emas, anggun menghias lengan-lengan dan bagian bawah hikizuri furisode(3) merah milik Tetsuya. Di sampingnya, Seijuuro terlihat gagah dengan montsuki(4) hitam bersulam lambang keluarga.
Acara dilanjutkan dengan melewati rangkaian pidato ucapan selamat dan berfoto bersama, sampai akhirnya tiba jamuan makan malam bagi para undangan.
Aneka hidangan otentik Jepang yang merupakan menu favorite dari kedua mempelai, bergantian tersaji di atas meja. Para pekerja ryokan hilir mudik membawa baki-baki berisi ragam menu kaiseki, dan mengisi gelas-gelas mereka dengan anggur atau sake.
"Bersulang untuk kebahagiaan kalian!" Para tamu sudah memasuki menu keempat, saat Daiki berseru keras-keras seraya mengangkat gelas berkaki tinggi miliknya. Mereka yang duduk pada satu meja, ikut melakukan hal serupa.
Shintaro awalnya terlihat sedikit enggan mengikuti ajakan Daiki, namun setelah mendapat sikutan Kazunari, ia mengikuti gestur seluruh penghuni meja utama.
"Seperti yang pernah kubilang, pernikahan mendekatkan orang-orang yang bahkan belum saling mengenal..." Kazunari tersenyum ramah pada Kuroko Keiko yang duduk tepat di seberangnya, juga pada ayah Seijuuro.
"Sayang sekali Momo-cchi tidak bisa datang-ssu, kalau iya, ini akan terasa sangat lengkap!"
"Yaa, tidak kusangka, Aka-chin akhirnya memutuskan untuk terikat dalam sebuah komitmen juga..." Atsushi berkomentar ringan. Irisan salmon dan maguro dalam mangkuk sashimi-nya sudah tandas tak bersisa, membuat Tatsuya—yang duduk tepat di sebelah kiri Atsushi—tanpa ragu segera menawarkan isi dalam mangkuknya sendiri.
Daiki terkikik. "Yaah, meski jadi peserta paling buntut di antara kita..."
Seijuuro menahan hasrat untuk tidak menjejalkan gumpalan wasabi ke dalam mulut ember Daiki. Apa ia sudah minum kebanyakan, sampai-sampai bicara nonsense seperti barusan?
Merasakan aura seram, Daiki kemudian berujar untuk membela diri. "Ahahaha, hei, setidaknya Akashi tidak melajang selamanya... untung saja ada Tetsu, benar 'kan...?" tapi usahanya gagal, dan ia malah mendapat tatap tidak suka dari orang yang bersangkutan.
Ryota buru-buru menyenggol lengan Daiki, menyuruhnya untuk berhenti berkomentar, agar tidak semakin menjerumuskan mereka dalam murka seorang Akashi Seijuuro.
Bibir Daiki mengerucut, ia menutupi mulut dengan telapak tangan, lalu berbisik pelan di telinga Ryota. "Psst, padahal tadinya aku ingin menggoda Akashi dengan lelucon 'apa kau terus bermain dengan tangan kananmu, sampai hari ini tiba?' karena aku baru tahu dari Tetsu tadi, bahwa Akashi tidak mau melakukan hal 'itu' sampai mereka resmi terikat...!" Daiki tentu heboh sendiri, ketika mendengar cerita ini dari Tetsuya. Ia sudah berniat ingin mengatai Seijuuro dengan julukan blue-balls, atau frozen-balls, eh, tapi malah dilarang keras oleh Ryota.
"Dan mau kita digantung terbalik di puncak Kyoto Tower, hah!?" Ryota ikut berbisik, namun dengan nada histeris. Kalau mereka tinggal nama, bagaimana nasib bayi mungil mereka? Bocah itu bahkan belum genap berusia empat bulan!
Dahi berkerut-kerut, Daiki akhirnya menggeleng patuh, lumayan takut.
"Bagus." Ryota mengusap sayang pipi pasangannya dengan senyum terpaksa—atau ini malah lebih mirip seperti orang menahan sembelit.
