"Oh My Ghost"
'
Chapter 2
'
Disclaimer : ©Boboiboy All Elemental & Friends
(Boboiboy hanya milik Monsta/Animonsta Studio)
'
By : Ochandy/Ananda
'
Warning ! Typo(s), GaJe, Aneh, OOC, tidak sesuai EYD dll...
'
Hello... Hello...Balik lagi sama Ocha yang comel ni *muntah jamaah... Karena ane gak suka lama menunggu mari kita baca chapter 2 cerita absurd ini *plaak... Reviewnya lumayanlah sesuai target *targetnya kerendahan sih :v dari pada dengerin ocehan gak bermutu saya mending langsung aja deh :D
'
Happy Reading...
'
~O.o.O~
"Aku hanya ingin jasadku ditemukan..."
~O.o.O~
"Lantas... Jika yang terbujur kaku disini Halilintar, siapa orang yang ku lihat di taman tadi ?"
~O.o.O~
Author POV...
Yaya bergumam pelan membuat Taufan mengernyit. "Maksudmu Yaya ? Kau melihat siapa di taman ?" Tanya pria dihadapannya bingung. "Umh.. Tidak ada, mungkin aku salah lihat" Elak gadis berhijab ini dengan cepat.
"Tapi... Aku yakin tadi itu Halilintar" Sambungnya dalam hati.
"Tok Aba dimana ? Dari tadi aku tidak melihatnya" Tanya Yaya celingak - celinguk mencari sosok kakek tua diantara kerumunan para pelayat. "Tok Aba ? Dia sedang menenangkan Gempa, Api dan Air di kamar atas" Jawab Taufan.
"Errr... Boleh aku lihat jasadnya Halilintar ?" Tanya gadis ini pada Taufan yang hanya dibalas anggukkan pelan tanda persetujuan.
Yaya berjalan ragu menuju ruang tengah. Dia segera duduk lalu memperhatikan jenazah di hadapannya dengan seksama. Dengan hati - hati dibukanya penutup wajah sang mayat dan...
"Astagfirullah Alazim..." Sontak saja gadis ini terkejut melihat keadaan mayat yang begitu tragis. Wajahnya benar - benar hangus terbakar, bahkan Yaya tak mengenali siapa orang yang terbujur kaku disini. Matanya berlinang saat mengenang kebersamaannya dengan Halilintar, diperhatikannya jenazah itu lekat - lekat, pandangannya sedikit mengabur.
"A... Amar Deep ?" Gumamnya saat melihat sosok mayat tak utuh itu berubah menjadi salah seorang teman sekelasnya. Tiba - tiba, muncullah sosok yang sama menggunakan seragam olahraga yang rusak seperti habis dibakar. Dari pelipisnya mengalir banyak darah segar. Sosok itu tersenyum tipis ke arah Yaya.
Yaya terbelalak lebar. Sesekali gadis ini mengucek - ngucek matanya berharap kalau dia sedang berhalusinasi. Sosok itu masih belum hilang dan masih duduk dihadapan Yaya. Gadis ini mulai merinding saat sosok itu menatap jasad di ruangan ini seraya tersenyum miris.
"Apa - apaan ini..." Pekik Yaya tertahan. Gadis mengerjap - ngerjapkan matanya berkali - kali namun sosok itu masih setia duduk di depan sana.
"Akhirnya, aku menemukan jasadku..." Gumam sosok itu.
"Kau... Kau Amar Deep kan ?" Tanya Yaya memberanikan diri. Sosok itu menoleh sejenak lalu tertawa miris.
"Kau bisa melihatku ?" Tanyanya. Gadis berhijab ini hanya mengangguk cengo dilontari pertanyaan yang 'aneh' itu.
"Syukurlah... Itu artinya kau berbakat" Sambungnya.
"Apa yang kau lakukan disini ?"
"Aku ? Aku hanya ingin memastikan jasadku benar - benar akan dikuburkan" Jawabnya santai. Yaya terheran - heran melihatnya. Mudah sekali dia mengatakan hal seperti itu. Memastikan agar jasadnya dikuburkan ? Dia seolah - olah sudah ikhlas dengan kematiannya.