Shintaro mendengus melihat aksi duet Ryota-Daiki di depan mata. "Dasar duo baka..." anggur disesap penuh penghayatan, ia berhenti menikmati manis getir di lidahnya, hanya untuk mendengar deham pelan.
"Heh, walau sudah seusia ini, kalian tetap saja bisa membuat emosi Seijuuro naik turun..."
Semua mata tertuju pada pemilik suara. Masaomi tengah tersenyum tipis ke arah mereka. Tunggu... beliau tersenyum?!
Ada kelegaan luar biasa terpancar pada wajah tua tergerus usia miliknya, seakan pria itu sudah selesai menunaikan tugas berat yang selama ini ia emban.
Senyum bahagia membuat Masaomi jauh terlihat lebih bijak. "Terima kasih, karena kalian telah menjadi sahabat baik Seijuuro. Terima kasih karena kalian terus menjaganya."
Dan ini adalah senyum pertama yang mereka dapatkan setelah bertahun-tahun lamanya menjadi sahabat dekat Seijuuro. Mereka terkesiap, sebagian terharu hingga tidak mampu membalas, sebagian lagi terkekeh geli sekaligus lega.
Karena sampai kapanpun, hubungan mereka berlima akan lebih kental daripada darah.
Meski nyala lingkaran pertemanan mereka pernah nyaris padam, akan selalu ada energi lain yang membuat bara kecil itu kembali berkobar dengan brilian.
Ryota meringis senang ke arah Tetsuya, begitu pula Daiki. Shintaro menunduk sopan, dan Atsushi tersenyum penuh arti.
Tetsuya mengerjap ketika perhatian seluruh meja kini tertuju padanya.
Ia merasakan seseorang menggenggam telapak tangannya erat. Tetsuya menoleh dan langsung disambut tatap hangat milik Seijuuro.
Dan sampai menu pencuci mulut tersaji di hadapan, suasana kekeluargaan tetap melekat di meja mereka. Membuat orang lain menyangka, jika hubungan ini sudah terjalin lama tanpa adanya kendala.
.
Pukul sembilan malam, dan hampir seluruh tamu sudah meninggalkan ruang pertemuan Yuzuya seraya menenteng tas karton besar berisi hikidemono(5). Isinya berupa set porselain, voucher belanja, dan kue-kue manis buatan bakery ibu Tetsuya. Mereka terbungkus cantik dalam kotak biru muda berhias bunga ajisai(6).
Acara berakhir dengan pidato singkat dari Tetsuya maupun Seijuuro, mengenai permohonan maaf serta rasa terima kasih mereka yang begitu besar kepada orangtua masing-masing.
Ini adalah momen paling menyentuh selama hampir empat jam mereka berkumpul dalam ruang resepsi. Tetsuya berulang kali tersendat sewaktu membacakan 'surat cinta' yang telah ia tulis malam sebelumnya untuk Keiko. Suaranya bergetar menahan luapan emosi yang tertuang dalam setiap goresan tinta di atas kertas.
Para audiens ikut menyeka sudut mata mereka yang sedikit memanas, bahkan Ryota sudah terisak di pundak Daiki, lengkap dengan wajah berhias lelehan ingus dan air mata.
Pemberian tanda mata berupa dua buah teddy bear dengan sulaman nama dan berat persis seperti berat keduanya ketika dilahirkan—juga karangan bunga, diserahkan penuh suasana haru. Berulang kali Keiko mengusap matanya dan berusaha tegar di hadapan banyak orang.
Mereka berempat berdiri di atas panggung, dua tangan Tetsuya digenggam, baik oleh Seijuuro juga Keiko. Lalu keempatnya membungkuk sopan dan dibalas tepuk tangan meriah dari para undangan yang hadir.
.
Kamar mereka berada pada salah satu president suite milik Yuzuya. Untuk mencapai ke sana, Seijuuro harus berjalan sebentar melewati taman yang dilewati oleh dua petugas jaga. Mereka menunduk hormat, dan mengucapkan selamat kepada atasan mereka atas pernikahannya.
Tetsuya sudah diantar menuju kamar mereka setelah pesta usai. Sementara Seijuuro berbincang sebentar dengan para sahabat dan kolega ayahnya.