"Apa maksudmu ? Ini jasadnya Halilintar, bukan jasadmu Amar..."
"Ini jasadku Yaya..."
"Tapi uji forensik..."
"Manusia bisa salah bukan ? Semua ini adalah takdir Tuhan... Kau istimewa Yaya, kau bisa melihat roh sepertiku" Puji Amar tertawa.
"Sekarang, bantulah Halilintar menemukan jasadnya..." Sosok itu bergumam pelan sebelum akhirnya menghilang.
"Apa maksudnya ?" Yaya membatin.
~O.o.O~
"Yaya ?"
"Yaya... ? Kau baik - baik saja ?"
"Yaya ? Kau dengar aku ?" Seorang pria melambai - lambaikan tangannya didepan wajah gadis berhijab yang tengah melamun menatap ke depan. Sinar matanya sedikit redup dan sorot matanya kosong. Pria beriris biru shapire ini mulai panik melihat kondisi gadis ini.
"Woy Yaya sadar... Sadaaaaar... Sadaaaaar..." Pekiknya sambil mengguncang - guncang tubuh Yaya sekuat tenaga. Gadis ini tersentak dan menatap Taufan dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Yaya... Kau sudah sadar ?" Pria beriris biru shapire ini bertanya dengan perasaan was - was. Gadis berhijab itu terdiam, matanya menerawang seisi ruangan dengan teliti.
"A.. Aku tidak apa - apa..." Jawabnya pelan nyaris berbisik.
"Syukurlah... Mau ku buatkan teh hangat ?" Tawar Taufan. "Tidak usah..." Tolak Yaya singkat. Gadis ini memijat keningnya perlahan membuat Taufan khawatir. "Kau sakit ?" Pria itu menyentuh kening Yaya dengan telapak tangannya. "Tidak, hanya sedikit pusing" Ujar Yaya sambil menepis tangan Taufan.
"Istirahatlah dikamar atas, kau bisa memakai kamar kak Halilintar... Mau ku antar ?"
"Tidak usah, aku bisa sendiri..." Yaya segera berdiri, dengan sedikit terhuyung dia berusaha berjalan menuju anak tangga.
"Yaya ?" Seru Taufan memanggilnya. Gadis itu menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah pria yang memanggilnya.
"Ada apa Taufan ?"
"Kau jangan melamun lagi ya... Aku khawatir melihatmu begitu... Ingat jangan MELAMUN..." Taufan menekankan kalimatnya yang dibalas anggukkan dari Yaya.
"Nanti kau kesambet arwah Halilintar loh... Kan gak lucu kalau kau kerasukkan kakakku yang satu itu... " Canda Taufan kecut. Yaya terdiam membayangkan jika dirinya benar - benar dirasuki Halilintar. Oh apa yang terjadi kalau begitu ? Halilintar yang keras kepala, temperamental, mudah meledak dalam artian mudah marah, dan ingat dia selalu benar + Yaya yang menurut para sahabatnya 'Ganas', keras kepala, pantang kalah dalam beberapa hal dan sifat lainnya yang eerrr...
"Terimakasih sudah mengingatkanku..." Ucap Yaya tersenyum tipis.
"Sama - sama"
~O.o.O~
Yaya POV...
"Apa maksud Amar tadi ? Yang terbujur itu tubuh miliknya dan bukan milik Hali ? Membantu Halilintar menemukkan jasadnya ?"
Aduuh... Kepalaku pusing memikirkannya, tadi itu aku tidak salah liatkan ? Amar Deep duduk tepat dihadapanku lalu mengatakan suatu hal yang 'amat' tidak masuk akal.
Ku langkahkan kaki menuju kamar Halilintar. Ku pandangi pintu kamar bercat merah darah ini lalu memutar knop untuk membuka pintu.