Banyak karangan bunga berisi ucapan selamat di depan kamar, ketika Seijuuro membuka pintu menggunakan kunci pribadi. Ia tersenyum geli mengingat lagi pembicaraannya dengan Daiki dan Shintaro tadi.
"Kau belum melakukan ini dengan Tetsu, heh?" telunjuk dan ibu jari tangan kiri Daiki membentuk bulatan, sementara telunjuk tangan kanannya membuat gerakan 'menembus bulatan' dengan ekspresi tidak percaya.
Berani sekali rakyat jelata ini membuat gestur tidak senonoh di depan wajah Seijuuro...! Mau cari mati dia?!
Semburat merah muda mewarnai tulang pipi Shintaro. Ia berdeham seraya menaikkan bingkai kacamatanya yang mendadak merosot jauh menuruni pangkal hidung.
"Kau mendadak jadi sok suci, eh? Saint Akashi?" tatap remeh diberi, Daiki hampir saja jadi korban tindak kekerasan dalam persahabatan, ketika kepalan tangan Seijuuro teracung ke udara—berniat menjitak kepala bebal Daiki. Beruntung Shintaro ada, dan ia berhasil mencegah terjadinya pertumpahan darah di sini.
"Aku dan Si Mata Empat ini saja tidak bisa menahan diri, tapi kau..."
"Hei, jangan samakan aku dengan dirimu, nodayo!"
Seijuuro merapikan kusut imajiner pada kerah montsuki-nya. Ia memasang senyum miring, yang tiba-tiba jadi terlihat sangat menakutkan, baik di mata Daiki maupun Shintaro.
"Ha, ini berarti hanya aku sendiri yang merasakan sensasi 'memecah cherry'(7) di antara kita..." penuh keangkuhan ala bangsawan, Seijuuro melakukan salute dan meninggalkan kedua sahabatnya untuk menyusul Tetsuya menuju kamar mereka.
Daiki termangu sejenak untuk mencerna kalimat Seijuuro. "What the..." dan sedetik kemudian, saat ia mulai memahami situasi, berbagai kata tak lulus sensor meluncur keluar menyumpahi Seijuuro.
Beruntung—lagi—Shintaro ada untuk membekap mulut besarnya, dan menyelamatkan mereka dari tatap 'menghakimi' para staff yang masih membereskan sisa-sisa pesta di ruang pertemuan.
.
"Tetsuya ingin berendam sebentar?"
Jantungnya nyaris melompati kurungan tulang rusuknya, sewaktu Seijuuro muncul dari koridor pendek yang menghubungkan kamar mereka dan toilet. Selembar bathrobe membalut tubuhnya setelah seluruh montsuki hitam dilepas.
"Terserah Seijuuro-san saja..." lengan kimono tidur diremat, Tetsuya mengalihkan tatapan matanya dari dada bidang Seijuuro yang terbuka. Titik-titik air masih menetes dari ujung rambut Seijuuro setelah ia selesai menyegarkan diri.
"Ayo..." Seijuuro menatap sebentar lewat pintu geser yang menghubungkan private onsen dengan kamar mereka. Ia berjalan menghampiri Tetsuya dan memintanya untuk segera bangkit. Telapak tangan Tetsuya digenggam erat, Seijuuro berujar meyakinkan. "Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja, oke?" Kedua kelopak mata Tetsuya dikecup lembut, dan bibir seranum stroberi itu dilumat lambat.
Tetsuya mengangguk patuh. Langkah-langkah kecilnya dibimbing menapaki lantai kayu, ke arah onsen privat dengan atap terbuka. Mereka akan berendam sekaligus menikmati langit malam musim semi yang terhampar tanpa batas di atas sana.
Desah puas milik Seijuuro terdengar di sela gemericik air, lipatan handuk tebal ia jadikan bantalan kepala di pinggir kolam air hangat. Meski kepulan uap tipis melayang-layang di udara, itu tetap tidak bisa menyembunyikan tubuh muskularnya dari penglihatan. Kerongkongan Tetsuya mendadak kering, dan ia coba mengalihkan perhatian dengan menatap butir-butir apel fuji yang mengambang di permukaan air. Warna merah mudanya begitu cantik dengan aroma manis saat Tetsuya mengendus halus kulit apel dalam genggaman.
Ragu, ia mencuri pandang pada pasangan hidup yang memejamkan mata di sebelahnya. Seijuuro terlihat menikmati temperatur hangat dari riak-riak air yang memijat otot-otot lelahnya setelah aktivitas pernikahan seharian tadi.
Ah, pasangan hidup ya? Tetsuya menggigit bibir gugup. Lamat-lamat ia mengamati lingkaran platina berhias batu mulia yang terpasang di jari manis tangan kiri. Terasa membakar, seakan menandai Tetsuya sebagai bagian dari diri Seijuuro, begitupun sebaliknya.
Ia meneguk liur, rona merah segar malu-malu mulai merayapi pipi hingga ke telinga.
Ini adalah kali pertama ia melihat tubuh telanjang Akashi Seijuuro. Oke, mereka mungkin sering terlibat dalam kegiatan seksual, namun tidak sampai harus melepaskan seluruh pakaian semacam ini. Seijuuro selalu mampu menahan diri—berbeda dengan dirinya yang terkadang terbawa suasana—dan mereka tidak pernah sampai memasuki tahap intercourse(8). Seijuuro akan berhenti jika Tetsuya sudah mendapat satu pelepasan, bahkan jika ia masih harus tersiksa dengan hard on-nya.
Tetsuya tersenyum. Langit malam dipandang dengan perasaan tak terkira. Ia sungguh beruntung mendapatkan Seijuuro. Tidak ada lagi manusia paling beruntung di dunia ini selain dirinya.
Pandangan mereka bertemu ketika mata Seijuuro membuka. Jantung Tetsuya berdebar lagi, tapi kali ini karena rasa bahagia yang luar biasa.
"Hei, apa Tetsuya takut?" bisik pelan menggema.
"Tidak, untuk apa?" Ia membiarkan apel dalam genggaman terbawa riak air, lalu memberi Seijuuro satu senyum manis andalan. "Aku bahagia."
Pupil mata Seijuuro membesar. Ia bangkit dari posisi awal, dan memutar tubuh hingga kini berhadap-hadapan dengan Tetsuya. Tetsuya merasa pipinya disentuh lembut, dan sejumput rambut biru muda yang mulai memanjang, diselipkan di belakang telinga.
"Aku mencintaimu." Bibir Seijuuro menempel di telinga yang memerah, ia melanjutkan berbisik pelan. "Bahkan sampai di kehidupan setelah aku mati..." pinggang Tetsuya direngkuh posesif. "... aku akan bersamamu."
Bibir mereka saling melumat, saliva bertukar, dan tubuh-tubuh telanjang bergesekan di antara gelombang air yang berkecipak liar hingga meluberi pinggir kolam.
Kedua tangan Tetsuya meraih bahu lebar untuk dijadikan penopang. Tengkuk Seijuuro dicengkram sama-sama posesif. Dengan napas terengah Tetsuya membalas. "Aku mencintaimu, Seijuuro-san..." ia mengusap pipi Seijuuro penuh afeksi. "Di dunia ini, atau di kehidupan keduaku nanti."
.
"Kise-kun bilang, karena ini pertama bagiku, kemungkinan akan sakit sekali..." Tetsuya berbisik pelan ketika Seijuuro mulai mempersiapkan dirinya menggunakan lubrikan beraroma vanila.
"Benarkah? Kalau begitu Tetsuya bisa menjerit atau menggigitku jika mau." Jari tengah Seijuuro masuk, disusul telunjuk, dan dahi Tetsuya langsung berkerut. Seijuuro tersenyum sebentar seakan meminta izin, lalu tanpa peringatan, lidahnya terjulur untuk melakukan jilatan kecil pada organ milik Tetsuya yang mulai mengeras di antara kedua kaki.