Tanganku meraba - raba letak saklar lampu. Akhirnya ruangan yang tadinya gelap itu berubah menjadi terang benderang. Ruangan yang cukup luas bernuansa hitam merah dengan sebuah kasur King Size di sudut ruangan. Permadani merah membentang ditengah - tengah kamar, sebuah lemari pakaian terletak disamping meja belajar yang cukup rapi.
Ku rebahkan tubuhku ke atas kasur nan empuk itu. Umh... Rasanya nyaman sekali... Ku hirup nafas panjang sambil memejamkan mata sebagai bentuk menenangkan fikiranku yang kacau seharian ini.
"Huft..." Ujarku membuang nafas berat, dengan mata terpejam ku raba - raba kasur raksasa itu untuk mencari bantal guling. "Kok bantal gulingnya gak ada..." Gumamku sambil terus mencari keberadaan bantal yang bisa dipeluk - peluk itu.
"Eh... Apa ini ?" Tanganku mendapat sebuah benda seperti jari - jari tangan manusia, ku genggam perlahan benda itu dan aku dapat merasakan kalau jari - jari itu menggenggam tanganku balik.
Bukannya tadi di kamar ini cuma aku sendiri ya ? Tapi kayak ada tangan orang ? Ku bergidik ngeringeri sambil memejamkan mata serapat mungkin. Ih, gak mungkin kan di kamar Halilintar ada hantu. Ku baca ayat - ayat pendek beserta surah penghusir setan lainnya yang ku hafal. Tapi tangan itu belum juga hilang.
"Kau kira aku setan heh ?!"
Suara yang terdengar jutek dan judes menggema di kamar ini. Hm... Ku rasa aku kenal nada bicaranya, a... apa, gak mungkin dia ada disini. Ku kumpulkan segenap keberanianku untuk membuka mata.
"Kyaaaaaaaaa..." Teriakku histeris melihat sesosok bayangan hitam tengah tiduran diatas kepalaku.
"Psst..."
Aku segera bungkam setelah melihat dia menatapku tajam.
"Ku tanya sekali lagi... Untuk apa kau kemari hah ?" Tanyanya ketus sambil melepaskan genggaman tanganku.
"Memangnya kenapa ? Gak boleh ?" Tanyaku balik.
"Ini kamarku, dan tidak boleh seorang pun yang memasukinya !" Ucapnya judes.
"Ini kamar Halilintar kalee... Bukan kamar kamu bayangan hitam Gak Jelas !" Ucapku penuh penekanan. Siapa sosok ini ? Jelas kagak, ngeblur kayak kena sensor pakai ngelarang masuk ke kamar ini lagi.
Bayangan hitam itu perlahan bercahaya lalu memutih dan menampakkan wujud aslinya.
"INI KAMARKU !"
"K... Kau... ?! Kyaaaaaaaaa..."
Bersambung...
Kyaaa... Akhirnya bisa update kilat... Maaf yang udah lama nunggu *plaak* perasaan baru 1 hari kemaren...
Gimana ceritanya ? Tambah absurdkan :v atau makin gak jelas... Menurut ane penyusunan kalimatnya masih ngawur (?)
Terimakasih buat para Readers yang mau ngebaca dan ngereview cerita absurd ini... *tabur bunga bangke... Saya juga mau ngucapin terimakasih buat yang udah mengkritik + ngasih saran yang bermanfaat bangeet... *nyengir kuda* Ya walaupun cerita ini masih banyak kesalahannya *plaak*
Because, cerita ini jaaaauuuh... Dari kata SEMPURNA.
Umpamanya itu sejauh dari Bumi ke Bintang terdekat *plaaak... Oke itu berlebihan.
Buat Silent Readers & Dark Readers *sama aja kalee... Kasih komen dikit kek buat ninggalin jejak... *ceritanya maksa orang / ditendang.
Oke.. Oke... Ooke... keke... Sampai sini dulu perjumpaan kita... Jika kata kata yang salah saya mohon maaf *pidato bentar...
Kalau ada kritik dan saran saya terima dengan senang hati... BAHASANYA SOPAN SANTUN DAN TIDAK KASAR ! *tudududu...
See you next chapter :) :D