"Nnnh, tidak..., jangan oral..." tungkai-tungkai yang terangkat ditahan dengan sebelah tangan oleh Seijuuro. Ujung bantal besar sebagai sandaran kepala, diremas Tetsuya tanpa belas kasihan. "...aah, aku tidak bisa..." kalimat inkoheren mengalir tanpa bisa dicegah.
Mendapat stimulasi di dua titik sensitif, mau tak mau membuat pertahanan Tetsuya runtuh juga. Ia berbisik serak, separuh bermaksud meminta Seijuuro untuk berhenti, separuh lagi memintanya tetap melanjutkan.
"Ah, aah, ini terlalu berlebihan, ungh..."
Dan ketika kedutan tidak normal mulai terasa di sepanjang lidahnya, Seijuuro buru-buru melepaskan isapan. Ia sangat puas melihat organ merah muda itu memantul mengenai perut bawah Tetsuya. Dua jari ditarik keluar perlahan, dan pemuda dibawahnya merasakan kosong setelahnya. Sebelum menegakkan tubuh, sempat ia mencuri satu gigitan kecil pada bokong bulat di depan mata.
"Seijuuro-san!"
Bibir dijilat seduktif, Seijuuro meraih bukti kejantanannya untuk dilumasi. Ia menatap lurus pada Tetsuya, yang lumayan terkejut sewaktu menyadari jika ukuran Seijuuro semakin bertambah. Apakah kebanyakan ras keturunan Asia memiliki ukuran seperti Seijuuro? Atau hanya miliknya saja saja yang memang abnormal saat terangsang?
"Aku akan mulai sekarang..."
Pola horizontal asimetris sewarna kayu, memarkahi lengan atas dan punggung Seijuuro. Hidungnya mengendusi leher Tetsuya, membuat jilatan-jilatan singkat, juga gigitan kecil. Kemudian, sepasang taring sekeras pualam memanjang, dan mereka mulai menancap pada tempat di mana tanda ikatan nantinya akan tampak.
"Hmmph...!"
Erangan kecil terdengar disambung rajuk menahan sakit, Seijuuro menjilati titik-titik luka yang kini terlihat berwarna merah. Tak lama, ia mendesis pelan sewaktu Tetsuya melakukan hal serupa.
Ekor panjang Seijuuro membelit milik Tetsuya yang lebih pendek. Mereka mengait erat seakan tidak ingin berpisah.
"Tahan..."
Pinggang ramping diraih, ujung tumpul kelamin Seijuuro mencari kerutan mungil di antara pipi kenyal bokong Tetsuya.
Kuku-kuku tangan mulai mencakari punggung orang di atasnya. Ini lebih besar dan lebih tebal daripada dua jari milik Seijuuro. Apa Tetsuya bisa bertahan sampai proses penyatuan mereka selesai?
Ia tidak yakin.
Sebuah hentakan, dan Seijuuro masuk semakin dalam.
"Sakit?"
Tetsuya menggeleng susah payah. "Aku merasa aneh..." mata biru muda membola saat bagian tubuh Seijuuro seolah menjadi dua kali lipat dari ukuran semula begitu memasuki tubuhnya.
"Tidak apa. Sebentar lagi Tetsuya pasti akan terbiasa..." napas terengah Seijuuro terasa panas mengenai wajah Tetsuya. Bibir diciumi lagi, daun telinganya digigit mesra, dan kedua tonjolan merah muda di dada, dijadikan objek untuk memancing gairah.
Dorongan pertama disusul tarikan, setiap hentak keras dibalas cakaran di sepanjang punggung dan lengan.
"Cukup... jangan... hentikan..."
Bunyi otot basah bertumbukkan terdengar nyaring pada dinding-dinding kamar mereka. Gendang telinga Tetsuya hanya mendengar lenguh dan jerit tertahan yang berasal dari pita suaranya sendiri.
"Haaah, kalimatmu sungguh ambigu, hhh... kau ingin aku berhenti, atau tidak?" Goda Seijuuro seraya menatap pada wajah memelas Tetsuya. Dahinya mengerut penuh konsentrasi dengan bulir-bulir besar keringat membasahi wajah hingga ke dada. Gerakan Seijuuro masih penuh stamina dan akurasi, ia bagai mengetahui di mana titik lemah lawan, lalu menyerang tanpa ampun di sana.
Seijuuro berhenti untuk menegakkan tubuh, ia meluruskan sebelah kaki Tetsuya untuk bertumpu di bahunya. "Tetsuya sudah tidak bisa menahannya lagi?"
Bagai anak yang patuh, Tetsuya mengangguk kecil. Wajahnya sangat basah, entah oleh keringat, air mata, atau mungkin liur Seijuuro ketika mereka berciuman.
Gelak tawa di sela napas eratik terdengar, gigitan gemas ia daratkan pada betis kanan Tetsuya yang masih menumpu di bahu. Dorongan pelan berubah semakin cepat, tubuh Tetsuya gemetar dan mulutnya kembali membuat suara-suara erotik.
"Co... coming..." kepala Tetsuya menyentak ke belakang, kedua tangan meremas seprai putus asa. "Seijuuro-san... unghh..."
Mata rubi Seijuuro menangkap momen di mana benang-benang putih kental memancar layaknya semburan air dari ujung kepala merah muda. Mereka menodai pusar, mengenai perut bawah Tetsuya, bahkan membercaki dada.
"Hebat, Tetsuya, kau sungguh..., nggh..."
Tubuh Seijuuro hampir menyerah ketika mendadak ia dihimpit terlalu kuat. Ini efek domino dari ejakulasi Tetsuya, otot-otot analnya berkontraksi, memerah Seijuuro bak seekor sapi. Sebelah kaki dilepaskan, pinggang ramping itu dicengkram erat-erat. Gerakannya tidak lagi stabil, terlalu putus asa untuk menjangkau garis akhir di depan mata.
"Tetsuya...!"
Wajah Seijuuro terbenam di ceruk leher seharum vanila bercampur wangi alami Tetsuya. Putih mewarnai sejenak penglihatannya bersamaan rasa rileks luar biasa yang mungkin setara secuil surga. Seijuuro masih mengejan dengan suara berat, dan semburan-semburan kecil semen terus saja memenuhi tubuh bagian bawah Tetsuya walau tidak sederas yang pertama.
Lima menit berlalu, dan tubuh mereka berpisah sementara. Untaian benang putih masih menyambungkan sisa-sisa euforia. Seijuuro terduduk di atas ranjang, berniat meraih kotak tisu untuk membersihkan kekacauan, namun dicegah malaikat mungil yang masih telentang dengan pose menantang.
Tangan Tetsuya meraba basah di antara kedua kaki, lidah merah muda kemudian menjilat likuid kental Seijuuro yang tertinggal di jari. Posisinya berubah sehingga memunggungi Seijuuro dan bertumpu pada kedua tangan dan kaki. Lubang mungilnya yang ternoda lelehan sewarna susu, membuka dan mengerut seakan minta diisi lagi.
"Aku... ingin Seijuuro-san melakukan hal seperti tadi..."
Ia memang memasang wajah bak malaikat suci, namun tingkahnya serupa inkubus dalam dunia fiksi fantasi.
Seijuuro suka ini.
Kucing kecilnya jadi begitu nakal di atas ranjang demi menarik atensi.
"Heh, Tetsuya yakin?"
Wajahnya tersembunyi pada lipatan tangan. "Ya," katanya malu-malu. "... aku ingin cepat-cepat memiliki anak darimu, Seijuuro-san..."
Senyum Seijuuro mengembang, level energinya mendadak naik seolah baru di charge.
"Oke, tapi jangan salahkan aku jika besok Tetsuya tidak bisa berjalan..."
.
.
Sebagian tamu ryokan yang menginap masih terlelap. Mereka lelah setelah berpesta di akhir pekan kemarin. Kebetulan ini hari Minggu, sisa hari dimanfaatkan untuk bermalas-malasan sebelum meninggalkan Kyoto nanti siang.
Para pekerja yang hilir mudik untuk menyiapkan sarapan bersama, membungkuk hormat pada Seijuuro. Sedikit merasa heran, karena tidak biasanya bagi pengantin baru untuk bangun sepagi ini.
Langkah Seijuuro menyusuri pasti jalan setapak dengan batu-batu alam yang dibuat layaknya kolase. Ia kemudian berbelok saat mencapai tempat tujuan.
Kicau burung memenuhi taman belakang Yuzuya. Akhir Maret, dan barisan sakura yang bermekaran menyapa pandangan mata. Kedua tangan Seijuuro bersidekap, senyum maklum terulas begitu mendapati sosok berambut biru muda berdiri di tengah taman lengkap dengan kamera di tangan.
"Tetsuya sudah merasa baikan?"
Kepala Tetsuya menoleh lambat, mata mereka bertemu dalam tatap yang terasa bagai deja-vu.
"Kukira Tetsuya masih ingin berlama-lama dalam kamar. Ternyata malah menghilang..."
Seijuuro berjalan menghampiri, tubuh Tetsuya otomatis mendekat tanpa diminta.
"Sejak dua hari yang lalu aku ingin sekali ke sini. Tapi ibu tidak memperbolehkanku untuk memotret..."
Tangan Seijuuro terulur, hendak menyentuh pipi Tetsuya, namun malah terhenti di udara. "Ada sesuatu di kepalamu..." selembar mahkota sakura diraih dari atas kepala, ia meringis ketika bibir Tetsuya mengerucut lucu.
Seijuuro lalu memeluknya untuk mengalihkan perhatian. "Kita sibuk dengan urusan pernikahan, Tetsuya tahu itu."
"Oleh karena itu, aku sudah tidak sabar untuk mengabadikan pemandangan indah ini, seperti yang Seijuuro-san bilang kepadaku dulu..."
"Ya, aku ingat."
Punggung yukata Seijuuro diremas, Tetsuya memejamkan mata saat semilir angin menerbangkan beberapa lembar mahkota merah muda sakura di atas mereka.
"Nah, bagaimana kalau kita hanami? Ada tempat bagus tak jauh dari sini, kujamin Tetsuya akan suka..."
Pelukan terlepas, Tetsuya mengangguk setuju.
"Aku mau."
Jari jemari keduanya terjalin dalam sebuah genggaman erat. Serupa kepingan puzzle yang saling melengkapi, mereka bertaut dengan pasti.
Layaknya musim yang abadi, gulungan ombak di samudra, atau nyala terang hamparan bintang-bintang di angkasa.
Dua jiwa menjadi satu.
Selalu seperti ini, jangan pernah mengingkari.
.
END
.
1. Ikebana: Seni merangkai bunga Jepang.
2. O-ironaoshi: Tradisi mengganti kimono sewaktu resepsi.
3. Hikizuri furisode: kimono berwarna untuk perempuan yang belum menikah. Hahaha, malah dipake Tetsuya...
4. Montsuki: Kimono formal pria, biasanya ada lambang keluarga.
5. Hikidemono: Gift, atau hadiah untuk tamu yang datang ke resepsi pernikahan.
6. Ajisai: Bunga hydrangea, warna biru.
7. Memecah cherry: or popping the cherry (saya pake istilah itu aja, walau kedengaran gak sinkron ^^;) kehilangan virginity atau melakukan hubungan badan pertama kali.
8. Intercourse: secara tradisonal memiliki arti berhubungan seks.
A/N: Allright! It's a wrap! Beres juga ya... Hahaha. Maafkan ketelatan saya dalam meng-update fic ini... (alasan utama apalagi kalau bukan kesibukan di reality... Heleh...) Akhirnya mereka bahagia, saya emang gak jago bikin drama or angst, tapi semoga suka ya ending-nya begini. (Btw, itu hot-scene Akakuro absurd-kah? Yang kemarin kerasa failed soalnya... Gak jago juga bikin adegan ena-ena...) Hahaha...
Terimakasih buat yang udah membaca, mengikuti fic ini dari awal, en me-review, tanpa dukungan kalian, mungkin gak bakal beres ini cerita... *bersimpuh. Btw, mungkin ada satu chapter lagi buat epilog, ditunggu yak...
Sekali lagi terimakasih pada kalian semua, saya mungkin akan kembali dengan cerita lainnya, jangan bosen yaaaa, Ciao!
